Posts Tagged ‘sinjai’

Gambar

Bendi/Ft:google-manado.antaranews.com

‘’Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota

Naik delmanistimewa kududuk di muka

Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja

Mengendalikan kuda supaya baik jalannya

Tak tik tak tik tuk bunyi sepatu kuda…….’’

Indahnya lagu anak-anak ‘Naik Delman ke Kota’ tersebut kini sudah jarang terdengar, tak hanya di kawasan perkotaan tapi juga sampai di wilaytah pedesaan.

Memudarnya salah satu nyanyian milik anak-anak tempo doeloe yang bangga dengan angkutan tradisional delaman alias sado alias andong alias bendi – sebutan populer bagi masyarakat Provinsi Sulsel, seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan jaman. Bendi kini sudah menjadi semacam barang langka yang hidup dalam cerita lama tentang kampung halaman.

Gambar

bendi, angkutan tradisional yang mulai tergusur/Ft: google-peacejournalism.blogspot.com

Sebenarnya hingga tahun 90-an angkutan tradisonal bendi masih dijadikan sebagai angkutan pedesaan di beberapa kabupaten di wilayah Provinsi Sulsel. Sampai masa itu setiap hari masih didengar derap irama kaki kuda penarik bendi yang bergerak di wilayah pedesaan membawa hasil bumi rakyat menuju lokasi pasar-pasar induk yang ada di pusat-pusat kota – ibukota kecamatan dan ibukota kabupaten. Pasar di ibukota kabupaten Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Maros, Pangkep, Barru, dan Majene merupakan pasar-pasar yang pernah diramaikan kendaran-kendaraan angkutan milik masyarakata pedesaan.

Ketika jaringan jalan-jalan yang menghubungkan desa-desa dengan pusat-pusat kota mulai terbuka luas bahkan sudah beraspal, seiring dengan itu angkutan penumpang dan barang jenis mikrolet pun keluar masuk wilayah pedesaan, bendi mulai kurang dilirik warga. Bahkan di sejumlah ibukota kabupaten diterapkan aturan ‘dilarang masuk terhadap bendi-bendi yang tidak dilengkapi alat penampung ‘kotoran’ kuda penariknya.

Ketika kendaraan bermotor roda dua kini diperkenankan untuk beroperasi sebagai angkutan penumpang umum dengan sebutan ‘ojek’, para sais atau kusir (pengemudi bendi) yang masih tersisa di antara deru ojek yang bebas menyeruak ke semua jalur jalan harus pasrah menerima kemajuan peradaban.

‘’Saya masih bisa dapat uang Rp 10.000 sampai Rp 15.000 setiap hari pasar. Tidak hanya mengangkut muatan barang dan orang dari desa, tapi masih bewberapa orang ibu-ibu, bapak-bapak maupun anak muda laki-laki dan perempuan di kota yang selalu menumpang bendi saya,’’ kata Wa’ Nure’ seorang kusir yang sejak tahun 90-an hingga sekarang masih mengoperasikan angkutan bendai jalur Tajuncu – Pasar Sentra Kota Watangsoppeng, ibukota kabupaten Soppeng.

Tak tik tuk bunyi sepatu kuda bendi melintas di jalan aspal, salah satunya yang tersisa – memang, masih bisa kita mendengar dengan nyaring di jalan poros Tajuncu – Kota Watangsoppeng pada subuh hari-hari puncak pasar Kota watangsoppeng yakni hari Kamis dan Minggu.

