Posts Tagged ‘makassar’

ba47

Sepotong suasana dalam komplek benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Berwisata ke kota metropolitan Makassar tak lengkap rasanya apabila tidak mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Lokasi properti lawas tinggalan abad XVI ini berada di pusat kota, sekitar 300 meter di arah barat kantor Balaikota Makassar. Selain taksi, dapat dijangkau menggunakan bus angkutan umum trans Mamminasata maupun angkutan kota (angkot) Petepete. Sampai sekarang tak ada pungutan biaya masuk bagi pengunjung.

Pasca dilakukan revitalisasi benteng tiga tahun lalu, tak hanya turis mancanegara tapi juga selalu padat pengunjung lokal, warga kota, dan warga dari antarkabupaten kota di Sulawesi Selatan. Pun setiap hari ramai didatangi warga asal provinsi lain di Indonesia.

Terdapat museum Lagaligo di areal Fort Rotterdam, menyajikan lebih 6.000 koleksi benda sejarah dan purbakala. Lebih dari itu, sebagai situs banyak hal yang dapat diapresiasi ihwal sejarah dan kepurbakalaan saat berada dalam benteng seluas lebih 3 hektar tersebut.

3 gedung bagian luar btg

Suasana di arah barat benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Dinding benteng yang kokoh terbuat dari susunan puluhan ribu balok batu alam, menguatkan bukti sejak masa silam tingkat kemajuan olah pikir dan rangcang bangun nenek moyang bangsa Indonesia sudah cukup tinggi.

Berbentuk trapesium dengan empat sudut lancip, denah benteng menyerupai seekor kura-kura sedang merayap. Dengan panjang keliling dinding lebih 600 meter, tinggi 4 hingga 6 meter, tebal antara 2 hingga 3 meter, dapat dibayangkan saat-saat benteng dibangun juga ditopang semangat serupa ketika leluhur membangun Candi Borobudur di Yogyakarta jaman masih serba manual mengandalkan tenaga manusia.

Benteng Fort Rotterdam satu-satunya benteng tersisa dari 12 benteng yang pernah ada dalam masa Kerajaan Gowa. Dibangun ketika Raja Gowa IX, I Mannutungi Daeng Matanre Karaeng Tumapaqrisi Kallonna berkuasa (1510-1546). Awalnya, seperti halnya benteng Somba Opu, benteng induk pertama dibangun tahun 1512 tempat istana raja, setelah pusat Kerajaan Gowa dipindahkan dari Tamalate (wilayah agraris) ke wilayah pesisir pantai Maccini Sombala (Somba Opu), dinding benteng dibuat menggunakan gundukan tanah.

Saat Raja Gowa X, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang dijuluki Karaeng Tunipalangga Ulaweng berkuasa (1546 – 1565), kemudian mulai dilakukan renovasi mengganti dinding-dinding benteng dengan menggunakan susunan batu bata (tanah lempung yang dibakar) dan potongan batu-batuan alam (andesit).

Melalui sejumlah karya seniman pelukis supranatural Bahtiar Hafid yang terpajang di Sanggar Ujungpandang Visual Art Fort Rotterdam, terhayalkan perubahan bentuk suasana benteng dengan konstruksinya dari abad ke abad. Abad XVI hingga abad XVII, terlukis rumah-rumah adat etnik Makassar tampak ramai di dalam lingkungan benteng yang menjadi pemukiman kalangan raja serta para petingginya.

Seiring perjalanan waktu plus beragam peristiwanya, telah terjadi banyak perubahan terhadap tata massa dan konstruksi bangunan dalam benteng Fort Rotterdam dan sekitarnya. Kondisi bertahan saat ini, di dalamnya terdapat bangunan permanen bergaya portugis, dan ada bangunan yang dibuat masa pendudukan Jepang. Paling banyak bangunan bergaya Eropa abad pertengahan, buatan Belanda. Perubahan-perubahan terjadi dicatat sejarah, banyak dilatari keserakahan pihak asing masa silam untuk menguasai negeri. Kini, tidak satupun bangunan berbentuk rumah adat etnik Makassar di komplek benteng Fort Rotterdam.

Benteng ini mulanya dikenal dengan sebutan benteng Ujungpandang. Kemudian diubah, dilabeli nama sebagai benteng Fort Rotterdam oleh pihak kompeni Belanda usai ditandatangani Perjanjian Bungaya 18 Nopember 1667. Mengabadikan nama tempat kelahiran komandan kompeni, Cornelis Jansen Speelman yang pernah bermarkas di benteng. Mirisnya, penamaan tersebut sampai sekarang dipatenkan tehadap benteng purba yang merupakan karya asli leluhur bangsa Indonesia. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

wa101

Halaman rumah jabatan (Rujab) walikota Makassar di Jalan Penghibur, juga ikut dihiasi sejumlah lampion Imlek 2567. Lampion berwarna merah tersebut digantung mengelilingi pagar halaman Rujab.

