Posts Tagged ‘komunitas’

Gambar

Pemukiman suku Bajo di atas laut/Ft:google-kucintaindahnyalamku.blogspot.com

Manusia diciptakan bukan sebagai makhluk laut seperti ikan yang dilengkapi alat pernafasan berupa insang. Akan tetapi laut dapat menjadi pilihan medium utama kehidupan manusia, seperti sudah dibuktikan oleh Suku Bajo — komunitas warga di Indonesia yang awalnya lebih banyak memilih laut sebagai tempat melakukan aktivitas kehidupan mereka.

Dalam berbagai catatan peneliti diketahui, Orang Bajo telah menempati hampir semua pesisir pantai di Indonesia sejak ratusan tahun silam. Bahkan menurut Prof.DR.Edward L. Poelinggomang, Orang Bajo sejak berabad lalu sudah ditemukan di pesisir pantai pulau-pulau yang ada di Laut Cina Selatan.

Meskipun dalam paparan dosen jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Univesristas Hasanudddin tentang ‘Orang Bajo dan Persebarannya di Nusantara’ dalam Dialog Budaya di Festival Seni Suku Bajo Internasional, Minggu (20 Mei 2011) di GedungMulo Mini Hall Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, juga masih cenderung mengikuti hasil penelitian bahwa asal-usul Orang Bajo berasal dari Johor, Malaysia.

Mereka awalnya disebut-sebut adalah komunitas warga kerajaan mendapat tugas mencari seorang putri raja yang menghilang ke arah lautan. Dengan menggunakan perahu, warga kebanyakan tersebut lalu menyusur laut melakukan pencarian, termasuk ke wilayah perairan di Nusantara. Namun karena tak menemukan Putri Raja yang dimaksud, mereka enggan kembali ke Johor dan memutuskan untuk hidup mengembara menggunakan perahu di pesisir pantai.

Akan tetapi dalam sejumlah penelitian yang dilakukan kemudian terhadap komunitas Suku Bajo yang ada di pesisir pantai Indonesia, diketahui mereka umumnya memiliki bahasa yang sama yaitu Bahasa Bajo yang digunakan sebagai bahasa percakapan dalam keluarga sehari-hari. Bahasa yang digunakan pun saling dipahami antarkomunitas Bajo yang ada di pesisir pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan pesisir Papua.

Bahasa Orang Bajo yang ada di Indonesia tersebut tidak terdapat kemiripan dengan bahasa-bahasa yang ada di Johor, yang disebut-sebut sebagai tempat asal wilayah eksodus mereka. Bahkan, menurut Mannan, Presiden Komunitas Bajo Nasional yang juga adalah Kepala Bappeda Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara saat mengikuti Festival Suku Bajo di Makassar, sejumlah kata yang digunakan oleh Orang Bajo di Indonesia banyak yang memiliki persamaan dengan bahasa Tagalog dari Filipina. Bahkan dari peneliti lainnya juga mendapatkkan sejumlah kata-kata dalam Bahasa Bajo di Indonesia memiliki persamaan kata dalam bahasa Vietnam.

Namun melalui pendekatan semantik (kabahasaan) seperti itu, juga sebenarnya masih sangat lemah untuk dijadikan bahan penguat asal-usul orang laut Indonesia tersebut. Boleh jadi persamaan sejumlah kata-kata Orang Bajo di Indonesia dengan kata-kata dalam bahasa Filipina dan Vietnam hanya bagian dari kata-kata serapan sepanjang ratusan tahun koloni orang laut ini mengembara di perairan Nusantara dan kawasan sekitarnya.

