Posts Tagged ‘portugis’

Gambar

Sketsa Benteng Somba Opu masa silam/sumber google-darimakassar.com

Nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang pelaut, bukan sekedar syair dalam gubahan pujangga. Catatan sejarah dan bukti-bukti arkeolog cukup jelas meriwayatkan, betapa bangsa kita sejak masa purba telah menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupannya. Bermula sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, ketika terjadi migrasi – perpindahan penduduk secara besar-besaran, dari daratan Hindia Belakang menuju daratan dan kepulauan lain di wilayah Asia Tenggara bagian selatan.

Pergerakan koloni penduduk ras Mongolia tersebut meninggalkan daratan berlayar menyusur sungai mengarungi lautan mencari daerah-daerah baru yang dianggap aman dan subur untuk membangun kehidupan lebih baik. Mereka berlayar dengan menggunakan perahu-perahu sederhana. Termasuk berlayar menyeberangi lautan bebas ke arah pulau-pulau nusantara, Indonesia. Perpindahan penduduk serupa terjadi pada 300 tahun berikutnya. Pendatang baru di kepulauan nusantara ini disebut dengan Deurto Melayu yang mendesak Proto Melayu, penduduk sebelumnya.

Perkembangan selanjutnya, dengan mengandalkan armada laut penduduk yang telah memulai kehidupan baru di kepulauan nusantara, melakukan komunikasi antarpulau. Mengadakan kontak-kontak sosial, budaya, dagang, dan persahabatan antarsuku bangsa hingga ke Pulau Madagaskar di sebelah barat dan pulau Paskah di sebelah timur. Laut menjadi bagian penting dari perkembangan kehidupan dan peradaban mereka.

IMG00666-20121212-1623

Benteng Somba Opu abad XVI lukisan Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Kerajan-kerajaan yang kemudian tumbuh dan membesar di wilayah nusantara, seperti Kerajaan Sriwijaya di Palembang (Sumatera Selatan) pada permulaan abad VII (683) merupakan kerajaan maritim. Mereka memiliki armada laut yang cukup besar, digunakan untuk memperluas pengaruh, menjalin hubungan kerjasama dan perdagangan dengan kerajaanlainnya di India, Cina, dan Persia.

Demikian pula dengan Kerajaan Majapahit pada abad XIV di Jawa Timur yang terkenal dengan Mahapatih Gajah Mada, dapat mempersatukan nusantara didukung kekuatan armada laut yang tangguh.

Kebesaran Kerajaan Gowa di Makassar Sulawesi Selata) saat mencapai puncak kejayaan pada abad XVII dipimpin Raja Gowa XVII  Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana, juga lantaran ditunjang kekuatan dan kebesaran armada laut.

Dengan memiliki armada laut cukup besar, didukung prajurit-prajurit laut yang gagah berani, Kerajaan Gowa termasuk salah satu kerajaan yang paling luas wilayah taklukannya yang pernaha ada di Indonesia. Terdapat sekitar 70 kerjaan besar dan kecil di kawasan timur nusantara menyatakan berlindung di bawah naungan Laklang Sipuwea – payung kebesaran Kerajaan Gowa.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada pertengahan abad XVII meliputi seluruh kepulauan nusantara di bagian timur, dari Sangir-Talaud Sulawesi Utara) – Pegu – Mindanao (Filipina) di bagian utara, Sula – Dobo – Buru – Ambon – Kepulauan Aru (Maluku) di sebelah timur, Marege (Australia) – Timor – Sumba – Flores – Sumbawa – Lombok (Nusa Tenggara) di sebelah selatan, dan Kutai – Berau (Kalimantan Timur) di sebelah barat.

Pusat pemerintahan Kerajaan Gowa, Kota Somba Opu antara tahun 1550 – 1650 telah menjadi salah satu dari 8 kota teramai di Asia Tenggara. Penduduknya, kala itu, sudah mencapai 160.000 jiwa. Pada saat yang samapenduduk kota Paris hanya sekitar 100.000 jiwa. Sedangkan kota pelabuhan terkenal di nusantara seperti Gresik, Surabaya dan Sunda Kelapa (Jakarta) masing-masing hanya berpenduduk sekitar 50.000 jiwa.

