Posts Tagged ‘mata’

a mata2
Sebuah meriam anti serangan udara berlaras sepanjang 3,5 meter dengan lop berdiameter kl 8 cm hingga kini masih utuh terpasang di sebuah goa bekas pertahanan Jepang di Kelurahan Mata, kurang lebih 3 km arah timur kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.
Meriam tersebut terpasang kokoh di tengah sebuah bungker beton berukuran 3 x 4 meter dengan tinggi 2 meter yang terletak di atas sebuah bukit menghadap perairan Laut Banda di hadapan muara Teluk Kendari.
Bungker tersebut merupakan salah satu peninggalan yang tersisa dari banyak bungker pertahanan Jepang yang pernah dibangun mengitari Teluk Kendari pada masa pendudukan Jepang 1940 – 1945 di Indonesia.
a mata3
Kota Kendari kala itu selain dijadikan sebagai wilayah aman perlindungan armada laut tentara Jepang dalam masa Perang Dunia II, juga ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini dijadikan lokasi pangkalan udara strategis untuk manuver ke wilayah Pasifik melalui Morotai, Maluku Utara.
Sebagian besar bungker pertahanan Jepang yang pernah dibuat di kaki bukit pesisir Teluk Kendari kini sudah dihancurkan untuk pengembangan pembangunan wilayah kota Kendari.
Bungker peninggalan Jepang bermeriam di kelurahan Mata tersebut disebut-sebut oleh sejumlah warga berusia lanjut di Kendari dahulu berhubungan langsung dengan sejumlah bungker Jepang yang ada di sekitar bukit Manggadua, Kampung Salo, Kampung Butung dan Kendari Caddi di pesisir dalam Teluk Kendari.
a mata4
Sekalipun meriam anti serangan udara di bungker peninggalan Jepang di kelurahan Mata itu sudah tidak berfungsi namun bentuknya masih utuh, besi peralatan meriam yang terbuat dari baja tebal tidak dimakan karat.
Dilihat dari posisi dudukannya, meriam ini dahulu dapat dIgerakkan berputar 180 derajat ke arah kanan dan kiri, dan dapat mendongak ke atas hingga posisi 60 derajat. Di pangkal meriam terdapat tulisan THE – BHLM STEEL COMPANY GUN MARK X MODE 8 N 1584L. E P I E P A P H E I. U S D 1910.
Terdapat deretan tangga beton dibuat dari tepi jalan poros Mata – Toronipa mendaki ke kaki bukit lokasi bungker menunjukkan bahwa pernah dijadikan obyek kunjungan, tapi kondisinya kini tak terpelihara lagi diselimuti tumbuhan belukar mengesankan sebagai lokasi angker. (Teks/foto : Mahaji Noesa)

Iklan
Gambar

Teluk Kendari/Foto: Goggle-maulatheodor.blogspot.com

Belum ada data pasti sejak kapan wilayah pesisir Teluk Kendari mulai dilirik sebagai tempat pemukiman. Yang pasti, dalam Perang Asia Timur Raya (Perang Dunia II) teluk ini mendapat pengawalan ketat dari balatentara Jepang.

Hal itu dapat dibuktikan dengan peninggalan sejumlah bekas benteng atau goa-goa pertahanan Jepang di seputar muara dan sepanjang pesisir Teluk Kendari.

Gambar

Peta Teluk Kendari/Sumber : Google – visitkendari.blogspot.com

Sampai dekade tahun 70-an, masih dapat disaksikan sejumlah goa bekas pertahanan Jepang di seputar muara Teluk Kendari seperti di Ponnangka (Mata) dan kassiponco (Mangara Bombang) lengkap dengan meriamnya. Bekas goa Jepang di Kassilampe dan ujung barat Pulau Bungkutoko.

Sedangkan di pesisir teluk terdapat lebih dari sepuluh buah goa pertahanan Jepang yang dibangun di kaki bukit mulai dari cekungan Kendari Caddi hingga wilayah pelabuhan Kendari. Di cekungan batas antara Talia dan Pulau Pandang (pesisir selatan Teluk Kendari) terdapat sebuah goa pertahanan Jepang yang cukup besar. Pada mulut goa itu terdapat bangunan beton berbentuk tabung raksasa dikelilingi semacam jendela kecil-kecil.

Goa-goa pertahanan Jepang tersebut sebagian besar telah runtuh dan sengaja dihancurkan untuk kepentingan perluasan lahan pemukiman warga.