Hal itu dapat diperkuat dengan sejumlah kata-kata lainnya dalam bahasa Orang Bajo Indonesia yang juga mirip dengan kata-kata khas yang digunakan oleh sejumlah suku bangsa di Indonesia. Seperti untuk penyebutan buah Mangga, Orang Bajo menyebutTaipa sama dengan bahasa etnik Makassar di Sulawesi Selatan. Demikian pula dengan penyebutan angka tiga (Bhs Bajo: telu) dan empat (Bhs Bajo: papat), Anjing (Bhs. Bajo: Asu) mirip dengan sebutan etnik di Pulau Jawa. Dan, banyak kata Bahasa Indonesia yang sama persis dengan Bahasa Bajo, seperti Hangat (Bhs.Bajo: Panas), Kiri (Bhs.Bajo: Kidal), Langit (Bhs.Bajo: Langit), Api (Bhs.Bajo: Api), Gigi (Bhs.Bajo: Gigi), Berat (Bhs.Bajo: Berat), Batu (Bhs.Bajo: Batu), Bulan (Bhs.Bajo: Bulan), Tertawa (Bhs. Bajo: Ngakak), dan lain-lain.

‘’….laut nafasku/laut hidupku/laut cintaku/akulah suku bajo/sukma laut/sajadahku laut biru…’’ kata H.Udhin Palisuri ketika bertindak sebagai moderator, membuka Dialog Budaya tersebut dengan ‘Puisi Suku Bajo.

Hampir pasti, bahwa Orang Bajo yang tersebar di Indonesia memiliki bahasa tersendiri yang tidak mirip dengan bahasa etnik manapun di dunia. Jika bahasa juga menjadi ciri suatu etnik, maka cukup kuat alasan jika Suku Bajo disebut sebagai salah satu etnik di Indonesia. Mereka adalah etnit laut yang tak memiliki wilayah teritorial etnik seperti etnik lainnya di Indonesia.

Justru penyelenggaraan Festival Seni Suku Bajo Internasional 2012 di Makassar, seperti diungkap Gubernur Sulawesi Selatan DR.H.Syahrul Yasin Limpo, SH,MSi,MH saat membuka resmi festival tersebut, sebagai gagasan yang brilian dalam rangka menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pengenalan beragam seni dan budaya etnik di Nusantara.

Dia berulangkali memuji H.Ajiep Padindang,SE,MM, salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sebagai pengagas awal Festival Suku Bajo, yang sekaligus sejak beberapa tahun belakangan menjadi pemerhati etnik Bajo khususnya yang menempati salah satu wilayah pesisir di BajoE, Sulawesi Selatan sejak masa silam. Kegiatan Festival Suku Bajo ini merupakan kegiatan yang ketiga kalinya dilaksanakan pihak Pemprov Sulawesi Selatan.

Sayangnya, penyelenggara Festival Seni Suku Bajo Internasional 2012 yang dimasukkan sebagai salah satu kegiatan event Visit Sout Sulawesi 2012 oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan dibuat hanya meriah dalam pemasangan baliho kegiatan. Hal itu terlihat, dalam pelaksanaan sangat kurang pesertanya. Bahkan dalam acara ‘Dialog Budaya’ yang digelar sehubungan dengan Festival Seni Suku Bajo yang diumbar bertaraf internasional tersebut, hanya terlihat diikuti belasan orang peserta, dan justru tidak terdapat wakil masing-masing komunitas Suku Bajo dari berbagai wilayah lain di Indonesia.

Pada hal menurut Prof.Dr.Andi Ima Kusuma Chandra, sejarawan dari Universitas Negeri Makassar (UNM), banyak hal menarik yang bisa dipetik dari perjalanan keberadaan dan perkembangan kehidupan Suku Bajo sebagai etnik laut di Indonesia.

Lebih jauh, tentunya, melalui keberadaan Suku Bajo bisa dipetik pelajaran model nasionalisme etnik di Indonesia yang memiliki cukup banyak suku-bangsa dengan beragam tradisi, adat budayanya.