Kehadiran lampion di halaman rumah jabatan walikota dilakukan beberapa hari sebelum Tahun Baru China alias Imlek 2567 bertepatan dengan 8 Pebruari 2016.

Sejumlah warga kota yang bermukim di jalan-jalan arah timur Rujab mengaku, tahun ini sebagai kali pertama melihat Rujab Walikota Makassar dihiasi lampion dalam menyambut perayaan Tahun Baru China.

Sehubungan dengan perayaan Imlek 2567, pihak Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PTMSI) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat akan melaksanakan Bai Nian atau Temu Hati pada 10 Pebruari 2016 di Restoran Bambuden III (Lantai 2), Jalan Gunung Latimojong, kota Makassar.

Acara Bai Nian yang akan berlangsung mulai sore hari Rabu pukul 18.00 hingga pukul  21.30 wita sebagai ajang silaturahmi dinyatakan terbuka untuk umum.

”Perayaan Imlek itu adalah kegiatan budaya, jadi semua orang dari semua agama dapat saja mengikutinya,” jelas Jusman Riyanto, salah seorang panitia kepada wartawan di Makassar.

Penyelenggaraan Bai Nian yang didukung sejumlah organisasi dan yayasan sosial etnis Tionghoa, Klenteng serta Vihara di kota Makassar, akan dimeriahkan sejumlah penampilan seni budaya Tionghoa, seperti tarian Dewi Kwan Im, tarian Dewa Rejeki, dan atraksi meja Barongsai. Juga ada fashion show busana kebaya peranakan Tionghoa Makassar.

Terdapat agenda sekaitan dengan perayaan Imlek 2567, Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto akan meresmikan dimulainya pengembangan kawasan pecinaan kota Makassar sebagai destinasi China Town Makassar.

 

Sejak Sabtu (19/12/2015) siang warga di Kampung Baru RW 001/RT 006 Kelurahan Antang Kecamatan Manggala kota Makassar geger dengan kemunculan mata air panas berasap di rumah salah seorang warga.

Pemilik rumah, Jures menceritakan, awalnya ia mendengarkan seperti ada suara gelegap air mendidih di bawah lantai tegel ruang tamunya. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata lantai sekitar suara gelegap air tersebut terasa panas. Ketika beberapa lantai tegel dibuka ada seperti mata air menyembul dengan tekanan kecil. Mengherankan, lantaran selain airnya terasa panas juga mengeluarkan asap.

Ceritera tentang munculnya mata air panas tersebut amat cepat menyebar dari mulut ke mulut warga khususnya di kelurahan Antang. Akibatnya, sejak Sabtu hingga Minggu (20/12/2015) siang rumah Jures tampak selalu ramai dikunjungi warga untuk menyaksikan langsung.

Beberapa warga telah meletakkan telur ayam di genangan mata air panas tersebut dan hasilnya telur dapat matang dengan sempurna.

Rumah yang jadi lokasi munculnya mata air panas, seperti halnya rumah-rumah warga sekitar Kampung Baru, lingkungannya yang rendah di kelilingi genangan air setelah hujan deras melanda kota Makassar sejak Kamis (17/12/2015). Bahkan beberapa rumah warga di Kampung Baru terlihat terisolir akibat di kelilingi genangan air.

Sejumlah warga pengunjung merasa kuatir air panas yang muncul tersebut berkaitan dengan adanya gangguan terhadap instalasi kabel listrik di bawah tanah antarrumah warga yang saling berhimpitan. Namun hingga Minggu (20/12) siang pihak petugas PLN yang telah berkali-kali dikontak warga belum juga datang ke lokasi.

Beberapa warga sekitar menyatakan, telah melakukan pengecekan dan tidak menemukan adanya aliran atau kabel listrik yang terpasang sekitar lokasi kemunculan air panas tersebut. Mata air panas dengan tekanan kecil di rumah warga Kampung Baru masih terus mengalir dan mengeluarkan asap.

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

Gambar

Pelabuhan Makassar/ Foto: Mahaji Noesa

Seperti dugaan banyak pihak sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sulsel tahun 2013 diperkirakan akan tetap dalam posisi baik berada di atas angka pertumbuhan ekonomi secara nasional. Tanda-tandanya dapat dilihat dari data BI yang dirilis kepada wartawan, dalam triwulan pertama 2013, pertumbuhan ekonomi di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulamampu) mencapai 8,26%.

Bahkan menurut Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Wilayah I Sulamampu, Mahmud Arsin, pertumbuhan ekonomi untuk wilayah Sulsel jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan provinsi lain di wilayah ini.

Angka pertumbuhan ekonomi Sulsel 2013, menurutMahmud, akan relatif stabil dengan adanya berbagai instrumen ekonomi daerah yang tetap terjaga. Antara lain, masih berlanjutnya sejumlah proyek infrastruktur serta masih masuknya sejumlah investasi baru.