Tak tik tuk bunyi sepatu kuda pun kian sayup tak sampai lantaran paling sedikit 1 di antara 10 warga di pedesaan kini sudah memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) kendaraan bermotor. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.284 Thn VI/Minggu II, Oktober 2004 Hal.10)  

Gambar

Durian alam Mamuju/Foto: Mahaji Noesa

Seikat durian yang disodorkan seorang teman, Kamis (13/12/2012) siang langsung mengingatkan saya ketika berkunjung pertama kali ke Kota Mamuju. Ketika itu Kota Mamuju masih menjadi ibukota Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain bentuk buah duriannya yang khas, kecil-kecil tapi isinya harum dan manis. Mungkin 5 sampai 6 buah durian Mamuju untuk disamakan dengan sebuah durian Lompo Tele dari Palopo, Luwu, atau durian Otong yang kini banyak dikembangkan di Kabupaten Sinjai maupun Kabupaten Wajo. Durian alam Mamuju yang kecil-kecil dengan biji yang tipis disebut-sebut sebagai durian alam, durian yang tumbuh secara alami di hutan-hutan Mamuju.

Kali pertama ke Mamuju bersama M.Yahya Djabal Tira (alm), mantan Ketua PWI Cabang Palopo, dalam suatu tugas untuk penulisan laporan sebuah penerbitan. Kota Mamuju kala itu masih kumuh. Di tengah kota masih tampak rawa yang ditumbuhi tanaman nipa. Kala itu Bupati Mamuju dijabat oleh Atiek Suteja.

Ayah dari Kepala Biro Humas dan Protokol Kantor Gubernur Sulsel  (sekarang), Agus Sumantri, inilah bupati Mamuju yang pertama mulai merintis pembukaan jalan-jalan ke berbagai penjuru wilayah Mamuju, sampai ke arah Pasangkayu, perbatasan Sulawesi Tengah. Dialah yang memprakarsai  pemanfaatan Bandara perintis Tampapadang saat perjalanan darat Majene – Mamuju sekitar 100-an km masih harus ditempuh sehari semalam, lantaran jalanan berlumpur sekalipun tidak musim hujan. Mata air setiap saat masih mengalir dari arah pegunungan mememenuhi badan jalan Majene – Mamuju yang saat itu  masih berupa jalan tanah.

Atiek Suteja sedang Membangunkan Raksasa Tidur ! Demikian kesimpulan kami setelah beberapa hari berkeliling melihat dinamika kehidupan dan aktivitas pemerintahan di Mamuju kala itu.

Siporennu, jika tak keliru, itulah nama penginapan rumah kayu berlantai dua yang kami tempati kala itu di Mamuju.  Berjarak sekitar  300 m dari Pasar Sentral Mamuju. Usai magrib, dari sekitar pasar kami membeli sekitar 30-an biji durian Mamuju. Durian yang hampir memenuhi  satu karung terigu tersebut kami boyong ke penginapan.

Bersama Pak Yahya di teras kamar penginapan di lantai dua, kami bersantai menyicipi durian tersebut. Nikmat, apalagi  kulit durian bisa langsung kami lemparkan ke arah laut yang berbatasan dengan penginapan tersebut. Untuk kuat makan durian saya berguyon resep kepada Pak Yahya agar diawali dengan menguyah biji durian. Tapi dia justeru memberi resep lain, yaitu  dengan cara memberi air di kelopak kulit durian lalu meminumnya. Malam itu tidak terasa kami seperti berlomba makan durian. Durian yang puluhan biji itu pun ludes.

Menariknya, persis saat durian baru saja habis, bapak pemilik penginapan menemui kami berdua. Dia meminta satu atau dua biji durian kami untuk memenuhi permintaan anaknya. Dia mengaku baru saja dari pasar tapi semua penjual durian sudah tidak ada. Anaknya tak mengerti, terus  mendesak dengan menangis meminta durian. Anda tahu, bapak itu lantas terlihat menutup mulut dengan telapak tangan kanannya ketika kami nyatakan durian sudah habis.

‘’Habis…..habis…..,’’ katanya berdecak-decak  meninggalkan kami turun ke lantai bawah. Mungkin bapak ini tidak percaya, dalam waktu yang singkat kami berdua mampu secepat itu habiskan durian sekarung yang kami barusan seret di depannya ketika membawa naik ke lantai dua penginapan.

