Posts Tagged ‘pensiun’

Gambar

ilustrasi buaya/Foto:riset google – bushwarrios.org

Seorang anak seketika dapat menjadi batu apabila berbuat dosa terhadap ibu kandungnya. Begitu inti cerita rakyat ‘Malin Kundang Si Anak Durhaka’ dari wilayah Sumatera Barat.

Cerita tersebut sampai tahun 70-an masih terasa begitu kuat menyebarkan pesan moral terhadap anak-anak di Indonesia untuk berbakti kepada kedua orangtua, terutama untuk menghormati dan menyayangi ibu yang melahirkannya.

Ada masa anak-anak Indonesia dadanya gentar bernasib seperti tokoh Malin Kundang Si Anak Durhaka yang dalam ceritanya karam menjadi batu, bersama kapal, isteri, pengikut serta semua harta bawaannya. Kisah tersebut diperkuat dengan adanya lokasi berupa batu yang menyerupai orang bersujud yang disebut sebagai lokasi tempat tenggelamnya Si Malin Kundang di pesisir pantai Sumatera Barat .

Sekarang dunia anak-anak di Indonesia telah berubah. Selain cerita yang berisi pesan-pesan moral sowan terhadap ibu dan bapak kian hari makin terasa langka. Anak-anak kelihatannya sudah tak lagi membuka ruang di kepala bagi kisah yang dikaitkan dengan dongeng atau cerita rakyat yang berlatar alam masa lalu.

‘’Cerita omong-kosong. Masa ada orang Indonesia dulu dapat melompat setinggi lebih 10 meter, sedangkan sekarang tidak bisa pecahkan rekor dunia tak lebih 3 meter di arena olah raga lompat tinggi,’’ komentar salah seorang anak usia SMP di Kota Makassar, suatu ketika usai menyaksikan sebuah film berlatar dunia persilatan masa lalu di Indonesia.

Ruang pikir anak-anak sekarang umumnya menginginkan contoh nyata. Kesakralan menghormati ibu oleh anak-anak sekarang tidak lagi seperti dulu yang hanya untuk bertutur saja suara dijaga agar tidak lebih keras melebihi suara ibu. Sekarang, sudah cukup banyak kejadian mutakhir yang sempat terekam, anak-anak tak hanya berani berlaku tak sopan, tapi dalam banyak peristiwa justru telah tega menyakiti ayah dan ibu kandungnya sendiri secara fisik.

Padahal cerita malapetaka menimpa anak-anak yang berdosa kepada orang tuanya, terutama ibunya bukan hanya ada dalam dongeng atau cerita rakyat seperti kisah Malin Kundang Si Anak Durhaka. Di dalam ajaran-ajaran agama ada tuntunan agar anak-anak selalu menghormati atau berbakti kepada orang tua, terutama memberikan perhatian dan kasih sayang yang tinggi kepada ibu yang melahirkannya jika ingin hidup sukses dan bahagia.

Sebenarnya banyak pengalaman dan kisah nyata lainnya masa kini yang belum terungkapkan, bagaimana malapetaka yang menimpa anak yang berdosa kepada orang tua terutama ibunya. Sebaliknya juga, cukup banyak kehidupan sukses dan membahagiakan didapatkan seorang anak yang selalu menyayangi sekaligus mendapat restu dari ibunya.

Akan tetapi kisah-kisah nyata mutakhir seperti itu tak banyak yang dapat disusun dalam bentuk cerita yang memberikan pesan moral secara dini kepada anak-anak agar dapat selalu berbakti kepada kedua orang tua terutama terhadap ibu kandung yang melahirkannya. Tuhan memberikan begitu banyak kekuatan kepada seorang ibu yang dapat ditularkan langsung untuk kebahagian hidup bagi anak-anak yang dilahirkannya.

