Posts Tagged ‘somba’

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

Iklan
Gambar

H.Udhin Palisuri/Ft: Mahaji Noesa

Sejarah tak akan mengubah masa depan. Peradaban kini tak lagi memberi kesempatan keturunan ningrat seperti masa kerajaan dahulu dapat secara otomatis diangkat menjadi pemimpin, meski tanpa memenuhi kriteria atau jenjang pendidikan yang cukup.

‘’Tapi jangan kau coba memahami sejarah dengan pengertian sempit seperti itu. Sejarah itu adalah ruh setiap orang setiap bangsa dalam menapak perjalanan kehidupan lebih maju termasuk untuk mengukir sejarah baru sesuai jamannya,’’ tutur H. Udhin Palisuri dalam suatu perbincangan di kediamannya, Jl. Bungaeja No. 20, Makassar, akhir pekan lalu.

Budayawan yang seniman penyair Sulsel bergelar ‘Jenderal Puisi’ tersebut kemudian memberi contoh, salah satu kealpaan terhadap sejarah  proses pelaksanaan ‘Perjanjian Bungaya’ pada tanggal 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman.

Gambar

Di sekitar inilah lokasi situs Perjanjian Bungaya/Ft: Mahaji Noesa

Perjanjian bersejarah yang menandai awal porak-porandanya kerajaan Gowa tersebut, generasi sekarang sudah jarang sekali yang mengetahui dimana persisnya dilakukan padahal sangat jelas dalam catatan sejarah. Dilakukan di wilayah Barombong, yang kini masuk wilayah Kelurahan Barombong, kecamatan Tamalate, kota Makassar. Tapi situsnya kini tidak lagi jelas dimana, tidak ada kepedulian memeliharanya.

Menurut sejumlah penduduk di kelurahan Barombong kepada Independen, dari penuturan kakek-nenek mereka, lokasi tempat dilakukan penandatangan Perjanjian Bungaya tersebut berada di sekitar kampung Bontoa. Posisi saat ini di arah selatan bentangan Jalan Perjanjian Bungaya yang baru saja dibeton, membetang sepanjang 800 meter dari arah barat, depan kantor Lurah Barombong hingga SPBU khusus solar di ujung utara.

Ada yang menunjuk ke arah lokasi di pinggiran sawah yang ditumbuhi belukar dan sebagian dijadikan sebagai tempat pemakaman warga setempat.

‘’Tapi semua lokasi yang ada di tempat itu sekarang sudah ada yang punya, bahkan sedang ditawarkan untuk dijual kepada siapa saja yang mau membelinya,’’ jelas seorang warga yang mengaku dari kampung Kaccia, di sebelah utara jalan Perjanjian Bungaya.

Penduduk sekitar menyatakan, lantaran di lokasi itu dahulu berlangsung penandatanganan ‘Perjanjian Bungaya’ sehingga jalanannya diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Sebelumnya, nama Jalan Bungaya diberikan terhadap jalan yang membentang utara-selatan depan RS Bhayangkara, tapi kemudian diubah menjadi jalan A Mappaoddang, Makassar.

Lantaran mengabaikan proses peristiwa sejarah ‘Perjanjian Bungaya’  yang terjadi 350 tahun lalu termasuk tak menghargai situs, menurut Udhin Palisuri, generasi sekarang tidak mengetahui jika sumpah-sumpah yang dilakukan menggunakan kitab suci terhadap para pejabat negara di Indonesia sekarang sebelum melaksanakan tugasnya, sudah dimulai dari ketika dilakukan Perjanjian Bungaya.

‘’Sejarah jelas mencatatnya, bahwa ketika dilakukan  penandatanganan Perjanjian Bungaya, diletakkan kitab suci al-quran di depan Sutan Hasanuddin serta kitab suci Injil di depan Speelman,’’ katanya.

Sejarah tidak menentukan masa depan, tetapi menurut Udhin Palisuri, melalui sejarah kita bisa menjadi lebih arif, lebih cerdas untuk menata peradaban kehidupan yang lebih baik. ‘’Kalau saja jika mau belajar dari peristiwa Perjanjian Bungaya, kita akan sadari bahwa tanpa kehati-hatian penghianatan masih bisa saja dilakukan oleh seseorang sekalipun sudah bersumpah di depan kitab suci agamanya. Hal itu sudah dibuktikan sejarah sejak ratusan tahun lalu melalu sosok Speelman yang membumihanguskan Benteng Somba Opu padahal dalam perjanjian diserahkan dalam kekuasaan Sultan Hasanuddin,’’ katanya.

Gambar

Jl. Perjanjian Bungaya menuju situs/Ft: Mahaji Noesa

Jika kita mau menyimak dan belajar dari sejarah, tutur mantan wartawan Harian Angkatan Bersenjata yang sudah menerbitkan 15 buku antologi puisi tersebut, pusat perkapalan dunia seharusnya sekarang ada di Sulawesi Selatan bukan di Hamburg, Jerman, karena sejak ratusan tahun lalu nenek moyang orang Sulsel telah menguasai teknologi pembuatan perahu.

Udhin Palisuri menyatakan sangat setuju jika Pemprov Sulsel membuat semacam Perda tentang perlindungan dan pengembangan terhadap situs-situs sejarah purbakala sebagai implementasi dari Undang-undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

‘’Lebih cepat lebih baik, sebelum ribuan situs jejak peradaban sejarah dan budaya masa silam di daerah ini lenyap digerus zaman. Apalagi jika ada desain untuk membuat situs-situs tak hanya sebagai ruang meditatif, tapi sekaligus sebagai obyek yang senantiasa mengingatkan generasi tentang sejarah dan budayanya dalam memperkuat jati diri dan agar tidak lupa diri dalam menapak kehidupan yang kian mengglobal,’’ katanya.  (Mahaji Noesa, Koran Independen, Edisi 32, 29 April – 5 Mei 2013)

 

Gambar

A Hamzah Tuppu/Repro mahaji Noesa

Melalui cuplikan catatan sejarah kebaharian dan sejarah TNI-AL, dapat dipahami betapa besarnya tekad yang menggelora di dada A.Hamzah Tuppu untuk melestarikan jiwa dan semangat bahari seperti yang dimiliki para leluhurnya sebagai orang pelaut.