Ketatnya pengawasan teluk oleh pihak Jepang kala itu, kemungkinan karena posisi strategis Teluk Kendari sebagai pangkalan konsentrasi yang aman bagi armada laut untuk melakukan penyerangan ke wilayah-wilayah bagian timur Indonesia hingga Samudera Pasifik.

Saat tahun-tahun awal terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara, pesisir Teluk Kendari masih sepi dari pemukiman. Beberapa tempat konsentrasi penduduk di pesisir teluk, seperti di Talia, Lapulu, Pudai, Kendari Caddi, Sodohoa, Benu-benua dan Ponggoloba masih dalam suasana kampung yang kental.

Penduduk di lokasi tersebut umumnya membangun tempat-tempat pemukiman dalam bentuk rumah-rumah panggung di pesisir teluk.

Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara kala itu, menempati areal tidak lebih dari 3 km persegi – mulai dari pelabuhan Kendari (sekarang pelabuhan samudera) hingga tanah-tanah datar di lereng bukit seputar lokasi Mesjid Raya pertama kota Kendari.

Sekedar mengingatkan, bahwa di areal inilah mulanya terkonsentrasi kantor-kantor pemerintahan jawatan dinas Provinsi Sultra.

Bersisian dengan lokasi Mesjid Raya pertama kota Kendari, dulu terletak rumah jabatan pertama Gubernur Sultra serta gedung pertemuan ‘Wekoila’. Pada dinding bukit di arah timur gedung Wekoila dipasang tulisan nama kota Kendari dalam huruf berukuran besar, terbuat dari kayu bercat putih. Tulisan KENDARI di dinding bukit tersebut jelas terbaca oleh mereka yang melakukan kegiatan pelayaran masuk keluar Teluk Kendari. Landmark kota Kendari ini rontok setelah dilakukan penggusuran bukit untuk kepentingan pembangunan kota.

Pasar pertama kota Kendari berlokasi dekat pelabuhan Kendari. Arah timur pasar, terdapat sebuah lapangan yang berpagarkan kulit-kulit bom ukuran besar. Kulit-kulit bom tersebut konon merupakan amunisi sisa-sisa Perang Dunia II yang dulunya banyak tersebar di dasar perairan Teluk Kendari.

Di tengah lapangan kecil yang sering dijadikan tempat pameran dan pertunjukan-pertunjukan hiburan oleh pemerintah Provinsi Sultra itu, terdapat tugu berlabel ‘Korban 40.000 Jiwa.’

Sekitar pesisir Teluk Kendari yang kini telah direklamasi menjadi pelabuhan kapal layar motor, dahulu juga ada sebuah tugu ‘Proklamasi 17 Agustus 1945.’

Tugu yang tegak persis di perairan teluk tersebut menjadi lokasi tempat berkumpulnya massa rakyat menyaksikan lomba dayung dan lomba perahu layar yang diprakarsai pemerintah setiap tahun di Teluk Kendari dalam rangkaian memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI. Stasiun RRI Kendari pertama berlokasi tak jauh dari tugu tersebut.

Namun, dengan berbagai dinamika perkembangan telah menjadikan banyak hal di Teluk Kendari kini hanya merupakan nostalgia.

Gambar

Meriam peninggalan Jepang di Mata, Kendari/Foto: Goggle -ippmakmalang.org

Kemajuan motorisasi armada laut, misalnya, secara otomatis telah menghapus event lomba perahu layar dalam perairan Teluk Kendari. Teluk tidak lagi diwarnai barisan perahu layar bergerak keluar Teluk Kendari mengikuti hembusan angin darat di pagi hari dan rombongan perahu layar itu kembali memasuki teluk mengikuti hembusan angin laut pada siang hari, seperti dulu.

Istilah ‘papalimba’ bagi perahu dayung yang digunakan sebagai alat transportasi angkutan umum Teluk Kendari dulu, kini juga telah pupus dengan adanya motorisasi sarana angkutan laut yang lebih efektif dan efisien.

Teluk Kendari telah menjadi saksi sekaligus bukti adanya kemajuan peradaban manusia khususnya mereka yang bermukim di pesisirnya.

Sangat disayangkan, pergerakan peradaban tersebut belum banyak diimbangi kepedulian untuk tetap menjaga dan memelihara kealamian Teluk Kendari sebagai suatu anugerah Tuhan yang jarang bandingannya.

Pendangkalan teluk yang tampak kian meluas setiap tahun, sebagai contoh. Demikian pula masih adanya kebebasan mereklamasi pesisir untuk berbagai keperluan, benar-benar telah merusak sejumlah kondisi fisik Teluk Kendari.

