Posts Tagged ‘kutai’

Gambar

Monumen Puisi Udhin Palisuri di Parepare/Ft: Mahaji Noesa

Ada tiga agenda yang disiapkan Pemkot Parepare ketika mantan Presiden RI ke-3, Prof.DR (Ing), H.Bacharuddin Jusuf habibie berkunjung ke Kota Parepare, 6 – 7 April 2006dalam rangka penutupan kompetisi sepakbola Habibie Cup 2006  yang diselenggarakan di Kota Parepare.

Agenda acara yang disediakan Pemkot atas kunjunga B.J.Habibie yang putra Indonesia kelahiran Parepare tersebut, yakn9i memberikan penganugerahan Gelar Kehormatan Warga Utama bagi BJ Habibie dari Pemkot dan warga Kota Parepare. Kemudian peresmian penggunaan nama jalan yang mengambil nama Alwi Abdul Jalil Habibie – ayahanda BJ Habibie, menggantikan nama jalan di tepi pantai Kota Parepare.

Sedangkan agenda terakhir, yaitu meresmikan sebuah monumen yang bertajuk ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara’ yang di puncaknya mengabadikan bentuk dan guratan telapak tangan BJ Habibie.

Bagi Pemerintah dn warga Kota Parepare, sosok BJ Habibie menjadi ikon pemacu semangat kebanggaan untuk membangun kota maupun mengukir prestasi bagi bangsa dn negara. Tak heran jika sampai sekarang, di gerbang masuk Kota Parepare masih terpampang tulisan besar yang menyatakan ‘Selamat datang ke Kota kelahiran Presiden RI BJ Habibie.’

Dari tiga agenda acara dalam kunjungan Habibie di Parepare tersebut, yang luput dari perhatian banyak orang, yaitu diabadikannya secarah utuh sebuah puisi berjudul: Sekuntum Puisi untuk Prof DR (Ing) BJ Habibie (Setangkai Kasih buat ibu Ainum Habibie)’ karya seniman Sulsel Udhin Palisuri secara utuh dalam monumen ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara.’

Monumen setinggi lebih dari 3 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter yang terletak sangat strategis di tepi pantai Kota Parepare tersebut, oleh banyak kalangan menyebutnya, lebih tepat jika disebut sebagai ‘Monumen Puisi Udhin palisuri’. Alasannya inilah monumen pertama di Indonesia yang mengabadikan secara utuh sebuah karya puisi dari seorang seniman.

Bagi Udhin Palisuri yang mulai menapaki dunia kesenimanan ketika bersekolah di Kota Parepare tahun 1963, pembuatan monumen ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara’ yang juga mengabadikan utuh sebuah puisinya, disyukuri sebagai salah satu rakhmat Tuhan yang diberikan kepadanya dalam ketekunannya selama ini menggeluti dunia kepenyairan.

‘’Saya baru tahu tentang monumen itu lewat SMS, ketika saya menghadiri acara Ultah Kabupaten Wajo, 5 April 2006,’’ katanya.

???????????????????????????????

H.Udhin Palisuri di Monumen Korban 40.000 Jiwa kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Puisi itu, jelasnya, ia bacakan pertama kali dalam momentum Munas Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibuka oleh BJ Habibie, Desember 2005 di Kota Makassar.

Setelah menerima gelar sebagai warga kehormatan Kota Parepare, 6 April 2006 di gedung Islamic Centre Parepare BJ Habibie berulangkali memuji seniman Udhin Palisuri sebagai sosok sastrawan yang hebat, pandai menempatkan kata yang penting bagi kehidupan.

Bagi Udhin Palisuri sendiri yang telah menerbitkan 14 judul buku kumpulan puisi (antologi), dan kini sedang menyiapkan penerbitan kumpulan puisi ‘Tanah Tugas Kita’, ‘Gerbang Dayaku’ (Puisi Kutai kertanegara), ‘Tomanurung’ dan ‘Jendela Balla Lompoa’, menampik jika disebut puisinya yang terabadikan  di Monumen Telapak Tangan BJ Habibie di Kota parepare tersebut adalah puncak dari karya puiisinya.

‘’Puisi saya dlam monumen ini, baru merupakan anak tangga pertama menuju langit,’’ tandas penyair sekaligus deklamator yang belum ada tandingnya di Sulsel saat ini.

‘’…..semakin kupandang sinar matamu/engkau sekuntum puisi/kata berbunga cinta/pada jejak telapak tanganmu/melekat di jantung Parepare………’’ Begitu bunyi petikan baris-baris terkhir dari 60 baris puisi Udhin Palisuri yang diabadikan di Monumen ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara.’ Hidup seniman! (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.338 Thn VIII/Minggu I – II, April 2006, Hal.12)  

Gambar

Sketsa Benteng Somba Opu masa silam/sumber google-darimakassar.com

Nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang pelaut, bukan sekedar syair dalam gubahan pujangga. Catatan sejarah dan bukti-bukti arkeolog cukup jelas meriwayatkan, betapa bangsa kita sejak masa purba telah menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupannya. Bermula sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, ketika terjadi migrasi – perpindahan penduduk secara besar-besaran, dari daratan Hindia Belakang menuju daratan dan kepulauan lain di wilayah Asia Tenggara bagian selatan.