A.Hamzah Tuppu lahir di Borongcalla, Desa Botosunggu, 20 Agustus 1920 (Berdasarkan riwayat hidup yang dibuat sendiri ketika masih hidup, tertanggal 23 Mei 1964, diketahui Adam Malik dan Bambang Soepeno). Tempat kelahiran A. Hamzah Tuppu itu kini secara administratif masuk Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Galesong pada masa kerajaan Gowa terkenal sebagai lumbung pangan, tempat kelahiran para kesatria kerajaan Gowa, patriot bahari yang tangguh. Pihak kompeni Belanda sendiri baru mampu menerobos kota Somba Opu, pusat kerajaan Gowa pada abad XVII, setelah sebelumnya jatuh bangun melawan prajurit serta menghancurkan benteng pertahanan di wilayah Galesong tersebut.

Pihak kompeni Belanda mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Gowa di Galesong pada 30 Juli 1667. Nanti pada 19 Agustus 1667 setelah dilakukan penyerangan dari darat dan laut, benteng pertahanan Galesong dapat dikuasai kompeni Belanda, lumbung makanan kerajaan Gowa di tempat ini dibumihanguskan.

A.Hamzah Tuppu merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu), termasuk dalam rumpun keluarga Karaeng Galesong.

Menurut Aba Jadjid Bostan Daeng Mama’dja, pemangku hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga keturunan ketujuh dari Syekh Joesuf Tajul Khalwatia Kaddassallahu Sirruhu, sebagai keluarga sejak kecil Amir Hamzah Dg Tuppu (nama lengkap A.Hamzah Tuppu) dibina oleh Karaeng Galesong XVI H.Larigau Dg Manginruru.

Dalam usia sekitar 7 tahun, A. Hamzah Tuppu yangnama kecilnya adalah Cakkua (menurut Bostan Dg Mama’ja, diambil dari nama keris kepunyaan Syekh Yusuf), disekolahkan pada sekolah rakyat (volokschool) di Soreyang. Setahun kemudian dipindahkan ke Sekolah Rakyat Galesong, tinggal bersama Karaeng Galesong di Takalar.

Setamat dari Sekolah Rakyat, ia dipindahkan ke Makassar melanjutkan pendidikan di Inlandsch School. Di Makassar, tinggal bersama sejumlah kawan-kawan di rumah seorang Karaeng Galesong, Ipammusuran Dg Paduni, di Kampong Pisang/Lajangiru. Dari sekolah tersebut ia kemudian masuk seklah Marine (Kelautan), tamat tahun 1936. Setelah itu, hasratnya untuk mengikuti kegiatan militer tidak mendapat dukungan dari Karaeng galesong. A Hamzah Tuppu melanjutkan pendidikan ke sekolah pertanahan Top Gerapt Dienst.

Setamat dari sekolah rakyat ini, ia kemudian bekerja pada kantor Landrente di Makassar. Pada tahun 1938 diangkat menjadi Mantri Landrente, bertugas melakukan pengukuran tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan.

Pergaulan A.Hamzah tuppu semakin meluas. Termasuk menjalin persahabatan dengan seorang warga Jepang bernama Hirata yang berprofesi sebagai juru potret di Makassar. Melalui Avon kursus dia belajar Bahasa Belanda dan mulai melibatkan diri dengan organisasi-organisasi politik yang berupaya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Pada tahun 1941, A. Hamzah Tuppu bersama aktivis pergerakan politik lainnya di Makassar, seperti wahab Tarru, Andi Kanna dan Martua Bangsawang Dg Liwang (Karaeng Takalar) ditangkap oleh Belanda dan ditawan di penjara Sengkang, sekarang ibukota Kabupaten Wajo. Dari tempat ini kemudian dipindahkan ke tempat tawanan Belanda di Pulau Jawa.

Saat Jepang memulai pendudukan di Indonesia pada tahun 1942, A Hamzah Tuppu dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau jawa. Selanjutnya, sekalipun kemudian bekerjasama Jepang di Pulau Jawa tapi dia tetap melanjutkan pergerakan politik untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajahan. Dia melakukan gerakan-gerakan persiapan kemerdekaan RI bersama rekan-rekannya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, serta menggalang tokoh-tokoh pemuda asal Sulawesi Selatan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibuat sendiri A Hamzah Tuppu semasa hidupnya, pada tahun 1942 setelah dibebaskan dari Kamp Garut ia aktif dalam Djawa Hokokay dan Peta jurusan Angkatan Laut. Antara tahun 1945 – 1947 sebagai Kolonel pelaut, aktif dalam pembentukan ALRI pertama di Surabaya. Memimpin KRU X Brigade D-81 pada tahun 1947.

Ketika dilakukan rasionalisasi kepangkatan pada tahun 1948 – 1951, A Hamzah Tuppu dirurunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, dan dia menyatakan mengundurkan diri dengan alasan cita-cita perjuangan kemerdekaan RI telah tercapai.

Tersebut sejumlah nama tokoh yang pernah menjadi kawan setia A Hamzah tuppu semasa hidupnya, seperti Kahar Muzakkar, Andi Selle Mattola, A.A.Rivai, Achmad Lamo, Warrow, Worang, Mursalim Dg Mamangung, Sudomo, Ali Sadikin, Andi Mattalatta, Andi Oddang, Ince Kasim, Suaib pasang, Tisi Efendi Dg Nodjeng, dan Hasan Ralla.

Pada tahun 1950 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Maega di Surabaya. Sepanjang tahun 1952 – 1959 aktif mengorganisir bekas pejuang bersenjata dalam organisasi veteran yang bernama Legiun Veteran RI. Antara tahun 1959 – 1960 dipilih sebagai panasihat Organisasi Veteran Pusat dan daerah.

Lantaran kharismanya sebagai tokoh pejuang asal Sulsel, ia pernah dicalonkan menjadi anggota MPRS Pusat dan diajukan sebagai salah satu calon Gubernur Sulselra pada tahun 1961.

Antara tahun 1961 – 1963 aktif sebagai pengurus Perhimpunan Keluarga Sulawesi di Jakarta, dan menjadi Presiden Direktur NV Usaha AMPRI (Angkatan Muda Pejuang Republik Indonesia). Melalui badan usaha AMPRI, A Hamzah Tuppu membangun perumahan untuk angkatan laut di Makassar.