Dulu, perairan Teluk Kendari menyentuh hingga kaki bukit di cekungan Kendari Caddi hingga tepi jalanan depan asrama tentara Kampung Salo. Tapi kini berpuluh hektar laut teluk di cekungan tersebut telah ditimbun dan dijadikan lokasi pemukiman warga.

Lokasi kantor Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang dibangun berhadapan dengan lokasi asrama tentara Kampung Salo adalah bagian dari Teluk Kendari yang telah ditimbun menjadi daratan.

Pendangkalan dan reklamasi yang tak terkendali, serta masih dibiarkannya perairan teluk sebagai tempat pembuangan atau muara dari semua drainase Kota Kendari seperti yang kini sedang berlangsung, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan Teluk Kendari akan berubah menjadi semacam sebuah kanal saja.

Kalau begitu nanti kejadiannya, Oooo….la…laaa! (Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, Sabtu, 1 Maret 2003)           

kucing 2

ilustrasi/sumber google-berita.plasa.msn.com

Mata kucing seperti mata sejumlah binatang bertaring yang buas dan berbisa, mengeluarkan sinar jika terkelebat cahaya di malam yang gelap. Namun begitu, kucing termasuk binatang peliharaan rumah yang paling jinak. Tak banyak binatang peliharaan seperti kucing yang dapat tidur seranjang dengan tuannya.

Semasa sekolah di SLTP saya punya peliharaan seekor kucing jantan. Bertahun lamanya kucing peliharaan tersebut jika malam hari ikut tidur di ranjang, berbaring di bagian kaki. Bahkan sesekali sering aku terbangun malam menghalaunya, lantaran dia ikut menikmati tidur mendengkur di bantal tidur pelapis kepalaku.

Warna bulunya putih diselingi belang-belang hitam dan berekor pendek menggumpal. Kucing ini juga disenangi oleh banyak teman dan anggota keluarga tetanggaku. Selain termasuk kucing jinak, bulunya selalu terlihat mengkilap. Lantaran tubuhnya paling sedikit sekali dalam seminggu kutaburi ampas parutan kelapa yang telah diperas santannya. Dengan cara menaburi ampas kelapa seperti diajarkan ibu, si kucing tak henti menjilati bulunya sehingga selalu kilap dan bersih.

Kucing lokal yang kuberi nama Bulu tersebut kupelihara sejak masih kecil. Dia kudapatkan di bukit yang membatasi sebuah jalan simpang tiga. Di lokasi yang agak jauh dari pemukiman tersebut sering dijadikan tempat pembuangan anak kucing yang baru dilahirkan, termasuk kucing-kucing besar.

Kucing-kucing besar yang diasingkan di tempat ini seringkali terlihat hanya bertahan beberapa saat lalu menghilang. Kemudian, beberapa hari berikutnya kucing itu terlihat kembali dilepas oleh pemiliknya di lokasi tersebut. Kucing binatang peliharaan yang punya instink sangat kuat dengan lingkungan tempat dia dipelihara.

Kucing (pengalaman dengan kucing lokal), sekalipun dimasukkan dalam karung lalu diasingkan sampai sejauh 2 km ia akan mampu kembali secepatnya ke tempat lingkungan rumah tempat dia dipelihara. Tidak seperti monyet, sekalipun bertahun-tahun dipelihara apabila dilepas langsung lari dan tak tahu untuk kembali sendiri ke kandangnya.

Sedangkan tabiat kucing-kucing yang masih kecil yang dibuang terlepas dari induknya, umumnya senang mengikuti jejak langkah orang-orang yang berjalan melintasinya. Dalam gerakan seperti itulah aku mengambil si Bulu, untuk kupelihara sebagaimana anjuran ibu kala itu, agar dapat dijadikan penghalau tikus sekitar lingkungan rumah.

Dalam perkembangannya, si Bulu bertumbuh sebagai kucing peliharaan yang jinak tapi juga lincah menangkap tikus. Beberapa kali saya menyaksikan langsung bagaimana si Bulu menangkap seekor tikus dari atas plafon rumah. Tikus digigit, dicengkram kemudian dimain-mainkan dengan membanting-banting di permukaan lantai hingga tak bergerak. Jika sudah begitu, kebiasaan si Bulu lantas meninggalkan tikus yang sudah mati, dan seperti memerintahkan kami penghuni rumah untuk menyingkirkan bangkai tersebut. Sejak ada si Bulu, cicit tikus memang jarang sekali terdengar di sekitar lingkungan rumah.

