Posts Tagged ‘leluhur’

Gambar

Lembah Sungai WalanaE di Soppeng (Foto: Riset Google-panoramio.com)

Kehidupan peradaban manusia diperkirakan sudah berlangsung sejak sekitar 10.000 tahun lalu di wilayah Sulawesi Selatan. Tanda-tanda kehidupan purba tersebut, antara lain, dapat dilihat dari catatan temuan dari serangkaian penelitian sejarah dan purbakala yang pernah dilakuka oleh sejumlah peneliti di Kabupaten Soppeng.

Melalui penelitian yang pertama kali dilakukan oleh Hendrik Robert Van heekeren (H.R. Van Heekeren) tahun 1947 di Cabenge, Soppeng, ditemukan sejumlah peninggalan manusia purba berupa artefak, alat-alat batu polelitik dan neolitik. Alat-alat tersebut diidentifikasi para ilmuwan peneliti sebagai alat yang digunakan dalam kehidupan masyarakat tertua di zaman prasejarah.

Prof Dr.Mattulada mengutip Drs.Moh.Ali (1978: 144-145) menyebut tahun….sampai 132 Masehi sebagai tahun prasejarah, meliputi paleo lithicum,meso lithicum, neo lithicum sebagai masa persemaian benih kebudayaan di Indonesia.

Temuan H.R. Van Heekeren, mantan pegawai pertambangan batu bara asal Belanda yang pernah jadi tawanan Jepang di Thailand pada masa perang dunia kedua tersebut, diperkuat dengan penelitian yang dilakukan ilmuwan Indonesia Dr.H.P.Soejono (ahli prasejarah) tahun 1970.

Menyusul penelitiannya yang dilakukan pada tahun 1977 – 1978, melibatkan Dr.T.Yacob (ahli Paleo Antropologi Ragawi) dan Dr.G.J.Bastra di sepanjang lembah Walanae berkaitan dengan hasil temuan H.R.Van Heekeren.

Tahun 1976, Budisantosa Azis dkk dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional juga melakukan penelitian ikhwal yang sama di lembah Walanae yang dipusatkan di situs Paroto, Soppeng. Hasil penelitian menemukan bengkel-bengkel pembuatan alat berburu, alat untuk mengumpulkan dan pembuatan makanan pada masa prasejarah yang persebarannya meliputi wilayah yang cukup luas di Soppeng.

Gambar

Peta Kabupaten Soppeng (Sumber: riset Google-infosulsel)

Selain menemukan alat-alat budaya paleolitik (zaman batu tua) sekitar 150 buah, berupa tatal batu, panatak (chopper), penceruk, dan bahan baku berupa bengkel-bengkel batu. Para peneliti berikutnya, juga mempertegas hasil temuan H.R.Van Heekeren atas sejumlah fosil binatang purba (vertebrata) di wilayah Soppeng. Seperti fosil gajah (stegodon danArchdiskodon celebencis), babi rusa (Celebenchorus heekereni), kura-kura raksasa (tertudo margae) dan lain-lain yang sangat penting bagi ilmu geologi dan paleontologi.

Sekitar 300 potong fosil vertebrata yang ditemukan dari beberapa situs di lembah Walanae. Paling menarik, temuan gading gajah dengan panjang 115 cm dan fragmen gigi M2 dari genus Stegodon phalus Sp oleh Dr.G.J Bastra pada tahun 1994 di situs Tonjonge, desa Baringeng, Soppeng.

Jejak adanya kehidupan manusia pada zaman purba (Zaman prasejarah, ….-132 Masehi) di wilayah Soppeng, diperkuat dengan temuan sejumlah peninggalan sejarah dan purbakala oleh David Bulback dan IanCaldweel pada tahun 1986.

