Posts Tagged ‘putih’

Gambar

Telur ayam kampung (Foto:google-suliana-milittlesunshine.blogspot.com)

Jika menyimak resep-resep lawas untuk menjaga kesegaran tubuh khususnya bagi kaum pria, sebagian besar menggunakan bahan campuran madu dan kuning telur ayam kampung. Dianjurkan untuk menggunakan madu asli. Masalah, sekarang sudah banyak madu palsu, yaitu madu asli yang sudah diberi campuran cairan lain untuk memperbanyak volumenya. Masih jarang terdengar peringatan untuk tidak menggunakan telur ayam kampung palsu. Padahal sekarang telur ayam ras ternyata dapat diubah menjadi mirip telur ayam kampung.

Seseorang yang sudah terbiasa melakukan pengubahan seperti itu, mengungkapkan rahasianya. Proses pengubahan telur ayam ras menjadi mirip telur ayam kampung justru amat mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Begini caranya, kumpulkan telur ayam ras yang berukuran kecil mendekati ukuran umumnya telur ayam kampung. Telur-telur tersebut kemudian direndam sekitar 15 hingga 30 menit ke larutan air cuka makan.

Kulit luar telur-telur ayam ras yang berwarna kemerahan jika direndam cuka dalam waktu tersebut akan melemah. Kemudian, jika digosok-gosok secara lembut dengan  jari tangan secara merata, maka bagian luar kulit ayam ras yang berwarna kemerahan akan terkelupas. Lalu, kulit telur ayam ras tersebut berubah menjadi putih seperti warna kulit telur ayam kampung.

Dalam waktu sekitar setengah jam, dengan santai sambil berbincang-bincang seseorang dapat memeroses perubahan lebih dari sepuluh butir telur ayam ras menjadi seperti telur ayam kampung.

Dalam proses untuk mengubah warna kulit telur ayam ras menjadi seperti warna kulit ayam kampung, jangan terlalu lama merendamnya di air larutan cuka makan. Perhatikan, jika gelembung-gelembung yang keluar dari telur ayam ras yang direndam ke larutan cuka berkurang, proses penggosokan mengeluarkan kulit berwarna merah yang tipis tak lebih dari kulit bawang dapat segera dimulai.

Penggosokan dilakukan secara perlahan-lahan dan  sesekali mencelupkan telur ayam ras yang digosok ke dalam cairan cuka, hingga semua kulit berwarna merah keluar merata berganti menjadi warna putih menyerupai warna kulit telur ayam kampung.

Apabila telur ayam kampung direndam terlalu lama dalam larutan akan menjadi lembek, elastis, dan mudah pecah. Bahkan jika direndam dalam waktu yang lama, telur dapat pecah sendiri dalam cairan cuka.

Mau buktikan, silakan coba. Setelah itu, paling penting sebenarnya bagaimana dapat mengetahui tanda-tanda dari  telur ayam ras yang telah diubah menjadi mirip telur ayam kampung agar konsumen tidak tertipu apabila telur ayam kampung palsu itu dijual ke pasaran. Soalnya, di pasaran sulit untuk membedakan secara fisik antara telur ayam kampung asli dan yang dibuat mirip atau dipalsukan. Bagi yang mengatahui tanda-tanda fisik telur ayam kampung palsu seperti itu, silakan berbagi…….

Berikut adalah sebagian dari lukisan dan sketsa Pangeran Diponegoro dan isterinya Ratnaningsi saat ditawan Belanda di komplek Benteng Fort Rotterdam (Benteng Ujungpandang).

Gambar

Pelukis supranatural Drs.Bachtiar Hafid/Foto-foto: Mahaji Noesa

Gambar

Pangeran Diponegoro dan istrinya Ratnaningsi/Lukisan Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Hitam putih Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Bachtiar Hafid

Gambar

Lukisan Bachtiar hafid

Gambar

Tampak bendera Merah Putih dinaikkan setengah tiang pada 11 Desember 2012 di halaman gedung Balai Sidang 45 kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Suasana kota Makassar hari ini, Selasa (11/12) seperti suasana peringatan hari ‘Peristiwa Korban 40.000 Jiwa’ tahun lalu. Umumnya kantor-kantor pemerintah dan swasta tidak lagi menaikkan bendera merah putih setengah tiang sebagai tanda berkabung sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya.

Sepanjang jalan protokol di Jl.Jenderal Sudirman, termasuk di halaman gubernuran (Rujab Gubernur Sulsel) tak tampak bendera merah putih dinaikkan setengah tiang. Demikian juga kantor-kantor pemerintah dan swasta yang ada sepanjang jalan Urip Sumoharjo, Selasa (11/12) umumnya tidak menaikkan bendera merah putih setengah tiang. Termasuk di halaman Gedung DPRD Provinsi Sulsel dan Kantor Gubernur Provinsi Sulsel, bendera merah putih di halaman kedua kantor tersebut tetap dinaikkan penuh tiang.

Kecuali di depan kampus Universitas 45 dan depan gedung Balai Sidang 45 di Jl. Urip Sumiharjo, Selasa (11/12) menaikkan bendera merah putih setengah tiang, sebagai pertanda hari peringatan ‘Peristiwa Korban 40.000 Jiwa’ di Sulsel.

