Posts Tagged ‘pahlawan’

Gambar

Syekh Yusuf, lukisan Bachtiar Hafid, Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Surat Keputusan Presiden RI mengenai pengukuhan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, diumumkan pertamakali oleh Menteri Sosial, Inten Suweno, 9 Oktober 1995 di Jakarta. Dalam pengumuman ini disebut dengan nama Syekh Yusuf Tajul Khalwati.
Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan nama Syekh Yusuf telah lama popular, dikenal sebagai tokoh agama, penyebar ajaran tarekat khalwatiyah. Di daerah leluhurnya, Kabupaten Gowa, Syekh Yusuf lebih dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka (pembawa berkah/keselamatan).

Ketika masyarakat muslim memperingati 300 tahun pendaratan Syekh Yusuf di Afrika Selatan, 2 April 1994. Pihak Universitas Hasanuddin di Makassar pun menggelar seminar tentang tokoh Syekh Yusuf. Dari forum ini disimpulkan Syekh Yusuf pantas jika mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional. Dua pembicara utama dari Jakarta yang diundang waktu itu, Dr.H.Ruslan Abdulgani dan Taufik Ismail, juga sepakat untuk pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf.

Penyair yang tersohor melalui sajaknya berjudul ‘Tirani’ tahun 1966, memberikan kesaksian bahwa pada tahun 1993 ketika bersama sejarahwan dari Aceh dan Malaysia berkunjung ke Afrikan Selatan. Di Benua kulit hitam tersebut ia menghimpun informasi, terdapat sekitar 400.000 jiwa kaum muslim yang mengaku keturunan Melayu.

Keturunan yang dimaksud adalah keturunan para pejuang dari Indonesia yang diasingkan ke Afrika Selatan oleh pihak kolonial Belanda. Dari mereka dicatat, terdapat keturunan Syekh Yusuf dari Makassar, Imam Abdullah dari Tidore, Sultan Ahmad dari Ternate, Said Abdurahman dari Madura, dan Raja Tambora dari Nusa Tenggara.

‘’Di antaranya Syekh Yusuf yang paling terpandang, sebagai tokoh ulama di Afrika Selatan,’’ jelas Taufik Ismail.

Lain lagi dengan cerita Dr.H.Ruslan Abdulgani (alm-pen). Dalam suatu kunjungan kerja sebagai Duta Besar Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke Lusaka, ibukota Zambia tahun 1968, ia sempat didatangi 5 orang tokoh muslim Afrika Selatan yang mengaku sebagai keturunan Syekh Yusuf.

Setelah pertemua itu, ceriteranya, beribu tanda Tanya bergolak dibenaknya tentang tokoh Syekh Yusuf. Ia pun lalu mencari buku-buku dan dokumentasi tentang riwayat Syekh Yusuf dari Indonesia yang begitu terkenal di Afrika Selatan.

‘’Ternyata, Syekh Yusuf selain sebagai ulama, beliau juga adalah pejuang yang militan menentang kehadiran penjajah Belanda di Indonesia pada abad ke-17,’’ kata Ruslan Abdulgani. Dia mengakui, antara lain memperoleh informasi mengenai kehebatan Syekh Yusuf sebagai ulama maupun pejuang melalui buku berjudul ‘The Preaching of Islam’ yang ditulis oleh Prof.T.W.Arnold tahun 1931.

Dalam buku berjudul ‘Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang’ yang ditulis oleh Prof.Dr.Abu Hamid, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1994, dalam uraian tentang naskah-naskah menyangkut Syekh Yusuf yang pernah diterbitkan sejak tahun 1885 hingga tahun 1987 sebanyak 30 buah buku. Tidak termasuk buku The Preaching of Islam.
Dari berbagai penerbitan pustaka tentang Syekh Yusuf, dimulai dari tulisan B.F.Matthes tahun 1885 berjudul ‘Eenige Makassarche en Boegineshe Legenden’, semua telah melukiskan adanya perlawanan gigih yang dilakukan oleh Syekh Yusuf terhadap pemerintahan colonial Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Tapi ide untuk mengokohkan Syekh Yusuf sebagai seorang Pahlawan, baru muncul pada tahun 1956, melalui tulisan Gaffar Ismail di harian ‘Sulawesi bergolak’ dengan judul ‘Syech Jusuf Pahlawan Asia jang Berkaliber Internasional.’