Pihak Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel menargetkan investasi  Rp 6,7 triliun masuk dalam tahun 2013. Tahun lalu, target investasi Rp 5,9 triliun di Sulsel, realisasinya mencapai Rp 6,1 triliun.

Justru Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel La Tunreng menyatakan, tahun  2013 ekonomi Sulsel berpeluang tumbuh hingga 9%, dengan catatan pemda fokus pembangunan infrastruktur dan pembenahan kawasan industri untuk mendukung pertumbuhan industrialisasi di daerah ini.

Data BPS, pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012 secara kumulatif 8,3 %, sedangkan rata-rata nasional hanya 6,23 %. Pertumbuhan ekonomi melebihi pertumbuhan nasional terjadi sejak 2007. Pihak BI mencatat pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012 mencapai 8,58 %.

Bankir memberikan dukungan besar terhadap kegiatan perekonomian masyarakat di Sulsel tahun 2012. Hal itu bisa dilihat dari aset bank umum tumbuh 23,4 perse (yoy) dari Rp 61,4 triliun menjadi Rp75, 7 triliun. Dana yang dihimpun mencapai Rp 51,3 triliun atau tumbuh 23,5 persen (yoy).

Dalam amatan BI, kegiatan konsumsi dan investasi mendominasi pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012. Kegiatan konsumsi menyumbang 6,79 % dan investasi 20,14 %, selain ditunjang pulihnya sektor tambang dan laju sektor tersier. Hal sama terjadi tahun sebelumnya, kegiatan konsumsi menyumbang 4,78 % dan kegiatan investasi 10,20 % terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel 2011 sebesar 7,61 persen.

Namun dalam diskusi panel perkembangan ekonomi Sulsel dilakukan BI Wilayah I Sulamampu awal April 2013 di Makassar, dua ekonom Sulsel, Hamid Paddu dan Madjid Sallatu masih mengkritisi capaian angka-angka pertumbuhan ekonomi Sulsel tersebut sebagai pertumbuhan yang belum merata.

Gambar

Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan/Foto: Mahaji Noesa

Hamid Paddu, pakar ekonomi Unhas menyodorkan contoh, pertumbuhan ekonomi Sulsel yang terdiri atas 24 kabupaten/kota hampir sebagian merupakan kontribusi dari dua daerah saja. Yaitu kontribusi pertumbuhan sekitar 31 % dari kota Makassar dan 16 % dari kabupaten Luwu Timur.

‘’Angka pertumbuhan ekonomi tinggi dicapai Sulsel selama ini belum berjalan secara merata, masih banyak wilayah belum mampu memberikan pertumbuhan ekonomi yang besar,’’ katanya.

Ketua Dewan Pakar Badan Koordinasi Pembangunan Regional Sulawesi, Prof. DR. Madjid Sallatu mengistilahkan pertumbuhan ekonomi Sulsel sebagai pertumbuhan fluktuatif, strukturnya masih rapuh. Apabila dilihat lebih ke dalam, katanya, hanya didorong sektor pertambangan.

‘’Pertumbuhan ekonomi kita di tingkat kabupaten selama lima tahun terakhir sangat lamban, hanya kota Makassar dan kabupaten Luwu Timur yang pertumbuhan ekonomi daerahnya maju,’’ jelasnya.

Senada dua pakar Unhas ini menyatakan, untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih maju dan merata pemerintah harus menggenjot sektor pertanian yang menjadi basis andalan Sulsel. ‘’Sektor ini punya potensi besar untuk dikembangkan, dan akan paling banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan sektor lainnya,’’ jelas Hamid Paddu.

Madjid Sallatu menekankan perlu dilakukan pengembangan pengolahan hasil-hasil tani yang selama ini pergerakannya dirasakan sangat lamban. ‘’Pemerintah harus fokus ke arah itu, karena melalui industri pengolahan akan menaikkan lebih besar nilai jual setiap produksi petani,’’ katanya.

Manariknya, di balik hitung-hitungan dan analisa angka pertumbuhan ekonomi Sulsel yang tinggi dalam lima tahun terakhir, ternyata belum signifikan dengan angka penurunan kemiskinan. Data BPS, sampai penghujung tahun 2012 masih terdapat lebih 800 ribu jiwa penduduk miskin di Sulsel.

Lebih menarik lagi, karena  angka penurunana penduduk miskin Sulsel dari 825 ribu jiwa (posisi Maret 2012) menjadi 805 jiwa (September 2012), jumlah persebaran penduduk miskin di wilayah perkotaan mengalami peningkatan sekitar 4 ribu orang. Sedangkan di daerah perkotaan dicatat BPS berkurang sekitar 24 ribu orang.

Korelasi angka-angka pertumbuhan ekonomi dengan penduduk miskin tersebut masih membingungkan. Apalagi jika dikaitkan dengan analisa dua daerah – kota Makassar dan Luwu Timur memberikan kontribusi lebih 45 % terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel. (Mahaji Noesa, Koran Independen Makassar, Edisi 32, 29 April – 5 Mei 2013)