Dalam kutipan Riwayat Hidup A Hamzah Tuppu yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI-AL Dinas Personil, tertanggal 10 Nopember 1988, disebutkan bahwa A Hamzah Tuppu kelahiran 26 Desember 1920, bergabung dalam kesatuan/kelasykaran BKR/TKR Laut ALRI Pangkalan IV di Tegal antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 31 Desember 1949.

Berdasarkan Surat keputusan Kasal Nomor: Skep/3400/XII/1979 tangga 12 Desember 1979 diberhentikan dengan hormat dangan Hak Onderstand terus menerus. Ditetapkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui SK Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No.96/Kpts/MUV/1964 tanggal 15 September 1964.

Berdasakan SK Kasal No.Skep/245/I/1980 tanggal 19 Januari 1980 diberikan Hak Onderstand terus menerus kepada Letkol ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp. Sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1573/VI/1982 tanggal 18 Mei 1982 diberikan pemberhentian/kenaikan pangkat luar biasa dari pangkat Letkol menjadi Kolonel atas nama Kolonel ALRI A Hamzah tuppu Non Nrp.

Putra asa Sulsel, patriot bahari titisan Karaeng Galesong, A Hamzah Tuppu menghembuskan nafas terkahir pada tangga 30 Juni 1986 di jakarta. Jenazahnya dimakamkan dalam suatu upacara militer di TMP Kalibata, Jakarta. Isteri almarhum, Ny.Erna sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1407/V/1987 diberikan Hak Pensiun Warakawuri dari alm.Kolonel ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp.

Atas perkawinan A Hamzah Tuppu dengan Ny. Erna Doomik (Ny. Erna Hamzah Tuppu), dikaruniai empat orang anak, masing-masing Haerumy Hamzah tuppu Dg Mudji (sekarang menjabat Ketua Umum ARDIN Kota Makassar), Haerana Naki padjonga Dg Rannu, Ananda Agnes Tuppu Dg Asseng, dan Moh. Tony Nurul Dg Antang.

Ny Erna Hamzah Tuppu (kelahiran Yogyakarta, 11 September 1919) yang dinikahi A Hamzah Tuppu pada tahun 1945 di Jogya, selaiun berdarah ningrat dari paku Alam, juga dalam masa perjuangan kemerdekaan RI aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia di Brigade X 81-D. Untuk itu pemerintah RI juga menganugerahkan kepadanya berupa tanda jasa Bintang Gerilya, Satya Lencana GOM I, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, dan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI golongan A.

Pernikahan antara A hamzah Tuppu dengan Ny Erna, antara lain, disaksika oleh Nototarono, adik ipar dari Paku Alam V. Menurut Ny Erna, suaminya A.Hamzah Tuppu adalah sosok manusia yang tegas memegang prinsip untuk kepentingan nasional.

Dari keempat orang anak yang dilahirkan dari pasngan keluarga A Hamzah Tuppu dan Ny Erna, telah melahirkan 13 cucu, dua di antaranya meninggal dunia.

Semasa hidupnya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang jasa kepada A hamzah Tuppu berupa tanda jasa Bintang gerilya (Dari Presiden Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Garakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 29 januari 1958), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 5 Oktober 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II (dari Menteri pertahanan Djuanda, 5 Oktober 1959), dan Piagam Veteran Golongan A (1964). Dan, Bupati Takalar Drs.H.Zainal Abidin, Msi atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Takalar pada Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-40, 10 Pebruari 2000, secara khusus memberikan Piagam Penghargaan kepada Alm. A Hamzah Tuppu sebagai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Takalar yang dinilai berjasa. Nama alm A Hamzah Tuppu sejak lama diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur. (Mahaji Noesa, Buku: A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)        

Gambar

Mariang Polong di Benteng Somba Opu (Foto: Riset)

Tercatat sejarah, sebanyak 272 pucuk meriam besar dan kecil ikut dihancurkan ketika Kolonial Belanda membumihanguskan Benteng Somba Opu yang menjadi pusat Kerajaan Gowa pada 24 Juni 1669. Termasuk sepucuk meriam bernama ‘Mariang Anak Mangkasara’ (Meriam Anak Makassar) dirampas oleh Belanda.

Meriam (jagur) yang beratnya sekitar 500 kg dan memiliki panjang sekitar 6 meter tersebut, merupakan yang terbesar di antara semua meriam yang mengawal pertahanan Benteng Somba Opu yang berbentuk persegi empat dengan luas lebih dari 113 ribu meter bujur sangkar.

Meriam yang dibuat tahun 1593 lubang pelontar mesiunya berdiameter besar, memiliki jangkauan lontar yang jauh serta kekuatan daya rusak yang besar. Jika beraksi, menimbulkan gelegar yang dahsyat hingga radius puluhan kilometer, sehingga juga dijuluki sebagai ‘Meriam Keramat.’

Namun, sekalipun ada petunjuk meriam tersebut lolos dari aksi penghancuran oleh kolonial Belanda tapi saat ini tak diketahui dimana rimbanya. Dalam catatan lama ada disebut pascaperang Somba Opu (1669) — perang maritim terbesar yang pernah terjadi di wilayah Asia sepanjang sejarah, meriam itu disingkirkan ke Batavia, lalu kemudian entah dibawa kemana. Sampai sekarang tidak ada sedikitpun petunjuk arah raibnya meriam kebanggaan ‘Anak Makassar’ tersebut.

Di lokasi puing bekas Benteng Somba Opu yang terdapat di Kelurahan Somba Opu Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, saat ini hanya dapat disaksikan dua buah meriam (jagur). Satunya, meriam yang dijadikan asesori di halaman depan Museum Karaeng Pattingaloang yang terdapat di areal bagian barat bekas Benteng Somba Opu. Akan tetapi, meriam tersebut, bukan bagian dari meriam yang pernah mengawal di Benteng Somba Opu. Meriam ditemukan dalam suatu penggalian yang dilakukan warga secara tak sengaja pada tahun 90-an di Jl. Ince Nurdin, Kota Makassar, sekitar 10 km di arah utara lokasi Bekas Benteng Somba Opu.

