Posts Tagged ‘soppeng’

Gambar

Monumen Andi Tjammi/Sumber: google – myspace.com

Bom atom secara beruntun dijatuhkan Amerika Serikat di atas wilayah Jepang. Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945), menyebabkan kedua kota itu rata dengan tanah bersamaan dengan binasanya ratusan ribu jiwa penduduk. Peristiwa ini menyebabkan Jepang menyatakan kalah perang tanpa syarat kepada Sekutu  tanggal 14 Agustus 1945.

Kekalahan Jepang dimanfaatkan pula oleh Indonesia. Soekarno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia 17 gustus 1945 di Jakarta, menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebulan kemudian tentara Sekutu masuk ke Indonesia melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan.

Kehadiran tentara Sekutu di Indonesia diboncengi tentara Belanda, Netherlands Indies Civil Adminstration atau NICA. Mereka mendarat pula di daerah Sulawesi Selatan. Dengan siasat licik NICA bergerak dari kota Makassar dan Parepare ke pedalaman, termasuk daerah Sidenreng Rappang, untuk kembali mencengkramkan kuku penjajahan mereka.

Namun rakyat Sulsel seperti rakyat Indonesia lainnya yang sudah menyatakan kemerdekaannya, memilih mati berkalang tanah dari pada hidup di tangan penjajah. Perlawanan rakyat terhadap tentara NICA bengkit dimana-mana.

Di daerah Sidrap muncul perlawanan rakyat terhadap NICA secara terorganisir dalam suatu lasykar bernama Badan Pemberontak GanggawaE. Dipimpin Andi Tjammi,pemuda kelahiran Rappang 1921, lasykar tersebut kemudian diubah namanya menjadi Barisan Pemberontak Ganggawa disingkat BP Ganggawa.

Lasykar Ganggawa yangumumnya beranggotakan pemuda berhasil menghidupkan semangat perlawanan rakyat, serta memimpinlangsung perlawanan-perlawanan terhadap tentara NICA yang masuk wilayah Sidrap.

Aksi-aksi Lasykar Ganggawa tidak mengenal kompromi terhadap NICA. Gerakannya antara lian, menyerang pos NICA di Bendoro, menyerbu kaki tangan NICA di Pasolereng (Desember 1945), pertempuran Polojiwa (April 1946), pengadangan truk NICA di Lakessi (Mei 1946), pertempuran di AnabannaE (Juli 1946), pertempuran di Carawali (Agustus 1946).

Kemudian melakukan penyerbuan massal ke kota Rappang tempat Detasemen NICA, selama tiga hari tiga malam (10 -12 Agustus 1946). Penyerbuan ini terkenal dengan julukan ‘Serangan Bambu Runcing.’’ Sebab sebagian besar pemuda dan rakyat melakukan penyerangan hanya menggunakan senjata tajam dan bambu runcing menghadapi NICA yang bersenjata modern.

September 1946, Lasykar ganggawa turut dalam pertempuranmelawan NICA di luar kawasan Sidrap, masing-masing di kampung Garessi dan Majokka Suppa, serta penyerangan terhadap serdadu NICA yang berpatroli di Palameang, Alitta.

Nopember 1946, BP ganggawa ikut melakukan pertempuran terhadap tentara NICA di kampung Soreang Parepare. Terlibat pengadangan patroli NICA di kampung Cempa 9 Desember 1946),penyerangan penjara di kota Barru serta pengadangan di Cenrana, Soppeng Riaja terhadap dua Power serdadu NICA (Desember 1946).

Pertempuran yangberlangsung di Carawali, Sidrap, Agustus 1946, penyerangan dimulai oleh serdadu NICA. Mereka mengepung sebuah rumah tempatAndi Tjammi dengan beberapa rekannya melakukan konsentrasi.  Serangan mendadak yang dilakukan NICA dengan kekuatan personil serta persenjataan yangkuat terpaksa dihadapi meski tak seimbang. Dengan taktik tetap melawan, dn mengatur langkah untuk keluar dari kepungan saat itu, paha Andi Tjammi tertembus peluru NICA. Dalam keadaan terluka ia masih tetap berusaha menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke dalam sebuah tebat. Namun NICA terus menyerang.

‘’Mana Hamidong,’’ tanya serdadu NICA ketika mendapatkan Andi Tjammi di tebat.

‘’Ke sana sudah jauh,’’ jawab Andi Tjammi menunjuk rekan-rekannya yang berhasil menyelamatkan diri. Dalam keadaan kritis tersebut, tiba pula di tempat itu paman Andi Tjammi yang telah diperdaya menjadi kaki tangan NICA.

Sambil tertawa kegirangan si paman berkata: ‘’Inilah Hamidong!’’ Hamidong nama lain dari Andi Tjammi.

