Posts Tagged ‘takalar’

Gambar

A Hamzah Tuppu/Repro mahaji Noesa

Melalui cuplikan catatan sejarah kebaharian dan sejarah TNI-AL, dapat dipahami betapa besarnya tekad yang menggelora di dada A.Hamzah Tuppu untuk melestarikan jiwa dan semangat bahari seperti yang dimiliki para leluhurnya sebagai orang pelaut.

A.Hamzah Tuppu lahir di Borongcalla, Desa Botosunggu, 20 Agustus 1920 (Berdasarkan riwayat hidup yang dibuat sendiri ketika masih hidup, tertanggal 23 Mei 1964, diketahui Adam Malik dan Bambang Soepeno). Tempat kelahiran A. Hamzah Tuppu itu kini secara administratif masuk Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Galesong pada masa kerajaan Gowa terkenal sebagai lumbung pangan, tempat kelahiran para kesatria kerajaan Gowa, patriot bahari yang tangguh. Pihak kompeni Belanda sendiri baru mampu menerobos kota Somba Opu, pusat kerajaan Gowa pada abad XVII, setelah sebelumnya jatuh bangun melawan prajurit serta menghancurkan benteng pertahanan di wilayah Galesong tersebut.

Pihak kompeni Belanda mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Gowa di Galesong pada 30 Juli 1667. Nanti pada 19 Agustus 1667 setelah dilakukan penyerangan dari darat dan laut, benteng pertahanan Galesong dapat dikuasai kompeni Belanda, lumbung makanan kerajaan Gowa di tempat ini dibumihanguskan.

A.Hamzah Tuppu merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu), termasuk dalam rumpun keluarga Karaeng Galesong.

Menurut Aba Jadjid Bostan Daeng Mama’dja, pemangku hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga keturunan ketujuh dari Syekh Joesuf Tajul Khalwatia Kaddassallahu Sirruhu, sebagai keluarga sejak kecil Amir Hamzah Dg Tuppu (nama lengkap A.Hamzah Tuppu) dibina oleh Karaeng Galesong XVI H.Larigau Dg Manginruru.

Dalam usia sekitar 7 tahun, A. Hamzah Tuppu yangnama kecilnya adalah Cakkua (menurut Bostan Dg Mama’ja, diambil dari nama keris kepunyaan Syekh Yusuf), disekolahkan pada sekolah rakyat (volokschool) di Soreyang. Setahun kemudian dipindahkan ke Sekolah Rakyat Galesong, tinggal bersama Karaeng Galesong di Takalar.

Setamat dari Sekolah Rakyat, ia dipindahkan ke Makassar melanjutkan pendidikan di Inlandsch School. Di Makassar, tinggal bersama sejumlah kawan-kawan di rumah seorang Karaeng Galesong, Ipammusuran Dg Paduni, di Kampong Pisang/Lajangiru. Dari sekolah tersebut ia kemudian masuk seklah Marine (Kelautan), tamat tahun 1936. Setelah itu, hasratnya untuk mengikuti kegiatan militer tidak mendapat dukungan dari Karaeng galesong. A Hamzah Tuppu melanjutkan pendidikan ke sekolah pertanahan Top Gerapt Dienst.

Setamat dari sekolah rakyat ini, ia kemudian bekerja pada kantor Landrente di Makassar. Pada tahun 1938 diangkat menjadi Mantri Landrente, bertugas melakukan pengukuran tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan.

Pergaulan A.Hamzah tuppu semakin meluas. Termasuk menjalin persahabatan dengan seorang warga Jepang bernama Hirata yang berprofesi sebagai juru potret di Makassar. Melalui Avon kursus dia belajar Bahasa Belanda dan mulai melibatkan diri dengan organisasi-organisasi politik yang berupaya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Pada tahun 1941, A. Hamzah Tuppu bersama aktivis pergerakan politik lainnya di Makassar, seperti wahab Tarru, Andi Kanna dan Martua Bangsawang Dg Liwang (Karaeng Takalar) ditangkap oleh Belanda dan ditawan di penjara Sengkang, sekarang ibukota Kabupaten Wajo. Dari tempat ini kemudian dipindahkan ke tempat tawanan Belanda di Pulau Jawa.

Saat Jepang memulai pendudukan di Indonesia pada tahun 1942, A Hamzah Tuppu dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau jawa. Selanjutnya, sekalipun kemudian bekerjasama Jepang di Pulau Jawa tapi dia tetap melanjutkan pergerakan politik untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajahan. Dia melakukan gerakan-gerakan persiapan kemerdekaan RI bersama rekan-rekannya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, serta menggalang tokoh-tokoh pemuda asal Sulawesi Selatan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibuat sendiri A Hamzah Tuppu semasa hidupnya, pada tahun 1942 setelah dibebaskan dari Kamp Garut ia aktif dalam Djawa Hokokay dan Peta jurusan Angkatan Laut. Antara tahun 1945 – 1947 sebagai Kolonel pelaut, aktif dalam pembentukan ALRI pertama di Surabaya. Memimpin KRU X Brigade D-81 pada tahun 1947.

