Posts Tagged ‘noesa’

MY NOTES

Posted: 7 Desember 2016 in BERANDA
Tag:, , ,

mynotes

MY NOTES

Hidup merupakan perjalanan penuh misteri. Tak ada manusia mengetahui berapa lama waktu tempuh, dan dimana dia harus berhenti untuk tidak lagi dapat melangkah.

Terbentang banyak lintasan. Namun tidak sedikit jalur yang dilewati seseorang ternyata tidak atau belum dilintasi oleh siapapun.

Dengan menulis, menulis dan terus menulis, seseorang dapat berbagi perasaan, pandangan, pemikiran, pengalaman dan pengetahuan kepada banyak orang.

My Notes diupayakan menjadi terminal tulisan yang pernah saya buat yang telah dipublikasikan di berbagai media maupun yang ditulis khusus di sini.

Berharap punya manfaat,

Salam hormat

Life is a journey full of mystery. Man does anyone know how long the trip he world,not knowing where she would stop and could not walk. Many roads on earth. Many roads are impassable someone, but never passed by others. With write, write and keep writing, one can share the feelings, views, thoughts, experience and knowledge to many people. My Notes as terminal collection of papers have been published in various media, and specifically I write here.

Wish have benefits,

Yours sincerely,

MAHAJI NOESA

mahajins@gmail.com

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

dangke

Inilah bentuk Dangke Enrekang/Foto: Riset – Google

Jika susu murni yang berasal dari kerbau atau sapi perah selama ini
banyak dikonsumsi warga sebagai minuman segar bergizi, maka masyarakat
di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan paling doyan memakan sari pati
dari ternak besar tersebut.

Susu dimakan bukan diminum? Ya…aneh tapi nyata! Masyarakat luas di
Provinsi Sulawesi Selatan sejak lama mengetahui jika penduduk di
kabupaten yang berjuluk ‘Bumi Massenrempulu’ tersebut sebagai pemakan
susu kerbau atau susu sapi perah dalam bentuk penganan yang bernama
Dangke.

Dangke tak lain adalah susu kerbau atau susu sapi yang digumpalkan
melalui kearifan lokal menggunakan bantuan enzim papain atau daun
pepaya. Bentuk gumpalan dangke tersebut berwarna putih seperti tahu.
Masyarakat khususnya di Kabupaten Enrekang sampai sekarang umumnya
menjadikan dangke sebagai lauk pendamping makanan nasi sehari-hari.
Untuk menyantapnya terlebih dahulu dangke tersebut, antara lain,
melalui proses penggorengan.

‘’Dangke juga dapat disantap langsung sebagai makanan pengantar dengan
menggunakan campuran gula aren. Nikmat,’’ jelas Kusuma, seorang
penduduk yang berdiam di Sossok, Kecamatan Baraka, Enrekang.
Warung-warung rakyat yang terdapat di tepian poros jalan Negara, dari
Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang ke arah Kota Makassar, kini
umumnya memampang papan-papan promosi: ‘’Jual Dangke!’’

‘’Namun jika jika lepas tengah hari, biasanya dangke di warung-warung
ini sudah habis terjual,’’ jelas Asni, seorang perempuan pemilik
warung penjual Dangke di Kabere, sekitar 3 km arah barat Kota
Enrekang. Harga jual dangke di Enrekang saat ini Rp 14.000 per biji,
ukuran setengah tempurung kelapa.

Menurut Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Kantor Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, drh. Jumwar, MSi, produk
dangke di Kabupaten Enrekang sekarang sekitar 3.000 biji setiap hari.

‘’Produk dangke tersebut baru dapat memenuhi sekitar 20 persen dari
kebutuhan lokal masyarakat di Bumi Massenrempulu,’’ katanya.
Menurut alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM)
tahun 1989 ini, untuk satu biji dangke yang beratnya antara 330 sampai
350 gram tersebut terbuat dari bahan baku 1,5 liter susu murni kerbau
atau sapi.