Hanya rumah-rumah penduduk di dua jalan – yaitu Jl.Datuk Ribandang dan Jl. Langgau yang mengapit monumen Peristiwa Korban 40.000 Jiwa yang kelihatan semarak menaikkan bendera merah putih setengah tiang.

IMG00632-20121211-1200

Rumah warga di Jl.Datuk Ribandang Makassar menaikkan bendera setengah tiang pada 12 Desember 2012/Foto: Mahaji Noesa

 

Walikota Makassar H. Ilham Arief Sirajuddin tampak menghadiri upacara peringatan di monumen Peristiwa Korban 40.000 Jiwa, di bawah udara kota Makassar yang bercuaca mendung. Kemudian dilanjutkan ziarah ke TMP Panaikang, Makassar.

‘’Saya tidak tahu kalau hari ini, 11 Desember merupakan hari bersejarah khususnya bagi masyarakat di Sulawesi Selatan, kata Awal (22), salah seorang mahasiswa PTS di kota Makassar. (Mahaji Noesa/independen.co)

Gambar

Kuda putih/google-pengging.com

Jantan perkasa dalam permainan seks, menjadi impian banyak lelaki sejak jaman dulu. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya tinggalan atau warisan tradisional ramuan herbal untuk ‘obat kuat’ lelaki di berbagai daerah di Indonesia.

Suatu waktu, ketika melakukan perjalanan ke wilayah Bosowa (Kabupaten Bone, Soppeng dan Wajo) di Provinsi Sulawesi Selatan, saya ikut terlibat dalam perbincangan sejumlah orang mengenai adanya ‘Kayu Sanrego’ yang disebut-sebut apabila lelaki menggigit-gigit potongan kecil dari kayu itu, dapat menimbulkan kekuatan seks seperti kekuatan ‘Kuda Sanrego’ yang pernah hidup di wilayah tersebut pada masa lampau. Kuda yang kini masih tetap ada dalam cerita rakyat di Bosowa, konon mampu secara non-stop menggauli hingga 8 ekor kuda betina dalam seharinya.

Akan tetapi dimana dapat diperoleh dan bagaimana sesungguhnya bentuk ‘Kayu Senrego’ tersebut, dari banyak orang yang saya tanyai hingga ke pelosok Bosowa, belum ada yang memberikan gambaran atau penjelasan pasti. Ada yang menyebut pohonnya besar tumbuh liar di hutan alam dan kini sudah langka untuk ditemui. Namun sejumlah orang menyebut, tumbuhan ‘Kayu Sanrego’ itu banyak tumbuh di sekeliling lingkungan pemukiman di wilayah Bosowa. Rahasia ni yee…..

Seorang kakek di Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo pernah menunjuk pohon Bunga Terompet yang dalam bahasa Bugis disebut sebagai Pohon Tampong-tampong, sebagai salah satu ‘obat kuat’ lelaki yang dikenal sejak dulu di wilayah Bosowa. Akar pohon tampong-tampong tersebut seperti akar Gingseng bercabang menusuklurus hingga lebih satu meter ke dalam tanah.

Akar pohon ini, katanya, yang dikeringkan lalu diiris-iris kecil lebih kecil dari ukuran batang (kayu) Korek Api. Apabila lelaki menggigit-gigit irisan akar kayu yang telah dikeringkan tersebut — beberapa saat sebelum berhubungan seks, maka ‘permainan’ yang dilakukan tidak akan mencapai klimaks orgasme sekalipun sudah berlangsung berjam-jam, tanpa ia meneguk air putih.

Selain akar, biji dari buah pohon tampong-tampong (Bunga Terompet) yang berduri lembut disebut bermanfaat untuk campuran sejumlah obat penambah gairah lelaki maupun wanita, sayangnya tanpa menyebut bagaimana cara pemanfaatannya.

Sedangkan bunga Tampong-tampong (dua macam) – ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna ungu. Bunga Terompet berwarna putih, katanya, banyak orang di wilayah Bosowa dahulu yang terkena penyakit sesak nafas (sejenis asma) menjadikan sebagai obat penyembuh. Caranya, bunga itu diiris-iris lalu dijemur hingga kering, kemudian dicampur tembakau dijadikan rokok lintingan kemudian diisap-isap secara rutin.

Sedangkan bunga tampong-tampong yang berwarna ungu, pada jaman lalu, kebanyakan dipakai untuk menggosok-gosok gigi kuda. Kuda yang giginya telah digosok bunga tampong-tampong berwarna ungu tersebut, menurut sang kakek, tenaganya tambah kuat terutama bagi kuda-kuda yang akan diikutkan dalam perlombaan pacuan kuda.

Apa sesungguhnya kandungan yang terdapat dalam pohon tampong-tampong, hingga saat ini masih misteri. Saya belum pernah mendapatkan catatan hasil kajian ilmiahnya.

Yang pasti, dalam banyak resep tradisional ‘Obat Kuat’ lelaki, unsur/bahan Merica, Kuning Telur Ayam, dan Madu yang dijadikan inti ramuan  tidak diragukan lagi, karena mengandung garam mineral berpengaruh kuat merangsang syaraf dan kontraksi otot, serta garam-garam empedu pembentuk hormon seks.

