Posts Tagged ‘selatan’

Sudah puluhan tahun menjalankan bisnis sebagai pedagang obat keliling, namun H Abd Wahid M tidak mendaftarkan diri sebagai anggota organisasi Persatuan Penjual Obat Seluruh Indonesia (Perposi). Maklum, pria kelahiran 21 April 1957 asal Welado, kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tersebut bukan tipe pedagang obat seperti yang sering berkoar-koar di kaki lima.

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

‘’Saya memang sudah puluhan tahun hampir tiap hari berkeliling ke pasar-pasar tradisional yang terdapat di sekitar kota Kendari, Sulawesi Tenggara menyalurkan obat-obat dibutuhkan masyarakat tapi bukan sembarang obat, melainkan obat-obat generik bebas untuk umum yang terdaftar dengan harga relatif terjangkau,’’ aku Sang Haji ketika dijumpai di kediamannya, Powatu, kota Kendari, Rabu (19/11/2014) siang.

Masyarakat pedagang serta pengunjung setia pasar tradisional khususnya pasar rakyat Abeli Sawa, Pohara, Batu Gong, dan Paku Jaya sudah sangat akrab dengan sosok H. Abd Wahid. Mereka sudah mengenal suami dari Hj Jastian, S.Ag sejak pasar-pasar tradisional tersebut masih merupakan bagian dari wilayah Kota Madya Kendari, belum masuk wilayah administrative Kabupaten Konawe, seperti sekarang.

Menurut kakek dari 8 cucu tersebut, lantaran akrabnya dengan warga seputar pasar-pasar tradisional tersebut, dirinya juga sering dititipi pelanggannya untuk membelikan obat-obat paten khusus sebagaimana diresepkan dari dokter.

‘’Tanpa ada tip khusus selama ini saya sering layani titipan mereka. Pesanan obat itu saya belikan di apotek-apotek yang ada di kota Kendari, kemudian saya berikan saat saya datang berjualan di pasar-pasar yang minimal saya kunjungi sekali dalam seminggu. Sejuk rasanya dapat kepercayaan dan mampu melayani permintaan kebutuhan pelanggan seperti itu,’’ kata pengurus komite sekolah selama 18 tahun dan menjadi ketua Komite Sekolah selama dua periode yang masih dijalani sampai sekarang di SMA Negeri 6 kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Sebelum terjun ke profesi sebagai penyalur obat keliling yang didasari prinsip dengan menyediakan kebutuhan obat keperluan warga merupakan bagian dari pekerjaan berguna membantu manusia, H Abd Wahid bergerak di dunia kontraktor. Dimulai tahun 1977 bersentuhan dengan kegiatan kontraktor mengerjakan Perumahan Transmigrasi di Tinanggea. Tahun 1985 ikut kegiatan di CV Bintang Raya Kendari, sebagai pengawas. Kemudian selama 7 tahun menjadi Direktur CV kemudian berubah menjadi PT Cahaya Petir Bumi Permai dengan mengerjakan proyek-proyek fisik bernilai ratus-ratus juta.

Namun nurani alumnus sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Sungguminasa, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tahun 1975 ini berontak setelah merasakan lika-liku dunia konstruksi yang ditekuni. ‘’Ibarat pipa, jadi kontraktor itu banyak bocor-bocornya,’’ ujar Pembina Badan Pengajian Mesjid Babussalam di kecamatan Ponggolaka (d/h. Tobuha) kota Kendari.

Sebelum berbisnis menggunakan mobil menyalur obat keliling pasar rakyat, H. Abd Wahid juga serius menekuni berbagai organisasi sosial kemasyarakatan serta pernah terjun di dunia politik dan pers.

Pernah selama 20 tahun menjadi Ketua RT di kelurahan Ponggolaka (d/h. Tobuha). Tahun 1976 jadi kader partai PPP di kota Kendari. Tahun 1987 bergabung di Golkar. Tahun 1998 tampil sebagai deklarator pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di kota Kendari.

Sebelumnya, mantan Wakil Sekretaris KNPI kota Kendari ini, tahun 1987 menjadi Sekretaris dan Wakil Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor kota Kendari. Dalam kiprah dan prestasinya membina organisasi NU tersebut H Abd Wahid sejak 2012 hingga sekarang dipercaya menjadi pengurus wilayah Nahdhatul Ulama (NU) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sejak tahun 2002 hingga saat ini H. Abd Wahid adalah Pengurus Ikatan persaudaraan Haji (IPH) di kota Kendari. Dia juga selama dua periode pernah mendapat kepercayaan sebagai Pengurus DDI Provinsi Sulawesi Tenggara. Dan, sampai sekarang juga dipercaya sebagai Ketua Komite SD 1 Mandonga. Bahkan juga pernah terlibat dalam kegiatan jurnalis di majalah kriminal Fakta terbitan Surabaya, SK Target, dan suratkabar Timur Indonesia terbitan lokal di kota Kendari.

Anda tahu, ayah dari 4 orang anak (2 meninggal dunia) ini sejak tahun 1999 hingga saat ini merupakan salah seorang penyuluh agama dan juru da’wah NU yang tercatat di Kantor Kementerian Agama kota Kendari. Lantaran itu, selain mempunyai jadwal setiap Jumat bertugas sebagai khatib di mesjid dalam wilayah kota Kendari, H Abd Wahid juga seringkali harus menangani acara ritual keagamaan secara Islam, seperti untuk acara pernikahan, doa syukuran, hingga urusan kematian mulai penanganan memandikan jenazah hingga pemakaman serta mengisi ceramah tazzia.

Bahkan pernah, ceritanya, dia dipanggil mendoakan seseorang yang sudah tiga hari dalam kondisi sekarat dan bertindak ‘aneh-aneh’ selalu ingin telanjang. ‘’Alhamdulillah………setelah memohon ampunan dari Allah yang bersangkutan dapat berpulang dengan tenang,’’ jelas H Abd Wahid.

Pekerjaan sebagai penyalur obat, penyuluh agama dan juru da’wah itu yang kini ditekuni H.Abd Wahid. Dia setiap hari usai shalat subhuh rutin meninggalkan kediamannya meluncur dengan mobilnya membawa berbagai jenis obat generik ke pasar-pasar tradisional. Dia sudah menyusun jadual lokasi yang akan dikunjungi maupun acara yang akan dihadiri setiap hari. Jika hari Jumat, memilih mengunjungi pasar rakyat terdekat, karena adanya kewajiban menjadi khatib di mesjid yang sudah dijadualkan di kota Kendari.