Lantaran itu, penyandang gelar master agrobisnis dari Universitas
Muhammadiyah Parepare tahun 2011 menyatakan, tak hanya berprospek tapi
juga dangke cukup prospektif dikembangkan sebagai usaha guna
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat ke depan. Bahkan,
jelasnya, produk lokal rakyat Bumi Masenrempulu ini bisa dijadikan
sebagai brand daerah ‘Enrekang sebagai Kabupaten Dangke.’
Alasannya, antara lain, dangke sebagai food cultur (makanan
tradisional) yang bergizi tinggi, produk lokal bernilai ekonomi yang
hanya terdapat di Kabupaten Enrekang. Pengembangan dangke juga
sekaligus dapat menjadi entry point dari pengembangan usaha peternakan
khususnya di Kabupaten Enrekang yang 85 persen wilayahnya merupakan
lereng berkemiringan antara 15 hingga 45 derajat.

Lagi pula, urainya, dengan pengembangan produk dangke tersebut
merupakan langkah tepat bagi pengembangan usaha industri biologis
melalui ternak kerbau atau sapi yang dapat senantiasa terbarukan.
‘’Pengembangan produk dangke akan memberikan pertambahan nilai ekonomi
yang cukup tinggi di tengah masyarakat lantaran merupakan salah satu
produk agribinis yang mencapai 3 log. Dari usaha peternakan sapi,
menghasilkan susu, susu dijadikan dangke serta turunan produk lainnya
berupa pembuatan krupuk dangke yang kini mulai dicoba di Kabupaten
Enrekang,’’ papar Junwar.

Berdasarkan catatan pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten
Enrekang, saat ini populasi ternak di Bumi Masserempulu sudah mencapai
1.400-an ekor sapi perah dan sekitar 48.000 ekor sapi potong. Untuk
ternak kerbau mencapai 6.000-an ekor.

Junwar yang sebelumnya telah bertugas di Kantor Dinas Peternakan
Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, Kabupaten Bulukumba, dan
di Rumah Potong Hewan Kota Makassar mengaku, dia yang pada tahun 2002
mulanya mengusul dimasukkannya bibit sapi perah asal Pulau jawa ke
Kabupaten Enrekang terutama untuk memenuhi bahan baku susu bagi
pengrajin dangke.

Di masa-masa lalu, ceritanya, Dangke Enrekang lebih banyak dibuat dari
susu kerbau. Akan tetapi dalam perkembangannnya kemudian lebih banyak
dipilih bahan baku dari susu sapi yang kandungan lemaknya 2,6 – 2,8
persen. Dangke susu sapi lebih gurih dibandingkan menggunakan susu
kerbau yang kandungan lemaknya mencapai 3,2 persen.
Lagi pula, dari seekor kerbau betina hanya dapat menghasilkan 5 hingga
6 liter susu setiap hari. Atau hanya dapat digunakan untuk membuat 2
sampai 3 biji dangke. Sedangkan dari seekor sapi perah, dapat
dihasilkan 20 hingga 30 liter susu setiap hari. ‘’Bahkan dengan
perlakuan tertentu seekor sapi perah berpotensi menghasilkan hingga 60
liter susu setiap hari,’’ jelas Junwar.

Kini di seluruh Kabupaten Enrekang terdapat sekitar 300-an pengrajin
dangke. Setiap pengrajin umumnya memiliki minimal satu ekor sapi
perah.

Melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE), pihak
perbankan telah mengucurkan bantuan permodalan usaha kepada 14
kelompok tani peternak dan pengrajin dangke di Kabupaten Enrekang.
KKPE diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang dinilai potensial di
pedesaan dengan bunga 6 persen per tahun, dan nilai pemberian kredit
bisa mencapai maksimal Rp 100 juta.