Apabila tiba saat makan siang atau makan malam bersama, si Bulu juga selalu hadir memutar-mutar di bawah meja makan sambil menggesek-gesekkan bulu badannya ke kaki-kaki kami. Si Bulu yang dibiarkan berkeliaran sekehendaknya, seperti sudah tahu untuk kembali ke rumah pada saat jam-jam makan.

Sejak awal dipelihara, sebagaimana anjuran ibu, si Bulu tak pernah diberi makan sisa tulang ikan. Menu makanan sehari-harinya, nasi plus daging ikan rebus, bakar, atau goreng. Larangan pemberian tulang ikan, dengan alasan semua kucing akan lahap menyantap tulang ikan, apalagi jika tulang-tulang ikan rebus. Dalam kondisi lahap seperti itu, berdasarkan pengalaman, kucing juga seringkali ketulangan, dan muntah. Yang terakhir ini dihindari sehingga lauk makan si Bulu hanya diberi daging ikan rebus. Mungkin karena menu seperti itu, si Bulu pun lantas tidak doyan menyantap daging tikus tangkapannya.

Rekan-rekan serta para orang tua tetanggaku seringkali bercanda dengan memanggil-manggil nama si Bulu, seperti kebiasaan yang kulakukan. Jika nama kucing peliharaan itu kuucapkan berulang-ulang, si Bulu dalam jarak yang jauh sekalipun apabila mendengarnya langsung datang mendekat, memutar-mutariku. Gerakan si Bulu seperti itu tak henti apabila tidak kuelus bagian kepalanya. Cerdik. Lantaran gerakan seperti itu tidak dilakukan kepada orang-orang lainnya yang juga sering memanggil-manggil namanya.

Namun suatu sore, kami sekeluarga terkejut lantaran datang seseorang yang sekampung mengadukan bahwa akan membunuh si Bulu. Sekalipun kami jelaskan bahwa kucing itu jinak, dia tidak mengerti. Soalnya, katanya, sudah dua kali dia melihat langsung si Bulu menangkap dan memakan anak-anak ayamnya. Kami pasrah. Tiga hari kemudian kami sekeluarga melihat orang tersebut menyeret si Bulu dengan seutas tali yang menjerat dilehernya lewat di jalanan dekat rumah.

Menurut sejumlah anak yang mengikuti, si Bulu ditenggelamkan di sebuah rawa di ujung kampung. Tali yang mengikat lehernya digantungi batu besar sebagai pemberat. Sedih mendengar, tapi kami pasrah apalagi yang melakukan adalah dari keluarga orang yang dijagokan di kampung. Lagi pula, si Bulu adalah kucing, mungkin saja di luar kontrol kami dia tetap tampil sebagai binatang bertaring yang ganas. Sebab, seperti kesaksian si orang tersebut, dia melihat langsung anak-anak ayamnya diterkam si Bulu.

Namun setelah makan malam tanpa gesekan Si Bulu, ketika kami sekeluarga santai di ruang tamu tiba-tiba pintu seperti ada yang menabrak. Ketika dibuka, ternyata si Bulu nongol mengeong masuk ke rumah dalam keadaan tubuh basah kuyup dan seutas tali masih membelit di lehernya.

Ayah lantas melepas tali ikatan di lehernya. Ibu menyiapkan makannya, adik saya justru membuat perapian untuk mengeringkan tubuh si Bulu. Kami semua sibuk. Tapi malam itu ayah memutuskan agar si Bulu diasingkan ke rumah sanak keluarga yang ada di pulau seberang kampung untuk menghindari terulangnya perlakuan sadis yang baru saja menimpanya. Singkat cerita, lebih sebulan kemudian, mungkin hanya secara kebetulan, penyeret si Bulu tewas ketika kendaraan bus yang ditumpangi untuk suatu perjalanan terperosok ke jurang.

Setelah peristiwa tersebut, saya kemudian tertarik untuk memelihara kucing berbulu tiga warna – hitam, putih, dan orange. Orang-orang di kampung saat itu menyebut sebagai ‘Kucing Mpalo.’ Sayang sekali karena ibu tidak mengijinkan jika memelihara kucing betina. Alasannya, memelihara kucing betina agak repot karena sering melahirkan banyak anak. Sedangkan kucing tiga warna seperti itu, umumnya berkelamin betina.