Kedua mahasiswa jurusan sejarah dan Arkeologi dari Australian National University tersebut, melakukan penelitian pada 12 situs di bekas pusat kerajaan Soppeng untuk kelengkapan bahan penyusunan desertasi PhD-nya. Ia Caldweel menulis tentang sejarah kuno kerajaan di Sulawesi Selatan dan David Bulback mengenai arkeologi prakolonial di daerah Gowa dan Makassar. Untuk itu, keduanya memilih wilayah Soppeng sebagai salah satu obyek penelitiannya.

Dalam laporan akhir penelitian mereka (1989), disebutkan adanya temuan sejumlah bangunan dan situs bercorak magalitik, seperti Menhir (untuk keperluan pemujaan), Dakon (batu monolit), Lesung Batu (untuk kepeluan menumbuk dan membuat bahan makanan), Batu Dulang (untuk menyimpan air), dan Dolmen (meja batu sebagai altar pemujaan) yang banyak tersebar di wilayah Soppeng. Benda-benda tersebut memberikan indikasi kuat tentang kehidupan manusia dan kegiatannya di wilayah Soppeng sejak sekitar 3.000 tahun lalu.

Bahkan kedua peneliti ini menunjuk temuan gua Codong di Citta, kecamatan Liliriaja yang didalamnya didapatkan flake (batu serpih), blade (alah belah), mata panah, tulang-tulang dan gigi manusia sebagai bukti kuat bahwa gua tersebut sebagai gua prasejarah.

Gua-gua prasejarah seperti gua Codong diidentifikasi sebagai tempat hunian penduduk asli Sulawesi Selatan antara 3.000 sampai 10.000 tahun silam, yaitu sebelum datangnya penduduk migran – penduduk yang melakukan perpindahan pertama secara besar-besaran dari daratan Hindia Belakang ke wilayah Nusantara (Indonesia0 sekitar 3.000 tahun lalu.

Bertolak dari sejumlah hasil penelitian serta temuan peninggalan sejarah dan purbakala tersebut Prof Dr. Darmawan Mas’ud (alm) ketika masihg menjabat sebagai Kepala Kantor Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulselra menyatakan, bahwa kehidupan manusia di Sulawesi Selatan lebih tua dari kehidupan manusia di Benua Amerika. Sedangkan Dr.G.J Bastra dalam kesempatan memberikan ceramah ilmiah di Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulselra di Makassar (1994), secara khusus menunjuk kehidupan manusia poleolitik (zaman batu tua) di Soppeng, termasuk yang kemudian menurunkan generasi sejumlah suku di wilayah lainnya di Sulawesi selatan.

Artinya, Soppeng berdasarkan hasil penelitian ilmiah dan temuan bukti arkeologi tidak diragukan juga merupakan salah satu wilayah asal leluhur manusia Sulawesi Selatan. (Mahaji Noesa/Buku: A.Abd.Muis La Tenridolong Sang Patriot Tanpa Pusara/2006)

Gambar

Lukisan Bachtiar Hafid

Secara tak sengaja beberapa hari lalu saya menemukan beberapa lembaran majalah tua  Warta Sulsel. Ini adalah majalah internal yang pernah diterbitkan oleh pihak DPRD Provinsi Sulsel saat diketuai oleh dr.H.B Mappangara. Penerbitan perdana majalah ini dilakukan di percetakan Harian Merdeka Jl. AM Sangaji, Jakarta tahun 1989.

Waktu itu, saya bersama Udhin Palisuri yang menyiapkan semua materi tulisan, foto, serta melay-out majalah Warta Sulsel Edisi Perdana yang memuat laporan utama tentang ‘Pengwilayahan Komoditas’  dengan gambar sampul, Gubernur Sulsel  Prof.DR H.A Amiruddin. Mess Pemda Sulsel yang berlokasi di daerah Menteng, Jl. Yusuf Adiwinata, Jakarta, dijadikan Posko selama sepekan untuk urusan penerbitan perdana majalah tersebut.