Persyaratan pemberian KKPE hampir sama dengan pemberian Kredit Usaha
Rakyat (KUR). Bedanya, bunga KUR 14 persen setahun dengan plafon
kredit maksimum Rp 20 juta. KUR diberikan tanpa agunan, sedangkan KKPE
selain hanya diberikan terhadap usaha yang sedang berjalan – bukan
usaha yang baru dimulai. Juga harus ada agunan, lantaran
dipertanggunjawabkan oleh masing-masing individu dalam kelompok sesuai
nilai kredit yang mereka pakai.

‘’Saat ini sudah ada dana permodalan usaha sekitar Rp 3 miliar melalui
KKPE yang disalurkan kepada kelompok-kelompok tani peternak dan
pengrajin dangke yang direkomendasi pihak Dinas Peternakan dan
Perikanan di Kabupaten Enrekang,’’ ungkap Junwar. Lalu menambahkan,
untuk sementara pihak perbankan hanya sebatas menyalurkan KKPE kepada
peternak sapi dan kerbau. (Mahaji Noesa)

IMG00055-20120928-1349

Tenda acara pun bebas dibangun di tengah jalan/Foto: Mahaji Noesa

Secara kasat mata dapat disaksikan, setiap hari terjadi pertambahan atau perluasan lahan-lahan parkir yang memanfaatkan badan jalan sebagai tempat parkir kendaraan sepeda motor (R2) maupun mobil (R4).

Tak hanya berlangsung di jalanan-jalanan protokol dengan lebar jalan lebih 6 meter. Tapi di ruas dengan lebar kurang 5 meter juga dijadikan sebagai lokasi perparkiran. Lebih parah lagi, karena di jalan sempit dua arah sekalipun juga dapat dijadikan lahan parkir.

Di Jl Kajao Lalido, Jl. Botolempangan, Jl. Sulawesi, Jl. Cenderawasih, Jl. Veteran, Jl. Sungai Saddang, Jl. Pelita, Jl. Gunung Latimojong, Jl Bulusaraung, Jl. Mesjid Raya, dan ratusan ruas jalan lainnya di Kota Makassar setiap hari, sebagian muka jalannya bebas digunakan sebagai tempat parkir R2 maupun R4.

Akibatnya, menimbulkan perlambatan laju pergerakan kendaraan. Bahkan menimbulkan kemacetan panjang dengan terjadinya pergerakan lambat pertemuan arus kendaraan terutama di persimpangan-persimpangan jalan.

Menurut pihak PD Parkir Makassar Raya, tahun 2011 mengelola sekitar 700 titik parkir, bertambah menjadi lebih 900 titik  tahun 2012. Sebagian besar titik parkir tersebut menggunakan badan jalan, karena hingga saat ini pihak PD Parkir Makassar Raya belum miliki satupun lahan dibangun khusus untuki parkir kendaraan R2 atau R4.

Jumlah tersebut belum terhitung banyak sekali titik parkir yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok warga. Perparkiran di luar jangkauan pengawasan PD Parkir Makassar Raya tersebut, cenderung dalam praktiknya lebih serampangan lagi. Mereka tidak pusing menumpuk parkiran walaupun mendominasi penggunaan muka jalanan.

Contoh paling mencolok di Jl. Cenderawasih – sekitar Pasar Senggol Mattoanging. Setiap malam di sini terjadi kemacetan parah. Kendaraan antre sampai berbilang jam untuk menerobos jalanan tak lebih 400 meter, lantaran di sisi kanan kiri jalanan dijadikan sebagai lokasi parkir kendaraan pengunjung Pasar Senggol.

Tak terkendalinya muka jalanan dijadikan lahan parkir, pun dapat dilihat di lebih 20 titik yang dinyatakan pihak PD Parkir Makassar Raya sebagai lokasi tak boleh dijadikan lahan parkir. Seperti di Jl. A.Yani, Jl.AP Pettarani, Jl. Jend Sudirman, Jl. Ratulangi dll, tapi dalam kenyataan hingga saat ini tetap bebas dijadikan sebagai lahan parkir. Menariknya, karena juru parkir di lokasi tersebut banyak yang mengenakan seragam juru parkir PD Parkir Makassar Raya.