Salah satu kisah nyata bagaimana pertolongan Tuhan menyertai restu seorang ibu terhadap anaknya dalam keadaan genting sekalipun, dialami seorang paman saya. Sehari-hari saya memanggilnya dengan Om Rahman. Berperawakan tinggi besar. Dalam usia 20-an tahun dia sudah bergabung sebagai seorang militer. Masih terbilang muda ketika dia bertugas sebagai tentara di Kota Parepare. Kala itu suasana masih kacau dengan gangguan gerombolan DI/TII di seluruh Sulawesi Selatan, termasuk di Kota Parepare.

Makanya, menurut cerita si Om Rahman, yang masuk bergabung sebagai tentara saat itu bukan sembarang orang. Maksudnya, orangnya harus berani, punya nyali yang kuat, dan biasanya yang punya ‘ilmu bawaan’ seperti kebal terhadap benda tajam atau kulitnya dari luar tak dapat disentuh jenis besi logam apapun.

‘’Saya diberi sebuah doa-doa dari ayah sebelum meninggal. Saya sering membacanya ketika ada perang. Pernah ketika mendaratkan helikopter, kata banyak orang saya ditembaki bertubi-tubi oleh gerombolan, tapi semua saya tidak rasa,’’ katanya.

Om Rahman, adalah anak tunggal yang ayahnya sudah meninggal dunia ketika dia masih berusia sekitar 10-an tahun. Dia hidup dan dibesarkan oleh ibunya hingga bergabung menjadi tentara di Kota Parepare.

Sejak peristiwa penembakan ketika membawa pesawat helikopter, dia dikenal oleh kerabat dan masyarakat di lingkungannya sebagai orang kebal peluru. Tapi, dia sendiri berkali-kali menyatakan tidak kebal. Hanya karena sasaran tembak belum mengenainya sehingga peluru tidak menembus dirinya.

Pembawaan sehari-harinya, jika bicara selalu dibesarkan. Selalu tak mau kalah dalam debat. Mungkin karena image orang-orang dia kebal, apa yang dibicarakan sekalipun sebenarnya hanya guyonan selalu dianggap benar. Pembawaan seperti itu diistilahkan ‘Orang Borro’ di wilayah Bugis-Makassar. Lagipula dia mengaku suka gonta-ganti pacar di masa-masa awalnya bertugas sebagai tentara.

Suatu ketika di sebuah gedung bioskop di Kota Parepare, sekelompok orang bercerita berbagai hal mengenai buaya. Ke-Borro-an Om Rahman muncul, katanya, setelah mendengar cerita tersebut.

‘’Soal buaya, nih orangnya. Panggil saja saya kalau ada buaya yang mau ditangkap,’’ katanya dengan suara keras. Orang-orang yang mendengar semua terdiam, yakin jika Om Rahman punya ilmu menangkap buaya, selain memiliki ilmu kebal. Padahal menurut Om Rahman, soal buaya itu, dia hanya bercanda.

Setelah bicara begitu, diapun larut ke perut gedung untuk menonton film sore hari bersama pacarnya. Namun ketika film belum mulai, dari pengeras suara di balkon gedung bioskop ada panggilan untuk Om Rahman untuk menangkap seekor buaya yang lagi mendarat di tepi sebuah sungai di Parepare.

Mendengar panggilan itu, Om Rahman menyatakan, ketika itu kepalanya bagai disambar petir. Dia berkesimpulan inilah hari semua kesombongannya sebagai ‘Orang Borro’ akan segera berakhir. Tapi sebagai seorang lelaki Bugis-Makassar sekalipun sebenarnya seluruh hati, jantung dan parunya (seperti bahan baku coto Makassar saja.. hahaa…) sudah copot, tapi dia tetap melangkah tegar.

Dia kemudian mengecek apakah benar ada buaya atau hanya bohong-bohongan. Ternyata, di tepi sungai memang sudah ratusan orang yang berkumpul menonton buaya berukuran besar tengkurap di tepi sungai. Dalam kegalauan pikiran, Om Rahman menyatakan, meminta diri untuk sesaat kembali ke rumah mempersiapkan diri.

