Posts Tagged ‘pasar’

Pos penagihan karcis parkir di Jl.Sulawesi ketiak dikelola swasta tahun 1990/Foto: dok

Pos penagihan karcis parkir di Jl.Sulawesi ketika dikelola swasta tahun 1990/Foto: dok

 Catatan: Masalah perparkiran di kota Makassar ternyata sudah amburadul sejak kota ini masih bernama Kota Ujungpandang. Bahkan perparkirakan kota pernah diserahkan pengelolaannya kepada pihak perusahaan swasta, sebelum dikelola oleh PD seperti sekarang ini. Kondisi itu bisa disimak dalam tulisan yang saya buat  berjudul ‘Wajah Perparkiran di Ujungpandang’ dimuat dalam Majalah Warta Sulsel  No.5, 6-20 April 1990 yang diterbitkan oleh Pemda Tingkat I Sulsel. Isinya, berikut ini:

Sektor perparkiran merupakan ladang pendapatan daerah yang belum banyak mendapat perhatian. Di Propinsi Sulsel, barulah Pemda Kotamadya Ujungpandang yang menjadikan usaha perparkiran sebagai sumber pendapatan asli. Padahal, kendaraan bermotor yang melata dalam wilayah Kotamadya Ujungpandang  cuma berkisar 10 persen dari total kendaraan bermotor di Propinsi Sulsel.

Gambar

Tulisan Laporan Khusus di Majalah Warta Sulsel/Foto: dok.

Gambar

Perparkiran di depan Pasar Sentral Ujungpandang tahun 1990/Foto: dok

Dengan jumlah lebih dari 291.000 buah kendaraan bermotor yang melakukan gerakan berjalan dan berhenti di daratan Sulsel setiap hari, bisa dibayangkan berapa inkam yang bisa diperoleh dari sektor perparkiran. Jika kendaraan yang ada tersebut, taruhlah hanya 200.000 buah yang berhenti di pelataran-pelataran parkir, sekali dalam sehari dan mengeluarkan ongkos Rp 100/hari. Itu berarti setiap hari dari Sulsel bisa diperoleh pendapatan dari sektor perpakiran sebesar Rp 20 juta. Atau sekitar Rp 650 juta pertahun. Suatu pendapatan yang lumayan.

Tapi benarkah hanya sekitar 650 juta yang dapat diperoleh jika jumlah kendaraan yang melakukan kegiatan berkisar 200 ribu buah setiap hari?

Gambar

Pos penagihan parkir PT Brahma Jasa Persada di mulut selatan Jl Sulawesi tahun 1990/Foto: dok

‘’Dua puluh kali lipat dari jumlah itupun bisa diperoleh. Jika usaha perparkiran tersebut memang dapat dikelola dengan baik.’’ Begitu suatu sumber menjelaskan kepada Warta Sulsel. Sumber itu kemudian menujukkan suatu contoh. Taman parkir yang ada di PasarSentral Ujungpandang  saja, kini katanya, memperoleh pendapatan kotor lebih dari Rp 600 ribu setiap hari. Dalam setahun, anak-anak yang belum tamat SD pun dapat menyebutkan hasilnya ‘lebih dari Rp 200 juta.’’

Itu baru dari satu tempat. Sedangkan tempat parkir potensial yang serupa PasarSentral lebih dari 90 tempat di Ujungpandang. Dan kendaraan yang melata di Kota Angin Mamiri, tidak lebih dari 30.000 buah setiap hari. Lebih dari 200.000 buah kendaraan bermotor yang bergerak setiap hari di Sulsel, juga minimal parkir satu kali, belum terjaring. ‘’Apakah sektor perparkiran dengan demikian dapat disebutkan sebagai bukan sumber pendapatan yang potensial?’’ tanya sumber Warta.