Popor senapan kemudian susl menyusul menghunjam ke bagian dahi Andi Tjammi yang tak berdaya. Saat itu senja tampak di barat, gugur pula Andi Tjammi, komandan Lasykar BP Ganggawa di sudut sawah tanah tumpah darahnya sendiri.

Selain Andi Tjammi, dalam peristiwa Carawali gugur anggota Ganggawa, A makkulau, A Haseng, M Jafar, Baso Mustika, dan seorang peronda kampung. Namun NICA hanya memboyong mayat Andi Tjammi dan A Makkulau ke tangsi NICA di Rappang.

Esoknya, 29 Agustus 1946, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, mayat Andi Tjammi dan A Makkulau diseret ke sudut pasar Rappang. Dipertontonkan secara sadis kepada massa rakyat yang sedang berduyung-duyung ke lapangan Rappang untuk bersembahyang Idul Fitri.

‘’He kalian semua, lihat kowe punya pimpinan sudah mampus!’’ Teriak tentra NICA kepada massa rakyat sambil menunjuk kedua sosok mayat tersebut.

Maksud NICA dengan tindakan tersebut tida lain untuk melemahkan batin rakyat agar tidak turut memberikan dukungan atau bantuan terhadap gerakan-gerakan BP Ganggawa.

Namun ibarat pepatah ‘’Patah Tumbuh Hilang Berganti’’ Andi Tjammi gugur tapi perlawanan BP Ganggawa terhadap NICA terus berlanjut dan makin seru. Kepemimpinan Lasykar Ganggawa digantikan oleh Andi Nohong, kakak kandung Andi Tjammi yang berwatak keras.

Kekuatan serdadu NICA dengan senapan-senapan otomatis menyebabkan pihak rakyat dan anggota Ganggawa banyak yang gugur. Namun pada akhirnya NICA harus meninggalkan daerah ini, mengakui adany perlawanan rakyat mempertahankan Kemerdekaan RI.

RESOPA TEMMANGINGNGI

Tujuan kemerdekaan Bangsa Indonesia tiada lain seperti yang dimaksudkan dalam Pembukaan Undang-undang dasar 1945. Agar bangsa Indonesia dapat berkehidupan kebangsaan yangbebas dengan suatu pemerintahan sendiri yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila.

Perjalan 20 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, masih diperhadapkan dengan berbagai hambatan, gangguan, dan tantangan, Namun demikianpemerintah Indonesia telah melaksanakan suatu sistem pemerintahan sendiri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Setelah Kemrdekaan RI, tahun 1950, bekas daerah kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang masing-masing dibentuk menjadi Swapraja yang mempunyai Dewan Pemerintahan tersendiri, danmasihmemiliki wewenang sebagaimana ditetapkan dlam Zelfbestuursregelen 1938, Stablad tahun 1938 No.529. Swapraja tersebut sebagai wilayah kabupaten Parepare yang dibentuk berdasarkan UU N0.22 Tahun 1948.

Dewan Pemerintahan Swapraja Sidenreng diketuai A Mappawekke, anggota H A Nuruddin, H A Maddangkang, Umar Zain, H A Unru, meliputi 15 distrik. Sedangkan Swapraja Rappang terdiri atas 4 distrik dengan ketua A Pallawagau, anggota H A Tjintjing dan M Saleh R.

Kemudian dengan lahirnya Undang-undng No.29 tahun 1959 yang mengatur tentang pembentukan daerah-daerah otonom di Sulawesi, Swapraja Sidenreng dan Swapraja Rappang dilebur menjadi satu daerah otonom Tingkat II atau kabupaten, bernama Sidenreng Rappang, yang berhak mengurus dan mengatur rumah tangga daerahnya sendiri.

Realisasi pembentukan kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), dilaksanakan dengan pelantikan Bupati Andi Sapada Mappangile tanggal 18 Pebruari 1960, sebagai pelaksanaan SK Mendagri tanggal 28 januari 1960 No.UP.7/2/37-379. Hari pelantikan bupati pertama kabupaten Sidrap tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Kelahiran Kabupaten Sidrap.

Dengan latar belakang kehidupan masa kerajaan maupun pergolakan yang timbul sebelum dan sesudah kemerdekaan di Sidrap, memberi bentuk tersendiri bagi rakyat di daerah iniuntuk maju dan membangun dirinya. Tak heran jika motto leluhur ‘Resopa Temmangingngi Naiyya Naletei Pammase Dewata’ (Bhs. Bugis, berarti: Hanya dengan kerja keras untuk memperoleh rakhmat Tuhan), kini dijadikan pendorong dalam kehidupan masyarakat Sidrap. (Mahaji Noesa, Majalah Warta Sulsel No.24, 1 – 15 Pebruari 1991 Hal. 64 – 67)  

Gambar

Kelelawar beterbangan di atas kota Watansoppeng/Foto:google-uniqpost.com

Ketika kini banyak orang tertarik dan berupaya mencari penampakan-penampakan dari dunia misteri, sejumlah warga di kota Watansoppeng menunjuk kawanan kelelawar yang bergelantungan di sejumlah pohon yang ada di ibukota kabupaten Soppeng tersebut sebagai penampakan dari suatu dunia misteri.

