Posts Tagged ‘sumatera’

Gambar

Pemukiman suku Bajo di atas laut/Ft:google-kucintaindahnyalamku.blogspot.com

Manusia diciptakan bukan sebagai makhluk laut seperti ikan yang dilengkapi alat pernafasan berupa insang. Akan tetapi laut dapat menjadi pilihan medium utama kehidupan manusia, seperti sudah dibuktikan oleh Suku Bajo — komunitas warga di Indonesia yang awalnya lebih banyak memilih laut sebagai tempat melakukan aktivitas kehidupan mereka.

Dalam berbagai catatan peneliti diketahui, Orang Bajo telah menempati hampir semua pesisir pantai di Indonesia sejak ratusan tahun silam. Bahkan menurut Prof.DR.Edward L. Poelinggomang, Orang Bajo sejak berabad lalu sudah ditemukan di pesisir pantai pulau-pulau yang ada di Laut Cina Selatan.

Meskipun dalam paparan dosen jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Univesristas Hasanudddin tentang ‘Orang Bajo dan Persebarannya di Nusantara’ dalam Dialog Budaya di Festival Seni Suku Bajo Internasional, Minggu (20 Mei 2011) di GedungMulo Mini Hall Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, juga masih cenderung mengikuti hasil penelitian bahwa asal-usul Orang Bajo berasal dari Johor, Malaysia.

Mereka awalnya disebut-sebut adalah komunitas warga kerajaan mendapat tugas mencari seorang putri raja yang menghilang ke arah lautan. Dengan menggunakan perahu, warga kebanyakan tersebut lalu menyusur laut melakukan pencarian, termasuk ke wilayah perairan di Nusantara. Namun karena tak menemukan Putri Raja yang dimaksud, mereka enggan kembali ke Johor dan memutuskan untuk hidup mengembara menggunakan perahu di pesisir pantai.

Akan tetapi dalam sejumlah penelitian yang dilakukan kemudian terhadap komunitas Suku Bajo yang ada di pesisir pantai Indonesia, diketahui mereka umumnya memiliki bahasa yang sama yaitu Bahasa Bajo yang digunakan sebagai bahasa percakapan dalam keluarga sehari-hari. Bahasa yang digunakan pun saling dipahami antarkomunitas Bajo yang ada di pesisir pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan pesisir Papua.

Bahasa Orang Bajo yang ada di Indonesia tersebut tidak terdapat kemiripan dengan bahasa-bahasa yang ada di Johor, yang disebut-sebut sebagai tempat asal wilayah eksodus mereka. Bahkan, menurut Mannan, Presiden Komunitas Bajo Nasional yang juga adalah Kepala Bappeda Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara saat mengikuti Festival Suku Bajo di Makassar, sejumlah kata yang digunakan oleh Orang Bajo di Indonesia banyak yang memiliki persamaan dengan bahasa Tagalog dari Filipina. Bahkan dari peneliti lainnya juga mendapatkkan sejumlah kata-kata dalam Bahasa Bajo di Indonesia memiliki persamaan kata dalam bahasa Vietnam.

Namun melalui pendekatan semantik (kabahasaan) seperti itu, juga sebenarnya masih sangat lemah untuk dijadikan bahan penguat asal-usul orang laut Indonesia tersebut. Boleh jadi persamaan sejumlah kata-kata Orang Bajo di Indonesia dengan kata-kata dalam bahasa Filipina dan Vietnam hanya bagian dari kata-kata serapan sepanjang ratusan tahun koloni orang laut ini mengembara di perairan Nusantara dan kawasan sekitarnya.

Hal itu dapat diperkuat dengan sejumlah kata-kata lainnya dalam bahasa Orang Bajo Indonesia yang juga mirip dengan kata-kata khas yang digunakan oleh sejumlah suku bangsa di Indonesia. Seperti untuk penyebutan buah Mangga, Orang Bajo menyebutTaipa sama dengan bahasa etnik Makassar di Sulawesi Selatan. Demikian pula dengan penyebutan angka tiga (Bhs Bajo: telu) dan empat (Bhs Bajo: papat), Anjing (Bhs. Bajo: Asu) mirip dengan sebutan etnik di Pulau Jawa. Dan, banyak kata Bahasa Indonesia yang sama persis dengan Bahasa Bajo, seperti Hangat (Bhs.Bajo: Panas), Kiri (Bhs.Bajo: Kidal), Langit (Bhs.Bajo: Langit), Api (Bhs.Bajo: Api), Gigi (Bhs.Bajo: Gigi), Berat (Bhs.Bajo: Berat), Batu (Bhs.Bajo: Batu), Bulan (Bhs.Bajo: Bulan), Tertawa (Bhs. Bajo: Ngakak), dan lain-lain.