Selama bergabung  di urusan keredaksian Warta Sulsel hingga tahun 1994, banyak kenangan manis bekerjasama dengan Udhin Palisuri, Ajiep Padindang, Elyas Yoseph, Goen Monoharto, Nurhayana Kamar, Ilyas Syamsuddin, Kaharuddin Tokkong, Abd.Madjid, Muannas, Jupriadi, Nasrayanti, Saparudddin, Sabollah, Budi Palisuri, Aris Mandji, dan banyak lagi bekas kru Warta Sulsel lainnya.

Paling berkesan, saya yang kala itu belum terlalu paham bahasa Bugis mendapat tugas untuk mengisi rubrik ‘Pesan Leluhur’ yang selalu diletakkan pada halaman paling akhir Warta Sulsel. Seperti namanya, rubrik  Pesan Leluhur berisi kutipan pesan-pesan leluhur dari para leluhur Sulawesi Selatan yang bersumber dari berbagai catatan lontara, kebanyakan dalam Bahasa Bugis.

Berbagai buku referensi yang pernah mencatat pesan-pesan leluhur Bugis-Makassar pun dikumpulkan. Kemudian pesan-pesan itu dikelompokkan dalam satu tema tertentu untuk disajikan setiap penerbitan.  Rubrik Pesan Leluhur yang saya asuh tersebut ternyata kemudian menjadi  salah satu ciri yang disukai banyak  pembaca  Warta Sulsel. Ratusan penerbitan Warta Sulsel memuat pesan-pesan leluhur Bugis-Makassar. Oplag Warta Sulsel mencapai 6.000-an eksamplar tiap edisi. Wilayah edar seluruh kantor pemerintah di Sulsel termasuk ke perpustakaan-perpustakaan SD di Sulsel.  Saya sendiri tidak punya dokumentasi lengkap majalah Warta Sulsel yang memuat pesan-pesan leluhur tersebut.

Berikut salah satu sajian Pesan Leluhur diberi tema ‘Tidak Semua Gampang Diatur’ yang termuat di halaman 78, Warta Sulsel Edisi No.83, Juli 1993/II:

Semua bisa diatur! Kalimat pendek ini, belakangan sering kita dengar diucapkan orang secara lantang, sehubungan adanya berita-berita tentang ‘calon’ yang diarahkan untuk menggantikan kedudukan sejumlah bupati di Provinsi Sulsel yang sudah akan berakhir masa jabatannya tahun ini.

Gambar

Dok. Majalah Warta Sulsel

Kita tidak tahu persis apakah ucapan tersebut bermuatan penyindirin atau sekadar jawaban basa-basi atas permasalahan tersebut. Yang pasti, dari sejumlah pesan-pesan leluhur orang Sulsel, tidak satupun yang menyatakan persoalan-persoalan pemerintahan maupun kemasyarakatan yang timbul dapat dengan mudah diatur menurut kehendak para pemimpin yang berkuasa.

Sininna gau’E namadeceng narekko matatrette’i (bhs.Bugis)

Artinya: ‘’Semua hal baru akan baik apabila teratur.’’

Begitu pesan Arung Matoa Sangkuru yang tercatat dalam Lontara Andi Makkaraka Ranreng Betetempola. Semua jadi baik jika teratur, dalam hal ini, tidak sama artinya dengan kalimat ‘’semua bisa diatur’’.

Dan, untuk itu dipesankan:

1.Mengenali hal buruklalu ditinggalkandan memahami kebaikan untuk dikerjakan.

2.Mengenali yang tak mungkin dan memahami yang mungkin.

3.Mengenali yang tak pantas dan memahami yang pantas.

4.Mengenali yang curang dan memahami kejujuran.

Simpulannya, kita diajak untuk mengenal hal-hal yang patut dihindari dan memahami apa yang baik yang seharusnya diperbuat. Dalam bahasa Bugis, pesan-pesan Arung Matoa Sangkuru tersebut, sebagai berikut:

Issengngi maja’E mutettangngi mupenessaiwi decengnge mupogau’i.

