Posts Tagged ‘surabaya’

Gambar

A Hamzah Tuppu/Repro mahaji Noesa

Melalui cuplikan catatan sejarah kebaharian dan sejarah TNI-AL, dapat dipahami betapa besarnya tekad yang menggelora di dada A.Hamzah Tuppu untuk melestarikan jiwa dan semangat bahari seperti yang dimiliki para leluhurnya sebagai orang pelaut.

A.Hamzah Tuppu lahir di Borongcalla, Desa Botosunggu, 20 Agustus 1920 (Berdasarkan riwayat hidup yang dibuat sendiri ketika masih hidup, tertanggal 23 Mei 1964, diketahui Adam Malik dan Bambang Soepeno). Tempat kelahiran A. Hamzah Tuppu itu kini secara administratif masuk Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Galesong pada masa kerajaan Gowa terkenal sebagai lumbung pangan, tempat kelahiran para kesatria kerajaan Gowa, patriot bahari yang tangguh. Pihak kompeni Belanda sendiri baru mampu menerobos kota Somba Opu, pusat kerajaan Gowa pada abad XVII, setelah sebelumnya jatuh bangun melawan prajurit serta menghancurkan benteng pertahanan di wilayah Galesong tersebut.

Pihak kompeni Belanda mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Gowa di Galesong pada 30 Juli 1667. Nanti pada 19 Agustus 1667 setelah dilakukan penyerangan dari darat dan laut, benteng pertahanan Galesong dapat dikuasai kompeni Belanda, lumbung makanan kerajaan Gowa di tempat ini dibumihanguskan.

A.Hamzah Tuppu merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu), termasuk dalam rumpun keluarga Karaeng Galesong.

Menurut Aba Jadjid Bostan Daeng Mama’dja, pemangku hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga keturunan ketujuh dari Syekh Joesuf Tajul Khalwatia Kaddassallahu Sirruhu, sebagai keluarga sejak kecil Amir Hamzah Dg Tuppu (nama lengkap A.Hamzah Tuppu) dibina oleh Karaeng Galesong XVI H.Larigau Dg Manginruru.

Dalam usia sekitar 7 tahun, A. Hamzah Tuppu yangnama kecilnya adalah Cakkua (menurut Bostan Dg Mama’ja, diambil dari nama keris kepunyaan Syekh Yusuf), disekolahkan pada sekolah rakyat (volokschool) di Soreyang. Setahun kemudian dipindahkan ke Sekolah Rakyat Galesong, tinggal bersama Karaeng Galesong di Takalar.

Setamat dari Sekolah Rakyat, ia dipindahkan ke Makassar melanjutkan pendidikan di Inlandsch School. Di Makassar, tinggal bersama sejumlah kawan-kawan di rumah seorang Karaeng Galesong, Ipammusuran Dg Paduni, di Kampong Pisang/Lajangiru. Dari sekolah tersebut ia kemudian masuk seklah Marine (Kelautan), tamat tahun 1936. Setelah itu, hasratnya untuk mengikuti kegiatan militer tidak mendapat dukungan dari Karaeng galesong. A Hamzah Tuppu melanjutkan pendidikan ke sekolah pertanahan Top Gerapt Dienst.

Setamat dari sekolah rakyat ini, ia kemudian bekerja pada kantor Landrente di Makassar. Pada tahun 1938 diangkat menjadi Mantri Landrente, bertugas melakukan pengukuran tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan.

Pergaulan A.Hamzah tuppu semakin meluas. Termasuk menjalin persahabatan dengan seorang warga Jepang bernama Hirata yang berprofesi sebagai juru potret di Makassar. Melalui Avon kursus dia belajar Bahasa Belanda dan mulai melibatkan diri dengan organisasi-organisasi politik yang berupaya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Pada tahun 1941, A. Hamzah Tuppu bersama aktivis pergerakan politik lainnya di Makassar, seperti wahab Tarru, Andi Kanna dan Martua Bangsawang Dg Liwang (Karaeng Takalar) ditangkap oleh Belanda dan ditawan di penjara Sengkang, sekarang ibukota Kabupaten Wajo. Dari tempat ini kemudian dipindahkan ke tempat tawanan Belanda di Pulau Jawa.