Menurut cerita-cerita warga, kawanan burung kelelawar yang sejak masa kerajaan memilih pohon-pohon yang tumbuh sekitar kota Watansoppeng sebagai tempat beristerahat pada siang hari bukanlah sembarang kelelawar. Burung-burung malam ini diyakini sebagai salah satu dari pasukan pengawal kerajaan yang berwujud kelelawar.

Argumen cerita rakyat itu, disebutkan, bahwa sepanjang masa kerajaan di Soppeng daerah yang menjadi pusat kekuasaan Datu (raja) Soppeng dengan radius 1 kilometer persegi yang kini sudah menjadi bagian dari kota Watansoppeng senantiasa aman dari gangguan atau serangan-serangan musuh.

Al-kisah, kelelawar ini serta merta akan berubah ujud menjadi pasukan pengawal kerajaan melakukan pertahanan sekaligus perlawanan terhadap setiap adanya gerakan pasukan lain yang akan masuk mengacau di wilayah kerajaan Soppeng.

Terpeliharanya keamanan di wilayah kerajaan Soppeng oada masa lalu itulah juga disebutkan sehingga pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905 memerintahkan untuk membuat sebuah bangunan bergaya paduan Eropa dengan arsitektur Bugis di kota Watangsoppeng untuk kantor sekaligus tempat kediaman kontreliur Belanda. Bahkan ada disebut-sebut jika bangunan ini dibuat sebagai salah satu tempat aman untuk peristerahatan Ratu Yuliana (Ratu Belanda). Itulah sebabnya, sebelum bangunan ini dialihfungsikan sebagai museum, warga Soppeng banyak yang menyebut sebagai Villa Yuliana sekalipun Ratu Belanda itu tidak pernah berkunjung ke tempat ini.

Keunikan-keunikan terhadap siklus kehidupan kawanan kelelawar yangmemilih pohon-pohon yang bertumbuh di areal sekitar 1 kilometer persegi di bekas wilayah pusat kekuasaan Datu Soppeng – kondisi sekarang: sebelah utara berbatasan wilayah kelurahan Lapajung (seputar pasar sentral Watansoppeng), sebelah timur denganleurahan Lemba dan kelurahan Lalabata Rilau, sebelah selatan dengan kelurahan Botto, dan sebelah bara dengan kelurahan Bila.

Kelelawar-kelelawar yang hingga saat ini masih memilih yang tumbuh di areal tersebut, pada malam hari beterbangan mencari makn hingga melintas kabupaten lain di provinsi Sulawesi Selatan, tapi pagi hari mereka sudah kembali ke pohon-pohon yang kini tumbuh di wilayah bagian pusat kota Watansoppeng.

Gambar

Ribuan kelelawar bergelantungan di pohon-pohon tengah kota Watansoppeng/Foto: google – irres.blogspot.com

Tidak kembalinya kelelawar ini ke phpn-pohon tersebut oada siang hari, sampai sekarang dijadikan sebagai pertanda akan adanya bahaya atau bencana yang akan melanda warga di kabupaten Soppeng.

Sehari sebelum dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah terhadap anggota DPRD kabupaten Soppeng periode 2001 – 2009 sejumlah pohobn yang biasnya dipadati kelelawar pada siang hari di kota Watansoppeng sepi dari burung yang menggelanntungkan kepala kee bawah saat beristerahat ini. Pertanda apa? Warga kabupaten Soppeng dibuat terkejut mendengar kabar bahwa seorang peserta angikut acara pelantikan dan pengambilan sumpah anggota DPRD kabupaten Soppeng periode 2004 – 2009 mendadak pingsan di gedung DPRD kabupaten Soppeng, dan selanjutnya haritiu juga menghembuskan nafas terakhir.

Beberapkali warga kota Watansoppeng berupaya memindahkan kelelawar-kelelawar tersebut ke pohon-pohon yang tumbuh di luar areal bekas wilayah pusat kekuasaan Datu Soppeng, selalu gagal. Dan , kelelawar-kelelawar itu sampai sekarang hanya mau menempati pohon-pohon yang tumbuh di lokasi bekas pusat kekuasaan Datu Soppeng yangdi dalamnya terdapat Batu LamumpatuE – batu tempat pelantikan Datu Soppeng di depan istana Raja Soppeng.

