Posts Tagged ‘polisi’

Gambar

Tampak salah satu penjual jagung muda di Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Selain penjual terompet dan kembang api, sejumlah jalan protokol di kota Makassar, Senin (31/12) diramaikan dengan penjual jagung muda.

Para penjual jagung muda tersebut terlihat bertebaran di ruas-ruas jalan protokol seperti di Jl. Sultan Alauddin, Jl.Urip Sumoharjo, Jl. Cenderawasih, Jl. Ratulangi, Jl. AP Pettarani, dan sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan. Selain itu, di tepian ruas-ruas jalan yang ada di sekitar pasar-pasar tradisional terdapat banyak penjual jagung muda.

Jagung-jagung muda tersebut, menurut penjelasan sejumlah penjual sekitar Pasar Pabaeng-baeng  di Jl. Andi Tonro, berasal dari sejumlah daerah di selatan Makassar, seperti  Kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto yang saat ini lagi musim panen jagung.

Hampir semua titik penjualan jagung muda terlihat laris-manis ramai dikerumuni pembeli. ‘’Sejak hujan pagi hari sudah banyak orang datang membeli jagung muda. Sudah lebih 15 ikat jagung saya yang laku,’’ jelas Dg Aru, seorang penjual  jagung muda di tepi Jl Mesjid Raya, Senin (31/12) siang.

Seikat jagung yang berisi 15 – 20 biji jagung muda dijual seharga Rp 20.000. Ada juga yang menjual eceran seharga Rp 2.000 sebuah jagung muda.

‘’Untuk dibakar dan direbus ramai-ramai nanti malam menunggu datangnya tahun 2013,’’ kata seorang ibu dari wilayah Kecamatan Mariso yang membeli 3 ikat jagung muda di Pasar Terong Makassar.

Gambar

Penjual jagung muda laris manis di Jl Mesjid raya, Pasar Terong Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Langit kota Makassar sejak Senin pagi di akhir Desember 2012 mendung, bahkan terjadi gerimis di sejumlah tempat. Lepas tengah hari, ketika udara mulai kelihatan cerah, terlihat sejumlah jalan sudah dipadati kendaraan. Dalam malam menyambut pergantian tahun 2012 ke 2013 diperkirakan ratusan ribu kendaraan sepeda motor maupun mobil dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan akan memasuki kota Makassar.

Pihak Kepolisian Polrestabes Makassar sebelumnya sudah menghimbau mereka yang akan nginap di hotel-hotel sekitar Pantai Losari untuk sudah masuk satu hari sebelum hari H. Lantaran mulai pukul 17.00 wita semua jalan dalam radius 1 km yang mengarah ke Pantai Losari akan ditutup dari semua jenis kendaraan, dan baru akan dibuka pukul 8.00 pagi, Selasa, 1 Januari 2013.

Pemerintah kota Makassar tidak menyediakan acara hiburan khusus menyambut pergantian tahun di Pantai Losari. Akan tetapi, jika tak hujan pantai kebanggaan warga dan pemerintah kota Makassar tersebut diperkirakan akan dijejali sampai 200-an ribu orang pada malam menyambut datangnya Tahun Baru 2013. Lebih dari 4.000 personil kepolisian telah disiagakan untuk menjaga kelancaran dan keamanan suasana malam pergantian tahun di Kota Makassar.

Jika tak hujan, malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di kota Makassar diperkirakan akan meriah di semua sudut.  Hal itu bisa dilihat dari kepadatan tingkat hunian hotel-hotel. Lebih dari 6.000-an kamar hotel di kota Makassar sudah ter-booking beberapa hari sebelumnya. Larisnya penjualan terompet, kembang api serta jagung muda, mengindikasikan warga kota Makassar sampai ke lorong-lorong akan bersuka ria dalam malam menyambut  datangnya  Tahun Baru, 1 Januari 2013.

