Posts Tagged ‘sungai’

Gambar

Peta kota Kendari dan sekitarnya/Sumber: google-pakai-mobil.blogspot.com

Tergolong sesuatu yang langka di dunia, sebuah kota utuh tumbuh berkembang mengelilingi sebuah teluk  seperti teluk Kendari. Justru teluk Kendari yang kini berkembang multifungsi memerlukan perhatian serius dalam kaitan perkembangan kota Kendari sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ke depan.

Masalahnya, teluk Kendari saat ini bukan lagi merupakan wilayah pinggiran atau hanya berstatus sebagai daerah pelabuhan laut seperti saat masih masuk dalam wilayah administratif kabupaten Kendari.

Teluk Kendari kini telah menjadi wilayah jantung kota Kendari yang mulai berotonomi dengan 3 kecamatan – Kendari, Mandongan dan Poasia, dan sekarang ditambah 3 kecamatan baru yakni kecamatan Baruga (pemekaran kecamatan Mandonga), kecamatan Abeli (pemekaran kecamatan Poasia), dan kecamatan Kendari Barat (pemekaran kecamatan Kendari).

Gambar

Kota kendari dengan latar teluk Kendari/Foto:google-skyscrapercily.com

Dari enam kecamatan yang ada saat ini di kota Kendari, 3 kecamatan berwilayah di pesisir selatan teluk Kendari (kecamatan Poasia,Abeli, dan Baruga). Dua kecamatan di bagian utara pesisir teluk (kecamatan Kendari dan Kendari Barat). Sedangkan kecamatan Mandonga terletak di bagian barat teluk.

Sebagian besar dari wilayah kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan teluk Kendari. Artinya, dengan memperhatikan letak geografis tersebut, kota Kendari sesungguhnya merupakan sebuah kota pantai (Water front city). Sebuah kota yang sepenuhnya menghadap sebuah teluk yang luasnya lebih dari 10 km persegi (ukuran perkiraaan lebih kurang).

Sebagai perairan di jantung kota, pemerintah kota Kendari termasuk Pemprov Sultra seharusnya memberikan perhatian serius untuk dapat tetap menjaga kealamian lingkungan fisik teluk Kendari di tengah kencangnya dinamika pembangunan dan pertumbuhan kota Kendari hari ini, esok, dan yang akan datang.

Konsep Ornop Sultra, Walhi Sultra, Yascita, dan Yari (Opini, Kendari Ekspres, 31 Januari 2003) guna mendorong teluk Kendari menjadi suatu kawasan konservasi kota suatu gagasan cemerlang yang perliu disahuti khususnya oleh pemerintah kota Kendari dalam kaitan pemeliharaan serta mencegah kerusakan lingkungan di teluk Kendari.

Setidaknya konsep tersebut dapat dijadikan acuan guna melakukan pemikiran yang lebih konperehenship, semacam pembuatan atau penetapan sebuah Tata Ruang Pengembangan Kawasan teluk Kendari 25 hingga 30 tahun ke depan.

Dengan adanya Tata Ruang Khusus pengembangan kawasan teluk Kendari, diharapkan kealamian dapat tetap terjaga dan terpelihara di tengah derasnya dinamika perkembangan jaman serta bertambahnya peran dan fungsi teluk.

Lahirnya konsep dari LSM lingkungan Sultra untuk menjadikan teluk Kendari sebagai kawasan konservasi kota, tentu saja, telah ditunjang data kondisi lapangan yang mencemaskan terhadap keberadaan teluk Kendari apabila tidak segera dilakukan suatu penanganan yang serius.

Hilangnya ikan Belanak dan Teri (jenis Lure dan Balombong) yang dulu banyak berkembang biak di perairan teluk Kendari, suatu bukti kecil bahwa sesungguhnya kini telah terjadi kerusakan organisme laut yang bernilai ekonomis di teluk ini.

Catatan DR.Ir. La Ode M Aslan, MSc, Kepala Pusat Penelitian Wilayah Pesisir dan Laut lembaga penelitian Universitas Haluoleo, tentang kerusakan dan hilangnya hutan bakau (mangrove) di pesisir pantai Sultra yang dapat menyebabkan abrasi dan intrusi air laut ke darat, juga terjadi di pesisir teluk Kendari. Kondisinya, disebutkan, dalam kualifikasi sangat memprihatinkan.

Dengan adanya suatu tata ruang dilengkapi pembagian serta penetapan zona-zona pengembangan berdasarkan kondisi dan kessuaian lahan, sangat diharapkan perkembangan kota di pesisir teluk Kendari tetap menyediakan ruang-ruang publik (open space) untuk menikmati keindahan alam teluk Kendari.

Demikian pula adanya perhatian terhadap puluhan sungai yang setiap saat mengalirkan lumpur dan limbah ke teluk Kendari. Termasuk pengaturan drainase kota agar tidak membantu percepatan sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan dan pencemaran perairan teluk Kendari.

Dengan adanya tata ruang kawasan teluk Kendari, diharapkan kehadiran sejumlah pelabuhan, docking kapal, maupun industri perikanan tidak mengganggu biota laut perairan teluk Kendari. Apalagi sampai menimbulkan semacam kasus kerang beracun akibat tercemar Bahan Buangan Beracun (B3) mengandung mercury seperti yang pernah menimpa teluk Jakarta.

