Posts Tagged ‘mahajinoesa’

MY NOTES

Posted: 7 Desember 2016 in BERANDA
Tag:, , ,

mynotes

MY NOTES

Hidup merupakan perjalanan penuh misteri. Tak ada manusia mengetahui berapa lama waktu tempuh, dan dimana dia harus berhenti untuk tidak lagi dapat melangkah.

Terbentang banyak lintasan. Namun tidak sedikit jalur yang dilewati seseorang ternyata tidak atau belum dilintasi oleh siapapun.

Dengan menulis, menulis dan terus menulis, seseorang dapat berbagi perasaan, pandangan, pemikiran, pengalaman dan pengetahuan kepada banyak orang.

My Notes diupayakan menjadi terminal tulisan yang pernah saya buat yang telah dipublikasikan di berbagai media maupun yang ditulis khusus di sini.

Berharap punya manfaat,

Salam hormat

Life is a journey full of mystery. Man does anyone know how long the trip he world,not knowing where she would stop and could not walk. Many roads on earth. Many roads are impassable someone, but never passed by others. With write, write and keep writing, one can share the feelings, views, thoughts, experience and knowledge to many people. My Notes as terminal collection of papers have been published in various media, and specifically I write here.

Wish have benefits,

Yours sincerely,

MAHAJI NOESA

mahajins@gmail.com

Iklan

 

ulid11

Salah satu lokasi warung rakyat penjual Tuak Manis Lontar di poros Sengkang – Atapange/Foto:Mahaji Noesa

Tuak Manis juga dapat diperoleh dari sadapan Pohon Lontar, seperti nira dari Pohon Aren atau Enau. Di beberapa tempat di Sulawesi Selatan(Sulsel) yang memiliki banyak Pohon Lontar ditemui warung-warung rakyat yang menjual minuman khas Tuak Manis dari nira Pohon Lontar. Disajikan sebagai minuman dingin dalam botol-botol kemasan air mineral ukuran sedang dan besar.

Harganya relatif murah, Rp 5.000 per botol ukuran sedang berisi 600 ml dan Rp 10.000 per botol kemasan besar berisi 1500 ml.

ulid38

ulid43

Barisan pohon Lontar di hamparan persawahan kabupaten Bone, Sulawesi Selatan/Foto: Mahaji Noesa

Jika anda melakukan perjalanan ke provinsi Sulsel, minuman segar Tuak Manis Lontar, antara lain, dapat ditemui di warung-warung rakyat sepanjang poros jalan kota Pangkajene Sidenreng, ibukota kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ke arah Batubatu, kabupaten Soppeng, poros Buludua (kabupaten Barru – kabupaten Soppeng), poros kota Sengkang, ibukota kabupaten Wajo ke TarumpekkaE, dan poros kota Sengkang ke Cabbenge, kabupaten Soppeng.

Di poros Sengkang – Cabbenge dan Sengkang – TarumpekkaE, warga sudah paham Tuak Manis nikmat diminum diadon dengan olekan cabe dan garam. Di kedua poros ini juga ada penganan khas terbuat  dari beras ketan dibakar dalam bungkusan daun pisang berbentuk segitiga, popular dengan nama Sokko Peppi, sedap dikunyah saat menikmati segarnya Tuak Manis Lontar.

ulid14

Inilah bentuk buah Lontar/Foto: Mahaji Noesa

Wanio, salah satu perkampungan rakyat di wilayah kabupaten Sidrap, lumbung padinya Sulsel, tapi dikenal sejak dulu justeru banyak warganya berhaji dari hasil usaha penjualan Tuak Manis Lontar.  Selain menggunakan kulkas pendingin, masih banyak warung rakyat di tepi jalan menggunakan kotak gabus berisi es batu untuk mengawetkan kesegaran Tuak Manis Lontar yang dijualnya.

Menurut pengakuan sejumlah penjual Tuak Manis Lontar di Sulsel, proses pengolahan nira Lontar tidak berbeda dengan pengolahan nira Enau. Hanya saja untuk nira Enau dalam hitungan ekonomis lebih menguntungkan diproses lanjut menjadi gula batu alias gula merah. Nira Lontar juga dapat dipanen 2 kali sehari, pagi dan sore hari.

Pohon Lontar yang merupakan flora identitas SulselS konon bibitnya dibawa oleh saudagar-saudagar Gujarrat antara abad 16 – 17 ke Sulawesi Selatan. Pohon Lontar juga disebut-sebut menjadi pertanda jejak wilayah kekuasaan raja-raja Sulawesi Selatan di masa lampau.

ulid12

Segelas Tuak Manis Lontar, Sokko Peppi, telur dan sambal/Foto: Mahaji Noesa 

Keindahan Pohon Lontar sebagai pohon purba dapat dinikmati sepanjang hamparan persawahan di kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Sidrap ,Wajo, Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng.