Ada cerita yang beredar sejak masa kecil di kampung, induk kucing akan memakan anak-anak jantan yang dilahirkan apabila memiliki bulu tiga warna. Untuk menyelamatkan anak kucing jantan berbulu tiga warna, dianjurkan begitu dilahirkan segera dipisahkan dari induknya. Dua kali saya berburu anak kucing jantan tiga warna, tapi selalu terlambat karena sang induk sudah lebih dahulu melumatnya.

Masih berdasarkan cerita lawas, konon kucing jantan berbulu tiga warna itulah kucing yang dapat bertanduk. Sebagian masyarakat sampai sekarang masih memercayai jika ada kucing yang bisa bertanduk. Mereka di antaranya, memercayai tanduk kucing dapat dijadikan mustika yang jika dipakai seorang wanita, jika melahirkan tak akan merasakan sakit sedikitpun. Diibaratkan seperti induk kucing, sesaat setelah melahirkan telah mampu melompat dan menerkam mangsanya tanpa ada rasa lemas atau takut terjadi perdarahan. Ada juga yang sering terdengar mencari tanduk kucing untuk kepentingan kelaki-lakian, tangguh sekalipun dalam perkelahian melawan kekuatan yang lebih banyak. Wallahualam.

Yang pasti, sekitar dua bulan lalu di sebuah kedai sekitar Pelabuhan Makassar, saya menyaksikan seseorang yang mempromosikan sepasang tanduk kucing kepada sejumlah pengunjung. Dua buah tanduk berwarna kuning gading, ukuran panjang sekitar 3 cm melengkung seperti kuku itulah disebut Tanduk Kucing Mpalo.

Ketika orang-orang berdebat mengenai berbagai macam keunikan termasuk keanehan yang dapat terjadi bagi pemegang tanduk kucing. Saya pun lalu nimbrung dengan berguyon, bahwa saya memiliki sepasang tanduk kuda yang berkhasiat sebagai aprodate bagi lelaki. ‘’Wah…bohong, masaiya ada tanduk kuda,’’ ucap spontan salah seorang pengunjung kedai Kaki-5 tersebut.

Saya lalu menjawab lantang, bahwa sama bohongnya dengan cerita tanduk kucing dengan segala khasiat serta manfaatnya, karena dalam pengetahuan umum tidak ada kucing yang bertanduk. Lelaki yang bertubuh kekar pemilik sepasang tanduk kucing memelototi saya yang segera berlalu meninggalkan kedai tersebut.

Dalam masa SMA, kemudian saya pernah memelihara seekor kucing jantan lokal dengan bulu berwarna hitam mengkilap. Seperti si Bulu, kucing hitam ini kupelihara mulai usia kecil. Kuberi nama Dulla. Seperti anjuran ibu, kupegang kulit leher bagian atasnya kemudian kudongakkan moncong si hitam itu lalu kusebut nama Dulla, lantas berludah angin sebanyak 3 kali ke arah moncong kucing.

Prosesi pemberian nama kucing yang kulakukan seperti itu aneh tapi nyata. Karena seperti prosesi pemberian nama terhadap sejumlah kucing lainnya, sejak itu si Hitam bertumbuh menjadi kucing peliharaan yang jinak dan akrab dengan panggilan nama Dulla. Hanya saja Dulla tidak seperti si Bulu. Dulla seperti kucing jantan lainnya, punya kebiasaan menggesek bagian pantat ke benda-benda apa saja lalu menyemprotkan air seninya yang sangat berbau sengit. Dan, Dulla yang memiliki ekor panjang pun tidak sampai setahun akrab sebagai kucing peliharaanku. Ia kemudian menghilang tanpa jejak.

Nanti setelah tamat SLA baru kutahu, jika Dulla, si kucing hitam kesayanganku tersebut justru jadi korban tumbal sebuah pengikut ajaran sesat yang mencari jimat penghilang tubuh dari pandangan. Seorang dari anggotanya yang sudah keluar dari perkumpulan menjelaskan, bahwa si Dulla mereka matikan dengan cara tak berdarah. Dibekap dengan karung goni hingga tewas. Lalu dilakukan prosesi terhadap bangkai Dullah seperti ketika akan memakamkan mayat manusia.