Aha… lelaki dengan ‘Obat Kuat’ rasanya sangat egois. Padahal, seperti disiratkan Remy Sylado melalui karya ceritanya berjudul ‘Mata Hari’ yang pernah dimuat secara bersambung di harian Kompas, dalam permainan seks kemenangan bukan karena pihak lelaki yang kuat atau sebaliknya si perempuan yang unggul. Nikmatnya, jika setelah melakukan permainan tersebut keduanya merasa kalah.

Kita simak beberapa resep tradisional ‘obat kuat’ yang menggunakan merica, telur ayam dan madu, berikut ini:

1. Untuk kepuasan berhubungan seks, ada resep yang menganjurkan agar meminum adonan yang dibuat dari 5 siung bawang putih yang dihaluskan, kemudian diaduk dengan sebutir kuning telur ayam kampung serta satu sendok makan madu murni (royal jelly). Untuk sekali diminum, beberapa saat sebelum berhubungan seks dengan pasangan.

2. Adonkan campuran sekitar 30 butir Merica (Piper nigrum L) atau lada hitam yang telah ditumbuk halus , dengan biji dari 2 tangkai Petai Cina (Leucaena Leucocephala/Lmk) kering yang telah dihaluskan. Lalu diaduk dengan dua butir Telur (kuningnya) Ayam Kampung ditambah 1 sendok makan Madu Asli. Adonan ini sangat dianjurkan untuk diminum oleh pria yang intensitas permainan seksnya cukup tinggi.

3. Adonan 1 sendok makan perasan air Kunyit (Curcuma Domestica Val) dengan setengah sendok makan air Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia/Swingle), ditambah 1 butir Telur (kuningnya) Ayam Kampung dan 1 sendok makan Madu Asli. Jika resep ini diminum secara rutin setiap hari dapat menjamin keperkasaan lelaki dalam berhubungan seks dengan pasangannya.

4. Adonan sekitar 30 gram Merica yang dihaluskan, 1 sendok makan halusan Petai Cina/Lamtoro, dua butir (kuning) Telur Ayam Kampung dan 1 sendok makan Madu Asli. Ramuan ini dapat membuat pria senantiasa jantan perkasa dalam berhubungan seks, jika diminum setiap pagi.

5. Haluskan 10 gram Bawang Putih, 10 gram Adas (Foeniculum Vulgare Mill), 20 gram Lada Hitam atau Merica, 20 gram Pulosari (). Halusan dicampur hingga merata lalu ditirisi air panas secukupnya. Kemudian diaduk dengan 2 butir (kuning) Telur Ayam Kampung dan 10 gram Madu Asli. Resep ini jika diminum secara rutin setiap pagi atau pada malam hari sebelum tidur, akan menambah kekuatan, bahkan dapat menghidupkan gairah pria yang lemes sekalipun.

Apa sesungguhnya yang terkadung dalam bahan herbal Merica, Kuning Telur dan Madu, sehingga sejak masa silam nenek moyang bangsa Indonesia telah memiilihnya sebagai bahan inti ramuan lelaki yang ingin perkasa dalam permainan seks?

Dari catatan penelitian ilmiah, diketahui, setiap kilogram Merica mengandung 460 mg kalsium, 359 kal (kalori), lemak, 6,5 gram, 11,5 gram protein, 16 ,8 besi, 200 mg phosphor, 64,4 gram, H.A 0,2 mg vitamin B1.

Sedangkan dalam setiap 100 gram Madu (asli) mengandung 5 gram kalsium, 294 kalori, 0,3 gram protein, 16 mg phosphor, 0,9 mg besi, 79,5 gram H.A, dan 4 mg vitamin C.

Untuk setiap butir Telur Ayam kampung ternyata mengandung oleat (asam lemak tak jenuh), Vitamin A Vit. E, Vit K, Vit B Komplek, zat besi, fosfor, mineral mikro, leshiting , sekitar 5 gram protein hewani, phospholipida, kolestrol , dan trigliserida (lemak netral). (Mahaji Noesa/Kompasiana, 13 Desember 2010).

 

Gambar

Inilah Buttu Kabobong di Kabupaten Enrekang/Foto: Mahaji Noesa

Bagi mereka yang sudah pernah berwisata ke destinasi Toraja, Sulawesi Selatan, menyusuri jalan darat melintasi Kabupaten Enrekang, sudah pasti punya kenangan dengan Bukit Seks.

Setiap pelancong atau wisatawan mancanegara yang melintasi jalur ini umumnya terlihat tak pernah melewati keindahan serta keunikan bukit yang menyerupai bentuk kelamin wanita di kilometer 18 dari Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang tersebut.

Selain menyaksikan langsung atau membuat potret kenang-kenangan dengan latar gunung berbentuk V yang ukurannya sekitar 60 juta kali lebih besar dari bentuk aslinya, di lokasi ini dapat disaksikan panorama indah barisan pegunungan dalam beragam bentuk sejauh mata memandang.

Bukit Seks yang dalam sebutan bahasa daerah Enrekang dinamai ‘Buttu Kabobong’ (Berarti: Gunung V) tersebut, sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari banyak bentuk unik dan menawan gunung purba yang ada di wilayah Kabupaten Enrekang.

Hanya saja Bukit Seks ini yang senantiasa mendapat perhatian lantaran dapat dipandang lansung dari tepian jalan poros Enrekang – Toraja. Tepatnya, berada di barisan bukit yang menjadi bagian dari Kawasan Timur Enrekang (KTE). Barisan perbukitan yang merupakan bagian dari kaki Gunung Latimojong (kl. 3.478 dpl) yang berada di Karangan, Desa Latimojong Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang.

