Posts Tagged ‘non’

Gambar

Balapan motor/Foto:google-balapmotor.blogspot.com

Penggunaan helm yang spesifikasinya menutup kepala sampai telinga, memakai tali pengikat penutup dagu, serta mempunyai semacam kaca pelapis pandangan, yang populer disebut sebagai helm standar, sejak awal malam pergantian tahun 2005 ke 2006 sudah ramai dipakai oleh para pengemudi sepeda motor yang melintas di jalan-jalan raya khususnya dalam wilayah kota Makassar.

Gambar

Helm standar produk riddell/Foto google – nfifan24.blogspot.com

Anjuran untuk menggunakan helm standar seperti itu ketika mengendarai sepeda motor, mulai awal 2006, tampaknya disambut hangat sebagian besar warga kota Makassar khususnya dengan kesadaran penuh betapa pentingnya menggunakan pengaman kepala yang standar saat mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Buktinya, sekalipun ada sejumlah aksi demo menantang anjuran tersebut, namun warga pengendara sepeda motor di kota Makassar sejak awal tahun 2006 telah beramai-ramai secara suka rela mengganti helm yang mereka pakai selama ini – umumnya hanya menutupi bagian atas kepala, tidak berpengikat serta tidak melindungi bagian telinga. Sekalipun untuk sementara, penggunaan helm dengan spesifikasi standar seperti itu masih didominasi oleh pengemudi sepeda motor, sedangkan untuk mereka yang dibonceng umumnya masih menggunakan helm biasa – nonstandar.

Penggunaan helm standar bagi pengendara sepeda motor, sebenarnya mengacu dari sejumlah aturan yang telah dikeluarkan sejak beberapa tahun lalu mengenai aturan berlalu-lintas maupun tentang kelengkapan bagi pengendara kendaraan bermotor, termasuk pengendara sepeda motor di jalan raya. Apalagi, berdasarkan survai dari setiap 10 pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan di jalan raya, 5 di antara pengendara tersebut mengalami pecah kepala.

Ketika pertama kali dianjurkan penggunaan helm bagi pengemudi maupun semua pengendara (termasuk yang dibonceng) sepeda motor tahun 1998 – 1999 di kota Makassar, disambut gelombang protes yang dahsyat sehingga menimbulkan sejumlah korban jiwa. Namun kemudian, protes itu mereda dengan sendirinya seiring dengan mulai meningginya perhatian betapa pentingnya menggunakan pengaman kepala – sekalipun kala itu masih ditolerir dengan hanya menggunakan helm nonstandar di saat mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Gambar

Helm Revolution, helm standar produk Riddell/Foto: google– ebbosfootballshop.de

Tingginya kesadaran warga pengemudi sepeda motor khususnya di kota Makassar saat ini untuk mengganti hel nonstandar ke helm spesifikasi standar, sangat diharapkan dapat diringi dengan pembinaan persuasif oleh pihak-pihak yang berkompeten mengenai apa dan bagaimana yang dimaksud dengan helm standar.

Banyak pihak berharap agar kesadaran warga kota saat ini yang mau menggunakan helm dengan spesifikasi standar – menutup kepala hingga bagian telinga, serta memakai tali pengikat dagu saat mengendarai sepeda motor dijalan raya, tidak lagi dicecoki denganhal-hal yangtidak mendasar yang dapat merusak kesadaran dan suasana yang sudah kondusif terhadap anjuran penggunaan helm standar. Misalnya, tidak perlu dialkukan sweeping, tindakan-tindakan, atau sanksi drastis terhadap para pengendara sepeda motor khususnya yang dibonceng untuk juga segera menggunakan helm standar.

