Posts Tagged ‘ras’

Gambar

Telur ayam kampung (Foto:google-suliana-milittlesunshine.blogspot.com)

Jika menyimak resep-resep lawas untuk menjaga kesegaran tubuh khususnya bagi kaum pria, sebagian besar menggunakan bahan campuran madu dan kuning telur ayam kampung. Dianjurkan untuk menggunakan madu asli. Masalah, sekarang sudah banyak madu palsu, yaitu madu asli yang sudah diberi campuran cairan lain untuk memperbanyak volumenya. Masih jarang terdengar peringatan untuk tidak menggunakan telur ayam kampung palsu. Padahal sekarang telur ayam ras ternyata dapat diubah menjadi mirip telur ayam kampung.

Seseorang yang sudah terbiasa melakukan pengubahan seperti itu, mengungkapkan rahasianya. Proses pengubahan telur ayam ras menjadi mirip telur ayam kampung justru amat mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Begini caranya, kumpulkan telur ayam ras yang berukuran kecil mendekati ukuran umumnya telur ayam kampung. Telur-telur tersebut kemudian direndam sekitar 15 hingga 30 menit ke larutan air cuka makan.

Kulit luar telur-telur ayam ras yang berwarna kemerahan jika direndam cuka dalam waktu tersebut akan melemah. Kemudian, jika digosok-gosok secara lembut dengan  jari tangan secara merata, maka bagian luar kulit ayam ras yang berwarna kemerahan akan terkelupas. Lalu, kulit telur ayam ras tersebut berubah menjadi putih seperti warna kulit telur ayam kampung.

Dalam waktu sekitar setengah jam, dengan santai sambil berbincang-bincang seseorang dapat memeroses perubahan lebih dari sepuluh butir telur ayam ras menjadi seperti telur ayam kampung.

Dalam proses untuk mengubah warna kulit telur ayam ras menjadi seperti warna kulit ayam kampung, jangan terlalu lama merendamnya di air larutan cuka makan. Perhatikan, jika gelembung-gelembung yang keluar dari telur ayam ras yang direndam ke larutan cuka berkurang, proses penggosokan mengeluarkan kulit berwarna merah yang tipis tak lebih dari kulit bawang dapat segera dimulai.

Penggosokan dilakukan secara perlahan-lahan dan  sesekali mencelupkan telur ayam ras yang digosok ke dalam cairan cuka, hingga semua kulit berwarna merah keluar merata berganti menjadi warna putih menyerupai warna kulit telur ayam kampung.

Apabila telur ayam kampung direndam terlalu lama dalam larutan akan menjadi lembek, elastis, dan mudah pecah. Bahkan jika direndam dalam waktu yang lama, telur dapat pecah sendiri dalam cairan cuka.

Mau buktikan, silakan coba. Setelah itu, paling penting sebenarnya bagaimana dapat mengetahui tanda-tanda dari  telur ayam ras yang telah diubah menjadi mirip telur ayam kampung agar konsumen tidak tertipu apabila telur ayam kampung palsu itu dijual ke pasaran. Soalnya, di pasaran sulit untuk membedakan secara fisik antara telur ayam kampung asli dan yang dibuat mirip atau dipalsukan. Bagi yang mengatahui tanda-tanda fisik telur ayam kampung palsu seperti itu, silakan berbagi…….

Gambar

Sketsa Benteng Somba Opu masa silam/sumber google-darimakassar.com

Nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang pelaut, bukan sekedar syair dalam gubahan pujangga. Catatan sejarah dan bukti-bukti arkeolog cukup jelas meriwayatkan, betapa bangsa kita sejak masa purba telah menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupannya. Bermula sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, ketika terjadi migrasi – perpindahan penduduk secara besar-besaran, dari daratan Hindia Belakang menuju daratan dan kepulauan lain di wilayah Asia Tenggara bagian selatan.

Pergerakan koloni penduduk ras Mongolia tersebut meninggalkan daratan berlayar menyusur sungai mengarungi lautan mencari daerah-daerah baru yang dianggap aman dan subur untuk membangun kehidupan lebih baik. Mereka berlayar dengan menggunakan perahu-perahu sederhana. Termasuk berlayar menyeberangi lautan bebas ke arah pulau-pulau nusantara, Indonesia. Perpindahan penduduk serupa terjadi pada 300 tahun berikutnya. Pendatang baru di kepulauan nusantara ini disebut dengan Deurto Melayu yang mendesak Proto Melayu, penduduk sebelumnya.

