Posts Tagged ‘pangan’

Gambar

Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang/Foto: Sulsel.go.id

Pelantikan pasangan Sayang – Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Agus Arifin Nu’mang sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel terpilih periode 2013 – 2018, Senin, 8 April 2013, di halaman rumah jabatan Gubernur Sulsel, merupakan titik start kepemimpinan periode lima tahun kedua pasangan petahana ini.

Kepercayaan masyarakat Sulsel memilih kembali pasangan Sayang memimpin jalannya pemerintahan, pembangunan dan urusan-urusan kemasyarakatan 5 tahun ke depan, banyak didasari penilaian dari sejumlah keberhasilan dicapai dalam kepemimpinan lima tahun sebelumnya.

Gambar

Peroyek monumental jalur kereta api Makassar – Parepare/Foto:google-pustakasekola.com

Program Pendidikan Gratis dan Pelayanan Kesehatan Gratis yang diluncurkan lima tahun pertama, dinilai sukses. Sekalipun sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas) yang sifatnya juga bantuan gratis pendidikan dan kesehatan secara nasional, keberadaan program Pendidikan Gratis dan Pelayanan Kesehatan Gratis Sulsel hadir memperkaya layanan gratis tersebut.

Program Pendidikan Gratis, memacu kesadaran warga memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak di tingkat SD hingga SMP. Sedangkan untuk Program Kesehatan Gratis telah menimbulkan gelombang kesadaran besar bagi warga untuk memeriksakan kesehatan mereka ke tempat-tempat pelayanan kesehatan yang tersedia. Warga terserang flu ringan saja kini minta pemeriksaan kesehatan. Makanya, hampir semua daerah mengalami defisit dari alokasi anggaran kesehatan gratis yang disediakan setiap tahun.

Gambar

Proyek monumental di periode kedua jalan layang (flyover) Maros – Bone/Foto: sulsel.go.id

Paling menonjol dalam lima tahun pertama, tingkat pertumbuhan ekonomi Sulsel rata-rata di atas 8 persen, melebihi pertumbuhan secara nasional di atas 6 persen. Banyak pihak, sering mencibir setiap kali Gubernur SYL mengungkapkan fakta pertumbuhan tersebut, dengan alasan hanya sebagai permainan angka-angka statistik.

Bupati Bantaeng H.Nurdin Abdullah mengatakan, angka-angka pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan tingkat kesejahteran masyarakat.  ‘’Tingginya angka pertumbuhan ekonomi akan dirasakan masyarakat dalam kehidupannya. Masyarakat Sulsel umumnya merasakan terjadi peningkatan kesejahteraan hidupnya dari hari ke hari,’’ katanya dalam suatu perbincangan.

Sebagai daerah pertanian tanaman pangan terbesar di kawasan timur Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir Sulsel mampu mencatat surplus beras sampai 2 juta ton setiap tahun.

Di periode kedua, pasangan Sayang dipastikan akan bekerja lebih keras. Selain  mempertahankan, dituntut meningkatkan prestasi yang telah dicapai. Juga dipastikan masyarakat Sulsel yang memilihnya kembali, akan menagih sejumlah program baru yang ditawarkan dalam kampanye Pilgub Sulsel periode 2013 -2018.

Di antaranya, melanjutkan program pendidikan gratis dari tingkat SD hingga SMA. Melanjutkan program kesehatan gratis. Memberikan SPP gratis bagi mahasiswa baru. Program ini usai pelantikan, 8 April 2013, akan langsung teruji lantaran sudah mulai memasuki masa penerimaan mahasiswa baru.

Berikut, program gratis 5 juta paket bibit di sektor pertanian dengan semua subsektornya. Pemberian paket modal pengembangan usaha mikro kecil, membangun 24 industri pabrik baru, membuka 500.000 lapangan kerja, peningkatan kualitas rumah rakyat, pengembangan kelompok wirausaha pedesaan, peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui boarding school untuk guru-guru SD, SMP, SMA, guru ngaji, khatib, muballiq, dan ulama. Dan, menyediakan dana gratis pendidikan bagi siswa terpilih untuk sekolah kejuruan, serta melanjutkan program pemberian beasiswa untuk S2 dan S3.

Di luar program yang sudah dipapar sebagai ‘Janji kampanye’ tersebut, kerja keras harus dilakukan Pemprov Sulsel 5 tahun ke depan berkaitan dengan posisinya sebagai daerah ‘Lumbung Pangan’ Indonesia. Pasalnya, menurut pihak Dinas Pekerjaan Umum Sulsel, saat ini irigasi di Sulsel 70 persen dalam kondisi rusak, berumur tua. Akibatnya, dari 500 ribu hektar sawah yang butuh pengairan hanya sekitar 150 ribu hektar yang dapat dilayani secara teratur.