Di balik cerita misteri dan cicit-cicit bunyi kelelawar yang menghiasai pohon-pohon di kota Watansoppeng pada siang hari ternyata juga ada mitos yang menyebut, bagi siapa saja yang terkencingi kelelawar dari pohon-pohon tersebut pertand akan memperoleh keberuntungan yangtak terduga. Sedangkan bagi mereka yang tubuhnya ditimpa ‘tahi’ kelelawar merupakan alamat akan bertemu jodoh dengan pria atau wanita asal kabupaten Soppeng.

Mau percaya atau tidak, ini memang masih merupakan cerita penuh misteri dari penampakan unik kehidupan satwa berkulit legam kelelawar di kota Watansoppeng. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar Edisi No.280 Thn VI/Minggu II, September 2004)     

  

 

Gambar

Bendi/Ft:google-manado.antaranews.com

‘’Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota

Naik delmanistimewa kududuk di muka

Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja

Mengendalikan kuda supaya baik jalannya

Tak tik tak tik tuk bunyi sepatu kuda…….’’

Indahnya lagu anak-anak ‘Naik Delman ke Kota’ tersebut kini sudah jarang terdengar, tak hanya di kawasan perkotaan tapi juga sampai di wilaytah pedesaan.

Memudarnya salah satu nyanyian milik anak-anak tempo doeloe yang bangga dengan angkutan tradisional delaman alias sado alias andong alias bendi – sebutan populer bagi masyarakat Provinsi Sulsel, seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan jaman. Bendi kini sudah menjadi semacam barang langka yang hidup dalam cerita lama tentang kampung halaman.

Gambar

bendi, angkutan tradisional yang mulai tergusur/Ft: google-peacejournalism.blogspot.com

Sebenarnya hingga tahun 90-an angkutan tradisonal bendi masih dijadikan sebagai angkutan pedesaan di beberapa kabupaten di wilayah Provinsi Sulsel. Sampai masa itu setiap hari masih didengar derap irama kaki kuda penarik bendi yang bergerak di wilayah pedesaan membawa hasil bumi rakyat menuju lokasi pasar-pasar induk yang ada di pusat-pusat kota – ibukota kecamatan dan ibukota kabupaten. Pasar di ibukota kabupaten Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Maros, Pangkep, Barru, dan Majene merupakan pasar-pasar yang pernah diramaikan kendaran-kendaraan angkutan milik masyarakata pedesaan.

Ketika jaringan jalan-jalan yang menghubungkan desa-desa dengan pusat-pusat kota mulai terbuka luas bahkan sudah beraspal, seiring dengan itu angkutan penumpang dan barang jenis mikrolet pun keluar masuk wilayah pedesaan, bendi mulai kurang dilirik warga. Bahkan di sejumlah ibukota kabupaten diterapkan aturan ‘dilarang masuk terhadap bendi-bendi yang tidak dilengkapi alat penampung ‘kotoran’ kuda penariknya.

Ketika kendaraan bermotor roda dua kini diperkenankan untuk beroperasi sebagai angkutan penumpang umum dengan sebutan ‘ojek’, para sais atau kusir (pengemudi bendi) yang masih tersisa di antara deru ojek yang bebas menyeruak ke semua jalur jalan harus pasrah menerima kemajuan peradaban.

‘’Saya masih bisa dapat uang Rp 10.000 sampai Rp 15.000 setiap hari pasar. Tidak hanya mengangkut muatan barang dan orang dari desa, tapi masih bewberapa orang ibu-ibu, bapak-bapak maupun anak muda laki-laki dan perempuan di kota yang selalu menumpang bendi saya,’’ kata Wa’ Nure’ seorang kusir yang sejak tahun 90-an hingga sekarang masih mengoperasikan angkutan bendai jalur Tajuncu – Pasar Sentra Kota Watangsoppeng, ibukota kabupaten Soppeng.

Tak tik tuk bunyi sepatu kuda bendi melintas di jalan aspal, salah satunya yang tersisa – memang, masih bisa kita mendengar dengan nyaring di jalan poros Tajuncu – Kota Watangsoppeng pada subuh hari-hari puncak pasar Kota watangsoppeng yakni hari Kamis dan Minggu.

Tak tik tuk bunyi sepatu kuda pun kian sayup tak sampai lantaran paling sedikit 1 di antara 10 warga di pedesaan kini sudah memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) kendaraan bermotor. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.284 Thn VI/Minggu II, Oktober 2004 Hal.10)  

Gambar

Nisan Hulu Keris di komplek Makam Jera Lompoe, Soppeng, Sulawesi Selatan/Foto:google-mugniarm.blogspot.com

Selain kuburan-kuburan batu yang menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki banyak makam atau kuburan tua yang unik dari segi bentuk maupun penampilannya.