Pengkhotbah yang tetap menjunjung falsafah leluhurnya dari Tana Bugis yaitu Resopa Temmanginggi Naiya Naletei Pammase Dewata (artinya: Hanya dengan kerja keras rakhmat Tuhan akan diperoleh) dijuluki banyak warga sebagai bukan pedagang obat sembarangan. ‘’Saya sangat menyukai pekerjaan yang dapat memberi manfaat buat banyak orang,’’ ujarnya. (Terposting di Kompasiana, 19 Nopember 2014)

Iklan

Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari

Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari


Perkembangan pesat perluasan kota Kendari dalam 10 tahun terakhir ditandai dengan kehadiran pembangunan banyak bundaran. Istilah bundaran diberikan oleh warga kota Kendari terhadap jalan-jalan simpang empat yang baru dibuka seiring dengan perluasan lokasi pemukiman, kawasan perkantoran serta kawasan bisnis di berbagai penjuru ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini.
Jalan-jalan simpang empat yang ditandai dengan pembuatan bundaran di tengahnya umumnya dibuat dalam ukuran jalanan yang lebar 8 hingga 15 meter. Antara bundaran yang satu dengan lainnya menjadi pertanda kawasan perluasan pengembangan kota semacam blok wilayah. Bundaran itu masing-masing diberi tanda dan nama julukan tersendiri oleh warga kota.
Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari

Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari


Seperti bundaran Tapak Kuda yang menjadi pertemuan jalan dari arah Kendari Beach ke Bundaran Stainless, Jl Malik Raya dan ke arah Jembatan Tripping Andonohu. Bundaran stainlees di arah barat bundaran Tapak Kuda merupakan perempatan jalur Jalan By Pass ke Pasar Baru dan Jl Made Sabara – Jembatan Tripping Andonohu. Warga menamai sebagai bundaran Stainless lantaran di tengah bundaran terdapat ornamen taman yang terbuat dari besi-besi kilap anti karat stainless steel.
Ke arah selatan terdapat bundaran Andonohu yang juga sering disebut bundaran Panser lantaran di tengah bundaran terdapat asesori sebuah kendaraan militer jenis Panser yang sudah tak terpakai lagi. Bundaran ini menandai perempatan jalanan arah Andonohu dan kawasan kampus Universitas Halu Oleo (UHO).
Ke arah selatan menenggara terdapat bundaran Polda. Disebut demikian menandai perempatan jalan menuju markas Polda Sultra yang berhadapan dengan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari bundaran ini ke arah timur bersambung dengan poros jalan ke Moramo kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Sekitar 6 km ke arah barat bundaran Polda terdapat bundaran Bola Dunia. Bundaran yang di tengahnya terdapat tugu Bola Dunia, merupakan persimpangan jalan dari arah Mandonga ke bandara Halu Oleo (d/h. bandara Wolter Monginsidi).
Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari

Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari


Masih terdapat sejumlah bundaran lain yang menjadi ikon baru kota Kendari seperti bundaran Abunawas di depan RSUD Abunawas Andonohu dan bundaran Pesawat yang di tengahnya terdapat sebuah reflika pesawat jet tempur yang menandai persimpangan dari arah Mandonga menuju Konda dan ke Pintu Gerbang perbatasan kota Kendari dengan kabupaten Konsel.
Antarbundaran juga terdapat jalan-jalan penghubung kualitas hotmix dengan lebar jalan di atas 6 meter. Bundaran-bundaran tersebut selain menjadi penanda kawasan, sekaligus mencerminkan kesungguhan kerja Pemkot Kendari menata ruang meluaskan kota dengan membangun jalan mengantisipasi perkembangan lalu-lintas perkotaan bebas dari kemacetan.
Untuk mempercepat mencapai tujuan, para sopir taksi kota Kendari umumnya menanyakan nama bundaran yang terdekat dengan alamat yang hendak dituju penumpangnya.
Mengamati penataan jalan serta keapikan pengaturan arus lalu-lintas antarbundaran yang terdapat di pusat kota Kendari yang juga dijuluki sebagai Kota Lulo, bukan tidak mungkin dalam tahun 2014 ini dapat meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha di bidang penataan serta pengaturan perlalu-lintasan kota.
Kota Kendari luasnya lebih dari 300 km persegi dua kali lebih besar dari wilayah kota Makassar. Masih terdapat lahan cukup luas untuk pengembangan wilayah kota terutama di arah selatan Teluk Kendari, ke arah timur, dan ke arah utara poros perbatasan dengan kabupaten Konawe.
Penduduk kota saat ini kurang lebih 300 ribu jiwa. Tak heran jika di berbagai penjuru kota masih terlihat banyak wilayah lengang penduduk.
Jika Jembatan Bahteramas melintas Teluk Kendari dari Kota Lama ke Lapulu dapat terujud dipastikan akan jadi pemicu perkembangan wilayah bebas banjir yang masih lengang di arah timur kota hingga Sambuli.
Banyak warga menyarankan pengembangan kota Kendari kelak tetap mempertahankan ciri pembangunan bundaran-bundaran yang dibuat tematik untuk penanda kawasan.
Bundaran Mandonga yang dibangun sejak 25 tahun lalu merupakan bundaran pertama jadi kebanggaan pertanda pusat kota Kendari, setelah sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif (Kotif). Bundaran ini menjadi pengurai jalan simpang tiga dari dan menuju arah timur kota lama Kendari, menuju bandara Halu Oleo arah selatan dan poros keluar arah utara ke kabupaten Konawe dan kabupaten Kolaka
Terdapat sejumlah bundaran telah dirombak, seperti bundaran Wuawua, bundaran Pasar Baru, dan bundaran Kota Lama untuk mengakomodasi kian berkembangnya keramaian dan kepadatan arus lalu-lintas kota. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 26 Agustus 2014)

Taman Baca di lokasi Pantai Toronipa/Ft: Mahaji NoesaSekelompok anak-anak usia sekolah dasar mengusik seekor binatang Kuskus yang merayap lambat di pucuk pohon cemara angin di Pantai Toronipa, Kamis (4/9/2014) siang. Sejumlah pengunjung pantai di Kecamatan Soropia kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara ikut menyaksikan gerakan lelet kuskus endemik Sulawesi itu berpindah-pindah di jejeran cemara angin yang seolah memagar Pantai Toronipa.

Pantai yang berbatasan langsung dengan alam pegunungan hanya berjarak sekitar 15 km dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Warga desa Toronipa dan sejumlah desa lain yang masuk kecamatan Soropia apabila hendak berurusan ke Unaaha, ibukota kabupaten Konawe memilih jalan terdekat melalui kota Kendari. Kota Kendari ke Unaaha berjarak sekitar 60 km.

Lagi pula setiap hari–pagi hingga sore hari, terdapat angkutan penumpang umum (pete-pete) rute Pasar Sentral Kota Lama (kota Kendari) ke Soropia (kabupaten Konawe) dengan tarif Rp 10.000 per orang.

Tak hanya tertarik dengan kuskus, para pengunjung siang itu memperhatikan tingkah kelompok anak-anak pengusik kuskus karena masing-masing terlihat  membawa dan sesekali meniup suling bambu.

Seorang warga sekitar menjelaskan, anak-anak tersebut berasal dari perkampungan etnik Bajo di arah selatan tempat rekreasi Pantai Toronipa, beberapa waktu sebelumnya ikut meramaikan permainan musik bambu dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan RI di Soropia, ibukota kecamatan Soropia. Mereka kemungkinan masih terkesan dengan permaianan musik bambu sehingga masih enggan melepas suling yang digunakan.toro2

Lebih menarik lagi, menurut Hasni, anak-anak dari perkampungan Bajo sebelum mengusik kuskus siang itu baru saja menyimak sejumlah buku koleksi di Taman Bacaan Pantai Toronipa. Nah…luar biasa kan…..

Di pojok utara lokasi tempat rekreasi Pantai Toronipa yang indah menawan terdapat sebuah rumah panggung kayu berukuran 5 x 6 meter sengaja dibuat sebagai perpustakaan bagi pengunjung Pantai Toronipa diberi nama Taman Bacaan Pantai Toronipa.

Namun begitu taman bacaan ini kemudian terbuka gratis untuk umum. Awalnya, taman bacaan ini hanya dikunjungi sebatas beberapa pengunjung Pantai Toronipa saat hari Minggu atau hari-hari libur lainnya.

