Posts Tagged ‘panakkukang’

Gambar

Penonton jadi penari dadakan pun tak terbakar ketika disulut obor (Foto: Istimewa)

Tubuh disulut nyala api tak terasa panas, pakaian yang dikenakan pun tak terbakar. Mengherankan tapi nyata. Kejadian seperti ini bukan sekedar potongan cerita lama dari kesaktian para jawara dalam rimba persilatan masa lalu, tapi masih berlangsung sampai sekarang dalam salah satu komunitas penari ‘Pepe-pepeka Ri Makka’ di Kota Makassar.

Tarian bernuansa magis tersebut, merupakan salah satu warisan asli nenek moyang Indonesia masa lalu yang masih dimainkan secara turun temurun oleh warga Paropo di bilangan wilayah Panakkukang, Kota Makassar.

Konon tarian ini mulai ditampilkan sebagai bagian dari hiburan dalam pesta-pesta rakyat seperti sunatan, upacara hajatan atau upacara perkawinan pada masa pascapendudukan penjajah kolonial Belanda, khususnya di perkampungan rakyat Paropo dan sekitarnya. Saat ini Paropo sudah menjadi salah satu bagian dari wilayah Panakkukang sebagai kawasan pemukiman dan perdagangan yang berkembang pesat di Kota ‘Metropolitan’ Makassar.

Gambar

Arca Pepe’pepeka ri Makka di anjungan Bugis-Makassar, Pantai Losari, kota Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Umumnya penari Pepe-pepeka Ri Makka terdiri atas beberapa orang laki-laki tua dan muda. Tampak tak ada gerakan baku dari tarian ini, kecuali para penari berbaris teratur ketika tampil ke pentas, berputar-putar sambil bersenandung khas dalam bahasa Makassar. Masing-masing penari pun seolah diwajibkan membuat gerakan-gerakan jenaka yang dapat mengundang gelak tawa penonton. Misalnya, ada penari yang berjalan mencontohkan gerakan seekor kera,berjalan terpincang-pincang, menggeleng anggukkan kepala bak lelaki renta, atau mendelik-delikkan mata sambil menjulur-julurkan lidah bagai orang kepedasan.

Dari dulu hingga sekarang para penari tak ada yang mengabdikan diri khusus sebagai penari Pepe-pepeka Ri Makka. Para penari yang kebanyakan masih punya hubungan keluarga, umumnya bekerja sebagai buruh serabutan, sebagai tukang kayu, tukang batu, penjual ikan atau penjual sayur keliling.

Dari perbincangan yang pernah saya lakukan dengan sejumlah penari Pepe-pepeka Ri Makka mengakui, sudah pernah ada upaya untuk mengajarkan tari ini ke orang luar melalui Sekolah Tari di Kabupaten Gowa. Namun, para penari di luar komunitas warga Paropo selalu saja merasa kepanasan apabila sampai ke adegan disulutkan api obor yang menyala ke tubuh mereka.

Padahal, katanya, dalam latihan-latihan rutin tari yang biasa dilakukan di kalangan mereka tak ada diajarkan mantera khusus anti api. Ada nyanyian-nyanyian yang ditampilkan sejak awal pertunjukan kedengarannya seperti pembacaan mantera, tetapi itu semua tak lain adalah semacam pantun-pantun jenaka dalam bahasa Makassar yang dimaksudkan untuk menggelitik kelucuan penonton. Seperti penyebutan kata ‘Pisang berbuah Emas’ dalam bahasa Makassar. ‘’Mana ada pisang berbuah emas,’’ katanya.

Nyanyian pengiring seperti ‘’Pepe-pepeka ri Makka lenterayya ri Madina Ya Allah Paroba Sai Na Takakbere dunia….dst’’ Selama ini sering diintreprestasikan penonton sebagai ucapan mantera anti apinya Nabi Ibrahim AS yang disadur dalam bahasa Makassar. Padahal, menurut sejumlah pemain, kalimat-kalimat itu hanya pengulangan dari apa-apa yang sudah pernah diucapkan secara spontan ketika melakukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka oleh para penari terdahulu. ‘’Kita ulang-ulang karena menarik, di samping sering ada kalimat-kalimat lucu yang diucapkan setiap kali pertunjukan,’’ katanya.