Di Tosora Kabupaten Wajo, misalnya, terdapat sejumlah kuburan yang nisannya menggunakan meriam (jagur) yang dipasang terbalik. Sejumlah makam tua di Binamu Kabupaten Jeneponto ditandai bukan memakai nama asli tapi menggunakan nama gelaran orang yang dimakamkan di kuburan tersebut.

Dalam komplek makam kuno Jera Lompoe di Kabupaten Soppeng, ada sebuah makam yang nisannya dibuat berbentuk hulu Badik (keris). Dan inilah satu-satunya makam di Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan bentuk hulu Badik, senjata tradisional khas leluhur suku Bugis-Makassar.

Hingga saat ini, masih banyak yang belum mengetahui jika komplek makam tua yang berlokasi di Kelurahan Bila, sekitar 2 km dari Kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng tersebut merupakan salah satu makam kuno kalangan raja-raja dan keturunannya tempo dulu.

Bahkan komplek makam Jera Lompoe seluas 85 x 75 meter itu, sejak 6 Nopember 1981 diresmikan sebagai salah satu Taman Purbakala di Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, komplek makam ini hanya terlihat ramai dikunjungi peziarah menjelang bulan puasa (ramadhan), hari raya Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun. Di luar hari-hari tersebut, komplek makam kuno tersebut tampak lengang dari peziarah.

Syekh Abdul Manan

Nisan Hulu Keris di makam Syekh Abdul Manan di Kel.Banggae, Majene, Sulawesi Barat/Foto:google-arkeologi-makassar.com

Kehadiran makam Jera Lompoe di Soppeng diperkirakan mulai abad ke-17, setelah ajaran Islam menyebar ke wilayah Soppeng. Hal itu dapat dilihat dari posisi makam yang keseluruhannya mencirikan cara pemakaman jenazah orang beragama Islam yaitu membujur arah utara – selatan.

Dugaan itu pun diperkuat dengan salah satu makam yang nisannya bertulisan arab : ”Allah Lailaha Illallah Muhammadarrasulullah.” Meskipun, makam ini sampai sekarang belum bernama, belum diketahui siapa sesungguhnya yang dimakamkan di situ. Inilah salah satu dari dua makam di komplek makam tua Jera Lompoe yang nisan di bagian kakinya terbuat dari batu berbentuk hulu Badik (keris) polos tanpa ukiran.

Sedangkan makam satunya, yaitu kuburan Panglima Perang Kerajaan Soppeng, Watanglipu La Mataesso, nisan di arah kaki dengan ukuran agak besar berbentuk hulu badik (keris) berukir indah. Demikian dengan nisan di bagian arah kepala menyerupai gada juga berukiran mozaik yang menawan.

Makam Datu Soppeng ke-16, La Tenribali merupakan yang terbesar di komplek makam Jera Lompoe. Bersisian dengan makam istrinya Tenri Kawareng. Di samping makam Raja Soppeng ke-28, Datu La Mappapoleonro, terdapat makam istrinya Tenriawaru yang juga adalah Pajung (Raja) Luwu ke-23. Pajung Luwu ke-23 ini dilantik menjadi Raja Soppeng ke-29 menggantikan kedudukan suaminya ketika meninggal dunia.

Dalam komplek pekuburan tua ini juga terdapat makam Adatuan Sidenreng (raja dari wilayah Sidenreng-Rappang) berdampingan makam istrinya, Tenriallu Arung Mapalu.

Melihat sejumlah makam raja dan keluarganya yang berasal dari wilayah di luar Soppeng yang juga terdapat di komplek makam tua Jera Lompoe tersebut, para pengamat sejarah dan kepurbakalaan sejak lama menunjuknya sebagai fakta otentik bahwa orang-orang di Sulsel sejak masa lampau telah berupaya menghidupkan benih persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi modal utama terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga dengan nisan berbentuk hulu keris di komplek makam Jera Lompoe yang merupakan satu-satunya dapat dilihat di wilayah Provinsi Sulsel. Dari bentuk nisan itu dapat ditelusuri untuk dijadikan bukti kuat kemungkinan telah terjadinya komunikasi pemerintahan dan kebudayaan yang erat antara raja-raja di wilayah Bugis-Makassar (Sulawesi Selatan) dengan raja-raja di wilayah Mandar (Sulawesi Barat) sejak masa silam.