Pertambahan areal parkir menggunakan jalanan tersebut tak signifikan pertambahan ruas jalan maupun laju peningkatan jumlah kendaraan. Apalagi untuk pembuatan jalan baru, tidak selamanya ada setiap tahun. Anggaran untuk infrastruktur jalanan yang dialokasikan di APBD Kota Makassar tahun 2012 sebesar Rp 22 miliar lebih, misalnya. Keseluruhan hanya untuk pemeliharaan, perbaikan dan peningkatan muka jalanan yang sudah ada. Tak ada penambahan jalan baru.

Kondisinya lebih diperparah dengan laju pertambahan kendaraan bermotor sekitar 20 persen setiap tahun. Sekarang terdapat lebih 700 ribu unit kendaraan R2, dan sekitar 180 ribu unit R4 setiap hari melata di jalanan sepanjang sekitar 1.500 km di Kota Makassar.

Data tersebut memperjelas jika laju ekspansi perluasan titik parkir PD Parkir Makassar Raya, jelas mempersempit muka jalanan. Tahun 2011, hanya memiliki sekitar 700-an titik perparkiran. Jumlahnya meningkat tahun 2012 menjadi sekitar 900 titik parkir resmi dikelola PD Parkir Makassar Raya.

‘’Gimana tidak macet jika jalanan diperluas tapi lokasi parkir di muka jalan pun tetap dibiarkan diperluas, seperti yang terjadi sekarang di Jalan Pettarani,’’ kata Burhan, seorang karyawan swasta yang bermukim di Kawasan Panakkukang, Makassar.

Jl. AP Pettarani merupakan jalan lingkar tengah membentang sepanjang 3 km dari mulut Tol  Reformasi ke Jl Sultan Alauddin, sejak tahun lalu diperlebar dari 6 lajur menjadi 8 lajur. Namun jalan provinsi di tengah Kota Makassar yang telah dilebarkan dangan dana lebih Rp 17 miliar tersebut, saat ini tetap saja setiap hari macet panjang hingga berjam lamanya. Pasalnya, areal jalan tetap digunakan sebagai lokasi parkir, bahkan areanya lebih luas dibandingkan sebelum jalanan diperlebar.

Ikhwal jalanan maupun trotoar dijadikan lokasi parkir sebenarnya sudah lama disorot warga. Bahkan sudah sering diingatkan bahwa dalam Undang-undang No.22/2009 tentang Lalu Lintas Jalan secara tegas dinyatakan larangan menggunakan badan jalan maupun trotoar sebagai tempat parkir.

‘’Termasuk sudah berulangkali diingatkan melalui media massa, bahwa berdasarkan Undang-undang No.38/2004 dengan PP No.34 tahun 2006 tentang Jalan, tidak membenarkan penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir. Pelanggarnya dapat dikenai sanksi pidana 18 bulan penjara atau denda Rp 1 miliar.  Tapi sampai sekarang semua seolah tidak ada yang mau peduli dengan aturan itu. Justru tidak jarang pelanggaran seperti itu, berlangsung nyata di sekitar kantor-kantor polisi,’’ kata Abd.Halim, anggota Forum Kajian Multimasalah ‘Biring Tamparang’ Makassar.

Tak hanya di Kota Makassar, pelanggaran undang-undang menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir terjadi di hampir semua wilayah Indonesia. Ada yang menengarai, pelanggaran undang-undang jalan dan lalu lintas ini dapat terjadi secara nasional, lantaran terdapat ‘uang besar’ yang  beredar di sekitar lahan-lahan perparkiran tersebut.