Keesokan paginya, ketika kami akan keluar dari penginapan, si bapak itu berujar dalam bahasa daerah yang kami tidak pahami. Penjemput kami yang orang sana mengartikannya, bahwa bapak itu bilang, kami bukan orang biasa……. hahaaaa…..kisah inilah yang kemudian membayang ketika melihat durian kecil-kecil itu. Sejak Mamuju menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Barat tahun 2004, saya belum pernah lagi berkunjung melihat  kota yang dulunya dijuluki sebagai ‘Bumi Manakarra’ tersebut. (Mahaji Noesa)

Gambar

Muara Sungai Jeneberang/Foto: Mahaji Noesa

Tak hanya banjir debris longsoran Gunung Bawakaraeng yang harus diwaspadai, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan setiap musim hujan menjadi wilayah rawan bencana tanah longsor, banjir, dan puting beliung. Selain memakan korban jiwa, setiap tahun petaka musim basah ini merugikan rakyat hingga ratusan miliar. Kali ini,  diperkirakan intensitas curah hujan di Sulsel akan turun melampaui batas normal.

Musim hujan sudah terjadi mulai Nopember 2012 pada sejumlah daerah di Indonesia. Biasanya, akan berlangsung selama 4 – 5 bulan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan peringatan dini dengan menetapkan 9 titik di Indonesia dianggap paling rawan bencana dalam musim hujan tahun ini. Di antaranya, tanah longsor di sekitar Gunung Bawakareang, Gowa, Sulawesi Selatan.

Kenapa longsor Gunung Bawakaraeng perlu diwaspadai? Pascabencana longsor gunung yang berketinggian lebih dari 2.000 dpl tahun 2004, menyebabkan endapan material tanah, pasir dan batu-batuan berukuran besar sekitar 300 juta kubik menumpuk di alur Sungai Jeneberang.

Sungai yang berhulu di kaki Gunung Bawakaraeng tersebut mengalir lebih 100 km, melintasi kota Sungguminasa, ibukota kabupaten Gowa, dan bermuara di Kota Makassar. Suatu tim mitigasi bencana dari Bandung pernah menyatakan bahwa sumber mata air utama Sungai Jeneberang tertutup setelah bencana longsoran Bawakaraeng 2004.

Itulah sebabnya debit air sungai yang menjadi sumber air Waduk Bilibili, sekitar 30 km dari Kota Makassar, di musim kemarau menurun drastis. Air yang kini mengalir di bagian hulu alur Sungai Jeneberang berasal dari sungai-sungai ikutan sekitarnya. Justru jika terjadi curah hujan yang tinggi, material longsoran yang menumpuk di bagian hulu alur Sungai Jeneberang dikhawatirkan dapat bergerak, menimbulkan banjir lumpur bercampur batu-batuan alias banjir debris.

Bayangkan, apabila sekitar 300-an juta kubik material seketika dapat menjadi banjir debris. Selain akan melabrak Waduk Bilibili, dapat meluluh-lantakkan pemukiman penduduk yang ada di Kota Sungguminasa dan Kota Makassar. Semoga tak pernah terjadi.

Suatu langkah cemerlang, karena pihak BNPB dengan cepat telah mengingatkan longsoran Gunung Bawakaraeng sebagai salah satu titik rawan bencana musim hujan tahun 2012. Apalagi pascalongsor 2004, penanggulangan terhadap tumpukan material di alur Sungai Bawakareang hanya diatasi dengan pembuatan sejumlah sabo dam — tanggul penahan material, serta sand pocket –  kantong penampung pasir yang dimaksudkan mengurangi volume  material memasuki Waduk Bilibili.

