Posts Tagged ‘museum’

lu55Tampak lambang Gemeente Makassar  terpasang di depan Museum Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Lambang pertama Kota Makassar ketika masih berstatus sebagai Gemeente Makassar, berupa dua ekor rusa memegang sebuah piala yang didalamnya bergambar pohon kelapa dan pedang marsose, kini dijadikan sebagai ikon Museum Kota Makassar yang terletak di Jalan Balaikota Makassar.

Museum yang direnovasi sejak tahun lalu dengan anggaran Rp 3 miliar tersebut meskipun hingga memasuki Maret 2016 belum rampung secara keseluruhannya, namun di bagian depan sudah terlihat terpajang lambang kota Makassar saat masih berstatus sebagai Gemeente Makassar. Menariknya, sebuah meriam jagur berukuran boncel terkesan antik ikut dipajang di bawah lambang tersebut.

Gedung Museum Kota Makassar ini merupakan salah satu bangunan tua bersejarah sebagai bekas gedung balaikota pertama setelah pemerintah Hindia Belanda memberikan hak otonom Makassar sebagai suatu kota dengan nama Gemeente Makassar, melalui Ordinansi 12 Maret 1906, Staatsblad 1906 No.17 yang dinyatakan mulai berlaku 1 April 1906. Namun begitu, nanti setelah tahun 1918 barulah diangkat walikota pertama (Burgemeester) Makassar J.E Damrink, berkantor di gedung yang kini menjadi Museum Kota Makassar.

lu36

Lambang Gemeente Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Hingga tahun 1993 gedung ini masih ditempati sebagai kantor Walikota Makassar. Jelasnya, di masa pemerintahan kolonial terdapat 7 walikota, 2 walikota di masa pendudukan Jepang, 2 walikota di masa pemerintahan NICA, 2 walikota di masa pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT), dan 12 walikota Makassar berikutnya masih berkantor di bekas gedung Gemeente Makassar tersebut.

Setelah 6 tahun kantor Walikota Makassar pindah ke bekas kantor Gubernur Sulsel yang kini jadi Balaikota Makassar, tepatnya di tahun 2000 bekas gedung Gemeente Makassar yang secara fisik belum banyak berubah bentuknya dijadikan sebagai Museum Kota Makassar.

Renovasi atau pemugaran yang dilakukan terhadap Museum Kota Makassar sekarang diharapkan, setelah rampung dapat lebih menarik minat dikunjungi para pihak sebagai obyek wisata sejarah, pendidikan, dan penelitiaan.

Gambar

Mariang Polong di Benteng Somba Opu (Foto: Riset)

Tercatat sejarah, sebanyak 272 pucuk meriam besar dan kecil ikut dihancurkan ketika Kolonial Belanda membumihanguskan Benteng Somba Opu yang menjadi pusat Kerajaan Gowa pada 24 Juni 1669. Termasuk sepucuk meriam bernama ‘Mariang Anak Mangkasara’ (Meriam Anak Makassar) dirampas oleh Belanda.

Meriam (jagur) yang beratnya sekitar 500 kg dan memiliki panjang sekitar 6 meter tersebut, merupakan yang terbesar di antara semua meriam yang mengawal pertahanan Benteng Somba Opu yang berbentuk persegi empat dengan luas lebih dari 113 ribu meter bujur sangkar.

Meriam yang dibuat tahun 1593 lubang pelontar mesiunya berdiameter besar, memiliki jangkauan lontar yang jauh serta kekuatan daya rusak yang besar. Jika beraksi, menimbulkan gelegar yang dahsyat hingga radius puluhan kilometer, sehingga juga dijuluki sebagai ‘Meriam Keramat.’

Namun, sekalipun ada petunjuk meriam tersebut lolos dari aksi penghancuran oleh kolonial Belanda tapi saat ini tak diketahui dimana rimbanya. Dalam catatan lama ada disebut pascaperang Somba Opu (1669) — perang maritim terbesar yang pernah terjadi di wilayah Asia sepanjang sejarah, meriam itu disingkirkan ke Batavia, lalu kemudian entah dibawa kemana. Sampai sekarang tidak ada sedikitpun petunjuk arah raibnya meriam kebanggaan ‘Anak Makassar’ tersebut.