Pergerakan koloni penduduk ras Mongolia tersebut meninggalkan daratan berlayar menyusur sungai mengarungi lautan mencari daerah-daerah baru yang dianggap aman dan subur untuk membangun kehidupan lebih baik. Mereka berlayar dengan menggunakan perahu-perahu sederhana. Termasuk berlayar menyeberangi lautan bebas ke arah pulau-pulau nusantara, Indonesia. Perpindahan penduduk serupa terjadi pada 300 tahun berikutnya. Pendatang baru di kepulauan nusantara ini disebut dengan Deurto Melayu yang mendesak Proto Melayu, penduduk sebelumnya.

Perkembangan selanjutnya, dengan mengandalkan armada laut penduduk yang telah memulai kehidupan baru di kepulauan nusantara, melakukan komunikasi antarpulau. Mengadakan kontak-kontak sosial, budaya, dagang, dan persahabatan antarsuku bangsa hingga ke Pulau Madagaskar di sebelah barat dan pulau Paskah di sebelah timur. Laut menjadi bagian penting dari perkembangan kehidupan dan peradaban mereka.

IMG00666-20121212-1623

Benteng Somba Opu abad XVI lukisan Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Kerajan-kerajaan yang kemudian tumbuh dan membesar di wilayah nusantara, seperti Kerajaan Sriwijaya di Palembang (Sumatera Selatan) pada permulaan abad VII (683) merupakan kerajaan maritim. Mereka memiliki armada laut yang cukup besar, digunakan untuk memperluas pengaruh, menjalin hubungan kerjasama dan perdagangan dengan kerajaanlainnya di India, Cina, dan Persia.

Demikian pula dengan Kerajaan Majapahit pada abad XIV di Jawa Timur yang terkenal dengan Mahapatih Gajah Mada, dapat mempersatukan nusantara didukung kekuatan armada laut yang tangguh.

Kebesaran Kerajaan Gowa di Makassar Sulawesi Selata) saat mencapai puncak kejayaan pada abad XVII dipimpin Raja Gowa XVII  Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana, juga lantaran ditunjang kekuatan dan kebesaran armada laut.

Dengan memiliki armada laut cukup besar, didukung prajurit-prajurit laut yang gagah berani, Kerajaan Gowa termasuk salah satu kerajaan yang paling luas wilayah taklukannya yang pernaha ada di Indonesia. Terdapat sekitar 70 kerjaan besar dan kecil di kawasan timur nusantara menyatakan berlindung di bawah naungan Laklang Sipuwea – payung kebesaran Kerajaan Gowa.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada pertengahan abad XVII meliputi seluruh kepulauan nusantara di bagian timur, dari Sangir-Talaud Sulawesi Utara) – Pegu – Mindanao (Filipina) di bagian utara, Sula – Dobo – Buru – Ambon – Kepulauan Aru (Maluku) di sebelah timur, Marege (Australia) – Timor – Sumba – Flores – Sumbawa – Lombok (Nusa Tenggara) di sebelah selatan, dan Kutai – Berau (Kalimantan Timur) di sebelah barat.

Pusat pemerintahan Kerajaan Gowa, Kota Somba Opu antara tahun 1550 – 1650 telah menjadi salah satu dari 8 kota teramai di Asia Tenggara. Penduduknya, kala itu, sudah mencapai 160.000 jiwa. Pada saat yang samapenduduk kota Paris hanya sekitar 100.000 jiwa. Sedangkan kota pelabuhan terkenal di nusantara seperti Gresik, Surabaya dan Sunda Kelapa (Jakarta) masing-masing hanya berpenduduk sekitar 50.000 jiwa.

Kota pelabuhan Somba Opu, masa itu, tak hanya ramai dengan lalu-lintas pelayaran iternasional. Tapi juga menjadi kota pusatpertemuan dan transaksi perdagangan masyarakat antarnegara – seperti dari Portugis, Denmark, Inggris, Spanyol, Cina, Arab, pahang, Campa, dan Johor. Masing-masing negara menempatkan orang dan membangun perwakilan dagang di kota Somba Opu. Saat itu terdapat sekitar 3.000 orang Portugis yang berdiam di kota Somba Opu.

Dengan kekuatan armada laut yang kuat dan besar, Kerajaan Gowa pada abad XVI – XVII tampil sebagai Kerajaan Maritim tersohor di kawasan timur nusantara. Mampu menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan tak hanya dengan kerajan-kerajaan di nusantara tapi juga dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, India, dan Gujarrat. (Mahaji Noesa/A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong/2002)