Betapa tidak, Suku Bajo tidak memiliki wilayah teritorial etnik seperti etnik lainnya di Indonesia. Namun sejak ratusan tahun lalu etnik Bajo ini dapat menjadikan setiap wilayah pesisir di Nusantara sebagai tanah air mereka, dapat menyesuaikan diri dengan adat budaya masyarakat dimana mereka berada. Dan, di seluruh Indonesia mereka dapat diterima untuk hidup berdampingan dengan etnik lainnya, saling kerjasama sebagai warga Negara Indonesia dengan tetap memelihara tradisi, adat dan budaya Suku Bajo.

Dalam perjalanan masa saat ini, masih banyak tempat di pesisir pantai Indonesia dikenali sebagai pemukiman Suku Bajo. Namun, tidak sedikit di antara Suku Bajo yang sudah melakukan asimilasi, berbaur dengan etnik lainnya di Indonesia dan tidak lagi mengembara sebagai orang laut sebagaimana moyangnya dahulu.

Tahun lalu saya bertemu dengan dua orang warga di sekitar Perumnas Andonohu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang begitu fasih berbahasa Bugis. Dalam perbincangan lebih lanjut kemudian diketahui, ternyata mereka adalah Orang Bajo yang orang tuanya sebelumnya menghuni perkampungan Orang Bajo di muara Teluk Kendari, pesisir ke arah Nambo.

Salah seorang di antara warga tersebut adalah wanita, isteri dari seorang beretnik Makassar yang berprofesi sopir sebuah perusahaan di Kota Kendari. Melihat rona kulitnya yang kuning langsat, tanpa ada pengakuan dari yang bersangkutan, tak ada kesan jika dia perempuan berasal dari etnik orang laut yang selama ini diidentikkan suku yang memiliki warna kulit kehitaman.

‘’Orang di lingkungan saya ini semua tahu saya adalah Orang Bajo. Saya pun selalu memperkenalkan diri sebagai asli Orang Bajo. Jika bertemu atau kumpul dengan keluarga saya tetap bercakap menggunakan Bahasa Bajo,’’ katanya.

Sudah tentu, selain tinggal di sejumlah pemukiman Bajo yang tersebar di banyak tempat di Indonesia, banyak warga Suku Bajo lainnya yang sudah berkiprah jauh dari laut, hidup damai di tengah wilayah etnik lainnya di Indonesia.

Fenomena nasionalisme etnik seperti yang terjadi di kalangan Suku Bajo Indonesia, tampaknya mulai terjadi dengan etnik lainnya di Indonesia.

Suatu kali jelang Idul Fitri, saya bertemu satu keluarga turun dari sebuah kapal penumpang di Pelabuhan Makassar. Mereka datang dari Kalimantan Timur. Dari bahasa percakapannya, saya mengetahui jika mereka berasal dari etnik Jawa.

Ketika saya tanya tujuan mereka selanjutnya, di antaranya ada yang mewakili menjawab, ‘’Akan pulang kampung berlebaran!’’ ‘’Kemana?’’ Tanya saya lebih lanjut. ‘’Ke Bonebone,’’ jawabnya.

Bonebone merupakan salah satu wilayah penempatan transmigrasi asal Pulau Jawa dan Bali di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Unit pemukiman transmigrasi ini dibuka sejak awal-awal pemerintahan Presiden Soeharto. Ternyata, mereka adalah anak-anak dari para keluarga transmigrasi yang lahir, sekolah dan dibesarkan di salah satu lokasi pemukiman transmigrasi Bonebone yang kini telah merantau dan membuka usaha di wilayah Kalimantan Timur. Rombongan keluarga asal Jawa Timur dari Kalimantan Timur tersebut, pulang lebaran ke kampung halamannya di Bonebone, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Duh, sejuknya Indonesia dengan model nasionalisme etnik seperti itu. Dapat menjadikan dan menyintai seluruh tempat di Indonesia sebagai tumpah darah, seperti yang sejak masa silam dilakukan Suku Bajo yang mampu berbaur dan keberadaannya diterima oleh seluruh etnik di Indonesia. (Mahaji Noesa, Kompasiana, 22 Mei 2012)

 

Gambar

Penonton jadi penari dadakan pun tak terbakar ketika disulut obor (Foto: Istimewa)

Tubuh disulut nyala api tak terasa panas, pakaian yang dikenakan pun tak terbakar. Mengherankan tapi nyata. Kejadian seperti ini bukan sekedar potongan cerita lama dari kesaktian para jawara dalam rimba persilatan masa lalu, tapi masih berlangsung sampai sekarang dalam salah satu komunitas penari ‘Pepe-pepeka Ri Makka’ di Kota Makassar.