‘’….laut nafasku/laut hidupku/laut cintaku/akulah suku bajo/sukma laut/sajadahku laut biru…’’ kata H.Udhin Palisuri ketika bertindak sebagai moderator, membuka Dialog Budaya tersebut dengan ‘Puisi Suku Bajo.

Hampir pasti, bahwa Orang Bajo yang tersebar di Indonesia memiliki bahasa tersendiri yang tidak mirip dengan bahasa etnik manapun di dunia. Jika bahasa juga menjadi ciri suatu etnik, maka cukup kuat alasan jika Suku Bajo disebut sebagai salah satu etnik di Indonesia. Mereka adalah etnit laut yang tak memiliki wilayah teritorial etnik seperti etnik lainnya di Indonesia.

Justru penyelenggaraan Festival Seni Suku Bajo Internasional 2012 di Makassar, seperti diungkap Gubernur Sulawesi Selatan DR.H.Syahrul Yasin Limpo, SH,MSi,MH saat membuka resmi festival tersebut, sebagai gagasan yang brilian dalam rangka menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pengenalan beragam seni dan budaya etnik di Nusantara.

Dia berulangkali memuji H.Ajiep Padindang,SE,MM, salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sebagai pengagas awal Festival Suku Bajo, yang sekaligus sejak beberapa tahun belakangan menjadi pemerhati etnik Bajo khususnya yang menempati salah satu wilayah pesisir di BajoE, Sulawesi Selatan sejak masa silam. Kegiatan Festival Suku Bajo ini merupakan kegiatan yang ketiga kalinya dilaksanakan pihak Pemprov Sulawesi Selatan.

Sayangnya, penyelenggara Festival Seni Suku Bajo Internasional 2012 yang dimasukkan sebagai salah satu kegiatan event Visit Sout Sulawesi 2012 oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan dibuat hanya meriah dalam pemasangan baliho kegiatan. Hal itu terlihat, dalam pelaksanaan sangat kurang pesertanya. Bahkan dalam acara ‘Dialog Budaya’ yang digelar sehubungan dengan Festival Seni Suku Bajo yang diumbar bertaraf internasional tersebut, hanya terlihat diikuti belasan orang peserta, dan justru tidak terdapat wakil masing-masing komunitas Suku Bajo dari berbagai wilayah lain di Indonesia.

Pada hal menurut Prof.Dr.Andi Ima Kusuma Chandra, sejarawan dari Universitas Negeri Makassar (UNM), banyak hal menarik yang bisa dipetik dari perjalanan keberadaan dan perkembangan kehidupan Suku Bajo sebagai etnik laut di Indonesia.

Lebih jauh, tentunya, melalui keberadaan Suku Bajo bisa dipetik pelajaran model nasionalisme etnik di Indonesia yang memiliki cukup banyak suku-bangsa dengan beragam tradisi, adat budayanya.

Betapa tidak, Suku Bajo tidak memiliki wilayah teritorial etnik seperti etnik lainnya di Indonesia. Namun sejak ratusan tahun lalu etnik Bajo ini dapat menjadikan setiap wilayah pesisir di Nusantara sebagai tanah air mereka, dapat menyesuaikan diri dengan adat budaya masyarakat dimana mereka berada. Dan, di seluruh Indonesia mereka dapat diterima untuk hidup berdampingan dengan etnik lainnya, saling kerjasama sebagai warga Negara Indonesia dengan tetap memelihara tradisi, adat dan budaya Suku Bajo.

Dalam perjalanan masa saat ini, masih banyak tempat di pesisir pantai Indonesia dikenali sebagai pemukiman Suku Bajo. Namun, tidak sedikit di antara Suku Bajo yang sudah melakukan asimilasi, berbaur dengan etnik lainnya di Indonesia dan tidak lagi mengembara sebagai orang laut sebagaimana moyangnya dahulu.