Ke depan kita merindukan teluk Kendari tak hanya dipadati kapal-kapal motor angkutan barang dan penumpang serta kapal-kapal penangkap ikan. Tapi juga teluk ini tak gersang dari kehadiran perahu layar untukkepentingan olahraga, pendidikan, hiburan, rekreasi dan pariwisata khusunya dalam perairan teluk Kendari.

Ramai dan eloknya, jika kemudian teluk dapat dikembangkan sebagai lokasi pendidikan dan penyewaan peralatan olahraga, hiburan, rekreasi air seperti diving, yacth, skyjet, boating, dan parasailing. Demikian pula penyediaan bus-bus air sebagai alat angkut penyeberangan dan rekreasi yang murah, cepat, dan lebih aman seperti terdapat di kota-kota pantai Eropa.

Adanya penanganan dan pengembangan teluk yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan, tak hanya menguntungkan masyarakat dan pemerintah kota Kendari. Akan tetapi berdampak pada kemajuan ekonomi dan sosial bagi pemerintah dan masyarakat ProvinsiSultra secara keseluruhan. Mengingat, salah satu peran teluk Kendari juga merupakan gerbang laut Provinsi Sultra.(Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, 2 Maret 2003)

bilibili

Bendungan Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Foto:Armin Sulfikar Yahya)

Peringatan waspada ancaman banjir dan longsor Gunung Bawakaraeng dalam puncak musim hujan di Sulsel antara Desember 2012 – Pebruari 2013 dari BMKG Pusat, ternyata bukan prakiraan biasa. Sudah ada rekahan-rekahan besar berpotensi runtuh di dinding kaldera gunung berketinggian lebih 2.830 dpl yang berlokasi di hulu Sungai Jeneberang tersebut.

Awal Pebruari 2013 pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) merilis informasi kepada wartawan di Makassar, ada tanda-tanda kuat akan terjadi runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng. Beberapa bagian sudah merekah dan bisa saja tiba-tiba runtuh atau longsor apabila tertimpa hujan berintensitas tinggi.

Runtuhan pertama Gunung Bawakaraeng terjadi 26 Maret 2004 menimbun jurang sedalam 600 meter selebar 2 kilometer. Runtuhan Bawakaraeng ini merupakan peristiswa terbesar kedua di dunia setelah peristiwa longsoran kaldera Tateyama, Jepang, tahun 1985 dengan estimasi volume runtuh sekitar 400 juta kubik. Sedangkan volume runtuhan Gunung Bawakaraeng lebih dari 230 juta kubik.

Longsoran Bawakaraeng tersebut menimbun alur Sungai Jeneberang dengan mata air utamanya yang menjadi sumber air Dam Bilibili yang mulai berfungsi sejak tahun 1999 di bagian hilirnya. Akibatnya, dam multifungsi yang dibangun dengan dana pinjaman luar negeri sekitar Rp 780 miliar itu mengalami kemerosotan fungsi-fungsinya sebagai waduk pengendali banjir, penyedia air irigasi, PLTA, pemasok sumber air baku, kolam perikanan, dan obyek wisata.

Bayangkan, perut bendungan yang dirancang berdaya tampung air 346 juta kubik tersebut kini sudah terisi sekitar 82 juta kubik lumpur. Lumpur yang masuk tersebut berasal dari material runtuhan Bawakaraeng tahun 2004. Artinya, jika dirata-ratakan setelah 14 tahun longsornya Bawakaraeng, maka ada sekitar 6 juta ton lumpur yang masuk ke perut bendungan setiap tahun.

Padahal, pascalongsor Bawakaraeng 2004 sudah juga dialokasikan dana lebih dari Rp 450 miliar untuk membangun beberapa sabo dam penghambat percepatan sedimen ke perut bendungan dan sejumlah sand pocket atau kantong-kantong penahan pasir. Namun laju pergerakan material tetap saja volumenya dari tahun ke tahun membesar bergerak masuk perut bendungan yang memiliki luas genangan 16,5 km.

Sejumlah kalangan menghitung, jika tahun-tahun mendatang dengan upaya-upaya maksimal tetap saja  dihitung rata-rata 10 juta kubik material akan masuk ke perut bendungan setiap tahun, maka dalam waktu 10 tahun lagi dam Bilibili sudah tak mampu menjalankan fungsi-fungsinya sebagaimana rancangan awalnya. Seperti sebagai penyedia air irigasi untuk seluas 25 ribu hektar persawahan, PLTA 16,3 MW, dan penyedia sumber air baku 3.300 liter/detik. Demikian halnya sebagai dam pengendali banjir yang awalnya dirancang dapat mengurangi sapuan banjir lebih dari 2000 meterkubik/detik.

Sekarang saja hitungan-hitungan itu sudah melorot jauh dari disain awalnya. Bahkan bendungan yang dibangun atas kerjasama pihak Japan International Coorperation Agency (JICA) dengan rancangan usia 50 tahun, diperkirakan sudah tak berfungsi sebelum memasuki usia 30 tahun. Hitungan itupun dengan catatan apabila secara kontinyu dilakukan upaya keras penanggulangan pergerakan sedimen longsoran ke perut dam Bilibili yang dibangun dengan kemampuan tampung sedimen maksimal 29 juta kubik.

Adi Umardani, pejabat pembuat komitmen pengendalian sedimen Bawakaraeng mengatakan saat ini dibutuhkan 7 sabo dam serta 5 dam pengendali dalam upaya mengendalikan pergerakan material ke dalam bendungan Bilibili. Untuk itu dibutuhkan biaya ratusan miliar.