Kemudian ide untuk mengukuhkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tertuang dengan jelas dalam tulisan H.D.Mangemba (alm-pen) yang dimuat dalam Majalah Lontara No.6 Tahun 1981 terbitan Universitas Hasanuddin, di bawah judul ‘’5 Tokoh Sulawesi Selatan Bertarung di Pulau Jawa Abad XVII.’’

Ide tersebut kembali bergaung melalui hasil wawancara yang dimuat pada suratkabar Mingguan Gema, Ujungpandang, menyambut Hari Pahlawan, 10 Nopember 1988. Menyusul kemudian dilakukan seminar di Ujungpandang, dan di Jakarta tahun 1994 mengenai Syekh Yusuf yang dianggap layak mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional tahun 1995 dari pemerintah RI kepada Syekh Yusuf, merupakan perwujudan dari berbagai pendapat, usul, dan keinginan masyarakat. (Mahaji Noesa/Majalah Semangat Baru, Makassar, edisi Oktober/Nopember 1995).

Iklan
Gambar

Patung wajah Syekh Yusuf di pelataran Pantai Losari Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Kelahiran 3 Juli 1626, dari rahim ibu yang bernama Sitti Aminah, putri bangsawan Gallarang Moncongloe. Ayahnya bernama Abdullah Khaidir. Dalam Lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa, ayah Syekh Yusuf, dikisahkan, sebagai orang sakti, dapat berjalan melayang di atas tanah. Dan, menghilang tanpa jejak ketika Syekh Yususf masih dalam kandungan ibunya. Raja Gowa ke-14, I Manga’rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin kemudian memperistrikan Sitti Aminah, ibunda Syekh Yusuf.
Justru Syekh Yusuf dilahirkan di istana Raja Tallo. Diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Meskipun Raja Gowa yang bergelar Tumenanga ri Gaukanna sebenarnya merupakan ayah tiri, namun tetap memperlakukan Yusuf (nama kecil Syekh Yusuf) sebagai anak kandungnya. Seperti terlihat dalam perlakuan keseharian Raja yang menggendong sendiri Yusuf ke tempat buaiannya. Dan, Raja marah kepada setiap orang yang tidak menyebut Yusuf sebagai Putra Raja.