Selain menghasilkan nira, kulit buah lontar menyebar bau wangi saat matang, isinya berasa kelapa muda, banyak dijual di wilayah selatan  Sulawesi Selatan, seperti kabupaten Gowa, Jeneponto, Takalar, dan Bantaeng. Isi buah Lontar yang berbentuk biji-biji seperti kolang-kaling di wilayah-wilayah tersebut dikenal dengan sebutan Buah Tala.

Tuak Manis Lontar tidak memabukkan sekalipun diminum banyak. Minuman ini justeru diminati lantaran warga telah cukup lama merasakan khasiatnya sebagai tonic bagi yang lowbatt. Yuk….ke Sulawesi Selatan.

g10

Tempak efek beckscatter orb bulan sabit mengekor matahari hasil potretan Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di waduk Pampang kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Sejak pukul 06.00 pagi wita, sudah ramai warga berdatangan ke tepi Waduk Pampang. Mereka sengaja datang berkendara sepeda motor dan mobil dari berbagai penjuru kota, untuk menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) yang sebelumnya telah diinformasikan juga bakal terlihat di langit kota Makassar, Rabu, 9 Maret 2016. Meskipun gerhananya diprediksi hanya 88 persen. Tidak GMT 100 persen seperti di 12 provinsi lainnya di Indonesia.

Kedatangan warga ke tepian lokasi waduk tunggu Pampang di kelurahan Antang kecamatan Manggala tersebut umumnya atas inisiatif dan pertimbangan pilihan masing-masing guna menyaksikan peristiwa GMT. Pemkot Makassar justeru mendisain acara Festival Gerhana Matahari, 9 Maret 2016, dengan beragam acara dipusatkan di anjungan Pantai Losari.

g6

Inilah waduk Pampang di kelurahan Antang, tengah kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

‘’Di lokasi waduk Pampang ini rasanya dapat lebih bebas kita melihat pergerakan matahari terbit pagi hingga terbenam sore hari. Saya memilih datang ke tempat ini dengan pertimbangan akan dapat melihat langsung peristiwa Gerhana Matahari Total dibandingkan di Pantai Losari. Apalagi gerhananya telah disebut-sebut bakal berlangsung sekitar pukul 7 pagi hari,’’ jelas Hamzah, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta yang mengaku bermukim di kawasan Perumnas Toddopuli, kl 3 km arah barat waduk Pampang. Dia datang dengan 8 temannya, berboncengan menggunakan 4 sepeda motor.

Sedangkan Erni, karyawan swasta yang mengaku datang sebelum pukul 6 pagi bermobil bersama suami dan 2 anaknya, dari rumahnya di kawasan Pannampu (Sekitar 9 km arah utara waduk) menyatakan, melihat Gerhana Matahari Total secara tidak langsung melalui bayangan di permukaan air waduk Pampang akan lebih aman.

‘’Sekalipun di Makassar gerhana mataharinya hanya 80-an persen, tapi kan cahayanya masih berbahaya untuk dilihat secara langsung tanpa menggunakan filter khusus cahaya matahari,’’ katanya.

Waduk Pampang yang luasnya 36 ha, tengah kota Makassar. Dahulu lokasinya berupa tanah berawa. Setelah waduk buatan ini hadir sejak 10 tahun lalu dalam masa kepemimpinan Walikota Makassar HB Amiruddin Maula, banjir yang menjadi langganan wilayah Minasaupa, Perumnas Toddopuli, Borong, Pampang dan Antang di musim penghujan sudah mulai dapat dikendalikan.

Para pemancing dan pejala ikan yang beraktivitas sekitar waduk menjadi sasaran tontonan para pengunjung yang menanti terjadinya GMT di tepian-tepian waduk. Seperti prakiraan pihak BMKG, sejak pagi (Rabu, 9 Maret 2016) cuaca di kota Makassar cerah. Sekitar pukul 6 hingga pukul 7 pagi, sinar matahari terang menyinari waduk Pampang dan sekitarnya.

Nanti setelah memasuki pukul 7.20 wita, sinar matahari terlihat mulai redup namun suasana sekeliling tetap terang. Hanya sekitar 2 menit suasana terlihat agak temaram, tak terlihat bias sinar matahari di permukaan air waduk yang sebelumnya membinar-binar.

‘’Tidak jelas apa sudah terjadi kontak gerhana atau belum. Redupnya matahari seperti hanya tertutup awan,’’ komentar Simmau, salah seorang dosen dari Unhas, yang sejak pagi terlihat sibuk membidikkan kameranya ke berbagai arah waduk Pampang.