Fisik dan Non Fisik

Tapi menurut sejumlah ahli planologi, tata ruang kota, untuk menumbuhkan usaha perparkiran jangan semata-mata hanya melihat bagaimana bisa menjaring pendapatan yang besar. Sebab katanya, perparkiran erat kaitannya dengan masalah lalu lintas. Justru untuk menetapkan ruang-ruang parkir dalam suatu wilayah seharusnya merupakan hasil koordinasi terpadu antar instansi terkait seperti dengan Dinas Pekerjaan Umum, Polantas, dan LLAJR, dari segi fisiknya. Sedang non fisik, berupa manajerial pelaksanaannya, Pemda jika sebagai pengelola harus dapat melakukan suatu sistem pengawasan yang ketat. Sebab lahan parkir umumnya terpencar-pencar, membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Tanpa memperhatikan kedua faktor tersebut, dikatakan, usaha perparkiran bisa amburadul. Kacau balau. Bukan saja dalam sistemnya. Tapi juga dalam soal pengumpulan pungutan parkir bisa menimbulkan kebocoran-kebocoran untuk kepentingan pribadi oknum-oknum tertentu.

Sebagi contoh, ditunjuk, usaha perparkiran yang kini berjalan di Ujungpandang. Pemda Kodya Ujungpandang telah menetapkan Perda No.3 Tahun 1986 untuk pengelolaan perparkiran. Bertolak dari Perda yang hampir sempurna tersebut, lantas dikeluarkan SK Walikota yang berkaitan dengan pengaturan perparkiran. Perparkiran pun dilaksakan dengan kerja sama fihak swasta. Hasilnya, sebelum terjadi kerjasama, Pemda tiap tahun hanya menjaring pendapatan dari perparkiran tidak lebih dari Rp 30. Tapi dengan kerjasama, lahan-lahan parkir di KMUP kini dikontrak PT Brahma Jasa Persada, sebesar Rp 250 juta setahun. Tapi apa yang terjadi, pihak swasta sebagai pengelola, melaksanakan usaha itu tidak lagi berdasar Perda. Sehingga menimbulkan sorotan dari kalangan masyarakat. Dilain fihak, tampaksejumlah oknum memanfaatkan kesempatan.

‘’Lihat saja dalam SK Walikota Ujungpandang No.149/S.Kep/903/89 tentang penjabaran anggaran pendapatan dan belanja daerah, cuma tercantum anggaran pendapatan dari uang pangkalan sebesar Rp 225 juta,’’ kata sumber Warta. Padahal, tambahnya, dalam surat perjanjian antara Pemda KMUP dangan PT Brahma Jasa Persada tanggal 20 Nopember 1989, jelas tercantum, pihak swasta menyerahkan uang sebagai konvensasi sejumlah Rp 250 juta untuk jangka waktu pengelolaan 1 tahun. Lebih dari itu, karena pihak PT Brahma Jasa Persada tampak selain beroperasi tidak sesuai Perda KMUP, terbatas kemampuannya mengelola lahan-lahanparkir yang ada. Maka tampak gejala yang tak beres. Di beberapa tempat dalam Kodya Ujungpandang juga masih berlangsung usaha-usaha parkir yang menggunakan karcis parkir resmi, bukan karcis parkir pihak swasta sebagai pengelola. Hal itu sudah berlangsung sejak kerjasama perparkiran di Ujungpandang, berlaku 16 Juli 1988. Dan pendapatan parkir yang masuk di Nota Keuangan Pemda hanya nilai kontrak dengan pihak swasta. Lainnya, tidak diketahui masuk ke pos mana.

Justru para pakar dan ahli-ahli perkotaan yang dihubungi Warta Sulsel minta agar Pemda KMUP dapat meninjau kembali sistem perparkiran yang berlaku di Ujungpandan saat ini.

‘’Sebaiknya pengelolaan tidak satu tangan. Tapi diberikan kepada pengusaha-pengusaha swasta berdasarkan kontrak-kontrak per lahan parkir. Dan Pemda harus tetap konsekwen mengawasi penegakan aturan Perda yang dibuat,,’’ kata mereka senada. Sebagai usaha jasa, pengelolaan perparkiran juga harus dapat memberi jaminan hukum. Misalnya, kendaraan yang diparkir hilang atau rusak. Diganti atau tidak. Ini belum tercakup dalam Perda Perparkiran KMUP, sorot seorang penegak hukum. (Mahaji Noesa/Majalah Dwi Mingguan Warta Sulsel No.5, 6 – 20 April 1990, Hal. 11 -12)         

Gambar

Telur ayam kampung (Foto:google-suliana-milittlesunshine.blogspot.com)

Jika menyimak resep-resep lawas untuk menjaga kesegaran tubuh khususnya bagi kaum pria, sebagian besar menggunakan bahan campuran madu dan kuning telur ayam kampung. Dianjurkan untuk menggunakan madu asli. Masalah, sekarang sudah banyak madu palsu, yaitu madu asli yang sudah diberi campuran cairan lain untuk memperbanyak volumenya. Masih jarang terdengar peringatan untuk tidak menggunakan telur ayam kampung palsu. Padahal sekarang telur ayam ras ternyata dapat diubah menjadi mirip telur ayam kampung.