Belakangan justeru setiap hari tak pernah sepi dikunjungi anak-anak terutama dari pemukiman suku Bajo. Sekitar tempat rekreasi Pantai Toronipa terdapat 5 desa berpenduduk etnik Bajo, yaitu desa Bokori, Bajoe, Mekar, Leppe, dan Bajo Indah.toro3

Ina, seorang wanita penjual ikan di poros jalan Desa Mekar mengatakan, awalnya orang Bajo hanya menempati wilayah pemukiman di pantai Desa Leppe. Mereka adalah orang Bajo penghuni Pulau Bokori yang di-resettle ke daratan pesisir pantai Leppe.

Maklum, ketika Pulau Bokori masih berada dalam wilayah Kabupaten Kendari, Pemkot Kendari di tahun 70-an berencana mengembangkan pulau pasir yang permukaannya timbul tenggelam mengikuti pasang surut air laut sebagai lokasi penelitian dan wisata pulau.

Sekarang Pulau Bokori yang sudah tak berpenghuni dan 4 desa Bajo lainnya yang berimpitan dengan desa Leppe (salah satunya juga diberi nama desa Bokori)  masuk wilayah administratif kecamatan Soropia kabupaten Konawe.

Taman Bacaan Pantai Toronipa baru dibuka Januari 2014 oleh pemilik tempat Rekreasi Pantai Toronipa Brigjenpol (P) Drs Edhi Susilo Hadisutanto,SH, MBA, mantan Kapolda Sulawesi Tenggara periode 2004 – 2006.

Menurut Hasni, sang ibu penjaga perpustakaan, sejumlah pengunjung menyarankan agar koleksi taman baca diperkaya dengan buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan anak didik khususnya sekitar lokasi taman baca. Koleksi sekarang kebanyakan berupa buku dan majalah umum dari koleksi pribadi sang pemilik.

Sejak didirikan, menurut Hasni tak pernah ada aparat perpustakaan kabupaten Konawe maupun petugas perpustakaan umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang datang melirik apalagi menyumbangkan buku ke Taman Baca Pantai Toronipa. Padahal kehadiran taman baca serupa Taman Baca Pantai Toronipa dibicarakan sejumlah pengunjung yang pernah mampir, dapat dijadikan model dalam menggalakkan serta menggenjot minat baca masyarakat. (Mahaji Noesa, kreport kompas.com 4 September 2014)

Gambar

Gambar jimat Naga Sikoi/Ft: Mahaji Noesa

Naga yang digambarkan seperti ular ternyata tak hanya hidup dalam kepercayaan dan budaya bangsa di Cina, Korea dan Jepang. Di kalangan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, juga makhluk yang tak pernah terlihat di alam nyata tersebut gambarnya sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu. Namanya Naga Sikoi.

Cerita tentang Naga Sikoi yang beredar dari mulut ke mulut ini sebenarnya sudah saya monitor sejak tahun 80-an dari sejumlah daerah kabupaten beretnik Bugis di Provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan dari pantauan di lapangan, cerita Naga Sikoi, sejak lama juga sudah menyebar hingga ke etnik lainnya di Sulawesi Selatan, dikaitkan sebagai jimat pekasih terutama bagi kalangan muda-mudi agar mudah mendapatkan pasangan asmara.

Dari salah seorang remaja pengguna jimat Naga Sikoi di Kabupaten Bone mengakui, sejak ia mengantongi jimat tersebut ada semacam kepercayaan diri untuk mendekati wanita yang disenangi, dan mengaku telah beberapa kali membuktikan ketika mengutarakan cinta kepada wanita yang disukai tak pernah ditolak.

Dia mengaku, seperti pengakuan dari sejumlah pria pemilik jimat Naga Sikoi yang dihubungi lainnya, memperoleh jimat tersebut melalui orang tertentu yang umumnya diketahui punya kemampuan melakukan pengobatan terhadap orang-orang yang mengalami sakit aneh-aneh yang sukar terdeteksi melalui pengobatan secara medis. Pemberi jimat Naga Sikoi, juga disebut-sebut rata-rata memiliki kemampuan menyembuhkan orang-orang yang mengalami gangguan kesurupan.

Hanya saja, para pemberi atau pembuat jimat Naga Sikoi tidak semuanya disebut dukun. Lantaran ada juga yang mengeluarkan jimat tersebut sekalipun memiliki kemampuan supra tetapi menekuni profesi lain, seperti sebagai nelayan pelaut.

Tak hanya untuk lelaki, jimat Naga Sikoi juga diberikan kepada wanita untuk fungsi yang sama. Hanya saja, menurut salah seorang wanita mantan pengguna jimat Naga Sikoi yang ditemui di Kabupaten Pinrang, untuk pengguna wanita sering ada persyaratan khusus. ‘’Misalnya, dari tempat saya mengambil jimat tersebut dianjurkan agar minimal sekali dalam setahun memberi serbuk emas, yang dapat dilakukan dengan mengesek-gesek perhiasan emas ke jimat tersebut,’’ katanya.

Perempuan yang sudah memiliki 3 orang anak dan seorang cucu ini mengaku, sebelumnya pernah dua kali mengalami kegagalan dalam percintaan dengan pria pujaannya sewaktu masih remaja. Setelah memiliki jimat Naga Sikoi, itulah kemudian ia dapat jadian dengan pacar idamannya yang kini menjadi bapak dari anak-anaknya.

‘’Mungkin secara kebetulan, karena jodoh seseorang itu adalah Rahasia Tuhan. Tapi begitulah ceritanya,’’ katanya.

Dari sejumlah pengguna yang pernah ditemui, diketahui jimat Naga Sikoi ketika diberikan sudah dalam kondisi terbungkus dijahit dalam kain. Ada yang kain pembungkusnya berwarna merah, hitam, dan putih dalam ukuran rata-rata sebesar kotak korek api kayu. Banyak pemilik jimat tidak mengetahui benda yang terbungkus dalam kain yang diberikan sebagai jimat Naga Sikoi tersebut. Mereka juga umumnya tidak mau membukanya sebagaimana pesan si pemberi.

Dari cerita para pengguna, diketahui tak ada ritual khusus yang dilakukan untuk memperoh jimat Naga Sikoi, kecuali memberi tip berupa uang secara sukarela kepada si pembuat atau pemberi jimat.

Tak hanya d Sulawesi Selatan, di sejumlah kabupaten di Sulawesi Barat, saya juga mendapatkan cerita senada tentang jimat Naga Sikoi yang dikaitkan dengan urusan pekasih tersebut. Membuat penasaran karena selama puluhan tahun saya cuma menadapat cerita bahwa jimat tersebut berisi semacam gambar Naga, tetapi tidak pernah melihat bagaimana bentuk gambar Naga Sikoi itu sesungguhnya.

Awal Mei 2012 ketika mampir dalam suatu urusan di salah satu kawasan pertokoan di Kota Palopo (300-an km di arah timur Kota Makassar), secara kebetulan menjumpai seseorang yang sedang merapihkan sebuah gambar naga di lembaran kertas tua. Dalam dialog kemudian dia mengakui, itulah yang disebut gambar Naga Sikoi. Gambar tersebut merupakan peninggalan kakeknya yang selama ini selalu disimpan di kotak uang tempat berdagangnya.

‘’Katanya, sebagai jimat pelaris. Alhamdulillah, usaha dagang barang campuran yang ditekuni nenek dahulu sampai sekarang masih tetap berjalan lancar. Bahkan kami cucunya sekarang sudah dapat memiliki tiga toko lainnya sebagai tempat berdagang,’’ katanya.

Pemilik usaha barang campuran di Kota Palopo tersebut mengakui rezeki diperoleh seseorang berkat dari hasil usaha, besar kecilnya rezeki yang dapat diperoleh merupakan ketentuan Tuhan yang harus disyukuri. ‘’Jika kami tetap menaruh gambar Naga Sikoi ke tempat uang dagangan kami itu, karena mengikuti kebiasaan nenek saja, ‘’ katanya, kemudian member izin untuk mencopy gambar Naga Sikoi tersebut.