Burung-burung bangau dan sejumlah burung air lainnya terlihat tetap beterbangan di sekeliling waduk Pampang. Bahkan terdengar teriakan-teriakan keras penjaga sawah di arah utara waduk, ditingkahi bunyi kerek-kerek tarikan tali menggerakkan orang-orangan. Artinya, kawanan burung pipit pemangsa padi bunting pun tidak terpengaruh dengan kejadian suasana temaram yang hanya berlangsung beberapa saat.

Sinar matahari redup dengan suasana tetap terang berlangsung hingga pukul 8.38 wita. Menurut hitungan BMKG, peristiwa GMT 88 persen di kota Makassar, 9 Maret 2016, berlangsung mulai pukul 07.26 hingga pukul 08.35. Secara kasat mata tak ada hal menarik dapat dilihat di atas langit waduk Pampang sepanjang matahari redup. Kecuali gumpalan-gumpalan awan putih belang-belang kelabu tampak terang menutupi sekeliling matahari. Dan, setiap interval sekitar 15 menit ada pesawat melintas dari arah barat ke timur, seolah menuju matahari yang lagi dalam proses gerhana.

Tidak jauh ke arah timur waduk Pampang, memang, berbatasan dengan wilayah kabupaten Maros, lokasi bandara internasional Sultan Hasanuddin dengan frekuensi sudah lebih dari 150 penerbangan setiap harinya.

Dg. Guling, salah seorang pejala ikan di sekitar waduk Pampang justeru merasa apes. Ikan-ikan dituding seolah tidur tatkala orang-orang ramai datang ingin menyaksikan peristiwa gerhana matahari di sekitar waduk. ‘’Biasanya kalau jam 7 pagi sudah puluhan ekor bisa terjala. Tapi ini sudah lewat jam 8 baru beberapa ekor yang bisa didapat,’’ katanya.

Bacaan ayat-ayat suci Al Quran yang dilantunkan para imam shalat gerhana mulai terdengar dari mesjid-mesjid yang ada seputar waduk Pampang sejak pukul 07.30 hingga pukul 09.00 wita. Disusul penyampaian khotbah dari para khatib, seolah sambung menyambung sepanjang matahari redup. Mesjid Luqmanul Hakim di tepi waduk Pampang misalnya, baru mulai melaksanakan shalat gerhana berjamaah setelah pukul 08.50 wita.

Jelang pukul 09.00 ketika cahaya keras matahari sudah memantul di atas permukaan air waduk Pampang, para pengunjung yang didominasi kalangan muda pemilik kamera digital pun satu per satu meninggalkan lokasi. Sesayup terdengar beragam candahan tentang hasil potret GMT para pengunjung yang bergerak meninggalkan lokasi. Mulai dari ketidaktahuan menggunakan filter kamera, ikhwal kacamata gerhana, hingga ketidakmampuan kamera HP merekam peristiwa alam yang langka, didialogkan dengan cekakak-cekikik ala remaja perkotaan

‘’Momennya sudah lewat, tidak ada lagi yang harus disesalkan,’’ komentar serius salah seorang di antara serombongan remaja putri bersepeda motor tatkala bergerak meninggalkan waduk Pampang.

Sejumlah hasil jepretan peristiwa GMT dengan kamera HP tanpa filter di langit Waduk Pampang jelang pukul 09.00 wita, Rabu, 9 Maret 2016, menampakan efek backscatter orb ada semacam bulan sabit mengekor di bawah matahari. Orb dalam istilah teknis fotografi terjadi karena adanya pantulan sinar atau flash dari benda-benda sekitarnya. Bulan sabit itu sesungguhnya hanya tampak di hasil jepretan tapi tidak ada di obyek nyatanya.g16

Saat-saat matahari memasuki proses gerhana di waduk Pampang, 9 Maret 2016/Foto: Mahaji Noesa

 

lu55Tampak lambang Gemeente Makassar  terpasang di depan Museum Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Lambang pertama Kota Makassar ketika masih berstatus sebagai Gemeente Makassar, berupa dua ekor rusa memegang sebuah piala yang didalamnya bergambar pohon kelapa dan pedang marsose, kini dijadikan sebagai ikon Museum Kota Makassar yang terletak di Jalan Balaikota Makassar.

Museum yang direnovasi sejak tahun lalu dengan anggaran Rp 3 miliar tersebut meskipun hingga memasuki Maret 2016 belum rampung secara keseluruhannya, namun di bagian depan sudah terlihat terpajang lambang kota Makassar saat masih berstatus sebagai Gemeente Makassar. Menariknya, sebuah meriam jagur berukuran boncel terkesan antik ikut dipajang di bawah lambang tersebut.