Dudukan meriam justru merupakan hasil rekonstruksi tahun 1991 yang dilakukan oleh H.Mochtar Ibrahim Dg Naba dari STM Pembangunan Ujungpandang.

Berikutnya, sebuah meriam (jagur) yang panjangnya 1 meter lebih. Meriam yang bagian pangkalnya terlihat tak sempurna (patah ?) santer disebut oleh penduduk yang bermukim sekitar lokasi bekas Benteng Somba Opu sebagai ‘Mariang Polong’ (Bahasa Makassar, berarti Meriam Patah).

Meriam ini sejak dulu, menurut cerita penduduk, sudah tergeletak di sekitar sebuah makam yang saat ini berada sekitar 15 meter di depan Museum Karaeng Pattingaloang, di bekas Benteng Somba Opu. Makam yang telah dibuatkan penutup dalam bentuk bangunan gardu permanen, disebut-sebut sebagai makam dari keluarga Raja Gowa tempo dulu. Namun pihak Museum Karaeng Pattingaloang hingga sekarang tidak punya data pasti mengenai siapa yang dimakamkan di tempat tersebut.

Yang pasti, cerita dari penduduk sekitar, meriam tersebut dari dulu hingga saat ini terutama sore hari — jelang malam Kamis atau Malam Jumat, selalu terlihat ramai disiarahi orang-orang yang datang dari Kota Makassar maupun dari wilayah Kabupaten Gowa dan sekitarnya. Mereka menabur bunga dan membakar lilin merah di badan meriam. Tak heran jika setiap saat terasa hembusan bau bunga  pandan segar di sekitar meriam, dan badan meriam dipenuhi lelehan bakaran lilin merah.

Ada yang mengisahkan, bahwa pada tahun 70-an, sebelum dilakukan eskavasi (penggalian) lokasi bekas Benteng Somba Opu, Mariang Polong ini pernah diangkut oleh sekelompok orang dibawa ke wilayah Balang Baru, Kota Makassar – sekitar 3 kilometer arah utara benteng. Mereka memindahkan dengan maksud agar tidak terjadi pemberhalaan terhadap meriam tersebut.

Namun dalam beberapa waktu kemudian, Mariang Polong dikembalikan ke tempatnya semula di dalam areal bekas Benteng Somba Opu, lantaran orang-orang yang tadinya memindahkan meriam tersebut dikabarkan terserang penyakit dan semua tewas.

Banyak pihak menyayangkan lantaran hingga saat ini pihak UPTD Pengelola Benteng Somba Opu termasuk Museum Karaeng Pattingaloang, belum memiliki data yang jelas mengenai Mariang Polong yang justru berada di moncong museum. Termasuk amat menyayangkan karena ada semacam pembiaran terhadap orang-orang untuk menyakralkan, memuja-muja, bahkan meng-kramat-kan meriam yang belum jelas asal-usulnya tersebut.

Lebih aneh lagi, ada yang mengubah posisi meriam yang sebelumnya hanya digeletakkan di atas gundukan batu, kini mulut meriam dimasukkan ke belahan batang sebuah pohon besar yang tumbuh di dekatnya. Sehingga posisinya, membuat kesan bertemunya P and V. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 10 Oktober 2011)

Gambar

Patung wajah Syekh Yusuf di pelataran Pantai Losari Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Kelahiran 3 Juli 1626, dari rahim ibu yang bernama Sitti Aminah, putri bangsawan Gallarang Moncongloe. Ayahnya bernama Abdullah Khaidir. Dalam Lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa, ayah Syekh Yusuf, dikisahkan, sebagai orang sakti, dapat berjalan melayang di atas tanah. Dan, menghilang tanpa jejak ketika Syekh Yususf masih dalam kandungan ibunya. Raja Gowa ke-14, I Manga’rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin kemudian memperistrikan Sitti Aminah, ibunda Syekh Yusuf.
Justru Syekh Yusuf dilahirkan di istana Raja Tallo. Diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Meskipun Raja Gowa yang bergelar Tumenanga ri Gaukanna sebenarnya merupakan ayah tiri, namun tetap memperlakukan Yusuf (nama kecil Syekh Yusuf) sebagai anak kandungnya. Seperti terlihat dalam perlakuan keseharian Raja yang menggendong sendiri Yusuf ke tempat buaiannya. Dan, Raja marah kepada setiap orang yang tidak menyebut Yusuf sebagai Putra Raja.