Pusar Bersinar
Al-kisah, ketika masih bayi, dari pusar Yusuf pada malam hari sering tampak keluar seberkas sinar tegak lurus ke langit-langit istana. Dari tanda-tanda tersebut, kemudian ditambah dengan minat belajar yang menggebu serta kecerdasan yang diperlihatkan Yusuf sewaktu usia kanak-kanak, menambah rasa sayang Raja dan rasa hormat orang-orang terhadap Yusuf.
Melalui guru Daeng ri Tasammang, Yusuf diajari membaca Al-Quran. Dalam usia 8 tahun, ia sudah tamat mengaji, mempelajari ilmu sharaf, nahwu dan mantik. Pelajaran fiqih dan tauhid pun dilalapnya, melalui Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diasuh oleh Sayed Ba’ Alwy bin Abdullah al-Allama Thahir di Bontoala.
Ketika berusia 15 tahun, memperdalam ilmu agamanya melalui tempat pengajian Syekh Jalaluddin al-Aidit di Cikoang, daerah Takalar. Syekh Jalaluddin adalah seorang ulama asal Aceh, yang datang ke Sulawesi Selatan setelah dari Kutai, untuk mengajarkan dan menyebarkan syariat Islam kepada masyarakat luas.
Dari Cikoang, Yusuf yang sudah meningkat ke usia remaja lantas mempelajari ilmu-ilmu kebatinan di berbagai tempat di wilayah Sulawesi Selatan. Di antaranya, berguru ke puncak Gunung Bawakaraeng yang pada abad ke-17 merupakan pusat tempat belajar ilmu kebatinan.
Pada saat Kerajaan Gowa telah diperintah oleh Raja I Mannutungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung, digelar Sultan Malikussaid, Yusuf yang masih merasa haus pengetahuan mengenai ajaran Islam, mengarahkan langkah menuju Mekah untuk memperdalam ilmunya. Ia berangkat meninggalkan pelabuhan Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa, dengan menumpang sebuah kapal dagang Melayu, 22 September 1644.
Kurang lebih seminggu perjalanan, Kapal Melayu tersebut merapat di pelabuhan Banten, Jawa Barat. Karena Banten, kala itu, juga merupakan Pusat Pengembangan Islam, maka Yusuf tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di tempat ini dia segera menghubungi tokoh-tokoh agama untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam yang belum didapatkandi tanah kelahirannya. Dia juga mampu secara cepat menjalin persahabatan yang erat dengan kalangan petinggi, termasuk dengan Putra Mahkota yang memerintah saat itu. Pangeran Surya, demikian nama Putra Mahkota yang menjadi karibnya.
Dari Banten, Yusuf kemudian bertolak ke Aceh. Sama seperti di Banten, di Aceh, Yusuf secara tekun menimba ilmu-ilmu agama serta memperdalam ilmu-ilmu yang telah diketahui melalui para ulama terkenal. Setelah berhasil mempelajari tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin Ar-raniri di Aceh, Yusuf lalu menuju Mekah menunaikan ibadah haji.
Di negeri Timur Tengah pusat ajaran Islam, Yusuf berpindah dari kota yang satu dengan kota lainnya dalam rangka memperdalam ilmu agamanya. Di Yaman, memperdalam tarekat Naqsyabandi dan tarekat al-Baalawiyah.
Di Medinah, memahiri tarekat Syattariyah. Di Damaskus, mendalami tarekat Khalwatiyah. Di tempat inilah Yusuf dikukuhkan dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah oleh gurunya, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi, yang juga adalah imam di masjid Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi di Damaskus.
Selain ilmu-ilmu yang telah disebutkan, dalam pengembaraannya, Yusuf juga mempelajari tarekat-tarekat sufi Dsukiyah, Syaziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, dan Makhduniyah.
Yusuf diperkirakan bertolak ke Timur Tengah pada tahun 1649, dan kembali ke Tanah Air pada tahun 1664. Atau, setelah memperdalam ilmu selama 15 tahun di pusat ajaran Islam, negeri Arab.
Ketika di Mekah, Syekh Yusuf menikahi Sitti Hadijah, putri Imam Masjid Haram, Imam Syafi. Memperoleh keturunan seorang anak yang diberi nama Sitti Samang. Isterinya kemudian meninggal dunia.
Dalam perjalanan pulang, sesuai alur pelayaran dari Timur Tengah, kala itu, Syekh Yusuf mampir lagi di Banten. Sahabatnya, Pangeran Surya telah memegang kendali kekuasaan Kesultanan Banten, bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
Kedatangan kembali Syekh Yusuf di Banten disambut hangat sahabat dan masyarakat. Maklum, sebelum kembali ke Banten, kehebatan Syekh Yusuf telah tersebar luas di masyarakat, melalui ceritera-ceritera yang dibawa oleh para jamaah haji asal Banten. Masyarakat Banten, kala itu, menghormati Syekh Yusuf sebagai Ulama Tasauf dan Syekh Tarekat.
Sultan Ageng Tirtayasa lantas menunjuk Syekh Yusuf untuk mendidik keluarga Kesultanan Banten mengenai ilmu-ilmu agama Islam. Sampai akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa sendiri tertarik untuk mendalami ajaran tarekat Khalwatiyah yang diajarkan Syekh Yusuf.
Sebagai orang yang dianggap berjasa, Syekh Yusuf pun akhirnya dikawinkan dengan Syarifah, putri Sultan Ageng Tirtayasa. Pengajian-pengajian yang dibuka untuk masyarakat, begitu juga ceramah-ceramah keagamaan yang diberikan dalam setiap kesempatan membuat nama Syekh Yusuf makin cepat terkenal di Banten dan daerah sekitarnya. Termasuk orang-orang Bugis-Makassar, daerah tempat kelahirannya berdatangan untuk berguru kepada Syekh Yusuf di Banten.