Setiba di rumah Om Rahman langsung menangis meraung menjatuhkan diri di pangkuan ibunya. ‘’Hari ini ajal saya sudah tiba,’’ katanya kepada ibunya yang terkejut melihat tingkah anaknya yang lunglai hari itu.

‘’Ada apa,’’ tanya ibunya.

‘’Saya baru bicara bohong kepada orang dapat menaklukkan buaya, ternyata kemudian ada buaya naik dari sungai dan disuruh menangkapnya,’’ jelas Om Rahman, seperti dikisahkannya kembali.

‘’Kalau tak mau mati, jangan kau pergi menangkapnya,’’ kata ibunya.

‘’Tapi saya malu kalau tidak melakukannya,’’ timpal Om Rahman.

‘’Pilih mana, malu atau mati dimakan buaya,’’ kata ibunya lagi.

Om Rahman tetap meraung. Namun, dalam keadaan sulit mengambil keputusan, ibunya lalu mewanti-wanti. ‘’Jika memang kau mau menangkap buaya itu, pergilah tapi lakukan dengan berhati-hati,’’ ujar ibunya.

Beberapa saat kemudian, dengan berbekal sebuah sangkur bayonet, Om Rahman melangkah ke lokasi buaya yang makin dipadati orang. Sesampainya di tepi sungai, Om Rahman layaknya orang tak punya takut mendekat ke tempat buaya yang sedari tadi berdiam tak bergerak. Detik berikut, secara tak terduga buaya bergerak mengibas.

‘’Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya yang berlangsung begitu cepat, saya sudah terbaring di lumpur tepi sungai, berada dibawa perut buaya. Saya memeluk erat buaya tersebut, lalu tangan kanan saya menikamkan sangkur ke badan buaya tersebut. Beberapa saat saya terus menghunjamkan sangkur ke tubuh buaya itu. Saya mulai sadar ketika terdengar teriakan orang-orang yang menonton dan ada yang mengatakan buayanya sudah mati. Ketika saya coba menggoyang-goyang, ternyata buaya yang menindih dalam pelukan saya itu tak bergerak lagi. Ketika saya mendorong, buaya terlempar. Saya segera berdiri dari genangan lumpur bercampur darah buaya, lalu secepatnya berjalan naik dari tepi sungai. Buaya itu ternyata sudah mati. Saya masih sempat ‘Borro’ mengatakan kepada orang-orang sekitar, bahwa saya masih bisa melawan seratus buaya seperti ini. Orang-orang ramai berteriak-teriak dan bertepuk tangan gembira. Sebuah mobil lalu mengarak saya keliling Kota Parepare, dielu-elukan seperti petinju yang menang dari suatu pertandingan bergengsi. Setiba di rumah saya memeluk dan mencium ibu yang wajahnya tak terlihat diliputi rasa khawatir sedikitpun. Dari situ saya berjanji untuk segera pindah tugas keluar dari Kota Parepare. Saya takut kalau-kalau ada lagi buaya muncul lantas saya dipanggil untuk menangkapnya. Sebulan kemudian saya pindah bertugas ke Kota Makassar dan sampai pensiun tidak pernah lagi kembali tugas ke Parepare. Dari peristiwa ini, membuat saya jadi orang yang tidak Borro lagi, dan memahami adanya kekuatan luar biasa diberikan Tuhan kepada setiap ibu untuk disalurkan bagi keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya dalam meniti kehidupan ini,’’ papar Om Rahman dalam suatu kesempatan bercerita dengan mata tampak berkaca-kaca. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 15/12/2011)

makulawu-1

H.Andi Makkulawu dan koleksi batu mulianya/Foto: Mahaji Noesa

makkulawu-2

 

 

 

 

 

 

 

Warga pecinta batu-batu mulia sudah ada sejak lama di berbagai daerah kepulauan Nusantara. Mereka umumnya menjadikan batu-batu alam Indonesia yang bercorak indah sebagai permata cincin.