Sejumlah komunitas dalam malam menyambut datangnya tahun 2013 melakukan kegiatan religius berupa acara zikir bersama di Kota Makassar.  (Mahaji Noesa/Independen.co/31 Desember 2012)

makulawu-1

H.Andi Makkulawu dan koleksi batu mulianya/Foto: Mahaji Noesa

makkulawu-2

 

 

 

 

 

 

 

Warga pecinta batu-batu mulia sudah ada sejak lama di berbagai daerah kepulauan Nusantara. Mereka umumnya menjadikan batu-batu alam Indonesia yang bercorak indah sebagai permata cincin.

Tersebut sejumlah nama batu mulia Indonesia, seperti batu akik, kecubung, delima dan peros banyak diburu para penggemar batu mulia untuk dijadikan permata cincin. Selain keindahan corak batu-batu mulia tersebut berbeda satu sama lain dan masing-masing memiliki pesona motif tersediri, juga masih banyak yang memercayai batu-batu alam itu memiliki daya magis.

Di sejumlah daerah dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan misalnya, sampai sekarang masih banyak warga memercayai batu mulia jenis Peros dapat digunakan untuk mengobati mules atau sakit perut. Caranya, dengan merendam batu Peros tersebut ke air putih, kemudian diminumkan kepada penderita.

Selain itu, sejumlah jenis batu mulia lainnya pun masih diyakini tak hanya indah sebagai permata perhiasan cincin di jari tangan, tetapi memiliki daya magis yang dapat memberikan aura tertentu bagi mereka yang memakainya. Semisal pemakai batu mulia jenis tertentu akan selalu lancar-lancar dalam menjalani semua urusan atau usaha yang ditekuninya.

Ada juga batu mulia yang masih diyakini sebagai penolak bala serta penangkal racun binatang berbisa. Juga, ada batu mulia yang masih dipercayai memiliki daya magis menangkal ‘Ilmu Hitam’ yang ditujukan kepada pemakainya.

Batu-batu mulia dalam ukuran sebesar permata cincin harga jualnya ada yang sampai bernilai jutaan rupiah sebutir. Tak heran jika sampai sekarang pun masih dijumpai banyak orang yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat cincin dari besi putih, kuningan, tembaga, perak dan emas yang berpermatakan batu-batu mulia di Sulawesi Selatan.

‘’Batu-batu mulia tersebut tak dipungkiri memiliki keunikan bahkan keanehan yang dapat memperkuat keyakinan kita terhadap kebesaran serta kekuasaan Tuhan pencipta alam semesta ini,’’ jelas Drs. H.Andi Makkulawu (56 tahun).

Mantan Camat Manggala dan Camat Tamalate di Kota Makassar yang meminta pensiun dini tahun 2007 setelah menduduki Jabatan sebagai Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Makassar ini mengaku, sejak kecil sudah tertarik dengan bentuk dan corak keindahan dari batu-batu mulia. Dia bahkan sempat menunjukkan salah satu keunikan dari batu-batu mulia saat ditemui di kediamannya Jl.Korban 40.000 Jiwa Kota Makassar, Selasa siang (12 Juli 2012).

Dia memperlihatkan 7 buah cincinnya yang berpermata batu mulia. Cincin tersebut secara bergantian dimasukkan ke jari manis tangan kirinya. Setiap memasukkan cincin, dia melakukan gerakan pengukuran menggunakan jengkal – renggangan ibu jari hingga jari kelingking tangan kanan. Kemudian menjengkal dari lekukan lengan siku tangan ke arah jari manis tangan kiri yang dipasangi cincin berpermata batu mulia tersebut.

Setiap pergantian cincin dilakukan pengulangan pengukuran seperti itu, dan ternyata satu sama lain tidak memiliki ukuran jengkal yang sama. Padahal panjang jarak dari pergelangan siku ke ujung jari manis yang diukur jelas tidak berubah, yang berbeda adalah cincin yang dikenakan di jari manis itu.

’Jika dilakukan pengukuran seperti itu lantas terjadi pengukuran yang tidak lebih atau ukurannya kurang dari dua jengkal mulai dari lekukan siku ke ujung jari manis yang dipasangi cincin berpermata batu mulia, maka batu mulia tersebut sebaiknya tidak digunakan oleh yang bersangkutan,’’ jelas Andi Makkulawu.