Tahun lalu saya bertemu dengan dua orang warga di sekitar Perumnas Andonohu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang begitu fasih berbahasa Bugis. Dalam perbincangan lebih lanjut kemudian diketahui, ternyata mereka adalah Orang Bajo yang orang tuanya sebelumnya menghuni perkampungan Orang Bajo di muara Teluk Kendari, pesisir ke arah Nambo.

Salah seorang di antara warga tersebut adalah wanita, isteri dari seorang beretnik Makassar yang berprofesi sopir sebuah perusahaan di Kota Kendari. Melihat rona kulitnya yang kuning langsat, tanpa ada pengakuan dari yang bersangkutan, tak ada kesan jika dia perempuan berasal dari etnik orang laut yang selama ini diidentikkan suku yang memiliki warna kulit kehitaman.

‘’Orang di lingkungan saya ini semua tahu saya adalah Orang Bajo. Saya pun selalu memperkenalkan diri sebagai asli Orang Bajo. Jika bertemu atau kumpul dengan keluarga saya tetap bercakap menggunakan Bahasa Bajo,’’ katanya.

Sudah tentu, selain tinggal di sejumlah pemukiman Bajo yang tersebar di banyak tempat di Indonesia, banyak warga Suku Bajo lainnya yang sudah berkiprah jauh dari laut, hidup damai di tengah wilayah etnik lainnya di Indonesia.

Fenomena nasionalisme etnik seperti yang terjadi di kalangan Suku Bajo Indonesia, tampaknya mulai terjadi dengan etnik lainnya di Indonesia.

Suatu kali jelang Idul Fitri, saya bertemu satu keluarga turun dari sebuah kapal penumpang di Pelabuhan Makassar. Mereka datang dari Kalimantan Timur. Dari bahasa percakapannya, saya mengetahui jika mereka berasal dari etnik Jawa.

Ketika saya tanya tujuan mereka selanjutnya, di antaranya ada yang mewakili menjawab, ‘’Akan pulang kampung berlebaran!’’ ‘’Kemana?’’ Tanya saya lebih lanjut. ‘’Ke Bonebone,’’ jawabnya.

Bonebone merupakan salah satu wilayah penempatan transmigrasi asal Pulau Jawa dan Bali di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Unit pemukiman transmigrasi ini dibuka sejak awal-awal pemerintahan Presiden Soeharto. Ternyata, mereka adalah anak-anak dari para keluarga transmigrasi yang lahir, sekolah dan dibesarkan di salah satu lokasi pemukiman transmigrasi Bonebone yang kini telah merantau dan membuka usaha di wilayah Kalimantan Timur. Rombongan keluarga asal Jawa Timur dari Kalimantan Timur tersebut, pulang lebaran ke kampung halamannya di Bonebone, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Duh, sejuknya Indonesia dengan model nasionalisme etnik seperti itu. Dapat menjadikan dan menyintai seluruh tempat di Indonesia sebagai tumpah darah, seperti yang sejak masa silam dilakukan Suku Bajo yang mampu berbaur dan keberadaannya diterima oleh seluruh etnik di Indonesia. (Mahaji Noesa, Kompasiana, 22 Mei 2012)

 

Gambar

ilustrasi buaya/Foto:riset google – bushwarrios.org

Seorang anak seketika dapat menjadi batu apabila berbuat dosa terhadap ibu kandungnya. Begitu inti cerita rakyat ‘Malin Kundang Si Anak Durhaka’ dari wilayah Sumatera Barat.

Cerita tersebut sampai tahun 70-an masih terasa begitu kuat menyebarkan pesan moral terhadap anak-anak di Indonesia untuk berbakti kepada kedua orangtua, terutama untuk menghormati dan menyayangi ibu yang melahirkannya.

Ada masa anak-anak Indonesia dadanya gentar bernasib seperti tokoh Malin Kundang Si Anak Durhaka yang dalam ceritanya karam menjadi batu, bersama kapal, isteri, pengikut serta semua harta bawaannya. Kisah tersebut diperkuat dengan adanya lokasi berupa batu yang menyerupai orang bersujud yang disebut sebagai lokasi tempat tenggelamnya Si Malin Kundang di pesisir pantai Sumatera Barat .

