Posts Tagged ‘pesona’

Gambar

Salah satu areal persawahan di Kecamatan Tamalate, Makassar akan dijadikan areal pemukiman?Foto: Mahaji Noesa

Tanpa melihat foto-foto dokumen atau mendapat penuturan dari para orang tua, warga kota yang kini berusia 25 tahun tidak akan mengetahui jika wilayah Pemukiman, Perdagangan dan Perhotelan di Kawasan Panakkukang yang ramai dan sibuk di Kota Makassar sekarang sebelumnya merupakan areal persawahan.

Areal di timur Kota Makassar tersebut dahulu masuk wilayah Kabupaten Gowa dan sebagian lagi merupakan wilayah Kabupaten Maros. Namun seiring dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 1971 yang mengubah nama Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi Ujungpandang, dilakukan perluasan wilayah kota dari hanya sekitar 24 km bujursangkar menjadi 175,79 km bujursangkar.

Kebijakan yang terjadi di era H.M.Dg.Patompo sebagai Walikota Makassar itu, kota yang tadinya hanya menempati areal bagian barat pesisir pantai Selat Makassar, kemudian dikembangkan ke arah timur dan arah selatan arah Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.

Dua wilayah kabupaten yang masuk pengembangan Kota Makassar awalnya sebagian besar merupakan areal persawahan. Namun seiring dengan pesatnya pengembangan pembangunan kota yang pada tahun 1999 dikembalikan namanya dari Kota Ujungpandang menjadi Kota Makassar, sawah-sawah tersebut secara perlahan kemudian berubah menjadi lahan pemukiman, perkantoran, industri dan perdagangan.

Salah satu areal persawahan yang masih tersisa dalam wilayah Kota Makassar saat ini dapat disaksikan di wilayah selatan, yaitu di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate. Diperkirakan saat ini masih terdapat sekitar 300 hektar sawah yang secara rutin ditanami padi setiap tahun.

Namun, dari sejumlah penuturan dengan sejumlah petani penggarap sawah di Kelurahan Barombong, mereka memperkirakan dalam waktu tidak terlalu lama lagi sawah-sawah yang ada di bekas wilayah Kabupaten Gowa ini juga akan habis, berubah menjadi kawasan pemukiman.

‘’Pemilik sawah di sini umumnya sudah siap untuk menjual sawahnya kepada siapa saja apabila harganya cocok,’’ kata seorang petani penggarap sawah yang lagi panen di sekitar Timbuseng, Kelurahan Barombong. Kemudian menunjuk sejumlah papan bicara di tepi-tepi sawah yang menyatakan ‘Sawah Ini Dijual’.

Berdasarkan suatu pendataan yang dilakukan tahun 2006, lahan pertanian yang ada di Kelurahan Barombong masih lebih dari 700 hektar. Lahan yang didominasi areal persawahan itu mulai ada yang dialihfungsikan tahun 2008, sehingga menyusut tinggal 580 hektar lebih. Tahun 2009 berkurang menjadi sisa 480 hektar, dan tahun 2010 terdata tinggal sekitar 350 hektar sawah di Kelurahan Barombong.

Sawah-sawah yang masih terlihat terolah sekarang di Barombong, menurut penuturan sejumlah warga di Lingkungan Bontoa dan Lingkungan Kaccia Barombong, sebagian besar juga sudah terjual hanya belum ditimbun dan dibanguni. Selain dibeli oleh perorangan, banyak tanah persawahan telah dipindahtangankan kepada develover untuk pembangunan kawasan pemukiman. Termasuk untuk pembangunan tempat rekreasi dan hotel. Justru saat ini sebuah lokasi hiburan dan rekreasi Kolam Pancing Ikan berstandar dalam proses perampungan yang menimbun sawah sekitar 3 hektar di Lingkungan Timbuseng, Barombong.

Selain sudah dibangun ribuan unit perumahan berbagai tipe di sejumlah lokasi yang menimbun lahan-lahan persawahan di Barombong. Pihak pemerintahan Kelurahan Barombong tahun 2012 ini menyatakan telah dihubungi banyak developer mengajukan keinginan untuk membangun kawasan perumahan baru di lokasi yang kini masih merupakan areal persawahan.