Tarian bernuansa magis tersebut, merupakan salah satu warisan asli nenek moyang Indonesia masa lalu yang masih dimainkan secara turun temurun oleh warga Paropo di bilangan wilayah Panakkukang, Kota Makassar.

Konon tarian ini mulai ditampilkan sebagai bagian dari hiburan dalam pesta-pesta rakyat seperti sunatan, upacara hajatan atau upacara perkawinan pada masa pascapendudukan penjajah kolonial Belanda, khususnya di perkampungan rakyat Paropo dan sekitarnya. Saat ini Paropo sudah menjadi salah satu bagian dari wilayah Panakkukang sebagai kawasan pemukiman dan perdagangan yang berkembang pesat di Kota ‘Metropolitan’ Makassar.

Gambar

Arca Pepe’pepeka ri Makka di anjungan Bugis-Makassar, Pantai Losari, kota Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Umumnya penari Pepe-pepeka Ri Makka terdiri atas beberapa orang laki-laki tua dan muda. Tampak tak ada gerakan baku dari tarian ini, kecuali para penari berbaris teratur ketika tampil ke pentas, berputar-putar sambil bersenandung khas dalam bahasa Makassar. Masing-masing penari pun seolah diwajibkan membuat gerakan-gerakan jenaka yang dapat mengundang gelak tawa penonton. Misalnya, ada penari yang berjalan mencontohkan gerakan seekor kera,berjalan terpincang-pincang, menggeleng anggukkan kepala bak lelaki renta, atau mendelik-delikkan mata sambil menjulur-julurkan lidah bagai orang kepedasan.

Dari dulu hingga sekarang para penari tak ada yang mengabdikan diri khusus sebagai penari Pepe-pepeka Ri Makka. Para penari yang kebanyakan masih punya hubungan keluarga, umumnya bekerja sebagai buruh serabutan, sebagai tukang kayu, tukang batu, penjual ikan atau penjual sayur keliling.

Dari perbincangan yang pernah saya lakukan dengan sejumlah penari Pepe-pepeka Ri Makka mengakui, sudah pernah ada upaya untuk mengajarkan tari ini ke orang luar melalui Sekolah Tari di Kabupaten Gowa. Namun, para penari di luar komunitas warga Paropo selalu saja merasa kepanasan apabila sampai ke adegan disulutkan api obor yang menyala ke tubuh mereka.

Padahal, katanya, dalam latihan-latihan rutin tari yang biasa dilakukan di kalangan mereka tak ada diajarkan mantera khusus anti api. Ada nyanyian-nyanyian yang ditampilkan sejak awal pertunjukan kedengarannya seperti pembacaan mantera, tetapi itu semua tak lain adalah semacam pantun-pantun jenaka dalam bahasa Makassar yang dimaksudkan untuk menggelitik kelucuan penonton. Seperti penyebutan kata ‘Pisang berbuah Emas’ dalam bahasa Makassar. ‘’Mana ada pisang berbuah emas,’’ katanya.

Nyanyian pengiring seperti ‘’Pepe-pepeka ri Makka lenterayya ri Madina Ya Allah Paroba Sai Na Takakbere dunia….dst’’ Selama ini sering diintreprestasikan penonton sebagai ucapan mantera anti apinya Nabi Ibrahim AS yang disadur dalam bahasa Makassar. Padahal, menurut sejumlah pemain, kalimat-kalimat itu hanya pengulangan dari apa-apa yang sudah pernah diucapkan secara spontan ketika melakukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka oleh para penari terdahulu. ‘’Kita ulang-ulang karena menarik, di samping sering ada kalimat-kalimat lucu yang diucapkan setiap kali pertunjukan,’’ katanya.