Di kaki perbukitan KTE berketinggian antara 400 hingga 3.000-an dpl inilah terletak Kecamatan Baraka, Kecamatan Bungin, Kecamatan Curio, Kecamatan Malua, dan Kecamatan Maiwa sebagai daerah penghasil tanaman perkebunan berupa kopi, cengkeh, vanili, padi, serta beragam jenis sayur-mayur dan buah-buahan. Hasilnya tak hanya disuplai untuk kebutuhan Sulawesi Selatan, tapi juga untuk provinsi lain di Pulau Sulawesi seperti ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Bahkan diantarpulaukan ke Kalimatan, Maluku dan Papua.

Sedangkan poros jalan Negara menghubungkan Kota Enrekang hingga ke Salubarani – gerbang masuk Kabupaten Tana Toraja sepanjang kl.48 km merupakan lokasi Kawasan Barat Enrekang (KBE) dengan ketinggian 200 – 800 dpl, meliputi Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Alla, Kecamatan Enrekang, dan Kecamatan Cendana.

Di pertemuan kaki bukit antara Kawasan Timur dan Kawasan Barat Enrekang ini terdapat ceruk, berupa jurang dengan lebar bervariasi 2 hingga 5 km dan kedalaman 400 hingga 800 meter dari muka jalan negara poros Enrekang – perbatasan Tana Toraja. Di bawahnya mengalir sejumlah sungai, seperti Sungai Mata Allo yang selama ini menjadi sumber air utama bagi irigasi persawahan dua daerah andalan penghasil tanaman padi di Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Pinrang.

Ceruk inilah yang dikenal dengan sebutan Kawasan Wisata Bambapuang dengan latar keindahan gunung-gunung purba dengan ornamen-ornamen alam unik di antara dinamika kehidupan keseharian masyarakat petani pegunungan.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Enrekang merupakan salah satu dari lima kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang tidak berbatasan dengan laut. Dengan luas wilayah 1.786,01 km2, sekitar 85 persen wilayah Enrekang merupakan bukit yang mempunyai kemiringan bervariasi 15 derajat hingga curam.

Meskipun, ceruk Bambapuang yang sudah puluhan tahun dikagumi keindahan alamnya sampai ke mancanegara, namun sampai sekarang belum ada patokan baku batas area yang masuk kawasan tersebut. Ada yang menyebut luasannnya meliputi areal 680 km2, dihitung mulai dari Kampung Kotu (Km 14), Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja hingga Salubarani (Km 48), perbatasan Enrekang – Toraja. Dengan lebaran kawasan dari batas jalan Negara poros Enrekang – perbatasan Toraja hingga 20 km ke arah timur.

Berulangkali Prof. T.C.M. George IS ketika ditemui nginap di Villa Bambapuang (berhadapan langsung dengan Gunung V) setelah selama dua hari berkeliling di kawasan ini, menyatakan kekaguman terhadap keindahan panorama kealamiaan gunung-gunung batu di Kawasan Bambapuang.

‘’Kawasan ini jika dikelola dengan baik tidak kalah menarik dengan kawasan wisata Grand Canyon dan barisan bukit Sierra yang menyedot kunjungan puluhan juta wisatawan mancanegara setiap tahun di Benua Amerika,’’ katanya.

Alumni Reflexology dari daratan Cina ini menyatakan, Kawasan Bambapuang punya kelebihan lantaran di kaki serta ceruk gunung-gunung batunya berlangsung kehidupan masyarakat dengan aktivitas pertanian. Tidak seperti di kawasan Grand Canyon dan bukit Sierra yang gersang dari aktivitas kehidupan.

Sebenarnya, di awal tahun 2000-an saat kepemimpinan Bupati Enrekang Muh.Iqbal, sudah pernah ada pembuatan rancangan design pengembangan Kawasan Wisata Bambapuang seluas kl.20 x 48 km. Bahkan dia sudah merintis pembukaan jalanan di KTE. Dimaksudkan, agar para pelancong dapat menikmati keindahan ceruk Bambapuang dengan bukit-bukit batunya yang indah yang membentang di KBE.

Ada rencana ketika masuk kawasan ini, para pelancong dari arah Makassar ke Toraja, menyusuri jalan yang ada sekarang. Melalui poros ini disaksikan keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu di KTE. Sedangkan jika balik dari Toraja melalui jalan keluar yang dibangun di Kawasan Timur Enrekang untuk meinkmati keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu yang ada di Kawasan Barat Enrekang (KBE). Sayang sekali, dalam kepemimpinan Bupati Enrekang selanjutnya, pengembangan jalan di KTE tersebut tidak berlanjut.

Bahkan, sudah didesign semacam pembangunan pelataran-pelataran untuk memandang view di Kawasan Bambapuang. Ceruk di antara bukit KTE dan KTB direncanakan dibangun fasilitas wisata seperti skylift, pengembangan olahraga gantole (terbang layang), kawasan perkemahan, trikking, jogging, tangga seribu untuk turun-naik lembah, fasilitas arung jeram di sungai Mata Allo serta fasilitas wisata lainnya. Tujuannya, tak hanya sebatas ingin memuaskan pelancong menikmati keindahan Kawasan Bambapuang dengan aman dan nyaman. Tetapi juga lebih utama, para pelancong atau wisatawan ke Toraja tidak hanya melewati kawasan ini, tetapi juga dapat menjadikan sebagai Daerah Tujuan Wisata menikmati keindahan gunung, lembah dan jurang yang terbentang sepanjang mata memandang di Kawasan Bambapuang.