Sekarang dunia anak-anak di Indonesia telah berubah. Selain cerita yang berisi pesan-pesan moral sowan terhadap ibu dan bapak kian hari makin terasa langka. Anak-anak kelihatannya sudah tak lagi membuka ruang di kepala bagi kisah yang dikaitkan dengan dongeng atau cerita rakyat yang berlatar alam masa lalu.

‘’Cerita omong-kosong. Masa ada orang Indonesia dulu dapat melompat setinggi lebih 10 meter, sedangkan sekarang tidak bisa pecahkan rekor dunia tak lebih 3 meter di arena olah raga lompat tinggi,’’ komentar salah seorang anak usia SMP di Kota Makassar, suatu ketika usai menyaksikan sebuah film berlatar dunia persilatan masa lalu di Indonesia.

Ruang pikir anak-anak sekarang umumnya menginginkan contoh nyata. Kesakralan menghormati ibu oleh anak-anak sekarang tidak lagi seperti dulu yang hanya untuk bertutur saja suara dijaga agar tidak lebih keras melebihi suara ibu. Sekarang, sudah cukup banyak kejadian mutakhir yang sempat terekam, anak-anak tak hanya berani berlaku tak sopan, tapi dalam banyak peristiwa justru telah tega menyakiti ayah dan ibu kandungnya sendiri secara fisik.

Padahal cerita malapetaka menimpa anak-anak yang berdosa kepada orang tuanya, terutama ibunya bukan hanya ada dalam dongeng atau cerita rakyat seperti kisah Malin Kundang Si Anak Durhaka. Di dalam ajaran-ajaran agama ada tuntunan agar anak-anak selalu menghormati atau berbakti kepada orang tua, terutama memberikan perhatian dan kasih sayang yang tinggi kepada ibu yang melahirkannya jika ingin hidup sukses dan bahagia.

Sebenarnya banyak pengalaman dan kisah nyata lainnya masa kini yang belum terungkapkan, bagaimana malapetaka yang menimpa anak yang berdosa kepada orang tua terutama ibunya. Sebaliknya juga, cukup banyak kehidupan sukses dan membahagiakan didapatkan seorang anak yang selalu menyayangi sekaligus mendapat restu dari ibunya.

Akan tetapi kisah-kisah nyata mutakhir seperti itu tak banyak yang dapat disusun dalam bentuk cerita yang memberikan pesan moral secara dini kepada anak-anak agar dapat selalu berbakti kepada kedua orang tua terutama terhadap ibu kandung yang melahirkannya. Tuhan memberikan begitu banyak kekuatan kepada seorang ibu yang dapat ditularkan langsung untuk kebahagian hidup bagi anak-anak yang dilahirkannya.

Salah satu kisah nyata bagaimana pertolongan Tuhan menyertai restu seorang ibu terhadap anaknya dalam keadaan genting sekalipun, dialami seorang paman saya. Sehari-hari saya memanggilnya dengan Om Rahman. Berperawakan tinggi besar. Dalam usia 20-an tahun dia sudah bergabung sebagai seorang militer. Masih terbilang muda ketika dia bertugas sebagai tentara di Kota Parepare. Kala itu suasana masih kacau dengan gangguan gerombolan DI/TII di seluruh Sulawesi Selatan, termasuk di Kota Parepare.

Makanya, menurut cerita si Om Rahman, yang masuk bergabung sebagai tentara saat itu bukan sembarang orang. Maksudnya, orangnya harus berani, punya nyali yang kuat, dan biasanya yang punya ‘ilmu bawaan’ seperti kebal terhadap benda tajam atau kulitnya dari luar tak dapat disentuh jenis besi logam apapun.

‘’Saya diberi sebuah doa-doa dari ayah sebelum meninggal. Saya sering membacanya ketika ada perang. Pernah ketika mendaratkan helikopter, kata banyak orang saya ditembaki bertubi-tubi oleh gerombolan, tapi semua saya tidak rasa,’’ katanya.

Om Rahman, adalah anak tunggal yang ayahnya sudah meninggal dunia ketika dia masih berusia sekitar 10-an tahun. Dia hidup dan dibesarkan oleh ibunya hingga bergabung menjadi tentara di Kota Parepare.