Gedung Museum Kota Makassar ini merupakan salah satu bangunan tua bersejarah sebagai bekas gedung balaikota pertama setelah pemerintah Hindia Belanda memberikan hak otonom Makassar sebagai suatu kota dengan nama Gemeente Makassar, melalui Ordinansi 12 Maret 1906, Staatsblad 1906 No.17 yang dinyatakan mulai berlaku 1 April 1906. Namun begitu, nanti setelah tahun 1918 barulah diangkat walikota pertama (Burgemeester) Makassar J.E Damrink, berkantor di gedung yang kini menjadi Museum Kota Makassar.

lu36

Lambang Gemeente Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Hingga tahun 1993 gedung ini masih ditempati sebagai kantor Walikota Makassar. Jelasnya, di masa pemerintahan kolonial terdapat 7 walikota, 2 walikota di masa pendudukan Jepang, 2 walikota di masa pemerintahan NICA, 2 walikota di masa pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT), dan 12 walikota Makassar berikutnya masih berkantor di bekas gedung Gemeente Makassar tersebut.

Setelah 6 tahun kantor Walikota Makassar pindah ke bekas kantor Gubernur Sulsel yang kini jadi Balaikota Makassar, tepatnya di tahun 2000 bekas gedung Gemeente Makassar yang secara fisik belum banyak berubah bentuknya dijadikan sebagai Museum Kota Makassar.

Renovasi atau pemugaran yang dilakukan terhadap Museum Kota Makassar sekarang diharapkan, setelah rampung dapat lebih menarik minat dikunjungi para pihak sebagai obyek wisata sejarah, pendidikan, dan penelitiaan.

Indahnya tanaman hias bunga oleander di kota Pasangkayu merupakan salah satu pemandangan menarik saat melintas jalur Trans Sulawesi sepanjang lebih 800 km dari kota Makassar (Sulsel) ke kota Palu (Sulteng). Penanaman pohon berbunga warna merah muda dan pink di sebagian besar halaman rumah dan di tepi-tepi jalan protokol, kini seolah menjadi penanda khas kota Pasangkayu. Banyak warga di ibukota kabupaten Mamuju Utara (Matra) provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) tersebut menyakini oleander sebagai bunga rezeki lantaran umumnya mereka yang menanam, kehidupannya sejahtera.

Masih sangat sedikit warga di Pasangkayu mengetahui jika oleander, tanaman hias berdaun pita yang pohonnya dapat mencapai ketinggian lebih dari 3 meter tersebut merupakan salah satu jenis pohon beracun. Mulai dari daun, bunga, akar, kulit dan batang pohonnya mengandung zat dapat mematikan apabila masuk ke tubuh manusia. Begitu keras daya rusaknya , getah pohon oleander apabila mengenai luka di tubuh seseorang dapat menyebabkan kelumpuhan.

Tidak jelas siapa awalnya yang mengenalkan tanaman hias asal Maroko dan Portugal ini kepada warga kota Pasangkayu. Sejumlah penduduk sekitar pantai Pasangkayu menyebut oleander sebagai bunga Donggala. Mereka menamai demikian karena sebelumnya banyak memperoleh bibit dari kota Donggala, kl 80 km dari Pasangkayu. Donggala, ibukota sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah (Sulteng)  berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Matra, Sulbar.

Sebenarnya sekitar 6 tahun lalu bunga oleander tersebut pernah menghebohkan warga kota Bandung, Jawa Barat. Mereka melakukan aksi ramai-ramai membabat tanaman oleander yang sebelumnya telah cukup lama dipelihara sebagai tanaman hias pekarangan dan ruang publik, setelah diketahui sebagai pohon mengandung zat beracun mematikan.

Zat racun bernama oleandrin yang meliputi seluruh bagian pohon oleander, tak hanya berbahaya apabila terkontaminasi ke dalam tubuh manusia tetapi juga hanya dengan kandungan 0,5 miligram zat tersebut mampu mematikan hewan. Sudah diteliti, dalam kondisi kering pun seluruh bagian dari pohon oleander masih mengandung racun berbahaya bagi manusia maupun hewan.

Ketika  memangkas daun dan ranting pohon oleander  yang rimbun di Jalur Dua Tengah, tampak sejumlah warga Pasangkayu tak hirau dengan getah-getah putih oleander yang terbercik liar dari daun dan ranting yang dipotong. Padahal, di getah oleander itulah berakumulasi oleandrin dan neriine sebagai toksin mematikan.

Ramainya minat warga di kota Pasangkayu saat ini memelihara tanaman oleander diharapkan perlu diiringi perhatian dari pemerintah setempat untuk menghindari dampak buruk dari pohon beracun tersebut. Aksi pembabatan tanaman  hias oleander yang pernah dilakukan pemerintah dan warga kota Bandung tahun 2009, semestinya dapat menjadi catatan penting masyarakat dan pemerintah di Indonesia agar menghindarkan penanaman tanaman-tanaman hias mengandung racun membahayakan di ruang-ruang publik. (Oleh Mahaji Noesa, tulisan ini pertama kali terposting di kompasiana.com)