Ketika dilakukan rasionalisasi kepangkatan pada tahun 1948 – 1951, A Hamzah Tuppu dirurunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, dan dia menyatakan mengundurkan diri dengan alasan cita-cita perjuangan kemerdekaan RI telah tercapai.

Tersebut sejumlah nama tokoh yang pernah menjadi kawan setia A Hamzah tuppu semasa hidupnya, seperti Kahar Muzakkar, Andi Selle Mattola, A.A.Rivai, Achmad Lamo, Warrow, Worang, Mursalim Dg Mamangung, Sudomo, Ali Sadikin, Andi Mattalatta, Andi Oddang, Ince Kasim, Suaib pasang, Tisi Efendi Dg Nodjeng, dan Hasan Ralla.

Pada tahun 1950 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Maega di Surabaya. Sepanjang tahun 1952 – 1959 aktif mengorganisir bekas pejuang bersenjata dalam organisasi veteran yang bernama Legiun Veteran RI. Antara tahun 1959 – 1960 dipilih sebagai panasihat Organisasi Veteran Pusat dan daerah.

Lantaran kharismanya sebagai tokoh pejuang asal Sulsel, ia pernah dicalonkan menjadi anggota MPRS Pusat dan diajukan sebagai salah satu calon Gubernur Sulselra pada tahun 1961.

Antara tahun 1961 – 1963 aktif sebagai pengurus Perhimpunan Keluarga Sulawesi di Jakarta, dan menjadi Presiden Direktur NV Usaha AMPRI (Angkatan Muda Pejuang Republik Indonesia). Melalui badan usaha AMPRI, A Hamzah Tuppu membangun perumahan untuk angkatan laut di Makassar.

Dalam kutipan Riwayat Hidup A Hamzah Tuppu yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI-AL Dinas Personil, tertanggal 10 Nopember 1988, disebutkan bahwa A Hamzah Tuppu kelahiran 26 Desember 1920, bergabung dalam kesatuan/kelasykaran BKR/TKR Laut ALRI Pangkalan IV di Tegal antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 31 Desember 1949.

Berdasarkan Surat keputusan Kasal Nomor: Skep/3400/XII/1979 tangga 12 Desember 1979 diberhentikan dengan hormat dangan Hak Onderstand terus menerus. Ditetapkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui SK Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No.96/Kpts/MUV/1964 tanggal 15 September 1964.

Berdasakan SK Kasal No.Skep/245/I/1980 tanggal 19 Januari 1980 diberikan Hak Onderstand terus menerus kepada Letkol ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp. Sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1573/VI/1982 tanggal 18 Mei 1982 diberikan pemberhentian/kenaikan pangkat luar biasa dari pangkat Letkol menjadi Kolonel atas nama Kolonel ALRI A Hamzah tuppu Non Nrp.

Putra asa Sulsel, patriot bahari titisan Karaeng Galesong, A Hamzah Tuppu menghembuskan nafas terkahir pada tangga 30 Juni 1986 di jakarta. Jenazahnya dimakamkan dalam suatu upacara militer di TMP Kalibata, Jakarta. Isteri almarhum, Ny.Erna sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1407/V/1987 diberikan Hak Pensiun Warakawuri dari alm.Kolonel ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp.

Atas perkawinan A Hamzah Tuppu dengan Ny. Erna Doomik (Ny. Erna Hamzah Tuppu), dikaruniai empat orang anak, masing-masing Haerumy Hamzah tuppu Dg Mudji (sekarang menjabat Ketua Umum ARDIN Kota Makassar), Haerana Naki padjonga Dg Rannu, Ananda Agnes Tuppu Dg Asseng, dan Moh. Tony Nurul Dg Antang.

Ny Erna Hamzah Tuppu (kelahiran Yogyakarta, 11 September 1919) yang dinikahi A Hamzah Tuppu pada tahun 1945 di Jogya, selaiun berdarah ningrat dari paku Alam, juga dalam masa perjuangan kemerdekaan RI aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia di Brigade X 81-D. Untuk itu pemerintah RI juga menganugerahkan kepadanya berupa tanda jasa Bintang Gerilya, Satya Lencana GOM I, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, dan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI golongan A.

Pernikahan antara A hamzah Tuppu dengan Ny Erna, antara lain, disaksika oleh Nototarono, adik ipar dari Paku Alam V. Menurut Ny Erna, suaminya A.Hamzah Tuppu adalah sosok manusia yang tegas memegang prinsip untuk kepentingan nasional.