Dalam kondisi dam Bilibili senantiasa terancam kehilangan fungsi-fungsi pascalongsor Bawakaraeng 2004, belum pernah ada pihak terkait yang menganalisasi layak atau tidaknya untuk tetap menghambur duit beratus miliar setiap tahun di alur Sungai Jeneberang atas nama penyelamatan dam Bilibili dan ancaman banjir ke wilayah Makassar, Gowa, Maros, dan Takalar seperti yang pernah terjadi tahun-tahun 70-an saat bendungan Bilibili belum dibuat.

Ironisnya, seiring dengan usulan tambahan pembangunan sabo dam dan sands pocket di alur Sungai Jeneberang demi penyelamatan dam Bilibili, pihak berkompeten di BBWSPJ pun mengungkap, saat ini ada retakan-retakan di sisi barat Gunung Bawakaraeng yang berpotensi longsor seperti longsoran tahun 2004. Tidak main-main, ancaman longsor susulan itu diperkirakan volumenya antara 90 juta hingga 150 juta kubik.

Tidak ada penjelasan pasti kapan longsor susulan Bawakaraeng dapat terjadi. Ir.Haeruddin C Maddi, Kepala Satker PSDA BBWSPJ Sulsel mengatakan, jika hujan turun dengan intensitas tinggi warga di sekitar kaki Gunung Bawakaraeng harus waspada karena retakan-retakan yang ada di Bawakaraeng sekarang bisa saja tiba-tiba runtuh.

Artinya, jika runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng terjadi tahun depan atau besok misalnya, maklum tak bisa diprediksi waktunya, maka cerita upaya penanggulangan dengan ratusan miliar dana yang telah, sedang dan akan dialokasikan ke alur Sungai Jeneberang harus terkubur sia-sia dengan longsoran bencana susulan yang memang sudah dinanti di dam Bilibili. (Mahaji Noesa/Koran Independen Edisi 22, 18 – 24 Februari 2013/http://www.independen.co/news/humaniora/lingkungan/item/1716-bendungan-bilibili-menanti-longsor-susulan) 

 

Gambar

ilustrasi buaya/Foto:riset google – bushwarrios.org

Seorang anak seketika dapat menjadi batu apabila berbuat dosa terhadap ibu kandungnya. Begitu inti cerita rakyat ‘Malin Kundang Si Anak Durhaka’ dari wilayah Sumatera Barat.

Cerita tersebut sampai tahun 70-an masih terasa begitu kuat menyebarkan pesan moral terhadap anak-anak di Indonesia untuk berbakti kepada kedua orangtua, terutama untuk menghormati dan menyayangi ibu yang melahirkannya.

Ada masa anak-anak Indonesia dadanya gentar bernasib seperti tokoh Malin Kundang Si Anak Durhaka yang dalam ceritanya karam menjadi batu, bersama kapal, isteri, pengikut serta semua harta bawaannya. Kisah tersebut diperkuat dengan adanya lokasi berupa batu yang menyerupai orang bersujud yang disebut sebagai lokasi tempat tenggelamnya Si Malin Kundang di pesisir pantai Sumatera Barat .

Sekarang dunia anak-anak di Indonesia telah berubah. Selain cerita yang berisi pesan-pesan moral sowan terhadap ibu dan bapak kian hari makin terasa langka. Anak-anak kelihatannya sudah tak lagi membuka ruang di kepala bagi kisah yang dikaitkan dengan dongeng atau cerita rakyat yang berlatar alam masa lalu.

‘’Cerita omong-kosong. Masa ada orang Indonesia dulu dapat melompat setinggi lebih 10 meter, sedangkan sekarang tidak bisa pecahkan rekor dunia tak lebih 3 meter di arena olah raga lompat tinggi,’’ komentar salah seorang anak usia SMP di Kota Makassar, suatu ketika usai menyaksikan sebuah film berlatar dunia persilatan masa lalu di Indonesia.

Ruang pikir anak-anak sekarang umumnya menginginkan contoh nyata. Kesakralan menghormati ibu oleh anak-anak sekarang tidak lagi seperti dulu yang hanya untuk bertutur saja suara dijaga agar tidak lebih keras melebihi suara ibu. Sekarang, sudah cukup banyak kejadian mutakhir yang sempat terekam, anak-anak tak hanya berani berlaku tak sopan, tapi dalam banyak peristiwa justru telah tega menyakiti ayah dan ibu kandungnya sendiri secara fisik.

Padahal cerita malapetaka menimpa anak-anak yang berdosa kepada orang tuanya, terutama ibunya bukan hanya ada dalam dongeng atau cerita rakyat seperti kisah Malin Kundang Si Anak Durhaka. Di dalam ajaran-ajaran agama ada tuntunan agar anak-anak selalu menghormati atau berbakti kepada orang tua, terutama memberikan perhatian dan kasih sayang yang tinggi kepada ibu yang melahirkannya jika ingin hidup sukses dan bahagia.

Sebenarnya banyak pengalaman dan kisah nyata lainnya masa kini yang belum terungkapkan, bagaimana malapetaka yang menimpa anak yang berdosa kepada orang tua terutama ibunya. Sebaliknya juga, cukup banyak kehidupan sukses dan membahagiakan didapatkan seorang anak yang selalu menyayangi sekaligus mendapat restu dari ibunya.

