Posts Tagged ‘raya’

Gambar

Balapan motor/Foto:google-balapmotor.blogspot.com

Penggunaan helm yang spesifikasinya menutup kepala sampai telinga, memakai tali pengikat penutup dagu, serta mempunyai semacam kaca pelapis pandangan, yang populer disebut sebagai helm standar, sejak awal malam pergantian tahun 2005 ke 2006 sudah ramai dipakai oleh para pengemudi sepeda motor yang melintas di jalan-jalan raya khususnya dalam wilayah kota Makassar.

Gambar

Helm standar produk riddell/Foto google – nfifan24.blogspot.com

Anjuran untuk menggunakan helm standar seperti itu ketika mengendarai sepeda motor, mulai awal 2006, tampaknya disambut hangat sebagian besar warga kota Makassar khususnya dengan kesadaran penuh betapa pentingnya menggunakan pengaman kepala yang standar saat mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Buktinya, sekalipun ada sejumlah aksi demo menantang anjuran tersebut, namun warga pengendara sepeda motor di kota Makassar sejak awal tahun 2006 telah beramai-ramai secara suka rela mengganti helm yang mereka pakai selama ini – umumnya hanya menutupi bagian atas kepala, tidak berpengikat serta tidak melindungi bagian telinga. Sekalipun untuk sementara, penggunaan helm dengan spesifikasi standar seperti itu masih didominasi oleh pengemudi sepeda motor, sedangkan untuk mereka yang dibonceng umumnya masih menggunakan helm biasa – nonstandar.

Penggunaan helm standar bagi pengendara sepeda motor, sebenarnya mengacu dari sejumlah aturan yang telah dikeluarkan sejak beberapa tahun lalu mengenai aturan berlalu-lintas maupun tentang kelengkapan bagi pengendara kendaraan bermotor, termasuk pengendara sepeda motor di jalan raya. Apalagi, berdasarkan survai dari setiap 10 pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan di jalan raya, 5 di antara pengendara tersebut mengalami pecah kepala.

Ketika pertama kali dianjurkan penggunaan helm bagi pengemudi maupun semua pengendara (termasuk yang dibonceng) sepeda motor tahun 1998 – 1999 di kota Makassar, disambut gelombang protes yang dahsyat sehingga menimbulkan sejumlah korban jiwa. Namun kemudian, protes itu mereda dengan sendirinya seiring dengan mulai meningginya perhatian betapa pentingnya menggunakan pengaman kepala – sekalipun kala itu masih ditolerir dengan hanya menggunakan helm nonstandar di saat mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Gambar

Helm Revolution, helm standar produk Riddell/Foto: google– ebbosfootballshop.de

Tingginya kesadaran warga pengemudi sepeda motor khususnya di kota Makassar saat ini untuk mengganti hel nonstandar ke helm spesifikasi standar, sangat diharapkan dapat diringi dengan pembinaan persuasif oleh pihak-pihak yang berkompeten mengenai apa dan bagaimana yang dimaksud dengan helm standar.

Banyak pihak berharap agar kesadaran warga kota saat ini yang mau menggunakan helm dengan spesifikasi standar – menutup kepala hingga bagian telinga, serta memakai tali pengikat dagu saat mengendarai sepeda motor dijalan raya, tidak lagi dicecoki denganhal-hal yangtidak mendasar yang dapat merusak kesadaran dan suasana yang sudah kondusif terhadap anjuran penggunaan helm standar. Misalnya, tidak perlu dialkukan sweeping, tindakan-tindakan, atau sanksi drastis terhadap para pengendara sepeda motor khususnya yang dibonceng untuk juga segera menggunakan helm standar.

Demikian pula tidak perlu dilakukan sanksi atau penindakan drastis terhadap penggunaan helm spesifikasi standar yang masih bervariasi, seperti misal yang menggunakan kaca pelapis atau tidak menggunakan kaca pelapis pandangan. Soalnya sejumlah produk helm spesifikasi standar yang beredar di pasaran selama ini masih bervariasi dalam berbagai bentuk warna kaca pelapis, serta ada yang menggunakan dan tidak menggunakan kaca pelapis pandangan tapi dispesifikasi sebagai helm standar. Apalagi, memang, ketika anjuran penggunaan helm standar mulai diberlakukan, tidak diiringi petunjuk helm dari produk mana saja yang diakui sebagai helm standar yang dapat menjamin keselamatan pengamanan kepala para pengendara sepeda motor saat terjadi kecelakaan lalu-lintas, maupun tidak berefek terhadap kesehatan diri para penggunanya.