Gambar Naga Sikoi benar-benar merupakan gambar naga yang dibuat di lembaran kertas. Gambarnya, berupa dua ekor naga yang kepalanya saling berhadapan dan ekornya saling berkait. Dalam bahasa Bugis, memang, kata Sikoi berarti Saling Berkait atau dua benda yang saling melilit. Mungkin itulah sebabnya sehingga gambar naga ini popular dengan sebutan Naga Sikoi.

Menyusul seorang pedagang di Pasar Rappang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan memperlihatkan gambar Naga Sikoi yang mirip diperlihatkan di Kota Palopo tersebut.

Seorang pria pedagang barang sandang yang cukup laris di sekitar komplek Pasar Sentral Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, ketika kepadanya diperlihatkan copy-an gambar Naga Sikoi dari Kota Palopo, dia juga mengaku sampai sekarang memiliki gambar yang hampir sama, yaitu dua naga yang saling berkait. Gambar itu juga merupakan peninggalan kakeknya yang sampai sekarang dilipat dan selalu ditempatkan di laci tempat uang di toko dagangannya.

Hanya saja, ceriteranya, gambar Naga Sikoi tersebut sesuai pesan nenek jika disimpan di tempat uang harus selalu disertai dengan selembar uang kertas apa saja yang masih berlaku yang dilipat secara khusus dalam bentuk lipatan saling berkait juga. Diistilahkan sebagai uang yang di-Rekko Ota.

Bahkan menurutnya, belakangan, sejumlah rekannya yang juga memiliki gambar Naga Sikoi membuat Rekko Ota khusus dari uang kertas bernilai Rp 500 yang bergambar Monyet atas saran terakhir dari sejumlah pembuat atau pemberi gambar Naga Sikoi. Meski tidak jelas apa alasannya, dia juga bersusah payah mencari uang Rp 500 seperti yang dimaksud. Uang kertas pecacahan Rp 500 yang dimaksudkan adalah uang kertas terbitan Bank Indonesia tahun 1992 yang sudah lama ditarik dari peredaran.

Di sejumlah kabupaten lain di Sulawesi Selatan juga terlihat ada kebiasaan khususnya para pedagang melipat uang dengan cara Rekko Ota kemudian disisipkan di laci atau kotak tempat uang untuk hasil dagangan. Banyak yang menyebut Rekko Ota sebagaiIndo Doi alias induk uang.

Model gambar Naga Sikoi untuk jimat pelaris tersebut diakui mirip juga dengan gambar Naga Sikoi yang dijadikan jimat pekasih (bercinta). ‘’Saya dulu pernah punya jimat Naga Sikoi yang terbungkus sebagai jimat agar disenangi wanita. Jimat yang selalu saya masukkan di kantong celana, kemudian bungkus kainnya robek, dan ketika saya buka isinya berisi selembar kertas yang bergambar dua naga seperti itu, kepalanya saling berhadapan dan kedua ekornya pun berkait,’’ katanya.

Begitulah ikhwal gambar Naga Sikoi dalam dunia kemajuan Iptek yang pesat saat ini, tapi masih ada saja yang menggunakan sebagai jimat. Yang jelas gambar Naga Sikoi adalah khas Sulawesi Selatan lantaran tidak memliki jari cakar. Sebab menurut penjelasan kompasianer Rick Matthew (Kompasiana, 12 April 2011), gambar Naga Cina ditandai dengan ciri cakarnya yang memiliki 5 jari. Sedangkan Naga Korea cakarnya berjari 4, dan Naga Jepang cakarnya berjari 3. (Mahaji Noesa, Kompasiana, 19 Mei 2012)

Gambar

A Hamzah Tuppu/Repro mahaji Noesa

Melalui cuplikan catatan sejarah kebaharian dan sejarah TNI-AL, dapat dipahami betapa besarnya tekad yang menggelora di dada A.Hamzah Tuppu untuk melestarikan jiwa dan semangat bahari seperti yang dimiliki para leluhurnya sebagai orang pelaut.

A.Hamzah Tuppu lahir di Borongcalla, Desa Botosunggu, 20 Agustus 1920 (Berdasarkan riwayat hidup yang dibuat sendiri ketika masih hidup, tertanggal 23 Mei 1964, diketahui Adam Malik dan Bambang Soepeno). Tempat kelahiran A. Hamzah Tuppu itu kini secara administratif masuk Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Galesong pada masa kerajaan Gowa terkenal sebagai lumbung pangan, tempat kelahiran para kesatria kerajaan Gowa, patriot bahari yang tangguh. Pihak kompeni Belanda sendiri baru mampu menerobos kota Somba Opu, pusat kerajaan Gowa pada abad XVII, setelah sebelumnya jatuh bangun melawan prajurit serta menghancurkan benteng pertahanan di wilayah Galesong tersebut.

Pihak kompeni Belanda mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Gowa di Galesong pada 30 Juli 1667. Nanti pada 19 Agustus 1667 setelah dilakukan penyerangan dari darat dan laut, benteng pertahanan Galesong dapat dikuasai kompeni Belanda, lumbung makanan kerajaan Gowa di tempat ini dibumihanguskan.

A.Hamzah Tuppu merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu), termasuk dalam rumpun keluarga Karaeng Galesong.

Menurut Aba Jadjid Bostan Daeng Mama’dja, pemangku hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga keturunan ketujuh dari Syekh Joesuf Tajul Khalwatia Kaddassallahu Sirruhu, sebagai keluarga sejak kecil Amir Hamzah Dg Tuppu (nama lengkap A.Hamzah Tuppu) dibina oleh Karaeng Galesong XVI H.Larigau Dg Manginruru.

Dalam usia sekitar 7 tahun, A. Hamzah Tuppu yangnama kecilnya adalah Cakkua (menurut Bostan Dg Mama’ja, diambil dari nama keris kepunyaan Syekh Yusuf), disekolahkan pada sekolah rakyat (volokschool) di Soreyang. Setahun kemudian dipindahkan ke Sekolah Rakyat Galesong, tinggal bersama Karaeng Galesong di Takalar.

Setamat dari Sekolah Rakyat, ia dipindahkan ke Makassar melanjutkan pendidikan di Inlandsch School. Di Makassar, tinggal bersama sejumlah kawan-kawan di rumah seorang Karaeng Galesong, Ipammusuran Dg Paduni, di Kampong Pisang/Lajangiru. Dari sekolah tersebut ia kemudian masuk seklah Marine (Kelautan), tamat tahun 1936. Setelah itu, hasratnya untuk mengikuti kegiatan militer tidak mendapat dukungan dari Karaeng galesong. A Hamzah Tuppu melanjutkan pendidikan ke sekolah pertanahan Top Gerapt Dienst.

Setamat dari sekolah rakyat ini, ia kemudian bekerja pada kantor Landrente di Makassar. Pada tahun 1938 diangkat menjadi Mantri Landrente, bertugas melakukan pengukuran tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan.

Pergaulan A.Hamzah tuppu semakin meluas. Termasuk menjalin persahabatan dengan seorang warga Jepang bernama Hirata yang berprofesi sebagai juru potret di Makassar. Melalui Avon kursus dia belajar Bahasa Belanda dan mulai melibatkan diri dengan organisasi-organisasi politik yang berupaya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Pada tahun 1941, A. Hamzah Tuppu bersama aktivis pergerakan politik lainnya di Makassar, seperti wahab Tarru, Andi Kanna dan Martua Bangsawang Dg Liwang (Karaeng Takalar) ditangkap oleh Belanda dan ditawan di penjara Sengkang, sekarang ibukota Kabupaten Wajo. Dari tempat ini kemudian dipindahkan ke tempat tawanan Belanda di Pulau Jawa.