PD Parkir Makassar Raya, dalam tahun 2012 menargetkan pendapatan sebanyak sekitar Rp 9 miliar, setelah tahun 2011 berhasil mencapai target yang ditetapkan Rp 7 miliar lebih. Saat ini ditetapkan tarif sekali parkir untuk R2 Rp 1.000 dan R4 Rp 2.000 Tapi, pihak Lembaga Sertifikasi Profesi Manajemen Keuangan menyebut, target pendapatan Rp 9 miliar dari lahan perparkiran Kota Makassar tersebut terlalu kecil.

Dalam hitungan mereka, dari potensi kendaraan R2 dan R4 di Kota Makassar saat ini, jika 40 persen saja melakukan sekali parkir sehari dalam 700-an titik parkir yang ada, maka seharusnya bisa diperoleh pendapatan sampai Rp 155 miliar setahun. Bocor? ‘’Dari hitung-hitungan kami, seharusnya pendapatan parkir di Kota Makassar bisa lebih besar dari apa yang ditargetkan selama ini,’’ kata Bastian Lubis, pimpinan Lembaga Sertifikasi Profesi dan Manajemen Keuangan tersebut. Nah….(Mahaji Noesa)

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Usai menonton satu session lomba perahu naga dalam acara Celebes Dragon Boat Festival 2012, pekan pertama Nopember 2012, seorang anak menyempatkan diri mengamati miniatur sebuah perahu phinisi yang masih dibungkus plastik, salah satu dari sejumlah asesori yang sedang dibuat di Pantai Losari, Makassar.

Dalam dialog kemudian dengan ayahnya, siswa madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) itu mempertanyakan miniatur perahu phinisi di anjungan Pantai Losari tersebut. ‘’Kenapa monumen perahu phinisi yang dibuat itu cuma dua tiang, padahal ada phinisi sampai punya tiga tiang,’’ katanya.

Berulangkali si ayah menjelaskan, bahwa yang namanya perahu phinisi, perahu khas nenek moyang orang Sulawesi Selatan, sejak dulu hanya memiliki dua tiang utama. Memiliki 7 layar, dua layar di tiang utama, dua layar ukuran kecil di atas layar tiang utama, dan tiga layar berderet di anjungan depan perahu.

Namun anak tersebut tetap ngotot, dan bahkan balik menjelaskan yang namanya perahu phinisi ada yang memiliki tiga tiang dengan sembilan layar. ‘’Saya pun terperangah ketika dia membuka sebuah blog di laptop, memunculkan sebuah foto perahu phinisi dengan tiga tiang utama,’’ kata Akhmad (49), ayah si anak.

Namun, pendapat berkembang banyak anak Indonesia tuna sejarah budaya, seni dan tradisi negerinya, tentu saja, tidak dapat serta merta ditimpakan kepada siswa tersebut. ‘’Dia menunjukkan bukti kepada saya, foto sebuah perahu phinisi bertiang tiga yang selama ini saya sendiri tidak pernah melihatnya,’’ ucap Akhmad.

Dalam penelusuran di google Rabu, (7/11), ditemukan blog noverdianto.multiply.com yang memuat sebuah foto berjudul ‘Phinisi di Manado’ diposting 16 Juni 2008, disertai keterangan, seperti berikut:

‘’Aku beruntung banget bisa moto kapal phinisi ini, bagus banget,apalagi awan saat itu mendukung banget. Setelah aku edit dikit ternyata hasilnya lumayan juga. Pas aku kasih foto ini ke orang2 manado masak gak ada yang percaya, katanya, mana ada kapal kayak gitu di manado,untung ada saksi yang orang sana,biar gak dikata boongan,hehe.

Kapal ini berbendera Indonesia, tapi anehnya, yang naek orang bule semua. Pas aku ngambil fotonya, eh mereka malah melambaikan tangan, ramah banget, sayank aku gak sempet naek ke atasnya,hehe’’

IMG00667-20121212-1627

Lukisan perahu Phinisi karya Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Gambar phinisi tiga tiang itu, ternyata juga telah tersebar menghiasi sejumlah blog lainnya. Namun tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut produk dari mana phinisi tiga tiang tersebut, dan dimana keberadaannya sekarang. Dari para pihak Sulawesi Selatan, tempat muasal perahu phinisi pun sampai sekarang tidak pernah terdengar ada komplain terhadap foto perahu tiga tiang yang disebut sebagai perahu phinisi.