Sejumlah warga kota mengatakan, kesadaran untuk menggunakan helm standar yang mulai tumbuh dengan baik saat mengendara sepeda motor di jalan raya saat ini, cepat atau lambat akan diikuti kesadaran warga untuk mengetahui serta mendalami bagaimana sesungguhnya helm standar dengan semua manfaatnya. Termasuk, tentunya,  mengenai helm standar setype helm revolution produk Riddle dan National Institute of Health yang telah digunakan sejak tahun 2002 di Amerika – menggunakan semacam rangka kawat atau besi pengaman di bagian muka. Helm tersebut telah diuji keampuhannya mampu melindungi penggunanya tidak gegar otak jika terjadi benturan di bagian kepala. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.332 Thn VIII/Minggu II, Januari 2006, Hal. 4 Box: Kronik Makassar)    

Gambar

Tampak arah timur Teluk Kendari/Foto: google – buminusantara.blogspot.com

Teluk Kendari – Laut Banda yang menyusup daratan Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), merupakan suatu anugerah Tuhan yang tiada bandingannya.

Betapa tidak, Teluk Kendari yang membujur dari timur ke barat sepanjang lebih 10 kilometer dengan lebar bentangan bervariasi antara 400 hingga 1.200 meter (ukuran perkiraan lebih kurang – pen), menjadi pembeda spesifik dengan teluk lainnya di dunia.

Dengan lay-out  alamnya seperti itu, di teluk ini dapat disaksikan pergerakan matahari terbit di pagi hari (sunrise) serta perguliran matahari senja (sunset) di sore hari. Bahkan panorama sunrise dan sunset di teluk ini dapat dinikmati dalam dua dimensi.

Dari pesisir ujung barat teluk terlihat matahari pagi bergerak naik dari balik bukit muara Teluk Kendari  yang terhempang Pulau Bungkutoko. Bias sunrise pagi hari senantiasa membuat pesona yang eksotis berpadu beragam aktivitas di permukaan dan pesisir teluk.

Sementara dari perbukitan di wilayah kelurahan Kendari Caddi, Kampung Salo, dan Manggadua – sebelah timur teluk, dapat dinikmati sunrise dalam dimensi lain. Di lokasi tersebut sunrise terlihat muncul dari laut lepas di muara Teluk Kendari.

Matahari senja tampak pada sore hari yang cerah seolah bergulir masuk ke balik bukit-bukit di sebelah barat teluk.

Sudah merupakan event tetap di sore hari yang cerah, pantulan lembayung senja membuat lukisan-lukisan alam fantastis di permukaan perairan Teluk Kendari.

Dalam musim hujan sesekali warga yang berdiam di wilayah kecamatan Poasia – pesisir selatan Teluk Kendari, dapat menyaksikan pergerakan arak-arakan mega mendung serta permainan halilintar menggelegar di atas barisan perbukitan Taman Hutan Raya (Tahura) Murhum (dulu bernama Bukit Nipanipa) – arah utara Teluk Kendari. Sementara warga di pesisir selatan teluk, tempat menyaksikan peristiwa alam tersebut dalam suasana udara cerah dengan surya berbinar.

Hal sama seringkali sebaliknya. Dari pesisir utara teluk yang cerah disaksikan wilayah pesisir selatan disaput kabut atau diguyur hujan lebat.

Pulau Bungkutoko yang terbentang persis di mulut teluk, membuat Teluk Kendari bebas dari karakter ganas gelombang Laut Banda.

Keberadaan pulau berpasir putih ini, selain berpotensi dan punya prospek dikembangkan sebagai obyek rekreasi/hiburan warga kota Kendari, membuat perairan teluk tenang bagai permukaan sebuah danau.

Tak heran pula jika pada siang terik terkadang dengan kasat  mata terlihat  bagaimana permukaan Teluk Kendari berwujud bagai sebuah cermin kristal raksasa memantulkan cahaya keras ke cakrawala bebas.

Susah sekali mendapat suasana alam yang romantis seperti suasana sekeliling Teluk Kendari saat-saat malam bulan purnama.

Suasana alam Teluk Kendari dan sekitarnya, ditengok dari sudut mana saja dalam berbagai dimensi waktu, duh…, eloknya! (Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, Jumat, 28 Pebruari 2003, Hal.6)   

Gambar

Teluk Kendari/Foto: Goggle-maulatheodor.blogspot.com

Belum ada data pasti sejak kapan wilayah pesisir Teluk Kendari mulai dilirik sebagai tempat pemukiman. Yang pasti, dalam Perang Asia Timur Raya (Perang Dunia II) teluk ini mendapat pengawalan ketat dari balatentara Jepang.