Namun begitu, Andi Makkulawu yang pernah terpilih sebagai Keluarga Harmonis tingkat Kota Makassar, justru tidak tertarik untuk mengoleksi cincin berpermata batu mulia. Ayah dari Aulia Fitriani, S.Sos,Msi, dan Ayudia Pratiwi yang kini sedang menjalani pendidikan akhir di Fakultas Kedokteran UMI Makassar, justru sejak tahun 80-an menjadi pemburu sekaligus kolektor batu-batu mulia dalam ukuran bongkahan batu besar.

Dia menyatakan tidak tertarik dengan cerita lama tentang daya magis yang dimiliki batu-batu mulia tersebut. ‘’Batu-batu mulia termasuk batu-batu alam lainnya memiliki keindahan warna dan keunikan motif yang satu sama lain tidak memiliki persamaan. Disitulah seninya, sehingga saya tertarik untuk mengoleksi batu-batuan dari alam itu sebagaimana bentuk aslinya. Keliru jika kita menyombongkan diri hanya karena memiliki batu alam jenis apa saja yang kecil dari begitu banyak sekali batu bermotif indah ciptaan Tuhan di muka bumi ini,’’ katanya.

Saat ini lebih dari 300 bongkahan batu-batu alam koleksi Andi Makkulawu. Batu-batu tersebut masing-masing diberi dudukan semacam pot yang dibuat sesuai dengan bentuk bongkahan batu yang diperoleh dari alam. Sebuah kamar di lantai atas rumahnya, dijadikan semacam bengkel dan tempat berbagai peralatan membuat dudukan batu-batu alam, termasuk peralatan untuk mengilapkan koleksi batu-batunya tersebut.

Ratusan koleksi bongkahan batu alam yang dimiliki Andi Makkulawu saat ini, selain ditata dalam dua lemari koleksi berukuran besar, diletakkan sebagai asesori yang memenuhi semua sudut rumah mulai dari taman, teras, ruang tamu hingga ruang-ruang terbuka lainnya. Indah sekali, tak hanya terlihat dari aneka warna dan motif. Akan tetapi ada bongkahan batu alam koleksinya yang berbentuk berbagai macam serangga, burung, buaya, buah kenari, hati dan jantung manusia, berbentuk pulau Sulawesi, janin dalam rahim, menyerupai bayi, kepala singa, roti gulung, dan lain-lain.

Terdapat koleksi sebuah bongkahan batu jenis Peros yang jika dipecah dapat dibuat menjadi lebih dari dua ratus permata untuk cincin. Sudah banyak pemilik duit yang datang untuk membeli sejumlah koleksi bongkahan batu-batu alam tersebut, namun selalu ditampik. ‘’Sampai sekarang saya belum mau menjual satu pun koleksi batu-batu alam ini kepada siapapun,’’ tandas Andi Makkulawu.

Dia menyatakan menyukai semua koleksi bongkahan bata-batu alamnya.. Namun, ceritanya, pernah suatu ketika di sore hari dia menemukan ada seorang lelaki tua duduk di ruang tamunya, padahal saat itu pintu masuk terkunci. Lelaki tua itu rambutnya terurai panjang, kedua bola mata polos berwarna putih.

‘’Ketika saya mendekatinya, lelaki tua itu lalu menunjuk bongkahan batu jenis Badara Cera yang saya ambil dari daerah Jawa Barat, dan dia menyatakan itulah batu yang terbaik di antara semua batu yang saya miliki. Setelah itu orang tua tersebut menghilang. Apa makna dari ucapan orang gaib itu, sampai sekarang saya belum paham,’’ tutur Andi Makkulawu.

Di Jepang ada cabang seni menyangkut batu-batuan yang dikenal dengan nama Suiseki dan Biseki. Hobi Andi Makkulawu ini boleh disebut masuk dalam cabang seni Suiseki, yaitu Seni Batu Alami. Mengoleksi batu sesuai bentuk aslinya ketika ditemukan di hamparan alam. Sedangkan Cabang Seni Biseki, batu-batu alam dimungkinkan untuk direkayasa dalam bentuk yang diinginkan. (Mahaji Noesa/Kompasiana 13 Juni 2012)