Tersebut sejumlah nama batu mulia Indonesia, seperti batu akik, kecubung, delima dan peros banyak diburu para penggemar batu mulia untuk dijadikan permata cincin. Selain keindahan corak batu-batu mulia tersebut berbeda satu sama lain dan masing-masing memiliki pesona motif tersediri, juga masih banyak yang memercayai batu-batu alam itu memiliki daya magis.

Di sejumlah daerah dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan misalnya, sampai sekarang masih banyak warga memercayai batu mulia jenis Peros dapat digunakan untuk mengobati mules atau sakit perut. Caranya, dengan merendam batu Peros tersebut ke air putih, kemudian diminumkan kepada penderita.

Selain itu, sejumlah jenis batu mulia lainnya pun masih diyakini tak hanya indah sebagai permata perhiasan cincin di jari tangan, tetapi memiliki daya magis yang dapat memberikan aura tertentu bagi mereka yang memakainya. Semisal pemakai batu mulia jenis tertentu akan selalu lancar-lancar dalam menjalani semua urusan atau usaha yang ditekuninya.

Ada juga batu mulia yang masih diyakini sebagai penolak bala serta penangkal racun binatang berbisa. Juga, ada batu mulia yang masih dipercayai memiliki daya magis menangkal ‘Ilmu Hitam’ yang ditujukan kepada pemakainya.

Batu-batu mulia dalam ukuran sebesar permata cincin harga jualnya ada yang sampai bernilai jutaan rupiah sebutir. Tak heran jika sampai sekarang pun masih dijumpai banyak orang yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat cincin dari besi putih, kuningan, tembaga, perak dan emas yang berpermatakan batu-batu mulia di Sulawesi Selatan.

‘’Batu-batu mulia tersebut tak dipungkiri memiliki keunikan bahkan keanehan yang dapat memperkuat keyakinan kita terhadap kebesaran serta kekuasaan Tuhan pencipta alam semesta ini,’’ jelas Drs. H.Andi Makkulawu (56 tahun).

Mantan Camat Manggala dan Camat Tamalate di Kota Makassar yang meminta pensiun dini tahun 2007 setelah menduduki Jabatan sebagai Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Makassar ini mengaku, sejak kecil sudah tertarik dengan bentuk dan corak keindahan dari batu-batu mulia. Dia bahkan sempat menunjukkan salah satu keunikan dari batu-batu mulia saat ditemui di kediamannya Jl.Korban 40.000 Jiwa Kota Makassar, Selasa siang (12 Juli 2012).

Dia memperlihatkan 7 buah cincinnya yang berpermata batu mulia. Cincin tersebut secara bergantian dimasukkan ke jari manis tangan kirinya. Setiap memasukkan cincin, dia melakukan gerakan pengukuran menggunakan jengkal – renggangan ibu jari hingga jari kelingking tangan kanan. Kemudian menjengkal dari lekukan lengan siku tangan ke arah jari manis tangan kiri yang dipasangi cincin berpermata batu mulia tersebut.

Setiap pergantian cincin dilakukan pengulangan pengukuran seperti itu, dan ternyata satu sama lain tidak memiliki ukuran jengkal yang sama. Padahal panjang jarak dari pergelangan siku ke ujung jari manis yang diukur jelas tidak berubah, yang berbeda adalah cincin yang dikenakan di jari manis itu.

’Jika dilakukan pengukuran seperti itu lantas terjadi pengukuran yang tidak lebih atau ukurannya kurang dari dua jengkal mulai dari lekukan siku ke ujung jari manis yang dipasangi cincin berpermata batu mulia, maka batu mulia tersebut sebaiknya tidak digunakan oleh yang bersangkutan,’’ jelas Andi Makkulawu.