Namun begitu, menurut sejumlah penari, tidak semua orang di Paropo dapat diikutkan dalam tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Dari latihan-latihan yang dilakukan secara berkala di komunitas warga Paropo, para penari dipilih yang juga mampu memainkan alat musik seperti rebana, gong, gendang dan katto-katto sebagai pengiring tarian. Para pemain yang terdiri minimal dari 6 orang pria umumnya tampil dengan kostum pakaian adat Makassar dengan memakai destar di kepala. Pertunjukan dipimpin seseorang yang dituakan oleh komunitas penari.

Saat ini diakui, sangat jarang sekali orderan Tari Pepe-pepeka Ri Makka untuk pertunjukkan hajatan dari masyarakat umum. Belakangan, permintaan kebanyakan datang untuk pertunjukan-pertunjukan resmi yang dilakukan oleh pihak pemerintah terutama dalam event-event yang berkaitan dengan acara kepariwisataan. Termasuk untuk sejumlah pertunjukan keseniaan asal Sulawesi Selatan yang dilakukan di luar negeri.

Dalam pertunjukkan Kesenian Sulawesi Selatan di acara ‘South Sulawesi Colors’ (19 Maret 2011), tari Pepe-peka Ri Makka ikut dipertunjukkan di Stadium MBJB – Johor Bahru, Malaysia. Wakil Menteri Besar Johor, Tuan Jama’ Bin Johan dan Presiden Persatuan Kebajikan Ekonomi Bugis Malaysia yang juga Direktur Ugik Technologie, Lokman Junit ikut dilibatkan dalam tari Pepe-peka Ri Makka. Tubuh keduanya disulut sejumlah api obor, tak terbakar, dan bahkan terlihat santai-ria menikmati tarian api tersebut. Sekitar 4000-an penonton takjub menyaksikan kejadian ini.

Selain pemain, para penonton seringkali dilibatkan dalam adegan penyulutan api obor di pertunjukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Sulit dipercaya, sulutan api tak membakar kulit tubuh dan pakaian, tapi itulah kenyataan dalam klimaks pertunjukkan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Suatu tarian asli Indonesia di Makassar yang butuh perhatian pembinaan, termasuk melalui pelestarian komunitasnya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 06 Mei 2011)

Gambar

Salah satu areal persawahan di Kecamatan Tamalate, Makassar akan dijadikan areal pemukiman?Foto: Mahaji Noesa

Tanpa melihat foto-foto dokumen atau mendapat penuturan dari para orang tua, warga kota yang kini berusia 25 tahun tidak akan mengetahui jika wilayah Pemukiman, Perdagangan dan Perhotelan di Kawasan Panakkukang yang ramai dan sibuk di Kota Makassar sekarang sebelumnya merupakan areal persawahan.

Areal di timur Kota Makassar tersebut dahulu masuk wilayah Kabupaten Gowa dan sebagian lagi merupakan wilayah Kabupaten Maros. Namun seiring dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 1971 yang mengubah nama Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi Ujungpandang, dilakukan perluasan wilayah kota dari hanya sekitar 24 km bujursangkar menjadi 175,79 km bujursangkar.

Kebijakan yang terjadi di era H.M.Dg.Patompo sebagai Walikota Makassar itu, kota yang tadinya hanya menempati areal bagian barat pesisir pantai Selat Makassar, kemudian dikembangkan ke arah timur dan arah selatan arah Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.