Seseorang yang sudah terbiasa melakukan pengubahan seperti itu, mengungkapkan rahasianya. Proses pengubahan telur ayam ras menjadi mirip telur ayam kampung justru amat mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Begini caranya, kumpulkan telur ayam ras yang berukuran kecil mendekati ukuran umumnya telur ayam kampung. Telur-telur tersebut kemudian direndam sekitar 15 hingga 30 menit ke larutan air cuka makan.

Kulit luar telur-telur ayam ras yang berwarna kemerahan jika direndam cuka dalam waktu tersebut akan melemah. Kemudian, jika digosok-gosok secara lembut dengan  jari tangan secara merata, maka bagian luar kulit ayam ras yang berwarna kemerahan akan terkelupas. Lalu, kulit telur ayam ras tersebut berubah menjadi putih seperti warna kulit telur ayam kampung.

Dalam waktu sekitar setengah jam, dengan santai sambil berbincang-bincang seseorang dapat memeroses perubahan lebih dari sepuluh butir telur ayam ras menjadi seperti telur ayam kampung.

Dalam proses untuk mengubah warna kulit telur ayam ras menjadi seperti warna kulit ayam kampung, jangan terlalu lama merendamnya di air larutan cuka makan. Perhatikan, jika gelembung-gelembung yang keluar dari telur ayam ras yang direndam ke larutan cuka berkurang, proses penggosokan mengeluarkan kulit berwarna merah yang tipis tak lebih dari kulit bawang dapat segera dimulai.

Penggosokan dilakukan secara perlahan-lahan dan  sesekali mencelupkan telur ayam ras yang digosok ke dalam cairan cuka, hingga semua kulit berwarna merah keluar merata berganti menjadi warna putih menyerupai warna kulit telur ayam kampung.

Apabila telur ayam kampung direndam terlalu lama dalam larutan akan menjadi lembek, elastis, dan mudah pecah. Bahkan jika direndam dalam waktu yang lama, telur dapat pecah sendiri dalam cairan cuka.

Mau buktikan, silakan coba. Setelah itu, paling penting sebenarnya bagaimana dapat mengetahui tanda-tanda dari  telur ayam ras yang telah diubah menjadi mirip telur ayam kampung agar konsumen tidak tertipu apabila telur ayam kampung palsu itu dijual ke pasaran. Soalnya, di pasaran sulit untuk membedakan secara fisik antara telur ayam kampung asli dan yang dibuat mirip atau dipalsukan. Bagi yang mengatahui tanda-tanda fisik telur ayam kampung palsu seperti itu, silakan berbagi…….

Gambar

Tampak salah satu penjual jagung muda di Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Selain penjual terompet dan kembang api, sejumlah jalan protokol di kota Makassar, Senin (31/12) diramaikan dengan penjual jagung muda.

Para penjual jagung muda tersebut terlihat bertebaran di ruas-ruas jalan protokol seperti di Jl. Sultan Alauddin, Jl.Urip Sumoharjo, Jl. Cenderawasih, Jl. Ratulangi, Jl. AP Pettarani, dan sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan. Selain itu, di tepian ruas-ruas jalan yang ada di sekitar pasar-pasar tradisional terdapat banyak penjual jagung muda.

Jagung-jagung muda tersebut, menurut penjelasan sejumlah penjual sekitar Pasar Pabaeng-baeng  di Jl. Andi Tonro, berasal dari sejumlah daerah di selatan Makassar, seperti  Kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto yang saat ini lagi musim panen jagung.

Hampir semua titik penjualan jagung muda terlihat laris-manis ramai dikerumuni pembeli. ‘’Sejak hujan pagi hari sudah banyak orang datang membeli jagung muda. Sudah lebih 15 ikat jagung saya yang laku,’’ jelas Dg Aru, seorang penjual  jagung muda di tepi Jl Mesjid Raya, Senin (31/12) siang.

