Posts Tagged ‘pusat’

Gambar

Kelelawar beterbangan di atas kota Watansoppeng/Foto:google-uniqpost.com

Ketika kini banyak orang tertarik dan berupaya mencari penampakan-penampakan dari dunia misteri, sejumlah warga di kota Watansoppeng menunjuk kawanan kelelawar yang bergelantungan di sejumlah pohon yang ada di ibukota kabupaten Soppeng tersebut sebagai penampakan dari suatu dunia misteri.

Menurut cerita-cerita warga, kawanan burung kelelawar yang sejak masa kerajaan memilih pohon-pohon yang tumbuh sekitar kota Watansoppeng sebagai tempat beristerahat pada siang hari bukanlah sembarang kelelawar. Burung-burung malam ini diyakini sebagai salah satu dari pasukan pengawal kerajaan yang berwujud kelelawar.

Argumen cerita rakyat itu, disebutkan, bahwa sepanjang masa kerajaan di Soppeng daerah yang menjadi pusat kekuasaan Datu (raja) Soppeng dengan radius 1 kilometer persegi yang kini sudah menjadi bagian dari kota Watansoppeng senantiasa aman dari gangguan atau serangan-serangan musuh.

Al-kisah, kelelawar ini serta merta akan berubah ujud menjadi pasukan pengawal kerajaan melakukan pertahanan sekaligus perlawanan terhadap setiap adanya gerakan pasukan lain yang akan masuk mengacau di wilayah kerajaan Soppeng.

Terpeliharanya keamanan di wilayah kerajaan Soppeng oada masa lalu itulah juga disebutkan sehingga pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905 memerintahkan untuk membuat sebuah bangunan bergaya paduan Eropa dengan arsitektur Bugis di kota Watangsoppeng untuk kantor sekaligus tempat kediaman kontreliur Belanda. Bahkan ada disebut-sebut jika bangunan ini dibuat sebagai salah satu tempat aman untuk peristerahatan Ratu Yuliana (Ratu Belanda). Itulah sebabnya, sebelum bangunan ini dialihfungsikan sebagai museum, warga Soppeng banyak yang menyebut sebagai Villa Yuliana sekalipun Ratu Belanda itu tidak pernah berkunjung ke tempat ini.

Keunikan-keunikan terhadap siklus kehidupan kawanan kelelawar yangmemilih pohon-pohon yang bertumbuh di areal sekitar 1 kilometer persegi di bekas wilayah pusat kekuasaan Datu Soppeng – kondisi sekarang: sebelah utara berbatasan wilayah kelurahan Lapajung (seputar pasar sentral Watansoppeng), sebelah timur denganleurahan Lemba dan kelurahan Lalabata Rilau, sebelah selatan dengan kelurahan Botto, dan sebelah bara dengan kelurahan Bila.

Kelelawar-kelelawar yang hingga saat ini masih memilih yang tumbuh di areal tersebut, pada malam hari beterbangan mencari makn hingga melintas kabupaten lain di provinsi Sulawesi Selatan, tapi pagi hari mereka sudah kembali ke pohon-pohon yang kini tumbuh di wilayah bagian pusat kota Watansoppeng.

Gambar

Ribuan kelelawar bergelantungan di pohon-pohon tengah kota Watansoppeng/Foto: google – irres.blogspot.com

Tidak kembalinya kelelawar ini ke phpn-pohon tersebut oada siang hari, sampai sekarang dijadikan sebagai pertanda akan adanya bahaya atau bencana yang akan melanda warga di kabupaten Soppeng.

Sehari sebelum dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah terhadap anggota DPRD kabupaten Soppeng periode 2001 – 2009 sejumlah pohobn yang biasnya dipadati kelelawar pada siang hari di kota Watansoppeng sepi dari burung yang menggelanntungkan kepala kee bawah saat beristerahat ini. Pertanda apa? Warga kabupaten Soppeng dibuat terkejut mendengar kabar bahwa seorang peserta angikut acara pelantikan dan pengambilan sumpah anggota DPRD kabupaten Soppeng periode 2004 – 2009 mendadak pingsan di gedung DPRD kabupaten Soppeng, dan selanjutnya haritiu juga menghembuskan nafas terakhir.