Anak-anak sekarang bertanya-tanya tentang Phinisi, lantaran salah satu dari generasi terakhir perahu kebanggaan moyang Sulsel ini sudah jarang diproduksi, menjadi barang langka. Tidak lagi seperti cerita masa lalunya sebagai alat transportasi laut yang handal.

Pakar Perkapalan dan Trasnportasi Laut Unhas, Prof.Dr.M.Yamin Jinca mengakui, yang menjadi kebanggaan dari phinisi tradisional Sulsel sekarang sisa bentuk dan historisnya saja. ‘’Untuk dijadikan sebagai alat angkut dan transportasi laut tidak lagi efektif dan efisien,’’ katanya.

Alasannya, bentuk karakter barang sekarang sudah berubah, orang ingin jaminan keselamatan dan kecepatan dalam menggunakan alat angkut, hal seperti itu tidak dimiliki phinisi. Jika perahu tradisional ini dikembangkan untuk tujuan wisata, itupun dinilai terbatas karena pemakai pasti akan memperhitungkan faktor keselamatan diri atau barangnya. Perusahaan-perusahaan asuransi sampai sekarang tidak mau memberikan jaminan terhadap orang dan barang yang diangkut menggunakan phinisi.

‘’Maka, sebenarnya tidak ada masalah jika sekarang ada yang memodifikasi phinisi gunakan tiga tiang utama. Yang penting, diterima masyarakat karena merasa aman dan nyaman menggunakannya. Dalam hal perkapalan dan transportasi lalut kita harus dapat menerima perubahan sesuai tuntutan zaman, harus mampu mengadopsi perkembangan,’’ jelas Yamin Jinca.

Tak terdapat generasi baru perahu Sulsel, phinisi tradisional kebanggaan pelaut Bugis – Makassar pelan tapi pasti kini sedang berlayar menuju alam khayal. Paling tidak kedahsyatan kepemilikan armada perahu masa lalu di Sulawesi Selatan, generasi mendatang nantinya hanya akan menyimak melalui catatan-catatan lama. Seperti,antara lain, dikabarkan dalam Lontara Bilang Gowa. Bahwa pada masa Kerajaan Gowa ketika Sultan Hasanuddin  pada 30 April 1655 melakukan perjalanan laut ke Mandar terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Sedangkan ketika ke Maros, 29 Desember 1659 dikawal 239 perahu, dan ke Sawitto (Pinrang) 8 Nopember 1661 dikawal 185 perahu. Terdapat 450 perahu mengangkut sekitar 15.000 lasykar Kerajaan Gowa ke Pulau Buton, Oktober 1666.

Dalam kondisi perahu-perahu tradisional akan tergusur tuntutan serta perkembangan alat transportasi laut, terngiang usulan sejumlah seniman Sulsel sejak beberapa tahun lalu, agar pemerintah Sulawesi Selatan mendirikan sebuah museum perahu yang mengabadikan berbagai bentuk dan jenis perahu yang pernah dimiliki masyarakat Sulsel.

Dari catatan lama diketahui, sebelum mengenal phinisi, Kerajaan Gowa tercatat pernah memiliki perahu jenis Galle yang dapat mengangkut pengayuh (pendayung) sampai 400-an orang. Perahu jenis ini ada yang panjangnya lebih dari 30 meter dengan lebar lambung sampai 6 meter. Salah satu perahu yang diberi nama I Galle Dondona Ralle Cappaga, misalnya, dicatat memiliki panjang 25 depa atau sekitar 35 meter.