Seikat jagung yang berisi 15 – 20 biji jagung muda dijual seharga Rp 20.000. Ada juga yang menjual eceran seharga Rp 2.000 sebuah jagung muda.

‘’Untuk dibakar dan direbus ramai-ramai nanti malam menunggu datangnya tahun 2013,’’ kata seorang ibu dari wilayah Kecamatan Mariso yang membeli 3 ikat jagung muda di Pasar Terong Makassar.

Gambar

Penjual jagung muda laris manis di Jl Mesjid raya, Pasar Terong Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Langit kota Makassar sejak Senin pagi di akhir Desember 2012 mendung, bahkan terjadi gerimis di sejumlah tempat. Lepas tengah hari, ketika udara mulai kelihatan cerah, terlihat sejumlah jalan sudah dipadati kendaraan. Dalam malam menyambut pergantian tahun 2012 ke 2013 diperkirakan ratusan ribu kendaraan sepeda motor maupun mobil dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan akan memasuki kota Makassar.

Pihak Kepolisian Polrestabes Makassar sebelumnya sudah menghimbau mereka yang akan nginap di hotel-hotel sekitar Pantai Losari untuk sudah masuk satu hari sebelum hari H. Lantaran mulai pukul 17.00 wita semua jalan dalam radius 1 km yang mengarah ke Pantai Losari akan ditutup dari semua jenis kendaraan, dan baru akan dibuka pukul 8.00 pagi, Selasa, 1 Januari 2013.

Pemerintah kota Makassar tidak menyediakan acara hiburan khusus menyambut pergantian tahun di Pantai Losari. Akan tetapi, jika tak hujan pantai kebanggaan warga dan pemerintah kota Makassar tersebut diperkirakan akan dijejali sampai 200-an ribu orang pada malam menyambut datangnya Tahun Baru 2013. Lebih dari 4.000 personil kepolisian telah disiagakan untuk menjaga kelancaran dan keamanan suasana malam pergantian tahun di Kota Makassar.

Jika tak hujan, malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di kota Makassar diperkirakan akan meriah di semua sudut.  Hal itu bisa dilihat dari kepadatan tingkat hunian hotel-hotel. Lebih dari 6.000-an kamar hotel di kota Makassar sudah ter-booking beberapa hari sebelumnya. Larisnya penjualan terompet, kembang api serta jagung muda, mengindikasikan warga kota Makassar sampai ke lorong-lorong akan bersuka ria dalam malam menyambut  datangnya  Tahun Baru, 1 Januari 2013.

Sejumlah komunitas dalam malam menyambut datangnya tahun 2013 melakukan kegiatan religius berupa acara zikir bersama di Kota Makassar.  (Mahaji Noesa/Independen.co/31 Desember 2012)

Gambar

Pasar Kalimbu di Jl.Veteran, Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Bisnis penyediaan barang-barang untuk keperluan prosesi pengurusan jenazah beragama Islam — mulai dari saat hendak dimandikan hingga dikafani, saat ini mulai diminati khususnya di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Hal tersebut terlihat melalui papan-papan usaha atau spanduk-spanduk yang secara mencolok bertuliskan ‘’Menjual Perlengkapan Mayat’ banyak dibentangkan di depan kios atau toko di sejumlah daerah kabupaten.

Sebelumnya, tempat-tempat seperti itu amat sulit ditemukan. Bahkan hingga akhir tahun 2000 di daerah-daerah kabupaten di Sulawesi Selatan tidak satupun tempat atau toko yang secara khusus menjual alat-alat untuk perlengkapan mayat. Untuk keperluan tersebut, biasanya dilakukan setelah sebelumnya dikonsultasikan dengan para imam masjid atau pemandi jenazah yang kemudian peralatan dibeli satu per satu dari berbagai tempat.

Kecuali di Kota Makassar, sejak tahun 60-an sudah ada usaha yang secara terang-terangan memberi label sebagai toko penjual ‘Perlengkapan Mayat.’ Paling terkenal toko Perlengkapan Mayat milik H.Najamuddin (alm) yang berlokasi di Jl. Veteran Selatan, berhadapan dengan pintu barat Pasar Kalimbu.