Dengan begitu, keindahan alam kawasan ini pun diharapkan dapat memberi manfaat peningkatan ekonomi bagi masyarakat dan khususnya daerah Kabupaten Enrekang. Tidak seperti selama ini, Kawasan Bambapuang hanya dilintasi begitu saja oleh para pelancong, lantaran tak memiliki fasilitas wisata untuk wisatawan nginap dengan rasa aman dan nyaman.

‘’Tak hanya siang hari, di udaranya yang sejuk malam hari kawasan ini pun dapat hidup apabila didesign sedemikian rupa dengan memanfaatkan bantuan teknologi solar sell untuk malam hari. Kawasan Bambapuang ini jika ditata dengan baik bukan tidak mungkin ke depan akan dapat berkembang sebagai Sierra Khatulistiwa karena panorama bentang alamnya yang tiada duanya di dunia,’’ komentar Prof. George yang mengaku sudah berkeliling ke sejumlah kawasan wisata yang menyajikan panorama gunung-gunung batu di dunia.

Kawasan Bambapuang, tentu saja, termasuk bagian dari hamparan bukit karts seluas kl.145.000 km persegi yang ada di Indonesia. Hanya saja tidak semua bukit yang ada di kawasan ini merupakan bukit batu gamping. Sebagian besar, seperti yang dapat dilihat secara kasat mata merupakan bukit batu cadas. Banyak bukit dengan beragam bentuk dan ornamen alamnya yang indah, sejak dulunya plontos tidak dihidupi tumbuhan tetapi di bagian tertentu menghijau.

Lantaran posisinya yang curam hingga tegak 90 derajat, banyak bukit di Kawasan Bambapuang sejak masa purba hingga saat ini belum pernah dijamah manusia dari kaki hingga puncaknya. Bukit Tontonan di Kelurahan Tanete Kecamatan Anggeraja, misalnya. Salah satu bagian dindingnya seluas kl. 4 hektar tegak lurus menjulang langit bagai dinding sebuah bangunan raksasa.

Ditemukannya banyak situs berupa gua-gua jejak kehidupan masa lalu di Kawasan Bambapuang, membuktikan bahwa gunung-gunung batu di lokasi ini juga merupakan gunung-gunung purba. Contohnya seperti gua Loko’ Malillin Desa Pana Kecamatan Alla, Loko’ Tappaan di Desa Limbuang dan Loko’ Palakka di Desa Palakka Kecamatan Maiwa, serta Loko’ Bubau di Desa Pana Kecamatan Alla.

Banyak pecinta alam yang sudah berpetualang di sini menyebut Kawasan Bambapuang sebagai ‘Negeri Seribu Gua’ lantaran hampir semua gunung batu memiliki gua yang menyimpan adanya tanda-tanda sebagai tempat hunian manusia purba. Antara gua yang satu dengan lainnya memliki pesona keindahan tersendiri dengan stalaktif dan stalagnit yang syurr….Termasuk banyak gua yang bagian mulutnya menjadi bagian dari limpahan air terjun. Di mulut gua Loko’ Tappaan misalnya, terdapat air terjun setinggi 7 m.

Selain itu, dibalik keindahan serta keunikannya hampir semua bukit batu di Kawasan Bambapuang memiliki mitos yang hidup sampai sekarang. Gunung Bambapuang (1.021 dpl) di Kotu, Desa Bambapuang Kecamatan Anggeraja, dalam cerita rakyat setempat disebut dahulu puncaknya menjulang tinggi jauh tak terhingga ke arah langit. Itulah sebabnya, kemudian dinamai Gunung Bambapuang (Bhs.Enrekang berarti: Tangga para Dewa atau Tangga ke Langit).

Namun kemudian Tangga Langit ini patah ke arah utara Tana Toraja. Itulah sebabnya menurut cerita rakyat setempat, seperti yang terlihat sekarang semua puncak gunung di Kawasan Bambapuang mengarah ke arah utara sesuai arah jatuhnya patahan Gunung Bambapuang. Penyebab gunung ini runtuh, ceritanya, karena terjadi cinta incest atau hubungan sedarah kakak-adik di kaki bukit tersebut.

Mitos runtuh atau patahnya Gunung Bambapuang dalam cerita rakyat yang masih hidup sampai sekarang disebut dalam bahasa daerah setempat sebagai peristiwa Lettomi Erang di Langi. Ketika Gunung Bambapuang patah, penduduk atau hewan yang lari meninggalkan lokasi saat Bambapuang patah, apabila menengok ke arah belakang seketika berubah menjadi batu. Dalam mitosnya, itulah sebabnya batu-batuan di Kawasan Bambapuang yang sampai sekarang masih terlihat bentuknya banyak yang menyerupai ujud manusia atau hewan.