Protes Hukuman Mati
Ketika Sultan Ageng Tirtayasa menyerahkan kekuasaannya, 1 Mei 1608 kepada putranya, Abu Nazar Abdulkahar yang bergelar Sultan Haji, kedamaian Kesultanan Banten mulai terusik oleh pihak kompeni Belanda. Sultan Haji berhasil dibujuk berpihak Belanda. Keadaan di Banten kemudian mulai memburuk, akibat taktik adu domba yang berhasil dilancarkan pihak kompeni terhadap Sultan Haji dan ayahnya, Sultan Ageng.
Pada tahun 1682, terjadilah perang saudara di Banten. Sultan Ageng menyerang Kraton Surosoan, tempat Sultan Haji memerintah dikawal pasukan kompeni. Sultan Haji dalam serangan ini berhasil lolos, kemudian meminta bantuan kekuatan dari kompeni.
Serangan yang dilakukan kompeni dari darat maupun dari laut dalam bulan Mei 1682, berhasil membumihanguskan Banten. Sultan Ageng, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya (panglima Perang, saudara kandung Sultan Haji), dan pembesar-pembesar lainnya, dipaksa untuk mundur meninggalkan Kota Tirtayasa, Banten. Mereka mundur bersama pasukan perang yang setia, tetapi tetap melakukan perlawanan secara bergerilya.
Atas petunjuk Sultan Haji, tempat persebunyian ayahnya, Sultan Ageng dapat diketahui oleh kompeni. Melalui surat damai dibuat oleh Sultan Haji kepada Sultan Ageng atas permintaan kompeni. Sultan Ageng akhirnya keluar dari medan gerilya. Serta-merta kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kompeni, menangkap Sultan Ageng.
Pasukan dibawa pimpinan Syekh Yusuf lepas dari kejaran, terus bergerilya di daerah-daerah pegunungan Jawa Barat, sambil menyerang kubu-kubu pertahanan kompeni. Demikian halnya dengan pasukan dibawa komando Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul.
Berbulan-bulan pasukan Syekh Yusuf, sekitar 5.000 orang, di antaranya sekitar 1.000 orang Bugis-Makassar, melakukan perlawanan secara bergerilya. Namun akhirnya pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf keluar dari persembunyian akibat taktik licik pihak kompeni yang menyandera isteri dan anaknya. Syekh Yusuf pun ditangkap pihak kompeni.
Ketika Syekh Yusuf bersama keluarga dan 12 orang pengawalnya dikirim ke penjara Batavia, pihak kompeni juga memulangkan anggota pasukan yang terdiri atas orang-orang Bugis-Makassar dengan sebuah kapal ke Makassar.
Sebenarnya, pihak kompeni akan menjatuhkan hukuman mati terhadap Syekh Yusuf. Tetapi sebelum rencana hukuman mati tersebut dilaksanakan, muncul protes dan reaksi yang menentang dari masyarakat dunia. Di antaranya datang dari Sultan Aureng Zeb di India, sehingga hukuman mati diganti dengan hukuman pembuangan seumur hidup ke Ceylon.
Sebelum Syekh Yusuf bersama keluarganya diasingkan ke Ceylon, ada utusan dari Raja Gowa Sultan Abdul Djalil menemui pemerintah Belanda di Batavia, memohon agar Syekh Yusuf dikembalikan ke Makassar. Tetapi, permohonan tersebut tidak dikabulkan.
Tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf dan keluarganya dibawa ke Ceylon. Sebagai ulama, dalam waktu singkat Syekh Yusuf dapat menarik pengikut di Ceylon. Di tempat pengasingan tersebut dia mengajarkan ilmu syariat dan tasauf yang sangat diminati, termasuk murid-muridnya berdatangan dari India dan Sri Langka.
Orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan haji dengan kapal laut, kala itu, banyak yang menyempatkan diri singgah belajar ilmu-ilmu keagamaan pada Syekh Yusuf di Ceylon. Dalam kesempatan ini, Syekh Yusuf juga dengan semangat ksatrianya tetap mengobarkan semangat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda di tanah air. Pesan-pesan politik maupun keagamaan dikirimkan kepada para raja di Indonesia.
Pemerintah kolonial Belanda mencium gerakan terselubung yang dilakukan Syekh Yusuf melalui para jemaah haji Indonesia. Pesan-pesannya dinilai oleh kompeni sangat berbahaya dalam hubungan mengobarkan perlawanan terhadap kompeni di Indonesia. Maka, pada 7 Juli 1693 oleh pemerintah kolonial Belanda, memutuskan untuk memindahkan Syekh Yusuf beserta keluarga dan pengikutnya dari Ceylon ke Kaap de Goede Hoop, tanjung paling selatan di Benua Afrika.

Kobbanga
Di tempat pengasingan di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap mampu memperlihatkan kehebatan dan kebesarannya, menarik banyak pengikut. Syekh Yusuf tersohor di Afrika Selatan sebagai pembawa ajaran Islam pertama bagi orang-orang di benua kulit hitam tersebut. Kaum muslim di Afrika Selatan yang kini telah berjumlah ratusan ribu jiwa itu, disebut sebagai orang Slammejer.
Di tempat pembuangan Afrika Selatan inilah Syekh Yusuf pada tanggal 23 Mei 1699, dalam usia 73 tahun menghembuskan nafas terakhir. Atas permohonan yang berkali-kali dilakukan oleh Raja Gowa, maka akhirnya pada tahun 1704 pihak kompeni mengabulkan untuk dapat membawa kembali jenazah Syekh Yusuf ke Makassar. Dengan menumpang kapal de Spigel, 5 April 1705, keranda Syekh Yusuf yang dikawal oleh keluarganya tiba di Makassar.
Kobbanga (Kobbang), itulah sebutan bagi makam Syekh Yusuf yang terletak di Lakiung, Katangka, Kabupaten Gowa. Seperti halnya makam pertama Syekh Yusuf yang tetap dihormati masyarakat di Afrika Selatan, makamnya di Lakiung setiap saat selalu ramai didatangi peziarah.
Semasa hidupnya, Syekh Yusuf menulis puluhan karya yang berkaitan dengan kesufian. Dia pun disebut-sebut banyak orang sebagai Waliullah terbesar dan terakhir dari wali-wali yang pernah ada. Wallahualam. (Mahaji Noesa/dari berbagai sumber).