Akan tetapi kisah-kisah nyata mutakhir seperti itu tak banyak yang dapat disusun dalam bentuk cerita yang memberikan pesan moral secara dini kepada anak-anak agar dapat selalu berbakti kepada kedua orang tua terutama terhadap ibu kandung yang melahirkannya. Tuhan memberikan begitu banyak kekuatan kepada seorang ibu yang dapat ditularkan langsung untuk kebahagian hidup bagi anak-anak yang dilahirkannya.

Salah satu kisah nyata bagaimana pertolongan Tuhan menyertai restu seorang ibu terhadap anaknya dalam keadaan genting sekalipun, dialami seorang paman saya. Sehari-hari saya memanggilnya dengan Om Rahman. Berperawakan tinggi besar. Dalam usia 20-an tahun dia sudah bergabung sebagai seorang militer. Masih terbilang muda ketika dia bertugas sebagai tentara di Kota Parepare. Kala itu suasana masih kacau dengan gangguan gerombolan DI/TII di seluruh Sulawesi Selatan, termasuk di Kota Parepare.

Makanya, menurut cerita si Om Rahman, yang masuk bergabung sebagai tentara saat itu bukan sembarang orang. Maksudnya, orangnya harus berani, punya nyali yang kuat, dan biasanya yang punya ‘ilmu bawaan’ seperti kebal terhadap benda tajam atau kulitnya dari luar tak dapat disentuh jenis besi logam apapun.

‘’Saya diberi sebuah doa-doa dari ayah sebelum meninggal. Saya sering membacanya ketika ada perang. Pernah ketika mendaratkan helikopter, kata banyak orang saya ditembaki bertubi-tubi oleh gerombolan, tapi semua saya tidak rasa,’’ katanya.

Om Rahman, adalah anak tunggal yang ayahnya sudah meninggal dunia ketika dia masih berusia sekitar 10-an tahun. Dia hidup dan dibesarkan oleh ibunya hingga bergabung menjadi tentara di Kota Parepare.

Sejak peristiwa penembakan ketika membawa pesawat helikopter, dia dikenal oleh kerabat dan masyarakat di lingkungannya sebagai orang kebal peluru. Tapi, dia sendiri berkali-kali menyatakan tidak kebal. Hanya karena sasaran tembak belum mengenainya sehingga peluru tidak menembus dirinya.

Pembawaan sehari-harinya, jika bicara selalu dibesarkan. Selalu tak mau kalah dalam debat. Mungkin karena image orang-orang dia kebal, apa yang dibicarakan sekalipun sebenarnya hanya guyonan selalu dianggap benar. Pembawaan seperti itu diistilahkan ‘Orang Borro’ di wilayah Bugis-Makassar. Lagipula dia mengaku suka gonta-ganti pacar di masa-masa awalnya bertugas sebagai tentara.

Suatu ketika di sebuah gedung bioskop di Kota Parepare, sekelompok orang bercerita berbagai hal mengenai buaya. Ke-Borro-an Om Rahman muncul, katanya, setelah mendengar cerita tersebut.

‘’Soal buaya, nih orangnya. Panggil saja saya kalau ada buaya yang mau ditangkap,’’ katanya dengan suara keras. Orang-orang yang mendengar semua terdiam, yakin jika Om Rahman punya ilmu menangkap buaya, selain memiliki ilmu kebal. Padahal menurut Om Rahman, soal buaya itu, dia hanya bercanda.

Setelah bicara begitu, diapun larut ke perut gedung untuk menonton film sore hari bersama pacarnya. Namun ketika film belum mulai, dari pengeras suara di balkon gedung bioskop ada panggilan untuk Om Rahman untuk menangkap seekor buaya yang lagi mendarat di tepi sebuah sungai di Parepare.

Mendengar panggilan itu, Om Rahman menyatakan, ketika itu kepalanya bagai disambar petir. Dia berkesimpulan inilah hari semua kesombongannya sebagai ‘Orang Borro’ akan segera berakhir. Tapi sebagai seorang lelaki Bugis-Makassar sekalipun sebenarnya seluruh hati, jantung dan parunya (seperti bahan baku coto Makassar saja.. hahaa…) sudah copot, tapi dia tetap melangkah tegar.

Dia kemudian mengecek apakah benar ada buaya atau hanya bohong-bohongan. Ternyata, di tepi sungai memang sudah ratusan orang yang berkumpul menonton buaya berukuran besar tengkurap di tepi sungai. Dalam kegalauan pikiran, Om Rahman menyatakan, meminta diri untuk sesaat kembali ke rumah mempersiapkan diri.

Setiba di rumah Om Rahman langsung menangis meraung menjatuhkan diri di pangkuan ibunya. ‘’Hari ini ajal saya sudah tiba,’’ katanya kepada ibunya yang terkejut melihat tingkah anaknya yang lunglai hari itu.

‘’Ada apa,’’ tanya ibunya.

‘’Saya baru bicara bohong kepada orang dapat menaklukkan buaya, ternyata kemudian ada buaya naik dari sungai dan disuruh menangkapnya,’’ jelas Om Rahman, seperti dikisahkannya kembali.

‘’Kalau tak mau mati, jangan kau pergi menangkapnya,’’ kata ibunya.

‘’Tapi saya malu kalau tidak melakukannya,’’ timpal Om Rahman.

