Posts Tagged ‘listrik’

Gambar

Inilah bentuk angin Puting Beliung/Foto: Riset Google – nyebur.com

Dalam banyak pengalaman amatan warga, kehadiran angin Puting Beliung, selalu diawali dengan munculnya semacam gumpalan awan putih kehitaman yang menggulung tegak bagai batang berukuran besar dari atas langit ke bumi. Gulungan awan tersebut itulah yang bergerak cepat seolah menjadi pusat kekuatan tiupan angin memporakporandakan semua benda yang dilewati.

Tak hanya rumah yang dapat dihancurkan, benda-benda yang tertancap di bumi seperti tiang listrik maupun pohon-pohon berukuran besar dapat tercabut diterbangkan jika dilewati oleh pusaran anging Puting Beliung. Masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara terutama kalangan masyarakat nelayan sejak lama sudah mengenal angin Puting Beliung ini dengan sebutan sebagai ‘Laso Anging’

Dari banyak cerita nelayan di Sulawesi Selatan, diketahui tanda-tanda akan terjadinya pusaran Laso Anging apabila terlihat gumpalan awan hitam menggantung seolah hanya menutupi setengah langit bergerak cepat disertai deru angin dan gerimis tipis.

‘’Saya tidak pernah melihat Laso Anging saat hujan deras. Bahkan dari banyak kejadian Laso Anging segera berhenti jika turun hujan deras,’’ jelas Dg. Nassa, seorang nelayan berusia senja di bilangan Kecamatan Mariso Kota Makassar yang mengaku di masa mudanya sudah seringkali berjumpa Laso Anging dalam perjalanannya mencari ikan di laut sekitar Selat Makassar hingga ke perairan pulau-pulau Nusa Tenggara dan Maluku.

Gambar

Puting Beliung di atas laut/Foto: Riset google-nyebur.com

Laso Anging atau Puting Beliung disebut merupakan jenis Tornado tingkatan paling rendah. Angin perusak tersebut dapat terjadi lantaran adanya anomali cuaca ditandai dengan hembusan angin yang berlawanan arah.

Dalam era kemajuan teknologi modern sekarang belum ditemukan satu cara untuk menghidarkan diri dari amukan Puting Beliung yang dapat muncul tiba-tiba di tempat mana saja saat cuaca mengalami mendung berat. Belum ditemukan metode bagaimana dapat menghancurkan pusaran Puting Beliung yang dapat mencabut pohon sekalipun memiliki akar tunggang yang tertancap sampai lebih 5 meter ke dalam tanah.

Dari sejumlah kejadian, jika dilihat secara kasat mata pusaran angin Puting Beliung tersebut seolah berputar menggulung dari langit ke bumi. Namun, sesungguhnya pusarannya berputar ke arah langit, sehingga setiap benda yang dilalui akan ditarik naik atau diterbangkan ke atas untuk kemudian terhempas jika keluar dari pusaran. Amat mengerikan.

Dari banyak cerita rakyat pascakejadian Puting Beliung di Sulawesi Selatan, disebut-sebut jika Laso Anging itu turun tidak di sembarangan tempat. Akan tetapi punya jalur-jalur tertentu. Di tempat mana Laso Anging pernah terjadi, di lokasi sekitar kejadian itu dicurigai sebagai jalur yang kemungkinan akan dilalui kembali jika kemudian terjadi Laso Anging.

Namun kebenaran cerita tersebut masih disangsikan. Di tahun 70-an saya pernah menyaksikan langsung dari dekat peristiwa Puting Beliung yang pusarannya membentang vertikal cukup panjang dari udara dengan gulungan sebesar drum ke permukaan laut Teluk Kendari. Pusaran angin terlihat bergerak begitu cepat di atas laut teluk mulai dari sekitar Sodohoa hingga ke pesisir Abeli, depan Dermaga Kota Kendari.

Saat itu, langit terlihat dipenuhi awan hitam disertai gemuruh angin dan bunyi gelombang air yang dilalui Puting Beliung tersebut. Orang-orang yang ada di pesisir daratan dalam jarak sekitar 400 sampai 500-an meter dari pusat pusaran angin juga ikut merasakan tekanan angin yang begitu kencang. Semua berlarian menjauh, panik.