Demikian pula tidak perlu dilakukan sanksi atau penindakan drastis terhadap penggunaan helm spesifikasi standar yang masih bervariasi, seperti misal yang menggunakan kaca pelapis atau tidak menggunakan kaca pelapis pandangan. Soalnya sejumlah produk helm spesifikasi standar yang beredar di pasaran selama ini masih bervariasi dalam berbagai bentuk warna kaca pelapis, serta ada yang menggunakan dan tidak menggunakan kaca pelapis pandangan tapi dispesifikasi sebagai helm standar. Apalagi, memang, ketika anjuran penggunaan helm standar mulai diberlakukan, tidak diiringi petunjuk helm dari produk mana saja yang diakui sebagai helm standar yang dapat menjamin keselamatan pengamanan kepala para pengendara sepeda motor saat terjadi kecelakaan lalu-lintas, maupun tidak berefek terhadap kesehatan diri para penggunanya.

Sejumlah warga kota mengatakan, kesadaran untuk menggunakan helm standar yang mulai tumbuh dengan baik saat mengendara sepeda motor di jalan raya saat ini, cepat atau lambat akan diikuti kesadaran warga untuk mengetahui serta mendalami bagaimana sesungguhnya helm standar dengan semua manfaatnya. Termasuk, tentunya,  mengenai helm standar setype helm revolution produk Riddle dan National Institute of Health yang telah digunakan sejak tahun 2002 di Amerika – menggunakan semacam rangka kawat atau besi pengaman di bagian muka. Helm tersebut telah diuji keampuhannya mampu melindungi penggunanya tidak gegar otak jika terjadi benturan di bagian kepala. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.332 Thn VIII/Minggu II, Januari 2006, Hal. 4 Box: Kronik Makassar)    

Gambar

A Hamzah Tuppu/Repro mahaji Noesa

Melalui cuplikan catatan sejarah kebaharian dan sejarah TNI-AL, dapat dipahami betapa besarnya tekad yang menggelora di dada A.Hamzah Tuppu untuk melestarikan jiwa dan semangat bahari seperti yang dimiliki para leluhurnya sebagai orang pelaut.

A.Hamzah Tuppu lahir di Borongcalla, Desa Botosunggu, 20 Agustus 1920 (Berdasarkan riwayat hidup yang dibuat sendiri ketika masih hidup, tertanggal 23 Mei 1964, diketahui Adam Malik dan Bambang Soepeno). Tempat kelahiran A. Hamzah Tuppu itu kini secara administratif masuk Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Galesong pada masa kerajaan Gowa terkenal sebagai lumbung pangan, tempat kelahiran para kesatria kerajaan Gowa, patriot bahari yang tangguh. Pihak kompeni Belanda sendiri baru mampu menerobos kota Somba Opu, pusat kerajaan Gowa pada abad XVII, setelah sebelumnya jatuh bangun melawan prajurit serta menghancurkan benteng pertahanan di wilayah Galesong tersebut.

Pihak kompeni Belanda mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Gowa di Galesong pada 30 Juli 1667. Nanti pada 19 Agustus 1667 setelah dilakukan penyerangan dari darat dan laut, benteng pertahanan Galesong dapat dikuasai kompeni Belanda, lumbung makanan kerajaan Gowa di tempat ini dibumihanguskan.

A.Hamzah Tuppu merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu), termasuk dalam rumpun keluarga Karaeng Galesong.

Menurut Aba Jadjid Bostan Daeng Mama’dja, pemangku hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga keturunan ketujuh dari Syekh Joesuf Tajul Khalwatia Kaddassallahu Sirruhu, sebagai keluarga sejak kecil Amir Hamzah Dg Tuppu (nama lengkap A.Hamzah Tuppu) dibina oleh Karaeng Galesong XVI H.Larigau Dg Manginruru.

Dalam usia sekitar 7 tahun, A. Hamzah Tuppu yangnama kecilnya adalah Cakkua (menurut Bostan Dg Mama’ja, diambil dari nama keris kepunyaan Syekh Yusuf), disekolahkan pada sekolah rakyat (volokschool) di Soreyang. Setahun kemudian dipindahkan ke Sekolah Rakyat Galesong, tinggal bersama Karaeng Galesong di Takalar.