Di lokasi puing bekas Benteng Somba Opu yang terdapat di Kelurahan Somba Opu Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, saat ini hanya dapat disaksikan dua buah meriam (jagur). Satunya, meriam yang dijadikan asesori di halaman depan Museum Karaeng Pattingaloang yang terdapat di areal bagian barat bekas Benteng Somba Opu. Akan tetapi, meriam tersebut, bukan bagian dari meriam yang pernah mengawal di Benteng Somba Opu. Meriam ditemukan dalam suatu penggalian yang dilakukan warga secara tak sengaja pada tahun 90-an di Jl. Ince Nurdin, Kota Makassar, sekitar 10 km di arah utara lokasi Bekas Benteng Somba Opu.

Dudukan meriam justru merupakan hasil rekonstruksi tahun 1991 yang dilakukan oleh H.Mochtar Ibrahim Dg Naba dari STM Pembangunan Ujungpandang.

Berikutnya, sebuah meriam (jagur) yang panjangnya 1 meter lebih. Meriam yang bagian pangkalnya terlihat tak sempurna (patah ?) santer disebut oleh penduduk yang bermukim sekitar lokasi bekas Benteng Somba Opu sebagai ‘Mariang Polong’ (Bahasa Makassar, berarti Meriam Patah).

Meriam ini sejak dulu, menurut cerita penduduk, sudah tergeletak di sekitar sebuah makam yang saat ini berada sekitar 15 meter di depan Museum Karaeng Pattingaloang, di bekas Benteng Somba Opu. Makam yang telah dibuatkan penutup dalam bentuk bangunan gardu permanen, disebut-sebut sebagai makam dari keluarga Raja Gowa tempo dulu. Namun pihak Museum Karaeng Pattingaloang hingga sekarang tidak punya data pasti mengenai siapa yang dimakamkan di tempat tersebut.

Yang pasti, cerita dari penduduk sekitar, meriam tersebut dari dulu hingga saat ini terutama sore hari — jelang malam Kamis atau Malam Jumat, selalu terlihat ramai disiarahi orang-orang yang datang dari Kota Makassar maupun dari wilayah Kabupaten Gowa dan sekitarnya. Mereka menabur bunga dan membakar lilin merah di badan meriam. Tak heran jika setiap saat terasa hembusan bau bunga  pandan segar di sekitar meriam, dan badan meriam dipenuhi lelehan bakaran lilin merah.

Ada yang mengisahkan, bahwa pada tahun 70-an, sebelum dilakukan eskavasi (penggalian) lokasi bekas Benteng Somba Opu, Mariang Polong ini pernah diangkut oleh sekelompok orang dibawa ke wilayah Balang Baru, Kota Makassar – sekitar 3 kilometer arah utara benteng. Mereka memindahkan dengan maksud agar tidak terjadi pemberhalaan terhadap meriam tersebut.

Namun dalam beberapa waktu kemudian, Mariang Polong dikembalikan ke tempatnya semula di dalam areal bekas Benteng Somba Opu, lantaran orang-orang yang tadinya memindahkan meriam tersebut dikabarkan terserang penyakit dan semua tewas.

Banyak pihak menyayangkan lantaran hingga saat ini pihak UPTD Pengelola Benteng Somba Opu termasuk Museum Karaeng Pattingaloang, belum memiliki data yang jelas mengenai Mariang Polong yang justru berada di moncong museum. Termasuk amat menyayangkan karena ada semacam pembiaran terhadap orang-orang untuk menyakralkan, memuja-muja, bahkan meng-kramat-kan meriam yang belum jelas asal-usulnya tersebut.

Lebih aneh lagi, ada yang mengubah posisi meriam yang sebelumnya hanya digeletakkan di atas gundukan batu, kini mulut meriam dimasukkan ke belahan batang sebuah pohon besar yang tumbuh di dekatnya. Sehingga posisinya, membuat kesan bertemunya P and V. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 10 Oktober 2011)

IMG00852-20130103-1032

Dinding bagian barat bekas Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Selain bangunan abad XVII Benteng Ujungpandang, masih terdapat banyak sekali bangunan peninggalan lama, bukti Makassar sebagai Kota Tua. Hanya saja sejumlah bangunan tua lainnya menjadi tak menonjol dengan kehadiran bangunan baru berasitektur modern. Bahkan banyak jejak bersejarah justru dibiarkan ikut tergusur.