Kota pelabuhan Somba Opu, masa itu, tak hanya ramai dengan lalu-lintas pelayaran iternasional. Tapi juga menjadi kota pusatpertemuan dan transaksi perdagangan masyarakat antarnegara – seperti dari Portugis, Denmark, Inggris, Spanyol, Cina, Arab, pahang, Campa, dan Johor. Masing-masing negara menempatkan orang dan membangun perwakilan dagang di kota Somba Opu. Saat itu terdapat sekitar 3.000 orang Portugis yang berdiam di kota Somba Opu.

Dengan kekuatan armada laut yang kuat dan besar, Kerajaan Gowa pada abad XVI – XVII tampil sebagai Kerajaan Maritim tersohor di kawasan timur nusantara. Mampu menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan tak hanya dengan kerajan-kerajaan di nusantara tapi juga dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, India, dan Gujarrat. (Mahaji Noesa/A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong/2002)

Gambar

Peta kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara/sumber: google-informasi-wakatobi.blogspot.com

Seorang teman, sepulang dari perjalanan di wilayah Kabupaten Wakatobi yang memiliki Taman Laut terindah di dunia, justru berulangkali bercerita mengenai nikmatnya K-Suami yang pertama kali diketahui dari para penjual makanan ringan di Pelabuhan Wanci, ibukota Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

K-Suami (Baca: Kasuami) adalah nama salah satu makanan tradisional masyarakat di Kepulauan Tukang Besi, terdiri atas Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia dan Pulau Binongko yang populer dengan singkatan akronim Wakatobi.

Makanan tradisional tersebut sudah ada sejak tempo dulu. Menurut ceritanya, tatkala sarana transportasi laut masih terbilang terbatas beroperasi menghubungkan jalur ke Wakatobi dengan wilayah lainnya, K-Suami justru dijadikan makanan pokok masyarakat setempat.

Maklum, ubi kayu merupakan salah satu tanaman yang cukup bersahabat mudah tumbuh di daratan pulau-pulau karang yang terhampar di perairan Laut Banda ini. Ubi kayu itulah yang menjadi bahan baku utama pembuatan K-Suami.

Tanaman ubi kayu yang berasal dari daratan Benua Amerika ini, konon mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1835 (Kompas, 06/01/2011). Tapi sejak kapan dan siapa yang membawa bibit tanaman yang berkembang biak dengan batangnya ini ke Wakatobi, belum diketahui secara pasti.

Ada yang menyebut, kemungkinan tanaman ini sudah ada di Wakatobi sejak masa pelayaran bangsa Portugis ketika menjelajahi pulau-pulau di kawasan timur Indonesia dalam abad XVI – XVII. Pulau-pulau di Wakatobi merupakan bagian dari rute pelayaran bangsa Portugis pada masa lalu.

Tanaman ubi kayu sangat disenangi oleh warga di Wakatobi, lantaran dapat dengan mudah tumbuh sekalipun ditanam di atas gumpalan-gumpalan sedikit tanah di antara bongkahan batu-batu karang yang menjadi bagian terbesar daratan kepulauan di Wakatobi.

Menurut cerita penduduk dari wilayah Wakatobi, pada awalnya tanaman ubi kayu yang dikembangkan di daerah tersebut adalah jenis ubi berasa pahit. Ubi kayu pahit, mengandung zat beracun asam sianida lebih dari 100 ppm (Kompas, 06/01/2011).

Kasuami-1

Kasuami berbentuk kerucut, kuliner khas dari Wakatobi/Ft: Google-shnews.co

Masyarakat wilayah Wakatobi sejak dahulu telah paham bahwa ubi kayu pahit tersebut berbahaya jika dikonsumsi secara langsung. Tidak dapat direbus atau digoreng kemudian langsung dimakan– seperti ubi kayu biasa (ubi kayu yang tidak pahit).