‘’Pilih mana, malu atau mati dimakan buaya,’’ kata ibunya lagi.

Om Rahman tetap meraung. Namun, dalam keadaan sulit mengambil keputusan, ibunya lalu mewanti-wanti. ‘’Jika memang kau mau menangkap buaya itu, pergilah tapi lakukan dengan berhati-hati,’’ ujar ibunya.

Beberapa saat kemudian, dengan berbekal sebuah sangkur bayonet, Om Rahman melangkah ke lokasi buaya yang makin dipadati orang. Sesampainya di tepi sungai, Om Rahman layaknya orang tak punya takut mendekat ke tempat buaya yang sedari tadi berdiam tak bergerak. Detik berikut, secara tak terduga buaya bergerak mengibas.

‘’Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya yang berlangsung begitu cepat, saya sudah terbaring di lumpur tepi sungai, berada dibawa perut buaya. Saya memeluk erat buaya tersebut, lalu tangan kanan saya menikamkan sangkur ke badan buaya tersebut. Beberapa saat saya terus menghunjamkan sangkur ke tubuh buaya itu. Saya mulai sadar ketika terdengar teriakan orang-orang yang menonton dan ada yang mengatakan buayanya sudah mati. Ketika saya coba menggoyang-goyang, ternyata buaya yang menindih dalam pelukan saya itu tak bergerak lagi. Ketika saya mendorong, buaya terlempar. Saya segera berdiri dari genangan lumpur bercampur darah buaya, lalu secepatnya berjalan naik dari tepi sungai. Buaya itu ternyata sudah mati. Saya masih sempat ‘Borro’ mengatakan kepada orang-orang sekitar, bahwa saya masih bisa melawan seratus buaya seperti ini. Orang-orang ramai berteriak-teriak dan bertepuk tangan gembira. Sebuah mobil lalu mengarak saya keliling Kota Parepare, dielu-elukan seperti petinju yang menang dari suatu pertandingan bergengsi. Setiba di rumah saya memeluk dan mencium ibu yang wajahnya tak terlihat diliputi rasa khawatir sedikitpun. Dari situ saya berjanji untuk segera pindah tugas keluar dari Kota Parepare. Saya takut kalau-kalau ada lagi buaya muncul lantas saya dipanggil untuk menangkapnya. Sebulan kemudian saya pindah bertugas ke Kota Makassar dan sampai pensiun tidak pernah lagi kembali tugas ke Parepare. Dari peristiwa ini, membuat saya jadi orang yang tidak Borro lagi, dan memahami adanya kekuatan luar biasa diberikan Tuhan kepada setiap ibu untuk disalurkan bagi keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya dalam meniti kehidupan ini,’’ papar Om Rahman dalam suatu kesempatan bercerita dengan mata tampak berkaca-kaca. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 15/12/2011)

Gambar

Bekas kediaman Mochtar Lufthi di Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Ketika kini jalanan sepanjang sisi kanan-kiri umumnya telah ditumbuhi rumah-rumah hunian beton bertingkat dengan gaya arsitektur mutakhir, rumah peninggalan masa Belanda (verponding) di Jalan Muchtar Lufhti No. 26 Kota Makassar, bentuknya masih tetap tidak berubah.

Rumah tersebut beratap genteng berundak. Pintu jendela berukuran besar dengan teras terbuka sebagai ciri rumah-rumah pejabat militer Belanda tempo dulu di Kota Makassar. Dinding depan bangunan tak terawat, sebagian plasterannya terkelupas memperlihatkan susunan batu bata tua yang melepuh

Di halaman kosong seputaran rumah dalam areal 18 x 40 meter tersebut, tampak tumbuh sejumlah tanaman pisang dengan buah menanti matang. Ada juga pohon nangka, pohon jeruk nipis, dan tanaman pepaya. Di lahan kosong sebelah timur rumah ini tumbuh gulma liar. Sebuah pemandangan minor layaknya rumah pedesaan di tengah pesatnya perkembangan Kota Metropolitan Makassar.

Pintu pagar halaman terbuat dari kayu tambal-sulam, tertutup. Rumah tersebut Selasa siang (07/08/2012) tampak sepi. Tak terlihat ada gerakan orang di dalamnya. ”Mungkin mereka tidur,” sahut Mudding Dg Ngewang (60) yang meleseh di balai-balai salah satu pos keamanan tak jauh dari rumah tersebut.

Lelaki asal Karunrung Jipang di selatan Kota Makassar mengaku, sejak tahun 1979 menumpang membuka usaha tambal ban di halaman kosong depan rumah tersebut. ”Di dalam rumah itu sekarang tinggal dua keluarga. Mereka adalah keponakan dan cucu dari almarhun Sitti Maimunah, orang asal Banjar, Kalimantan, sebagai pemilik rumah,” jelasnya.

Penjelasan Mudding tersebut menimbulkan tanya, lantaran sejak lama di salah satu pilar teras halaman depan rumah terpampang tulisan mencolok, sebagai berikut:

”Di rumah ini H.Mochtar Luthfie Tokoh Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tewas ditembak oleh tentara kolonial Belanda KNIL dalam peristiwa 5 Agustus 1950 di Makassar”

Dari berbagai sumber diketahui, jika Muchtar Luthfie, pemuda kelahiran tahun 1900 di Balingka,  Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah salah satu sosok ulama pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia.