Gedung lama Balaikota Makassar di Jl. A.Yani, Museum Kota di Jl. Balaikota, Kantor Pengadilan Negeri di Jl. Kartini, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Gubernuran Sulsel dan Gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Jl. Jend Sudirman, merupakan bangunan-bangunan tinggalan masa lalu yang masih menonjol.

Namun begitu, Klenteng Ibu Agung Bahari di Jl. Sulawesi yang dibangun tahun 1737, Gereja Katedral (1898), Masjid Arab (1907), Mesjid Kampung Melayu dan Pasar Butung (1917). Semua juga merupakan bangunan peninggalan masa lalu yang dapat menjadi bukti dinamika kehidupan Kota Makassar dari masa ke masa.

Bahkan melalui sejumlah bangunan keagamaan tinggalan lama tersebut, dapat diketahui jika kehidupan di Kota Makassar pada ratusan abad lampau sudah terbuka untuk semua etnis maupun agama.

Melalui catatan sejarah Kerajaan Gowa dan Tallo pada abad XVI – XVII, diketahui ketika pusat Kota Makassar masih berada di Benteng Somba Opu,  justru hidup damai berdampingan sejumlah suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Mereka yang terdiri dari bangsa Portugis, Denmark, Inggris, Melayu dan Gujarat  justru diperkenankan pihak kerajaan membuat perwakilan-perwakilan dagang seputar benteng.

Sayangnya, bangunan-bangunan tersebut kini hanya ada dalam catatan lembaran sejarah. Lantaran semua telah hancur seiring dibumihanguskannya Benteng Somba Opu oleh pihak kolonial Belanda pada abad XVII.

IMG00849-20130103-1030

Bastion tersisa dari Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Sebenarnya, sebagaimana dicatat sejarah, sesuai dengan Perjanjian Bungaya (Bongaissck Verdrag) pada 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman, dua markas pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang tidak boleh dihancurkan. Akan tetapi akibat munculnya keserakahan kolonial, Benteng Somba Opu yang menjadi hak Kerajaan Gowa kemudian dihancurkan.

Setelah beratus tahun peristiwa penghianatan itu berlalu, lokasi tempat ditandatanganinya Perjanjian Bungaya yang ada di sekitar Bontoa, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar, pun menjadi tidak jelas lagi. Sejumlah pondasi bangunan baru sudah tegak di sekitar lokasi bersejarah tersebut.

‘’Beberapa tahun lalu di tempat itu masih ada tanda yang menyatakan sebagai Tempat Perjanjian Bungaya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ jelas Amir, seorang warga dari sekitar Timbuseng, Barombong, sambil menunjuk ke arah lokasi di belakang bangunan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Solar.

Satu-satunya pertanda jejak, karena sekitar lokasi masih diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Jalan tembus dari arah Kelurahan Barombong menuju SMA Negeri 20 Makassar yang kondisinya, selain sempit juga aspalnya berlubang-lubang lama tak pernah mendapat perbaikan.

Tergusurnya lokasi Perjanjian Bungaya dengan kahadiran sejumlah bangunan baru sekitar Bontoa, amat disayangkan banyak pihak. ‘’Lokasi ini sama pentingnya dengan Benteng Ujungpandang untuk dipelihara sebagai bagian dari bukti jejak sejarah Kerajaan Gowa masa lalu,’’ kata Sudirman, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Kota Makassar.

Seperti dicatat sejarah, Perjanjian Bungaya merupakan perjanjian pertama yang dibuat di Nusantara dengan penyumpahan menggunakan dua kitab suci agama. Perjanjian ini ditandatangani dengan sumpah oleh Sultan Hasanuddin di depan kitab Al Quran (Islam) dan Speelman di depan kitab Injil (Kristen).

