Posts Tagged ‘keramat’

Sebuah pulau kecil tak berpenghuni dengan latar hamparan laut Banda terlihat elok dipandang bagai gundukan tanah mengapung sekitar 500-an meter di ujung timur dermaga Basule di kecamatan Lasolo kabupaten Konawe Utara.
Potongan panorama pesisir pantai timur wilayah provinsi Sulawesi Tenggara ini menarik perhatian sejumlah kru yang mengikuti perjalanan reses anggota Komite III DPD RI, Muliati Saiman, S.Si, saat mengasoh di kelurahan Basule Minggu terakhir Desember 2014.

Tampak Pulau Keramat  ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Tampak Pulau Keramat ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Puluhan bagang apung nelayan yang terhampar di laut Banda arah kanan dermaga Basule, plus beragam pepohonan laut yang tumbuh rimbun sepanjang pesisir serta barisan pegunungan yang sebagian telah belang-belang lantaran dikupas sejumlah perusahaan tambang untuk mengambil pasir ore yang mengandung bijih nikel, melengkapi keindahan alam sekeliling pulau.
Hampir semua pendatang, menurut seorang warga asal Tinobu, ibukota kecamatan Lasolo, ketika mula melihat pulau tersebut menduga sebagai tempat rekreasi karena letaknya sangat dekat dengan daratan. Justeru yang terjadi hal sebaliknya, pulau ini sejak lama jarang dikunjungi warga.
Beberapa warga di Basule menyarankan agar membatalkan niat ketika kami berupaya mencari tumpangan ke pulau di depan dermaga Basule. Mereka menceritakan sering terjadi hal aneh terhadap pengunjung terutama jika tidak ada hubungan keluarga dengan mereka yang dimakamkan di pulau tersebut.
Sejumlah kuburan tua bertebaran di daratan pulau. Salah satu kuburan yang disebut-sebut sebagai makam Syekh Abdullah, moyang suku Bajo, sering berpindah-pindah tempat. Penduduk mengaku banyak ular aneh sering muncul di sekitar kuburan. Mungkin itulah sebabnya sehingga pulau ini diberi nama sebagai Pulau Keramat.
Namun seorang warga di Basule yang mengaku ada memiliki hubungan keluarga dengan Syekh Abdullah menyatakan, selama ini warga sekitar Lasolo banyak yang salah mengartikan karena sebutan Pulau Keramat diidentikkan dengan tempat angker atau menakutkan. Pada hal, katanya, Pulau Keramat itu Palau Suci. Dicontohkan, beberapa orang bukan suku bajo yang pernah mampir di Pulau Keramat dan menemukan makam Syekh Abdullah kemudian semua mendapat keberuntungan hidup sejahtera karena semua usaha yang dilakukan berjalan baik dan lancar.a bajo8
Kuburan tua suku bajo yang banyak terdapat di Pulau Keramat dapat menjadi bukti bahwa wilayah pesisir Lasolo pantai timur Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah sebenarnya sejak lama menjadi wilayah teritorial lokasi pergerakan suku bangsa laut Indonesia.
Sejumlah pulau lain dan wilayah pesisir sekitar Pulau Keramat sekarang tumbuh perkampungan desa-desa yang dihuni mayoritas suku bajo dengan tingkat kesejahteraan yang sejajar dengan penduduk desa-desa non suku bajo lainnya. Desa Lemo Bajo, Mandiodo, Mowundo, Barasanga, Tanjung Bunga, Kampoh Bunga, Boenaga, Watu Rambaha, dan Boedingi merupakan kawasan pemukiman suku bajo di pesisir pantai kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Suku bajo yang telah mendarat tersebut sebagian besar tetap menjadikan laut sebagai ‘kebun’ tempat mencari nafkah kehidupan. Mereka sudah tidak menjadikan perahu sebagai kendaraan sekaligus rumah untuk hidup berkelana di pesisir pantai sebagaimana moyangnya dahulu, tetapi aktivitas kehidupan sebagai orang laut tetap mewarnai keseharian lingkungan dan perairan laut di sekitar pemukiman-pemukiman suku bajo yang telah mendarat.