Dua wilayah kabupaten yang masuk pengembangan Kota Makassar awalnya sebagian besar merupakan areal persawahan. Namun seiring dengan pesatnya pengembangan pembangunan kota yang pada tahun 1999 dikembalikan namanya dari Kota Ujungpandang menjadi Kota Makassar, sawah-sawah tersebut secara perlahan kemudian berubah menjadi lahan pemukiman, perkantoran, industri dan perdagangan.

Salah satu areal persawahan yang masih tersisa dalam wilayah Kota Makassar saat ini dapat disaksikan di wilayah selatan, yaitu di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate. Diperkirakan saat ini masih terdapat sekitar 300 hektar sawah yang secara rutin ditanami padi setiap tahun.

Namun, dari sejumlah penuturan dengan sejumlah petani penggarap sawah di Kelurahan Barombong, mereka memperkirakan dalam waktu tidak terlalu lama lagi sawah-sawah yang ada di bekas wilayah Kabupaten Gowa ini juga akan habis, berubah menjadi kawasan pemukiman.

‘’Pemilik sawah di sini umumnya sudah siap untuk menjual sawahnya kepada siapa saja apabila harganya cocok,’’ kata seorang petani penggarap sawah yang lagi panen di sekitar Timbuseng, Kelurahan Barombong. Kemudian menunjuk sejumlah papan bicara di tepi-tepi sawah yang menyatakan ‘Sawah Ini Dijual’.

Berdasarkan suatu pendataan yang dilakukan tahun 2006, lahan pertanian yang ada di Kelurahan Barombong masih lebih dari 700 hektar. Lahan yang didominasi areal persawahan itu mulai ada yang dialihfungsikan tahun 2008, sehingga menyusut tinggal 580 hektar lebih. Tahun 2009 berkurang menjadi sisa 480 hektar, dan tahun 2010 terdata tinggal sekitar 350 hektar sawah di Kelurahan Barombong.

Sawah-sawah yang masih terlihat terolah sekarang di Barombong, menurut penuturan sejumlah warga di Lingkungan Bontoa dan Lingkungan Kaccia Barombong, sebagian besar juga sudah terjual hanya belum ditimbun dan dibanguni. Selain dibeli oleh perorangan, banyak tanah persawahan telah dipindahtangankan kepada develover untuk pembangunan kawasan pemukiman. Termasuk untuk pembangunan tempat rekreasi dan hotel. Justru saat ini sebuah lokasi hiburan dan rekreasi Kolam Pancing Ikan berstandar dalam proses perampungan yang menimbun sawah sekitar 3 hektar di Lingkungan Timbuseng, Barombong.

Selain sudah dibangun ribuan unit perumahan berbagai tipe di sejumlah lokasi yang menimbun lahan-lahan persawahan di Barombong. Pihak pemerintahan Kelurahan Barombong tahun 2012 ini menyatakan telah dihubungi banyak developer mengajukan keinginan untuk membangun kawasan perumahan baru di lokasi yang kini masih merupakan areal persawahan.

‘’Sekarang sudah ada 16 developer yang berkeinginan untuk membuka kawasan perumahan baru di Kelurahan Barombong,’’ jelas Lurah Barombong dalam suatu pertemuan dengan warga di Komplek Perumahan Pesona Barombong Indah beberapa waktu lalu.

Jika masuk wilayah Kelurahan Barombong sekarang, di antara hamparan lahan persawahan tampak hampir semua areal memang sudah terpancang umbul-umbul dari developer atau pengembang pertanda areal tersebut akan dibanguni perumahan.

Gonjang-ganjing pemerintah tak menyediakan lagi KPR bersubsidi untuk pembangunan rumah dengan nilai jual di bawah Rp 70 juta, tampak tak menyurutkan aktivitas para pengembang melakukan penimbunan lahan persawahan untuk pembangunan perumahan di wilayah Kelurahan Barombong. Bahkan akibat kehadiran armada truk hingga sepuluh roda siang malam melakukan pengangkutan material timbunan dalam dua bulan terakhir, sejumlah ruas jalan bekelas kecil di Kelurahan Barombong, seperti Jalan Permandian Alam, Jalan Perjanjian Bungaya, dan Jl. Mappakainga aspalnya rusak berantakan.