Pusar Bersinar
Al-kisah, ketika masih bayi, dari pusar Yusuf pada malam hari sering tampak keluar seberkas sinar tegak lurus ke langit-langit istana. Dari tanda-tanda tersebut, kemudian ditambah dengan minat belajar yang menggebu serta kecerdasan yang diperlihatkan Yusuf sewaktu usia kanak-kanak, menambah rasa sayang Raja dan rasa hormat orang-orang terhadap Yusuf.
Melalui guru Daeng ri Tasammang, Yusuf diajari membaca Al-Quran. Dalam usia 8 tahun, ia sudah tamat mengaji, mempelajari ilmu sharaf, nahwu dan mantik. Pelajaran fiqih dan tauhid pun dilalapnya, melalui Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diasuh oleh Sayed Ba’ Alwy bin Abdullah al-Allama Thahir di Bontoala.
Ketika berusia 15 tahun, memperdalam ilmu agamanya melalui tempat pengajian Syekh Jalaluddin al-Aidit di Cikoang, daerah Takalar. Syekh Jalaluddin adalah seorang ulama asal Aceh, yang datang ke Sulawesi Selatan setelah dari Kutai, untuk mengajarkan dan menyebarkan syariat Islam kepada masyarakat luas.
Dari Cikoang, Yusuf yang sudah meningkat ke usia remaja lantas mempelajari ilmu-ilmu kebatinan di berbagai tempat di wilayah Sulawesi Selatan. Di antaranya, berguru ke puncak Gunung Bawakaraeng yang pada abad ke-17 merupakan pusat tempat belajar ilmu kebatinan.
Pada saat Kerajaan Gowa telah diperintah oleh Raja I Mannutungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung, digelar Sultan Malikussaid, Yusuf yang masih merasa haus pengetahuan mengenai ajaran Islam, mengarahkan langkah menuju Mekah untuk memperdalam ilmunya. Ia berangkat meninggalkan pelabuhan Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa, dengan menumpang sebuah kapal dagang Melayu, 22 September 1644.
Kurang lebih seminggu perjalanan, Kapal Melayu tersebut merapat di pelabuhan Banten, Jawa Barat. Karena Banten, kala itu, juga merupakan Pusat Pengembangan Islam, maka Yusuf tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di tempat ini dia segera menghubungi tokoh-tokoh agama untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam yang belum didapatkandi tanah kelahirannya. Dia juga mampu secara cepat menjalin persahabatan yang erat dengan kalangan petinggi, termasuk dengan Putra Mahkota yang memerintah saat itu. Pangeran Surya, demikian nama Putra Mahkota yang menjadi karibnya.
Dari Banten, Yusuf kemudian bertolak ke Aceh. Sama seperti di Banten, di Aceh, Yusuf secara tekun menimba ilmu-ilmu agama serta memperdalam ilmu-ilmu yang telah diketahui melalui para ulama terkenal. Setelah berhasil mempelajari tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin Ar-raniri di Aceh, Yusuf lalu menuju Mekah menunaikan ibadah haji.
Di negeri Timur Tengah pusat ajaran Islam, Yusuf berpindah dari kota yang satu dengan kota lainnya dalam rangka memperdalam ilmu agamanya. Di Yaman, memperdalam tarekat Naqsyabandi dan tarekat al-Baalawiyah.
Di Medinah, memahiri tarekat Syattariyah. Di Damaskus, mendalami tarekat Khalwatiyah. Di tempat inilah Yusuf dikukuhkan dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah oleh gurunya, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi, yang juga adalah imam di masjid Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi di Damaskus.
Selain ilmu-ilmu yang telah disebutkan, dalam pengembaraannya, Yusuf juga mempelajari tarekat-tarekat sufi Dsukiyah, Syaziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, dan Makhduniyah.
Yusuf diperkirakan bertolak ke Timur Tengah pada tahun 1649, dan kembali ke Tanah Air pada tahun 1664. Atau, setelah memperdalam ilmu selama 15 tahun di pusat ajaran Islam, negeri Arab.
Ketika di Mekah, Syekh Yusuf menikahi Sitti Hadijah, putri Imam Masjid Haram, Imam Syafi. Memperoleh keturunan seorang anak yang diberi nama Sitti Samang. Isterinya kemudian meninggal dunia.
Dalam perjalanan pulang, sesuai alur pelayaran dari Timur Tengah, kala itu, Syekh Yusuf mampir lagi di Banten. Sahabatnya, Pangeran Surya telah memegang kendali kekuasaan Kesultanan Banten, bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
Kedatangan kembali Syekh Yusuf di Banten disambut hangat sahabat dan masyarakat. Maklum, sebelum kembali ke Banten, kehebatan Syekh Yusuf telah tersebar luas di masyarakat, melalui ceritera-ceritera yang dibawa oleh para jamaah haji asal Banten. Masyarakat Banten, kala itu, menghormati Syekh Yusuf sebagai Ulama Tasauf dan Syekh Tarekat.
Sultan Ageng Tirtayasa lantas menunjuk Syekh Yusuf untuk mendidik keluarga Kesultanan Banten mengenai ilmu-ilmu agama Islam. Sampai akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa sendiri tertarik untuk mendalami ajaran tarekat Khalwatiyah yang diajarkan Syekh Yusuf.
Sebagai orang yang dianggap berjasa, Syekh Yusuf pun akhirnya dikawinkan dengan Syarifah, putri Sultan Ageng Tirtayasa. Pengajian-pengajian yang dibuka untuk masyarakat, begitu juga ceramah-ceramah keagamaan yang diberikan dalam setiap kesempatan membuat nama Syekh Yusuf makin cepat terkenal di Banten dan daerah sekitarnya. Termasuk orang-orang Bugis-Makassar, daerah tempat kelahirannya berdatangan untuk berguru kepada Syekh Yusuf di Banten.