‘’Sekarang sudah ada 16 developer yang berkeinginan untuk membuka kawasan perumahan baru di Kelurahan Barombong,’’ jelas Lurah Barombong dalam suatu pertemuan dengan warga di Komplek Perumahan Pesona Barombong Indah beberapa waktu lalu.

Jika masuk wilayah Kelurahan Barombong sekarang, di antara hamparan lahan persawahan tampak hampir semua areal memang sudah terpancang umbul-umbul dari developer atau pengembang pertanda areal tersebut akan dibanguni perumahan.

Gonjang-ganjing pemerintah tak menyediakan lagi KPR bersubsidi untuk pembangunan rumah dengan nilai jual di bawah Rp 70 juta, tampak tak menyurutkan aktivitas para pengembang melakukan penimbunan lahan persawahan untuk pembangunan perumahan di wilayah Kelurahan Barombong. Bahkan akibat kehadiran armada truk hingga sepuluh roda siang malam melakukan pengangkutan material timbunan dalam dua bulan terakhir, sejumlah ruas jalan bekelas kecil di Kelurahan Barombong, seperti Jalan Permandian Alam, Jalan Perjanjian Bungaya, dan Jl. Mappakainga aspalnya rusak berantakan.

Gambar

Persawahan di Jl.Mappakainga Makassar siap dibanguni perumahan/Foto: Mahaji Noesa

Menurut warga di lingkungan Sumanna, wilayah Kelurahan Barombong yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar, saat ini pasaran harga jual tanah di masyarakat antara Rp 150 ribu hingga Rp 200.000 per meter.

Lima tahun lalu, menurut warga di Lingkungan Timbuseng masyarakat menjual tanah persawahannya antara Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per meter. Saat ini harga jual kelebihan tanah oleh develover kepada para user perumahan yang ada di sekitar Lingkungan Timbuseng sudah dipatok Rp 400.000 per meter.

Sawah-sawah penduduk yang ada di Lingkungan Barombong, Bungaya, Pattukangang, Bonto Kapeta, Bontoa, Kaccia, Sumanna, Timbuseng dan Banyoa di Kelurahan Barombong diperkirakan akan senasib dengan areal persawahan yang ada di utara dan timur Kota Makassar yang telah berubah menjadi kawasan pemukiman, perkantoran, pendidikan, perdagangan, bisnis, industri dan wisata.

Daya tarik wilayah Kelurahan Barombong untuk menjadi pusat pengembangan kawasan baru di selatan Kota Makassar diperkirakan akan lebih cepat dan lebih pesat dibandingkan dengan pengembangan Kawasan Panakkukang maupun Tamalanrea dan sekitarnya. Mengingat, Kelurahan Barombong merupakan pintu gerbang Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.

Selain posisi strategis tersebut, magnit penarik pemukim dan pebisnis berebut lahan di Barombong saat ini lantaran wilayahnya yang bersisian langsung dengan Kawasan Pemukiman, Bisnis dan Wisata Tanjung Bunga yang kini sedang bertumbuh. Apalagi Kelurahan Barombong sebentar lagi akan menjadi pusat perhatian dengan kehadiran sebuah stadion bertaraf internasional dengan kapasitas hingga 60.000 penonton. Pembangunan venu modern kebanggaan masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan tersebut direncanakan sudah dapat diresmikan tahun 2013 mendatang.

Sudah ada bayangan kuat, sebentar lagi areal persawahan terakhir di Kota Makassar yang ada di Kelurahan Barombong juga akan ludes. (Mahaji Noesa/Kompasiana,2 April 2012/HL)

Gambar

Inilah Buttu Kabobong di Kabupaten Enrekang/Foto: Mahaji Noesa

Bagi mereka yang sudah pernah berwisata ke destinasi Toraja, Sulawesi Selatan, menyusuri jalan darat melintasi Kabupaten Enrekang, sudah pasti punya kenangan dengan Bukit Seks.

Setiap pelancong atau wisatawan mancanegara yang melintasi jalur ini umumnya terlihat tak pernah melewati keindahan serta keunikan bukit yang menyerupai bentuk kelamin wanita di kilometer 18 dari Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang tersebut.

Selain menyaksikan langsung atau membuat potret kenang-kenangan dengan latar gunung berbentuk V yang ukurannya sekitar 60 juta kali lebih besar dari bentuk aslinya, di lokasi ini dapat disaksikan panorama indah barisan pegunungan dalam beragam bentuk sejauh mata memandang.