Issengngi tancajie namupanessaiwi jajie.

Issengngi temmakkuwae namupanessaiwi makkuwae.

Issengngi macekoe namupanessaiwi malempu’e.

Kemudian dalam memnghadapi persoalan-persoalan yang rumit sekalipun, langkah yang harus diambil menurut pesan leluhur Bugis yang diabadikan oleh H.Andi Ninong:

Lalo bekka’ temmakkasape’

Artinya: Sesak lolos tak merobek.

Maksudnya: Untuk menyelesaikan suatu persoalan, usahakan, kalau dapat, tak ada yang merasa dikorbankan. Paling tidak, penyelesaian dapat menekan sedikit mungkin terjadinya pengorbanan.

Dalam kaitan dengan kedudukan atau jabatan tinggi, Laboulu dalam lontara kumpulan Andi Pabarangi, mengatakan:

Aja’ muangowai onrong,  aja’ to muacinnai tanre tudangeng, de’tu muullei padecengi tana. Risappa’po muompo’, rijello’po muakkengau.

Artinya: ‘’Janganlah menyerakahi kedudukan, jangan pula terlalu mengingini jabatan terlalu tinggi, kau takkan sanggup memperbaiki negara. Kalau dicari baru akan muncul, kalau ditunjuk baru kau menerima.’’

Maksudnya: Menurt A.Hasan Machmud dalam buku “silasa’ yang disusunnya, lontara ini mengisyaratkan, bahwa pada dasarnya semua orang mencita-citakan kedudukan yang tinggi, tetapi terkadang takdir membawa ke arah lain. Tapi, katanya, jika keserakahan menjadi titik tolak suatu cita-cita, maka dalam perjalanan mencapainya unsur moral akan dikesampingkan. Lebih-lebih lagi kalau ditunjang oleh kekuasaan. Sebaliknya, seseorang yang beritikad baik pada umumnya mempunyai harga diri, ia tidak akan mengemis jabatan dengan mengorbankan harga dirinya.

La Tenribali, bekas Arung Cinnotabbi V, menyangkut kekuasaan pemimpin, sejak berabad silam, tepatnya ketika pendiri Kerajaan Wajo ini mengusulkan agar Boli diganti dengan Wajo, berkata:

Arungnge temmasolompawo, wanuae temmangellepasang, naia riwenru’e ade’ mapangnge namacinnong maritikiti’ namadeceng malebbang naripada molai mappaolangngi nariakkitangi ri Dewata Seuae.

Artinya: ‘’Raja tidak akan memerintah laksana air mengalir dari hulu ke muara. Sebaliknya rakyat tidak akan memaksakan kehendaknya bagaikan air pasang memukul pantai. Yang kita bentuk sebagai hukum adat ialah bersih jernih bewrkilauan yang dapat berlaku luas terhadap semua orang, kta sama taati lebih dahulu kemudian menyuruh rakyat menaatinya pula.’’

Duh, betapa damainya tentu, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, jika mutiara pemikiran La Tenribali tersebut masih dapat diaktualisasikan. Kalimat ‘semua bisa diatur’ tentunya pula tak perlu menerpa pendengaran dan rongga-rongga permasalahan. (Mahaji Noesa/Warta Sulsel  Edisi No.83 Juli 1993/II).

Gambar

Kuda putih/google-pengging.com

Jantan perkasa dalam permainan seks, menjadi impian banyak lelaki sejak jaman dulu. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya tinggalan atau warisan tradisional ramuan herbal untuk ‘obat kuat’ lelaki di berbagai daerah di Indonesia.