Toko Perlengkapan Mayat yang sudah ada sejak tahun 1962 tersebut, termasuk salah satu yang masih bertahan hingga saat ini, dan ditunggui oleh H.Abdullah (71 th), anak sulung H. Najamuddin (meninggal 28 Desember 2008).

‘’Saya 8 bersaudara semuanya masih hidup, mengikuti jejak ayah menjadi penjual perlengkapan mayat,’’ jelas H.Abdullah ketika ditemui usai Jumat (14/10/2011), didampingi istrinya, H. Nurhayati (66).

Sepuluh toko yang menjual Perlengkapan Mayat di sekitar wilayah pintu barat Pasar Kalimbu, Jl.Veteran Selatan Kota Makassar sekarang, pemiliknya adalah keturunan dari H.Najamuddin.

Hanya saja, menurut H.Abdullah, saat ini sulit untuk mengandalkan penghasilan dari usaha tunggal sebagai penjual Perlengkapan Mayat. Sudah banyak yang membuka usaha seperti ini. ‘’Pernah dalam sebulan, tak ada yang membeli satu paket dari alat perlengkapan mayat di toko saya,’’ katanya.

H. Abdullah sendiri, selain menjual barang-barang campuran lainnya di toko penjualan Perlengkapan Mayat yang sekaligus merupakan tempat kediamannya di Jl. Veteran Selatan, memiliki tiga kios penjualan berbagai jenis sandang di Makassar Mall – Pasar Sentral Kota Makassar yang terbakar beberapa waktu lalu. ‘’Kios saya ikut terbakar. Dalam peristiwa itu saya mengalami kerugian hampir Rp 1 miliar. Sekarang anak-anak mengurusi usaha di kios-kios darurat Pasar Sentral,’’ kata lelaki kelahiran Sulawesi Selatan berdarah Pangkajene Kepulauan (Pangkep) yang mengaku sudah 4 kali berhaji bersama isterinya.

Bagi H.Abdullah, menurut cerita isterinya, beda dengan penjual alat Perlengkapan Mayat lainnya di Kota Makassar. ‘’Aji (panggilan keseharian terhadap suaminya-pen) itu berdagang seperti Nabi. Orang-orang menjual satu paket Perlengkapan Mayat dengan harga antara Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu. Tapi Aji menjual hanya antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per paket. Itupun kain kafannya sampai 20 meter. Padahal orang-orang paling banyak memberi 15 meter kafan di setiap paket,’’ urai Hj. Nurhayati.

Dalam setiap paket Perlengkapan Mayat untuk jenazah Islam yang dijual di Sulawesi Selatan saat ini, sedikitnya berisi 15 macam benda atau peralatan  keperluan memandikan hingga mengafani jenazah. Di antaranya, kain kafan, kapas, tikar plastik atau tikar anyaman, kapur barus (camper), minyak pewangi (cologne), timba, mangkok, piring, sisir, cermin, sabun, hingga odol dan sikat gigi.

‘’Di daerah-daerah lain ada juga paket yang dijual dilengkapi dengan alat pembakaran dupa. Tapi bagi saya, untuk penjualan paket Perlengkapan Mayat itu tidak memburu banyak keuntungan, dijual dengan harga asal tidak rugi karena pembeli adalah orang-orang yang sedang berduka. Itulah sebabnya saya memberi merek toko dengan sebutan menjual Perlengkapan Mayat sosial,’’ kata H. Abdullah yang mengaku baru sekitar tahun 2003 ikut menangani usaha penjualan Perlengkapan Mayat tersebut.

Dialah yang menjadi penyuplai bahan baku kain kafan untuk semua kebutuhan toko penjualan Perlengkapan Mayat milik saudara, anak dan kemanakannya di Jl. Veteran Selatan. Untuk keperluan tersebut, setiap bulan dia harus memesan 100 pis (1 pis = 50 meter) kain kafan dari Surabaya, Jawa Timur.

Selama ini, katanya, tidak pernah ada pihak dari Kantor Kementerian Agama yang menjelaskan mengenai alat-alat yang wajib digunakan untuk keperluan prosesi memandikan hingga mengafani jenazah orang muslim. Dari etnis lain di luar Sulsel, menurut pengalaman H.Abdullah, ada yang hanya memesan tiga jenis benda untuk keperluan pengurusan jenazah Islam, yaitu kain kafan, kapas dan kapur barus.