Dari keempat orang anak yang dilahirkan dari pasngan keluarga A Hamzah Tuppu dan Ny Erna, telah melahirkan 13 cucu, dua di antaranya meninggal dunia.

Semasa hidupnya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang jasa kepada A hamzah Tuppu berupa tanda jasa Bintang gerilya (Dari Presiden Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Garakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 29 januari 1958), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 5 Oktober 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II (dari Menteri pertahanan Djuanda, 5 Oktober 1959), dan Piagam Veteran Golongan A (1964). Dan, Bupati Takalar Drs.H.Zainal Abidin, Msi atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Takalar pada Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-40, 10 Pebruari 2000, secara khusus memberikan Piagam Penghargaan kepada Alm. A Hamzah Tuppu sebagai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Takalar yang dinilai berjasa. Nama alm A Hamzah Tuppu sejak lama diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur. (Mahaji Noesa, Buku: A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)        

bilibili

Bendungan Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Foto:Armin Sulfikar Yahya)

Peringatan waspada ancaman banjir dan longsor Gunung Bawakaraeng dalam puncak musim hujan di Sulsel antara Desember 2012 – Pebruari 2013 dari BMKG Pusat, ternyata bukan prakiraan biasa. Sudah ada rekahan-rekahan besar berpotensi runtuh di dinding kaldera gunung berketinggian lebih 2.830 dpl yang berlokasi di hulu Sungai Jeneberang tersebut.

Awal Pebruari 2013 pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) merilis informasi kepada wartawan di Makassar, ada tanda-tanda kuat akan terjadi runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng. Beberapa bagian sudah merekah dan bisa saja tiba-tiba runtuh atau longsor apabila tertimpa hujan berintensitas tinggi.

Runtuhan pertama Gunung Bawakaraeng terjadi 26 Maret 2004 menimbun jurang sedalam 600 meter selebar 2 kilometer. Runtuhan Bawakaraeng ini merupakan peristiswa terbesar kedua di dunia setelah peristiwa longsoran kaldera Tateyama, Jepang, tahun 1985 dengan estimasi volume runtuh sekitar 400 juta kubik. Sedangkan volume runtuhan Gunung Bawakaraeng lebih dari 230 juta kubik.

Longsoran Bawakaraeng tersebut menimbun alur Sungai Jeneberang dengan mata air utamanya yang menjadi sumber air Dam Bilibili yang mulai berfungsi sejak tahun 1999 di bagian hilirnya. Akibatnya, dam multifungsi yang dibangun dengan dana pinjaman luar negeri sekitar Rp 780 miliar itu mengalami kemerosotan fungsi-fungsinya sebagai waduk pengendali banjir, penyedia air irigasi, PLTA, pemasok sumber air baku, kolam perikanan, dan obyek wisata.

Bayangkan, perut bendungan yang dirancang berdaya tampung air 346 juta kubik tersebut kini sudah terisi sekitar 82 juta kubik lumpur. Lumpur yang masuk tersebut berasal dari material runtuhan Bawakaraeng tahun 2004. Artinya, jika dirata-ratakan setelah 14 tahun longsornya Bawakaraeng, maka ada sekitar 6 juta ton lumpur yang masuk ke perut bendungan setiap tahun.

Padahal, pascalongsor Bawakaraeng 2004 sudah juga dialokasikan dana lebih dari Rp 450 miliar untuk membangun beberapa sabo dam penghambat percepatan sedimen ke perut bendungan dan sejumlah sand pocket atau kantong-kantong penahan pasir. Namun laju pergerakan material tetap saja volumenya dari tahun ke tahun membesar bergerak masuk perut bendungan yang memiliki luas genangan 16,5 km.

Sejumlah kalangan menghitung, jika tahun-tahun mendatang dengan upaya-upaya maksimal tetap saja  dihitung rata-rata 10 juta kubik material akan masuk ke perut bendungan setiap tahun, maka dalam waktu 10 tahun lagi dam Bilibili sudah tak mampu menjalankan fungsi-fungsinya sebagaimana rancangan awalnya. Seperti sebagai penyedia air irigasi untuk seluas 25 ribu hektar persawahan, PLTA 16,3 MW, dan penyedia sumber air baku 3.300 liter/detik. Demikian halnya sebagai dam pengendali banjir yang awalnya dirancang dapat mengurangi sapuan banjir lebih dari 2000 meterkubik/detik.

Sekarang saja hitungan-hitungan itu sudah melorot jauh dari disain awalnya. Bahkan bendungan yang dibangun atas kerjasama pihak Japan International Coorperation Agency (JICA) dengan rancangan usia 50 tahun, diperkirakan sudah tak berfungsi sebelum memasuki usia 30 tahun. Hitungan itupun dengan catatan apabila secara kontinyu dilakukan upaya keras penanggulangan pergerakan sedimen longsoran ke perut dam Bilibili yang dibangun dengan kemampuan tampung sedimen maksimal 29 juta kubik.