Saat Jepang memulai pendudukan di Indonesia pada tahun 1942, A Hamzah Tuppu dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau jawa. Selanjutnya, sekalipun kemudian bekerjasama Jepang di Pulau Jawa tapi dia tetap melanjutkan pergerakan politik untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajahan. Dia melakukan gerakan-gerakan persiapan kemerdekaan RI bersama rekan-rekannya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, serta menggalang tokoh-tokoh pemuda asal Sulawesi Selatan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibuat sendiri A Hamzah Tuppu semasa hidupnya, pada tahun 1942 setelah dibebaskan dari Kamp Garut ia aktif dalam Djawa Hokokay dan Peta jurusan Angkatan Laut. Antara tahun 1945 – 1947 sebagai Kolonel pelaut, aktif dalam pembentukan ALRI pertama di Surabaya. Memimpin KRU X Brigade D-81 pada tahun 1947.

Ketika dilakukan rasionalisasi kepangkatan pada tahun 1948 – 1951, A Hamzah Tuppu dirurunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, dan dia menyatakan mengundurkan diri dengan alasan cita-cita perjuangan kemerdekaan RI telah tercapai.

Tersebut sejumlah nama tokoh yang pernah menjadi kawan setia A Hamzah tuppu semasa hidupnya, seperti Kahar Muzakkar, Andi Selle Mattola, A.A.Rivai, Achmad Lamo, Warrow, Worang, Mursalim Dg Mamangung, Sudomo, Ali Sadikin, Andi Mattalatta, Andi Oddang, Ince Kasim, Suaib pasang, Tisi Efendi Dg Nodjeng, dan Hasan Ralla.

Pada tahun 1950 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Maega di Surabaya. Sepanjang tahun 1952 – 1959 aktif mengorganisir bekas pejuang bersenjata dalam organisasi veteran yang bernama Legiun Veteran RI. Antara tahun 1959 – 1960 dipilih sebagai panasihat Organisasi Veteran Pusat dan daerah.

Lantaran kharismanya sebagai tokoh pejuang asal Sulsel, ia pernah dicalonkan menjadi anggota MPRS Pusat dan diajukan sebagai salah satu calon Gubernur Sulselra pada tahun 1961.

Antara tahun 1961 – 1963 aktif sebagai pengurus Perhimpunan Keluarga Sulawesi di Jakarta, dan menjadi Presiden Direktur NV Usaha AMPRI (Angkatan Muda Pejuang Republik Indonesia). Melalui badan usaha AMPRI, A Hamzah Tuppu membangun perumahan untuk angkatan laut di Makassar.

Dalam kutipan Riwayat Hidup A Hamzah Tuppu yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI-AL Dinas Personil, tertanggal 10 Nopember 1988, disebutkan bahwa A Hamzah Tuppu kelahiran 26 Desember 1920, bergabung dalam kesatuan/kelasykaran BKR/TKR Laut ALRI Pangkalan IV di Tegal antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 31 Desember 1949.

Berdasarkan Surat keputusan Kasal Nomor: Skep/3400/XII/1979 tangga 12 Desember 1979 diberhentikan dengan hormat dangan Hak Onderstand terus menerus. Ditetapkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui SK Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No.96/Kpts/MUV/1964 tanggal 15 September 1964.

Berdasakan SK Kasal No.Skep/245/I/1980 tanggal 19 Januari 1980 diberikan Hak Onderstand terus menerus kepada Letkol ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp. Sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1573/VI/1982 tanggal 18 Mei 1982 diberikan pemberhentian/kenaikan pangkat luar biasa dari pangkat Letkol menjadi Kolonel atas nama Kolonel ALRI A Hamzah tuppu Non Nrp.

Putra asa Sulsel, patriot bahari titisan Karaeng Galesong, A Hamzah Tuppu menghembuskan nafas terkahir pada tangga 30 Juni 1986 di jakarta. Jenazahnya dimakamkan dalam suatu upacara militer di TMP Kalibata, Jakarta. Isteri almarhum, Ny.Erna sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1407/V/1987 diberikan Hak Pensiun Warakawuri dari alm.Kolonel ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp.

Atas perkawinan A Hamzah Tuppu dengan Ny. Erna Doomik (Ny. Erna Hamzah Tuppu), dikaruniai empat orang anak, masing-masing Haerumy Hamzah tuppu Dg Mudji (sekarang menjabat Ketua Umum ARDIN Kota Makassar), Haerana Naki padjonga Dg Rannu, Ananda Agnes Tuppu Dg Asseng, dan Moh. Tony Nurul Dg Antang.

Ny Erna Hamzah Tuppu (kelahiran Yogyakarta, 11 September 1919) yang dinikahi A Hamzah Tuppu pada tahun 1945 di Jogya, selaiun berdarah ningrat dari paku Alam, juga dalam masa perjuangan kemerdekaan RI aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia di Brigade X 81-D. Untuk itu pemerintah RI juga menganugerahkan kepadanya berupa tanda jasa Bintang Gerilya, Satya Lencana GOM I, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, dan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI golongan A.

Pernikahan antara A hamzah Tuppu dengan Ny Erna, antara lain, disaksika oleh Nototarono, adik ipar dari Paku Alam V. Menurut Ny Erna, suaminya A.Hamzah Tuppu adalah sosok manusia yang tegas memegang prinsip untuk kepentingan nasional.

Dari keempat orang anak yang dilahirkan dari pasngan keluarga A Hamzah Tuppu dan Ny Erna, telah melahirkan 13 cucu, dua di antaranya meninggal dunia.

Semasa hidupnya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang jasa kepada A hamzah Tuppu berupa tanda jasa Bintang gerilya (Dari Presiden Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Garakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 29 januari 1958), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 5 Oktober 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II (dari Menteri pertahanan Djuanda, 5 Oktober 1959), dan Piagam Veteran Golongan A (1964). Dan, Bupati Takalar Drs.H.Zainal Abidin, Msi atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Takalar pada Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-40, 10 Pebruari 2000, secara khusus memberikan Piagam Penghargaan kepada Alm. A Hamzah Tuppu sebagai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Takalar yang dinilai berjasa. Nama alm A Hamzah Tuppu sejak lama diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur. (Mahaji Noesa, Buku: A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)        

Gambar

Syekh Yusuf, lukisan Bachtiar Hafid, Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Surat Keputusan Presiden RI mengenai pengukuhan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, diumumkan pertamakali oleh Menteri Sosial, Inten Suweno, 9 Oktober 1995 di Jakarta. Dalam pengumuman ini disebut dengan nama Syekh Yusuf Tajul Khalwati.
Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan nama Syekh Yusuf telah lama popular, dikenal sebagai tokoh agama, penyebar ajaran tarekat khalwatiyah. Di daerah leluhurnya, Kabupaten Gowa, Syekh Yusuf lebih dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka (pembawa berkah/keselamatan).

Ketika masyarakat muslim memperingati 300 tahun pendaratan Syekh Yusuf di Afrika Selatan, 2 April 1994. Pihak Universitas Hasanuddin di Makassar pun menggelar seminar tentang tokoh Syekh Yusuf. Dari forum ini disimpulkan Syekh Yusuf pantas jika mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional. Dua pembicara utama dari Jakarta yang diundang waktu itu, Dr.H.Ruslan Abdulgani dan Taufik Ismail, juga sepakat untuk pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf.