Gambar

Bentuk lain angin puting belioung/Foto: Roset google – nickirfan.blogspot.com

Dari sejumlah perahu layar yang tertambat di pesisir Kendari Caddi dan sekitarnya, terdengar banyak kumandang orang melafazkan azan. Saya menyaksikan sendiri ada seorang lelaki berdiri di pucuk tiang sebuah perahu phinisi dalam keadaan berbugil. Ada kepercayaan yang tumbuh sampai sekarang di kalangan masyarakat pesisir di Provinsi Sulawesi Selatan maupun di Provinsi Sulawesi Tenggara, Laso Anging alias Puting Beliung tidak akan bergerak ke arah dimana ada seseorang lelaki berbugil.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut, dan sampai sekarang tidak pernah ada lagi kemunculan kembali Laso Anging di teluk yang kini siang malam sudah sangat padat dengan aktifitas pelayaran. Semoga tidak terjadi lagi untuk selamanya!

Ada yang unik, saat kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut saya sedang ditemani Samaila (kl.50 th) untuk suatu urusan di pesisir pantai Teluk Kendari depan Stasion RRI Kendari yang saat ini sudah direklamasi menjadi pelubuhan Pelayaran Rakyat di Kota Kendari Lama. Lelaki yang kabarnya sudah dipanggil Yang Kuasa tahun 90-an, saat itu bekerja sebagai karyawan sipil pembersih di Kantor Kodim 1412 yang bermarkas di sekitar Kampung Salo, ke arah Kendari Caddi.

Sehari-hari Samaila harus berjalan kaki sejauh lebih dari 4 km dari kediamannya di sekitar lapangan Benubenua ke kantor Kodim di Kampung Salo, pp. Selain sebagai pembersih kantor, orang-orang yang berdiam di asrama sekitar Kantor Kodim mengenalnya sebagai Tukang Urut untuk meringankan badan maupun akibat keseleo. Taat beribadah (Islam) dan sering dipanggil untuk memimpin doa-doa untuk suatu hajatan dari penduduk di Kampung Salo dan sekitarnya.

Anda tahu, ketika pusaran Laso Anging bergerak di perairan sekitar Abeli, lelaki ini kemudian menunjuk ke arah pusaran sebanyak tiga kali. Uniknya, seketika itu pusaran angin terlihat menjadi terpotong-potong. Saat itu Puting Beliung yang bergerak di atas perairan Teluk Kendari hancur dan mereda tanpa menimbulkan korban.

Dalam suatu kesempatan orang tua ini kemudian mengungkapkan kepada saya, bahwa dengan mengucap : ‘’Rehul Mehru’’ sebanyak tiga kali lalu menujuk ke arah pusaran angin Puting Beliung. ‘’Insya Allah, atas pertolongan Allah, angin seperti itu akan hancur dan mereda,’’ katanya.

Sampai sekarang saya belum mengetahui dari bahasa mana, dan apa arti kata ‘’Rehul Mehru’’ yang disampaikan Pak Samaila tersebut. Saya pun belum pernah menggunakan petunjuknya lantaran sampai sekarang tidak pernah lagi berhadapan langsung dengan kejadian alam berupa Puting Beliung atau Laso Anging. Mudah-mudahan tidak bertemu lagi!

Dalam banyak perbincangan dengan sejumlah nelayan tua penjelajah lautan dari pesisir pantai Sulawesi Selatan dan Tenggara, umumnya mereka hampir sama memercayai bulu-bulu ijuk yang ditencapkan di ujung tertinggi tiang perahu atau kapal motor akan menghindarkan dari sambaran petir maupun terjangan Laso Anging.

Demikian halnya dengan sejumlah perbincangan yang pernah dilakukan dengan petani ‘Passari’– pembuat gula aren di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, umumnya mengakui tidak pernah menjumpai satu pohon enau atau pohon aren (penghasil bulu ijuk) yang terkena sambaran petir. Demikian pula lokasi tempat tumbuhnya pohon aren tidak pernah terlihat terserang tiupan angin kencang. Mungkin dari pengalaman panjang tersebut, sehingga sampai sekarang masih hidup hasil amatan tradisional di kalangan petani maupun nelayan daerah ini yang menganggap ijuk memiliki misteri sebagai benda penangkal petir dan amukan badai. Wallahualam……(Mahaji Noesa/Kompasiana, 28 Pebruari 2012, klik: Tulisan di Kompasiana )