Bergelar Tuanta Salamaka di Gowa

Surat Keputusan Presiden RI mengenai pengukuhan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, diumumkan pertamakali oleh Menteri Sosial, Inten Suweno, 9 Oktober 1995 di Jakarta. Dalam pengumuman ini disebut dengan nama Syekh Yusuf Tajul Khalwati.
Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan nama Syekh Yusuf telah lama popular, dikenal sebagai tokoh agama, penyebar ajaran tarekat khalwatiyah. Di daerah leluhurnya, Kabupaten Gowa, Syekh Yusuf lebih dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka (pembawa berkah/keselamatan).

Ketika masyarakat muslim memperingati 300 tahun pendaratan Syekh Yusuf di Afrika Selatan, 2 April 1994. Pihak Universitas Hasanuddin di Makassar pun menggelar seminar tentang tokoh Syekh Yusuf. Dari forum ini disimpulkan Syekh Yusuf pantas jika mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional. Dua pembicara utama dari Jakarta yang diundang waktu itu, Dr.H.Ruslan Abdulgani dan Taufik Ismail, juga sepakat untuk pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf.
Penyair yang tersohor melalui sajaknya berjudul ‘Tirani’ tahun 1966, memberikan kesaksian bahwa pada tahun 1993 ketika bersama sejarahwan dari Aceh dan Malaysia berkunjung ke Afrikan Selatan. Di Benua kulit hitam tersebut ia menghimpun informasi, terdapat sekitar 400.000 jiwa kaum muslim yang mengaku keturunan Melayu.
Keturunan yang dimaksud adalah keturunan para pejuang dari Indonesia yang diasingkan ke Afrika Selatan oleh pihak kolonial Belanda. Dari mereka dicatat, terdapat keturunan Syekh Yusuf dari Makassar, Imam Abdullah dari Tidore, Sultan Ahmad dari Ternate, Said Abdurahman dari Madura, dan Raja Tambora dari Nusa Tenggara.
‘’Di antaranya Syekh Yusuf yang paling terpandang, sebagai tokoh ulama di Afrika Selatan,’’ jelas Taufik Ismail.
Lain lagi dengan cerita Dr.H.Ruslan Abdulgani (alm-pen). Dalam suatu kunjungan kerja sebagai Duta Besar Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke Lusaka, ibukota Zambia tahun 1968, ia sempat didatangi 5 orang tokoh muslim Afrika Selatan yang mengaku sebagai keturunan Syekh Yusuf.
Setelah pertemua itu, ceriteranya, beribu tanda Tanya bergolak dibenaknya tentang tokoh Syekh Yusuf. Ia pun lalu mencari buku-buku dan dokumentasi tentang riwayat Syekh Yusuf dari Indonesia yang begitu terkenal di Afrika Selatan.
‘’Ternyata, Syekh Yusuf selain sebagai ulama, beliau juga adalah pejuang yang militan menentang kehadiran penjajah Belanda di Indonesia pada abad ke-17,’’ kata Ruslan Abdulgani.
Dia mengakui, antara lain memperoleh informasi mengenai kehebatan Syekh Yusuf sebagai ulama maupun pejuang melalui buku berjudul ‘The Preaching of Islam’ yang ditulis oleh Prof.T.W.Arnold tahun 1931.
Dalam buku berjudul ‘Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang’ yang ditulis oleh Prof.Dr.Abu Hamid, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1994, dalam uraian tentang naskah-naskah menyangkut Syekh Yusuf yang pernah diterbitkan sejak tahun 1885 hingga tahun 1987 sebanyak 30 buah buku. Tidak termasuk buku The Preaching of Islam.
Dari berbagai penerbitan pustaka tentang Syekh Yusuf, dimulai dari tulisan B.F.Matthes tahun 1885 berjudul ‘Eenige Makassarche en Boegineshe Legenden’, semua telah melukiskan adanya perlawanan gigih yang dilakukan oleh Syekh Yusuf terhadap pemerintahan colonial Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Tapi ide untuk mengokohkan Syekh Yusuf sebagai seorang Pahlawan, baru muncul pada tahun 1956, melalui tulisan Gaffar Ismail di harian ‘Sulawesi bergolak’ dengan judul ‘Syech Jusuf Pahlawan Asia jang Berkaliber Internasional.’
Kemudian ide untuk mengukuhkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tertuang dengan jelas dalam tulisan H.D.Mangemba (alm-pen) yang dimuat dalam Majalah Lontara No.6 Tahun 1981 terbitan Universitas Hasanuddin, di bawah judul ‘’5 Tokoh Sulawesi Selatan Bertarung di Pulau jawa Abad XVII.’’
Ide tersebut kembali bergaung melalui hasil wawancara yang dimuat pada suratkabar Mingguan Gema, Ujungpandang, menyambut Hari Pahlawan, 10 Nopember 1988. Menyusul kemudian dilakukan seminar di Ujungpandang, dan di Jakarta tahun 1994 mengenai Syekh Yusuf yang dianggap layak mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional tahun 1995 dari pemerintah RI kepada Syekh Yusuf, merupakan perwujudan dari berbagai pendapat, usul, dan keinginan masyarakat. (Mahaji Noesa/Majalah Semangat Baru, Makassar, Oktober/Nopember 1995).