Namun begitu, dalam perjalanan periode kedua dipastikan kepemimpinan Sayang akan terkenang sepanjang masa lantaran dua proyek monumental sudah bakal dikerjakan. Pertama, proyek pembangunan jalan layang (flyover) Maros – Bone sepanjang 144 km. Dianggarkan di APBN bernilai Rp 1,5 triliun, dirancang rampung 3 tahun mendatang. Memperpendek jarak Maros – Bone yang dilalui selama ini sepanjang 175 km, dengan jarak tempuh 3-4 jam perjalanan.

Berikutnya, pembangunan jalan kereta api Makassar – Parepare sepanjang 137 km, lebih pendek dari jalur jalan saat ini yaitu 155 km.  Proyek yang ditaksir berbiaya Rp 20 miliar/km, bakal segera terujud lantaran pemerintah pusat kini sedang mempersiapkan pelaksanaan proyek yang merupakan bagian dari jalur kereta api Trans Sulawesi tersebut.

Masih cukup banyak potensi sumberdaya alam Sulsel belum terolah secara maksimal, di darat maupun di lautnya. Bahkan potensi di dalam perut buminya, berupa gas dan bahan mineral berharga masih sebagian kecil yang terolah. Tak heran jika makin terbuka akses dan tumbuhnya jaminan rasa aman dan nyaman di Sulsel, akan kian menarik banyak minat investor besar masuk menanamkan investasinya.

Kehadiran jalur kereta api dan jalan layang sebagai jalur nyaman  membelah poros tengah Sulsel, dipastikan akan jadi pemantik berkobarnya sumber-sumber baru peningkatan perekonomian masyarakat di daerah ini.  ‘’Ekonomi Sulsel apabila dikorek sedikit saja langsung bisa berkobar,’’ tandas Gubernur Syahrul Yasin Limpo dalam suatu kesempatan. Selamat bekerja, Komandan! (Mahaji Noesa, Koran INDEPENDEN Makassar, Edisi 29, 8 – 14 April 2013, Hal.3)

dangke

Inilah bentuk Dangke Enrekang/Foto: Riset – Google

Jika susu murni yang berasal dari kerbau atau sapi perah selama ini
banyak dikonsumsi warga sebagai minuman segar bergizi, maka masyarakat
di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan paling doyan memakan sari pati
dari ternak besar tersebut.

Susu dimakan bukan diminum? Ya…aneh tapi nyata! Masyarakat luas di
Provinsi Sulawesi Selatan sejak lama mengetahui jika penduduk di
kabupaten yang berjuluk ‘Bumi Massenrempulu’ tersebut sebagai pemakan
susu kerbau atau susu sapi perah dalam bentuk penganan yang bernama
Dangke.

Dangke tak lain adalah susu kerbau atau susu sapi yang digumpalkan
melalui kearifan lokal menggunakan bantuan enzim papain atau daun
pepaya. Bentuk gumpalan dangke tersebut berwarna putih seperti tahu.
Masyarakat khususnya di Kabupaten Enrekang sampai sekarang umumnya
menjadikan dangke sebagai lauk pendamping makanan nasi sehari-hari.
Untuk menyantapnya terlebih dahulu dangke tersebut, antara lain,
melalui proses penggorengan.

‘’Dangke juga dapat disantap langsung sebagai makanan pengantar dengan
menggunakan campuran gula aren. Nikmat,’’ jelas Kusuma, seorang
penduduk yang berdiam di Sossok, Kecamatan Baraka, Enrekang.
Warung-warung rakyat yang terdapat di tepian poros jalan Negara, dari
Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang ke arah Kota Makassar, kini
umumnya memampang papan-papan promosi: ‘’Jual Dangke!’’

‘’Namun jika jika lepas tengah hari, biasanya dangke di warung-warung
ini sudah habis terjual,’’ jelas Asni, seorang perempuan pemilik
warung penjual Dangke di Kabere, sekitar 3 km arah barat Kota
Enrekang. Harga jual dangke di Enrekang saat ini Rp 14.000 per biji,
ukuran setengah tempurung kelapa.

Menurut Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Kantor Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, drh. Jumwar, MSi, produk
dangke di Kabupaten Enrekang sekarang sekitar 3.000 biji setiap hari.

‘’Produk dangke tersebut baru dapat memenuhi sekitar 20 persen dari
kebutuhan lokal masyarakat di Bumi Massenrempulu,’’ katanya.
Menurut alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM)
tahun 1989 ini, untuk satu biji dangke yang beratnya antara 330 sampai
350 gram tersebut terbuat dari bahan baku 1,5 liter susu murni kerbau
atau sapi.