Ketika disodorkan cerita bahwa seorang perempuan anggota pemandi mayat yang juga menjual alat Perlengkapan Mayat di sebuah kabupaten di timur Sulawesi Selatan, apabila tengah malam mendengar ada semacam gerakan orang berjalan di teras atau tangga rumahnya, menjadi pertanda bahwa keesokan hari akan ada pembeli alat Perlengkapan Mayat.

‘’Hal seperti itu hanya perasaan saja yang bisa diartikan macam-macam oleh pihak bersangkutan. Reseki seseorang dari setiap usaha sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Berusahalah saja di jalan halal, tidak perlu mengaitkan dengan macam-macam cerita yang sama sekali tidak ada hubungannya,’’ ujar H. Abdullah yang kemudian menyatakan ayahnya meninggal dalam usia 102 tahun. Demikian pula dengan sejumlah saudara kandung ayahnya, meninggal setelah berusia lebih 100 tahun.

Apakah keawetan usia tersebut ada hubungannya dengan usaha yang ditekuni berjualan Perlengkapan Mayat? ‘’Tidak, itu sudah gen, ketentuan Tuhan, ayah bersaudara semua meninggal setelah berusia lebih satu abad,’’ tandas H.Abdullah, ayah dari 6 orang anak yang telah melahirkan 12 orang cucu dan 13 orang cicit. Tapi masih awet, tambahnya, kemudian tertawa ngakak. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 14 Oktober 2011)

IMG00852-20130103-1032

Dinding bagian barat bekas Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Selain bangunan abad XVII Benteng Ujungpandang, masih terdapat banyak sekali bangunan peninggalan lama, bukti Makassar sebagai Kota Tua. Hanya saja sejumlah bangunan tua lainnya menjadi tak menonjol dengan kehadiran bangunan baru berasitektur modern. Bahkan banyak jejak bersejarah justru dibiarkan ikut tergusur.

Gedung lama Balaikota Makassar di Jl. A.Yani, Museum Kota di Jl. Balaikota, Kantor Pengadilan Negeri di Jl. Kartini, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Gubernuran Sulsel dan Gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Jl. Jend Sudirman, merupakan bangunan-bangunan tinggalan masa lalu yang masih menonjol.

Namun begitu, Klenteng Ibu Agung Bahari di Jl. Sulawesi yang dibangun tahun 1737, Gereja Katedral (1898), Masjid Arab (1907), Mesjid Kampung Melayu dan Pasar Butung (1917). Semua juga merupakan bangunan peninggalan masa lalu yang dapat menjadi bukti dinamika kehidupan Kota Makassar dari masa ke masa.

Bahkan melalui sejumlah bangunan keagamaan tinggalan lama tersebut, dapat diketahui jika kehidupan di Kota Makassar pada ratusan abad lampau sudah terbuka untuk semua etnis maupun agama.

Melalui catatan sejarah Kerajaan Gowa dan Tallo pada abad XVI – XVII, diketahui ketika pusat Kota Makassar masih berada di Benteng Somba Opu,  justru hidup damai berdampingan sejumlah suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Mereka yang terdiri dari bangsa Portugis, Denmark, Inggris, Melayu dan Gujarat  justru diperkenankan pihak kerajaan membuat perwakilan-perwakilan dagang seputar benteng.

Sayangnya, bangunan-bangunan tersebut kini hanya ada dalam catatan lembaran sejarah. Lantaran semua telah hancur seiring dibumihanguskannya Benteng Somba Opu oleh pihak kolonial Belanda pada abad XVII.

IMG00849-20130103-1030

Bastion tersisa dari Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Sebenarnya, sebagaimana dicatat sejarah, sesuai dengan Perjanjian Bungaya (Bongaissck Verdrag) pada 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman, dua markas pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang tidak boleh dihancurkan. Akan tetapi akibat munculnya keserakahan kolonial, Benteng Somba Opu yang menjadi hak Kerajaan Gowa kemudian dihancurkan.

Setelah beratus tahun peristiwa penghianatan itu berlalu, lokasi tempat ditandatanganinya Perjanjian Bungaya yang ada di sekitar Bontoa, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar, pun menjadi tidak jelas lagi. Sejumlah pondasi bangunan baru sudah tegak di sekitar lokasi bersejarah tersebut.