Beberapkali warga kota Watansoppeng berupaya memindahkan kelelawar-kelelawar tersebut ke pohon-pohon yang tumbuh di luar areal bekas wilayah pusat kekuasaan Datu Soppeng, selalu gagal. Dan , kelelawar-kelelawar itu sampai sekarang hanya mau menempati pohon-pohon yang tumbuh di lokasi bekas pusat kekuasaan Datu Soppeng yangdi dalamnya terdapat Batu LamumpatuE – batu tempat pelantikan Datu Soppeng di depan istana Raja Soppeng.

Di balik cerita misteri dan cicit-cicit bunyi kelelawar yang menghiasai pohon-pohon di kota Watansoppeng pada siang hari ternyata juga ada mitos yang menyebut, bagi siapa saja yang terkencingi kelelawar dari pohon-pohon tersebut pertand akan memperoleh keberuntungan yangtak terduga. Sedangkan bagi mereka yang tubuhnya ditimpa ‘tahi’ kelelawar merupakan alamat akan bertemu jodoh dengan pria atau wanita asal kabupaten Soppeng.

Mau percaya atau tidak, ini memang masih merupakan cerita penuh misteri dari penampakan unik kehidupan satwa berkulit legam kelelawar di kota Watansoppeng. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar Edisi No.280 Thn VI/Minggu II, September 2004)     

  

 

bilibili

Bendungan Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Foto:Armin Sulfikar Yahya)

Peringatan waspada ancaman banjir dan longsor Gunung Bawakaraeng dalam puncak musim hujan di Sulsel antara Desember 2012 – Pebruari 2013 dari BMKG Pusat, ternyata bukan prakiraan biasa. Sudah ada rekahan-rekahan besar berpotensi runtuh di dinding kaldera gunung berketinggian lebih 2.830 dpl yang berlokasi di hulu Sungai Jeneberang tersebut.

Awal Pebruari 2013 pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) merilis informasi kepada wartawan di Makassar, ada tanda-tanda kuat akan terjadi runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng. Beberapa bagian sudah merekah dan bisa saja tiba-tiba runtuh atau longsor apabila tertimpa hujan berintensitas tinggi.

Runtuhan pertama Gunung Bawakaraeng terjadi 26 Maret 2004 menimbun jurang sedalam 600 meter selebar 2 kilometer. Runtuhan Bawakaraeng ini merupakan peristiswa terbesar kedua di dunia setelah peristiwa longsoran kaldera Tateyama, Jepang, tahun 1985 dengan estimasi volume runtuh sekitar 400 juta kubik. Sedangkan volume runtuhan Gunung Bawakaraeng lebih dari 230 juta kubik.

Longsoran Bawakaraeng tersebut menimbun alur Sungai Jeneberang dengan mata air utamanya yang menjadi sumber air Dam Bilibili yang mulai berfungsi sejak tahun 1999 di bagian hilirnya. Akibatnya, dam multifungsi yang dibangun dengan dana pinjaman luar negeri sekitar Rp 780 miliar itu mengalami kemerosotan fungsi-fungsinya sebagai waduk pengendali banjir, penyedia air irigasi, PLTA, pemasok sumber air baku, kolam perikanan, dan obyek wisata.

Bayangkan, perut bendungan yang dirancang berdaya tampung air 346 juta kubik tersebut kini sudah terisi sekitar 82 juta kubik lumpur. Lumpur yang masuk tersebut berasal dari material runtuhan Bawakaraeng tahun 2004. Artinya, jika dirata-ratakan setelah 14 tahun longsornya Bawakaraeng, maka ada sekitar 6 juta ton lumpur yang masuk ke perut bendungan setiap tahun.

Padahal, pascalongsor Bawakaraeng 2004 sudah juga dialokasikan dana lebih dari Rp 450 miliar untuk membangun beberapa sabo dam penghambat percepatan sedimen ke perut bendungan dan sejumlah sand pocket atau kantong-kantong penahan pasir. Namun laju pergerakan material tetap saja volumenya dari tahun ke tahun membesar bergerak masuk perut bendungan yang memiliki luas genangan 16,5 km.

Sejumlah kalangan menghitung, jika tahun-tahun mendatang dengan upaya-upaya maksimal tetap saja  dihitung rata-rata 10 juta kubik material akan masuk ke perut bendungan setiap tahun, maka dalam waktu 10 tahun lagi dam Bilibili sudah tak mampu menjalankan fungsi-fungsinya sebagaimana rancangan awalnya. Seperti sebagai penyedia air irigasi untuk seluas 25 ribu hektar persawahan, PLTA 16,3 MW, dan penyedia sumber air baku 3.300 liter/detik. Demikian halnya sebagai dam pengendali banjir yang awalnya dirancang dapat mengurangi sapuan banjir lebih dari 2000 meterkubik/detik.