Buttu Kabobong di Kawasan Bambapuang yang bentuknya seperti V berukuran super raksasa tersebut, dalam cerita rakyat disebut-sebut justru masa silam berfungsi sebagai stadion tempat pertemuan manusia purba. Sedangkan Bukit Tontonan yang ceper belakangan diistilahkan sebagai ‘Serambi Mayat’ lantaran di bagian bukit ada semacam alur yang berisi banyak keranda mayat purba terbuat dari kayu. Mayat-mayat itu tak ditanam, konon lantaran mereka tak ingin terjepit tanah. Ada gunung dinamai Bukit Sawa lantaran bentuk puncaknya berupa batu cadas bergelombang belang-belang bagai seekor Ular Sawa raksasa. Itulah sebagian dari banyak sekali mitos tentang gunung dan batu-batuan di Kawasan Bambapuang, Enrekang.

Sayangnya, bentang alam panorama gunung, jurang dan lembah di Kawasan Bambapuang kondisinya dari dulu sampai sekarang tidak pernah mendapat sentuhan serius untuk dipoles sebagai obyek Tujuan Wisata Andalan Sulawesi Selatan. Tanpa ada sentuhan khusus kawasan yang masih alamiah dan asri ini sebagai suatu destinasi wisata, bukan tidak mungkin kelak akan berubah fungsi.

Pasalnya, dalam perut bumi gunung-gunung di KTE maupun KTB sudah pernah dieksplorasi mengandung sejumlah barang tambang bernilai tinggi seperti marmer berwarna hitam, hijau dan putih, juga terdapat kandungan minyak tanah, batu bara, dan emas.  (Mahaji Noesa/Kompasiana, 11 Mei 2012)

Selain menjadi pelaku, prajurit juga ternyata mampu sebagai pelestari jejak sejarah yang apik. Hal itu terlihat dari sejumlah bangunan tinggalan lama yang kini dalam penguasaan prajurit TNI khususnya di Kota Makassar. Tak hanya dipelihara dari keasliannya, tapi bangunan-bangunan tua tersebut sampai kini masih difungsikan.

Bekas Markas Kodam XIV/Hasanuddin sebelum berintegrasi menjadi Kodam VII/Wirabuana meliputi seluruh teritorial Pulau Sulawesi di Jl. Wolter Mongisidi Kota Makassar, sebagai salah satu contoh. Bangunan peninggalan Belanda yang pada tahun 60-an juga pernah dijadikan markas Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dari tangan kolonial Belanda, kini bentuknya masih belum banyak berubah.

Bangunan bekas kantor sekaligus tempat kediaman mantan Presiden RI Soeharto saat menjadi Panglima Komando Mandala, kini difungsikan sebagai Kantor Markas POM Kodam VII/Wirabuana.

Beberapa orang tua di sekitar Kelurahan Maricaya mengakui, bentuk bangunan peninggalan Belanda tersebut, belum banyak berubah seperti ketika Jl. Mongisidi dahulu masih dinamai Jl. Clover Land. Bahkan kondisi bangunan saat ini disebut lebih segar.

Makassar yang telah bergeliat sebagai kota pelabuhan, kota niaga, dan kota pusat pemerintahan pada abad XVII, memiliki banyak bangunan peninggalan lama. Termasuk bangunan-bangunan berstatus eigendom verponding, lokasi dan bangunan Belanda yang ditinggalkan sejak pendudukan Jepang 1942 hingga diusirnya Tentara NICA bentukan Belanda dari Kota Makassar tahun 1947.

Dalam tangan kekuasaan kolonial — setelah Perjanjian Bungaya tahun 1667, Belanda mengembangkan Kota Makassar dalam radius sampai 20 km persegi dari Benteng Ujungpandang.

Tak heran sampai awal tahun 90-an masih banyak dijumpai lokasi eigendom verponding dalam bentuk kantor maupun rumah peninggalan tentara serta pejabat  Belanda di seputar Pantai Losari dan sekitarnya. Meliputi Jalan Amanna Gappa, Jl.Sultan Hasanudddin, Jl.Kajao Laliddo, Jl. Kenari, Jl. Kelapa, Jl. Sawerigading, Jl. Maipa, Jl. Datumuseng, Jl.Jend Sudirman, Jl.Ratulangi, Jl.Sungai Saddang, Jl. Mongisidi, Jl. Lanto Dg Pasewang, Jl.HA.Mappanyukki, Jl.Cendrawasih, Jl. Garuda, Jl. Rajawali hingga Jl Rajawali di arah selatan Kota Makassar.

Akan tetapi bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di jalan-jalan tersebut kini sebagian besar telah berubah berganti bangunan baru. Banyak bangunan dipindah-tangankan serta alihfungsikan, dirombak untuk usaha komersial tanpa hirau dengan kandungan catatan penting sekaligus bukti sejarah di dalamnya.

Rumah Jabatan Wali Kota Makassar di Jl. Penghibur (Pantai Losari) merupakan salah satu peninggalan Belanda yang sampai kini belum banyak perubahan. Demikian halnya dengan bangunan rumah jabatan Gubernur Sulsel di Jl. Jend Sudirman, Gedung MULO di Jl. Ratulangi, gedung bagian depan Balai Kota Makassar di Jl. A.Yani, Kantor Pengadilan Negeri Makassar di Jl. Kartini, dan Gedung Dewan Kesenian Societeit de Harmonie di Jl. Riburane, masih merupakan bangunan peninggalan Belanda yang belum banyak berubah bentuk, kecuali dari segi fungsinya yang berbeda.