Namun kemudian terjadi penghianatan kolonial, dan memiriskan karena lokasi bersejarah Perjanjian Bungaya itupun kini terancam hilang tergusur derap pembangunan kota. (Mahaji Noesa)

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Usai menonton satu session lomba perahu naga dalam acara Celebes Dragon Boat Festival 2012, pekan pertama Nopember 2012, seorang anak menyempatkan diri mengamati miniatur sebuah perahu phinisi yang masih dibungkus plastik, salah satu dari sejumlah asesori yang sedang dibuat di Pantai Losari, Makassar.

Dalam dialog kemudian dengan ayahnya, siswa madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) itu mempertanyakan miniatur perahu phinisi di anjungan Pantai Losari tersebut. ‘’Kenapa monumen perahu phinisi yang dibuat itu cuma dua tiang, padahal ada phinisi sampai punya tiga tiang,’’ katanya.

Berulangkali si ayah menjelaskan, bahwa yang namanya perahu phinisi, perahu khas nenek moyang orang Sulawesi Selatan, sejak dulu hanya memiliki dua tiang utama. Memiliki 7 layar, dua layar di tiang utama, dua layar ukuran kecil di atas layar tiang utama, dan tiga layar berderet di anjungan depan perahu.

Namun anak tersebut tetap ngotot, dan bahkan balik menjelaskan yang namanya perahu phinisi ada yang memiliki tiga tiang dengan sembilan layar. ‘’Saya pun terperangah ketika dia membuka sebuah blog di laptop, memunculkan sebuah foto perahu phinisi dengan tiga tiang utama,’’ kata Akhmad (49), ayah si anak.

Namun, pendapat berkembang banyak anak Indonesia tuna sejarah budaya, seni dan tradisi negerinya, tentu saja, tidak dapat serta merta ditimpakan kepada siswa tersebut. ‘’Dia menunjukkan bukti kepada saya, foto sebuah perahu phinisi bertiang tiga yang selama ini saya sendiri tidak pernah melihatnya,’’ ucap Akhmad.

Dalam penelusuran di google Rabu, (7/11), ditemukan blog noverdianto.multiply.com yang memuat sebuah foto berjudul ‘Phinisi di Manado’ diposting 16 Juni 2008, disertai keterangan, seperti berikut:

‘’Aku beruntung banget bisa moto kapal phinisi ini, bagus banget,apalagi awan saat itu mendukung banget. Setelah aku edit dikit ternyata hasilnya lumayan juga. Pas aku kasih foto ini ke orang2 manado masak gak ada yang percaya, katanya, mana ada kapal kayak gitu di manado,untung ada saksi yang orang sana,biar gak dikata boongan,hehe.

Kapal ini berbendera Indonesia, tapi anehnya, yang naek orang bule semua. Pas aku ngambil fotonya, eh mereka malah melambaikan tangan, ramah banget, sayank aku gak sempet naek ke atasnya,hehe’’

IMG00667-20121212-1627

Lukisan perahu Phinisi karya Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Gambar phinisi tiga tiang itu, ternyata juga telah tersebar menghiasi sejumlah blog lainnya. Namun tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut produk dari mana phinisi tiga tiang tersebut, dan dimana keberadaannya sekarang. Dari para pihak Sulawesi Selatan, tempat muasal perahu phinisi pun sampai sekarang tidak pernah terdengar ada komplain terhadap foto perahu tiga tiang yang disebut sebagai perahu phinisi.

Anak-anak sekarang bertanya-tanya tentang Phinisi, lantaran salah satu dari generasi terakhir perahu kebanggaan moyang Sulsel ini sudah jarang diproduksi, menjadi barang langka. Tidak lagi seperti cerita masa lalunya sebagai alat transportasi laut yang handal.

Pakar Perkapalan dan Trasnportasi Laut Unhas, Prof.Dr.M.Yamin Jinca mengakui, yang menjadi kebanggaan dari phinisi tradisional Sulsel sekarang sisa bentuk dan historisnya saja. ‘’Untuk dijadikan sebagai alat angkut dan transportasi laut tidak lagi efektif dan efisien,’’ katanya.

Alasannya, bentuk karakter barang sekarang sudah berubah, orang ingin jaminan keselamatan dan kecepatan dalam menggunakan alat angkut, hal seperti itu tidak dimiliki phinisi. Jika perahu tradisional ini dikembangkan untuk tujuan wisata, itupun dinilai terbatas karena pemakai pasti akan memperhitungkan faktor keselamatan diri atau barangnya. Perusahaan-perusahaan asuransi sampai sekarang tidak mau memberikan jaminan terhadap orang dan barang yang diangkut menggunakan phinisi.