Pasalnya, bentuk nisan berhulu Badik (keris) yang terdapat di komplek makam Jera Lompoe Kabupaten Soppeng (Sulsel) juga bentuk nisan yang sama dapat dilihat di sejumlah makam tua, seperti di komplek makam Mara’dia Pamboang, makam Kaaba, makam Kubang, makam Puang Rambang, makam Nenek Ular, dan makam Nenek Roso yang ada di wilayah Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 19 Januari 2011)

Gambar

Lembah Sungai WalanaE di Soppeng (Foto: Riset Google-panoramio.com)

Kehidupan peradaban manusia diperkirakan sudah berlangsung sejak sekitar 10.000 tahun lalu di wilayah Sulawesi Selatan. Tanda-tanda kehidupan purba tersebut, antara lain, dapat dilihat dari catatan temuan dari serangkaian penelitian sejarah dan purbakala yang pernah dilakuka oleh sejumlah peneliti di Kabupaten Soppeng.

Melalui penelitian yang pertama kali dilakukan oleh Hendrik Robert Van heekeren (H.R. Van Heekeren) tahun 1947 di Cabenge, Soppeng, ditemukan sejumlah peninggalan manusia purba berupa artefak, alat-alat batu polelitik dan neolitik. Alat-alat tersebut diidentifikasi para ilmuwan peneliti sebagai alat yang digunakan dalam kehidupan masyarakat tertua di zaman prasejarah.

Prof Dr.Mattulada mengutip Drs.Moh.Ali (1978: 144-145) menyebut tahun….sampai 132 Masehi sebagai tahun prasejarah, meliputi paleo lithicum,meso lithicum, neo lithicum sebagai masa persemaian benih kebudayaan di Indonesia.

Temuan H.R. Van Heekeren, mantan pegawai pertambangan batu bara asal Belanda yang pernah jadi tawanan Jepang di Thailand pada masa perang dunia kedua tersebut, diperkuat dengan penelitian yang dilakukan ilmuwan Indonesia Dr.H.P.Soejono (ahli prasejarah) tahun 1970.

Menyusul penelitiannya yang dilakukan pada tahun 1977 – 1978, melibatkan Dr.T.Yacob (ahli Paleo Antropologi Ragawi) dan Dr.G.J.Bastra di sepanjang lembah Walanae berkaitan dengan hasil temuan H.R.Van Heekeren.

Tahun 1976, Budisantosa Azis dkk dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional juga melakukan penelitian ikhwal yang sama di lembah Walanae yang dipusatkan di situs Paroto, Soppeng. Hasil penelitian menemukan bengkel-bengkel pembuatan alat berburu, alat untuk mengumpulkan dan pembuatan makanan pada masa prasejarah yang persebarannya meliputi wilayah yang cukup luas di Soppeng.

Gambar

Peta Kabupaten Soppeng (Sumber: riset Google-infosulsel)

Selain menemukan alat-alat budaya paleolitik (zaman batu tua) sekitar 150 buah, berupa tatal batu, panatak (chopper), penceruk, dan bahan baku berupa bengkel-bengkel batu. Para peneliti berikutnya, juga mempertegas hasil temuan H.R.Van Heekeren atas sejumlah fosil binatang purba (vertebrata) di wilayah Soppeng. Seperti fosil gajah (stegodon danArchdiskodon celebencis), babi rusa (Celebenchorus heekereni), kura-kura raksasa (tertudo margae) dan lain-lain yang sangat penting bagi ilmu geologi dan paleontologi.

Sekitar 300 potong fosil vertebrata yang ditemukan dari beberapa situs di lembah Walanae. Paling menarik, temuan gading gajah dengan panjang 115 cm dan fragmen gigi M2 dari genus Stegodon phalus Sp oleh Dr.G.J Bastra pada tahun 1994 di situs Tonjonge, desa Baringeng, Soppeng.

Jejak adanya kehidupan manusia pada zaman purba (Zaman prasejarah, ….-132 Masehi) di wilayah Soppeng, diperkuat dengan temuan sejumlah peninggalan sejarah dan purbakala oleh David Bulback dan IanCaldweel pada tahun 1986.

Kedua mahasiswa jurusan sejarah dan Arkeologi dari Australian National University tersebut, melakukan penelitian pada 12 situs di bekas pusat kerajaan Soppeng untuk kelengkapan bahan penyusunan desertasi PhD-nya. Ia Caldweel menulis tentang sejarah kuno kerajaan di Sulawesi Selatan dan David Bulback mengenai arkeologi prakolonial di daerah Gowa dan Makassar. Untuk itu, keduanya memilih wilayah Soppeng sebagai salah satu obyek penelitiannya.