Ramainya jual beli ikan laut hasil tangkapan setiap pagi hari mewarnai pemukiman-pemukiman suku bajo di pesisir Konawe Utara. Tak hanya aktivitas kapal-kapal penangkap ikan, tapi juga bagang apung, bentangan jaring hingga pengeringan ikan menjadi panorama khas kehidupan di perkampungan suku bajo. Lingkungan dan kehidupan original suku bajo sebagai suku bangsa laut yang tetap terpelihara perlu mendapat perhatian pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dikemas sebagai obyek wisata khas suku laut yang satu-satunya di dunia hanya dapat disaksikan di perairan-perairan Indonesia, termasuk di sepanjang pantai timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Saat ini, menurut Sekretaris Kerukunan Keluarga Bajo ‘Kekar Bajo’ kabupaten Konawe Utara, Syamsul Bahri, S.Si, terdapat lebih 1.000 Kepala Keluarga atau sekitar 5.000 jiwa suku bajo yang menghuni desa di pulau-pulau dan pesisir timur kabupaten Konawe Utara.
Mantan Kepala Desa Basule (1999 – 2004) ini mengaku, melanjutkan pengabdian diangkat langsung melalui SK Bupati Lukman Abunawas sebagai pejabat Kepala Desa di Pulau Labengki tahun 2004. Desa di pulau yang berbatasan dengan wilayah perairan Sulawesi Tengah kala itu masih berstatus desa persiapan tanpa warga penghuni tetap.
Penduduk yang awalnya hanya 8 KK, kenang Syamsul Bahri, juga selalu keluar masuk maklum mereka adalah suku bajo yang menjadikan Pulau Labengki hanya tempat persiggahan saat cuaca di laut tidak bersahabat.
Untuk membetahkan orang-orang bajo bermukim di Desa Labengki, Syamsul menyediakan kapling tanah pemukiman gratis seluas 15 x 20 meter untuk setiap KK. Dibantu pihak satuan Angkatan Laut dan Polair dilakukan perburuan terhadap warga bajo yang masih hidup berpindah-pindah bersama keluarga menggunakan perahu di hol-hol yang ada seputar pulau Labengki Kecil dan sekitarnya.
Dengan diiringi pemberian pengertian laut tetap sebagai ‘kebun’ dan usai kerja atau saat isterahat harus ke rumah, hanya dalam tempo 6 bulan desa persiapan Labengki dapat menjadi sebuah desa definitif yang dihuni suku bajo di kecamatan Lasolo, Konawe Utara.
Desa suku bajo yang sekarang ini maju pesat terjadi atas tingginya kesadaran warga untuk membangun desanya. Tingkat kesejahteraan warganya cukup baik, rumah-rumah mereka umumnya sudah permanen. Sudah terdapat SD, SMP dan sarana layanan kesehatan di Pulau Labengki. Untuk keperluan air bersih warga sudah menggunakan teknologi mengolah air laut menjadi air tawar.
‘’Desa Labengki pernah dijuluki sebagai Singapura Kecil setelah saya memberi tulisan Singgapore di gerbang desa,’’ papar Syamsul Bahri yang menjabat sebagai Kades Labengki hingga tahun 2009.
Tulisan Singgapore dipertanyakan bahkan minta dihapus oleh Bupati Lukman Abunawas ketika bersama rombongannya menyambut tahun baru 1 Januari 2005 di Pulau Labengki, tapi Syamsul bersikukuh tulisan tersebut dipertahankan.
‘’Singgapore adalah bahasa asli suku bajo yang berarti Tempat Persinggahan. Apa salahnya kita gunakan kata itu karena Pulau Labengki Kecil yang kini menjadi Desa Labengki awalnya hanya menjadi lokasi persinggahan suku bajo di pesisir timur pantai Konawe Utara,’’ tandas Syamsul mengulang alasannya saat mempertahankan pemampangan kata Singgapore di gerbang Desa Labengki.
Syamsul yang mengaku berdarah suku bajo dari garis keturunan ibunya mengatakan, satu-satunya suku di Indonesia yang memiliki presiden tersendiri yaitu Presiden Suku Bajo. Justeru dia merasa bangga apabila pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat membuat disain pengembangan lingkungan dan aktivitas kehidupan pemukiman-pemukiman suku bajo termasuk yang cukup besar jumlahnya di pesisir timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara agar dapat diangkat sebagai obyek wisata khas suku laut yang hanya terdapat di Indonesia.(HL di kompasiana.com 28 Desember 2014)