Setamat dari Sekolah Rakyat, ia dipindahkan ke Makassar melanjutkan pendidikan di Inlandsch School. Di Makassar, tinggal bersama sejumlah kawan-kawan di rumah seorang Karaeng Galesong, Ipammusuran Dg Paduni, di Kampong Pisang/Lajangiru. Dari sekolah tersebut ia kemudian masuk seklah Marine (Kelautan), tamat tahun 1936. Setelah itu, hasratnya untuk mengikuti kegiatan militer tidak mendapat dukungan dari Karaeng galesong. A Hamzah Tuppu melanjutkan pendidikan ke sekolah pertanahan Top Gerapt Dienst.

Setamat dari sekolah rakyat ini, ia kemudian bekerja pada kantor Landrente di Makassar. Pada tahun 1938 diangkat menjadi Mantri Landrente, bertugas melakukan pengukuran tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan.

Pergaulan A.Hamzah tuppu semakin meluas. Termasuk menjalin persahabatan dengan seorang warga Jepang bernama Hirata yang berprofesi sebagai juru potret di Makassar. Melalui Avon kursus dia belajar Bahasa Belanda dan mulai melibatkan diri dengan organisasi-organisasi politik yang berupaya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Pada tahun 1941, A. Hamzah Tuppu bersama aktivis pergerakan politik lainnya di Makassar, seperti wahab Tarru, Andi Kanna dan Martua Bangsawang Dg Liwang (Karaeng Takalar) ditangkap oleh Belanda dan ditawan di penjara Sengkang, sekarang ibukota Kabupaten Wajo. Dari tempat ini kemudian dipindahkan ke tempat tawanan Belanda di Pulau Jawa.

Saat Jepang memulai pendudukan di Indonesia pada tahun 1942, A Hamzah Tuppu dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau jawa. Selanjutnya, sekalipun kemudian bekerjasama Jepang di Pulau Jawa tapi dia tetap melanjutkan pergerakan politik untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajahan. Dia melakukan gerakan-gerakan persiapan kemerdekaan RI bersama rekan-rekannya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, serta menggalang tokoh-tokoh pemuda asal Sulawesi Selatan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibuat sendiri A Hamzah Tuppu semasa hidupnya, pada tahun 1942 setelah dibebaskan dari Kamp Garut ia aktif dalam Djawa Hokokay dan Peta jurusan Angkatan Laut. Antara tahun 1945 – 1947 sebagai Kolonel pelaut, aktif dalam pembentukan ALRI pertama di Surabaya. Memimpin KRU X Brigade D-81 pada tahun 1947.

Ketika dilakukan rasionalisasi kepangkatan pada tahun 1948 – 1951, A Hamzah Tuppu dirurunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, dan dia menyatakan mengundurkan diri dengan alasan cita-cita perjuangan kemerdekaan RI telah tercapai.

Tersebut sejumlah nama tokoh yang pernah menjadi kawan setia A Hamzah tuppu semasa hidupnya, seperti Kahar Muzakkar, Andi Selle Mattola, A.A.Rivai, Achmad Lamo, Warrow, Worang, Mursalim Dg Mamangung, Sudomo, Ali Sadikin, Andi Mattalatta, Andi Oddang, Ince Kasim, Suaib pasang, Tisi Efendi Dg Nodjeng, dan Hasan Ralla.

Pada tahun 1950 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Maega di Surabaya. Sepanjang tahun 1952 – 1959 aktif mengorganisir bekas pejuang bersenjata dalam organisasi veteran yang bernama Legiun Veteran RI. Antara tahun 1959 – 1960 dipilih sebagai panasihat Organisasi Veteran Pusat dan daerah.

Lantaran kharismanya sebagai tokoh pejuang asal Sulsel, ia pernah dicalonkan menjadi anggota MPRS Pusat dan diajukan sebagai salah satu calon Gubernur Sulselra pada tahun 1961.