Sejak peristiwa penembakan ketika membawa pesawat helikopter, dia dikenal oleh kerabat dan masyarakat di lingkungannya sebagai orang kebal peluru. Tapi, dia sendiri berkali-kali menyatakan tidak kebal. Hanya karena sasaran tembak belum mengenainya sehingga peluru tidak menembus dirinya.

Pembawaan sehari-harinya, jika bicara selalu dibesarkan. Selalu tak mau kalah dalam debat. Mungkin karena image orang-orang dia kebal, apa yang dibicarakan sekalipun sebenarnya hanya guyonan selalu dianggap benar. Pembawaan seperti itu diistilahkan ‘Orang Borro’ di wilayah Bugis-Makassar. Lagipula dia mengaku suka gonta-ganti pacar di masa-masa awalnya bertugas sebagai tentara.

Suatu ketika di sebuah gedung bioskop di Kota Parepare, sekelompok orang bercerita berbagai hal mengenai buaya. Ke-Borro-an Om Rahman muncul, katanya, setelah mendengar cerita tersebut.

‘’Soal buaya, nih orangnya. Panggil saja saya kalau ada buaya yang mau ditangkap,’’ katanya dengan suara keras. Orang-orang yang mendengar semua terdiam, yakin jika Om Rahman punya ilmu menangkap buaya, selain memiliki ilmu kebal. Padahal menurut Om Rahman, soal buaya itu, dia hanya bercanda.

Setelah bicara begitu, diapun larut ke perut gedung untuk menonton film sore hari bersama pacarnya. Namun ketika film belum mulai, dari pengeras suara di balkon gedung bioskop ada panggilan untuk Om Rahman untuk menangkap seekor buaya yang lagi mendarat di tepi sebuah sungai di Parepare.

Mendengar panggilan itu, Om Rahman menyatakan, ketika itu kepalanya bagai disambar petir. Dia berkesimpulan inilah hari semua kesombongannya sebagai ‘Orang Borro’ akan segera berakhir. Tapi sebagai seorang lelaki Bugis-Makassar sekalipun sebenarnya seluruh hati, jantung dan parunya (seperti bahan baku coto Makassar saja.. hahaa…) sudah copot, tapi dia tetap melangkah tegar.

Dia kemudian mengecek apakah benar ada buaya atau hanya bohong-bohongan. Ternyata, di tepi sungai memang sudah ratusan orang yang berkumpul menonton buaya berukuran besar tengkurap di tepi sungai. Dalam kegalauan pikiran, Om Rahman menyatakan, meminta diri untuk sesaat kembali ke rumah mempersiapkan diri.

Setiba di rumah Om Rahman langsung menangis meraung menjatuhkan diri di pangkuan ibunya. ‘’Hari ini ajal saya sudah tiba,’’ katanya kepada ibunya yang terkejut melihat tingkah anaknya yang lunglai hari itu.

‘’Ada apa,’’ tanya ibunya.

‘’Saya baru bicara bohong kepada orang dapat menaklukkan buaya, ternyata kemudian ada buaya naik dari sungai dan disuruh menangkapnya,’’ jelas Om Rahman, seperti dikisahkannya kembali.

‘’Kalau tak mau mati, jangan kau pergi menangkapnya,’’ kata ibunya.

‘’Tapi saya malu kalau tidak melakukannya,’’ timpal Om Rahman.

‘’Pilih mana, malu atau mati dimakan buaya,’’ kata ibunya lagi.

Om Rahman tetap meraung. Namun, dalam keadaan sulit mengambil keputusan, ibunya lalu mewanti-wanti. ‘’Jika memang kau mau menangkap buaya itu, pergilah tapi lakukan dengan berhati-hati,’’ ujar ibunya.

Beberapa saat kemudian, dengan berbekal sebuah sangkur bayonet, Om Rahman melangkah ke lokasi buaya yang makin dipadati orang. Sesampainya di tepi sungai, Om Rahman layaknya orang tak punya takut mendekat ke tempat buaya yang sedari tadi berdiam tak bergerak. Detik berikut, secara tak terduga buaya bergerak mengibas.