Gambar

Persawahan di Jl.Mappakainga Makassar siap dibanguni perumahan/Foto: Mahaji Noesa

Menurut warga di lingkungan Sumanna, wilayah Kelurahan Barombong yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar, saat ini pasaran harga jual tanah di masyarakat antara Rp 150 ribu hingga Rp 200.000 per meter.

Lima tahun lalu, menurut warga di Lingkungan Timbuseng masyarakat menjual tanah persawahannya antara Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per meter. Saat ini harga jual kelebihan tanah oleh develover kepada para user perumahan yang ada di sekitar Lingkungan Timbuseng sudah dipatok Rp 400.000 per meter.

Sawah-sawah penduduk yang ada di Lingkungan Barombong, Bungaya, Pattukangang, Bonto Kapeta, Bontoa, Kaccia, Sumanna, Timbuseng dan Banyoa di Kelurahan Barombong diperkirakan akan senasib dengan areal persawahan yang ada di utara dan timur Kota Makassar yang telah berubah menjadi kawasan pemukiman, perkantoran, pendidikan, perdagangan, bisnis, industri dan wisata.

Daya tarik wilayah Kelurahan Barombong untuk menjadi pusat pengembangan kawasan baru di selatan Kota Makassar diperkirakan akan lebih cepat dan lebih pesat dibandingkan dengan pengembangan Kawasan Panakkukang maupun Tamalanrea dan sekitarnya. Mengingat, Kelurahan Barombong merupakan pintu gerbang Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.

Selain posisi strategis tersebut, magnit penarik pemukim dan pebisnis berebut lahan di Barombong saat ini lantaran wilayahnya yang bersisian langsung dengan Kawasan Pemukiman, Bisnis dan Wisata Tanjung Bunga yang kini sedang bertumbuh. Apalagi Kelurahan Barombong sebentar lagi akan menjadi pusat perhatian dengan kehadiran sebuah stadion bertaraf internasional dengan kapasitas hingga 60.000 penonton. Pembangunan venu modern kebanggaan masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan tersebut direncanakan sudah dapat diresmikan tahun 2013 mendatang.

Sudah ada bayangan kuat, sebentar lagi areal persawahan terakhir di Kota Makassar yang ada di Kelurahan Barombong juga akan ludes. (Mahaji Noesa/Kompasiana,2 April 2012/HL)

Gambar

Dinding Barat Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Tak pernah ada kerajaan Makassar. Kerajaan Makassar hanya istilah para sejarawan untuk menyebut dua kerajaan bersahabat, yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Justeru Sagimun Mulus Dumadi, penyusun buku ‘Sultan Hasanuddin’ serial ‘Mengenai Pahlawan-pahlawan Nasional’ (Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1983) dengan tegas menyatakan: ‘’Makassar bukanlah nama sebuah kerajaan, tapi nama suku bangsa.’’

Perkataan Makassar itu sendiri menurut Prof.Dr.Mattulada dalam ‘Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah’ (Bhakti Baru, Ujungpandang, 1982), sudah tertera dalam buku Negara Kertagama yang ditulis Prapanca tahun 1364. Sebutan Makassar dalam kitab Prapanca tersebut dimaksudkan sebagai nama salah satu negeri taklukan Kerajaan Majapahit di Pulau Sulawesi.

Namun, dimana tepatnya lokasi negeri Makassar seperti disebutkan dalam kitab terbitan abad XIV tersebut, tak ada keterangan yang jelas.

Sejarah tentang Kerajaan Gowa pun baru tercatat mulai awal abad XVI. Kala itu berkuasa Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi Tumapa’risi’ Kallonna. Sebelum itu, catatan tentang Kerajaan Gowa diistilahkan oleh Mattulada sebagai masa gelap.