‘’Beberapa tahun lalu di tempat itu masih ada tanda yang menyatakan sebagai Tempat Perjanjian Bungaya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ jelas Amir, seorang warga dari sekitar Timbuseng, Barombong, sambil menunjuk ke arah lokasi di belakang bangunan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Solar.

Satu-satunya pertanda jejak, karena sekitar lokasi masih diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Jalan tembus dari arah Kelurahan Barombong menuju SMA Negeri 20 Makassar yang kondisinya, selain sempit juga aspalnya berlubang-lubang lama tak pernah mendapat perbaikan.

Tergusurnya lokasi Perjanjian Bungaya dengan kahadiran sejumlah bangunan baru sekitar Bontoa, amat disayangkan banyak pihak. ‘’Lokasi ini sama pentingnya dengan Benteng Ujungpandang untuk dipelihara sebagai bagian dari bukti jejak sejarah Kerajaan Gowa masa lalu,’’ kata Sudirman, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Kota Makassar.

Seperti dicatat sejarah, Perjanjian Bungaya merupakan perjanjian pertama yang dibuat di Nusantara dengan penyumpahan menggunakan dua kitab suci agama. Perjanjian ini ditandatangani dengan sumpah oleh Sultan Hasanuddin di depan kitab Al Quran (Islam) dan Speelman di depan kitab Injil (Kristen).

Namun kemudian terjadi penghianatan kolonial, dan memiriskan karena lokasi bersejarah Perjanjian Bungaya itupun kini terancam hilang tergusur derap pembangunan kota. (Mahaji Noesa)

IMG00103-20121004-0920

Daeng becak Makassar menanti penumpang/Foto: Mahaji Noesa

 

Banyak pengayuh becak yang lebih akrab dipanggil Daeng Becak tak punya tempat kediaman di Kota Makassar. Mereka adalah warga urban, berasal dari wilayah tetangga ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, seperti dari Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto dan Maros. Daeng-daeng Becak tersebut setiap malam tidur di becak, berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lain yang dianggap aman.

Selama tiga malam berturut, ketika sengaja berkeliling pada dini hari ke sejumlah jalan di Kota Makassar, menemukan puluhan Daeng Becak yang begitu asyik tidur melengkung dan berbagai variasi tidur lainnya di becaknya. Jumlah daeng becak yang setiap malam tidur di becaknya kemungkinan dapat mencapai ratusan orang.

Soalnya dari sekitar 15 ruas jalan yang ditelusuri dini hari selama 3 malam saja, ditemui puluhan Daeng Becak yang tidur di becaknya. Yaitu di sepanjang Jalan Veteran, Jl.Penghibur, Jl.Sultan Alauddin, Jl. Sultan Hasanuddin, Jl. Tentara Pelajar, jalan-jalan seputar Makassar Mall (Pasar Sentral), Jl.AP.Pettarani dan Jl. G.Latimojong serta jalan-jalan sekitarnya.  Di Kota Makassar yang belakangan juga dijuluki sebagai ‘Kota Daeng’  terdapat lebih dari seribu ruas jalan.

Para Daeng Becak umumnya ditemukan tidur di becak yang diparkir emper-emper toko dan kios K-5, halaman rumah dan perkantoran, dan bahkan di tepi jalan.

Seperti seorang tukang becak yang dijumpai dinihari tidur asyik di atas becaknya yang diparkir di dekat halte bus pengangkutan ke Trans Studio di selatan Jl. Penghibur , depan Rumah Jabatan Wali Kota Makassar.

‘’Kalau tengah malam di sini sunyi, tidak ada gangguan. Tapi pagi-pagi sekali harus cepat bangun karena jalanan cepat ramai, ‘’ kata Dg. Laja (bukan nama sebenarnya).

Lelaki berusia 48 tahun yang tak mau menyebutkan nama sesungguhnya juga nama kampung tempat asalnya kecuali menyebut dari wilayah Kabupaten Takalar, mengaku sudah sejak tahun 90-an jadi ‘Paggoyang’ (Bhs. Makassar, berati tukang becak). Selama itu, katanya, ketika masuk Kota Makassar, kalau malam tidur di becak, lantaran dia tidak punya sanak famili yang punya rumah di Kota Makassar.