Bukit Seks yang dalam sebutan bahasa daerah Enrekang dinamai ‘Buttu Kabobong’ (Berarti: Gunung V) tersebut, sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari banyak bentuk unik dan menawan gunung purba yang ada di wilayah Kabupaten Enrekang.

Hanya saja Bukit Seks ini yang senantiasa mendapat perhatian lantaran dapat dipandang lansung dari tepian jalan poros Enrekang – Toraja. Tepatnya, berada di barisan bukit yang menjadi bagian dari Kawasan Timur Enrekang (KTE). Barisan perbukitan yang merupakan bagian dari kaki Gunung Latimojong (kl. 3.478 dpl) yang berada di Karangan, Desa Latimojong Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang.

Di kaki perbukitan KTE berketinggian antara 400 hingga 3.000-an dpl inilah terletak Kecamatan Baraka, Kecamatan Bungin, Kecamatan Curio, Kecamatan Malua, dan Kecamatan Maiwa sebagai daerah penghasil tanaman perkebunan berupa kopi, cengkeh, vanili, padi, serta beragam jenis sayur-mayur dan buah-buahan. Hasilnya tak hanya disuplai untuk kebutuhan Sulawesi Selatan, tapi juga untuk provinsi lain di Pulau Sulawesi seperti ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Bahkan diantarpulaukan ke Kalimatan, Maluku dan Papua.

Sedangkan poros jalan Negara menghubungkan Kota Enrekang hingga ke Salubarani – gerbang masuk Kabupaten Tana Toraja sepanjang kl.48 km merupakan lokasi Kawasan Barat Enrekang (KBE) dengan ketinggian 200 – 800 dpl, meliputi Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Alla, Kecamatan Enrekang, dan Kecamatan Cendana.

Di pertemuan kaki bukit antara Kawasan Timur dan Kawasan Barat Enrekang ini terdapat ceruk, berupa jurang dengan lebar bervariasi 2 hingga 5 km dan kedalaman 400 hingga 800 meter dari muka jalan negara poros Enrekang – perbatasan Tana Toraja. Di bawahnya mengalir sejumlah sungai, seperti Sungai Mata Allo yang selama ini menjadi sumber air utama bagi irigasi persawahan dua daerah andalan penghasil tanaman padi di Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Pinrang.

Ceruk inilah yang dikenal dengan sebutan Kawasan Wisata Bambapuang dengan latar keindahan gunung-gunung purba dengan ornamen-ornamen alam unik di antara dinamika kehidupan keseharian masyarakat petani pegunungan.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Enrekang merupakan salah satu dari lima kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang tidak berbatasan dengan laut. Dengan luas wilayah 1.786,01 km2, sekitar 85 persen wilayah Enrekang merupakan bukit yang mempunyai kemiringan bervariasi 15 derajat hingga curam.

Meskipun, ceruk Bambapuang yang sudah puluhan tahun dikagumi keindahan alamnya sampai ke mancanegara, namun sampai sekarang belum ada patokan baku batas area yang masuk kawasan tersebut. Ada yang menyebut luasannnya meliputi areal 680 km2, dihitung mulai dari Kampung Kotu (Km 14), Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja hingga Salubarani (Km 48), perbatasan Enrekang – Toraja. Dengan lebaran kawasan dari batas jalan Negara poros Enrekang – perbatasan Toraja hingga 20 km ke arah timur.

Berulangkali Prof. T.C.M. George IS ketika ditemui nginap di Villa Bambapuang (berhadapan langsung dengan Gunung V) setelah selama dua hari berkeliling di kawasan ini, menyatakan kekaguman terhadap keindahan panorama kealamiaan gunung-gunung batu di Kawasan Bambapuang.

‘’Kawasan ini jika dikelola dengan baik tidak kalah menarik dengan kawasan wisata Grand Canyon dan barisan bukit Sierra yang menyedot kunjungan puluhan juta wisatawan mancanegara setiap tahun di Benua Amerika,’’ katanya.

Alumni Reflexology dari daratan Cina ini menyatakan, Kawasan Bambapuang punya kelebihan lantaran di kaki serta ceruk gunung-gunung batunya berlangsung kehidupan masyarakat dengan aktivitas pertanian. Tidak seperti di kawasan Grand Canyon dan bukit Sierra yang gersang dari aktivitas kehidupan.