Hal itu dapat dibuktikan dengan peninggalan sejumlah bekas benteng atau goa-goa pertahanan Jepang di seputar muara dan sepanjang pesisir Teluk Kendari.

Gambar

Peta Teluk Kendari/Sumber : Google – visitkendari.blogspot.com

Sampai dekade tahun 70-an, masih dapat disaksikan sejumlah goa bekas pertahanan Jepang di seputar muara Teluk Kendari seperti di Ponnangka (Mata) dan kassiponco (Mangara Bombang) lengkap dengan meriamnya. Bekas goa Jepang di Kassilampe dan ujung barat Pulau Bungkutoko.

Sedangkan di pesisir teluk terdapat lebih dari sepuluh buah goa pertahanan Jepang yang dibangun di kaki bukit mulai dari cekungan Kendari Caddi hingga wilayah pelabuhan Kendari. Di cekungan batas antara Talia dan Pulau Pandang (pesisir selatan Teluk Kendari) terdapat sebuah goa pertahanan Jepang yang cukup besar. Pada mulut goa itu terdapat bangunan beton berbentuk tabung raksasa dikelilingi semacam jendela kecil-kecil.

Goa-goa pertahanan Jepang tersebut sebagian besar telah runtuh dan sengaja dihancurkan untuk kepentingan perluasan lahan pemukiman warga.

Ketatnya pengawasan teluk oleh pihak Jepang kala itu, kemungkinan karena posisi strategis Teluk Kendari sebagai pangkalan konsentrasi yang aman bagi armada laut untuk melakukan penyerangan ke wilayah-wilayah bagian timur Indonesia hingga Samudera Pasifik.

Saat tahun-tahun awal terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara, pesisir Teluk Kendari masih sepi dari pemukiman. Beberapa tempat konsentrasi penduduk di pesisir teluk, seperti di Talia, Lapulu, Pudai, Kendari Caddi, Sodohoa, Benu-benua dan Ponggoloba masih dalam suasana kampung yang kental.

Penduduk di lokasi tersebut umumnya membangun tempat-tempat pemukiman dalam bentuk rumah-rumah panggung di pesisir teluk.

Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara kala itu, menempati areal tidak lebih dari 3 km persegi – mulai dari pelabuhan Kendari (sekarang pelabuhan samudera) hingga tanah-tanah datar di lereng bukit seputar lokasi Mesjid Raya pertama kota Kendari.

Sekedar mengingatkan, bahwa di areal inilah mulanya terkonsentrasi kantor-kantor pemerintahan jawatan dinas Provinsi Sultra.

Bersisian dengan lokasi Mesjid Raya pertama kota Kendari, dulu terletak rumah jabatan pertama Gubernur Sultra serta gedung pertemuan ‘Wekoila’. Pada dinding bukit di arah timur gedung Wekoila dipasang tulisan nama kota Kendari dalam huruf berukuran besar, terbuat dari kayu bercat putih. Tulisan KENDARI di dinding bukit tersebut jelas terbaca oleh mereka yang melakukan kegiatan pelayaran masuk keluar Teluk Kendari. Landmark kota Kendari ini rontok setelah dilakukan penggusuran bukit untuk kepentingan pembangunan kota.

Pasar pertama kota Kendari berlokasi dekat pelabuhan Kendari. Arah timur pasar, terdapat sebuah lapangan yang berpagarkan kulit-kulit bom ukuran besar. Kulit-kulit bom tersebut konon merupakan amunisi sisa-sisa Perang Dunia II yang dulunya banyak tersebar di dasar perairan Teluk Kendari.

Di tengah lapangan kecil yang sering dijadikan tempat pameran dan pertunjukan-pertunjukan hiburan oleh pemerintah Provinsi Sultra itu, terdapat tugu berlabel ‘Korban 40.000 Jiwa.’

Sekitar pesisir Teluk Kendari yang kini telah direklamasi menjadi pelabuhan kapal layar motor, dahulu juga ada sebuah tugu ‘Proklamasi 17 Agustus 1945.’

Tugu yang tegak persis di perairan teluk tersebut menjadi lokasi tempat berkumpulnya massa rakyat menyaksikan lomba dayung dan lomba perahu layar yang diprakarsai pemerintah setiap tahun di Teluk Kendari dalam rangkaian memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI. Stasiun RRI Kendari pertama berlokasi tak jauh dari tugu tersebut.