Penyair yang tersohor melalui sajaknya berjudul ‘Tirani’ tahun 1966, memberikan kesaksian bahwa pada tahun 1993 ketika bersama sejarahwan dari Aceh dan Malaysia berkunjung ke Afrikan Selatan. Di Benua kulit hitam tersebut ia menghimpun informasi, terdapat sekitar 400.000 jiwa kaum muslim yang mengaku keturunan Melayu.

Keturunan yang dimaksud adalah keturunan para pejuang dari Indonesia yang diasingkan ke Afrika Selatan oleh pihak kolonial Belanda. Dari mereka dicatat, terdapat keturunan Syekh Yusuf dari Makassar, Imam Abdullah dari Tidore, Sultan Ahmad dari Ternate, Said Abdurahman dari Madura, dan Raja Tambora dari Nusa Tenggara.

‘’Di antaranya Syekh Yusuf yang paling terpandang, sebagai tokoh ulama di Afrika Selatan,’’ jelas Taufik Ismail.

Lain lagi dengan cerita Dr.H.Ruslan Abdulgani (alm-pen). Dalam suatu kunjungan kerja sebagai Duta Besar Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke Lusaka, ibukota Zambia tahun 1968, ia sempat didatangi 5 orang tokoh muslim Afrika Selatan yang mengaku sebagai keturunan Syekh Yusuf.

Setelah pertemua itu, ceriteranya, beribu tanda Tanya bergolak dibenaknya tentang tokoh Syekh Yusuf. Ia pun lalu mencari buku-buku dan dokumentasi tentang riwayat Syekh Yusuf dari Indonesia yang begitu terkenal di Afrika Selatan.

‘’Ternyata, Syekh Yusuf selain sebagai ulama, beliau juga adalah pejuang yang militan menentang kehadiran penjajah Belanda di Indonesia pada abad ke-17,’’ kata Ruslan Abdulgani. Dia mengakui, antara lain memperoleh informasi mengenai kehebatan Syekh Yusuf sebagai ulama maupun pejuang melalui buku berjudul ‘The Preaching of Islam’ yang ditulis oleh Prof.T.W.Arnold tahun 1931.

Dalam buku berjudul ‘Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang’ yang ditulis oleh Prof.Dr.Abu Hamid, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1994, dalam uraian tentang naskah-naskah menyangkut Syekh Yusuf yang pernah diterbitkan sejak tahun 1885 hingga tahun 1987 sebanyak 30 buah buku. Tidak termasuk buku The Preaching of Islam.
Dari berbagai penerbitan pustaka tentang Syekh Yusuf, dimulai dari tulisan B.F.Matthes tahun 1885 berjudul ‘Eenige Makassarche en Boegineshe Legenden’, semua telah melukiskan adanya perlawanan gigih yang dilakukan oleh Syekh Yusuf terhadap pemerintahan colonial Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Tapi ide untuk mengokohkan Syekh Yusuf sebagai seorang Pahlawan, baru muncul pada tahun 1956, melalui tulisan Gaffar Ismail di harian ‘Sulawesi bergolak’ dengan judul ‘Syech Jusuf Pahlawan Asia jang Berkaliber Internasional.’

Kemudian ide untuk mengukuhkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tertuang dengan jelas dalam tulisan H.D.Mangemba (alm-pen) yang dimuat dalam Majalah Lontara No.6 Tahun 1981 terbitan Universitas Hasanuddin, di bawah judul ‘’5 Tokoh Sulawesi Selatan Bertarung di Pulau Jawa Abad XVII.’’

Ide tersebut kembali bergaung melalui hasil wawancara yang dimuat pada suratkabar Mingguan Gema, Ujungpandang, menyambut Hari Pahlawan, 10 Nopember 1988. Menyusul kemudian dilakukan seminar di Ujungpandang, dan di Jakarta tahun 1994 mengenai Syekh Yusuf yang dianggap layak mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional tahun 1995 dari pemerintah RI kepada Syekh Yusuf, merupakan perwujudan dari berbagai pendapat, usul, dan keinginan masyarakat. (Mahaji Noesa/Majalah Semangat Baru, Makassar, edisi Oktober/Nopember 1995).

Gambar

Patung wajah Syekh Yusuf di pelataran Pantai Losari Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Kelahiran 3 Juli 1626, dari rahim ibu yang bernama Sitti Aminah, putri bangsawan Gallarang Moncongloe. Ayahnya bernama Abdullah Khaidir. Dalam Lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa, ayah Syekh Yusuf, dikisahkan, sebagai orang sakti, dapat berjalan melayang di atas tanah. Dan, menghilang tanpa jejak ketika Syekh Yususf masih dalam kandungan ibunya. Raja Gowa ke-14, I Manga’rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin kemudian memperistrikan Sitti Aminah, ibunda Syekh Yusuf.
Justru Syekh Yusuf dilahirkan di istana Raja Tallo. Diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Meskipun Raja Gowa yang bergelar Tumenanga ri Gaukanna sebenarnya merupakan ayah tiri, namun tetap memperlakukan Yusuf (nama kecil Syekh Yusuf) sebagai anak kandungnya. Seperti terlihat dalam perlakuan keseharian Raja yang menggendong sendiri Yusuf ke tempat buaiannya. Dan, Raja marah kepada setiap orang yang tidak menyebut Yusuf sebagai Putra Raja.