Gambar

Tulisan City of Makassar di anjungan baru pantai Losari Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Anjungan Metro dan anjungan Bugis – Makassar di Pantai Losari Makassar, sebagaimana direncanakan sebelumnya, kini sudah siap untuk diresmikan Jumat, 21 Desember 2012.

Kedua anjungan ini berada di sayap selatan Pantai Losari, luasnya sekitar 4 hektar. Sejak Kamis (20/12) pagi tampak warga Kota Makassar silih berganti berdatangan di kedua anjungan yang telah dibuka pagar seng yang menutupinya selama dalam pengerjaan beberapa bulan terakhir.

Di anjungan Metro ujung paling selatan Pantai Losari terdapat 20 patung tarso sejumlah pahlawan dan tokoh terkenal di Sulsel. Patung-patung wajah tersebut ditata dalam design taman yang menawan. Bersambung dengan anjungan ini, di arah utara mesjid terapung Amirul Mu’minin terdapat anjungan Bugis-Makassar. Pelatarannya dihiasai asesori patung perahu phinisi, patung becak, patung pa’raga, dan patung atraksi tari pepeka ri makka.

Gambar

Tulisan Bugis di anjungan Bugis – Makassar Pantai Losari/Foto: Mahaji Noesa

Pelataran kedua anjungan ini sudah dibuka bersambung dengan anjungan utama di bagian tengah Pantai Losari. Bahkantelah pula dihubungkan dengan pelataran anjungan Toraja – Mandar di arah utara Pantai Losari. Meskipun anjungan Toraja –Mandar ini baru akan dirampungkan secara keseluruhan dalam tahun 2013.

Selain terdapat tulisan Bugis dan Makassar, di kedua anjungan  yang menurut rencana akan diresmikan mantan Wakil Presiden RI, M.Jusuf Kalla, Jumat (21/12) besok, terdapat tulisan City of Makassar berukuran besar terbuat dari beton.

Gambar

Anjungan Metro yang dilengkapi taman patung tarso di Pantai Losari/Foto: Mahaji Noesa

‘’Indah sekali.  Tak puas rasanya hanya dua jam berjalan dari anjungan utara ke anjungan selatan Pantai Losari,’’ kata Herman, pengusaha asal Jakarta yang Kamis (20/12) pagi asyik bersama 6 orang rombongannya berpotret-ria dengan latar tulisan City of Makassar di Pantai Losari.

Pascapereresmian mesjid  terapung Amirul Mu’minin, anjungan Metro dan anjungan Bugis-Makassar diperkirakan Pantai Losari dengan wajah barunya akan dipadati pengunjung pada pagi dan malam hari hingga malam 31 Desember 2012. Apalagi mulai 23 Desember 2012 hingga 6 Januari 2013 seluruh siswa di Kota Makassar dalam masa berlibur.

‘’Desain dan penataan anjungan Pantai Losari yang indah dan menawan saat ini sangat cocok sebagai tempat rekreasi maupun sebagai lokasi untuk olah raga santai bersamai seluruh anggota keluarga,’’ ujar Ningsih, warga Jl. Mongisidi, Kota Makassar, Kamis (20/12) di anjungan utama Pantai Losari.