Waduk Bilibli/Foto: ASY

Tak selang lama setelah terjadi bencana longsor Gunung Bawakaraeng, Maret 2004, tim Geologi dan Mitigasi Bencana dari Bandung mengeluarkan sejumlah peringatan. Antara lain menyatakan, bencana tersebut menyebabkan tertutupnya mata air Sungai Jeneberang yang menjadi sumber air andalan Waduk Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Akan tetapi, hingga saat ini pihak Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Sulawesi Selatan maupun pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) sebagai penanggungjawab Waduk Bilibili, sepertinya mengabaikan pemberitahuan mengenai tertutupnya mata air Sungai Jeneberang pascabencana longsor Gunung Bawakaraeng tahun 2004 tersebut. (lebih…)

IMG00483-20121111-1357

Kantor PLN Sulselrabar di Jl.Hertasning Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Tanpa keterlibatan swasta dipastikan pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan sempoyongan menghadapi tuntutan kebutuhan daya listrik untuk masyarakat dan industri yang tiap saat meningkat. Sulawesi Selatan beruntung, karena Bosowa Energy Corporation sudah siap menabur cahaya di daerah ini sampai 1.000 mega watt (MW) melebihi ketersediaan daya listrik PLN.

Dari berbagai sumber pembangkit listrik yang dipunyai, PT PLN (Persero) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) tercatat memiliki daya listrik 900 Mega Watt (MW). Jumlah tersebut lebih besar dari kebutuhan listrik Sulawesi Selatan yang saat ini mencapai 764 MW.

Akan tetapi, cadangan listrik PLN tersebut menjadi tidak berarti jika dihadapkan dengan rencana pembangunan 3 smelter pada tahun 2013 di Kota Palopo dan Kabupaten Bantaeng. Ketiga pabrik pengolahan dan pemurnian bijih nikel tersebut minimal membutuhkan daya listrik sebesar 300 MW.

Artinya, PLN Sulselrabar dalam tahun 2013 nanti harus dapat menyediakan tambahan daya listrik paling sedikit 500 MW. Lantaran, selain untuk juga memenuhi permintaan lebih 120 ribu pelanggan yang masih antre dalam ‘daftar tunggu’, juga untuk melayani permintaan daya listrik dari industri lainnya yang setiap saat bertambah di Sulawesi Selatan. Jumlah permintaan daya listrik pada tahun 2013 mendatang kemungkinan akan lebih besar lagi dari prediksi tambahan 500 MW, mengingat adanya regulasi pemerintah yang mengharuskan pengolahan semua barang mentah berupa komodidi maupun mineral sebelum diekspor.

Dilema lain, sampai saat ini masih sekitar 20 persen masyarakat yang ada di wilayah PLN Sulselrabar belum terjangkau aliran listrik. ‘’Kita butuh anggaran dari APBN dua kali lebih besar dari anggaran yang diberikan tahun 2012 sebesar Rp 66 miliar, jika ingin memenuhi jangkauan kebutuhan listrik ke semua masyarakat di tahun 2013 mendatang,’’ kata Zulkifli Abdullah Puteh, General Manager PT PLN Sulselrabar.

Tapi jika tak tersedia alokasi dana sebesar itu, haruskah Sulsel ikut menanggung derita sebagai wilayah krisis daya listrik? Dalam banyak kesempatan Zulkifli menyatakan optimis, PLN akan mampu memenuhi setiap kebutuhan daya listrik untuk usaha dan industri di Sulawesi Selatan.

IMG00472-20121111-1326

PLN Tanjung Bunga Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Bahkan dia menyatakan, amat menyadari jika sektor industri yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi suatu daerah, pertumbuhannya sangat bergantung dengan ketersediaan daya listrik. ‘’Makanya, kami selalu berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi dunia usaha dan industri,’’ katanya.

Selain berupaya meningkatkan kapasitas daya dari unit-unit pembangkit listrik yang dimiliki, dalam dua tahun belakangan pihak PLN membuka pembelian daya listrik yang diupayakan pihak swasta. Dari 900 MW daya listrik PLN Sulselrabar saat ini, 300 MW merupakan pasokan yang dibeli dari pihak swasta. ‘’PLN akan terus memperluas jaringan mendorong pihak swasta berinvenstasi dalam bidang energi khususnya di Sulsel. Bisnis energi listrik ini sangat prospektif,’’ tandas Zulkifli.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik terhadap rencana pembangunan 3 mesin pengolah bijih nikel di Sulsel tahun 2013, PLN Sulselrabar telah membuat MoU pemasokan daya listrik, masing-masing dengan PT Bukaka Teknik (90 MW), PT Bakti Bumi Sulawesi (120 MW), dan PT Central Omega Resource (220 MW).