Selain itu, masyarakat maritim Bugis – Makassar dahulu memiliki banyak jenis perahu yang dibuat berukuran lebih kecil, berfungsi sebagai alat angkut, pencari ikan, maupun keperluan pertahanan. Seperti perahu jenis Banawa khusus untuk mengangkut binatang ternak, perahu Pajala untuk  armada nelayan, jenis Palimbang untuk antarpulau. Dikenal pula jenis perahu Bilolang dan Biroang untuk pengangkutan jarak dekat. Sedangkan untuk keperluan pertahanan laut di masa kerajaan dikenal jenis perahu Binta dan Palari.

Beberapa waktu lalu masyarakat abad millenium pernah menatap langsung kehebatan phinisi mengarungi lautan besar dunia. Yakni, ketika phinisi Nusantara berhasil melakukan pelayaran dari pantai Makassar ke Vancouver, Canada tahun 1986. Menyusul pelayaran phinisi Padewakang ‘Hati Marege’ dari Makassar ke Benua Australia. Dan, pelayaran phinisi ‘Amanna Gappa’ dari Makassar ke pantai Madagaskar, Afrika, tahun 1991. Sayangnya, momentum tersebut setelah berlalu justeru makin menyepikan phinisi atau perahu sejenisnya di pantai-pantai Sulawesi Selatan.

Justeru, menurut Aji Nugraha, dari Forum Kajian ‘Biring Tamparang’, ide untuk membangun Museum Perahu Sulsel lebih smart dan brilian dibandingkan usulan membuat Museum Hewan di Kota Makassar. ‘’Museum perahu perlu, agar anak-anak sekarang tidak menjadi generasi tuna sejarah dan budayanya,’’ katanya. (Mahaji Noesa)

Manusia berwajah binatang

ilustrasi:google

Notes 1 – Binatang adalah mahluk tak berakal. Kalimat ini tentu saja menyalahi logika bahasa. Lantaran yang namanya binatang sejak dulu dari sononya memang tidak punya akal. Akal, itulah pembeda paling nyata antara manusia dengan binatang. Binatang lebih banyak hidup dengan mengandalkan insting. Justru orang-orang yang tak menggunakan akal sehatnya, sejak dulu sering diumpat dengan kata ‘Manusia Binatang.’
Manusia yang dengan sadar sengaja mengambil atau memakan hak orang lain, misalnya, dalam bahasa kehidupan sering disebut sebagai pencopet, pencuri, jambret, perampok, rompak, ataupun koruptor. Mereka punya akal tapi tidak berfungsi sebagai akal normal manusia, sehingga juga otomatis menjadi semacam binatang yang hidup tanpa memahami apalagi mematuhi norma-norma, etika, aturan, adat, tradisi, dan budaya.
Lapangan rumput yang terhampar hijau tidak akan pernah dipertanyakan yang namanya binatang, apakah rumput yang tumbuh di halaman istana negara, kantor eksekutif, legislatif atau yudikatif, markas besar tentara atau polisi, halaman kampus, rumah ibadah, rumah jabatan atau rumah-rumah pribadi pejabat, atau di lapangan-lapangan desa bukan tumbuh liar tapi merupakan rumput peliharaan. Serta-merta rumput itu pasti akan diembat habis oleh kawanan sapi, kerbau atau kambing yang dilepas di tempat tersebut.
Sambil memakan rumput milik siapa saja, kawanan binatang seperti itu pun biasanya melengkapi pesta poranya dengan tabiat kebinatangannya saling adu kuat atau saling embat antara jantan dan betina. Tanpa mengenal aturan atau larangan untuk tidak melakukan persebadanan di alam terbuka, maupun larangan antara yang berstatus sebagai ayah dengan, ibu dengan anak, saudara adik dan kakak atau dengan kelompok lain.
Rasanya, sudah bisa dipahami siapa saja manusia di sekeliling kita yang dapat dikategorikan berperangai binatang seperti itu.