Dalam masa kekuasaan Raja Gowa IX (1510 – 1546), dibangun Benteng Somba Opu. Benteng seluas 11 hektar lebih yang kini dijadikan sebagai obyek wisata sejarah dan budaya di delta muara Sungai Jeneberang – perbatasan Kabupaten Gowa dan Kotamadya Ujungpandang, di masa lampau merupakan ibukota Kerajaan Gowa.

Menurut catatan Dr.Anthony Raid, sejarawan dan peneliti dari Universitas Nasional Australia, antara tahun 1620 – 1660, ibukota Kerajaan Gowa tersebut tercatat sebagai salah satu dari 6 kota pelabuhan yang tergolong ramai di kawasan Asia Tenggara. Kota Somba Opu dan sekitarnya, kala itu dihuni sekitar 160.000 jiwa penduduk. Padahal dalam kurun yang sama kota Paris dan Napoli baru berpenduduk sekitar 100.000 jiwa.

PETA RAHASIA

Prjanjian Bungaya , 18 Nopember 1667 merupakan bagian dari taktik licik Belandqa untuk menancapkan kuku kekuasaannya di wilayah Kereajaan Gowa. Dalam perjanjian antara lain disebutkan, semua benteng pertahanan Gowa harus dihancurkan. Kecuali, Benteng Somba Opu untuk Sultan Hasanuddin, dan Benteng Ujungpandang untuk pihak Belanda.

Somba Opu sebagai benteng induk Kerajaan Gowa, dikawal 12 benteng pertahanan berukuran lebih kecil. Terdapat 5 benteng pengawal berjajar di garis pantai arah utara Benteng Somba Opu, yakni Benteng Tallo, Benteng Ujung Tanah, Benteng Ujungpandang, Benteng baro’boso, dan Benteng Mariso. Bagian selatan terdapat Benteng Panakkukang, Garassi, Barombong, Galesong, dan Benteng Sanrobone. Arah timur Benteng Somba Opu dikawal Benteng Anak Gowa dan Benteng Kale Gowa.

Het Bongaais Verdrag (Perjanjian Bongaya) terdiri atas 30 pasal, juga dengan tegas membatasi kekuasaan pemerintahan, perdagangan, dan daerah pelayaran armada kerajaan Gowa. Namun perjanjian inibukan merpakan Piagam Kekalahan. Kerajaan Gowa tetap menentang dan melakukan perlawanan gigih terhadap setiap tindakan sewenang-wenang dilakukan pihak Belanda setelah Perjanjian Bungaya.

Sebelum Perjanjian Bungaya, sebenarnya telah ada perjanjian antara Kerajaan Gowa dengan Belanda. Ringkasan isi perjanjian pertama yang dibuat 26 Juni 1637 tersebut, dituliskan oleh Mattulada, sebagai berikut:

‘’Perdamaian kekal, perdagangan bebas, akan tetapi Belanda tak boleh mendirikan tempat tinggal yang permanen di kota Makassar (Somba Opu).’’

Makassar selain sebagai nama etnis, oleh sejarawan banyak digunakan untuk mengganti penyebutan nama kota Somba Opu, ibukoya Kerajaan Gowa di masa silam.

Dalam peta rahasia VOC buatan suatu tim perancang dipimpin Bleau tahun 1670, dilukiskan betapa Kota Somba Opu dan sekitarnya sebagai suatu kota pelabuhan yang cukup ramai. Sejarah tentang kerajaan Gowa pun mencatat bagaimana padatnya aktivitas pemerintahan, perdagangan serta urusan diplomatik berlangsung di kota Somba Opu dan sekitranya dalam abad XVI – XVII.

Peta rahasia kota Somba Opu dan sekitarnya yang kini menjadi salah satu kekayaan koleksi Perpustakaan Nasional di Austria, dengan jelas menggambarkan di sekitar benteng Somba Opu terdapat sejumlah perwakilan dagang orang-orang Portugis, Denmark, Belanda, dan Inggris. Bahkan digambarkan adanya tempat kediaman Antonio de Costa, seorang pedagang Portugis yang lari dan meminta perlindungan pada kerajaan Gowa. Demikian pula sejumlah perkampungan rakyat, perkampungan orang-orang Melayu – Pahang, Campa, Minangkabau dan Johor, Arab, Gujarat, pakistan dan Cina mengitari benteng Somba Opu.