Saat Jepang memulai pendudukan di Indonesia pada tahun 1942, A Hamzah Tuppu dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau jawa. Selanjutnya, sekalipun kemudian bekerjasama Jepang di Pulau Jawa tapi dia tetap melanjutkan pergerakan politik untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajahan. Dia melakukan gerakan-gerakan persiapan kemerdekaan RI bersama rekan-rekannya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, serta menggalang tokoh-tokoh pemuda asal Sulawesi Selatan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibuat sendiri A Hamzah Tuppu semasa hidupnya, pada tahun 1942 setelah dibebaskan dari Kamp Garut ia aktif dalam Djawa Hokokay dan Peta jurusan Angkatan Laut. Antara tahun 1945 – 1947 sebagai Kolonel pelaut, aktif dalam pembentukan ALRI pertama di Surabaya. Memimpin KRU X Brigade D-81 pada tahun 1947.

Ketika dilakukan rasionalisasi kepangkatan pada tahun 1948 – 1951, A Hamzah Tuppu dirurunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, dan dia menyatakan mengundurkan diri dengan alasan cita-cita perjuangan kemerdekaan RI telah tercapai.

Tersebut sejumlah nama tokoh yang pernah menjadi kawan setia A Hamzah tuppu semasa hidupnya, seperti Kahar Muzakkar, Andi Selle Mattola, A.A.Rivai, Achmad Lamo, Warrow, Worang, Mursalim Dg Mamangung, Sudomo, Ali Sadikin, Andi Mattalatta, Andi Oddang, Ince Kasim, Suaib pasang, Tisi Efendi Dg Nodjeng, dan Hasan Ralla.

Pada tahun 1950 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Maega di Surabaya. Sepanjang tahun 1952 – 1959 aktif mengorganisir bekas pejuang bersenjata dalam organisasi veteran yang bernama Legiun Veteran RI. Antara tahun 1959 – 1960 dipilih sebagai panasihat Organisasi Veteran Pusat dan daerah.

Lantaran kharismanya sebagai tokoh pejuang asal Sulsel, ia pernah dicalonkan menjadi anggota MPRS Pusat dan diajukan sebagai salah satu calon Gubernur Sulselra pada tahun 1961.

Antara tahun 1961 – 1963 aktif sebagai pengurus Perhimpunan Keluarga Sulawesi di Jakarta, dan menjadi Presiden Direktur NV Usaha AMPRI (Angkatan Muda Pejuang Republik Indonesia). Melalui badan usaha AMPRI, A Hamzah Tuppu membangun perumahan untuk angkatan laut di Makassar.

Dalam kutipan Riwayat Hidup A Hamzah Tuppu yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI-AL Dinas Personil, tertanggal 10 Nopember 1988, disebutkan bahwa A Hamzah Tuppu kelahiran 26 Desember 1920, bergabung dalam kesatuan/kelasykaran BKR/TKR Laut ALRI Pangkalan IV di Tegal antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 31 Desember 1949.

Berdasarkan Surat keputusan Kasal Nomor: Skep/3400/XII/1979 tangga 12 Desember 1979 diberhentikan dengan hormat dangan Hak Onderstand terus menerus. Ditetapkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui SK Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No.96/Kpts/MUV/1964 tanggal 15 September 1964.

Berdasakan SK Kasal No.Skep/245/I/1980 tanggal 19 Januari 1980 diberikan Hak Onderstand terus menerus kepada Letkol ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp. Sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1573/VI/1982 tanggal 18 Mei 1982 diberikan pemberhentian/kenaikan pangkat luar biasa dari pangkat Letkol menjadi Kolonel atas nama Kolonel ALRI A Hamzah tuppu Non Nrp.

Putra asa Sulsel, patriot bahari titisan Karaeng Galesong, A Hamzah Tuppu menghembuskan nafas terkahir pada tangga 30 Juni 1986 di jakarta. Jenazahnya dimakamkan dalam suatu upacara militer di TMP Kalibata, Jakarta. Isteri almarhum, Ny.Erna sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1407/V/1987 diberikan Hak Pensiun Warakawuri dari alm.Kolonel ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp.

Atas perkawinan A Hamzah Tuppu dengan Ny. Erna Doomik (Ny. Erna Hamzah Tuppu), dikaruniai empat orang anak, masing-masing Haerumy Hamzah tuppu Dg Mudji (sekarang menjabat Ketua Umum ARDIN Kota Makassar), Haerana Naki padjonga Dg Rannu, Ananda Agnes Tuppu Dg Asseng, dan Moh. Tony Nurul Dg Antang.