Anak dari ulama H.Abdul Latief Rasyidi di Padang Panjang ini, ketika sekolah agama tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau, tinggal bersama dan dididik langsung oleh H.Rasul – ayahanda Buya Hamka.

Dia dikenal di lingkungannya kala itu sebagai pemuda yang pandai berpidato dan berdiskusi dalam soal-soal keagamaan (Islam). Bahkan dalam perkembangannya, Muchtar Luthfie, yang sebelumnya pernah dipercayakan memimpin Diniyah School Padang Panjang Cabang Sibolga, jadi guru di sekolah khusus sekolah anak-anak bangsawan Hollands Inlandsche Kweekschool dan OSVIA (School tot Opleiding van Inladsche Ambtenaren), berbakat besar menjadi penulis buku.

Bukunya berjudul Hikmatul Muchtar berisikan pikiran yang menentang imperialisme dan kolonialisme kala itu, membuat berang pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Bukunya disita, dan Muchtar Luthfie dicari pihak Belanda untuk mendapatkan hukuman karena dinilai sebagai pengacau situasi.

Gurunya, H.Rasul membantu mengamankan Muchtar Luthfie menyeberangkan ke wilayah pesisir Semenanjung Malaka, sekarang Malaysia. Dari sini, pemuda yang juga penentang keras ajaran komunis tersebut, justru melangkahkan kaki menuju ke Mesir.

Selain untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaannya, di Mesir bersama pemuda-pemuda Indonesia lainnya dia membentuk organisasi serta berbagai kegiatan yang ditujukan untuk melakukan penantangan terhadap kaum penjajah kolonialis Belanda di Indonesia.

Salah satunya, pada tahun 1926, bersama Ilyas Yacoub, mahasiswa Universitas Al-Azhar di Mesir, mendirikan organisasi pemuda bernama Perhimpunan Penjaga Indonesia. Untuk menyebarluaskan gagasan serta ide-ide berkaitan dengan perlawanan penjajah Belanda di Indonesia, atas prakarsanya diterbitkan juga majalah Seruan Al-Azhar dan Pilihan Timur.

Tahun 1931 kembali ke Sumatera, tempat kelahirannya. Dia menjadi Ketua Dewan Propaganda Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) Sumatera Barat yang kegiatannya mencakup pengembangan kader di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik.

Selain mengajar di berbagai sekolah, Muchtar Luthfie juga pernah membentuk sebuah sekolah khusus untuk pemberdayaan perempuan Indonesia bernama Normal School. Kehadiran kembali Muchtar Luthfie ke Indonesia dinilai pemerintah kolonial Belanda aktivitasnya makin membahayakan, sehingga harus ditangkap tahun 1932. Dua tahun kemudian, bersama dua rekannya – H. Jalaluddin Thalib dan H.Ilyas Yacoub diasingkan ke penjara Belanda di Digul, Irian. Lantas ketika tentara Jepang tahun 1942 berhasil mengusir pendudukan Belanda di Indonesia, Muchtar Luthfie diasingkan ke Australia.

Selama di Benua Kanguru tersebut, dia bersama rekan-rekannya digodok oleh Belanda untuk kembali ke Indonesia merebut kekuasaan Belanda yang telah diambil alih oleh tentara Jepang. Atas saran Gubernur Jenderal Belanda, Van Der Plas yang pernah menjadi kepala pemerintahan kolonial di Makassar, Muchtar Luthfie yang memiliki banyak ilmu tentang Agama Islam tersebut dikirim ke Makassar bersama Jalaludddin Thalib dalam kedudukan sebagai anggota konstituante Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda.

Menurut rancangan pihak kolonial, misi yang diemban Muchtar Luthfie adalah mendekati para ulama khususnya di Sulawesi Selatan mencitrakan bahwa pihak Belanda memperhatikan masalah keagamaan dengan akan membangun sebuah mesjid terbesar di Makassar.

Namun, darah patriot dan jiwa nasionalisme yang telah mengalir di tubuh Muchtar Luthfie, membuat batinnya lebih berontak. Mulutnya mengatakan yes terhadap misi Belanda itu, tapi sesuai dengan kata hatinya ketika di Makassar justru ia melangkah lain untuk kepentingan nasional Indonesia. Menggalang kekuatan dengan sejumlah ulama di Makassar untuk membangun sendiri sebuah mesjid dalam kaitan menguatkan kekuatan benih persatuan dan kesatuan untuk terus melawan kehadiran pihak kolonial.

Bersama 28 ulama, pengusaha dan tokoh masyarakat di Kota Makassar, Muchtar Luthfie mengetuai pembangunan Mesjid Jami’ tahun 1949. Anemer atau pemborongnya dari warga keturunan Tionghoa bernama Jie Pak Fong. Mesjid Jami’ yang bekapasitas tampung lebih 1.000 jamaah tersebut, merupakan mesjid terbesar dan termegah pertama di Sulawesi Selatan. Mesjid Jami’ inilah yang telah dipugar megah dan sampai sekarang dikenal dengan nama Mesjid Raya Makassar.

Langkah Muchtar Luthfie tersebut membuat kecewa tentara KNIL Belanda. Sementara di lain pihak simpati warga di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan terhadap Muchtar Luthfie kian besar. Hingga dia kemudian diangkat sebagai Ketua Partai Masyumi Cabang Sulawesi Selatan.