Suatu waktu, ketika melakukan perjalanan ke wilayah Bosowa (Kabupaten Bone, Soppeng dan Wajo) di Provinsi Sulawesi Selatan, saya ikut terlibat dalam perbincangan sejumlah orang mengenai adanya ‘Kayu Sanrego’ yang disebut-sebut apabila lelaki menggigit-gigit potongan kecil dari kayu itu, dapat menimbulkan kekuatan seks seperti kekuatan ‘Kuda Sanrego’ yang pernah hidup di wilayah tersebut pada masa lampau. Kuda yang kini masih tetap ada dalam cerita rakyat di Bosowa, konon mampu secara non-stop menggauli hingga 8 ekor kuda betina dalam seharinya.

Akan tetapi dimana dapat diperoleh dan bagaimana sesungguhnya bentuk ‘Kayu Senrego’ tersebut, dari banyak orang yang saya tanyai hingga ke pelosok Bosowa, belum ada yang memberikan gambaran atau penjelasan pasti. Ada yang menyebut pohonnya besar tumbuh liar di hutan alam dan kini sudah langka untuk ditemui. Namun sejumlah orang menyebut, tumbuhan ‘Kayu Sanrego’ itu banyak tumbuh di sekeliling lingkungan pemukiman di wilayah Bosowa. Rahasia ni yee…..

Seorang kakek di Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo pernah menunjuk pohon Bunga Terompet yang dalam bahasa Bugis disebut sebagai Pohon Tampong-tampong, sebagai salah satu ‘obat kuat’ lelaki yang dikenal sejak dulu di wilayah Bosowa. Akar pohon tampong-tampong tersebut seperti akar Gingseng bercabang menusuklurus hingga lebih satu meter ke dalam tanah.

Akar pohon ini, katanya, yang dikeringkan lalu diiris-iris kecil lebih kecil dari ukuran batang (kayu) Korek Api. Apabila lelaki menggigit-gigit irisan akar kayu yang telah dikeringkan tersebut — beberapa saat sebelum berhubungan seks, maka ‘permainan’ yang dilakukan tidak akan mencapai klimaks orgasme sekalipun sudah berlangsung berjam-jam, tanpa ia meneguk air putih.

Selain akar, biji dari buah pohon tampong-tampong (Bunga Terompet) yang berduri lembut disebut bermanfaat untuk campuran sejumlah obat penambah gairah lelaki maupun wanita, sayangnya tanpa menyebut bagaimana cara pemanfaatannya.

Sedangkan bunga Tampong-tampong (dua macam) – ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna ungu. Bunga Terompet berwarna putih, katanya, banyak orang di wilayah Bosowa dahulu yang terkena penyakit sesak nafas (sejenis asma) menjadikan sebagai obat penyembuh. Caranya, bunga itu diiris-iris lalu dijemur hingga kering, kemudian dicampur tembakau dijadikan rokok lintingan kemudian diisap-isap secara rutin.

Sedangkan bunga tampong-tampong yang berwarna ungu, pada jaman lalu, kebanyakan dipakai untuk menggosok-gosok gigi kuda. Kuda yang giginya telah digosok bunga tampong-tampong berwarna ungu tersebut, menurut sang kakek, tenaganya tambah kuat terutama bagi kuda-kuda yang akan diikutkan dalam perlombaan pacuan kuda.

Apa sesungguhnya kandungan yang terdapat dalam pohon tampong-tampong, hingga saat ini masih misteri. Saya belum pernah mendapatkan catatan hasil kajian ilmiahnya.

Yang pasti, dalam banyak resep tradisional ‘Obat Kuat’ lelaki, unsur/bahan Merica, Kuning Telur Ayam, dan Madu yang dijadikan inti ramuan  tidak diragukan lagi, karena mengandung garam mineral berpengaruh kuat merangsang syaraf dan kontraksi otot, serta garam-garam empedu pembentuk hormon seks.