Adi Umardani, pejabat pembuat komitmen pengendalian sedimen Bawakaraeng mengatakan saat ini dibutuhkan 7 sabo dam serta 5 dam pengendali dalam upaya mengendalikan pergerakan material ke dalam bendungan Bilibili. Untuk itu dibutuhkan biaya ratusan miliar.

Dalam kondisi dam Bilibili senantiasa terancam kehilangan fungsi-fungsi pascalongsor Bawakaraeng 2004, belum pernah ada pihak terkait yang menganalisasi layak atau tidaknya untuk tetap menghambur duit beratus miliar setiap tahun di alur Sungai Jeneberang atas nama penyelamatan dam Bilibili dan ancaman banjir ke wilayah Makassar, Gowa, Maros, dan Takalar seperti yang pernah terjadi tahun-tahun 70-an saat bendungan Bilibili belum dibuat.

Ironisnya, seiring dengan usulan tambahan pembangunan sabo dam dan sands pocket di alur Sungai Jeneberang demi penyelamatan dam Bilibili, pihak berkompeten di BBWSPJ pun mengungkap, saat ini ada retakan-retakan di sisi barat Gunung Bawakaraeng yang berpotensi longsor seperti longsoran tahun 2004. Tidak main-main, ancaman longsor susulan itu diperkirakan volumenya antara 90 juta hingga 150 juta kubik.

Tidak ada penjelasan pasti kapan longsor susulan Bawakaraeng dapat terjadi. Ir.Haeruddin C Maddi, Kepala Satker PSDA BBWSPJ Sulsel mengatakan, jika hujan turun dengan intensitas tinggi warga di sekitar kaki Gunung Bawakaraeng harus waspada karena retakan-retakan yang ada di Bawakaraeng sekarang bisa saja tiba-tiba runtuh.

Artinya, jika runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng terjadi tahun depan atau besok misalnya, maklum tak bisa diprediksi waktunya, maka cerita upaya penanggulangan dengan ratusan miliar dana yang telah, sedang dan akan dialokasikan ke alur Sungai Jeneberang harus terkubur sia-sia dengan longsoran bencana susulan yang memang sudah dinanti di dam Bilibili. (Mahaji Noesa/Koran Independen Edisi 22, 18 – 24 Februari 2013/http://www.independen.co/news/humaniora/lingkungan/item/1716-bendungan-bilibili-menanti-longsor-susulan) 

 

Gambar

Tampak salah satu penjual jagung muda di Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Selain penjual terompet dan kembang api, sejumlah jalan protokol di kota Makassar, Senin (31/12) diramaikan dengan penjual jagung muda.

Para penjual jagung muda tersebut terlihat bertebaran di ruas-ruas jalan protokol seperti di Jl. Sultan Alauddin, Jl.Urip Sumoharjo, Jl. Cenderawasih, Jl. Ratulangi, Jl. AP Pettarani, dan sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan. Selain itu, di tepian ruas-ruas jalan yang ada di sekitar pasar-pasar tradisional terdapat banyak penjual jagung muda.

Jagung-jagung muda tersebut, menurut penjelasan sejumlah penjual sekitar Pasar Pabaeng-baeng  di Jl. Andi Tonro, berasal dari sejumlah daerah di selatan Makassar, seperti  Kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto yang saat ini lagi musim panen jagung.

Hampir semua titik penjualan jagung muda terlihat laris-manis ramai dikerumuni pembeli. ‘’Sejak hujan pagi hari sudah banyak orang datang membeli jagung muda. Sudah lebih 15 ikat jagung saya yang laku,’’ jelas Dg Aru, seorang penjual  jagung muda di tepi Jl Mesjid Raya, Senin (31/12) siang.

Seikat jagung yang berisi 15 – 20 biji jagung muda dijual seharga Rp 20.000. Ada juga yang menjual eceran seharga Rp 2.000 sebuah jagung muda.

‘’Untuk dibakar dan direbus ramai-ramai nanti malam menunggu datangnya tahun 2013,’’ kata seorang ibu dari wilayah Kecamatan Mariso yang membeli 3 ikat jagung muda di Pasar Terong Makassar.

Gambar

Penjual jagung muda laris manis di Jl Mesjid raya, Pasar Terong Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Langit kota Makassar sejak Senin pagi di akhir Desember 2012 mendung, bahkan terjadi gerimis di sejumlah tempat. Lepas tengah hari, ketika udara mulai kelihatan cerah, terlihat sejumlah jalan sudah dipadati kendaraan. Dalam malam menyambut pergantian tahun 2012 ke 2013 diperkirakan ratusan ribu kendaraan sepeda motor maupun mobil dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan akan memasuki kota Makassar.