Gambar

Mariang Polong di Benteng Somba Opu (Foto: Riset)

Tercatat sejarah, sebanyak 272 pucuk meriam besar dan kecil ikut dihancurkan ketika Kolonial Belanda membumihanguskan Benteng Somba Opu yang menjadi pusat Kerajaan Gowa pada 24 Juni 1669. Termasuk sepucuk meriam bernama ‘Mariang Anak Mangkasara’ (Meriam Anak Makassar) dirampas oleh Belanda.

Meriam (jagur) yang beratnya sekitar 500 kg dan memiliki panjang sekitar 6 meter tersebut, merupakan yang terbesar di antara semua meriam yang mengawal pertahanan Benteng Somba Opu yang berbentuk persegi empat dengan luas lebih dari 113 ribu meter bujur sangkar.

Meriam yang dibuat tahun 1593 lubang pelontar mesiunya berdiameter besar, memiliki jangkauan lontar yang jauh serta kekuatan daya rusak yang besar. Jika beraksi, menimbulkan gelegar yang dahsyat hingga radius puluhan kilometer, sehingga juga dijuluki sebagai ‘Meriam Keramat.’

Namun, sekalipun ada petunjuk meriam tersebut lolos dari aksi penghancuran oleh kolonial Belanda tapi saat ini tak diketahui dimana rimbanya. Dalam catatan lama ada disebut pascaperang Somba Opu (1669) — perang maritim terbesar yang pernah terjadi di wilayah Asia sepanjang sejarah, meriam itu disingkirkan ke Batavia, lalu kemudian entah dibawa kemana. Sampai sekarang tidak ada sedikitpun petunjuk arah raibnya meriam kebanggaan ‘Anak Makassar’ tersebut.

Di lokasi puing bekas Benteng Somba Opu yang terdapat di Kelurahan Somba Opu Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, saat ini hanya dapat disaksikan dua buah meriam (jagur). Satunya, meriam yang dijadikan asesori di halaman depan Museum Karaeng Pattingaloang yang terdapat di areal bagian barat bekas Benteng Somba Opu. Akan tetapi, meriam tersebut, bukan bagian dari meriam yang pernah mengawal di Benteng Somba Opu. Meriam ditemukan dalam suatu penggalian yang dilakukan warga secara tak sengaja pada tahun 90-an di Jl. Ince Nurdin, Kota Makassar, sekitar 10 km di arah utara lokasi Bekas Benteng Somba Opu.

Dudukan meriam justru merupakan hasil rekonstruksi tahun 1991 yang dilakukan oleh H.Mochtar Ibrahim Dg Naba dari STM Pembangunan Ujungpandang.

Berikutnya, sebuah meriam (jagur) yang panjangnya 1 meter lebih. Meriam yang bagian pangkalnya terlihat tak sempurna (patah ?) santer disebut oleh penduduk yang bermukim sekitar lokasi bekas Benteng Somba Opu sebagai ‘Mariang Polong’ (Bahasa Makassar, berarti Meriam Patah).

Meriam ini sejak dulu, menurut cerita penduduk, sudah tergeletak di sekitar sebuah makam yang saat ini berada sekitar 15 meter di depan Museum Karaeng Pattingaloang, di bekas Benteng Somba Opu. Makam yang telah dibuatkan penutup dalam bentuk bangunan gardu permanen, disebut-sebut sebagai makam dari keluarga Raja Gowa tempo dulu. Namun pihak Museum Karaeng Pattingaloang hingga sekarang tidak punya data pasti mengenai siapa yang dimakamkan di tempat tersebut.

Yang pasti, cerita dari penduduk sekitar, meriam tersebut dari dulu hingga saat ini terutama sore hari — jelang malam Kamis atau Malam Jumat, selalu terlihat ramai disiarahi orang-orang yang datang dari Kota Makassar maupun dari wilayah Kabupaten Gowa dan sekitarnya. Mereka menabur bunga dan membakar lilin merah di badan meriam. Tak heran jika setiap saat terasa hembusan bau bunga  pandan segar di sekitar meriam, dan badan meriam dipenuhi lelehan bakaran lilin merah.

Ada yang mengisahkan, bahwa pada tahun 70-an, sebelum dilakukan eskavasi (penggalian) lokasi bekas Benteng Somba Opu, Mariang Polong ini pernah diangkut oleh sekelompok orang dibawa ke wilayah Balang Baru, Kota Makassar – sekitar 3 kilometer arah utara benteng. Mereka memindahkan dengan maksud agar tidak terjadi pemberhalaan terhadap meriam tersebut.

Namun dalam beberapa waktu kemudian, Mariang Polong dikembalikan ke tempatnya semula di dalam areal bekas Benteng Somba Opu, lantaran orang-orang yang tadinya memindahkan meriam tersebut dikabarkan terserang penyakit dan semua tewas.

Banyak pihak menyayangkan lantaran hingga saat ini pihak UPTD Pengelola Benteng Somba Opu termasuk Museum Karaeng Pattingaloang, belum memiliki data yang jelas mengenai Mariang Polong yang justru berada di moncong museum. Termasuk amat menyayangkan karena ada semacam pembiaran terhadap orang-orang untuk menyakralkan, memuja-muja, bahkan meng-kramat-kan meriam yang belum jelas asal-usulnya tersebut.

Lebih aneh lagi, ada yang mengubah posisi meriam yang sebelumnya hanya digeletakkan di atas gundukan batu, kini mulut meriam dimasukkan ke belahan batang sebuah pohon besar yang tumbuh di dekatnya. Sehingga posisinya, membuat kesan bertemunya P and V. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 10 Oktober 2011)