Setiap hari Sabtu Dg Laja pulang ke kampungnya, menemui isteri dan 3  anaknya. Biasanya, katanya, dia membawa uang hasil  Pagoyangnya untuk keluarga  Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Dia mengaku, punya rumah dan lahan pertanian yang ditunggui isteri dan keluarganya di kampung. Setiap hari Senin dia  kembali lagi untuk mengayuh becak yang disewa dari teman-temannya Rp 5.000 sehari  di Kota Makassar. Kecuali musim tanan atau musim panen padi, Dg Laja biasanya istirahat hingga 10 hari di kampungnya yang diakui berjarak sekitar 60 km dari Kota Makassar.

Kisah hampir sama diceritakan  5 Daeng Becak lainnya asal Gowa dan Jeneponto,  yang ditemui tidur di becak di tepi-tepi jalan Kota Makassar. Mereka umumnya selain hanya menyebut daerah asal, rata-rata berkeras tak mau menyebutkan nama kampung maupun nama dirinya yang sebenarnya.

Namun dari dialog-dialog singkat dengan mereka, diketahui, untuk urusan mandi sehari-hari dalam kehidupan nomaden bersama becaknya, biasanya menumpang di sumur teman atau pipa air warga yang terbuka.

‘’Saya selama ini kalau mau mandi pagi ke Jalan Landak Baru dekat lampu merah, di sana ada kran air,’’ jelas Daeng Becak yang ditemui masih asyik melengkungkan tubuh di becaknya yang diparkir di emperan salah satu perkantoran di Jl. Veteran Selatan.

Dalam dialog dengan sejumlah Daeng Becak nomaden tersebut, umumnya mengakui untuk urusan ‘beol’ mereka sudah punya lokasi tertentu yang tersedia air untuk membilas, seperti selokan atau tepi pantai.

Kota Makassar di masa Walikota Abustam pernah memiliki sampai 50-an ribu becak. Bahkan lantaran banyaknya armada becak, Pemkot Makassar pernah membagi pembatasan operasi  dengan sebutan ‘Becak Siang’ (warna kuning) dan ‘Becak Malam’ (warna biru).

Sejak beroperasinya Becak Bermotor (Bentor) sejak 5 tahun lalu di Kota Makassar, jumlah becak tradisional tampak makin berkurang di Kota Makassar.  Mereka terdesak dengan minat warga yang lebih banyak memilih Bentor untuk rute angkutan yang dulunya dilayani becak. Lagi pula, banyak ‘pagoyang’ becak yang kini justru menjadi pengemudi Bentor.

Saat ini, diperkirakan sudah ada sekitar 9.000-an unit Bentor yang setiap hari beroperasi di Kota Makassar. Kehadiran Bentor tersebut telah menggeser bahkan mempersempit ruang gerak operasi para ‘pagoyang.’ Selain masih bayak ‘pagoyang’ nomaden tidur di becak pada malam hari, sekarang siang hari terlihat banyak Daeng Becak ngantuk bahkan tertidur di becak lantaran minim penumpang. Warga pun kini banyak yang memilih Bentor untuk angkutan yang dulunya dilayani becak dari jalan hingga ke lorong-lorong.

Dari sebuah catatan laporan perjalanan seorang wartawan Jepang tahun 1937 ke Kota Makassar, diketahui jika becak Makassar yang ukurannya agak kecil itulah yang awalnya diperkenalkan ke Jakarta. Hingga ibukota negara RI pernah diserbu hingga ratusan ribu angkutan becak, dan kemudian dengan susah payah diperangi guna menjadikan Jakarta sebagai ‘Daerah Bebas Becak’ seperti sekarang ini.

Tidak salah jika dalam pekerjaan revitalisasi Pantai Losari untuk pembuatan anjungan Bugis-Makassar sekarang ini, di dalamnya juga Pemkot Makassar juga membangun sebuah Monumen Becak Makassar. Pasalnya, lambat atau cepat, becak Makassar akan tergusur zaman terutama dengan kehadiran Bentor, sejenis kendaraan becak dimotorisasi yang mulanya hanya digunakan masyarakat di wilayah Gorontalo. (Mahaji Noesa/Kompasiana/Kompas, 10 Oktober 2012)