Posts Tagged ‘seniman’

Gambar

H.Udhin Palisuri/Ft: Mahaji Noesa

Sejarah tak akan mengubah masa depan. Peradaban kini tak lagi memberi kesempatan keturunan ningrat seperti masa kerajaan dahulu dapat secara otomatis diangkat menjadi pemimpin, meski tanpa memenuhi kriteria atau jenjang pendidikan yang cukup.

‘’Tapi jangan kau coba memahami sejarah dengan pengertian sempit seperti itu. Sejarah itu adalah ruh setiap orang setiap bangsa dalam menapak perjalanan kehidupan lebih maju termasuk untuk mengukir sejarah baru sesuai jamannya,’’ tutur H. Udhin Palisuri dalam suatu perbincangan di kediamannya, Jl. Bungaeja No. 20, Makassar, akhir pekan lalu.

Budayawan yang seniman penyair Sulsel bergelar ‘Jenderal Puisi’ tersebut kemudian memberi contoh, salah satu kealpaan terhadap sejarah  proses pelaksanaan ‘Perjanjian Bungaya’ pada tanggal 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman.

Gambar

Di sekitar inilah lokasi situs Perjanjian Bungaya/Ft: Mahaji Noesa

Perjanjian bersejarah yang menandai awal porak-porandanya kerajaan Gowa tersebut, generasi sekarang sudah jarang sekali yang mengetahui dimana persisnya dilakukan padahal sangat jelas dalam catatan sejarah. Dilakukan di wilayah Barombong, yang kini masuk wilayah Kelurahan Barombong, kecamatan Tamalate, kota Makassar. Tapi situsnya kini tidak lagi jelas dimana, tidak ada kepedulian memeliharanya.

Menurut sejumlah penduduk di kelurahan Barombong kepada Independen, dari penuturan kakek-nenek mereka, lokasi tempat dilakukan penandatangan Perjanjian Bungaya tersebut berada di sekitar kampung Bontoa. Posisi saat ini di arah selatan bentangan Jalan Perjanjian Bungaya yang baru saja dibeton, membetang sepanjang 800 meter dari arah barat, depan kantor Lurah Barombong hingga SPBU khusus solar di ujung utara.

Ada yang menunjuk ke arah lokasi di pinggiran sawah yang ditumbuhi belukar dan sebagian dijadikan sebagai tempat pemakaman warga setempat.

‘’Tapi semua lokasi yang ada di tempat itu sekarang sudah ada yang punya, bahkan sedang ditawarkan untuk dijual kepada siapa saja yang mau membelinya,’’ jelas seorang warga yang mengaku dari kampung Kaccia, di sebelah utara jalan Perjanjian Bungaya.

Penduduk sekitar menyatakan, lantaran di lokasi itu dahulu berlangsung penandatanganan ‘Perjanjian Bungaya’ sehingga jalanannya diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Sebelumnya, nama Jalan Bungaya diberikan terhadap jalan yang membentang utara-selatan depan RS Bhayangkara, tapi kemudian diubah menjadi jalan A Mappaoddang, Makassar.

Lantaran mengabaikan proses peristiwa sejarah ‘Perjanjian Bungaya’  yang terjadi 350 tahun lalu termasuk tak menghargai situs, menurut Udhin Palisuri, generasi sekarang tidak mengetahui jika sumpah-sumpah yang dilakukan menggunakan kitab suci terhadap para pejabat negara di Indonesia sekarang sebelum melaksanakan tugasnya, sudah dimulai dari ketika dilakukan Perjanjian Bungaya.

‘’Sejarah jelas mencatatnya, bahwa ketika dilakukan  penandatanganan Perjanjian Bungaya, diletakkan kitab suci al-quran di depan Sutan Hasanuddin serta kitab suci Injil di depan Speelman,’’ katanya.

Sejarah tidak menentukan masa depan, tetapi menurut Udhin Palisuri, melalui sejarah kita bisa menjadi lebih arif, lebih cerdas untuk menata peradaban kehidupan yang lebih baik. ‘’Kalau saja jika mau belajar dari peristiwa Perjanjian Bungaya, kita akan sadari bahwa tanpa kehati-hatian penghianatan masih bisa saja dilakukan oleh seseorang sekalipun sudah bersumpah di depan kitab suci agamanya. Hal itu sudah dibuktikan sejarah sejak ratusan tahun lalu melalu sosok Speelman yang membumihanguskan Benteng Somba Opu padahal dalam perjanjian diserahkan dalam kekuasaan Sultan Hasanuddin,’’ katanya.

Gambar

Jl. Perjanjian Bungaya menuju situs/Ft: Mahaji Noesa

Jika kita mau menyimak dan belajar dari sejarah, tutur mantan wartawan Harian Angkatan Bersenjata yang sudah menerbitkan 15 buku antologi puisi tersebut, pusat perkapalan dunia seharusnya sekarang ada di Sulawesi Selatan bukan di Hamburg, Jerman, karena sejak ratusan tahun lalu nenek moyang orang Sulsel telah menguasai teknologi pembuatan perahu.