Selanjutnya dilakukan juga doa-doa khusus hingga hari keseratus ditanamnya bangkai kucing tersebut. Setelah itu, kuburannya digali dengan mengambil semua tulang kucing. Dengan prosesi tersendiri, para anggota perguruan yang terlibat dalam pembunuhan tak berdarah terhadap si Dulla, atas panduan sang guru lalu disilakan memilih tulang-tulang si Dullah.di depan cermin. Jika memegang tulang lalu seketika bayangan tubuhnya tak terlihat dalam cermin, itulah yang dijadikan jimat. Dari seekor kucing hitam hanya ada satu tulang yang dinyatakan dapat dijadikan jimat tubuh lenyap dari pandangan umum.

Siapa yang mendapat jimat menghilangkan tubuh dari pandangan umum dari tulang-tulang si Dulla, anggota perguruan yang membelot tersebut tidak mengetahuinya. ‘’Ajaran sesat, mencari jimat untuk perbuatan jahat,’’ katanya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 29 April 2012)

Gambar

Durian alam Mamuju/Foto: Mahaji Noesa

Seikat durian yang disodorkan seorang teman, Kamis (13/12/2012) siang langsung mengingatkan saya ketika berkunjung pertama kali ke Kota Mamuju. Ketika itu Kota Mamuju masih menjadi ibukota Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain bentuk buah duriannya yang khas, kecil-kecil tapi isinya harum dan manis. Mungkin 5 sampai 6 buah durian Mamuju untuk disamakan dengan sebuah durian Lompo Tele dari Palopo, Luwu, atau durian Otong yang kini banyak dikembangkan di Kabupaten Sinjai maupun Kabupaten Wajo. Durian alam Mamuju yang kecil-kecil dengan biji yang tipis disebut-sebut sebagai durian alam, durian yang tumbuh secara alami di hutan-hutan Mamuju.

Kali pertama ke Mamuju bersama M.Yahya Djabal Tira (alm), mantan Ketua PWI Cabang Palopo, dalam suatu tugas untuk penulisan laporan sebuah penerbitan. Kota Mamuju kala itu masih kumuh. Di tengah kota masih tampak rawa yang ditumbuhi tanaman nipa. Kala itu Bupati Mamuju dijabat oleh Atiek Suteja.

Ayah dari Kepala Biro Humas dan Protokol Kantor Gubernur Sulsel  (sekarang), Agus Sumantri, inilah bupati Mamuju yang pertama mulai merintis pembukaan jalan-jalan ke berbagai penjuru wilayah Mamuju, sampai ke arah Pasangkayu, perbatasan Sulawesi Tengah. Dialah yang memprakarsai  pemanfaatan Bandara perintis Tampapadang saat perjalanan darat Majene – Mamuju sekitar 100-an km masih harus ditempuh sehari semalam, lantaran jalanan berlumpur sekalipun tidak musim hujan. Mata air setiap saat masih mengalir dari arah pegunungan mememenuhi badan jalan Majene – Mamuju yang saat itu  masih berupa jalan tanah.

Atiek Suteja sedang Membangunkan Raksasa Tidur ! Demikian kesimpulan kami setelah beberapa hari berkeliling melihat dinamika kehidupan dan aktivitas pemerintahan di Mamuju kala itu.

Siporennu, jika tak keliru, itulah nama penginapan rumah kayu berlantai dua yang kami tempati kala itu di Mamuju.  Berjarak sekitar  300 m dari Pasar Sentral Mamuju. Usai magrib, dari sekitar pasar kami membeli sekitar 30-an biji durian Mamuju. Durian yang hampir memenuhi  satu karung terigu tersebut kami boyong ke penginapan.

Bersama Pak Yahya di teras kamar penginapan di lantai dua, kami bersantai menyicipi durian tersebut. Nikmat, apalagi  kulit durian bisa langsung kami lemparkan ke arah laut yang berbatasan dengan penginapan tersebut. Untuk kuat makan durian saya berguyon resep kepada Pak Yahya agar diawali dengan menguyah biji durian. Tapi dia justeru memberi resep lain, yaitu  dengan cara memberi air di kelopak kulit durian lalu meminumnya. Malam itu tidak terasa kami seperti berlomba makan durian. Durian yang puluhan biji itu pun ludes.

Menariknya, persis saat durian baru saja habis, bapak pemilik penginapan menemui kami berdua. Dia meminta satu atau dua biji durian kami untuk memenuhi permintaan anaknya. Dia mengaku baru saja dari pasar tapi semua penjual durian sudah tidak ada. Anaknya tak mengerti, terus  mendesak dengan menangis meminta durian. Anda tahu, bapak itu lantas terlihat menutup mulut dengan telapak tangan kanannya ketika kami nyatakan durian sudah habis.