Antara tahun 1961 – 1963 aktif sebagai pengurus Perhimpunan Keluarga Sulawesi di Jakarta, dan menjadi Presiden Direktur NV Usaha AMPRI (Angkatan Muda Pejuang Republik Indonesia). Melalui badan usaha AMPRI, A Hamzah Tuppu membangun perumahan untuk angkatan laut di Makassar.

Dalam kutipan Riwayat Hidup A Hamzah Tuppu yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI-AL Dinas Personil, tertanggal 10 Nopember 1988, disebutkan bahwa A Hamzah Tuppu kelahiran 26 Desember 1920, bergabung dalam kesatuan/kelasykaran BKR/TKR Laut ALRI Pangkalan IV di Tegal antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 31 Desember 1949.

Berdasarkan Surat keputusan Kasal Nomor: Skep/3400/XII/1979 tangga 12 Desember 1979 diberhentikan dengan hormat dangan Hak Onderstand terus menerus. Ditetapkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui SK Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No.96/Kpts/MUV/1964 tanggal 15 September 1964.

Berdasakan SK Kasal No.Skep/245/I/1980 tanggal 19 Januari 1980 diberikan Hak Onderstand terus menerus kepada Letkol ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp. Sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1573/VI/1982 tanggal 18 Mei 1982 diberikan pemberhentian/kenaikan pangkat luar biasa dari pangkat Letkol menjadi Kolonel atas nama Kolonel ALRI A Hamzah tuppu Non Nrp.

Putra asa Sulsel, patriot bahari titisan Karaeng Galesong, A Hamzah Tuppu menghembuskan nafas terkahir pada tangga 30 Juni 1986 di jakarta. Jenazahnya dimakamkan dalam suatu upacara militer di TMP Kalibata, Jakarta. Isteri almarhum, Ny.Erna sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1407/V/1987 diberikan Hak Pensiun Warakawuri dari alm.Kolonel ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp.

Atas perkawinan A Hamzah Tuppu dengan Ny. Erna Doomik (Ny. Erna Hamzah Tuppu), dikaruniai empat orang anak, masing-masing Haerumy Hamzah tuppu Dg Mudji (sekarang menjabat Ketua Umum ARDIN Kota Makassar), Haerana Naki padjonga Dg Rannu, Ananda Agnes Tuppu Dg Asseng, dan Moh. Tony Nurul Dg Antang.

Ny Erna Hamzah Tuppu (kelahiran Yogyakarta, 11 September 1919) yang dinikahi A Hamzah Tuppu pada tahun 1945 di Jogya, selaiun berdarah ningrat dari paku Alam, juga dalam masa perjuangan kemerdekaan RI aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia di Brigade X 81-D. Untuk itu pemerintah RI juga menganugerahkan kepadanya berupa tanda jasa Bintang Gerilya, Satya Lencana GOM I, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, dan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI golongan A.

Pernikahan antara A hamzah Tuppu dengan Ny Erna, antara lain, disaksika oleh Nototarono, adik ipar dari Paku Alam V. Menurut Ny Erna, suaminya A.Hamzah Tuppu adalah sosok manusia yang tegas memegang prinsip untuk kepentingan nasional.

Dari keempat orang anak yang dilahirkan dari pasngan keluarga A Hamzah Tuppu dan Ny Erna, telah melahirkan 13 cucu, dua di antaranya meninggal dunia.

Semasa hidupnya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang jasa kepada A hamzah Tuppu berupa tanda jasa Bintang gerilya (Dari Presiden Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Garakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 29 januari 1958), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 5 Oktober 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II (dari Menteri pertahanan Djuanda, 5 Oktober 1959), dan Piagam Veteran Golongan A (1964). Dan, Bupati Takalar Drs.H.Zainal Abidin, Msi atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Takalar pada Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-40, 10 Pebruari 2000, secara khusus memberikan Piagam Penghargaan kepada Alm. A Hamzah Tuppu sebagai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Takalar yang dinilai berjasa. Nama alm A Hamzah Tuppu sejak lama diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur. (Mahaji Noesa, Buku: A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)