Namun, dengan berbagai dinamika perkembangan telah menjadikan banyak hal di Teluk Kendari kini hanya merupakan nostalgia.

Gambar

Meriam peninggalan Jepang di Mata, Kendari/Foto: Goggle -ippmakmalang.org

Kemajuan motorisasi armada laut, misalnya, secara otomatis telah menghapus event lomba perahu layar dalam perairan Teluk Kendari. Teluk tidak lagi diwarnai barisan perahu layar bergerak keluar Teluk Kendari mengikuti hembusan angin darat di pagi hari dan rombongan perahu layar itu kembali memasuki teluk mengikuti hembusan angin laut pada siang hari, seperti dulu.

Istilah ‘papalimba’ bagi perahu dayung yang digunakan sebagai alat transportasi angkutan umum Teluk Kendari dulu, kini juga telah pupus dengan adanya motorisasi sarana angkutan laut yang lebih efektif dan efisien.

Teluk Kendari telah menjadi saksi sekaligus bukti adanya kemajuan peradaban manusia khususnya mereka yang bermukim di pesisirnya.

Sangat disayangkan, pergerakan peradaban tersebut belum banyak diimbangi kepedulian untuk tetap menjaga dan memelihara kealamian Teluk Kendari sebagai suatu anugerah Tuhan yang jarang bandingannya.

Pendangkalan teluk yang tampak kian meluas setiap tahun, sebagai contoh. Demikian pula masih adanya kebebasan mereklamasi pesisir untuk berbagai keperluan, benar-benar telah merusak sejumlah kondisi fisik Teluk Kendari.

Dulu, perairan Teluk Kendari menyentuh hingga kaki bukit di cekungan Kendari Caddi hingga tepi jalanan depan asrama tentara Kampung Salo. Tapi kini berpuluh hektar laut teluk di cekungan tersebut telah ditimbun dan dijadikan lokasi pemukiman warga.

Lokasi kantor Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang dibangun berhadapan dengan lokasi asrama tentara Kampung Salo adalah bagian dari Teluk Kendari yang telah ditimbun menjadi daratan.

Pendangkalan dan reklamasi yang tak terkendali, serta masih dibiarkannya perairan teluk sebagai tempat pembuangan atau muara dari semua drainase Kota Kendari seperti yang kini sedang berlangsung, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan Teluk Kendari akan berubah menjadi semacam sebuah kanal saja.

Kalau begitu nanti kejadiannya, Oooo….la…laaa! (Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, Sabtu, 1 Maret 2003)           

Gambar

Tampak salah satu penjual jagung muda di Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Selain penjual terompet dan kembang api, sejumlah jalan protokol di kota Makassar, Senin (31/12) diramaikan dengan penjual jagung muda.

Para penjual jagung muda tersebut terlihat bertebaran di ruas-ruas jalan protokol seperti di Jl. Sultan Alauddin, Jl.Urip Sumoharjo, Jl. Cenderawasih, Jl. Ratulangi, Jl. AP Pettarani, dan sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan. Selain itu, di tepian ruas-ruas jalan yang ada di sekitar pasar-pasar tradisional terdapat banyak penjual jagung muda.

Jagung-jagung muda tersebut, menurut penjelasan sejumlah penjual sekitar Pasar Pabaeng-baeng  di Jl. Andi Tonro, berasal dari sejumlah daerah di selatan Makassar, seperti  Kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto yang saat ini lagi musim panen jagung.

Hampir semua titik penjualan jagung muda terlihat laris-manis ramai dikerumuni pembeli. ‘’Sejak hujan pagi hari sudah banyak orang datang membeli jagung muda. Sudah lebih 15 ikat jagung saya yang laku,’’ jelas Dg Aru, seorang penjual  jagung muda di tepi Jl Mesjid Raya, Senin (31/12) siang.

Seikat jagung yang berisi 15 – 20 biji jagung muda dijual seharga Rp 20.000. Ada juga yang menjual eceran seharga Rp 2.000 sebuah jagung muda.

‘’Untuk dibakar dan direbus ramai-ramai nanti malam menunggu datangnya tahun 2013,’’ kata seorang ibu dari wilayah Kecamatan Mariso yang membeli 3 ikat jagung muda di Pasar Terong Makassar.

Gambar

Penjual jagung muda laris manis di Jl Mesjid raya, Pasar Terong Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Langit kota Makassar sejak Senin pagi di akhir Desember 2012 mendung, bahkan terjadi gerimis di sejumlah tempat. Lepas tengah hari, ketika udara mulai kelihatan cerah, terlihat sejumlah jalan sudah dipadati kendaraan. Dalam malam menyambut pergantian tahun 2012 ke 2013 diperkirakan ratusan ribu kendaraan sepeda motor maupun mobil dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan akan memasuki kota Makassar.