‘’Habis…..habis…..,’’ katanya berdecak-decak  meninggalkan kami turun ke lantai bawah. Mungkin bapak ini tidak percaya, dalam waktu yang singkat kami berdua mampu secepat itu habiskan durian sekarung yang kami barusan seret di depannya ketika membawa naik ke lantai dua penginapan.

Keesokan paginya, ketika kami akan keluar dari penginapan, si bapak itu berujar dalam bahasa daerah yang kami tidak pahami. Penjemput kami yang orang sana mengartikannya, bahwa bapak itu bilang, kami bukan orang biasa……. hahaaaa…..kisah inilah yang kemudian membayang ketika melihat durian kecil-kecil itu. Sejak Mamuju menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Barat tahun 2004, saya belum pernah lagi berkunjung melihat  kota yang dulunya dijuluki sebagai ‘Bumi Manakarra’ tersebut. (Mahaji Noesa)

Gambar

Muara Sungai Jeneberang/Foto: Mahaji Noesa

Tak hanya banjir debris longsoran Gunung Bawakaraeng yang harus diwaspadai, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan setiap musim hujan menjadi wilayah rawan bencana tanah longsor, banjir, dan puting beliung. Selain memakan korban jiwa, setiap tahun petaka musim basah ini merugikan rakyat hingga ratusan miliar. Kali ini,  diperkirakan intensitas curah hujan di Sulsel akan turun melampaui batas normal.

Musim hujan sudah terjadi mulai Nopember 2012 pada sejumlah daerah di Indonesia. Biasanya, akan berlangsung selama 4 – 5 bulan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan peringatan dini dengan menetapkan 9 titik di Indonesia dianggap paling rawan bencana dalam musim hujan tahun ini. Di antaranya, tanah longsor di sekitar Gunung Bawakareang, Gowa, Sulawesi Selatan.

Kenapa longsor Gunung Bawakaraeng perlu diwaspadai? Pascabencana longsor gunung yang berketinggian lebih dari 2.000 dpl tahun 2004, menyebabkan endapan material tanah, pasir dan batu-batuan berukuran besar sekitar 300 juta kubik menumpuk di alur Sungai Jeneberang.

Sungai yang berhulu di kaki Gunung Bawakaraeng tersebut mengalir lebih 100 km, melintasi kota Sungguminasa, ibukota kabupaten Gowa, dan bermuara di Kota Makassar. Suatu tim mitigasi bencana dari Bandung pernah menyatakan bahwa sumber mata air utama Sungai Jeneberang tertutup setelah bencana longsoran Bawakaraeng 2004.

Itulah sebabnya debit air sungai yang menjadi sumber air Waduk Bilibili, sekitar 30 km dari Kota Makassar, di musim kemarau menurun drastis. Air yang kini mengalir di bagian hulu alur Sungai Jeneberang berasal dari sungai-sungai ikutan sekitarnya. Justru jika terjadi curah hujan yang tinggi, material longsoran yang menumpuk di bagian hulu alur Sungai Jeneberang dikhawatirkan dapat bergerak, menimbulkan banjir lumpur bercampur batu-batuan alias banjir debris.

Bayangkan, apabila sekitar 300-an juta kubik material seketika dapat menjadi banjir debris. Selain akan melabrak Waduk Bilibili, dapat meluluh-lantakkan pemukiman penduduk yang ada di Kota Sungguminasa dan Kota Makassar. Semoga tak pernah terjadi.

Suatu langkah cemerlang, karena pihak BNPB dengan cepat telah mengingatkan longsoran Gunung Bawakaraeng sebagai salah satu titik rawan bencana musim hujan tahun 2012. Apalagi pascalongsor 2004, penanggulangan terhadap tumpukan material di alur Sungai Bawakareang hanya diatasi dengan pembuatan sejumlah sabo dam — tanggul penahan material, serta sand pocket –  kantong penampung pasir yang dimaksudkan mengurangi volume  material memasuki Waduk Bilibili.

Sejak bencana 2004 sampai sekarang, pihak pengelola DAS Pompengan- Jeneberang mengakui baru dapat mengatasi sekitar 4 juta kubik dari sekitar 300 juta kubik tumpukan material longsoran di alur Sungai Jeneberang. Jumlah itupun sudah terhitung material yang setiap hari diangkut ratusan truk untuk bahan timbunan ke berbagai lokasi di kota Makassar maupun kota Sungguminasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, memperkirakan puncak hujan di Sulsel akan terjadi antara Desember 2012 hingga Januari 2013 dengan curah dapat mencapai 600 mm per bulan. Suatu prakiraan tertinggi bakal terjadi melewati batas curah hujan normal antara 200 hingga 300 mm per bulan. Semoga saja tak menggoyangkan ratusan juta kubik material di hulu alur Sungai Jeneberang.