Dalam laporan akhir penelitian mereka (1989), disebutkan adanya temuan sejumlah bangunan dan situs bercorak magalitik, seperti Menhir (untuk keperluan pemujaan), Dakon (batu monolit), Lesung Batu (untuk kepeluan menumbuk dan membuat bahan makanan), Batu Dulang (untuk menyimpan air), dan Dolmen (meja batu sebagai altar pemujaan) yang banyak tersebar di wilayah Soppeng. Benda-benda tersebut memberikan indikasi kuat tentang kehidupan manusia dan kegiatannya di wilayah Soppeng sejak sekitar 3.000 tahun lalu.

Bahkan kedua peneliti ini menunjuk temuan gua Codong di Citta, kecamatan Liliriaja yang didalamnya didapatkan flake (batu serpih), blade (alah belah), mata panah, tulang-tulang dan gigi manusia sebagai bukti kuat bahwa gua tersebut sebagai gua prasejarah.

Gua-gua prasejarah seperti gua Codong diidentifikasi sebagai tempat hunian penduduk asli Sulawesi Selatan antara 3.000 sampai 10.000 tahun silam, yaitu sebelum datangnya penduduk migran – penduduk yang melakukan perpindahan pertama secara besar-besaran dari daratan Hindia Belakang ke wilayah Nusantara (Indonesia0 sekitar 3.000 tahun lalu.

Bertolak dari sejumlah hasil penelitian serta temuan peninggalan sejarah dan purbakala tersebut Prof Dr. Darmawan Mas’ud (alm) ketika masihg menjabat sebagai Kepala Kantor Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulselra menyatakan, bahwa kehidupan manusia di Sulawesi Selatan lebih tua dari kehidupan manusia di Benua Amerika. Sedangkan Dr.G.J Bastra dalam kesempatan memberikan ceramah ilmiah di Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulselra di Makassar (1994), secara khusus menunjuk kehidupan manusia poleolitik (zaman batu tua) di Soppeng, termasuk yang kemudian menurunkan generasi sejumlah suku di wilayah lainnya di Sulawesi selatan.

Artinya, Soppeng berdasarkan hasil penelitian ilmiah dan temuan bukti arkeologi tidak diragukan juga merupakan salah satu wilayah asal leluhur manusia Sulawesi Selatan. (Mahaji Noesa/Buku: A.Abd.Muis La Tenridolong Sang Patriot Tanpa Pusara/2006)

Gambar

Muara Sungai Jeneberang/Foto: Mahaji Noesa

Tak hanya banjir debris longsoran Gunung Bawakaraeng yang harus diwaspadai, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan setiap musim hujan menjadi wilayah rawan bencana tanah longsor, banjir, dan puting beliung. Selain memakan korban jiwa, setiap tahun petaka musim basah ini merugikan rakyat hingga ratusan miliar. Kali ini,  diperkirakan intensitas curah hujan di Sulsel akan turun melampaui batas normal.

Musim hujan sudah terjadi mulai Nopember 2012 pada sejumlah daerah di Indonesia. Biasanya, akan berlangsung selama 4 – 5 bulan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan peringatan dini dengan menetapkan 9 titik di Indonesia dianggap paling rawan bencana dalam musim hujan tahun ini. Di antaranya, tanah longsor di sekitar Gunung Bawakareang, Gowa, Sulawesi Selatan.

Kenapa longsor Gunung Bawakaraeng perlu diwaspadai? Pascabencana longsor gunung yang berketinggian lebih dari 2.000 dpl tahun 2004, menyebabkan endapan material tanah, pasir dan batu-batuan berukuran besar sekitar 300 juta kubik menumpuk di alur Sungai Jeneberang.

Sungai yang berhulu di kaki Gunung Bawakaraeng tersebut mengalir lebih 100 km, melintasi kota Sungguminasa, ibukota kabupaten Gowa, dan bermuara di Kota Makassar. Suatu tim mitigasi bencana dari Bandung pernah menyatakan bahwa sumber mata air utama Sungai Jeneberang tertutup setelah bencana longsoran Bawakaraeng 2004.

Itulah sebabnya debit air sungai yang menjadi sumber air Waduk Bilibili, sekitar 30 km dari Kota Makassar, di musim kemarau menurun drastis. Air yang kini mengalir di bagian hulu alur Sungai Jeneberang berasal dari sungai-sungai ikutan sekitarnya. Justru jika terjadi curah hujan yang tinggi, material longsoran yang menumpuk di bagian hulu alur Sungai Jeneberang dikhawatirkan dapat bergerak, menimbulkan banjir lumpur bercampur batu-batuan alias banjir debris.

Bayangkan, apabila sekitar 300-an juta kubik material seketika dapat menjadi banjir debris. Selain akan melabrak Waduk Bilibili, dapat meluluh-lantakkan pemukiman penduduk yang ada di Kota Sungguminasa dan Kota Makassar. Semoga tak pernah terjadi.