Pihak Kepolisian Polrestabes Makassar sebelumnya sudah menghimbau mereka yang akan nginap di hotel-hotel sekitar Pantai Losari untuk sudah masuk satu hari sebelum hari H. Lantaran mulai pukul 17.00 wita semua jalan dalam radius 1 km yang mengarah ke Pantai Losari akan ditutup dari semua jenis kendaraan, dan baru akan dibuka pukul 8.00 pagi, Selasa, 1 Januari 2013.

Pemerintah kota Makassar tidak menyediakan acara hiburan khusus menyambut pergantian tahun di Pantai Losari. Akan tetapi, jika tak hujan pantai kebanggaan warga dan pemerintah kota Makassar tersebut diperkirakan akan dijejali sampai 200-an ribu orang pada malam menyambut datangnya Tahun Baru 2013. Lebih dari 4.000 personil kepolisian telah disiagakan untuk menjaga kelancaran dan keamanan suasana malam pergantian tahun di Kota Makassar.

Jika tak hujan, malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di kota Makassar diperkirakan akan meriah di semua sudut.  Hal itu bisa dilihat dari kepadatan tingkat hunian hotel-hotel. Lebih dari 6.000-an kamar hotel di kota Makassar sudah ter-booking beberapa hari sebelumnya. Larisnya penjualan terompet, kembang api serta jagung muda, mengindikasikan warga kota Makassar sampai ke lorong-lorong akan bersuka ria dalam malam menyambut  datangnya  Tahun Baru, 1 Januari 2013.

Sejumlah komunitas dalam malam menyambut datangnya tahun 2013 melakukan kegiatan religius berupa acara zikir bersama di Kota Makassar.  (Mahaji Noesa/Independen.co/31 Desember 2012)

Gambar

Armada nelayan di kanal muara Sungai Jeneberang (Foto: Mahaji Noesa)

Entah sejak kapan muara Sungai Jeneberang, tak jauh ke arah timur Jembatan Barombong, Makassar, dijadikan pangkalan armada para nelayan. Di hari-hari cuaca normal, kegiatan keluar masuk armada perahu motor nelayan melintas di bawah jembatan Barombong menjadi pemandangan syur spesifik yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah perkotaan apalagi yang berstatus sebagai kota metropolitan.

Selain sebagai tempat bongkar-muat, lokasi kanal yang bersisian dengan alur sungai di muara Jeneberang pada saat musim hujan antara Oktober – Pebruari setiap tahun dijadikan sebagai  tempat menambat perahu para nelayan.  Nelayan yang menepikan armada  di sini bukan hanya  dari perairan pantai Makassar, tapi juga nelayan dari Kabupaten Takalar dan Jeneponto.
‘’Bulan Desember setiap tahun biasanya selalu musim hujan, angin kencang dan laut bergelombang. Kita isterahat, biasanya sampai masuk bulan Pebruari tahun berikutnya,’’ jelas seorang nelayan.Gambar

Nelayan menepi akhir tahun melengkapi keindahan panorama alam di muara Sungai Jeneberang. Pemerintah dan warga kota metropolitan Makassar boleh berbangga wilayahnya jadi lintasan muara sungai besar Jeneberang yang berhulu sekitar 130 km ke arah timur Kabupaten Gowa.

Gambar

Armada nelayan menepi (Foto: Mahaji Noesa)

Gambar

Jejeran perahu motor nelayan yang ditambat di kanal muara Sungai Jeneberang (Foto: Mahaji Noesa)

Gambar

Belum banyak yang tahu, di muara Sungai Jeneberang di sekitar lokasi Jembatan Barombong , kecamatan Tamalate, sekitar 7 km ke arah tenggara pantai Losari Kota Makassar, setiap pagi dapat dinikmati keindahan matahari terbit (sunrise) di arah timur di atas alur sungai dengan latar barisan pegunungan wilayah Kabupaten Gowa. Dari titik yang sama di sekitar jembatan ini sore hari dapat disaksikan keindahan sempurna matahari terbenam (sunset) di arah barat hamparan laut lepas Selat Makassar.

Bila saja kelak bermunculan hotel-hotel di sekitar lokasi muara Sungai Jeneberang yang saat ini masih terlihat lengang, dipastikan akan menjadi ikon menarik diminati banyak pelancong antarnegara. Soalnya, tidak banyak kota di dunia yang memiliki lokasi dapat menyaksikan sunrise sekaligus keindahan sunset seperti  di muara Sungai Jeneberang,  sekitar jembatan Barombong, Kota Makassar.