Sekarang saja hitungan-hitungan itu sudah melorot jauh dari disain awalnya. Bahkan bendungan yang dibangun atas kerjasama pihak Japan International Coorperation Agency (JICA) dengan rancangan usia 50 tahun, diperkirakan sudah tak berfungsi sebelum memasuki usia 30 tahun. Hitungan itupun dengan catatan apabila secara kontinyu dilakukan upaya keras penanggulangan pergerakan sedimen longsoran ke perut dam Bilibili yang dibangun dengan kemampuan tampung sedimen maksimal 29 juta kubik.

Adi Umardani, pejabat pembuat komitmen pengendalian sedimen Bawakaraeng mengatakan saat ini dibutuhkan 7 sabo dam serta 5 dam pengendali dalam upaya mengendalikan pergerakan material ke dalam bendungan Bilibili. Untuk itu dibutuhkan biaya ratusan miliar.

Dalam kondisi dam Bilibili senantiasa terancam kehilangan fungsi-fungsi pascalongsor Bawakaraeng 2004, belum pernah ada pihak terkait yang menganalisasi layak atau tidaknya untuk tetap menghambur duit beratus miliar setiap tahun di alur Sungai Jeneberang atas nama penyelamatan dam Bilibili dan ancaman banjir ke wilayah Makassar, Gowa, Maros, dan Takalar seperti yang pernah terjadi tahun-tahun 70-an saat bendungan Bilibili belum dibuat.

Ironisnya, seiring dengan usulan tambahan pembangunan sabo dam dan sands pocket di alur Sungai Jeneberang demi penyelamatan dam Bilibili, pihak berkompeten di BBWSPJ pun mengungkap, saat ini ada retakan-retakan di sisi barat Gunung Bawakaraeng yang berpotensi longsor seperti longsoran tahun 2004. Tidak main-main, ancaman longsor susulan itu diperkirakan volumenya antara 90 juta hingga 150 juta kubik.

Tidak ada penjelasan pasti kapan longsor susulan Bawakaraeng dapat terjadi. Ir.Haeruddin C Maddi, Kepala Satker PSDA BBWSPJ Sulsel mengatakan, jika hujan turun dengan intensitas tinggi warga di sekitar kaki Gunung Bawakaraeng harus waspada karena retakan-retakan yang ada di Bawakaraeng sekarang bisa saja tiba-tiba runtuh.

Artinya, jika runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng terjadi tahun depan atau besok misalnya, maklum tak bisa diprediksi waktunya, maka cerita upaya penanggulangan dengan ratusan miliar dana yang telah, sedang dan akan dialokasikan ke alur Sungai Jeneberang harus terkubur sia-sia dengan longsoran bencana susulan yang memang sudah dinanti di dam Bilibili. (Mahaji Noesa/Koran Independen Edisi 22, 18 – 24 Februari 2013/http://www.independen.co/news/humaniora/lingkungan/item/1716-bendungan-bilibili-menanti-longsor-susulan) 

 

Gambar

Mariang Polong di Benteng Somba Opu (Foto: Riset)

Tercatat sejarah, sebanyak 272 pucuk meriam besar dan kecil ikut dihancurkan ketika Kolonial Belanda membumihanguskan Benteng Somba Opu yang menjadi pusat Kerajaan Gowa pada 24 Juni 1669. Termasuk sepucuk meriam bernama ‘Mariang Anak Mangkasara’ (Meriam Anak Makassar) dirampas oleh Belanda.

Meriam (jagur) yang beratnya sekitar 500 kg dan memiliki panjang sekitar 6 meter tersebut, merupakan yang terbesar di antara semua meriam yang mengawal pertahanan Benteng Somba Opu yang berbentuk persegi empat dengan luas lebih dari 113 ribu meter bujur sangkar.

Meriam yang dibuat tahun 1593 lubang pelontar mesiunya berdiameter besar, memiliki jangkauan lontar yang jauh serta kekuatan daya rusak yang besar. Jika beraksi, menimbulkan gelegar yang dahsyat hingga radius puluhan kilometer, sehingga juga dijuluki sebagai ‘Meriam Keramat.’