Bekas Kantor Wali Kota Makassar (Burgemester) pada jaman Belanda di Jl. Balai Kota, misalnya. Sekalipun dari segi bentuk dan konstruksinya belum banyak berubah, tapi fungsinya saat ini sudah menjadi Museum Kota Makassar.

Salah satu bangunan bekas  Esconto Bank berarsitektur khas Eropa abad pertengahan pada masa Belanda di utara kota sudah dirobohkan, seiring dengan penggusuran Jl. Martadinata yang dijadikan sebagai areal pelabuhan peti kemas.

Lainnya, kompleks penjara jaman Belanda (hoogepad) di utara lapangan Karebosi kini sudah lenyap berganti dengan pertokoan. Komplek penjara yang terkenal sel-selnya dengan julukan ‘kandang macan’ dahulu menjadi penjara bagi masyarakat sipil, termasuk para pejuang kemerdekaan di Sulsel. Pahlawan Nasional H.A.Mappanyukki pernah diinapkan di penjara tersebut.

Lokasi Freylingsplein kini bernama lapangan Gelora Hasanuddin yang diapit Jl. Jend Sudirman dan Jl. S.Tangka merupakan alun-alun lama, selain lapangan Karebosi yang masih tersisa saat ini di Kota Makassar. Di bawah pengelolaan prajurit Kodam VII/Wirabuana, lapangan yang luasnya hampir 2 ha tersebut tampak indah, hijau, bersih dan segar sebagai tempat jogging, lapangan sepakbola dan berbagai jenis olah raga lainnya. Termasuk untuk arena latihan olah raga panjat tebing dari para prajurit Kodam VII/Wirabuana.

Sesekali, lapangan yang sekelilingnya masih ditumbuhi banyak tanaman asam berusia ratusan tahun dijadikan sebagai lokasi pameran serta even-even bersifat massal. Anda tahu, di lapangan Gelora Hasanuddin ini pada 30 April 1945 para pejuang dan pemuda pergerakan di Sulawesi Selatan mengibarkan Bendera Merah Putih. Inilah lokasi bersejarah di Kota Makassar, tempat pengibaran sang dwi warna tersebut sebelum diproklamirkan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Ada hal menarik jika kita ke Jl. Rajawali Kota Makassar sekarang. Di sana, selain masih terdapat Tangsi Kist (Kist Kampament) – penjara militer jaman Belanda yang kini masih dijadikan sebagai Instalasi Tahanan Militer Kodam VII/Wirabuana. Juga, sejumlah kantor dan asrama militer yang terdapat di sekitar Tangsi Kist tersebut seperti asrama Lompobattang, Kantor dan Asrama Batalyon Zeni Tempur 8/SMG, sebagian besar merupakann bangunan tinggalan lama yang tetap dipelihara dan dimanfaatkan oleh prajurit TNI Kodam VII/Wirabuana.

Tulisan: ‘’Kweeksschool voor inlandsche pelingen, Anno 1915’’ yang tetap dilestarikan di salah satu pintu gerbang Yon Zipur 8 Kodam VII/Wirabuana di Jl. Rajawali Kota Makassar, menguatkan bukti jika jajaran prajurit TNI sangat menghargai sekaligus memaknai jejak bersejarah sebelum kelahiran TNI di negeri ini. (Mahaji Noesa)

dangke

Inilah bentuk Dangke Enrekang/Foto: Riset – Google

Jika susu murni yang berasal dari kerbau atau sapi perah selama ini
banyak dikonsumsi warga sebagai minuman segar bergizi, maka masyarakat
di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan paling doyan memakan sari pati
dari ternak besar tersebut.

Susu dimakan bukan diminum? Ya…aneh tapi nyata! Masyarakat luas di
Provinsi Sulawesi Selatan sejak lama mengetahui jika penduduk di
kabupaten yang berjuluk ‘Bumi Massenrempulu’ tersebut sebagai pemakan
susu kerbau atau susu sapi perah dalam bentuk penganan yang bernama
Dangke.

Dangke tak lain adalah susu kerbau atau susu sapi yang digumpalkan
melalui kearifan lokal menggunakan bantuan enzim papain atau daun
pepaya. Bentuk gumpalan dangke tersebut berwarna putih seperti tahu.
Masyarakat khususnya di Kabupaten Enrekang sampai sekarang umumnya
menjadikan dangke sebagai lauk pendamping makanan nasi sehari-hari.
Untuk menyantapnya terlebih dahulu dangke tersebut, antara lain,
melalui proses penggorengan.

‘’Dangke juga dapat disantap langsung sebagai makanan pengantar dengan
menggunakan campuran gula aren. Nikmat,’’ jelas Kusuma, seorang
penduduk yang berdiam di Sossok, Kecamatan Baraka, Enrekang.
Warung-warung rakyat yang terdapat di tepian poros jalan Negara, dari
Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang ke arah Kota Makassar, kini
umumnya memampang papan-papan promosi: ‘’Jual Dangke!’’

‘’Namun jika jika lepas tengah hari, biasanya dangke di warung-warung
ini sudah habis terjual,’’ jelas Asni, seorang perempuan pemilik
warung penjual Dangke di Kabere, sekitar 3 km arah barat Kota
Enrekang. Harga jual dangke di Enrekang saat ini Rp 14.000 per biji,
ukuran setengah tempurung kelapa.