Foto024

Sunrise di muara Sungai Jeneberang(Foto: Mahaji Noesa)

Sunrise di muara Sungai Jeneberang(Foto: Mahaji Noesa)

Gambar

Salah satu areal persawahan di Kecamatan Tamalate, Makassar akan dijadikan areal pemukiman?Foto: Mahaji Noesa

Tanpa melihat foto-foto dokumen atau mendapat penuturan dari para orang tua, warga kota yang kini berusia 25 tahun tidak akan mengetahui jika wilayah Pemukiman, Perdagangan dan Perhotelan di Kawasan Panakkukang yang ramai dan sibuk di Kota Makassar sekarang sebelumnya merupakan areal persawahan.

Areal di timur Kota Makassar tersebut dahulu masuk wilayah Kabupaten Gowa dan sebagian lagi merupakan wilayah Kabupaten Maros. Namun seiring dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 1971 yang mengubah nama Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi Ujungpandang, dilakukan perluasan wilayah kota dari hanya sekitar 24 km bujursangkar menjadi 175,79 km bujursangkar.

Kebijakan yang terjadi di era H.M.Dg.Patompo sebagai Walikota Makassar itu, kota yang tadinya hanya menempati areal bagian barat pesisir pantai Selat Makassar, kemudian dikembangkan ke arah timur dan arah selatan arah Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.

Dua wilayah kabupaten yang masuk pengembangan Kota Makassar awalnya sebagian besar merupakan areal persawahan. Namun seiring dengan pesatnya pengembangan pembangunan kota yang pada tahun 1999 dikembalikan namanya dari Kota Ujungpandang menjadi Kota Makassar, sawah-sawah tersebut secara perlahan kemudian berubah menjadi lahan pemukiman, perkantoran, industri dan perdagangan.

Salah satu areal persawahan yang masih tersisa dalam wilayah Kota Makassar saat ini dapat disaksikan di wilayah selatan, yaitu di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate. Diperkirakan saat ini masih terdapat sekitar 300 hektar sawah yang secara rutin ditanami padi setiap tahun.

Namun, dari sejumlah penuturan dengan sejumlah petani penggarap sawah di Kelurahan Barombong, mereka memperkirakan dalam waktu tidak terlalu lama lagi sawah-sawah yang ada di bekas wilayah Kabupaten Gowa ini juga akan habis, berubah menjadi kawasan pemukiman.

‘’Pemilik sawah di sini umumnya sudah siap untuk menjual sawahnya kepada siapa saja apabila harganya cocok,’’ kata seorang petani penggarap sawah yang lagi panen di sekitar Timbuseng, Kelurahan Barombong. Kemudian menunjuk sejumlah papan bicara di tepi-tepi sawah yang menyatakan ‘Sawah Ini Dijual’.

Berdasarkan suatu pendataan yang dilakukan tahun 2006, lahan pertanian yang ada di Kelurahan Barombong masih lebih dari 700 hektar. Lahan yang didominasi areal persawahan itu mulai ada yang dialihfungsikan tahun 2008, sehingga menyusut tinggal 580 hektar lebih. Tahun 2009 berkurang menjadi sisa 480 hektar, dan tahun 2010 terdata tinggal sekitar 350 hektar sawah di Kelurahan Barombong.

Sawah-sawah yang masih terlihat terolah sekarang di Barombong, menurut penuturan sejumlah warga di Lingkungan Bontoa dan Lingkungan Kaccia Barombong, sebagian besar juga sudah terjual hanya belum ditimbun dan dibanguni. Selain dibeli oleh perorangan, banyak tanah persawahan telah dipindahtangankan kepada develover untuk pembangunan kawasan pemukiman. Termasuk untuk pembangunan tempat rekreasi dan hotel. Justru saat ini sebuah lokasi hiburan dan rekreasi Kolam Pancing Ikan berstandar dalam proses perampungan yang menimbun sawah sekitar 3 hektar di Lingkungan Timbuseng, Barombong.

Selain sudah dibangun ribuan unit perumahan berbagai tipe di sejumlah lokasi yang menimbun lahan-lahan persawahan di Barombong. Pihak pemerintahan Kelurahan Barombong tahun 2012 ini menyatakan telah dihubungi banyak developer mengajukan keinginan untuk membangun kawasan perumahan baru di lokasi yang kini masih merupakan areal persawahan.

‘’Sekarang sudah ada 16 developer yang berkeinginan untuk membuka kawasan perumahan baru di Kelurahan Barombong,’’ jelas Lurah Barombong dalam suatu pertemuan dengan warga di Komplek Perumahan Pesona Barombong Indah beberapa waktu lalu.

Jika masuk wilayah Kelurahan Barombong sekarang, di antara hamparan lahan persawahan tampak hampir semua areal memang sudah terpancang umbul-umbul dari developer atau pengembang pertanda areal tersebut akan dibanguni perumahan.