‘’Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya yang berlangsung begitu cepat, saya sudah terbaring di lumpur tepi sungai, berada dibawa perut buaya. Saya memeluk erat buaya tersebut, lalu tangan kanan saya menikamkan sangkur ke badan buaya tersebut. Beberapa saat saya terus menghunjamkan sangkur ke tubuh buaya itu. Saya mulai sadar ketika terdengar teriakan orang-orang yang menonton dan ada yang mengatakan buayanya sudah mati. Ketika saya coba menggoyang-goyang, ternyata buaya yang menindih dalam pelukan saya itu tak bergerak lagi. Ketika saya mendorong, buaya terlempar. Saya segera berdiri dari genangan lumpur bercampur darah buaya, lalu secepatnya berjalan naik dari tepi sungai. Buaya itu ternyata sudah mati. Saya masih sempat ‘Borro’ mengatakan kepada orang-orang sekitar, bahwa saya masih bisa melawan seratus buaya seperti ini. Orang-orang ramai berteriak-teriak dan bertepuk tangan gembira. Sebuah mobil lalu mengarak saya keliling Kota Parepare, dielu-elukan seperti petinju yang menang dari suatu pertandingan bergengsi. Setiba di rumah saya memeluk dan mencium ibu yang wajahnya tak terlihat diliputi rasa khawatir sedikitpun. Dari situ saya berjanji untuk segera pindah tugas keluar dari Kota Parepare. Saya takut kalau-kalau ada lagi buaya muncul lantas saya dipanggil untuk menangkapnya. Sebulan kemudian saya pindah bertugas ke Kota Makassar dan sampai pensiun tidak pernah lagi kembali tugas ke Parepare. Dari peristiwa ini, membuat saya jadi orang yang tidak Borro lagi, dan memahami adanya kekuatan luar biasa diberikan Tuhan kepada setiap ibu untuk disalurkan bagi keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya dalam meniti kehidupan ini,’’ papar Om Rahman dalam suatu kesempatan bercerita dengan mata tampak berkaca-kaca. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 15/12/2011)

Gambar

Bekas kediaman Mochtar Lufthi di Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Ketika kini jalanan sepanjang sisi kanan-kiri umumnya telah ditumbuhi rumah-rumah hunian beton bertingkat dengan gaya arsitektur mutakhir, rumah peninggalan masa Belanda (verponding) di Jalan Muchtar Lufhti No. 26 Kota Makassar, bentuknya masih tetap tidak berubah.

Rumah tersebut beratap genteng berundak. Pintu jendela berukuran besar dengan teras terbuka sebagai ciri rumah-rumah pejabat militer Belanda tempo dulu di Kota Makassar. Dinding depan bangunan tak terawat, sebagian plasterannya terkelupas memperlihatkan susunan batu bata tua yang melepuh

Di halaman kosong seputaran rumah dalam areal 18 x 40 meter tersebut, tampak tumbuh sejumlah tanaman pisang dengan buah menanti matang. Ada juga pohon nangka, pohon jeruk nipis, dan tanaman pepaya. Di lahan kosong sebelah timur rumah ini tumbuh gulma liar. Sebuah pemandangan minor layaknya rumah pedesaan di tengah pesatnya perkembangan Kota Metropolitan Makassar.

Pintu pagar halaman terbuat dari kayu tambal-sulam, tertutup. Rumah tersebut Selasa siang (07/08/2012) tampak sepi. Tak terlihat ada gerakan orang di dalamnya. ”Mungkin mereka tidur,” sahut Mudding Dg Ngewang (60) yang meleseh di balai-balai salah satu pos keamanan tak jauh dari rumah tersebut.

Lelaki asal Karunrung Jipang di selatan Kota Makassar mengaku, sejak tahun 1979 menumpang membuka usaha tambal ban di halaman kosong depan rumah tersebut. ”Di dalam rumah itu sekarang tinggal dua keluarga. Mereka adalah keponakan dan cucu dari almarhun Sitti Maimunah, orang asal Banjar, Kalimantan, sebagai pemilik rumah,” jelasnya.