Ny Erna Hamzah Tuppu (kelahiran Yogyakarta, 11 September 1919) yang dinikahi A Hamzah Tuppu pada tahun 1945 di Jogya, selaiun berdarah ningrat dari paku Alam, juga dalam masa perjuangan kemerdekaan RI aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia di Brigade X 81-D. Untuk itu pemerintah RI juga menganugerahkan kepadanya berupa tanda jasa Bintang Gerilya, Satya Lencana GOM I, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, dan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI golongan A.

Pernikahan antara A hamzah Tuppu dengan Ny Erna, antara lain, disaksika oleh Nototarono, adik ipar dari Paku Alam V. Menurut Ny Erna, suaminya A.Hamzah Tuppu adalah sosok manusia yang tegas memegang prinsip untuk kepentingan nasional.

Dari keempat orang anak yang dilahirkan dari pasngan keluarga A Hamzah Tuppu dan Ny Erna, telah melahirkan 13 cucu, dua di antaranya meninggal dunia.

Semasa hidupnya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang jasa kepada A hamzah Tuppu berupa tanda jasa Bintang gerilya (Dari Presiden Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Garakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 29 januari 1958), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 5 Oktober 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II (dari Menteri pertahanan Djuanda, 5 Oktober 1959), dan Piagam Veteran Golongan A (1964). Dan, Bupati Takalar Drs.H.Zainal Abidin, Msi atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Takalar pada Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-40, 10 Pebruari 2000, secara khusus memberikan Piagam Penghargaan kepada Alm. A Hamzah Tuppu sebagai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Takalar yang dinilai berjasa. Nama alm A Hamzah Tuppu sejak lama diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur. (Mahaji Noesa, Buku: A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)        

Gambar

Perahu Phinisi, Lukisan Bachtiar Hafid, Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Secara fisik kompeni Belanda mampu menghancurkan kekuatan armada bahari Kerajaan Gowa. Juga dapat menghambat perkembangan kemampuan serta membatasi ruang gerak kebaharian orang-orang Makassar, SulawesiSelatan, setelah ditandatanganinya Perjanjian Bongayya, 18 Nopember 1667.

Namun ibarat gelombang laut, jiwa dan semangat bahari orang-orang Makassar seantiasa bergelora dari masa ke masa dalam intensitas yang berbeda sesuai perkembangan masa.

Hal itu terbukti dengantampilnya putra-putra Indonesia kelahiran Makassar sebagai patriot dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan RI. Termasuk dalam bidang kelautan atau kebahariaan.

Dalam lembaran sejarah TNI-AL (Episode Perang Kemerdekaan 1945 – 1950) secara jelas dicatat sejumlah nama dan perjuangan putra-putra Indonesia asal Makassar yang begitu gigih memperjuangkan terbentuknya suatu kekuatanpertahanan Angkatan Laut bagi negara RI di ambang kemerdekaan.

Saat mendekati keruntuhan pendudukan Jepang di Indonesia, bermunculan kelompok-kelompok pemuda yang melakukan pergerakan untuk membantu terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Di antaranya kelompok pemuda Daisangka di Surabaya, Jawa Timur. Pembentukannya dipelopori oleh pemuda-pemuda asal Makassar yang sebelumnya memiliki pengalaman danpengetahuan kebahariaan. Kelompok pemuda Daisangka ini mendapat dukungan latihan kemiliteran dari Kaigun – pemerintahan militer (Angkatan Laut) Jepang yang mendukung terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Dalam bulan Juni 1945 sejumlah pemuda Daisangka dari Surabaya dipimpin A.R.Aris (asal Makassar), R.Sutrisno, L.Mochtar, A.Hamzah Tuppu (asal Makassar), J.Geret, Ny.Bernatje Tuegeh dan Abd. Djalil datang ke Jakarta menemui kolonel Yususumi dari Kaigun Bukanfu di Jakarta, untuk menanyakan situasi terakhir Perang Pasific serta janji pihak Jepang untuk membantu terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Dalam bulan Juli 1945, kelompok pemuda Daisangka ini kembali ke Surabaya, setelah sebelumnya juga menemui sejumlah tokoh pemuda pergerakan  kemerdekaan di Jakarta, seperti Chairul Saleh, Hidayat, Sukarni, Wikabna, dan Chairuddin menanyakan dan meminta petunjuk perihal situasi terakhir upaya pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Setiba kembali di Surabaya, mereka lantas membentuk pasukan yang berasal dari bekas-bekas Angkatan Laut Jepang,pegawai-pegawai pelayaran dan pemuda bahariwan lainnya.