Terbukanya peluang pihak swasta untuk terlibat serta berperan dalam penyediaan tenaga listrik khususnya di Sulawesi Selatan, sebenarnya jauh hari sudah terbaca oleh pihak kelompok usaha Bosowa (Bosowa Corporation). Bahkan analisa bisnis energi tidak akan merugi seperti diungkapkan Zulkifli, General Manager PLN Sulselrabar, juga sudah masuk dalam daftar rencana bisnis sejak Erwin Aksa, diputuskan menjadi CEO Bosowa Corporation, menggantikan kedudukan ayahnya Aksa Mahmud tahun 2004.

Lihat saja, setelah alumni Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, AS (1997) tersebut berhasil memacu meningkatkan kas keuangan perusahaannya dari Rp 3 triliun menjadi Rp 6 triliun, melalui bendera usaha Bosowa Energy Corporation tahun 2010, dia lalu mencanangkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Tidak main-main, inilah perusahaan anak negeri pertama yang memilih segmen usaha di sektor energi listrik dalam skala besar di Sulawesi Selatan. Tahap awal, sekitar Rp 2,3 triliun diinvestasikan untuk membangun PLTU berkapasitas 2 x 125 MW. Bekerjasama tenaga ahli dari China, satu unit boiler PLTU berkapasitas 125 MW sudah mampu dioperasikan dalam bulam Maret 2012. Lima bulan kemudian, Agustus 2012, dioperasikan lagi 1 unit berkekuatan sama sehingga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bosowa Energy Corporation di Jeneponto kini memiliki daya sebesar 250 MW. Sekitar 200 MW dijual ke PLN, listrik pun mampu mengalir sampai ke pelosok khususnya di wilayah selatan Sulawesi Selatan.

Selain itu, dalam hitungan Erwin Aksa, kehadiran PLTU Bosowa Energy Corporation di Jeneponto dapat membantu menekan pengeluaran PLN sampai Rp 4 triliun setiap tahun yang sebelumnya digunakan untuk menghidupkan sejumlah generator menggunakan BBM. Menguntungkan perusahaan, membantu rakyat, sekaligus menghemat uang negara.

Erwin sangat memahami, Sulsel sebagai daerah subur dengan berbagai jenis komoditas pertanian ke depan akan dibanjiri kehadiran berbagai industri pengolahan bahan mentah. Kegiatan industri senantiasa membutuhkan energi listrik yang cukup besar. Dan, Bosowa Energy Corporation, menurut rencana mulai tahun 2013 akan menginvestasikan lagi dana sekitar Rp 3 triliun untuk penambahan pembangunan unit PLTU berkekuatan 300 MW di Jeneponto.

Bahkan dalam kesempatan berkunjung ke Bangkala, Jeneponto, beberapa waktu lalu, kepada wartawan Erwin Aksa mengatakan berencana membangun PLTU sampai 1.000 MW di Kabupaten Jeneponto. Harapannya, penyediaan daya listrik sebesar itu dapat membantu tumbuhnya banyak industri di daerah Sulawesi Selatan.

Berdasarkan catatan Dewan Energi Nasional, Sulawesi Selatan juga memiliki potensi sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Hitungannya, daya listrik yang dapat diperoleh potensi tenaga air yang tersedia di daerah ini dapat mencapai  2.946,8 MW, sekarang yang dimanfaatkan PLTA baru sebesar 518 MW. Potensi tersedia dari mini hidro 70,2 MW (sudah terpakai 10,6 MW), mikro hidro 7,66 MW, potensi panas bumi 371 MW, serta terdapat besar sekali potensi tersedia untuk pembangkit listrik tenaga angin, energi surya, dan bioenergi.

Masalah listrik PLN ‘byar-pet’ alias mati menyala yang selalu ada di antara cerita ketersedian energi listrik di Indonesia, tentu saja, akan berakhir apabila muncul lagi banyak pihak swasta yang serius menggeluti usaha energi listrik seperti dilakukan pihak grup usaha Bosowa Corporation di Sulawesi Selatan. (Mahaji Noesa)