Penjelasan Mudding tersebut menimbulkan tanya, lantaran sejak lama di salah satu pilar teras halaman depan rumah terpampang tulisan mencolok, sebagai berikut:

”Di rumah ini H.Mochtar Luthfie Tokoh Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tewas ditembak oleh tentara kolonial Belanda KNIL dalam peristiwa 5 Agustus 1950 di Makassar”

Dari berbagai sumber diketahui, jika Muchtar Luthfie, pemuda kelahiran tahun 1900 di Balingka,  Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah salah satu sosok ulama pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia.

Anak dari ulama H.Abdul Latief Rasyidi di Padang Panjang ini, ketika sekolah agama tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau, tinggal bersama dan dididik langsung oleh H.Rasul – ayahanda Buya Hamka.

Dia dikenal di lingkungannya kala itu sebagai pemuda yang pandai berpidato dan berdiskusi dalam soal-soal keagamaan (Islam). Bahkan dalam perkembangannya, Muchtar Luthfie, yang sebelumnya pernah dipercayakan memimpin Diniyah School Padang Panjang Cabang Sibolga, jadi guru di sekolah khusus sekolah anak-anak bangsawan Hollands Inlandsche Kweekschool dan OSVIA (School tot Opleiding van Inladsche Ambtenaren), berbakat besar menjadi penulis buku.

Bukunya berjudul Hikmatul Muchtar berisikan pikiran yang menentang imperialisme dan kolonialisme kala itu, membuat berang pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Bukunya disita, dan Muchtar Luthfie dicari pihak Belanda untuk mendapatkan hukuman karena dinilai sebagai pengacau situasi.

Gurunya, H.Rasul membantu mengamankan Muchtar Luthfie menyeberangkan ke wilayah pesisir Semenanjung Malaka, sekarang Malaysia. Dari sini, pemuda yang juga penentang keras ajaran komunis tersebut, justru melangkahkan kaki menuju ke Mesir.

Selain untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaannya, di Mesir bersama pemuda-pemuda Indonesia lainnya dia membentuk organisasi serta berbagai kegiatan yang ditujukan untuk melakukan penantangan terhadap kaum penjajah kolonialis Belanda di Indonesia.

Salah satunya, pada tahun 1926, bersama Ilyas Yacoub, mahasiswa Universitas Al-Azhar di Mesir, mendirikan organisasi pemuda bernama Perhimpunan Penjaga Indonesia. Untuk menyebarluaskan gagasan serta ide-ide berkaitan dengan perlawanan penjajah Belanda di Indonesia, atas prakarsanya diterbitkan juga majalah Seruan Al-Azhar dan Pilihan Timur.

Tahun 1931 kembali ke Sumatera, tempat kelahirannya. Dia menjadi Ketua Dewan Propaganda Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) Sumatera Barat yang kegiatannya mencakup pengembangan kader di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik.

Selain mengajar di berbagai sekolah, Muchtar Luthfie juga pernah membentuk sebuah sekolah khusus untuk pemberdayaan perempuan Indonesia bernama Normal School. Kehadiran kembali Muchtar Luthfie ke Indonesia dinilai pemerintah kolonial Belanda aktivitasnya makin membahayakan, sehingga harus ditangkap tahun 1932. Dua tahun kemudian, bersama dua rekannya – H. Jalaluddin Thalib dan H.Ilyas Yacoub diasingkan ke penjara Belanda di Digul, Irian. Lantas ketika tentara Jepang tahun 1942 berhasil mengusir pendudukan Belanda di Indonesia, Muchtar Luthfie diasingkan ke Australia.

Selama di Benua Kanguru tersebut, dia bersama rekan-rekannya digodok oleh Belanda untuk kembali ke Indonesia merebut kekuasaan Belanda yang telah diambil alih oleh tentara Jepang. Atas saran Gubernur Jenderal Belanda, Van Der Plas yang pernah menjadi kepala pemerintahan kolonial di Makassar, Muchtar Luthfie yang memiliki banyak ilmu tentang Agama Islam tersebut dikirim ke Makassar bersama Jalaludddin Thalib dalam kedudukan sebagai anggota konstituante Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda.

Menurut rancangan pihak kolonial, misi yang diemban Muchtar Luthfie adalah mendekati para ulama khususnya di Sulawesi Selatan mencitrakan bahwa pihak Belanda memperhatikan masalah keagamaan dengan akan membangun sebuah mesjid terbesar di Makassar.