Namun, sekalipun ada petunjuk meriam tersebut lolos dari aksi penghancuran oleh kolonial Belanda tapi saat ini tak diketahui dimana rimbanya. Dalam catatan lama ada disebut pascaperang Somba Opu (1669) — perang maritim terbesar yang pernah terjadi di wilayah Asia sepanjang sejarah, meriam itu disingkirkan ke Batavia, lalu kemudian entah dibawa kemana. Sampai sekarang tidak ada sedikitpun petunjuk arah raibnya meriam kebanggaan ‘Anak Makassar’ tersebut.

Di lokasi puing bekas Benteng Somba Opu yang terdapat di Kelurahan Somba Opu Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, saat ini hanya dapat disaksikan dua buah meriam (jagur). Satunya, meriam yang dijadikan asesori di halaman depan Museum Karaeng Pattingaloang yang terdapat di areal bagian barat bekas Benteng Somba Opu. Akan tetapi, meriam tersebut, bukan bagian dari meriam yang pernah mengawal di Benteng Somba Opu. Meriam ditemukan dalam suatu penggalian yang dilakukan warga secara tak sengaja pada tahun 90-an di Jl. Ince Nurdin, Kota Makassar, sekitar 10 km di arah utara lokasi Bekas Benteng Somba Opu.

Dudukan meriam justru merupakan hasil rekonstruksi tahun 1991 yang dilakukan oleh H.Mochtar Ibrahim Dg Naba dari STM Pembangunan Ujungpandang.

Berikutnya, sebuah meriam (jagur) yang panjangnya 1 meter lebih. Meriam yang bagian pangkalnya terlihat tak sempurna (patah ?) santer disebut oleh penduduk yang bermukim sekitar lokasi bekas Benteng Somba Opu sebagai ‘Mariang Polong’ (Bahasa Makassar, berarti Meriam Patah).

Meriam ini sejak dulu, menurut cerita penduduk, sudah tergeletak di sekitar sebuah makam yang saat ini berada sekitar 15 meter di depan Museum Karaeng Pattingaloang, di bekas Benteng Somba Opu. Makam yang telah dibuatkan penutup dalam bentuk bangunan gardu permanen, disebut-sebut sebagai makam dari keluarga Raja Gowa tempo dulu. Namun pihak Museum Karaeng Pattingaloang hingga sekarang tidak punya data pasti mengenai siapa yang dimakamkan di tempat tersebut.

Yang pasti, cerita dari penduduk sekitar, meriam tersebut dari dulu hingga saat ini terutama sore hari — jelang malam Kamis atau Malam Jumat, selalu terlihat ramai disiarahi orang-orang yang datang dari Kota Makassar maupun dari wilayah Kabupaten Gowa dan sekitarnya. Mereka menabur bunga dan membakar lilin merah di badan meriam. Tak heran jika setiap saat terasa hembusan bau bunga  pandan segar di sekitar meriam, dan badan meriam dipenuhi lelehan bakaran lilin merah.

Ada yang mengisahkan, bahwa pada tahun 70-an, sebelum dilakukan eskavasi (penggalian) lokasi bekas Benteng Somba Opu, Mariang Polong ini pernah diangkut oleh sekelompok orang dibawa ke wilayah Balang Baru, Kota Makassar – sekitar 3 kilometer arah utara benteng. Mereka memindahkan dengan maksud agar tidak terjadi pemberhalaan terhadap meriam tersebut.

Namun dalam beberapa waktu kemudian, Mariang Polong dikembalikan ke tempatnya semula di dalam areal bekas Benteng Somba Opu, lantaran orang-orang yang tadinya memindahkan meriam tersebut dikabarkan terserang penyakit dan semua tewas.

Banyak pihak menyayangkan lantaran hingga saat ini pihak UPTD Pengelola Benteng Somba Opu termasuk Museum Karaeng Pattingaloang, belum memiliki data yang jelas mengenai Mariang Polong yang justru berada di moncong museum. Termasuk amat menyayangkan karena ada semacam pembiaran terhadap orang-orang untuk menyakralkan, memuja-muja, bahkan meng-kramat-kan meriam yang belum jelas asal-usulnya tersebut.

Lebih aneh lagi, ada yang mengubah posisi meriam yang sebelumnya hanya digeletakkan di atas gundukan batu, kini mulut meriam dimasukkan ke belahan batang sebuah pohon besar yang tumbuh di dekatnya. Sehingga posisinya, membuat kesan bertemunya P and V. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 10 Oktober 2011)