Notes 2 – Sekejam-kejamnya harimau tidak akan mencakar muka atau memakan anaknya-anaknya sendiri. Kenyataan dalam dunia kebinatangan yang tak memiliki akal seperti itu, mengingatkan kita betapa lebih kejamnya para aparat koruptor di negeri ini dibandingkan dengan binatang sesungguhnya.
Betapa tidak, mereka yang dipilih sebagai wakil rakyat atau diangkat menjadi aparat semua digaji dan difasilitasi negara yang menggunakan uang hak rakyat. Jika kemudian melakukan perbuatan korup, sama artinya mereka juga tega untuk menghancurkan atau memakan induknya sendiri demi kenikmatan, kesenangan atau keuntungan bagi pribadi-pribadi atau kelompoknya.
Dipastikan suatu negeri hanya menunggu waktu kehancuran jika manusia berperangai binatang dibiarkan bebas berkeliaran mengurus rakyat, pemerintahan atau urusan kenegaraan.
Membiarkan kehadiran manusia-manusia berperangai binatang secara sendiri-sendiri atau kelompok, sama artinya memberi ruang agar situasi dan kondisi selalu kacau-balau. Membiarkan yang kuat untuk memangsa yang lemah. Apalagi telah terbaca dari perangai-perangai Manusia Binatang, tak hanya lihai mengembat uang tunai atau barang berharga bukan miliknya, namun juga punya kemampuan memangsa sekalipun terhadap binatang buas yang sesungguhnya.
Notes 3 – ‘’Buttikaleleee…buttikalelee….buttikalelee…’’ Saya teringat dengan kata-kata yang sampai sekarang tidak saya ketahui artinya tersebut. Ramai terdengar dinyanyikan kelompok anak-anak saat malam-malam gelap kurun 25 tahun lalu di sepanjang kaki Bukit Nipanipa, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Ketika kata-kata itu didendangkan berulang, anak-anak terlihat saling berhadapan untuk saling menghitung jumlah kunang-kunang yang terbang dari sepanjang kaki bukit yang kelam menuju ke atas kepala masing-masing anak yang bernyanyi: ‘’……buttikalele….buttikalele….’’
Sampai sekarang saya tidak tahu apakah kata buttikalele yang dilantunkan berulang itu merupakan salah satu dari bahasa binatang. Pastinya, menghadapi keganasan manusia berperangai binatang sudah banyak bukti tak bisa diredam apalagi dimusnahkan hanya dengan senjata kata-kata. Mereka adalah ujud binatang yang paling pandai bersilat lidah.
Notes 4 – Tatkala penggalian parit sekeliling ladang dan pagar batu tak mampu lagi membendung keganasan hama babi hutan. Para peladang yang hampir putus asa di wilayah Andonohu, arah selatan Kota Kendari, kemudian mendapat ide membentang jaring ikan di antara pepohonan yang ada di hutan-hutan sekitar ladang tempat berkembang-biaknya hama babi tersebut.
Satu per satu babi hutan dapat terjebak dalam jaring yang tadinya hanya dimanfaatkan menjaring ikan di laut dan sungai-sungai. Dan, ketika para peladang bersatu menyisir lokasi, membawa pentungan, tombak, dan senjata tajam lainnya. Lalu mereka ramai-ramai mengetuk kentongan, babi-babi hutan yang biasa hanya beroperasi malam hari justru berhamburan keluar sarang siang hari. Jika tak terperangkap jaring yang ditebar, akan tertangkap oleh peladang secara manual. Cerita tentang hama babi hutan perusak ladang di Andonohu lalu berakhir, sirna.
Pasang jaring lalu kerahkan kekuatan rakyat ! Metode basmi hama babi hutan di Andonohu tersebut, mungkin dapat dikembangkan untuk mematikan sepak terjang manusia-manusia berperangai binatang sebelum seluruh ruang kehidupan dan pemerintahan negeri ini berada dalam kendali mereka.