Baca juga:

Memunggungi Senja di Losari

Gambar

Kebrutalan Westerling di Sulawesi selatan, lukisan Sochib (1992)/Repro: Mahaji Noesa

Tak hanya membunuh pejuang, tapi juga membantai rakyat tak berdosa. Itulah yang dilakukan Kapten Raymond Paul Piere Westerling dengan pasukannya antara Desember 1946 hingga Maret 1947 di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Korban Kekejaman Westerling cukup banyak. Bukti-bukti sudah dicatat dalam lembaran sejarah perjuangan rakyat di Sulsel. Kahar Muzakkar yang mulanya menyebut aksi brutal ini sebagai ‘Peristiwa Korban 40.000 Jiwa.’

Setiap tanggal 11 Desember masyarakat Sulsel dan Sulbar memperingatinya sebagai hari ‘Peristiwa Korban 40.000 Jiwa’ dengan menaikkan bendera merah putih setengah tiang.

Peristiwa bersejarah ini, diawali kedatangan sebanyak 123 tentara pasukan Depot Speciale Troepen dipimpin Kapten Westerling, 5 Desember 1946 di kota Makassar. Pasukan yang ditempatkan di kamp militer Mattoangin itu merupakan tentara pembunuh terlatih. Diperintahkan pemimpin militer Belanda membantu tentara NICA (Nederlands Indisch Civil Administration) yang mendapat perlawanan pejuang dan rakyat di Sulsel.

Tentara NICA/Belanda sudah terlebih dahalu mendarat bersama tentara sekutu, 23 September 1945 di Kota Makassar. Dimaksudkan bertugas membantu membebaskan tawanan perang dan melucuti tentara Jepang di Sulsel, setelah dinyatakan kalah perang. Akan tetapi, dalam kenyataan kehadiran tentara NICA membonceng tentara Sekutu justeru berupaya melakukan pendudukan dan penguasaan wilayah di Sulsel dalam suasana Indonesia saat itu baru saja menyatakan kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Mereka mendapat perlawanan dari para pejuang dan rakyat di Sulsel dan semua daerah yang kini masuk wilayah Provinsi Sulawesi Barat.

Setelah tentara NICA mendapat bantuan dari Westerling dan pasukannya, keinginan penguasaan Belanda terhadap wilayah Indonesia khusunya di Sulsel makin tampak. Gubernur Jenderal Belanda mengeluarkan surat keputusan No.1 Stbl. No.139 Tahun 1946, menyatakan Keadaan Darurat Perang (SOB) mulai 11 Desember 1946 di seluruh wilayah Sulsel, termasuk yang kini telah menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Barat. Padahal setahun sebelumnya, 17 Agustus 1945, atas nama bangsa Indonesia, Soekarno – Hatta Indonesia telah menyatakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sehari sebelum SK SOB diberlakukan, 10 Maret 1947, pasukan Depot Speciale Troepen sudah memulai gerakan brutal terhadap pejuang dan penduduk di kota Makassar. Subuh hari dengan muka dicat hitam mereka keluar tangsi militer Mattoanging menggrebek sejumlah lokasi pemukiman penduduk di Lariangbangngi, Bara-baraya, Macciniparang dan sejumlah tempat lainnya di Makassar. Di bawah ancaman senjata berbayonet, penduduk digiring ke lapangan Batua, kemudian diberondong dengan tembakan. Mereka yang roboh bersimbah darah tapi masih bergerak ditembak hingga tak bergoyang. Mayat bergelimpangan, mulai saat itu teror Westerling mencekam Makassar.

Keesokan harinya, 11 Desember 1946, seperti dicatat dalam Sejarah Perjuangan Angkatan 45 di Sulsel, di kampung Kalukuang, sekarang lokasi Monumen Peristiwa Korban 40.000 Jiwa, dan sekitarnya. Semua penduduk dewasa pria kembali dikumpulkan di lapangan, tanpa terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan semua lalu ditembak mati. Pembunuhan dipimpin langsung oleh Westerling.

Gambar

Relief di monumen Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Hari-hari selanjutnya, Westerling bersama pasukannya kemudian bergerak ke berbagai daerah di Sulsel, melakukan pembunuhan terhadap pejuang dan rakyat dengan alasan melakukan pembersihan terhadap kaum pemberontak.