Pusar Bersinar
Al-kisah, ketika masih bayi, dari pusar Yusuf pada malam hari sering tampak keluar seberkas sinar tegak lurus ke langit-langit istana. Dari tanda-tanda tersebut, kemudian ditambah dengan minat belajar yang menggebu serta kecerdasan yang diperlihatkan Yusuf sewaktu usia kanak-kanak, menambah rasa sayang Raja dan rasa hormat orang-orang terhadap Yusuf.
Melalui guru Daeng ri Tasammang, Yusuf diajari membaca Al-Quran. Dalam usia 8 tahun, ia sudah tamat mengaji, mempelajari ilmu sharaf, nahwu dan mantik. Pelajaran fiqih dan tauhid pun dilalapnya, melalui Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diasuh oleh Sayed Ba’ Alwy bin Abdullah al-Allama Thahir di Bontoala.
Ketika berusia 15 tahun, memperdalam ilmu agamanya melalui tempat pengajian Syekh Jalaluddin al-Aidit di Cikoang, daerah Takalar. Syekh Jalaluddin adalah seorang ulama asal Aceh, yang datang ke Sulawesi Selatan setelah dari Kutai, untuk mengajarkan dan menyebarkan syariat Islam kepada masyarakat luas.
Dari Cikoang, Yusuf yang sudah meningkat ke usia remaja lantas mempelajari ilmu-ilmu kebatinan di berbagai tempat di wilayah Sulawesi Selatan. Di antaranya, berguru ke puncak Gunung Bawakaraeng yang pada abad ke-17 merupakan pusat tempat belajar ilmu kebatinan.
Pada saat Kerajaan Gowa telah diperintah oleh Raja I Mannutungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung, digelar Sultan Malikussaid, Yusuf yang masih merasa haus pengetahuan mengenai ajaran Islam, mengarahkan langkah menuju Mekah untuk memperdalam ilmunya. Ia berangkat meninggalkan pelabuhan Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa, dengan menumpang sebuah kapal dagang Melayu, 22 September 1644.
Kurang lebih seminggu perjalanan, Kapal Melayu tersebut merapat di pelabuhan Banten, Jawa Barat. Karena Banten, kala itu, juga merupakan Pusat Pengembangan Islam, maka Yusuf tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di tempat ini dia segera menghubungi tokoh-tokoh agama untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam yang belum didapatkandi tanah kelahirannya. Dia juga mampu secara cepat menjalin persahabatan yang erat dengan kalangan petinggi, termasuk dengan Putra Mahkota yang memerintah saat itu. Pangeran Surya, demikian nama Putra Mahkota yang menjadi karibnya.
Dari Banten, Yusuf kemudian bertolak ke Aceh. Sama seperti di Banten, di Aceh, Yusuf secara tekun menimba ilmu-ilmu agama serta memperdalam ilmu-ilmu yang telah diketahui melalui para ulama terkenal. Setelah berhasil mempelajari tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin Ar-raniri di Aceh, Yusuf lalu menuju Mekah menunaikan ibadah haji.
Di negeri Timur Tengah pusat ajaran Islam, Yusuf berpindah dari kota yang satu dengan kota lainnya dalam rangka memperdalam ilmu agamanya. Di Yaman, memperdalam tarekat Naqsyabandi dan tarekat al-Baalawiyah.
Di Medinah, memahiri tarekat Syattariyah. Di Damaskus, mendalami tarekat Khalwatiyah. Di tempat inilah Yusuf dikukuhkan dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah oleh gurunya, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi, yang juga adalah imam di masjid Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi di Damaskus.
Selain ilmu-ilmu yang telah disebutkan, dalam pengembaraannya, Yusuf juga mempelajari tarekat-tarekat sufi Dsukiyah, Syaziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, dan Makhduniyah.
Yusuf diperkirakan bertolak ke Timur Tengah pada tahun 1649, dan kembali ke Tanah Air pada tahun 1664. Atau, setelah memperdalam ilmu selama 15 tahun di pusat ajaran Islam, negeri Arab.
Ketika di Mekah, Syekh Yusuf menikahi Sitti Hadijah, putri Imam Masjid Haram, Imam Syafi. Memperoleh keturunan seorang anak yang diberi nama Sitti Samang. Isterinya kemudian meninggal dunia.
Dalam perjalanan pulang, sesuai alur pelayaran dari Timur Tengah, kala itu, Syekh Yusuf mampir lagi di Banten. Sahabatnya, Pangeran Surya telah memegang kendali kekuasaan Kesultanan Banten, bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
Kedatangan kembali Syekh Yusuf di Banten disambut hangat sahabat dan masyarakat. Maklum, sebelum kembali ke Banten, kehebatan Syekh Yusuf telah tersebar luas di masyarakat, melalui ceritera-ceritera yang dibawa oleh para jamaah haji asal Banten. Masyarakat Banten, kala itu, menghormati Syekh Yusuf sebagai Ulama Tasauf dan Syekh Tarekat.
Sultan Ageng Tirtayasa lantas menunjuk Syekh Yusuf untuk mendidik keluarga Kesultanan Banten mengenai ilmu-ilmu agama Islam. Sampai akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa sendiri tertarik untuk mendalami ajaran tarekat Khalwatiyah yang diajarkan Syekh Yusuf.
Sebagai orang yang dianggap berjasa, Syekh Yusuf pun akhirnya dikawinkan dengan Syarifah, putri Sultan Ageng Tirtayasa. Pengajian-pengajian yang dibuka untuk masyarakat, begitu juga ceramah-ceramah keagamaan yang diberikan dalam setiap kesempatan membuat nama Syekh Yusuf makin cepat terkenal di Banten dan daerah sekitarnya. Termasuk orang-orang Bugis-Makassar, daerah tempat kelahirannya berdatangan untuk berguru kepada Syekh Yusuf di Banten.

Protes Hukuman Mati
Ketika Sultan Ageng Tirtayasa menyerahkan kekuasaannya, 1 Mei 1608 kepada putranya, Abu Nazar Abdulkahar yang bergelar Sultan Haji, kedamaian Kesultanan Banten mulai terusik oleh pihak kompeni Belanda. Sultan Haji berhasil dibujuk berpihak Belanda. Keadaan di Banten kemudian mulai memburuk, akibat taktik adu domba yang berhasil dilancarkan pihak kompeni terhadap Sultan Haji dan ayahnya, Sultan Ageng.
Pada tahun 1682, terjadilah perang saudara di Banten. Sultan Ageng menyerang Kraton Surosoan, tempat Sultan Haji memerintah dikawal pasukan kompeni. Sultan Haji dalam serangan ini berhasil lolos, kemudian meminta bantuan kekuatan dari kompeni.
Serangan yang dilakukan kompeni dari darat maupun dari laut dalam bulan Mei 1682, berhasil membumihanguskan Banten. Sultan Ageng, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya (panglima Perang, saudara kandung Sultan Haji), dan pembesar-pembesar lainnya, dipaksa untuk mundur meninggalkan Kota Tirtayasa, Banten. Mereka mundur bersama pasukan perang yang setia, tetapi tetap melakukan perlawanan secara bergerilya.
Atas petunjuk Sultan Haji, tempat persebunyian ayahnya, Sultan Ageng dapat diketahui oleh kompeni. Melalui surat damai dibuat oleh Sultan Haji kepada Sultan Ageng atas permintaan kompeni. Sultan Ageng akhirnya keluar dari medan gerilya. Serta-merta kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kompeni, menangkap Sultan Ageng.
Pasukan dibawa pimpinan Syekh Yusuf lepas dari kejaran, terus bergerilya di daerah-daerah pegunungan Jawa Barat, sambil menyerang kubu-kubu pertahanan kompeni. Demikian halnya dengan pasukan dibawa komando Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul.
Berbulan-bulan pasukan Syekh Yusuf, sekitar 5.000 orang, di antaranya sekitar 1.000 orang Bugis-Makassar, melakukan perlawanan secara bergerilya. Namun akhirnya pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf keluar dari persembunyian akibat taktik licik pihak kompeni yang menyandera isteri dan anaknya. Syekh Yusuf pun ditangkap pihak kompeni.
Ketika Syekh Yusuf bersama keluarga dan 12 orang pengawalnya dikirim ke penjara Batavia, pihak kompeni juga memulangkan anggota pasukan yang terdiri atas orang-orang Bugis-Makassar dengan sebuah kapal ke Makassar.
Sebenarnya, pihak kompeni akan menjatuhkan hukuman mati terhadap Syekh Yusuf. Tetapi sebelum rencana hukuman mati tersebut dilaksanakan, muncul protes dan reaksi yang menentang dari masyarakat dunia. Di antaranya datang dari Sultan Aureng Zeb di India, sehingga hukuman mati diganti dengan hukuman pembuangan seumur hidup ke Ceylon.
Sebelum Syekh Yusuf bersama keluarganya diasingkan ke Ceylon, ada utusan dari Raja Gowa Sultan Abdul Djalil menemui pemerintah Belanda di Batavia, memohon agar Syekh Yusuf dikembalikan ke Makassar. Tetapi, permohonan tersebut tidak dikabulkan.
Tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf dan keluarganya dibawa ke Ceylon. Sebagai ulama, dalam waktu singkat Syekh Yusuf dapat menarik pengikut di Ceylon. Di tempat pengasingan tersebut dia mengajarkan ilmu syariat dan tasauf yang sangat diminati, termasuk murid-muridnya berdatangan dari India dan Sri Langka.
Orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan haji dengan kapal laut, kala itu, banyak yang menyempatkan diri singgah belajar ilmu-ilmu keagamaan pada Syekh Yusuf di Ceylon. Dalam kesempatan ini, Syekh Yusuf juga dengan semangat ksatrianya tetap mengobarkan semangat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda di tanah air. Pesan-pesan politik maupun keagamaan dikirimkan kepada para raja di Indonesia.
Pemerintah kolonial Belanda mencium gerakan terselubung yang dilakukan Syekh Yusuf melalui para jemaah haji Indonesia. Pesan-pesannya dinilai oleh kompeni sangat berbahaya dalam hubungan mengobarkan perlawanan terhadap kompeni di Indonesia. Maka, pada 7 Juli 1693 oleh pemerintah kolonial Belanda, memutuskan untuk memindahkan Syekh Yusuf beserta keluarga dan pengikutnya dari Ceylon ke Kaap de Goede Hoop, tanjung paling selatan di Benua Afrika.