Longsor, banjir dan angin puting beliung merupakan tiga petaka musim hujan yang selalu berulang setiap tahun di Sulsel. Selain faktor geografis, tidak sedikit bencana tersebut juga akibat ulah manusia merusak lingkungan.

Beberapa kabupaten dataran tinggi di Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjaga-jaga, mengantisipasi bencana longsor dengan meningginya curah hujan. Paling tidak, untuk mengelimir terjadinya korban jiwa maupun harta benda. Peringatan dini ancaman bencana longsor perlu disampaikan kepada warga di kabupaten pegunungan seperti Enrekang, Sinjai, Gowa, Toraja, Toraja Utara, dan Bantaeng yang umumnya masih banyak membangun pemukiman di lokasi berbukit hingga lereng-lerengnya.

Bencana tanah longsor saat musim hujan, perlu diwaspadai para pelintas di poros jalanan di tepi tebing maupun kaki-kaki bukit. Seperti poros Buludua menghubungkan kabupaten Barru – Soppeng, poros Maiwa (kabupaten Enrekang) – Makale (kabupaten Tanan Toraja), Makale – Rantepao (kabupaten Toraja Utara) – Kota Palopo, poros Malino (kabupaten Gowa) – Manipi (kabupaten Sinjai), dan poros Luwu Utara ke perbatasan Provinsi Sulsel dan Sulteng.

Daerah rawan banjir karena dilintasi sungai-sungai besar di Sulawesi Selatan, seperti jalanan sepanjang kl 60 km menyusur pesisir Sungai Walanae dari kabupaten Wajo ke Kabupaten Bone. Kota Palopo, kabupaten Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Enrekang, Soppeng, Sidrap, Maros, Bantaeng, Bulukumba, Pinrang, Pangkep, dan Barru.

Tahun kemarin, banjir yang melanda Kabupaten Wajo dan Bone saja menimbulkan kerugian materil sampai Rp 95 miliar. Belum terhitung nilai kerugian yang ditimbulkan banjir lokal di berbagai kabupaten lainnya di Sulsel. Banjir menggenangi 4 kecamatan di Luwu, Mei 2012, menimbulkan kerusakan fasilitas umun dan harta benda milik rakyat sampai senilai Rp 10 miliar.

Sedangkan bencana angin puting beliung tahun 2011 di 9 kabupaten di Sulawesi Selatan merusak 1.148 bangunan rumah warga dan fasilitas umum. Puting beliung yang juga dinamai Laso Anging di Sulsel berkecepatan di atas 60 km per jam pun perlu diwaspadai seiring dengan datangnya musim hujan terutama bagi warga bermukim di pesisir pantai serta tempat ketinggian. Sebanyak 19 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel wilayahnya berbatasan dengan laut.

Petaka musim hujan di Sulawesi Selatan selalu saja berulang, lantaran masih sering dikategori murni bencana alam. Pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten masih lebih fokus mencari dana bagi warga setelah jadi korban bencana. Tahun 2012 Sulsel memperoleh Rp 70 miliar dana penanggulangan bencana dari pemerintah pusat. Belum tampak langkah signifikan mengelimir penyebab bencana. Hutan Sulsel yang luasnya 2,7 juta hektar (2007) sebagai penyanggah timbulnya banjir sekarang berkurang sisa sekitar 2 juta hektar. Jadi, waspada sajalah, musim hujan kini sudah tiba. (Mahaji Noesa)

Waduk Bilibli/Foto: ASY

Tak selang lama setelah terjadi bencana longsor Gunung Bawakaraeng, Maret 2004, tim Geologi dan Mitigasi Bencana dari Bandung mengeluarkan sejumlah peringatan. Antara lain menyatakan, bencana tersebut menyebabkan tertutupnya mata air Sungai Jeneberang yang menjadi sumber air andalan Waduk Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Akan tetapi, hingga saat ini pihak Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Sulawesi Selatan maupun pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) sebagai penanggungjawab Waduk Bilibili, sepertinya mengabaikan pemberitahuan mengenai tertutupnya mata air Sungai Jeneberang pascabencana longsor Gunung Bawakaraeng tahun 2004 tersebut. (lebih…)