Saat masyarakat sedang ramai-ramainya menentang kehadiran Negara-negara Federal dengan tuntutan segera membubarkan NIT, subuh hari 5 Agustus 1950, ketika Muchtar Luthfie berdiri menguak jendela rumahnya usai shalat subuh, tiba-tiba saja dia diberondong tembakan oleh sejumlah tentara KNIL. Termasuk jidatnya ditembus peluru. Sang isteri menangis meraung memeluknya tapi nyawa Muchtar Luthfie tak dapat terselamatkan. Dia tewas pada subuh hari yang lengang di rumah tempat kediamannya yang kini masih tegak di Jl. Muchtar Luthfi No.26 Kota Makassar.

Namun rumah tersebut sekarang tidak ada lagi hubungan dengan keluarga atau keturunan dari Muchtar Luthfie. Menurut penuturan beberapa generasi yang hidup di tahun 50-an, pada masa Walikota Makassar dijabat oleh H.Arupala (1962 -1965), rumah tersebut telah dijual oleh isteri Muchtar Luthfie sebelum kembali ke kampung halamannya di Aceh. Pembelinya adalah sahabat dari almarhum Muchtar Luthfie yang juga pernah terlibat dalam panitia pembangunan Mesjid Jami’. Pembeli disebut-sebut sebagai H.Banjar, karena berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia (sebelum meninggal) lalu menyerahkan rumah tersebut kepada seorang anak putri bungsunya bernama Sitti Maimuna.

Belakangan ketika Sitti Maimuna meninggal dunia, anak-anaknya yang menempati rumah tersebut. Namun pada tahun 1998 lalu, menurut cerita Mudding, datang seorang anak lelaki almarhum H. Banjar dari Bandung menyatakan juga punya hak terhadap rumah di Jl. Muchtar Luthfie tersebut.

”Dia yang memberikan tulisan di rumah tersebut sebagai tempat ditembaknya Muchtar Luthfie. Saya tidak tahu bagaimana selanjutnya tuntut menuntut hak atas rumah tersebut. Yang jelas rumah itu tidak pernah ada perubahan. Sepengetahuan saya, sejak tahun 1979 tidak pernah ada pihak veteran atau pihak pemerintah yang datang melihat atau memberikan bantuan untuk perbaikan rumah tersebut,” katanya.

Bukan tidak mungkin, jika pihak anak, kemanakan dan cucu almarhum H. Banjar sepakat, mereka dapat menjual rumah bekas kediaman Muchtar Luthfie kepada pihak lain untuk kemudian dirobohkan dan dijadikan bangunan komersial seperti bangunan-bangunan yang kini sudah tumbuh di sekitarnya. Dengan begitu, akan punahlah jejak ulama yang pejuang asal Sumatera Barat yang sebenarnya juga pantas jika diusulkan mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 7 Agustus 2012)

Gambar

Muara Sungai Jeneberang/Foto: Mahaji Noesa

Tak hanya banjir debris longsoran Gunung Bawakaraeng yang harus diwaspadai, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan setiap musim hujan menjadi wilayah rawan bencana tanah longsor, banjir, dan puting beliung. Selain memakan korban jiwa, setiap tahun petaka musim basah ini merugikan rakyat hingga ratusan miliar. Kali ini,  diperkirakan intensitas curah hujan di Sulsel akan turun melampaui batas normal.

Musim hujan sudah terjadi mulai Nopember 2012 pada sejumlah daerah di Indonesia. Biasanya, akan berlangsung selama 4 – 5 bulan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan peringatan dini dengan menetapkan 9 titik di Indonesia dianggap paling rawan bencana dalam musim hujan tahun ini. Di antaranya, tanah longsor di sekitar Gunung Bawakareang, Gowa, Sulawesi Selatan.

Kenapa longsor Gunung Bawakaraeng perlu diwaspadai? Pascabencana longsor gunung yang berketinggian lebih dari 2.000 dpl tahun 2004, menyebabkan endapan material tanah, pasir dan batu-batuan berukuran besar sekitar 300 juta kubik menumpuk di alur Sungai Jeneberang.

Sungai yang berhulu di kaki Gunung Bawakaraeng tersebut mengalir lebih 100 km, melintasi kota Sungguminasa, ibukota kabupaten Gowa, dan bermuara di Kota Makassar. Suatu tim mitigasi bencana dari Bandung pernah menyatakan bahwa sumber mata air utama Sungai Jeneberang tertutup setelah bencana longsoran Bawakaraeng 2004.

Itulah sebabnya debit air sungai yang menjadi sumber air Waduk Bilibili, sekitar 30 km dari Kota Makassar, di musim kemarau menurun drastis. Air yang kini mengalir di bagian hulu alur Sungai Jeneberang berasal dari sungai-sungai ikutan sekitarnya. Justru jika terjadi curah hujan yang tinggi, material longsoran yang menumpuk di bagian hulu alur Sungai Jeneberang dikhawatirkan dapat bergerak, menimbulkan banjir lumpur bercampur batu-batuan alias banjir debris.

Bayangkan, apabila sekitar 300-an juta kubik material seketika dapat menjadi banjir debris. Selain akan melabrak Waduk Bilibili, dapat meluluh-lantakkan pemukiman penduduk yang ada di Kota Sungguminasa dan Kota Makassar. Semoga tak pernah terjadi.