Kobbanga
Di tempat pengasingan di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap mampu memperlihatkan kehebatan dan kebesarannya, menarik banyak pengikut. Syekh Yusuf tersohor di Afrika Selatan sebagai pembawa ajaran Islam pertama bagi orang-orang di benua kulit hitam tersebut. Kaum muslim di Afrika Selatan yang kini telah berjumlah ratusan ribu jiwa itu, disebut sebagai orang Slammejer.
Di tempat pembuangan Afrika Selatan inilah Syekh Yusuf pada tanggal 23 Mei 1699, dalam usia 73 tahun menghembuskan nafas terakhir. Atas permohonan yang berkali-kali dilakukan oleh Raja Gowa, maka akhirnya pada tahun 1704 pihak kompeni mengabulkan untuk dapat membawa kembali jenazah Syekh Yusuf ke Makassar. Dengan menumpang kapal de Spigel, 5 April 1705, keranda Syekh Yusuf yang dikawal oleh keluarganya tiba di Makassar.
Kobbanga (Kobbang), itulah sebutan bagi makam Syekh Yusuf yang terletak di Lakiung, Katangka, Kabupaten Gowa. Seperti halnya makam pertama Syekh Yusuf yang tetap dihormati masyarakat di Afrika Selatan, makamnya di Lakiung setiap saat selalu ramai didatangi peziarah.
Semasa hidupnya, Syekh Yusuf menulis puluhan karya yang berkaitan dengan kesufian. Dia pun disebut-sebut banyak orang sebagai Waliullah terbesar dan terakhir dari wali-wali yang pernah ada. Wallahualam. (Mahaji Noesa/dari berbagai sumber).

Bergelar Tuanta Salamaka di Gowa

Surat Keputusan Presiden RI mengenai pengukuhan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, diumumkan pertamakali oleh Menteri Sosial, Inten Suweno, 9 Oktober 1995 di Jakarta. Dalam pengumuman ini disebut dengan nama Syekh Yusuf Tajul Khalwati.
Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan nama Syekh Yusuf telah lama popular, dikenal sebagai tokoh agama, penyebar ajaran tarekat khalwatiyah. Di daerah leluhurnya, Kabupaten Gowa, Syekh Yusuf lebih dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka (pembawa berkah/keselamatan).

Ketika masyarakat muslim memperingati 300 tahun pendaratan Syekh Yusuf di Afrika Selatan, 2 April 1994. Pihak Universitas Hasanuddin di Makassar pun menggelar seminar tentang tokoh Syekh Yusuf. Dari forum ini disimpulkan Syekh Yusuf pantas jika mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional. Dua pembicara utama dari Jakarta yang diundang waktu itu, Dr.H.Ruslan Abdulgani dan Taufik Ismail, juga sepakat untuk pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf.
Penyair yang tersohor melalui sajaknya berjudul ‘Tirani’ tahun 1966, memberikan kesaksian bahwa pada tahun 1993 ketika bersama sejarahwan dari Aceh dan Malaysia berkunjung ke Afrikan Selatan. Di Benua kulit hitam tersebut ia menghimpun informasi, terdapat sekitar 400.000 jiwa kaum muslim yang mengaku keturunan Melayu.
Keturunan yang dimaksud adalah keturunan para pejuang dari Indonesia yang diasingkan ke Afrika Selatan oleh pihak kolonial Belanda. Dari mereka dicatat, terdapat keturunan Syekh Yusuf dari Makassar, Imam Abdullah dari Tidore, Sultan Ahmad dari Ternate, Said Abdurahman dari Madura, dan Raja Tambora dari Nusa Tenggara.
‘’Di antaranya Syekh Yusuf yang paling terpandang, sebagai tokoh ulama di Afrika Selatan,’’ jelas Taufik Ismail.
Lain lagi dengan cerita Dr.H.Ruslan Abdulgani (alm-pen). Dalam suatu kunjungan kerja sebagai Duta Besar Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke Lusaka, ibukota Zambia tahun 1968, ia sempat didatangi 5 orang tokoh muslim Afrika Selatan yang mengaku sebagai keturunan Syekh Yusuf.
Setelah pertemua itu, ceriteranya, beribu tanda Tanya bergolak dibenaknya tentang tokoh Syekh Yusuf. Ia pun lalu mencari buku-buku dan dokumentasi tentang riwayat Syekh Yusuf dari Indonesia yang begitu terkenal di Afrika Selatan.
‘’Ternyata, Syekh Yusuf selain sebagai ulama, beliau juga adalah pejuang yang militan menentang kehadiran penjajah Belanda di Indonesia pada abad ke-17,’’ kata Ruslan Abdulgani.
Dia mengakui, antara lain memperoleh informasi mengenai kehebatan Syekh Yusuf sebagai ulama maupun pejuang melalui buku berjudul ‘The Preaching of Islam’ yang ditulis oleh Prof.T.W.Arnold tahun 1931.
Dalam buku berjudul ‘Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang’ yang ditulis oleh Prof.Dr.Abu Hamid, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1994, dalam uraian tentang naskah-naskah menyangkut Syekh Yusuf yang pernah diterbitkan sejak tahun 1885 hingga tahun 1987 sebanyak 30 buah buku. Tidak termasuk buku The Preaching of Islam.
Dari berbagai penerbitan pustaka tentang Syekh Yusuf, dimulai dari tulisan B.F.Matthes tahun 1885 berjudul ‘Eenige Makassarche en Boegineshe Legenden’, semua telah melukiskan adanya perlawanan gigih yang dilakukan oleh Syekh Yusuf terhadap pemerintahan colonial Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Tapi ide untuk mengokohkan Syekh Yusuf sebagai seorang Pahlawan, baru muncul pada tahun 1956, melalui tulisan Gaffar Ismail di harian ‘Sulawesi bergolak’ dengan judul ‘Syech Jusuf Pahlawan Asia jang Berkaliber Internasional.’
Kemudian ide untuk mengukuhkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tertuang dengan jelas dalam tulisan H.D.Mangemba (alm-pen) yang dimuat dalam Majalah Lontara No.6 Tahun 1981 terbitan Universitas Hasanuddin, di bawah judul ‘’5 Tokoh Sulawesi Selatan Bertarung di Pulau jawa Abad XVII.’’
Ide tersebut kembali bergaung melalui hasil wawancara yang dimuat pada suratkabar Mingguan Gema, Ujungpandang, menyambut Hari Pahlawan, 10 Nopember 1988. Menyusul kemudian dilakukan seminar di Ujungpandang, dan di Jakarta tahun 1994 mengenai Syekh Yusuf yang dianggap layak mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional tahun 1995 dari pemerintah RI kepada Syekh Yusuf, merupakan perwujudan dari berbagai pendapat, usul, dan keinginan masyarakat. (Mahaji Noesa/Majalah Semangat Baru, Makassar, Oktober/Nopember 1995).