Setelah diproklamirkan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh wakil bangsa Indonesia Soekarno – Hatta, pemuda Daisangka di Surabaya yang beranggotakanbanyak pemuda dari Makassar membentuk sebuah badan yang bersifat kelautan yang menjadi cikal terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Pembentukan badan tersebut dimaksudkan untuk mengadakan perlawanan terhadap rencana kedatangan tentara Sekutu yang didalamnya membonceng tentara NICA ke Indonesia setelah Jepang dinyatakan kalah perang. Semangat perlawanan dari para anggota badan tersebut begitu menggebu-gebu untuk menentang kedatangan tentara Sekutu, sekalipun hanya memiliki peralatan perang yang sederhana. Tugas mereka pun bukan hanya untuk melakukan pertahanan di laut, tapi juga dipersiapkan untuk menjadi kesatuan-kesatuan penggempur di darat.

Personil dari badan tersebut terdiri dari A.R.Aris (asal Makassar) dengan pangkat Laksamana Muda, sebagai komandan tertinggi Angkatan Laut RI saat itu. Dilengkapi perwira staf Kolonel A.Hamzah Tuppu 9asal Makassar), Kolonel Sutrisno, dan Letnan Kolonel Ny.Bernetje Tuegeh. Mereka dibantu sejumlah perwira lainnya, dan segala kegiatan berpusat di Modderlust Ujung, Surabaya.

Melihat adanya gelagat curang terhadap kedatangan tentara Sekutu menggantikan kedudukan Jepang di Indonesia, Presiden Soekarno melalui pidato radio pada 23 Agustus 1945 menyatakan, ‘’Revolusi nasional masih menempuh gelombang hebat.’’ Kepada segenap rakyat Indonesia diperintahkan untuk mengatur persiapan-persiapan serta membantu menjaga keamanan dengan jalan mendirikan Badan Kemanan Rakyat (BKR).

Prajurit-prajurit bekas Peta, Heiho, dan pelaut-pelaut serta pemuda lainnya dianjurkan masuk dan bekerja dalam Badan-badan Kemanan Rakyat tersebut. Pidato presiden yang merupakan perintah dari pemerintah pusat tersebut lantas disahuti dengan pembentukan BKR-BKR di daerah-daerah. Hebatnya, karena anggota-anggota BKR yang terbentuk langsung melengkapi diri dengan berbagai srenjata sehingga berubah menjadi tentara bersenjata. Apalagi di beberapa daerah BKR langsung terlibat melakukan pertempuran-pertempuran saat tentara Sekutu mendarat di Indonesia, yang dimulai pada 8 September 1945. Pada tanggal 10 September 1945 di Jakarta terbentuk pula BKR Laut.

Dengan maklumat No.2/x tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah RI menyatakan secara resmi juga harus membentuk kekuatan bersenjata yang diberi nama TKR (Tentara Kemanan Rakyat) bagian darat dan TKR bagian laut. Pengesahan pembentukan TKR Laut khususnya dilakukan pada 15 Nopember 1945 dengan Pimpinan Markas Tertinggi TKR Laut M. Pardi.

Pembentukan TKR di Jakarta tersebut kemudian diikuti dengan pembentukan TKR bagian laut di sejumlah kota-kota pantai di Indonesia. Meskipunpada daerah-daerah di luar Pulau Jawa dan Sumatera, saat itu, belum terbentuk BKR atau TKR lantaran faktor kesulitan perhubungan serta telah mendaratnya tentara Sekutu.

Pembentukan BKR Laut di Jakarta kemudian disambut hangat oleh kelompok pemuda Daisangka di Surabaya, yang dalam September 1945 juga segera membentuk BKR Laut di Surabaya. Struktur organisasi intinya, terdiri atas Komanda A.R.Aris, Wakil Komandan R.Sutrisno, Kepala Staf L.Mochtar, Kepala Personalia/Pengerahan Tenaga A.Hamzah tuppu, dan anggota Ny.Barnetje Tuegeh dan Abd.Djalil.

Dari BKR/TKR Laut itulah kemudian berkembang menjadi kekuatan pertahanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Dari markas BKR Laut Surabaya inilah mulai dikirim ekspedisi ke Sulawesi dalam rangka pembentukan Angkatan Laut Persiapan Seberang sekaligus memberikan spirit terhadap perjuangan perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan menentang kehadiran tentara Sekutu/NICA. (Mahaji Noesa, Buku : A.Hamzah Tuppu patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)     

Gambar

Lukisan Karaeng Galesong/Sumber: riset Gooogle -linguafranca.info

Menurut Prof Dr Zainal Abidin Farid, pakar budaya Sulsel, selain jenis phinisi, Kerajaan Gowa memiliki ribuan perahu jenis Galle yang mempunyai desain cantik menawan, dikagumi pelaut-pelaut Eropa.