STAD VLAARDINGEN

Dalam suatu peperangan berlangsung 15 -24 Juni 1669, pihak Belanda akhirnya dapat menguasai dan menghancurkan pula benteng Somba Opu yang menjadi inti Kota Makassar.

Sejak itu, menurut catatan sejarah, keramaian kota Makassar berpindah ke wilayah sekitar benteng Ujungpandang yang dikuasai pihak kompeni Belanda.

Benteng Ujungpandang dan sekitarnya menjadi wilayah pemukiman para pejabat Belanda dan sekutunya disebut sebagai Stad Vlaardingen. Sedangkan nama Bneteng Ujungpandang diubah menjadi Fort Rotterdam.

Stad Vlaardingen selanjutnya dikembangkan sebagai kota pusat pemerintahan dan perdagangan untuk menggantikan kedudukan kota Somba Opu yang telah dihancurkan. Tetapi pengembangannya sudah diatur dalam semangat dan menurut struktur pemerintahan Hindia Belanda. Stad Vlaardingen dan sekitarnya kemudian disebut-sebut oleh pihak Belanda dengan nama Kota Makassar.

Penggunaan sebutan resmi Makassar untuk Stad Vlaardingen dan sekitarnya pertama kali terlihat dalam surat Gubernur Celebes dan daerah taklukannya tertanggal 28 Maret 1895 No.764/47, sebagai balasan atas surat dari majelis Perniagaan dan Kerajinan (Kameryan Koophandel en Nijverheid) tertanggal 26 Maret 1895 (Sumber: Kenangan 50 Tahun Makassar, koleksi perpustakaan Makassar,1956).

Perkembangan Stad Vlaardingen dan sekitarnya dari hai ke hari mengalami kemajuan pesat sebagai sebuah kota, akhirnya pemerintah Hindia Belanda memberikan suatu hak otonom (Ordinansi 12 Maret 1906, Staatsblad 1906 No.17) dengan nama ‘Gemeente Makassar’. Hak otonomi tersebut dinyatakan mulai berlaku 1 April 1906. Meskipun nanti dalam tahun1918 baru diadakan pengangkatan terhadap J.E.Damrink sebagai Burgemeester atau walikota pertama (1918 – 1927) ‘Gemente Makassar.’

Dalam perkembangan selanjutnya, periode Walikota H.M.Dg Patompo (1965 – 1978), wilayah kota Makassar diperluas dari sekitar 24 km2 menjadi lebih 175 km2. Seiring dengan pengembangan wilayah tersebut, melalui PP No.51 tahun 1971 nama Kota Maikassar diubah menjadi Kota Ujungpnadang.

Bicara tentang Kota Makassar tempo dulu, memang mestinya bicara tentang kota Somba Opu ibukota Kerajaan Gowa masa silam. Sejarah yang bicara dan menyodrkan fakta, bahwa kota Makassar tempo dulu tak lain dari Kota Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa.

Menghidupkan kembali kota Somba Opu, tak hanya bernilai tambah dalam sisi arkeologi, sejarah, upaya pelestarian budaya dan jati diri bangsa. Tetapi juga sangat prospektif dalam kaitan pengembangan pariwisata.

Membangun kembali duplikasi sejumlah bangunan bangsa asing yang pernah ada di seputar kawasan benteng Somba Opu dalam masa kejayaan kerajaan Gowa, bahkan dapat membuka kerjasama kebudayaan lebih luas serta mempererat persahabatan antarnegara. (Mahaji Noesa/Tabloid Phinisi No.2, Oktober 1997/Harian Pedoman rakyat, 29 Nopember 1997).