Pendiri Badan Perjuangan Rakyat Republik Indonesia (BPRI) Parepare tahun 1945, Andi Abdullah Bau Masseppe yang kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, menjadi salah satu dari korban pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Westerling dan pasukannya.

Bau Massepe bersama sejumlah pejuang ditembak mati oleh pasukan Westerling pada 2 Pebruari 1947 di Pinrang. Setelah sebelumnya pasukan Belanda melakukan pembakaran rumah dan penembakan terhadap banyak rakyat di Suppa, Pinrang.

Pimpinan Gerakan Pemuda Tanete (GPT) di Barru, Andi Abdul Muis La Tenridolong yang juga kala itu digiring bersama Andi Abdullah Bau Massepe oleh pasukan Westerling ke Pinrang, sampai saat ini tidak diketahui dimana pusaranya.

Tak mau ditangkap pasukan Westerling, Emmy Sailan meledakkan granat yang menyebabkan dirinya ikut gugur pada 22 Januari 1947 di Kampung Kassi-kassi, Makassar.

Panglima Kelasykaran Lapris Ranggong Dg Romo (kini juga sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional) gugur bersama pasukannya 28 Pebruari 1947 ketika melawan pasukan Westerling di Langgese.

Markas Daerah Legiun Veteran RI Sulsel mencatat, Nica melakukan gerakan pembantaian di Tanjung Bunga, Jongaya (12 Desember 1946). Di utara menuju Maros (16 Desember 1946). Di Polombangkeng, Bontonompo, Palleko, Barombong (19 Desember 1946). Di Moncong Loe (26 Desember 1946), dan di Jeneponto, Taroang, Arungkeke (30 Desember 1946).

Pembantaian terhadap pejuang dan rakyat Sulsel dilakukan Nica 3 Januari 1947 di Bulukumba. Kemudian, 9 Januari 1947 di Barrang Lompo, Barrang Caddi, dan Tana Keke. Di Parepare, Kampung Kulo, Rappang, 14 Januari 1947. Di Barru, dan Bacukiki, Parepare 16 Januari 1947. Di Takkalasi, Barru 17 Januari 1947. Di Parepare, Suppa, dan Kariango, Pinrang 19 Januari 1947. Di Kampung Majannang 20 Januari 1947. Di Suppa, Pinrang 22 Januari 1947. Di sepanjang pesisir melalui laut 23 – 28 Januari 1947. Di kampung Ballero dan Kualle, di Majene (kini sudah bagian dari Provinsi Sulbar) 1 Pebruari 1947. Di kampung Galung Lombok, Tinambung (sekarang Sulbar) 5 Pebruari 1947. Di kampung Lisu Tanete, Barru, 7 Pebruari 1947.

Masing-masing daerah di Sulselbar punya catatan tentang perjuangan dan korban kebrutalan Westerling bersama pasukannya. Korban aksi tak berperikemanusian yang berlangsung hingga Maret 1947 di Sulsel, jumlahnya ada yang menyebut lebih dari 60.000 jiwa.

Namun, seperti ditulis dalam lembaran ‘Sejarah Perjuangan 45 di Sulsel’, Let.Kol. Kahar Muzakkar ketika bersama pejuang dan sejumlah Tentara Republik Indonesia Persiapan Seberang (TRIPS) asal Sulsel di Pulau Jawa (Maret 1947) menetapkan angka ‘Korban 40.000 Jiwa’ untuk peristiwa keganasan Westerling di Sulsel.

Kala itu, angka korban 40.000 jiwa disebut-sebut dijadikan sebagai angka politis-psikologis pembangkit semangat perjuangan. Angka Korban 40.000 Jiwa di Sulsel tersebut kemudian disebut ulang oleh Presiden RI pertama, Soekarno dalam suatu pertemuan, sehingga sebutan angka ‘Korban 40.000 Jiwa’ tersebut hidup menyemangati, tak menyurutkan langkah para pejuang untuk mengusir tentara NICA Belanda dari khususnya dari wilayah Sulsel dan semua daerah yang menjadi bagian Provinsi Sulawesi barat sekarang ini. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 10 Desember 2012)

Berikut adalah sebagian dari lukisan dan sketsa Pangeran Diponegoro dan isterinya Ratnaningsi saat ditawan Belanda di komplek Benteng Fort Rotterdam (Benteng Ujungpandang).

Gambar

Pelukis supranatural Drs.Bachtiar Hafid/Foto-foto: Mahaji Noesa

Gambar

Pangeran Diponegoro dan istrinya Ratnaningsi/Lukisan Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Hitam putih Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Bachtiar hafid