Pihak Kepolisian Polrestabes Makassar sebelumnya sudah menghimbau mereka yang akan nginap di hotel-hotel sekitar Pantai Losari untuk sudah masuk satu hari sebelum hari H. Lantaran mulai pukul 17.00 wita semua jalan dalam radius 1 km yang mengarah ke Pantai Losari akan ditutup dari semua jenis kendaraan, dan baru akan dibuka pukul 8.00 pagi, Selasa, 1 Januari 2013.

Pemerintah kota Makassar tidak menyediakan acara hiburan khusus menyambut pergantian tahun di Pantai Losari. Akan tetapi, jika tak hujan pantai kebanggaan warga dan pemerintah kota Makassar tersebut diperkirakan akan dijejali sampai 200-an ribu orang pada malam menyambut datangnya Tahun Baru 2013. Lebih dari 4.000 personil kepolisian telah disiagakan untuk menjaga kelancaran dan keamanan suasana malam pergantian tahun di Kota Makassar.

Jika tak hujan, malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di kota Makassar diperkirakan akan meriah di semua sudut.  Hal itu bisa dilihat dari kepadatan tingkat hunian hotel-hotel. Lebih dari 6.000-an kamar hotel di kota Makassar sudah ter-booking beberapa hari sebelumnya. Larisnya penjualan terompet, kembang api serta jagung muda, mengindikasikan warga kota Makassar sampai ke lorong-lorong akan bersuka ria dalam malam menyambut  datangnya  Tahun Baru, 1 Januari 2013.

Sejumlah komunitas dalam malam menyambut datangnya tahun 2013 melakukan kegiatan religius berupa acara zikir bersama di Kota Makassar.  (Mahaji Noesa/Independen.co/31 Desember 2012)

Gambar

Bekas kediaman Mochtar Lufthi di Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Ketika kini jalanan sepanjang sisi kanan-kiri umumnya telah ditumbuhi rumah-rumah hunian beton bertingkat dengan gaya arsitektur mutakhir, rumah peninggalan masa Belanda (verponding) di Jalan Muchtar Lufhti No. 26 Kota Makassar, bentuknya masih tetap tidak berubah.

Rumah tersebut beratap genteng berundak. Pintu jendela berukuran besar dengan teras terbuka sebagai ciri rumah-rumah pejabat militer Belanda tempo dulu di Kota Makassar. Dinding depan bangunan tak terawat, sebagian plasterannya terkelupas memperlihatkan susunan batu bata tua yang melepuh

Di halaman kosong seputaran rumah dalam areal 18 x 40 meter tersebut, tampak tumbuh sejumlah tanaman pisang dengan buah menanti matang. Ada juga pohon nangka, pohon jeruk nipis, dan tanaman pepaya. Di lahan kosong sebelah timur rumah ini tumbuh gulma liar. Sebuah pemandangan minor layaknya rumah pedesaan di tengah pesatnya perkembangan Kota Metropolitan Makassar.

Pintu pagar halaman terbuat dari kayu tambal-sulam, tertutup. Rumah tersebut Selasa siang (07/08/2012) tampak sepi. Tak terlihat ada gerakan orang di dalamnya. ”Mungkin mereka tidur,” sahut Mudding Dg Ngewang (60) yang meleseh di balai-balai salah satu pos keamanan tak jauh dari rumah tersebut.

Lelaki asal Karunrung Jipang di selatan Kota Makassar mengaku, sejak tahun 1979 menumpang membuka usaha tambal ban di halaman kosong depan rumah tersebut. ”Di dalam rumah itu sekarang tinggal dua keluarga. Mereka adalah keponakan dan cucu dari almarhun Sitti Maimunah, orang asal Banjar, Kalimantan, sebagai pemilik rumah,” jelasnya.

Penjelasan Mudding tersebut menimbulkan tanya, lantaran sejak lama di salah satu pilar teras halaman depan rumah terpampang tulisan mencolok, sebagai berikut:

”Di rumah ini H.Mochtar Luthfie Tokoh Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tewas ditembak oleh tentara kolonial Belanda KNIL dalam peristiwa 5 Agustus 1950 di Makassar”

Dari berbagai sumber diketahui, jika Muchtar Luthfie, pemuda kelahiran tahun 1900 di Balingka,  Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah salah satu sosok ulama pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia.