Sejak bencana 2004 sampai sekarang, pihak pengelola DAS Pompengan- Jeneberang mengakui baru dapat mengatasi sekitar 4 juta kubik dari sekitar 300 juta kubik tumpukan material longsoran di alur Sungai Jeneberang. Jumlah itupun sudah terhitung material yang setiap hari diangkut ratusan truk untuk bahan timbunan ke berbagai lokasi di kota Makassar maupun kota Sungguminasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, memperkirakan puncak hujan di Sulsel akan terjadi antara Desember 2012 hingga Januari 2013 dengan curah dapat mencapai 600 mm per bulan. Suatu prakiraan tertinggi bakal terjadi melewati batas curah hujan normal antara 200 hingga 300 mm per bulan. Semoga saja tak menggoyangkan ratusan juta kubik material di hulu alur Sungai Jeneberang.

Longsor, banjir dan angin puting beliung merupakan tiga petaka musim hujan yang selalu berulang setiap tahun di Sulsel. Selain faktor geografis, tidak sedikit bencana tersebut juga akibat ulah manusia merusak lingkungan.

Beberapa kabupaten dataran tinggi di Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjaga-jaga, mengantisipasi bencana longsor dengan meningginya curah hujan. Paling tidak, untuk mengelimir terjadinya korban jiwa maupun harta benda. Peringatan dini ancaman bencana longsor perlu disampaikan kepada warga di kabupaten pegunungan seperti Enrekang, Sinjai, Gowa, Toraja, Toraja Utara, dan Bantaeng yang umumnya masih banyak membangun pemukiman di lokasi berbukit hingga lereng-lerengnya.

Bencana tanah longsor saat musim hujan, perlu diwaspadai para pelintas di poros jalanan di tepi tebing maupun kaki-kaki bukit. Seperti poros Buludua menghubungkan kabupaten Barru – Soppeng, poros Maiwa (kabupaten Enrekang) – Makale (kabupaten Tanan Toraja), Makale – Rantepao (kabupaten Toraja Utara) – Kota Palopo, poros Malino (kabupaten Gowa) – Manipi (kabupaten Sinjai), dan poros Luwu Utara ke perbatasan Provinsi Sulsel dan Sulteng.

Daerah rawan banjir karena dilintasi sungai-sungai besar di Sulawesi Selatan, seperti jalanan sepanjang kl 60 km menyusur pesisir Sungai Walanae dari kabupaten Wajo ke Kabupaten Bone. Kota Palopo, kabupaten Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Enrekang, Soppeng, Sidrap, Maros, Bantaeng, Bulukumba, Pinrang, Pangkep, dan Barru.

Tahun kemarin, banjir yang melanda Kabupaten Wajo dan Bone saja menimbulkan kerugian materil sampai Rp 95 miliar. Belum terhitung nilai kerugian yang ditimbulkan banjir lokal di berbagai kabupaten lainnya di Sulsel. Banjir menggenangi 4 kecamatan di Luwu, Mei 2012, menimbulkan kerusakan fasilitas umun dan harta benda milik rakyat sampai senilai Rp 10 miliar.

Sedangkan bencana angin puting beliung tahun 2011 di 9 kabupaten di Sulawesi Selatan merusak 1.148 bangunan rumah warga dan fasilitas umum. Puting beliung yang juga dinamai Laso Anging di Sulsel berkecepatan di atas 60 km per jam pun perlu diwaspadai seiring dengan datangnya musim hujan terutama bagi warga bermukim di pesisir pantai serta tempat ketinggian. Sebanyak 19 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel wilayahnya berbatasan dengan laut.

Petaka musim hujan di Sulawesi Selatan selalu saja berulang, lantaran masih sering dikategori murni bencana alam. Pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten masih lebih fokus mencari dana bagi warga setelah jadi korban bencana. Tahun 2012 Sulsel memperoleh Rp 70 miliar dana penanggulangan bencana dari pemerintah pusat. Belum tampak langkah signifikan mengelimir penyebab bencana. Hutan Sulsel yang luasnya 2,7 juta hektar (2007) sebagai penyanggah timbulnya banjir sekarang berkurang sisa sekitar 2 juta hektar. Jadi, waspada sajalah, musim hujan kini sudah tiba. (Mahaji Noesa)