‘’Maka, sebenarnya tidak ada masalah jika sekarang ada yang memodifikasi phinisi gunakan tiga tiang utama. Yang penting, diterima masyarakat karena merasa aman dan nyaman menggunakannya. Dalam hal perkapalan dan transportasi lalut kita harus dapat menerima perubahan sesuai tuntutan zaman, harus mampu mengadopsi perkembangan,’’ jelas Yamin Jinca.

Tak terdapat generasi baru perahu Sulsel, phinisi tradisional kebanggaan pelaut Bugis – Makassar pelan tapi pasti kini sedang berlayar menuju alam khayal. Paling tidak kedahsyatan kepemilikan armada perahu masa lalu di Sulawesi Selatan, generasi mendatang nantinya hanya akan menyimak melalui catatan-catatan lama. Seperti,antara lain, dikabarkan dalam Lontara Bilang Gowa. Bahwa pada masa Kerajaan Gowa ketika Sultan Hasanuddin  pada 30 April 1655 melakukan perjalanan laut ke Mandar terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Sedangkan ketika ke Maros, 29 Desember 1659 dikawal 239 perahu, dan ke Sawitto (Pinrang) 8 Nopember 1661 dikawal 185 perahu. Terdapat 450 perahu mengangkut sekitar 15.000 lasykar Kerajaan Gowa ke Pulau Buton, Oktober 1666.

Dalam kondisi perahu-perahu tradisional akan tergusur tuntutan serta perkembangan alat transportasi laut, terngiang usulan sejumlah seniman Sulsel sejak beberapa tahun lalu, agar pemerintah Sulawesi Selatan mendirikan sebuah museum perahu yang mengabadikan berbagai bentuk dan jenis perahu yang pernah dimiliki masyarakat Sulsel.

Dari catatan lama diketahui, sebelum mengenal phinisi, Kerajaan Gowa tercatat pernah memiliki perahu jenis Galle yang dapat mengangkut pengayuh (pendayung) sampai 400-an orang. Perahu jenis ini ada yang panjangnya lebih dari 30 meter dengan lebar lambung sampai 6 meter. Salah satu perahu yang diberi nama I Galle Dondona Ralle Cappaga, misalnya, dicatat memiliki panjang 25 depa atau sekitar 35 meter.

Selain itu, masyarakat maritim Bugis – Makassar dahulu memiliki banyak jenis perahu yang dibuat berukuran lebih kecil, berfungsi sebagai alat angkut, pencari ikan, maupun keperluan pertahanan. Seperti perahu jenis Banawa khusus untuk mengangkut binatang ternak, perahu Pajala untuk  armada nelayan, jenis Palimbang untuk antarpulau. Dikenal pula jenis perahu Bilolang dan Biroang untuk pengangkutan jarak dekat. Sedangkan untuk keperluan pertahanan laut di masa kerajaan dikenal jenis perahu Binta dan Palari.

Beberapa waktu lalu masyarakat abad millenium pernah menatap langsung kehebatan phinisi mengarungi lautan besar dunia. Yakni, ketika phinisi Nusantara berhasil melakukan pelayaran dari pantai Makassar ke Vancouver, Canada tahun 1986. Menyusul pelayaran phinisi Padewakang ‘Hati Marege’ dari Makassar ke Benua Australia. Dan, pelayaran phinisi ‘Amanna Gappa’ dari Makassar ke pantai Madagaskar, Afrika, tahun 1991. Sayangnya, momentum tersebut setelah berlalu justeru makin menyepikan phinisi atau perahu sejenisnya di pantai-pantai Sulawesi Selatan.

Justeru, menurut Aji Nugraha, dari Forum Kajian ‘Biring Tamparang’, ide untuk membangun Museum Perahu Sulsel lebih smart dan brilian dibandingkan usulan membuat Museum Hewan di Kota Makassar. ‘’Museum perahu perlu, agar anak-anak sekarang tidak menjadi generasi tuna sejarah dan budayanya,’’ katanya. (Mahaji Noesa)