Anak dari ulama H.Abdul Latief Rasyidi di Padang Panjang ini, ketika sekolah agama tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau, tinggal bersama dan dididik langsung oleh H.Rasul – ayahanda Buya Hamka.

Dia dikenal di lingkungannya kala itu sebagai pemuda yang pandai berpidato dan berdiskusi dalam soal-soal keagamaan (Islam). Bahkan dalam perkembangannya, Muchtar Luthfie, yang sebelumnya pernah dipercayakan memimpin Diniyah School Padang Panjang Cabang Sibolga, jadi guru di sekolah khusus sekolah anak-anak bangsawan Hollands Inlandsche Kweekschool dan OSVIA (School tot Opleiding van Inladsche Ambtenaren), berbakat besar menjadi penulis buku.

Bukunya berjudul Hikmatul Muchtar berisikan pikiran yang menentang imperialisme dan kolonialisme kala itu, membuat berang pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Bukunya disita, dan Muchtar Luthfie dicari pihak Belanda untuk mendapatkan hukuman karena dinilai sebagai pengacau situasi.

Gurunya, H.Rasul membantu mengamankan Muchtar Luthfie menyeberangkan ke wilayah pesisir Semenanjung Malaka, sekarang Malaysia. Dari sini, pemuda yang juga penentang keras ajaran komunis tersebut, justru melangkahkan kaki menuju ke Mesir.

Selain untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaannya, di Mesir bersama pemuda-pemuda Indonesia lainnya dia membentuk organisasi serta berbagai kegiatan yang ditujukan untuk melakukan penantangan terhadap kaum penjajah kolonialis Belanda di Indonesia.

Salah satunya, pada tahun 1926, bersama Ilyas Yacoub, mahasiswa Universitas Al-Azhar di Mesir, mendirikan organisasi pemuda bernama Perhimpunan Penjaga Indonesia. Untuk menyebarluaskan gagasan serta ide-ide berkaitan dengan perlawanan penjajah Belanda di Indonesia, atas prakarsanya diterbitkan juga majalah Seruan Al-Azhar dan Pilihan Timur.

Tahun 1931 kembali ke Sumatera, tempat kelahirannya. Dia menjadi Ketua Dewan Propaganda Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) Sumatera Barat yang kegiatannya mencakup pengembangan kader di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik.

Selain mengajar di berbagai sekolah, Muchtar Luthfie juga pernah membentuk sebuah sekolah khusus untuk pemberdayaan perempuan Indonesia bernama Normal School. Kehadiran kembali Muchtar Luthfie ke Indonesia dinilai pemerintah kolonial Belanda aktivitasnya makin membahayakan, sehingga harus ditangkap tahun 1932. Dua tahun kemudian, bersama dua rekannya – H. Jalaluddin Thalib dan H.Ilyas Yacoub diasingkan ke penjara Belanda di Digul, Irian. Lantas ketika tentara Jepang tahun 1942 berhasil mengusir pendudukan Belanda di Indonesia, Muchtar Luthfie diasingkan ke Australia.

Selama di Benua Kanguru tersebut, dia bersama rekan-rekannya digodok oleh Belanda untuk kembali ke Indonesia merebut kekuasaan Belanda yang telah diambil alih oleh tentara Jepang. Atas saran Gubernur Jenderal Belanda, Van Der Plas yang pernah menjadi kepala pemerintahan kolonial di Makassar, Muchtar Luthfie yang memiliki banyak ilmu tentang Agama Islam tersebut dikirim ke Makassar bersama Jalaludddin Thalib dalam kedudukan sebagai anggota konstituante Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda.

Menurut rancangan pihak kolonial, misi yang diemban Muchtar Luthfie adalah mendekati para ulama khususnya di Sulawesi Selatan mencitrakan bahwa pihak Belanda memperhatikan masalah keagamaan dengan akan membangun sebuah mesjid terbesar di Makassar.

Namun, darah patriot dan jiwa nasionalisme yang telah mengalir di tubuh Muchtar Luthfie, membuat batinnya lebih berontak. Mulutnya mengatakan yes terhadap misi Belanda itu, tapi sesuai dengan kata hatinya ketika di Makassar justru ia melangkah lain untuk kepentingan nasional Indonesia. Menggalang kekuatan dengan sejumlah ulama di Makassar untuk membangun sendiri sebuah mesjid dalam kaitan menguatkan kekuatan benih persatuan dan kesatuan untuk terus melawan kehadiran pihak kolonial.