Namun begitu, menurut sejumlah penari, tidak semua orang di Paropo dapat diikutkan dalam tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Dari latihan-latihan yang dilakukan secara berkala di komunitas warga Paropo, para penari dipilih yang juga mampu memainkan alat musik seperti rebana, gong, gendang dan katto-katto sebagai pengiring tarian. Para pemain yang terdiri minimal dari 6 orang pria umumnya tampil dengan kostum pakaian adat Makassar dengan memakai destar di kepala. Pertunjukan dipimpin seseorang yang dituakan oleh komunitas penari.

Saat ini diakui, sangat jarang sekali orderan Tari Pepe-pepeka Ri Makka untuk pertunjukkan hajatan dari masyarakat umum. Belakangan, permintaan kebanyakan datang untuk pertunjukan-pertunjukan resmi yang dilakukan oleh pihak pemerintah terutama dalam event-event yang berkaitan dengan acara kepariwisataan. Termasuk untuk sejumlah pertunjukan keseniaan asal Sulawesi Selatan yang dilakukan di luar negeri.

Dalam pertunjukkan Kesenian Sulawesi Selatan di acara ‘South Sulawesi Colors’ (19 Maret 2011), tari Pepe-peka Ri Makka ikut dipertunjukkan di Stadium MBJB – Johor Bahru, Malaysia. Wakil Menteri Besar Johor, Tuan Jama’ Bin Johan dan Presiden Persatuan Kebajikan Ekonomi Bugis Malaysia yang juga Direktur Ugik Technologie, Lokman Junit ikut dilibatkan dalam tari Pepe-peka Ri Makka. Tubuh keduanya disulut sejumlah api obor, tak terbakar, dan bahkan terlihat santai-ria menikmati tarian api tersebut. Sekitar 4000-an penonton takjub menyaksikan kejadian ini.

Selain pemain, para penonton seringkali dilibatkan dalam adegan penyulutan api obor di pertunjukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Sulit dipercaya, sulutan api tak membakar kulit tubuh dan pakaian, tapi itulah kenyataan dalam klimaks pertunjukkan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Suatu tarian asli Indonesia di Makassar yang butuh perhatian pembinaan, termasuk melalui pelestarian komunitasnya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 06 Mei 2011)

Gambar

Tampak salah satu penjual jagung muda di Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Selain penjual terompet dan kembang api, sejumlah jalan protokol di kota Makassar, Senin (31/12) diramaikan dengan penjual jagung muda.

Para penjual jagung muda tersebut terlihat bertebaran di ruas-ruas jalan protokol seperti di Jl. Sultan Alauddin, Jl.Urip Sumoharjo, Jl. Cenderawasih, Jl. Ratulangi, Jl. AP Pettarani, dan sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan. Selain itu, di tepian ruas-ruas jalan yang ada di sekitar pasar-pasar tradisional terdapat banyak penjual jagung muda.

Jagung-jagung muda tersebut, menurut penjelasan sejumlah penjual sekitar Pasar Pabaeng-baeng  di Jl. Andi Tonro, berasal dari sejumlah daerah di selatan Makassar, seperti  Kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto yang saat ini lagi musim panen jagung.

Hampir semua titik penjualan jagung muda terlihat laris-manis ramai dikerumuni pembeli. ‘’Sejak hujan pagi hari sudah banyak orang datang membeli jagung muda. Sudah lebih 15 ikat jagung saya yang laku,’’ jelas Dg Aru, seorang penjual  jagung muda di tepi Jl Mesjid Raya, Senin (31/12) siang.

Seikat jagung yang berisi 15 – 20 biji jagung muda dijual seharga Rp 20.000. Ada juga yang menjual eceran seharga Rp 2.000 sebuah jagung muda.