Lantaran itu, penyandang gelar master agrobisnis dari Universitas
Muhammadiyah Parepare tahun 2011 menyatakan, tak hanya berprospek tapi
juga dangke cukup prospektif dikembangkan sebagai usaha guna
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat ke depan. Bahkan,
jelasnya, produk lokal rakyat Bumi Masenrempulu ini bisa dijadikan
sebagai brand daerah ‘Enrekang sebagai Kabupaten Dangke.’
Alasannya, antara lain, dangke sebagai food cultur (makanan
tradisional) yang bergizi tinggi, produk lokal bernilai ekonomi yang
hanya terdapat di Kabupaten Enrekang. Pengembangan dangke juga
sekaligus dapat menjadi entry point dari pengembangan usaha peternakan
khususnya di Kabupaten Enrekang yang 85 persen wilayahnya merupakan
lereng berkemiringan antara 15 hingga 45 derajat.

Lagi pula, urainya, dengan pengembangan produk dangke tersebut
merupakan langkah tepat bagi pengembangan usaha industri biologis
melalui ternak kerbau atau sapi yang dapat senantiasa terbarukan.
‘’Pengembangan produk dangke akan memberikan pertambahan nilai ekonomi
yang cukup tinggi di tengah masyarakat lantaran merupakan salah satu
produk agribinis yang mencapai 3 log. Dari usaha peternakan sapi,
menghasilkan susu, susu dijadikan dangke serta turunan produk lainnya
berupa pembuatan krupuk dangke yang kini mulai dicoba di Kabupaten
Enrekang,’’ papar Junwar.

Berdasarkan catatan pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten
Enrekang, saat ini populasi ternak di Bumi Masserempulu sudah mencapai
1.400-an ekor sapi perah dan sekitar 48.000 ekor sapi potong. Untuk
ternak kerbau mencapai 6.000-an ekor.

Junwar yang sebelumnya telah bertugas di Kantor Dinas Peternakan
Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, Kabupaten Bulukumba, dan
di Rumah Potong Hewan Kota Makassar mengaku, dia yang pada tahun 2002
mulanya mengusul dimasukkannya bibit sapi perah asal Pulau jawa ke
Kabupaten Enrekang terutama untuk memenuhi bahan baku susu bagi
pengrajin dangke.

Di masa-masa lalu, ceritanya, Dangke Enrekang lebih banyak dibuat dari
susu kerbau. Akan tetapi dalam perkembangannnya kemudian lebih banyak
dipilih bahan baku dari susu sapi yang kandungan lemaknya 2,6 – 2,8
persen. Dangke susu sapi lebih gurih dibandingkan menggunakan susu
kerbau yang kandungan lemaknya mencapai 3,2 persen.
Lagi pula, dari seekor kerbau betina hanya dapat menghasilkan 5 hingga
6 liter susu setiap hari. Atau hanya dapat digunakan untuk membuat 2
sampai 3 biji dangke. Sedangkan dari seekor sapi perah, dapat
dihasilkan 20 hingga 30 liter susu setiap hari. ‘’Bahkan dengan
perlakuan tertentu seekor sapi perah berpotensi menghasilkan hingga 60
liter susu setiap hari,’’ jelas Junwar.

Kini di seluruh Kabupaten Enrekang terdapat sekitar 300-an pengrajin
dangke. Setiap pengrajin umumnya memiliki minimal satu ekor sapi
perah.

Melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE), pihak
perbankan telah mengucurkan bantuan permodalan usaha kepada 14
kelompok tani peternak dan pengrajin dangke di Kabupaten Enrekang.
KKPE diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang dinilai potensial di
pedesaan dengan bunga 6 persen per tahun, dan nilai pemberian kredit
bisa mencapai maksimal Rp 100 juta.

Persyaratan pemberian KKPE hampir sama dengan pemberian Kredit Usaha
Rakyat (KUR). Bedanya, bunga KUR 14 persen setahun dengan plafon
kredit maksimum Rp 20 juta. KUR diberikan tanpa agunan, sedangkan KKPE
selain hanya diberikan terhadap usaha yang sedang berjalan – bukan
usaha yang baru dimulai. Juga harus ada agunan, lantaran
dipertanggunjawabkan oleh masing-masing individu dalam kelompok sesuai
nilai kredit yang mereka pakai.

‘’Saat ini sudah ada dana permodalan usaha sekitar Rp 3 miliar melalui
KKPE yang disalurkan kepada kelompok-kelompok tani peternak dan
pengrajin dangke yang direkomendasi pihak Dinas Peternakan dan
Perikanan di Kabupaten Enrekang,’’ ungkap Junwar. Lalu menambahkan,
untuk sementara pihak perbankan hanya sebatas menyalurkan KKPE kepada
peternak sapi dan kerbau. (Mahaji Noesa)