Bersama 28 ulama, pengusaha dan tokoh masyarakat di Kota Makassar, Muchtar Luthfie mengetuai pembangunan Mesjid Jami’ tahun 1949. Anemer atau pemborongnya dari warga keturunan Tionghoa bernama Jie Pak Fong. Mesjid Jami’ yang bekapasitas tampung lebih 1.000 jamaah tersebut, merupakan mesjid terbesar dan termegah pertama di Sulawesi Selatan. Mesjid Jami’ inilah yang telah dipugar megah dan sampai sekarang dikenal dengan nama Mesjid Raya Makassar.

Langkah Muchtar Luthfie tersebut membuat kecewa tentara KNIL Belanda. Sementara di lain pihak simpati warga di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan terhadap Muchtar Luthfie kian besar. Hingga dia kemudian diangkat sebagai Ketua Partai Masyumi Cabang Sulawesi Selatan.

Saat masyarakat sedang ramai-ramainya menentang kehadiran Negara-negara Federal dengan tuntutan segera membubarkan NIT, subuh hari 5 Agustus 1950, ketika Muchtar Luthfie berdiri menguak jendela rumahnya usai shalat subuh, tiba-tiba saja dia diberondong tembakan oleh sejumlah tentara KNIL. Termasuk jidatnya ditembus peluru. Sang isteri menangis meraung memeluknya tapi nyawa Muchtar Luthfie tak dapat terselamatkan. Dia tewas pada subuh hari yang lengang di rumah tempat kediamannya yang kini masih tegak di Jl. Muchtar Luthfi No.26 Kota Makassar.

Namun rumah tersebut sekarang tidak ada lagi hubungan dengan keluarga atau keturunan dari Muchtar Luthfie. Menurut penuturan beberapa generasi yang hidup di tahun 50-an, pada masa Walikota Makassar dijabat oleh H.Arupala (1962 -1965), rumah tersebut telah dijual oleh isteri Muchtar Luthfie sebelum kembali ke kampung halamannya di Aceh. Pembelinya adalah sahabat dari almarhum Muchtar Luthfie yang juga pernah terlibat dalam panitia pembangunan Mesjid Jami’. Pembeli disebut-sebut sebagai H.Banjar, karena berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia (sebelum meninggal) lalu menyerahkan rumah tersebut kepada seorang anak putri bungsunya bernama Sitti Maimuna.

Belakangan ketika Sitti Maimuna meninggal dunia, anak-anaknya yang menempati rumah tersebut. Namun pada tahun 1998 lalu, menurut cerita Mudding, datang seorang anak lelaki almarhum H. Banjar dari Bandung menyatakan juga punya hak terhadap rumah di Jl. Muchtar Luthfie tersebut.

”Dia yang memberikan tulisan di rumah tersebut sebagai tempat ditembaknya Muchtar Luthfie. Saya tidak tahu bagaimana selanjutnya tuntut menuntut hak atas rumah tersebut. Yang jelas rumah itu tidak pernah ada perubahan. Sepengetahuan saya, sejak tahun 1979 tidak pernah ada pihak veteran atau pihak pemerintah yang datang melihat atau memberikan bantuan untuk perbaikan rumah tersebut,” katanya.

Bukan tidak mungkin, jika pihak anak, kemanakan dan cucu almarhum H. Banjar sepakat, mereka dapat menjual rumah bekas kediaman Muchtar Luthfie kepada pihak lain untuk kemudian dirobohkan dan dijadikan bangunan komersial seperti bangunan-bangunan yang kini sudah tumbuh di sekitarnya. Dengan begitu, akan punahlah jejak ulama yang pejuang asal Sumatera Barat yang sebenarnya juga pantas jika diusulkan mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 7 Agustus 2012)

songkolo

Songkolo Bagadang/Foto: google-geoxperience.gonla.com

Layaknya wilayah metropolitan, aktivitas warga di kota Makassar sekarang sudah hidup siang-malam. Salah satu pertanda kehidupan malam, di hampir semua sudut kota bermunculan warung atau pedagang K-5 yang menyuguhkan menu jualan ‘Songkolo Bagadang.’

Songkolo adalah makanan khas etnik Bugis-Makassar. Sebagian orang dari wilayah Bugis menyebutnya dengan nama Sokko. Makanan yang terbuat dari beras jenis ketan ini sudah dikenal sejak lama di wilayah Sulawesi Selatan. Kehadirannya selalu dikaitkan pelaksanaan pesta-pesta gembira, seperti pesta hajatan, syukuran, dan perkawinan.