Mungkin, dari pengetahuan kondisi seperti itu, sehingga masyarakat di kepulauan Wakatobi dahulu berupaya mengolah potensi ubi kayu pahit yang mudah tumbuh di daratan karang Wakatobi untuk dijadikan makanan pokok yang kemudian disebut sebagai K-Suami.

Cara membuat K-Suami sangat sederhana. Pertama-tama, ubi kayu dikupas dibuang kulitnya, kemudian diparut. Hasil parutan ubi kayu tersebut kemudian dibungkus dengan kain atau semacamnya dalam bentuk segi empat ukuran minimal 20 x 20 cm dengan ketebalan antara 7 sampai 8 cm. Bungkusan kotak-kotak segi empat yang berisi hasil parutan ubi kayu tersebut, lalu dijepit– dipress atau ditindis dengan beban yang berat sehingga zat air yang dikandungnya semua terperas menetes keluar melalui pori-pori kain pembungkusnya. Makin lama dilakukan proses penindisan semakin baik.

Biasanya, kotak-kotak bungkusan parutan ubi kayu itu ditindis minimal selama 24 jam, hingga parutan ubi kayu tak mengandung zat air lagi. Bungkusan kemudian dibuka. Ubi kayu yang sudah dipres berbentuk segi empat disebut Lempe oleh orang-orang di Wakatobi. Jika hendak digunakan, lempe-lempe ubi kayu itu dihancurkan menjadi seperti tepung. Kemudian dikeringkan dengan cara menjemur di bawah terik matahari.

Lempe yang sudah dikeringkan itu kemudian dikukus hingga matang dan jadilah K-Suami yang siap disantap. K-Suami paling nikmat disantap menggunakan lauk ikan rebus.

Hingga saat ini wadah kukusan K-Suami warga di Kepulauan Wakatobi, kebanyakan masih terbuat dari anyaman daun kelapa yang berbentuk kerucut. Bentuk kerucut itulah yang sampai saat ini menjadi ciri khas bentuk makanan K-Suami dari kepulauan Wakatobi.

Dalam perkembangannya, K-Suami yang sebelumnya hanya dibuat untuk bahan pangan rumah tangga, kemudian diproduk untuk dijual ke umum meskipun secara terbatas hanya di pasar-pasar dalam wilayah Wakatobi. Selain dijual dalam bentuk makanan jadi K-Suami, banyak juga yang hanya menjual lempe-lempe bahan baku pembuatan K-suami.

Makanan K-Suami yang mengandung kaborhidrat seperti kandungan beras, ternyata saat ini sudah mulai menyebar ke luar wilayah kepulauan Kabupaten Wakatobi. Di Kota Kendari, ibukota Provinsi Sultra, misalnya kini sudah banyak penjual K-Suami. Pembelinya pun sudah meluas, diminati banyak warga suku-bangsa dari berbagai daerah lainnya.

Dilihat dari pola dasar pembuatan K-Suami, makanan tradisional asal Wakatobi ini sebenarnya dapat dikembangkan tak hanya sebagai alternatif pengganti makanan pokok beras. Akan tetapi, dapat dikemas menjadi semacam penganan khas jika diolah bentuk, ukuran dan rasanya. K-Suami dapat disajikan dalam tampilan kotak segi empat, bulat, atau dalam bentuk lain – tidak seperti model lamanya berbentuk kerucut. Rasanya juga, tentunya, dapat diperkaya. Apalagi ubi kayu yang kini dibuat sebagai bahan baku K-Suami tidak lagi dari jenis ubi kayu pahit. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 8 Januari 2011)

IMG00852-20130103-1032

Dinding bagian barat bekas Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Selain bangunan abad XVII Benteng Ujungpandang, masih terdapat banyak sekali bangunan peninggalan lama, bukti Makassar sebagai Kota Tua. Hanya saja sejumlah bangunan tua lainnya menjadi tak menonjol dengan kehadiran bangunan baru berasitektur modern. Bahkan banyak jejak bersejarah justru dibiarkan ikut tergusur.