Suatu langkah cemerlang, karena pihak BNPB dengan cepat telah mengingatkan longsoran Gunung Bawakaraeng sebagai salah satu titik rawan bencana musim hujan tahun 2012. Apalagi pascalongsor 2004, penanggulangan terhadap tumpukan material di alur Sungai Bawakareang hanya diatasi dengan pembuatan sejumlah sabo dam — tanggul penahan material, serta sand pocket –  kantong penampung pasir yang dimaksudkan mengurangi volume  material memasuki Waduk Bilibili.

Sejak bencana 2004 sampai sekarang, pihak pengelola DAS Pompengan- Jeneberang mengakui baru dapat mengatasi sekitar 4 juta kubik dari sekitar 300 juta kubik tumpukan material longsoran di alur Sungai Jeneberang. Jumlah itupun sudah terhitung material yang setiap hari diangkut ratusan truk untuk bahan timbunan ke berbagai lokasi di kota Makassar maupun kota Sungguminasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, memperkirakan puncak hujan di Sulsel akan terjadi antara Desember 2012 hingga Januari 2013 dengan curah dapat mencapai 600 mm per bulan. Suatu prakiraan tertinggi bakal terjadi melewati batas curah hujan normal antara 200 hingga 300 mm per bulan. Semoga saja tak menggoyangkan ratusan juta kubik material di hulu alur Sungai Jeneberang.

Longsor, banjir dan angin puting beliung merupakan tiga petaka musim hujan yang selalu berulang setiap tahun di Sulsel. Selain faktor geografis, tidak sedikit bencana tersebut juga akibat ulah manusia merusak lingkungan.

Beberapa kabupaten dataran tinggi di Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjaga-jaga, mengantisipasi bencana longsor dengan meningginya curah hujan. Paling tidak, untuk mengelimir terjadinya korban jiwa maupun harta benda. Peringatan dini ancaman bencana longsor perlu disampaikan kepada warga di kabupaten pegunungan seperti Enrekang, Sinjai, Gowa, Toraja, Toraja Utara, dan Bantaeng yang umumnya masih banyak membangun pemukiman di lokasi berbukit hingga lereng-lerengnya.

Bencana tanah longsor saat musim hujan, perlu diwaspadai para pelintas di poros jalanan di tepi tebing maupun kaki-kaki bukit. Seperti poros Buludua menghubungkan kabupaten Barru – Soppeng, poros Maiwa (kabupaten Enrekang) – Makale (kabupaten Tanan Toraja), Makale – Rantepao (kabupaten Toraja Utara) – Kota Palopo, poros Malino (kabupaten Gowa) – Manipi (kabupaten Sinjai), dan poros Luwu Utara ke perbatasan Provinsi Sulsel dan Sulteng.

Daerah rawan banjir karena dilintasi sungai-sungai besar di Sulawesi Selatan, seperti jalanan sepanjang kl 60 km menyusur pesisir Sungai Walanae dari kabupaten Wajo ke Kabupaten Bone. Kota Palopo, kabupaten Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Enrekang, Soppeng, Sidrap, Maros, Bantaeng, Bulukumba, Pinrang, Pangkep, dan Barru.

Tahun kemarin, banjir yang melanda Kabupaten Wajo dan Bone saja menimbulkan kerugian materil sampai Rp 95 miliar. Belum terhitung nilai kerugian yang ditimbulkan banjir lokal di berbagai kabupaten lainnya di Sulsel. Banjir menggenangi 4 kecamatan di Luwu, Mei 2012, menimbulkan kerusakan fasilitas umun dan harta benda milik rakyat sampai senilai Rp 10 miliar.

Sedangkan bencana angin puting beliung tahun 2011 di 9 kabupaten di Sulawesi Selatan merusak 1.148 bangunan rumah warga dan fasilitas umum. Puting beliung yang juga dinamai Laso Anging di Sulsel berkecepatan di atas 60 km per jam pun perlu diwaspadai seiring dengan datangnya musim hujan terutama bagi warga bermukim di pesisir pantai serta tempat ketinggian. Sebanyak 19 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel wilayahnya berbatasan dengan laut.

Petaka musim hujan di Sulawesi Selatan selalu saja berulang, lantaran masih sering dikategori murni bencana alam. Pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten masih lebih fokus mencari dana bagi warga setelah jadi korban bencana. Tahun 2012 Sulsel memperoleh Rp 70 miliar dana penanggulangan bencana dari pemerintah pusat. Belum tampak langkah signifikan mengelimir penyebab bencana. Hutan Sulsel yang luasnya 2,7 juta hektar (2007) sebagai penyanggah timbulnya banjir sekarang berkurang sisa sekitar 2 juta hektar. Jadi, waspada sajalah, musim hujan kini sudah tiba. (Mahaji Noesa)