Posts Tagged ‘kerbau’

Kulit pohon kayu Jati Putih ternyata amat disukai sapi dan kerbau. Puluhan batang pohon Jati Putih berusia lebih 5 tahun lokasi Ode (40) mengembalakan sapi dan kerbaunya di Kelurahan Watulondo kecamatan Puwatu di pinggiran utara kota Kendari kini kulit batangnya sebagian sudah penuh luka terkelupas bekas gigitan sapi dan kerbau.a aspi5
Sekalipun hewan memamah biak yang dipelihara Ode tersebut hanya 5 ekor terdiri atas 2 induk sapi betina, 2 anak sapi (betina dan jantan) serta seekor kerbau jantan, namun semuanya terlihat amat rakus apabila berada di sekitar pohon jati putih yang ditanam sebagai pembatas lahan milik penduduk yang satu dengan lainnya.
Sejak sapi dan kerbau milik seseorang yang dipelihara dengan sistem bagi anak oleh Ode sekitar dua tahun lalu, apabila siang hari digiring untuk merumput di antara suburnya pohon-pohon jati putih di Watulondo. Ode mengamati selama ini sapi dan kerbau peliharaannya sesekali setelah merumput terlihat secara bergantian atau bersamaan menggigit-gigit kulit batang-batang pohon jati putih hingga terkelupas dan mengunyah dengan lahap.
‘’Jika mengunyah kulit Jati Putih, sapi dan kerbau yang dewasa maupun anaknya kelihatan begitu lahap,’’ jelas Ode ketika menggiring kerbau peliharaannya ke sekitar pohon Jati Putih untuk sekilas memperlihatkan bagaimana tertariknya sapi dan kerbau terhadap kulit pohon Jati Putih.

inilah sejumlah potret  saat sapi menguliti dan menggunyah kulit pohon jati putih/Foto-foto: Mahaji Noesa

inilah sejumlah potret saat sapi menguliti dan menggunyah kulit pohon jati putih/Foto-foto: Mahaji Noesa


a aspi2
a aspi3
a aspi4
Benar, hanya selang beberapa menit setelah merumput, terlihat ternak sapi dan kerbau masing-masing mulai mendekati batang pohon Jati Putih. Umumnya gerakan dimulai dengan cara menyium-nyium batang pohon Jati Putih. Bekas gigitan sebelumnya di batang pohon Jati Putih yang sudah luka mengering dilewatkan. Gigitan dilakukan terhadap kulit batang Jati Putih yang masih utuh. Saat mengunyah sapi atau kerbau tersebut sesekali mendongakkan moncongnya. Nikmat kaliiii….???
Pastinya, dalam beberapa waktu belakangan Ode menjauhkan ternak gembalaannya dari pohon Jati Putih. ‘’Jika sudah mengunyah kulit Jati Putih binatang ini seolah menjadi liar, meronta-ronta apabila diikat,’’ katanya.
Sudah beberapa kali ia mengaku direpotkan satu-satunya kerbau jantan peliharaan, setelah mengunyah kulit Jati Putih lalu ngamuk hingga memutuskan tali ikatan, lari sekencang-kencangnya menyeruduk sana-sini, dan uniknya beberapa kali ditemukan menjinak setelah bertemu dengan kawanan sapi atau kerbau betina. Pernah kerbaunya tersebut lari dan ditemukan berada di kumpulan sapi betina berjarak lebih 3 km dari tempat gembalaan mengunyah kulit Jati Putih.
Suatu hari juga, kenangnya, setelah mengunyah kulit Jati Putih, kerbau peliharaannya yang tali pengikatnya dikalutkan di sebuah batu berukuran besar berlari liar menarik batu tersebut amat menakutkan orang-orang yang dilewati.
Kerbau jantan itu terlihat mengalami birahi hebat setiap sesudah mengunyah kulit Jati Putih. ’’Kulit Jati Putih ini seperti obat perangsang seks bagi sapi dan kerbau, karena setelah mengunyahnya sapi-sapi betina pun terlihat gelisah dan liar,’’ jelas Ode, lalu ngakak seolah ada yang menggelitiknya.

Iklan
dangke

Inilah bentuk Dangke Enrekang/Foto: Riset – Google

Jika susu murni yang berasal dari kerbau atau sapi perah selama ini
banyak dikonsumsi warga sebagai minuman segar bergizi, maka masyarakat
di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan paling doyan memakan sari pati
dari ternak besar tersebut.

Susu dimakan bukan diminum? Ya…aneh tapi nyata! Masyarakat luas di
Provinsi Sulawesi Selatan sejak lama mengetahui jika penduduk di
kabupaten yang berjuluk ‘Bumi Massenrempulu’ tersebut sebagai pemakan
susu kerbau atau susu sapi perah dalam bentuk penganan yang bernama
Dangke.

Dangke tak lain adalah susu kerbau atau susu sapi yang digumpalkan
melalui kearifan lokal menggunakan bantuan enzim papain atau daun
pepaya. Bentuk gumpalan dangke tersebut berwarna putih seperti tahu.
Masyarakat khususnya di Kabupaten Enrekang sampai sekarang umumnya
menjadikan dangke sebagai lauk pendamping makanan nasi sehari-hari.
Untuk menyantapnya terlebih dahulu dangke tersebut, antara lain,
melalui proses penggorengan.

‘’Dangke juga dapat disantap langsung sebagai makanan pengantar dengan
menggunakan campuran gula aren. Nikmat,’’ jelas Kusuma, seorang
penduduk yang berdiam di Sossok, Kecamatan Baraka, Enrekang.
Warung-warung rakyat yang terdapat di tepian poros jalan Negara, dari
Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang ke arah Kota Makassar, kini
umumnya memampang papan-papan promosi: ‘’Jual Dangke!’’