Bahkan suguhan Songkolo yang biasanya terbuat dari beras ketan berwarna putih, merah atau hitam hingga saat ini, masih sering dikaitkan dengan prosesi sejumlah acara atau pesta adat. Masih banyak warga asal Bugis – Makassar di wilayah perkotaan sekarang merasa kurang lengkap apabila tak menghadirkan Songkolo apabila menjamu tamu di meja-meja makan saat perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Bahkan dalam memeriahkan peringatan maulid – kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tahun, banyak komunitas warga di kabupaten/kota Sulawesi Selatan telah menjadikan semacam tradisi untuk melakukan lomba membuat Songkolo hias.

Sebenarnya banyak jenis kuliner tradisional lainnya yang juga dijajakan melalui cafe, warung dan pedagang K-5 untuk warga sepanjang malam hari di kota metro Makassar. Tapi entah siapa yang memulai, para penjual penganan dari ketan itulah yang pertama kali memajang label sebagai makanan malam yang sekarang populer dengan nama Songkolo Bagadang. Setelah kuliner Songkolo, kemudian menyusul penamaan untuk kuliner malam lainnya, seperti Coto Bagadang dan Nasi Kuning Bagadang.

Bahkan sebenarnya yang namanya Sarabba, minuman tradisional yang terbuat dari adonan sari panas jahe dan telur, jauh sebelumnya telah menjadi jualan larut malam saat Makassar belum berdenyut sebagai kota metro. Namun nama Songkolo Bagadang yang kemudian menonjol sebagai kuliner tradisional jualan malam hari di kota Makassar.

Salah satu dari berpuluh penjual Songkolo Bagadang yang mewarnai perdagangan kuliner malam metro Makassar saat ini yaitu penjual Songkolo Bagadang Hajja Haniah, berlokasi di Jl. Antang Raya N0. 19 D, arah timur kota Makassar. Warung penjualan Songkolo di poros jalan menghubungkan kota Makassar – kabupaten Gowa tersebut, melayani pembeli 24 jam.

Menurut pemiliknya, Hj, Haniah (50), onzet warung Songkolo Bagadang yang dibuka sejak tahun 1995 tersebut antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap hari. Pembeli paling banyak malam hari, beragam, mulai dari sopir truck yang melintas malam, para sopir taksi, mahasiswa dan orang yang begadang malam hari. Bahkan tidak jarang warungnya dikunjungi rombongan pendatang dari luar kota.

Selain makan di tempat, banyak juga pembeli Songkolo Bagadang Hj.Haniah untuk dibawa pergi. Songkolo dijual dibungkus kertas kopi berat 2 ons per porsi dengan harga Rp 5.000. Dilengkapi lauk, berupa gorengan ikan atau teri kering, sambal, serta parutan kelapa alias sarundeng.

Selama dua malam observasi, terlihat setiap malam banyak pengunjung warung Songkolo Hj.Haniah juga datang menggunakan mobil-mobil tergolong jenis mewah.

Lidya Nurhidayati (26), karyawati salah satu bank swasta di Makassar, hampir setiap minggu menikmati Songkolo Bagadang Hj. Hania. “Selain enak, harganya juga terjangkau. Bahkan kalau ada teman dari luar kota, saya pasti merekomendasikan penganan khas kita ini,’’ kata Lidya sesaat setelah menikmati hidangan Songkolo.

Selain di Jalan Antang Raya, sajian Songkolo Bagadang dapat dijumpai malam hari di Jl. Pongtiku, Jl. Landak, Jl. AP Pettarani, dan sejumlah tempat lainnya di kota Makassar.  Sekalipun namanya sama, masing-masing warung punya resep berbeda dalam memeroses pembuatan Songkolo Bagadang. Hj.Haniah, misalnya, memilih pembuatan Songkolo yang terbuat dari campuran beras ketan hitam dan ketan merah.

‘’Sebelum beras ketan dikukus terlebih dahulu direndam 3 sampai 4 jam. Setelah matang, ketan ditiris santan kental agar rasanya enak dan tak lengket,’’ ungkapnya.

Namanya Songkolo Bagadang, tapi tidak berarti penganan tradisional ini hanya untuk dimakan bagi orang-orang yang akan begadang atau tidak akan tidur semalaman. ‘’Justeru kalau makan Songkolo sampai dua porsi,’’ cepat ngantuk, jelas Hairuddin, usai santap Songkolo Bagadang di wilayah Rapoocini.

Menikmati udara malam Makassar, jangan lupa Songkolo Bagadang, uenakkk…!