Konstruksi perahu galle bertingkat. Panjangnya ada yang mencapai 40 meter dengan lebar sampai 6 meter. Dalam Lontara Bilang Gowa- Tallo kepunyaan Andi Makkaraka Ranreng Bettempola (alm), perahu galle disebut sebagai perahu tumpangan raja dan pembesar-pembesar kerajaan.

Selain memiliki tiang layar yang besar , setiap galle dilengkapi pendayung 200 sampai 400 orang. Galle-galle tersebut masing-masing diberi nama secara khusus. Seperti I Galle Dondona Ralle Campaga, panjang 25 depa (kl.35 m). I Galle Inyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, masing-masing memiliki panjang 15 depa (kl.27 m). I Galle Kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang, masing-masing memiliki panjang 13 depa (23 m).

Betapa besar serta kuatnya armada laut kerajaan Gowa, antara lain, dapat disimak juga dari catatan lontara. Bahwa pada 30 April 1655 Sultan Hasanuddin berkayuh ke Mandar untuk terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Terdapat 450 buah perahu yang dipakai untuk mengangkut sekitar 15.000 lasykar kerajaan Gowa yang diberangkatkanpada bulan Oktober 1666 ke Pulau Buton, untuk menaklukkan negeri tersebut karena berpihak kompeni Belanda.

Melalui taktik adu domba – Devide et impera, kolonialis Belanda dapat menghancurkan kejayaan dan kekuatan armada kerajaan Gowa. Perjanjian Bongayya (Het Bongaisch Vedrag) yang berhasil dipaksakan untuk ditrandatangani oleh Sultan Hasanuddin pada 18 Nopember 1667, merupakan awal dari kemunduran dan kehancuran kerajaan maritim Gowa. Salah satu dari isi perjanjian yang merugikan pihak kerajaan Gowa, secara jelas menyatakan membatasi pelayaran dan perdagangan orang-orang Makassar.

Lantaran itu, sejumlah panglima dan prajurit kerajaan Gowa menampik ‘Perjanjian Bongayya’ tersebut.,  dengan tetap melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda. Diantaranya, tersebut nama Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong. Keduanya memilih berjibaku melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda.

Karaeng Bontomarannu oleh pihak kompeni Belanda sering dipanggil dengan sebutan Monto Marano adalah putra Karaeng Summanna. Putra berdarah bangsawan kerajaan Gowa ini,pada masa kekuasaan Sultan Hasanuddin (1653 – 1669) mendapat kepercayaan sebagai laksamana – mengawasi kelancaran perhubungan laut dan kapal-kapal dagang kerajaan Gowa yang melakukan pelayaran di perairan Maluku mulai dari Laut Flores di sebelah selatan ke Laut Banda, Laut Buru, dan Laut Maluku. Karaeng Bontomarannu membawahi dua raja sebagai wakilnya, yakni Raja Luwu dan Sultan Bima.

Berkekuatan 70 armada perahu membawa lebih dari 20.000 prajurit kerajaan Gowa, Karaeng Bontomarannu meninggalkan perairan Makassar menuju Pulau Jawa. Banyaknya prajurit kerajaan Gowa bersedia mengikuti perjalanan laksamana tersebut, lantaran dalam rombongan ikut serta Karaeng Galesong.

Karaeng Galesong adalah putra Sultan Hasanuddin. Nama aslinya I Manindori. Kelahiran 29 Maret 1655, dari ibu yang bernama I Lokmo Tobo.

Rombongan bergerak ke Banten (Jawa Barat) dengan maksud untuk meminta bantuan pada Sultan Agung Tirtayasa. Dalam perjalanan yang dipimpin Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong, mereka memerangi setiap kapal kompeni Belanda yang ditemui di Selat Madura, Gresik, Tuban hingga memasuki perairan Banten.

Ketika terdengar kabar terjadi perang antara Trunojoyo dengan Susuhunan (Raja) Mataram, Amangkurat I yang pro kompeni Belanda pada tahun 1672 di Jawa Timur, kedua bangsawan kerjaan Gowa ini tergerak membawa pasukannya meninggalakna Banten untuk memberikan bantuan kepada Trunojoya di jawa Timur.