Namun begitu, Andi Makkulawu yang pernah terpilih sebagai Keluarga Harmonis tingkat Kota Makassar, justru tidak tertarik untuk mengoleksi cincin berpermata batu mulia. Ayah dari Aulia Fitriani, S.Sos,Msi, dan Ayudia Pratiwi yang kini sedang menjalani pendidikan akhir di Fakultas Kedokteran UMI Makassar, justru sejak tahun 80-an menjadi pemburu sekaligus kolektor batu-batu mulia dalam ukuran bongkahan batu besar.

Dia menyatakan tidak tertarik dengan cerita lama tentang daya magis yang dimiliki batu-batu mulia tersebut. ‘’Batu-batu mulia termasuk batu-batu alam lainnya memiliki keindahan warna dan keunikan motif yang satu sama lain tidak memiliki persamaan. Disitulah seninya, sehingga saya tertarik untuk mengoleksi batu-batuan dari alam itu sebagaimana bentuk aslinya. Keliru jika kita menyombongkan diri hanya karena memiliki batu alam jenis apa saja yang kecil dari begitu banyak sekali batu bermotif indah ciptaan Tuhan di muka bumi ini,’’ katanya.

Saat ini lebih dari 300 bongkahan batu-batu alam koleksi Andi Makkulawu. Batu-batu tersebut masing-masing diberi dudukan semacam pot yang dibuat sesuai dengan bentuk bongkahan batu yang diperoleh dari alam. Sebuah kamar di lantai atas rumahnya, dijadikan semacam bengkel dan tempat berbagai peralatan membuat dudukan batu-batu alam, termasuk peralatan untuk mengilapkan koleksi batu-batunya tersebut.

Ratusan koleksi bongkahan batu alam yang dimiliki Andi Makkulawu saat ini, selain ditata dalam dua lemari koleksi berukuran besar, diletakkan sebagai asesori yang memenuhi semua sudut rumah mulai dari taman, teras, ruang tamu hingga ruang-ruang terbuka lainnya. Indah sekali, tak hanya terlihat dari aneka warna dan motif. Akan tetapi ada bongkahan batu alam koleksinya yang berbentuk berbagai macam serangga, burung, buaya, buah kenari, hati dan jantung manusia, berbentuk pulau Sulawesi, janin dalam rahim, menyerupai bayi, kepala singa, roti gulung, dan lain-lain.

Terdapat koleksi sebuah bongkahan batu jenis Peros yang jika dipecah dapat dibuat menjadi lebih dari dua ratus permata untuk cincin. Sudah banyak pemilik duit yang datang untuk membeli sejumlah koleksi bongkahan batu-batu alam tersebut, namun selalu ditampik. ‘’Sampai sekarang saya belum mau menjual satu pun koleksi batu-batu alam ini kepada siapapun,’’ tandas Andi Makkulawu.

Dia menyatakan menyukai semua koleksi bongkahan bata-batu alamnya.. Namun, ceritanya, pernah suatu ketika di sore hari dia menemukan ada seorang lelaki tua duduk di ruang tamunya, padahal saat itu pintu masuk terkunci. Lelaki tua itu rambutnya terurai panjang, kedua bola mata polos berwarna putih.

‘’Ketika saya mendekatinya, lelaki tua itu lalu menunjuk bongkahan batu jenis Badara Cera yang saya ambil dari daerah Jawa Barat, dan dia menyatakan itulah batu yang terbaik di antara semua batu yang saya miliki. Setelah itu orang tua tersebut menghilang. Apa makna dari ucapan orang gaib itu, sampai sekarang saya belum paham,’’ tutur Andi Makkulawu.

Di Jepang ada cabang seni menyangkut batu-batuan yang dikenal dengan nama Suiseki dan Biseki. Hobi Andi Makkulawu ini boleh disebut masuk dalam cabang seni Suiseki, yaitu Seni Batu Alami. Mengoleksi batu sesuai bentuk aslinya ketika ditemukan di hamparan alam. Sedangkan Cabang Seni Biseki, batu-batu alam dimungkinkan untuk direkayasa dalam bentuk yang diinginkan. (Mahaji Noesa/Kompasiana 13 Juni 2012)