Menurut Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Kantor Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, drh. Jumwar, MSi, produk
dangke di Kabupaten Enrekang sekarang sekitar 3.000 biji setiap hari.

‘’Produk dangke tersebut baru dapat memenuhi sekitar 20 persen dari
kebutuhan lokal masyarakat di Bumi Massenrempulu,’’ katanya.
Menurut alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM)
tahun 1989 ini, untuk satu biji dangke yang beratnya antara 330 sampai
350 gram tersebut terbuat dari bahan baku 1,5 liter susu murni kerbau
atau sapi.

Lantaran itu, penyandang gelar master agrobisnis dari Universitas
Muhammadiyah Parepare tahun 2011 menyatakan, tak hanya berprospek tapi
juga dangke cukup prospektif dikembangkan sebagai usaha guna
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat ke depan. Bahkan,
jelasnya, produk lokal rakyat Bumi Masenrempulu ini bisa dijadikan
sebagai brand daerah ‘Enrekang sebagai Kabupaten Dangke.’
Alasannya, antara lain, dangke sebagai food cultur (makanan
tradisional) yang bergizi tinggi, produk lokal bernilai ekonomi yang
hanya terdapat di Kabupaten Enrekang. Pengembangan dangke juga
sekaligus dapat menjadi entry point dari pengembangan usaha peternakan
khususnya di Kabupaten Enrekang yang 85 persen wilayahnya merupakan
lereng berkemiringan antara 15 hingga 45 derajat.

Lagi pula, urainya, dengan pengembangan produk dangke tersebut
merupakan langkah tepat bagi pengembangan usaha industri biologis
melalui ternak kerbau atau sapi yang dapat senantiasa terbarukan.
‘’Pengembangan produk dangke akan memberikan pertambahan nilai ekonomi
yang cukup tinggi di tengah masyarakat lantaran merupakan salah satu
produk agribinis yang mencapai 3 log. Dari usaha peternakan sapi,
menghasilkan susu, susu dijadikan dangke serta turunan produk lainnya
berupa pembuatan krupuk dangke yang kini mulai dicoba di Kabupaten
Enrekang,’’ papar Junwar.

Berdasarkan catatan pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten
Enrekang, saat ini populasi ternak di Bumi Masserempulu sudah mencapai
1.400-an ekor sapi perah dan sekitar 48.000 ekor sapi potong. Untuk
ternak kerbau mencapai 6.000-an ekor.

Junwar yang sebelumnya telah bertugas di Kantor Dinas Peternakan
Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, Kabupaten Bulukumba, dan
di Rumah Potong Hewan Kota Makassar mengaku, dia yang pada tahun 2002
mulanya mengusul dimasukkannya bibit sapi perah asal Pulau jawa ke
Kabupaten Enrekang terutama untuk memenuhi bahan baku susu bagi
pengrajin dangke.

Di masa-masa lalu, ceritanya, Dangke Enrekang lebih banyak dibuat dari
susu kerbau. Akan tetapi dalam perkembangannnya kemudian lebih banyak
dipilih bahan baku dari susu sapi yang kandungan lemaknya 2,6 – 2,8
persen. Dangke susu sapi lebih gurih dibandingkan menggunakan susu
kerbau yang kandungan lemaknya mencapai 3,2 persen.
Lagi pula, dari seekor kerbau betina hanya dapat menghasilkan 5 hingga
6 liter susu setiap hari. Atau hanya dapat digunakan untuk membuat 2
sampai 3 biji dangke. Sedangkan dari seekor sapi perah, dapat
dihasilkan 20 hingga 30 liter susu setiap hari. ‘’Bahkan dengan
perlakuan tertentu seekor sapi perah berpotensi menghasilkan hingga 60
liter susu setiap hari,’’ jelas Junwar.

Kini di seluruh Kabupaten Enrekang terdapat sekitar 300-an pengrajin
dangke. Setiap pengrajin umumnya memiliki minimal satu ekor sapi
perah.

Melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE), pihak
perbankan telah mengucurkan bantuan permodalan usaha kepada 14
kelompok tani peternak dan pengrajin dangke di Kabupaten Enrekang.
KKPE diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang dinilai potensial di
pedesaan dengan bunga 6 persen per tahun, dan nilai pemberian kredit
bisa mencapai maksimal Rp 100 juta.

Persyaratan pemberian KKPE hampir sama dengan pemberian Kredit Usaha
Rakyat (KUR). Bedanya, bunga KUR 14 persen setahun dengan plafon
kredit maksimum Rp 20 juta. KUR diberikan tanpa agunan, sedangkan KKPE
selain hanya diberikan terhadap usaha yang sedang berjalan – bukan
usaha yang baru dimulai. Juga harus ada agunan, lantaran
dipertanggunjawabkan oleh masing-masing individu dalam kelompok sesuai
nilai kredit yang mereka pakai.

‘’Saat ini sudah ada dana permodalan usaha sekitar Rp 3 miliar melalui
KKPE yang disalurkan kepada kelompok-kelompok tani peternak dan
pengrajin dangke yang direkomendasi pihak Dinas Peternakan dan
Perikanan di Kabupaten Enrekang,’’ ungkap Junwar. Lalu menambahkan,
untuk sementara pihak perbankan hanya sebatas menyalurkan KKPE kepada
peternak sapi dan kerbau. (Mahaji Noesa)