Gonjang-ganjing pemerintah tak menyediakan lagi KPR bersubsidi untuk pembangunan rumah dengan nilai jual di bawah Rp 70 juta, tampak tak menyurutkan aktivitas para pengembang melakukan penimbunan lahan persawahan untuk pembangunan perumahan di wilayah Kelurahan Barombong. Bahkan akibat kehadiran armada truk hingga sepuluh roda siang malam melakukan pengangkutan material timbunan dalam dua bulan terakhir, sejumlah ruas jalan bekelas kecil di Kelurahan Barombong, seperti Jalan Permandian Alam, Jalan Perjanjian Bungaya, dan Jl. Mappakainga aspalnya rusak berantakan.

Gambar

Persawahan di Jl.Mappakainga Makassar siap dibanguni perumahan/Foto: Mahaji Noesa

Menurut warga di lingkungan Sumanna, wilayah Kelurahan Barombong yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar, saat ini pasaran harga jual tanah di masyarakat antara Rp 150 ribu hingga Rp 200.000 per meter.

Lima tahun lalu, menurut warga di Lingkungan Timbuseng masyarakat menjual tanah persawahannya antara Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per meter. Saat ini harga jual kelebihan tanah oleh develover kepada para user perumahan yang ada di sekitar Lingkungan Timbuseng sudah dipatok Rp 400.000 per meter.

Sawah-sawah penduduk yang ada di Lingkungan Barombong, Bungaya, Pattukangang, Bonto Kapeta, Bontoa, Kaccia, Sumanna, Timbuseng dan Banyoa di Kelurahan Barombong diperkirakan akan senasib dengan areal persawahan yang ada di utara dan timur Kota Makassar yang telah berubah menjadi kawasan pemukiman, perkantoran, pendidikan, perdagangan, bisnis, industri dan wisata.

Daya tarik wilayah Kelurahan Barombong untuk menjadi pusat pengembangan kawasan baru di selatan Kota Makassar diperkirakan akan lebih cepat dan lebih pesat dibandingkan dengan pengembangan Kawasan Panakkukang maupun Tamalanrea dan sekitarnya. Mengingat, Kelurahan Barombong merupakan pintu gerbang Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.

Selain posisi strategis tersebut, magnit penarik pemukim dan pebisnis berebut lahan di Barombong saat ini lantaran wilayahnya yang bersisian langsung dengan Kawasan Pemukiman, Bisnis dan Wisata Tanjung Bunga yang kini sedang bertumbuh. Apalagi Kelurahan Barombong sebentar lagi akan menjadi pusat perhatian dengan kehadiran sebuah stadion bertaraf internasional dengan kapasitas hingga 60.000 penonton. Pembangunan venu modern kebanggaan masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan tersebut direncanakan sudah dapat diresmikan tahun 2013 mendatang.

Sudah ada bayangan kuat, sebentar lagi areal persawahan terakhir di Kota Makassar yang ada di Kelurahan Barombong juga akan ludes. (Mahaji Noesa/Kompasiana,2 April 2012/HL)

IMG00103-20121004-0920

Daeng becak Makassar menanti penumpang/Foto: Mahaji Noesa

 

Banyak pengayuh becak yang lebih akrab dipanggil Daeng Becak tak punya tempat kediaman di Kota Makassar. Mereka adalah warga urban, berasal dari wilayah tetangga ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, seperti dari Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto dan Maros. Daeng-daeng Becak tersebut setiap malam tidur di becak, berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lain yang dianggap aman.

Selama tiga malam berturut, ketika sengaja berkeliling pada dini hari ke sejumlah jalan di Kota Makassar, menemukan puluhan Daeng Becak yang begitu asyik tidur melengkung dan berbagai variasi tidur lainnya di becaknya. Jumlah daeng becak yang setiap malam tidur di becaknya kemungkinan dapat mencapai ratusan orang.

Soalnya dari sekitar 15 ruas jalan yang ditelusuri dini hari selama 3 malam saja, ditemui puluhan Daeng Becak yang tidur di becaknya. Yaitu di sepanjang Jalan Veteran, Jl.Penghibur, Jl.Sultan Alauddin, Jl. Sultan Hasanuddin, Jl. Tentara Pelajar, jalan-jalan seputar Makassar Mall (Pasar Sentral), Jl.AP.Pettarani dan Jl. G.Latimojong serta jalan-jalan sekitarnya.  Di Kota Makassar yang belakangan juga dijuluki sebagai ‘Kota Daeng’  terdapat lebih dari seribu ruas jalan.

Para Daeng Becak umumnya ditemukan tidur di becak yang diparkir emper-emper toko dan kios K-5, halaman rumah dan perkantoran, dan bahkan di tepi jalan.

Seperti seorang tukang becak yang dijumpai dinihari tidur asyik di atas becaknya yang diparkir di dekat halte bus pengangkutan ke Trans Studio di selatan Jl. Penghibur , depan Rumah Jabatan Wali Kota Makassar.