Dalam perjalanan ke Jawa Timur mereka dihadang oleh armada perang Belanda. Ketika terjadi pertempuran di perairan laut Semarang, Karaeng Bontomarannu gugur. Tapi perjalanan ke arah Jawa Timur terus dilakukan dengan dipimpin oleh Karaeng Galesong. Di Jawa Timur lasykar Makassar lalu bergabung dengan pasukan Trunojoyo melawan pasukan gabungan Amangkurat I dengan kompeni Belanda.

Lasykar Makassar di bawah pimpinan Karaeng Galesong pada tahun 1675 berhasil menguasai tempat-tempat strategis di sepanjang Selat Madura, Pasuruan, Besuki, dan Surabaya.

Beberapa kali Susuhuna Mataram secara khusu mengerahkan prajurit perang untuk mengusir lasykar Makassar pimpinan Karaeng Galesong  yang membantu Trunojoyo, tapi mereka harus mundur akibat mendapat perlawanan sengit.

Kerjasama lasykar Karaeng Galesong dengan pasukan Trunojoyo di Jawa Timur menarik perhatian pimpinan kompeni Belanda di Batavia (Jakarta). Bantuan pasukan pundikirim untuk membantu pasukan Amangkurat I melawan lasykar Karaeng Galesong dan Trunojoyo. Akibatnya, sejumlah armada pasukan Karaeng Galesong berhasil dihancurkan, demikian pula menguasai kembali sejumlah tempat-tempat strategis.

Namun kemudian, pasukan Trunojoyo mampu mengambil alh tempat-tempat strategis yang diduduki pasukan Amangkurat I dibantu pihak kompeni di Jawa Timur. Perlawanan balik ini membuat Susuhunan Mataram bersama putra mahkotanya menambah kekuatan prajurit. Terjadilah pertempuran sengit pada 13 Oktober 1676, menimbulkan banyak korban di pihak Mataram. Termasuk sejumlah pembesar Mataram dan panglima Pangeran Purboyo tewas dalam pertempuran ini.

Dari Batavia kompeni mengirim pasukan perang dipimpin Speelman yang sebelumnya berhasil memporakporandakan kerajaan Gowa, untuk membantu Mataram di Jawa Timur. Sejumlah benteng pertahanan Trunojoyo dan Karaeng Galesong berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Speelman.

Di lain sisi, pasukan Trunojoyo dibantu lasykar Makassar pada 2 Juli 1677 berhasil menduduki ibukota Mataram, Karta (Kraton Plered), menyebabkan Susuhunan Mataram, Amangkurat I melarikan diri dan tak lama kemudian wafat setelah menderita sakit.

Speelman yang berhasil menggalang kekuatan perang pada Nopember 1678 kemudian dapat menduduki Kediri, lokasi pusat pertahanan pasukan Trunojoyo. Trunojoyo sendiri berhasil lolos, melarikan diri dari serbuan pasukan Speelman.

Menyusul satu per satu kubu pertahanan lasykar Makassar di Jawa Timur berhasil ditaklukkan pasukan gabungan Mataram dan Speelman. Mereka melakukan pengepungan terhadap benteng pertahanan Karaeng Galesong yang terletak di Kapar (dekat Porong) selama 7 minggu. Dan, akhirnya pada 21 Oktober 1679 berhasil menerobos barikade pertahanan, dan menguasai benteng tersebut. Karaeng Galesong berhasil meloloskan diri dari pengepungan.

Pertempuran antara pasukan gabungan Mataram dengan kompeni melawan lasykar Karaeng Galesong di jawa Timur kian menjadi-jadi. Karaeng Galesong yang beristerikan Suratna (putri Trunojoyo) akhirnya tewas secara ksatria dalam suatu pertempuran sengit. Trunojoyo pada 27 Desember 1679 pun berhasil ditangkap, kemudian menjalani hukuman mati dengan tusukan keris.

Setelah perang Trunojoya (1676 – 1679) berakhir, sekitar 9.500 lasykar Makassar yang ada di Jawa Timur dikembalikan ke Makassar. Ketika kemudian Untung Srapati tampil melawan kompeni Belanda, masih terdapat sejumlah sisa lasykar Karaeng galesong yang belum kembali ke Makassar tampil bergabung bersama pasukan Untung Surapati di Jawa Timur. Semangat lasykar Makassar, ternyata tak pernah kendor untuk melawan kolonialis. (Mahaji Noesa/A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong,2002)