Protes Hukuman Mati
Ketika Sultan Ageng Tirtayasa menyerahkan kekuasaannya, 1 Mei 1608 kepada putranya, Abu Nazar Abdulkahar yang bergelar Sultan Haji, kedamaian Kesultanan Banten mulai terusik oleh pihak kompeni Belanda. Sultan Haji berhasil dibujuk berpihak Belanda. Keadaan di Banten kemudian mulai memburuk, akibat taktik adu domba yang berhasil dilancarkan pihak kompeni terhadap Sultan Haji dan ayahnya, Sultan Ageng.
Pada tahun 1682, terjadilah perang saudara di Banten. Sultan Ageng menyerang Kraton Surosoan, tempat Sultan Haji memerintah dikawal pasukan kompeni. Sultan Haji dalam serangan ini berhasil lolos, kemudian meminta bantuan kekuatan dari kompeni.
Serangan yang dilakukan kompeni dari darat maupun dari laut dalam bulan Mei 1682, berhasil membumihanguskan Banten. Sultan Ageng, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya (panglima Perang, saudara kandung Sultan Haji), dan pembesar-pembesar lainnya, dipaksa untuk mundur meninggalkan Kota Tirtayasa, Banten. Mereka mundur bersama pasukan perang yang setia, tetapi tetap melakukan perlawanan secara bergerilya.
Atas petunjuk Sultan Haji, tempat persebunyian ayahnya, Sultan Ageng dapat diketahui oleh kompeni. Melalui surat damai dibuat oleh Sultan Haji kepada Sultan Ageng atas permintaan kompeni. Sultan Ageng akhirnya keluar dari medan gerilya. Serta-merta kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kompeni, menangkap Sultan Ageng.
Pasukan dibawa pimpinan Syekh Yusuf lepas dari kejaran, terus bergerilya di daerah-daerah pegunungan Jawa Barat, sambil menyerang kubu-kubu pertahanan kompeni. Demikian halnya dengan pasukan dibawa komando Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul.
Berbulan-bulan pasukan Syekh Yusuf, sekitar 5.000 orang, di antaranya sekitar 1.000 orang Bugis-Makassar, melakukan perlawanan secara bergerilya. Namun akhirnya pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf keluar dari persembunyian akibat taktik licik pihak kompeni yang menyandera isteri dan anaknya. Syekh Yusuf pun ditangkap pihak kompeni.
Ketika Syekh Yusuf bersama keluarga dan 12 orang pengawalnya dikirim ke penjara Batavia, pihak kompeni juga memulangkan anggota pasukan yang terdiri atas orang-orang Bugis-Makassar dengan sebuah kapal ke Makassar.
Sebenarnya, pihak kompeni akan menjatuhkan hukuman mati terhadap Syekh Yusuf. Tetapi sebelum rencana hukuman mati tersebut dilaksanakan, muncul protes dan reaksi yang menentang dari masyarakat dunia. Di antaranya datang dari Sultan Aureng Zeb di India, sehingga hukuman mati diganti dengan hukuman pembuangan seumur hidup ke Ceylon.
Sebelum Syekh Yusuf bersama keluarganya diasingkan ke Ceylon, ada utusan dari Raja Gowa Sultan Abdul Djalil menemui pemerintah Belanda di Batavia, memohon agar Syekh Yusuf dikembalikan ke Makassar. Tetapi, permohonan tersebut tidak dikabulkan.
Tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf dan keluarganya dibawa ke Ceylon. Sebagai ulama, dalam waktu singkat Syekh Yusuf dapat menarik pengikut di Ceylon. Di tempat pengasingan tersebut dia mengajarkan ilmu syariat dan tasauf yang sangat diminati, termasuk murid-muridnya berdatangan dari India dan Sri Langka.
Orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan haji dengan kapal laut, kala itu, banyak yang menyempatkan diri singgah belajar ilmu-ilmu keagamaan pada Syekh Yusuf di Ceylon. Dalam kesempatan ini, Syekh Yusuf juga dengan semangat ksatrianya tetap mengobarkan semangat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda di tanah air. Pesan-pesan politik maupun keagamaan dikirimkan kepada para raja di Indonesia.
Pemerintah kolonial Belanda mencium gerakan terselubung yang dilakukan Syekh Yusuf melalui para jemaah haji Indonesia. Pesan-pesannya dinilai oleh kompeni sangat berbahaya dalam hubungan mengobarkan perlawanan terhadap kompeni di Indonesia. Maka, pada 7 Juli 1693 oleh pemerintah kolonial Belanda, memutuskan untuk memindahkan Syekh Yusuf beserta keluarga dan pengikutnya dari Ceylon ke Kaap de Goede Hoop, tanjung paling selatan di Benua Afrika.

Kobbanga
Di tempat pengasingan di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap mampu memperlihatkan kehebatan dan kebesarannya, menarik banyak pengikut. Syekh Yusuf tersohor di Afrika Selatan sebagai pembawa ajaran Islam pertama bagi orang-orang di benua kulit hitam tersebut. Kaum muslim di Afrika Selatan yang kini telah berjumlah ratusan ribu jiwa itu, disebut sebagai orang Slammejer.
Di tempat pembuangan Afrika Selatan inilah Syekh Yusuf pada tanggal 23 Mei 1699, dalam usia 73 tahun menghembuskan nafas terakhir. Atas permohonan yang berkali-kali dilakukan oleh Raja Gowa, maka akhirnya pada tahun 1704 pihak kompeni mengabulkan untuk dapat membawa kembali jenazah Syekh Yusuf ke Makassar. Dengan menumpang kapal de Spigel, 5 April 1705, keranda Syekh Yusuf yang dikawal oleh keluarganya tiba di Makassar.
Kobbanga (Kobbang), itulah sebutan bagi makam Syekh Yusuf yang terletak di Lakiung, Katangka, Kabupaten Gowa. Seperti halnya makam pertama Syekh Yusuf yang tetap dihormati masyarakat di Afrika Selatan, makamnya di Lakiung setiap saat selalu ramai didatangi peziarah.
Semasa hidupnya, Syekh Yusuf menulis puluhan karya yang berkaitan dengan kesufian. Dia pun disebut-sebut banyak orang sebagai Waliullah terbesar dan terakhir dari wali-wali yang pernah ada. Wallahualam. (Mahaji Noesa/dari berbagai sumber).

Bergelar Tuanta Salamaka di Gowa

Surat Keputusan Presiden RI mengenai pengukuhan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, diumumkan pertamakali oleh Menteri Sosial, Inten Suweno, 9 Oktober 1995 di Jakarta. Dalam pengumuman ini disebut dengan nama Syekh Yusuf Tajul Khalwati.
Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan nama Syekh Yusuf telah lama popular, dikenal sebagai tokoh agama, penyebar ajaran tarekat khalwatiyah. Di daerah leluhurnya, Kabupaten Gowa, Syekh Yusuf lebih dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka (pembawa berkah/keselamatan).