Perkembangan selanjutnya, dengan mengandalkan armada laut penduduk yang telah memulai kehidupan baru di kepulauan nusantara, melakukan komunikasi antarpulau. Mengadakan kontak-kontak sosial, budaya, dagang, dan persahabatan antarsuku bangsa hingga ke Pulau Madagaskar di sebelah barat dan pulau Paskah di sebelah timur. Laut menjadi bagian penting dari perkembangan kehidupan dan peradaban mereka.

IMG00666-20121212-1623

Benteng Somba Opu abad XVI lukisan Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Kerajan-kerajaan yang kemudian tumbuh dan membesar di wilayah nusantara, seperti Kerajaan Sriwijaya di Palembang (Sumatera Selatan) pada permulaan abad VII (683) merupakan kerajaan maritim. Mereka memiliki armada laut yang cukup besar, digunakan untuk memperluas pengaruh, menjalin hubungan kerjasama dan perdagangan dengan kerajaanlainnya di India, Cina, dan Persia.

Demikian pula dengan Kerajaan Majapahit pada abad XIV di Jawa Timur yang terkenal dengan Mahapatih Gajah Mada, dapat mempersatukan nusantara didukung kekuatan armada laut yang tangguh.

Kebesaran Kerajaan Gowa di Makassar Sulawesi Selata) saat mencapai puncak kejayaan pada abad XVII dipimpin Raja Gowa XVII  Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana, juga lantaran ditunjang kekuatan dan kebesaran armada laut.

Dengan memiliki armada laut cukup besar, didukung prajurit-prajurit laut yang gagah berani, Kerajaan Gowa termasuk salah satu kerajaan yang paling luas wilayah taklukannya yang pernaha ada di Indonesia. Terdapat sekitar 70 kerjaan besar dan kecil di kawasan timur nusantara menyatakan berlindung di bawah naungan Laklang Sipuwea – payung kebesaran Kerajaan Gowa.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada pertengahan abad XVII meliputi seluruh kepulauan nusantara di bagian timur, dari Sangir-Talaud Sulawesi Utara) – Pegu – Mindanao (Filipina) di bagian utara, Sula – Dobo – Buru – Ambon – Kepulauan Aru (Maluku) di sebelah timur, Marege (Australia) – Timor – Sumba – Flores – Sumbawa – Lombok (Nusa Tenggara) di sebelah selatan, dan Kutai – Berau (Kalimantan Timur) di sebelah barat.

Pusat pemerintahan Kerajaan Gowa, Kota Somba Opu antara tahun 1550 – 1650 telah menjadi salah satu dari 8 kota teramai di Asia Tenggara. Penduduknya, kala itu, sudah mencapai 160.000 jiwa. Pada saat yang samapenduduk kota Paris hanya sekitar 100.000 jiwa. Sedangkan kota pelabuhan terkenal di nusantara seperti Gresik, Surabaya dan Sunda Kelapa (Jakarta) masing-masing hanya berpenduduk sekitar 50.000 jiwa.

Kota pelabuhan Somba Opu, masa itu, tak hanya ramai dengan lalu-lintas pelayaran iternasional. Tapi juga menjadi kota pusatpertemuan dan transaksi perdagangan masyarakat antarnegara – seperti dari Portugis, Denmark, Inggris, Spanyol, Cina, Arab, pahang, Campa, dan Johor. Masing-masing negara menempatkan orang dan membangun perwakilan dagang di kota Somba Opu. Saat itu terdapat sekitar 3.000 orang Portugis yang berdiam di kota Somba Opu.

Dengan kekuatan armada laut yang kuat dan besar, Kerajaan Gowa pada abad XVI – XVII tampil sebagai Kerajaan Maritim tersohor di kawasan timur nusantara. Mampu menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan tak hanya dengan kerajan-kerajaan di nusantara tapi juga dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, India, dan Gujarrat. (Mahaji Noesa/A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong/2002)