Aha… lelaki dengan ‘Obat Kuat’ rasanya sangat egois. Padahal, seperti disiratkan Remy Sylado melalui karya ceritanya berjudul ‘Mata Hari’ yang pernah dimuat secara bersambung di harian Kompas, dalam permainan seks kemenangan bukan karena pihak lelaki yang kuat atau sebaliknya si perempuan yang unggul. Nikmatnya, jika setelah melakukan permainan tersebut keduanya merasa kalah.

Kita simak beberapa resep tradisional ‘obat kuat’ yang menggunakan merica, telur ayam dan madu, berikut ini:

1. Untuk kepuasan berhubungan seks, ada resep yang menganjurkan agar meminum adonan yang dibuat dari 5 siung bawang putih yang dihaluskan, kemudian diaduk dengan sebutir kuning telur ayam kampung serta satu sendok makan madu murni (royal jelly). Untuk sekali diminum, beberapa saat sebelum berhubungan seks dengan pasangan.

2. Adonkan campuran sekitar 30 butir Merica (Piper nigrum L) atau lada hitam yang telah ditumbuk halus , dengan biji dari 2 tangkai Petai Cina (Leucaena Leucocephala/Lmk) kering yang telah dihaluskan. Lalu diaduk dengan dua butir Telur (kuningnya) Ayam Kampung ditambah 1 sendok makan Madu Asli. Adonan ini sangat dianjurkan untuk diminum oleh pria yang intensitas permainan seksnya cukup tinggi.

3. Adonan 1 sendok makan perasan air Kunyit (Curcuma Domestica Val) dengan setengah sendok makan air Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia/Swingle), ditambah 1 butir Telur (kuningnya) Ayam Kampung dan 1 sendok makan Madu Asli. Jika resep ini diminum secara rutin setiap hari dapat menjamin keperkasaan lelaki dalam berhubungan seks dengan pasangannya.

4. Adonan sekitar 30 gram Merica yang dihaluskan, 1 sendok makan halusan Petai Cina/Lamtoro, dua butir (kuning) Telur Ayam Kampung dan 1 sendok makan Madu Asli. Ramuan ini dapat membuat pria senantiasa jantan perkasa dalam berhubungan seks, jika diminum setiap pagi.

5. Haluskan 10 gram Bawang Putih, 10 gram Adas (Foeniculum Vulgare Mill), 20 gram Lada Hitam atau Merica, 20 gram Pulosari (). Halusan dicampur hingga merata lalu ditirisi air panas secukupnya. Kemudian diaduk dengan 2 butir (kuning) Telur Ayam Kampung dan 10 gram Madu Asli. Resep ini jika diminum secara rutin setiap pagi atau pada malam hari sebelum tidur, akan menambah kekuatan, bahkan dapat menghidupkan gairah pria yang lemes sekalipun.

Apa sesungguhnya yang terkadung dalam bahan herbal Merica, Kuning Telur dan Madu, sehingga sejak masa silam nenek moyang bangsa Indonesia telah memiilihnya sebagai bahan inti ramuan lelaki yang ingin perkasa dalam permainan seks?

Dari catatan penelitian ilmiah, diketahui, setiap kilogram Merica mengandung 460 mg kalsium, 359 kal (kalori), lemak, 6,5 gram, 11,5 gram protein, 16 ,8 besi, 200 mg phosphor, 64,4 gram, H.A 0,2 mg vitamin B1.

Sedangkan dalam setiap 100 gram Madu (asli) mengandung 5 gram kalsium, 294 kalori, 0,3 gram protein, 16 mg phosphor, 0,9 mg besi, 79,5 gram H.A, dan 4 mg vitamin C.

Untuk setiap butir Telur Ayam kampung ternyata mengandung oleat (asam lemak tak jenuh), Vitamin A Vit. E, Vit K, Vit B Komplek, zat besi, fosfor, mineral mikro, leshiting , sekitar 5 gram protein hewani, phospholipida, kolestrol , dan trigliserida (lemak netral). (Mahaji Noesa/Kompasiana, 13 Desember 2010).