‘’Kalau tengah malam di sini sunyi, tidak ada gangguan. Tapi pagi-pagi sekali harus cepat bangun karena jalanan cepat ramai, ‘’ kata Dg. Laja (bukan nama sebenarnya).

Lelaki berusia 48 tahun yang tak mau menyebutkan nama sesungguhnya juga nama kampung tempat asalnya kecuali menyebut dari wilayah Kabupaten Takalar, mengaku sudah sejak tahun 90-an jadi ‘Paggoyang’ (Bhs. Makassar, berati tukang becak). Selama itu, katanya, ketika masuk Kota Makassar, kalau malam tidur di becak, lantaran dia tidak punya sanak famili yang punya rumah di Kota Makassar.

Setiap hari Sabtu Dg Laja pulang ke kampungnya, menemui isteri dan 3  anaknya. Biasanya, katanya, dia membawa uang hasil  Pagoyangnya untuk keluarga  Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Dia mengaku, punya rumah dan lahan pertanian yang ditunggui isteri dan keluarganya di kampung. Setiap hari Senin dia  kembali lagi untuk mengayuh becak yang disewa dari teman-temannya Rp 5.000 sehari  di Kota Makassar. Kecuali musim tanan atau musim panen padi, Dg Laja biasanya istirahat hingga 10 hari di kampungnya yang diakui berjarak sekitar 60 km dari Kota Makassar.

Kisah hampir sama diceritakan  5 Daeng Becak lainnya asal Gowa dan Jeneponto,  yang ditemui tidur di becak di tepi-tepi jalan Kota Makassar. Mereka umumnya selain hanya menyebut daerah asal, rata-rata berkeras tak mau menyebutkan nama kampung maupun nama dirinya yang sebenarnya.

Namun dari dialog-dialog singkat dengan mereka, diketahui, untuk urusan mandi sehari-hari dalam kehidupan nomaden bersama becaknya, biasanya menumpang di sumur teman atau pipa air warga yang terbuka.

‘’Saya selama ini kalau mau mandi pagi ke Jalan Landak Baru dekat lampu merah, di sana ada kran air,’’ jelas Daeng Becak yang ditemui masih asyik melengkungkan tubuh di becaknya yang diparkir di emperan salah satu perkantoran di Jl. Veteran Selatan.

Dalam dialog dengan sejumlah Daeng Becak nomaden tersebut, umumnya mengakui untuk urusan ‘beol’ mereka sudah punya lokasi tertentu yang tersedia air untuk membilas, seperti selokan atau tepi pantai.

Kota Makassar di masa Walikota Abustam pernah memiliki sampai 50-an ribu becak. Bahkan lantaran banyaknya armada becak, Pemkot Makassar pernah membagi pembatasan operasi  dengan sebutan ‘Becak Siang’ (warna kuning) dan ‘Becak Malam’ (warna biru).

Sejak beroperasinya Becak Bermotor (Bentor) sejak 5 tahun lalu di Kota Makassar, jumlah becak tradisional tampak makin berkurang di Kota Makassar.  Mereka terdesak dengan minat warga yang lebih banyak memilih Bentor untuk rute angkutan yang dulunya dilayani becak. Lagi pula, banyak ‘pagoyang’ becak yang kini justru menjadi pengemudi Bentor.

Saat ini, diperkirakan sudah ada sekitar 9.000-an unit Bentor yang setiap hari beroperasi di Kota Makassar. Kehadiran Bentor tersebut telah menggeser bahkan mempersempit ruang gerak operasi para ‘pagoyang.’ Selain masih bayak ‘pagoyang’ nomaden tidur di becak pada malam hari, sekarang siang hari terlihat banyak Daeng Becak ngantuk bahkan tertidur di becak lantaran minim penumpang. Warga pun kini banyak yang memilih Bentor untuk angkutan yang dulunya dilayani becak dari jalan hingga ke lorong-lorong.

Dari sebuah catatan laporan perjalanan seorang wartawan Jepang tahun 1937 ke Kota Makassar, diketahui jika becak Makassar yang ukurannya agak kecil itulah yang awalnya diperkenalkan ke Jakarta. Hingga ibukota negara RI pernah diserbu hingga ratusan ribu angkutan becak, dan kemudian dengan susah payah diperangi guna menjadikan Jakarta sebagai ‘Daerah Bebas Becak’ seperti sekarang ini.

Tidak salah jika dalam pekerjaan revitalisasi Pantai Losari untuk pembuatan anjungan Bugis-Makassar sekarang ini, di dalamnya juga Pemkot Makassar juga membangun sebuah Monumen Becak Makassar. Pasalnya, lambat atau cepat, becak Makassar akan tergusur zaman terutama dengan kehadiran Bentor, sejenis kendaraan becak dimotorisasi yang mulanya hanya digunakan masyarakat di wilayah Gorontalo. (Mahaji Noesa/Kompasiana/Kompas, 10 Oktober 2012)