Sebenarnya, di awal tahun 2000-an saat kepemimpinan Bupati Enrekang Muh.Iqbal, sudah pernah ada pembuatan rancangan design pengembangan Kawasan Wisata Bambapuang seluas kl.20 x 48 km. Bahkan dia sudah merintis pembukaan jalanan di KTE. Dimaksudkan, agar para pelancong dapat menikmati keindahan ceruk Bambapuang dengan bukit-bukit batunya yang indah yang membentang di KBE.

Ada rencana ketika masuk kawasan ini, para pelancong dari arah Makassar ke Toraja, menyusuri jalan yang ada sekarang. Melalui poros ini disaksikan keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu di KTE. Sedangkan jika balik dari Toraja melalui jalan keluar yang dibangun di Kawasan Timur Enrekang untuk meinkmati keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu yang ada di Kawasan Barat Enrekang (KBE). Sayang sekali, dalam kepemimpinan Bupati Enrekang selanjutnya, pengembangan jalan di KTE tersebut tidak berlanjut.

Bahkan, sudah didesign semacam pembangunan pelataran-pelataran untuk memandang view di Kawasan Bambapuang. Ceruk di antara bukit KTE dan KTB direncanakan dibangun fasilitas wisata seperti skylift, pengembangan olahraga gantole (terbang layang), kawasan perkemahan, trikking, jogging, tangga seribu untuk turun-naik lembah, fasilitas arung jeram di sungai Mata Allo serta fasilitas wisata lainnya. Tujuannya, tak hanya sebatas ingin memuaskan pelancong menikmati keindahan Kawasan Bambapuang dengan aman dan nyaman. Tetapi juga lebih utama, para pelancong atau wisatawan ke Toraja tidak hanya melewati kawasan ini, tetapi juga dapat menjadikan sebagai Daerah Tujuan Wisata menikmati keindahan gunung, lembah dan jurang yang terbentang sepanjang mata memandang di Kawasan Bambapuang.

Dengan begitu, keindahan alam kawasan ini pun diharapkan dapat memberi manfaat peningkatan ekonomi bagi masyarakat dan khususnya daerah Kabupaten Enrekang. Tidak seperti selama ini, Kawasan Bambapuang hanya dilintasi begitu saja oleh para pelancong, lantaran tak memiliki fasilitas wisata untuk wisatawan nginap dengan rasa aman dan nyaman.

‘’Tak hanya siang hari, di udaranya yang sejuk malam hari kawasan ini pun dapat hidup apabila didesign sedemikian rupa dengan memanfaatkan bantuan teknologi solar sell untuk malam hari. Kawasan Bambapuang ini jika ditata dengan baik bukan tidak mungkin ke depan akan dapat berkembang sebagai Sierra Khatulistiwa karena panorama bentang alamnya yang tiada duanya di dunia,’’ komentar Prof. George yang mengaku sudah berkeliling ke sejumlah kawasan wisata yang menyajikan panorama gunung-gunung batu di dunia.

Kawasan Bambapuang, tentu saja, termasuk bagian dari hamparan bukit karts seluas kl.145.000 km persegi yang ada di Indonesia. Hanya saja tidak semua bukit yang ada di kawasan ini merupakan bukit batu gamping. Sebagian besar, seperti yang dapat dilihat secara kasat mata merupakan bukit batu cadas. Banyak bukit dengan beragam bentuk dan ornamen alamnya yang indah, sejak dulunya plontos tidak dihidupi tumbuhan tetapi di bagian tertentu menghijau.

Lantaran posisinya yang curam hingga tegak 90 derajat, banyak bukit di Kawasan Bambapuang sejak masa purba hingga saat ini belum pernah dijamah manusia dari kaki hingga puncaknya. Bukit Tontonan di Kelurahan Tanete Kecamatan Anggeraja, misalnya. Salah satu bagian dindingnya seluas kl. 4 hektar tegak lurus menjulang langit bagai dinding sebuah bangunan raksasa.