Gedung lama Balaikota Makassar di Jl. A.Yani, Museum Kota di Jl. Balaikota, Kantor Pengadilan Negeri di Jl. Kartini, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Gubernuran Sulsel dan Gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Jl. Jend Sudirman, merupakan bangunan-bangunan tinggalan masa lalu yang masih menonjol.

Namun begitu, Klenteng Ibu Agung Bahari di Jl. Sulawesi yang dibangun tahun 1737, Gereja Katedral (1898), Masjid Arab (1907), Mesjid Kampung Melayu dan Pasar Butung (1917). Semua juga merupakan bangunan peninggalan masa lalu yang dapat menjadi bukti dinamika kehidupan Kota Makassar dari masa ke masa.

Bahkan melalui sejumlah bangunan keagamaan tinggalan lama tersebut, dapat diketahui jika kehidupan di Kota Makassar pada ratusan abad lampau sudah terbuka untuk semua etnis maupun agama.

Melalui catatan sejarah Kerajaan Gowa dan Tallo pada abad XVI – XVII, diketahui ketika pusat Kota Makassar masih berada di Benteng Somba Opu,  justru hidup damai berdampingan sejumlah suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Mereka yang terdiri dari bangsa Portugis, Denmark, Inggris, Melayu dan Gujarat  justru diperkenankan pihak kerajaan membuat perwakilan-perwakilan dagang seputar benteng.

Sayangnya, bangunan-bangunan tersebut kini hanya ada dalam catatan lembaran sejarah. Lantaran semua telah hancur seiring dibumihanguskannya Benteng Somba Opu oleh pihak kolonial Belanda pada abad XVII.

IMG00849-20130103-1030

Bastion tersisa dari Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Sebenarnya, sebagaimana dicatat sejarah, sesuai dengan Perjanjian Bungaya (Bongaissck Verdrag) pada 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman, dua markas pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang tidak boleh dihancurkan. Akan tetapi akibat munculnya keserakahan kolonial, Benteng Somba Opu yang menjadi hak Kerajaan Gowa kemudian dihancurkan.

Setelah beratus tahun peristiwa penghianatan itu berlalu, lokasi tempat ditandatanganinya Perjanjian Bungaya yang ada di sekitar Bontoa, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar, pun menjadi tidak jelas lagi. Sejumlah pondasi bangunan baru sudah tegak di sekitar lokasi bersejarah tersebut.

‘’Beberapa tahun lalu di tempat itu masih ada tanda yang menyatakan sebagai Tempat Perjanjian Bungaya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ jelas Amir, seorang warga dari sekitar Timbuseng, Barombong, sambil menunjuk ke arah lokasi di belakang bangunan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Solar.

Satu-satunya pertanda jejak, karena sekitar lokasi masih diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Jalan tembus dari arah Kelurahan Barombong menuju SMA Negeri 20 Makassar yang kondisinya, selain sempit juga aspalnya berlubang-lubang lama tak pernah mendapat perbaikan.

Tergusurnya lokasi Perjanjian Bungaya dengan kahadiran sejumlah bangunan baru sekitar Bontoa, amat disayangkan banyak pihak. ‘’Lokasi ini sama pentingnya dengan Benteng Ujungpandang untuk dipelihara sebagai bagian dari bukti jejak sejarah Kerajaan Gowa masa lalu,’’ kata Sudirman, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Kota Makassar.

Seperti dicatat sejarah, Perjanjian Bungaya merupakan perjanjian pertama yang dibuat di Nusantara dengan penyumpahan menggunakan dua kitab suci agama. Perjanjian ini ditandatangani dengan sumpah oleh Sultan Hasanuddin di depan kitab Al Quran (Islam) dan Speelman di depan kitab Injil (Kristen).

Namun kemudian terjadi penghianatan kolonial, dan memiriskan karena lokasi bersejarah Perjanjian Bungaya itupun kini terancam hilang tergusur derap pembangunan kota. (Mahaji Noesa)