Suatu langkah cemerlang, karena pihak BNPB dengan cepat telah mengingatkan longsoran Gunung Bawakaraeng sebagai salah satu titik rawan bencana musim hujan tahun 2012. Apalagi pascalongsor 2004, penanggulangan terhadap tumpukan material di alur Sungai Bawakareang hanya diatasi dengan pembuatan sejumlah sabo dam — tanggul penahan material, serta sand pocket –  kantong penampung pasir yang dimaksudkan mengurangi volume  material memasuki Waduk Bilibili.

Sejak bencana 2004 sampai sekarang, pihak pengelola DAS Pompengan- Jeneberang mengakui baru dapat mengatasi sekitar 4 juta kubik dari sekitar 300 juta kubik tumpukan material longsoran di alur Sungai Jeneberang. Jumlah itupun sudah terhitung material yang setiap hari diangkut ratusan truk untuk bahan timbunan ke berbagai lokasi di kota Makassar maupun kota Sungguminasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, memperkirakan puncak hujan di Sulsel akan terjadi antara Desember 2012 hingga Januari 2013 dengan curah dapat mencapai 600 mm per bulan. Suatu prakiraan tertinggi bakal terjadi melewati batas curah hujan normal antara 200 hingga 300 mm per bulan. Semoga saja tak menggoyangkan ratusan juta kubik material di hulu alur Sungai Jeneberang.

Longsor, banjir dan angin puting beliung merupakan tiga petaka musim hujan yang selalu berulang setiap tahun di Sulsel. Selain faktor geografis, tidak sedikit bencana tersebut juga akibat ulah manusia merusak lingkungan.

Beberapa kabupaten dataran tinggi di Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjaga-jaga, mengantisipasi bencana longsor dengan meningginya curah hujan. Paling tidak, untuk mengelimir terjadinya korban jiwa maupun harta benda. Peringatan dini ancaman bencana longsor perlu disampaikan kepada warga di kabupaten pegunungan seperti Enrekang, Sinjai, Gowa, Toraja, Toraja Utara, dan Bantaeng yang umumnya masih banyak membangun pemukiman di lokasi berbukit hingga lereng-lerengnya.

Bencana tanah longsor saat musim hujan, perlu diwaspadai para pelintas di poros jalanan di tepi tebing maupun kaki-kaki bukit. Seperti poros Buludua menghubungkan kabupaten Barru – Soppeng, poros Maiwa (kabupaten Enrekang) – Makale (kabupaten Tanan Toraja), Makale – Rantepao (kabupaten Toraja Utara) – Kota Palopo, poros Malino (kabupaten Gowa) – Manipi (kabupaten Sinjai), dan poros Luwu Utara ke perbatasan Provinsi Sulsel dan Sulteng.

Daerah rawan banjir karena dilintasi sungai-sungai besar di Sulawesi Selatan, seperti jalanan sepanjang kl 60 km menyusur pesisir Sungai Walanae dari kabupaten Wajo ke Kabupaten Bone. Kota Palopo, kabupaten Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Enrekang, Soppeng, Sidrap, Maros, Bantaeng, Bulukumba, Pinrang, Pangkep, dan Barru.

Tahun kemarin, banjir yang melanda Kabupaten Wajo dan Bone saja menimbulkan kerugian materil sampai Rp 95 miliar. Belum terhitung nilai kerugian yang ditimbulkan banjir lokal di berbagai kabupaten lainnya di Sulsel. Banjir menggenangi 4 kecamatan di Luwu, Mei 2012, menimbulkan kerusakan fasilitas umun dan harta benda milik rakyat sampai senilai Rp 10 miliar.

Sedangkan bencana angin puting beliung tahun 2011 di 9 kabupaten di Sulawesi Selatan merusak 1.148 bangunan rumah warga dan fasilitas umum. Puting beliung yang juga dinamai Laso Anging di Sulsel berkecepatan di atas 60 km per jam pun perlu diwaspadai seiring dengan datangnya musim hujan terutama bagi warga bermukim di pesisir pantai serta tempat ketinggian. Sebanyak 19 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel wilayahnya berbatasan dengan laut.

Petaka musim hujan di Sulawesi Selatan selalu saja berulang, lantaran masih sering dikategori murni bencana alam. Pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten masih lebih fokus mencari dana bagi warga setelah jadi korban bencana. Tahun 2012 Sulsel memperoleh Rp 70 miliar dana penanggulangan bencana dari pemerintah pusat. Belum tampak langkah signifikan mengelimir penyebab bencana. Hutan Sulsel yang luasnya 2,7 juta hektar (2007) sebagai penyanggah timbulnya banjir sekarang berkurang sisa sekitar 2 juta hektar. Jadi, waspada sajalah, musim hujan kini sudah tiba. (Mahaji Noesa)

Waduk Bilibli/Foto: ASY

Tak selang lama setelah terjadi bencana longsor Gunung Bawakaraeng, Maret 2004, tim Geologi dan Mitigasi Bencana dari Bandung mengeluarkan sejumlah peringatan. Antara lain menyatakan, bencana tersebut menyebabkan tertutupnya mata air Sungai Jeneberang yang menjadi sumber air andalan Waduk Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Akan tetapi, hingga saat ini pihak Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Sulawesi Selatan maupun pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) sebagai penanggungjawab Waduk Bilibili, sepertinya mengabaikan pemberitahuan mengenai tertutupnya mata air Sungai Jeneberang pascabencana longsor Gunung Bawakaraeng tahun 2004 tersebut. (lebih…)