Ketika masyarakat muslim memperingati 300 tahun pendaratan Syekh Yusuf di Afrika Selatan, 2 April 1994. Pihak Universitas Hasanuddin di Makassar pun menggelar seminar tentang tokoh Syekh Yusuf. Dari forum ini disimpulkan Syekh Yusuf pantas jika mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional. Dua pembicara utama dari Jakarta yang diundang waktu itu, Dr.H.Ruslan Abdulgani dan Taufik Ismail, juga sepakat untuk pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf.
Penyair yang tersohor melalui sajaknya berjudul ‘Tirani’ tahun 1966, memberikan kesaksian bahwa pada tahun 1993 ketika bersama sejarahwan dari Aceh dan Malaysia berkunjung ke Afrikan Selatan. Di Benua kulit hitam tersebut ia menghimpun informasi, terdapat sekitar 400.000 jiwa kaum muslim yang mengaku keturunan Melayu.
Keturunan yang dimaksud adalah keturunan para pejuang dari Indonesia yang diasingkan ke Afrika Selatan oleh pihak kolonial Belanda. Dari mereka dicatat, terdapat keturunan Syekh Yusuf dari Makassar, Imam Abdullah dari Tidore, Sultan Ahmad dari Ternate, Said Abdurahman dari Madura, dan Raja Tambora dari Nusa Tenggara.
‘’Di antaranya Syekh Yusuf yang paling terpandang, sebagai tokoh ulama di Afrika Selatan,’’ jelas Taufik Ismail.
Lain lagi dengan cerita Dr.H.Ruslan Abdulgani (alm-pen). Dalam suatu kunjungan kerja sebagai Duta Besar Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke Lusaka, ibukota Zambia tahun 1968, ia sempat didatangi 5 orang tokoh muslim Afrika Selatan yang mengaku sebagai keturunan Syekh Yusuf.
Setelah pertemua itu, ceriteranya, beribu tanda Tanya bergolak dibenaknya tentang tokoh Syekh Yusuf. Ia pun lalu mencari buku-buku dan dokumentasi tentang riwayat Syekh Yusuf dari Indonesia yang begitu terkenal di Afrika Selatan.
‘’Ternyata, Syekh Yusuf selain sebagai ulama, beliau juga adalah pejuang yang militan menentang kehadiran penjajah Belanda di Indonesia pada abad ke-17,’’ kata Ruslan Abdulgani.
Dia mengakui, antara lain memperoleh informasi mengenai kehebatan Syekh Yusuf sebagai ulama maupun pejuang melalui buku berjudul ‘The Preaching of Islam’ yang ditulis oleh Prof.T.W.Arnold tahun 1931.
Dalam buku berjudul ‘Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang’ yang ditulis oleh Prof.Dr.Abu Hamid, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1994, dalam uraian tentang naskah-naskah menyangkut Syekh Yusuf yang pernah diterbitkan sejak tahun 1885 hingga tahun 1987 sebanyak 30 buah buku. Tidak termasuk buku The Preaching of Islam.
Dari berbagai penerbitan pustaka tentang Syekh Yusuf, dimulai dari tulisan B.F.Matthes tahun 1885 berjudul ‘Eenige Makassarche en Boegineshe Legenden’, semua telah melukiskan adanya perlawanan gigih yang dilakukan oleh Syekh Yusuf terhadap pemerintahan colonial Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Tapi ide untuk mengokohkan Syekh Yusuf sebagai seorang Pahlawan, baru muncul pada tahun 1956, melalui tulisan Gaffar Ismail di harian ‘Sulawesi bergolak’ dengan judul ‘Syech Jusuf Pahlawan Asia jang Berkaliber Internasional.’
Kemudian ide untuk mengukuhkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tertuang dengan jelas dalam tulisan H.D.Mangemba (alm-pen) yang dimuat dalam Majalah Lontara No.6 Tahun 1981 terbitan Universitas Hasanuddin, di bawah judul ‘’5 Tokoh Sulawesi Selatan Bertarung di Pulau jawa Abad XVII.’’
Ide tersebut kembali bergaung melalui hasil wawancara yang dimuat pada suratkabar Mingguan Gema, Ujungpandang, menyambut Hari Pahlawan, 10 Nopember 1988. Menyusul kemudian dilakukan seminar di Ujungpandang, dan di Jakarta tahun 1994 mengenai Syekh Yusuf yang dianggap layak mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional tahun 1995 dari pemerintah RI kepada Syekh Yusuf, merupakan perwujudan dari berbagai pendapat, usul, dan keinginan masyarakat. (Mahaji Noesa/Majalah Semangat Baru, Makassar, Oktober/Nopember 1995).

Gambar

Sketsa Benteng Somba Opu masa silam/sumber google-darimakassar.com

Nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang pelaut, bukan sekedar syair dalam gubahan pujangga. Catatan sejarah dan bukti-bukti arkeolog cukup jelas meriwayatkan, betapa bangsa kita sejak masa purba telah menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupannya. Bermula sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, ketika terjadi migrasi – perpindahan penduduk secara besar-besaran, dari daratan Hindia Belakang menuju daratan dan kepulauan lain di wilayah Asia Tenggara bagian selatan.

Pergerakan koloni penduduk ras Mongolia tersebut meninggalkan daratan berlayar menyusur sungai mengarungi lautan mencari daerah-daerah baru yang dianggap aman dan subur untuk membangun kehidupan lebih baik. Mereka berlayar dengan menggunakan perahu-perahu sederhana. Termasuk berlayar menyeberangi lautan bebas ke arah pulau-pulau nusantara, Indonesia. Perpindahan penduduk serupa terjadi pada 300 tahun berikutnya. Pendatang baru di kepulauan nusantara ini disebut dengan Deurto Melayu yang mendesak Proto Melayu, penduduk sebelumnya.

Perkembangan selanjutnya, dengan mengandalkan armada laut penduduk yang telah memulai kehidupan baru di kepulauan nusantara, melakukan komunikasi antarpulau. Mengadakan kontak-kontak sosial, budaya, dagang, dan persahabatan antarsuku bangsa hingga ke Pulau Madagaskar di sebelah barat dan pulau Paskah di sebelah timur. Laut menjadi bagian penting dari perkembangan kehidupan dan peradaban mereka.

IMG00666-20121212-1623

Benteng Somba Opu abad XVI lukisan Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Kerajan-kerajaan yang kemudian tumbuh dan membesar di wilayah nusantara, seperti Kerajaan Sriwijaya di Palembang (Sumatera Selatan) pada permulaan abad VII (683) merupakan kerajaan maritim. Mereka memiliki armada laut yang cukup besar, digunakan untuk memperluas pengaruh, menjalin hubungan kerjasama dan perdagangan dengan kerajaanlainnya di India, Cina, dan Persia.

Demikian pula dengan Kerajaan Majapahit pada abad XIV di Jawa Timur yang terkenal dengan Mahapatih Gajah Mada, dapat mempersatukan nusantara didukung kekuatan armada laut yang tangguh.

Kebesaran Kerajaan Gowa di Makassar Sulawesi Selata) saat mencapai puncak kejayaan pada abad XVII dipimpin Raja Gowa XVII  Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana, juga lantaran ditunjang kekuatan dan kebesaran armada laut.

Dengan memiliki armada laut cukup besar, didukung prajurit-prajurit laut yang gagah berani, Kerajaan Gowa termasuk salah satu kerajaan yang paling luas wilayah taklukannya yang pernaha ada di Indonesia. Terdapat sekitar 70 kerjaan besar dan kecil di kawasan timur nusantara menyatakan berlindung di bawah naungan Laklang Sipuwea – payung kebesaran Kerajaan Gowa.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada pertengahan abad XVII meliputi seluruh kepulauan nusantara di bagian timur, dari Sangir-Talaud Sulawesi Utara) – Pegu – Mindanao (Filipina) di bagian utara, Sula – Dobo – Buru – Ambon – Kepulauan Aru (Maluku) di sebelah timur, Marege (Australia) – Timor – Sumba – Flores – Sumbawa – Lombok (Nusa Tenggara) di sebelah selatan, dan Kutai – Berau (Kalimantan Timur) di sebelah barat.