Udhin Palisuri menyatakan sangat setuju jika Pemprov Sulsel membuat semacam Perda tentang perlindungan dan pengembangan terhadap situs-situs sejarah purbakala sebagai implementasi dari Undang-undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

‘’Lebih cepat lebih baik, sebelum ribuan situs jejak peradaban sejarah dan budaya masa silam di daerah ini lenyap digerus zaman. Apalagi jika ada desain untuk membuat situs-situs tak hanya sebagai ruang meditatif, tapi sekaligus sebagai obyek yang senantiasa mengingatkan generasi tentang sejarah dan budayanya dalam memperkuat jati diri dan agar tidak lupa diri dalam menapak kehidupan yang kian mengglobal,’’ katanya.  (Mahaji Noesa, Koran Independen, Edisi 32, 29 April – 5 Mei 2013)

 

Gambar

Monumen Puisi Udhin Palisuri di Parepare/Ft: Mahaji Noesa

Ada tiga agenda yang disiapkan Pemkot Parepare ketika mantan Presiden RI ke-3, Prof.DR (Ing), H.Bacharuddin Jusuf habibie berkunjung ke Kota Parepare, 6 – 7 April 2006dalam rangka penutupan kompetisi sepakbola Habibie Cup 2006  yang diselenggarakan di Kota Parepare.

Agenda acara yang disediakan Pemkot atas kunjunga B.J.Habibie yang putra Indonesia kelahiran Parepare tersebut, yakn9i memberikan penganugerahan Gelar Kehormatan Warga Utama bagi BJ Habibie dari Pemkot dan warga Kota Parepare. Kemudian peresmian penggunaan nama jalan yang mengambil nama Alwi Abdul Jalil Habibie – ayahanda BJ Habibie, menggantikan nama jalan di tepi pantai Kota Parepare.

Sedangkan agenda terakhir, yaitu meresmikan sebuah monumen yang bertajuk ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara’ yang di puncaknya mengabadikan bentuk dan guratan telapak tangan BJ Habibie.

Bagi Pemerintah dn warga Kota Parepare, sosok BJ Habibie menjadi ikon pemacu semangat kebanggaan untuk membangun kota maupun mengukir prestasi bagi bangsa dn negara. Tak heran jika sampai sekarang, di gerbang masuk Kota Parepare masih terpampang tulisan besar yang menyatakan ‘Selamat datang ke Kota kelahiran Presiden RI BJ Habibie.’

Dari tiga agenda acara dalam kunjungan Habibie di Parepare tersebut, yang luput dari perhatian banyak orang, yaitu diabadikannya secarah utuh sebuah puisi berjudul: Sekuntum Puisi untuk Prof DR (Ing) BJ Habibie (Setangkai Kasih buat ibu Ainum Habibie)’ karya seniman Sulsel Udhin Palisuri secara utuh dalam monumen ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara.’

Monumen setinggi lebih dari 3 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter yang terletak sangat strategis di tepi pantai Kota Parepare tersebut, oleh banyak kalangan menyebutnya, lebih tepat jika disebut sebagai ‘Monumen Puisi Udhin palisuri’. Alasannya inilah monumen pertama di Indonesia yang mengabadikan secara utuh sebuah karya puisi dari seorang seniman.

Bagi Udhin Palisuri yang mulai menapaki dunia kesenimanan ketika bersekolah di Kota Parepare tahun 1963, pembuatan monumen ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara’ yang juga mengabadikan utuh sebuah puisinya, disyukuri sebagai salah satu rakhmat Tuhan yang diberikan kepadanya dalam ketekunannya selama ini menggeluti dunia kepenyairan.

‘’Saya baru tahu tentang monumen itu lewat SMS, ketika saya menghadiri acara Ultah Kabupaten Wajo, 5 April 2006,’’ katanya.

???????????????????????????????

H.Udhin Palisuri di Monumen Korban 40.000 Jiwa kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Puisi itu, jelasnya, ia bacakan pertama kali dalam momentum Munas Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibuka oleh BJ Habibie, Desember 2005 di Kota Makassar.

Setelah menerima gelar sebagai warga kehormatan Kota Parepare, 6 April 2006 di gedung Islamic Centre Parepare BJ Habibie berulangkali memuji seniman Udhin Palisuri sebagai sosok sastrawan yang hebat, pandai menempatkan kata yang penting bagi kehidupan.

Bagi Udhin Palisuri sendiri yang telah menerbitkan 14 judul buku kumpulan puisi (antologi), dan kini sedang menyiapkan penerbitan kumpulan puisi ‘Tanah Tugas Kita’, ‘Gerbang Dayaku’ (Puisi Kutai kertanegara), ‘Tomanurung’ dan ‘Jendela Balla Lompoa’, menampik jika disebut puisinya yang terabadikan  di Monumen Telapak Tangan BJ Habibie di Kota parepare tersebut adalah puncak dari karya puiisinya.

‘’Puisi saya dlam monumen ini, baru merupakan anak tangga pertama menuju langit,’’ tandas penyair sekaligus deklamator yang belum ada tandingnya di Sulsel saat ini.

‘’…..semakin kupandang sinar matamu/engkau sekuntum puisi/kata berbunga cinta/pada jejak telapak tanganmu/melekat di jantung Parepare………’’ Begitu bunyi petikan baris-baris terkhir dari 60 baris puisi Udhin Palisuri yang diabadikan di Monumen ‘Telapak Tangan untuk Bangsa dan Negara.’ Hidup seniman! (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.338 Thn VIII/Minggu I – II, April 2006, Hal.12)