‘’Untuk dibakar dan direbus ramai-ramai nanti malam menunggu datangnya tahun 2013,’’ kata seorang ibu dari wilayah Kecamatan Mariso yang membeli 3 ikat jagung muda di Pasar Terong Makassar.

Gambar

Penjual jagung muda laris manis di Jl Mesjid raya, Pasar Terong Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Langit kota Makassar sejak Senin pagi di akhir Desember 2012 mendung, bahkan terjadi gerimis di sejumlah tempat. Lepas tengah hari, ketika udara mulai kelihatan cerah, terlihat sejumlah jalan sudah dipadati kendaraan. Dalam malam menyambut pergantian tahun 2012 ke 2013 diperkirakan ratusan ribu kendaraan sepeda motor maupun mobil dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan akan memasuki kota Makassar.

Pihak Kepolisian Polrestabes Makassar sebelumnya sudah menghimbau mereka yang akan nginap di hotel-hotel sekitar Pantai Losari untuk sudah masuk satu hari sebelum hari H. Lantaran mulai pukul 17.00 wita semua jalan dalam radius 1 km yang mengarah ke Pantai Losari akan ditutup dari semua jenis kendaraan, dan baru akan dibuka pukul 8.00 pagi, Selasa, 1 Januari 2013.

Pemerintah kota Makassar tidak menyediakan acara hiburan khusus menyambut pergantian tahun di Pantai Losari. Akan tetapi, jika tak hujan pantai kebanggaan warga dan pemerintah kota Makassar tersebut diperkirakan akan dijejali sampai 200-an ribu orang pada malam menyambut datangnya Tahun Baru 2013. Lebih dari 4.000 personil kepolisian telah disiagakan untuk menjaga kelancaran dan keamanan suasana malam pergantian tahun di Kota Makassar.

Jika tak hujan, malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di kota Makassar diperkirakan akan meriah di semua sudut.  Hal itu bisa dilihat dari kepadatan tingkat hunian hotel-hotel. Lebih dari 6.000-an kamar hotel di kota Makassar sudah ter-booking beberapa hari sebelumnya. Larisnya penjualan terompet, kembang api serta jagung muda, mengindikasikan warga kota Makassar sampai ke lorong-lorong akan bersuka ria dalam malam menyambut  datangnya  Tahun Baru, 1 Januari 2013.

Sejumlah komunitas dalam malam menyambut datangnya tahun 2013 melakukan kegiatan religius berupa acara zikir bersama di Kota Makassar.  (Mahaji Noesa/Independen.co/31 Desember 2012)

songkolo

Songkolo Bagadang/Foto: google-geoxperience.gonla.com

Layaknya wilayah metropolitan, aktivitas warga di kota Makassar sekarang sudah hidup siang-malam. Salah satu pertanda kehidupan malam, di hampir semua sudut kota bermunculan warung atau pedagang K-5 yang menyuguhkan menu jualan ‘Songkolo Bagadang.’

Songkolo adalah makanan khas etnik Bugis-Makassar. Sebagian orang dari wilayah Bugis menyebutnya dengan nama Sokko. Makanan yang terbuat dari beras jenis ketan ini sudah dikenal sejak lama di wilayah Sulawesi Selatan. Kehadirannya selalu dikaitkan pelaksanaan pesta-pesta gembira, seperti pesta hajatan, syukuran, dan perkawinan.

Bahkan suguhan Songkolo yang biasanya terbuat dari beras ketan berwarna putih, merah atau hitam hingga saat ini, masih sering dikaitkan dengan prosesi sejumlah acara atau pesta adat. Masih banyak warga asal Bugis – Makassar di wilayah perkotaan sekarang merasa kurang lengkap apabila tak menghadirkan Songkolo apabila menjamu tamu di meja-meja makan saat perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Bahkan dalam memeriahkan peringatan maulid – kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tahun, banyak komunitas warga di kabupaten/kota Sulawesi Selatan telah menjadikan semacam tradisi untuk melakukan lomba membuat Songkolo hias.