Namun, darah patriot dan jiwa nasionalisme yang telah mengalir di tubuh Muchtar Luthfie, membuat batinnya lebih berontak. Mulutnya mengatakan yes terhadap misi Belanda itu, tapi sesuai dengan kata hatinya ketika di Makassar justru ia melangkah lain untuk kepentingan nasional Indonesia. Menggalang kekuatan dengan sejumlah ulama di Makassar untuk membangun sendiri sebuah mesjid dalam kaitan menguatkan kekuatan benih persatuan dan kesatuan untuk terus melawan kehadiran pihak kolonial.

Bersama 28 ulama, pengusaha dan tokoh masyarakat di Kota Makassar, Muchtar Luthfie mengetuai pembangunan Mesjid Jami’ tahun 1949. Anemer atau pemborongnya dari warga keturunan Tionghoa bernama Jie Pak Fong. Mesjid Jami’ yang bekapasitas tampung lebih 1.000 jamaah tersebut, merupakan mesjid terbesar dan termegah pertama di Sulawesi Selatan. Mesjid Jami’ inilah yang telah dipugar megah dan sampai sekarang dikenal dengan nama Mesjid Raya Makassar.

Langkah Muchtar Luthfie tersebut membuat kecewa tentara KNIL Belanda. Sementara di lain pihak simpati warga di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan terhadap Muchtar Luthfie kian besar. Hingga dia kemudian diangkat sebagai Ketua Partai Masyumi Cabang Sulawesi Selatan.

Saat masyarakat sedang ramai-ramainya menentang kehadiran Negara-negara Federal dengan tuntutan segera membubarkan NIT, subuh hari 5 Agustus 1950, ketika Muchtar Luthfie berdiri menguak jendela rumahnya usai shalat subuh, tiba-tiba saja dia diberondong tembakan oleh sejumlah tentara KNIL. Termasuk jidatnya ditembus peluru. Sang isteri menangis meraung memeluknya tapi nyawa Muchtar Luthfie tak dapat terselamatkan. Dia tewas pada subuh hari yang lengang di rumah tempat kediamannya yang kini masih tegak di Jl. Muchtar Luthfi No.26 Kota Makassar.

Namun rumah tersebut sekarang tidak ada lagi hubungan dengan keluarga atau keturunan dari Muchtar Luthfie. Menurut penuturan beberapa generasi yang hidup di tahun 50-an, pada masa Walikota Makassar dijabat oleh H.Arupala (1962 -1965), rumah tersebut telah dijual oleh isteri Muchtar Luthfie sebelum kembali ke kampung halamannya di Aceh. Pembelinya adalah sahabat dari almarhum Muchtar Luthfie yang juga pernah terlibat dalam panitia pembangunan Mesjid Jami’. Pembeli disebut-sebut sebagai H.Banjar, karena berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia (sebelum meninggal) lalu menyerahkan rumah tersebut kepada seorang anak putri bungsunya bernama Sitti Maimuna.

Belakangan ketika Sitti Maimuna meninggal dunia, anak-anaknya yang menempati rumah tersebut. Namun pada tahun 1998 lalu, menurut cerita Mudding, datang seorang anak lelaki almarhum H. Banjar dari Bandung menyatakan juga punya hak terhadap rumah di Jl. Muchtar Luthfie tersebut.

”Dia yang memberikan tulisan di rumah tersebut sebagai tempat ditembaknya Muchtar Luthfie. Saya tidak tahu bagaimana selanjutnya tuntut menuntut hak atas rumah tersebut. Yang jelas rumah itu tidak pernah ada perubahan. Sepengetahuan saya, sejak tahun 1979 tidak pernah ada pihak veteran atau pihak pemerintah yang datang melihat atau memberikan bantuan untuk perbaikan rumah tersebut,” katanya.

Bukan tidak mungkin, jika pihak anak, kemanakan dan cucu almarhum H. Banjar sepakat, mereka dapat menjual rumah bekas kediaman Muchtar Luthfie kepada pihak lain untuk kemudian dirobohkan dan dijadikan bangunan komersial seperti bangunan-bangunan yang kini sudah tumbuh di sekitarnya. Dengan begitu, akan punahlah jejak ulama yang pejuang asal Sumatera Barat yang sebenarnya juga pantas jika diusulkan mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 7 Agustus 2012)