‘’Namun jika jika lepas tengah hari, biasanya dangke di warung-warung
ini sudah habis terjual,’’ jelas Asni, seorang perempuan pemilik
warung penjual Dangke di Kabere, sekitar 3 km arah barat Kota
Enrekang. Harga jual dangke di Enrekang saat ini Rp 14.000 per biji,
ukuran setengah tempurung kelapa.

Menurut Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Kantor Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, drh. Jumwar, MSi, produk
dangke di Kabupaten Enrekang sekarang sekitar 3.000 biji setiap hari.

‘’Produk dangke tersebut baru dapat memenuhi sekitar 20 persen dari
kebutuhan lokal masyarakat di Bumi Massenrempulu,’’ katanya.
Menurut alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM)
tahun 1989 ini, untuk satu biji dangke yang beratnya antara 330 sampai
350 gram tersebut terbuat dari bahan baku 1,5 liter susu murni kerbau
atau sapi.

Lantaran itu, penyandang gelar master agrobisnis dari Universitas
Muhammadiyah Parepare tahun 2011 menyatakan, tak hanya berprospek tapi
juga dangke cukup prospektif dikembangkan sebagai usaha guna
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat ke depan. Bahkan,
jelasnya, produk lokal rakyat Bumi Masenrempulu ini bisa dijadikan
sebagai brand daerah ‘Enrekang sebagai Kabupaten Dangke.’
Alasannya, antara lain, dangke sebagai food cultur (makanan
tradisional) yang bergizi tinggi, produk lokal bernilai ekonomi yang
hanya terdapat di Kabupaten Enrekang. Pengembangan dangke juga
sekaligus dapat menjadi entry point dari pengembangan usaha peternakan
khususnya di Kabupaten Enrekang yang 85 persen wilayahnya merupakan
lereng berkemiringan antara 15 hingga 45 derajat.

Lagi pula, urainya, dengan pengembangan produk dangke tersebut
merupakan langkah tepat bagi pengembangan usaha industri biologis
melalui ternak kerbau atau sapi yang dapat senantiasa terbarukan.
‘’Pengembangan produk dangke akan memberikan pertambahan nilai ekonomi
yang cukup tinggi di tengah masyarakat lantaran merupakan salah satu
produk agribinis yang mencapai 3 log. Dari usaha peternakan sapi,
menghasilkan susu, susu dijadikan dangke serta turunan produk lainnya
berupa pembuatan krupuk dangke yang kini mulai dicoba di Kabupaten
Enrekang,’’ papar Junwar.

Berdasarkan catatan pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten
Enrekang, saat ini populasi ternak di Bumi Masserempulu sudah mencapai
1.400-an ekor sapi perah dan sekitar 48.000 ekor sapi potong. Untuk
ternak kerbau mencapai 6.000-an ekor.

Junwar yang sebelumnya telah bertugas di Kantor Dinas Peternakan
Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, Kabupaten Bulukumba, dan
di Rumah Potong Hewan Kota Makassar mengaku, dia yang pada tahun 2002
mulanya mengusul dimasukkannya bibit sapi perah asal Pulau jawa ke
Kabupaten Enrekang terutama untuk memenuhi bahan baku susu bagi
pengrajin dangke.

Di masa-masa lalu, ceritanya, Dangke Enrekang lebih banyak dibuat dari
susu kerbau. Akan tetapi dalam perkembangannnya kemudian lebih banyak
dipilih bahan baku dari susu sapi yang kandungan lemaknya 2,6 – 2,8
persen. Dangke susu sapi lebih gurih dibandingkan menggunakan susu
kerbau yang kandungan lemaknya mencapai 3,2 persen.
Lagi pula, dari seekor kerbau betina hanya dapat menghasilkan 5 hingga
6 liter susu setiap hari. Atau hanya dapat digunakan untuk membuat 2
sampai 3 biji dangke. Sedangkan dari seekor sapi perah, dapat
dihasilkan 20 hingga 30 liter susu setiap hari. ‘’Bahkan dengan
perlakuan tertentu seekor sapi perah berpotensi menghasilkan hingga 60
liter susu setiap hari,’’ jelas Junwar.

Kini di seluruh Kabupaten Enrekang terdapat sekitar 300-an pengrajin
dangke. Setiap pengrajin umumnya memiliki minimal satu ekor sapi
perah.

Melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE), pihak
perbankan telah mengucurkan bantuan permodalan usaha kepada 14
kelompok tani peternak dan pengrajin dangke di Kabupaten Enrekang.
KKPE diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang dinilai potensial di
pedesaan dengan bunga 6 persen per tahun, dan nilai pemberian kredit
bisa mencapai maksimal Rp 100 juta.

Persyaratan pemberian KKPE hampir sama dengan pemberian Kredit Usaha
Rakyat (KUR). Bedanya, bunga KUR 14 persen setahun dengan plafon
kredit maksimum Rp 20 juta. KUR diberikan tanpa agunan, sedangkan KKPE
selain hanya diberikan terhadap usaha yang sedang berjalan – bukan
usaha yang baru dimulai. Juga harus ada agunan, lantaran
dipertanggunjawabkan oleh masing-masing individu dalam kelompok sesuai
nilai kredit yang mereka pakai.

‘’Saat ini sudah ada dana permodalan usaha sekitar Rp 3 miliar melalui
KKPE yang disalurkan kepada kelompok-kelompok tani peternak dan
pengrajin dangke yang direkomendasi pihak Dinas Peternakan dan
Perikanan di Kabupaten Enrekang,’’ ungkap Junwar. Lalu menambahkan,
untuk sementara pihak perbankan hanya sebatas menyalurkan KKPE kepada
peternak sapi dan kerbau. (Mahaji Noesa)