Pusat pemerintahan Kerajaan Gowa, Kota Somba Opu antara tahun 1550 – 1650 telah menjadi salah satu dari 8 kota teramai di Asia Tenggara. Penduduknya, kala itu, sudah mencapai 160.000 jiwa. Pada saat yang samapenduduk kota Paris hanya sekitar 100.000 jiwa. Sedangkan kota pelabuhan terkenal di nusantara seperti Gresik, Surabaya dan Sunda Kelapa (Jakarta) masing-masing hanya berpenduduk sekitar 50.000 jiwa.

Kota pelabuhan Somba Opu, masa itu, tak hanya ramai dengan lalu-lintas pelayaran iternasional. Tapi juga menjadi kota pusatpertemuan dan transaksi perdagangan masyarakat antarnegara – seperti dari Portugis, Denmark, Inggris, Spanyol, Cina, Arab, pahang, Campa, dan Johor. Masing-masing negara menempatkan orang dan membangun perwakilan dagang di kota Somba Opu. Saat itu terdapat sekitar 3.000 orang Portugis yang berdiam di kota Somba Opu.

Dengan kekuatan armada laut yang kuat dan besar, Kerajaan Gowa pada abad XVI – XVII tampil sebagai Kerajaan Maritim tersohor di kawasan timur nusantara. Mampu menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan tak hanya dengan kerajan-kerajaan di nusantara tapi juga dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, India, dan Gujarrat. (Mahaji Noesa/A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong/2002)

IMG00852-20130103-1032

Dinding bagian barat bekas Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Selain bangunan abad XVII Benteng Ujungpandang, masih terdapat banyak sekali bangunan peninggalan lama, bukti Makassar sebagai Kota Tua. Hanya saja sejumlah bangunan tua lainnya menjadi tak menonjol dengan kehadiran bangunan baru berasitektur modern. Bahkan banyak jejak bersejarah justru dibiarkan ikut tergusur.

Gedung lama Balaikota Makassar di Jl. A.Yani, Museum Kota di Jl. Balaikota, Kantor Pengadilan Negeri di Jl. Kartini, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Gubernuran Sulsel dan Gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Jl. Jend Sudirman, merupakan bangunan-bangunan tinggalan masa lalu yang masih menonjol.

Namun begitu, Klenteng Ibu Agung Bahari di Jl. Sulawesi yang dibangun tahun 1737, Gereja Katedral (1898), Masjid Arab (1907), Mesjid Kampung Melayu dan Pasar Butung (1917). Semua juga merupakan bangunan peninggalan masa lalu yang dapat menjadi bukti dinamika kehidupan Kota Makassar dari masa ke masa.

Bahkan melalui sejumlah bangunan keagamaan tinggalan lama tersebut, dapat diketahui jika kehidupan di Kota Makassar pada ratusan abad lampau sudah terbuka untuk semua etnis maupun agama.

Melalui catatan sejarah Kerajaan Gowa dan Tallo pada abad XVI – XVII, diketahui ketika pusat Kota Makassar masih berada di Benteng Somba Opu,  justru hidup damai berdampingan sejumlah suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Mereka yang terdiri dari bangsa Portugis, Denmark, Inggris, Melayu dan Gujarat  justru diperkenankan pihak kerajaan membuat perwakilan-perwakilan dagang seputar benteng.

Sayangnya, bangunan-bangunan tersebut kini hanya ada dalam catatan lembaran sejarah. Lantaran semua telah hancur seiring dibumihanguskannya Benteng Somba Opu oleh pihak kolonial Belanda pada abad XVII.

IMG00849-20130103-1030

Bastion tersisa dari Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Sebenarnya, sebagaimana dicatat sejarah, sesuai dengan Perjanjian Bungaya (Bongaissck Verdrag) pada 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman, dua markas pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang tidak boleh dihancurkan. Akan tetapi akibat munculnya keserakahan kolonial, Benteng Somba Opu yang menjadi hak Kerajaan Gowa kemudian dihancurkan.

Setelah beratus tahun peristiwa penghianatan itu berlalu, lokasi tempat ditandatanganinya Perjanjian Bungaya yang ada di sekitar Bontoa, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar, pun menjadi tidak jelas lagi. Sejumlah pondasi bangunan baru sudah tegak di sekitar lokasi bersejarah tersebut.

‘’Beberapa tahun lalu di tempat itu masih ada tanda yang menyatakan sebagai Tempat Perjanjian Bungaya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ jelas Amir, seorang warga dari sekitar Timbuseng, Barombong, sambil menunjuk ke arah lokasi di belakang bangunan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Solar.

Satu-satunya pertanda jejak, karena sekitar lokasi masih diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Jalan tembus dari arah Kelurahan Barombong menuju SMA Negeri 20 Makassar yang kondisinya, selain sempit juga aspalnya berlubang-lubang lama tak pernah mendapat perbaikan.

Tergusurnya lokasi Perjanjian Bungaya dengan kahadiran sejumlah bangunan baru sekitar Bontoa, amat disayangkan banyak pihak. ‘’Lokasi ini sama pentingnya dengan Benteng Ujungpandang untuk dipelihara sebagai bagian dari bukti jejak sejarah Kerajaan Gowa masa lalu,’’ kata Sudirman, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Kota Makassar.

Seperti dicatat sejarah, Perjanjian Bungaya merupakan perjanjian pertama yang dibuat di Nusantara dengan penyumpahan menggunakan dua kitab suci agama. Perjanjian ini ditandatangani dengan sumpah oleh Sultan Hasanuddin di depan kitab Al Quran (Islam) dan Speelman di depan kitab Injil (Kristen).

Namun kemudian terjadi penghianatan kolonial, dan memiriskan karena lokasi bersejarah Perjanjian Bungaya itupun kini terancam hilang tergusur derap pembangunan kota. (Mahaji Noesa)