Ditemukannya banyak situs berupa gua-gua jejak kehidupan masa lalu di Kawasan Bambapuang, membuktikan bahwa gunung-gunung batu di lokasi ini juga merupakan gunung-gunung purba. Contohnya seperti gua Loko’ Malillin Desa Pana Kecamatan Alla, Loko’ Tappaan di Desa Limbuang dan Loko’ Palakka di Desa Palakka Kecamatan Maiwa, serta Loko’ Bubau di Desa Pana Kecamatan Alla.

Banyak pecinta alam yang sudah berpetualang di sini menyebut Kawasan Bambapuang sebagai ‘Negeri Seribu Gua’ lantaran hampir semua gunung batu memiliki gua yang menyimpan adanya tanda-tanda sebagai tempat hunian manusia purba. Antara gua yang satu dengan lainnya memliki pesona keindahan tersendiri dengan stalaktif dan stalagnit yang syurr….Termasuk banyak gua yang bagian mulutnya menjadi bagian dari limpahan air terjun. Di mulut gua Loko’ Tappaan misalnya, terdapat air terjun setinggi 7 m.

Selain itu, dibalik keindahan serta keunikannya hampir semua bukit batu di Kawasan Bambapuang memiliki mitos yang hidup sampai sekarang. Gunung Bambapuang (1.021 dpl) di Kotu, Desa Bambapuang Kecamatan Anggeraja, dalam cerita rakyat setempat disebut dahulu puncaknya menjulang tinggi jauh tak terhingga ke arah langit. Itulah sebabnya, kemudian dinamai Gunung Bambapuang (Bhs.Enrekang berarti: Tangga para Dewa atau Tangga ke Langit).

Namun kemudian Tangga Langit ini patah ke arah utara Tana Toraja. Itulah sebabnya menurut cerita rakyat setempat, seperti yang terlihat sekarang semua puncak gunung di Kawasan Bambapuang mengarah ke arah utara sesuai arah jatuhnya patahan Gunung Bambapuang. Penyebab gunung ini runtuh, ceritanya, karena terjadi cinta incest atau hubungan sedarah kakak-adik di kaki bukit tersebut.

Mitos runtuh atau patahnya Gunung Bambapuang dalam cerita rakyat yang masih hidup sampai sekarang disebut dalam bahasa daerah setempat sebagai peristiwa Lettomi Erang di Langi. Ketika Gunung Bambapuang patah, penduduk atau hewan yang lari meninggalkan lokasi saat Bambapuang patah, apabila menengok ke arah belakang seketika berubah menjadi batu. Dalam mitosnya, itulah sebabnya batu-batuan di Kawasan Bambapuang yang sampai sekarang masih terlihat bentuknya banyak yang menyerupai ujud manusia atau hewan.

Buttu Kabobong di Kawasan Bambapuang yang bentuknya seperti V berukuran super raksasa tersebut, dalam cerita rakyat disebut-sebut justru masa silam berfungsi sebagai stadion tempat pertemuan manusia purba. Sedangkan Bukit Tontonan yang ceper belakangan diistilahkan sebagai ‘Serambi Mayat’ lantaran di bagian bukit ada semacam alur yang berisi banyak keranda mayat purba terbuat dari kayu. Mayat-mayat itu tak ditanam, konon lantaran mereka tak ingin terjepit tanah. Ada gunung dinamai Bukit Sawa lantaran bentuk puncaknya berupa batu cadas bergelombang belang-belang bagai seekor Ular Sawa raksasa. Itulah sebagian dari banyak sekali mitos tentang gunung dan batu-batuan di Kawasan Bambapuang, Enrekang.

Sayangnya, bentang alam panorama gunung, jurang dan lembah di Kawasan Bambapuang kondisinya dari dulu sampai sekarang tidak pernah mendapat sentuhan serius untuk dipoles sebagai obyek Tujuan Wisata Andalan Sulawesi Selatan. Tanpa ada sentuhan khusus kawasan yang masih alamiah dan asri ini sebagai suatu destinasi wisata, bukan tidak mungkin kelak akan berubah fungsi.

Pasalnya, dalam perut bumi gunung-gunung di KTE maupun KTB sudah pernah dieksplorasi mengandung sejumlah barang tambang bernilai tinggi seperti marmer berwarna hitam, hijau dan putih, juga terdapat kandungan minyak tanah, batu bara, dan emas.  (Mahaji Noesa/Kompasiana, 11 Mei 2012)