Sebenarnya banyak jenis kuliner tradisional lainnya yang juga dijajakan melalui cafe, warung dan pedagang K-5 untuk warga sepanjang malam hari di kota metro Makassar. Tapi entah siapa yang memulai, para penjual penganan dari ketan itulah yang pertama kali memajang label sebagai makanan malam yang sekarang populer dengan nama Songkolo Bagadang. Setelah kuliner Songkolo, kemudian menyusul penamaan untuk kuliner malam lainnya, seperti Coto Bagadang dan Nasi Kuning Bagadang.

Bahkan sebenarnya yang namanya Sarabba, minuman tradisional yang terbuat dari adonan sari panas jahe dan telur, jauh sebelumnya telah menjadi jualan larut malam saat Makassar belum berdenyut sebagai kota metro. Namun nama Songkolo Bagadang yang kemudian menonjol sebagai kuliner tradisional jualan malam hari di kota Makassar.

Salah satu dari berpuluh penjual Songkolo Bagadang yang mewarnai perdagangan kuliner malam metro Makassar saat ini yaitu penjual Songkolo Bagadang Hajja Haniah, berlokasi di Jl. Antang Raya N0. 19 D, arah timur kota Makassar. Warung penjualan Songkolo di poros jalan menghubungkan kota Makassar – kabupaten Gowa tersebut, melayani pembeli 24 jam.

Menurut pemiliknya, Hj, Haniah (50), onzet warung Songkolo Bagadang yang dibuka sejak tahun 1995 tersebut antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap hari. Pembeli paling banyak malam hari, beragam, mulai dari sopir truck yang melintas malam, para sopir taksi, mahasiswa dan orang yang begadang malam hari. Bahkan tidak jarang warungnya dikunjungi rombongan pendatang dari luar kota.

Selain makan di tempat, banyak juga pembeli Songkolo Bagadang Hj.Haniah untuk dibawa pergi. Songkolo dijual dibungkus kertas kopi berat 2 ons per porsi dengan harga Rp 5.000. Dilengkapi lauk, berupa gorengan ikan atau teri kering, sambal, serta parutan kelapa alias sarundeng.

Selama dua malam observasi, terlihat setiap malam banyak pengunjung warung Songkolo Hj.Haniah juga datang menggunakan mobil-mobil tergolong jenis mewah.

Lidya Nurhidayati (26), karyawati salah satu bank swasta di Makassar, hampir setiap minggu menikmati Songkolo Bagadang Hj. Hania. “Selain enak, harganya juga terjangkau. Bahkan kalau ada teman dari luar kota, saya pasti merekomendasikan penganan khas kita ini,’’ kata Lidya sesaat setelah menikmati hidangan Songkolo.

Selain di Jalan Antang Raya, sajian Songkolo Bagadang dapat dijumpai malam hari di Jl. Pongtiku, Jl. Landak, Jl. AP Pettarani, dan sejumlah tempat lainnya di kota Makassar.  Sekalipun namanya sama, masing-masing warung punya resep berbeda dalam memeroses pembuatan Songkolo Bagadang. Hj.Haniah, misalnya, memilih pembuatan Songkolo yang terbuat dari campuran beras ketan hitam dan ketan merah.

‘’Sebelum beras ketan dikukus terlebih dahulu direndam 3 sampai 4 jam. Setelah matang, ketan ditiris santan kental agar rasanya enak dan tak lengket,’’ ungkapnya.

Namanya Songkolo Bagadang, tapi tidak berarti penganan tradisional ini hanya untuk dimakan bagi orang-orang yang akan begadang atau tidak akan tidur semalaman. ‘’Justeru kalau makan Songkolo sampai dua porsi,’’ cepat ngantuk, jelas Hairuddin, usai santap Songkolo Bagadang di wilayah Rapoocini.

Menikmati udara malam Makassar, jangan lupa Songkolo Bagadang, uenakkk…!