Posts Tagged ‘taman’

Taman Baca di lokasi Pantai Toronipa/Ft: Mahaji NoesaSekelompok anak-anak usia sekolah dasar mengusik seekor binatang Kuskus yang merayap lambat di pucuk pohon cemara angin di Pantai Toronipa, Kamis (4/9/2014) siang. Sejumlah pengunjung pantai di Kecamatan Soropia kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara ikut menyaksikan gerakan lelet kuskus endemik Sulawesi itu berpindah-pindah di jejeran cemara angin yang seolah memagar Pantai Toronipa.

Pantai yang berbatasan langsung dengan alam pegunungan hanya berjarak sekitar 15 km dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Warga desa Toronipa dan sejumlah desa lain yang masuk kecamatan Soropia apabila hendak berurusan ke Unaaha, ibukota kabupaten Konawe memilih jalan terdekat melalui kota Kendari. Kota Kendari ke Unaaha berjarak sekitar 60 km.

Lagi pula setiap hari–pagi hingga sore hari, terdapat angkutan penumpang umum (pete-pete) rute Pasar Sentral Kota Lama (kota Kendari) ke Soropia (kabupaten Konawe) dengan tarif Rp 10.000 per orang.

Tak hanya tertarik dengan kuskus, para pengunjung siang itu memperhatikan tingkah kelompok anak-anak pengusik kuskus karena masing-masing terlihat  membawa dan sesekali meniup suling bambu.

Seorang warga sekitar menjelaskan, anak-anak tersebut berasal dari perkampungan etnik Bajo di arah selatan tempat rekreasi Pantai Toronipa, beberapa waktu sebelumnya ikut meramaikan permainan musik bambu dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan RI di Soropia, ibukota kecamatan Soropia. Mereka kemungkinan masih terkesan dengan permaianan musik bambu sehingga masih enggan melepas suling yang digunakan.toro2

Lebih menarik lagi, menurut Hasni, anak-anak dari perkampungan Bajo sebelum mengusik kuskus siang itu baru saja menyimak sejumlah buku koleksi di Taman Bacaan Pantai Toronipa. Nah…luar biasa kan…..

Di pojok utara lokasi tempat rekreasi Pantai Toronipa yang indah menawan terdapat sebuah rumah panggung kayu berukuran 5 x 6 meter sengaja dibuat sebagai perpustakaan bagi pengunjung Pantai Toronipa diberi nama Taman Bacaan Pantai Toronipa.

Namun begitu taman bacaan ini kemudian terbuka gratis untuk umum. Awalnya, taman bacaan ini hanya dikunjungi sebatas beberapa pengunjung Pantai Toronipa saat hari Minggu atau hari-hari libur lainnya.

Belakangan justeru setiap hari tak pernah sepi dikunjungi anak-anak terutama dari pemukiman suku Bajo. Sekitar tempat rekreasi Pantai Toronipa terdapat 5 desa berpenduduk etnik Bajo, yaitu desa Bokori, Bajoe, Mekar, Leppe, dan Bajo Indah.toro3

Ina, seorang wanita penjual ikan di poros jalan Desa Mekar mengatakan, awalnya orang Bajo hanya menempati wilayah pemukiman di pantai Desa Leppe. Mereka adalah orang Bajo penghuni Pulau Bokori yang di-resettle ke daratan pesisir pantai Leppe.

Maklum, ketika Pulau Bokori masih berada dalam wilayah Kabupaten Kendari, Pemkot Kendari di tahun 70-an berencana mengembangkan pulau pasir yang permukaannya timbul tenggelam mengikuti pasang surut air laut sebagai lokasi penelitian dan wisata pulau.

Sekarang Pulau Bokori yang sudah tak berpenghuni dan 4 desa Bajo lainnya yang berimpitan dengan desa Leppe (salah satunya juga diberi nama desa Bokori)  masuk wilayah administratif kecamatan Soropia kabupaten Konawe.

Taman Bacaan Pantai Toronipa baru dibuka Januari 2014 oleh pemilik tempat Rekreasi Pantai Toronipa Brigjenpol (P) Drs Edhi Susilo Hadisutanto,SH, MBA, mantan Kapolda Sulawesi Tenggara periode 2004 – 2006.

Menurut Hasni, sang ibu penjaga perpustakaan, sejumlah pengunjung menyarankan agar koleksi taman baca diperkaya dengan buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan anak didik khususnya sekitar lokasi taman baca. Koleksi sekarang kebanyakan berupa buku dan majalah umum dari koleksi pribadi sang pemilik.

Sejak didirikan, menurut Hasni tak pernah ada aparat perpustakaan kabupaten Konawe maupun petugas perpustakaan umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang datang melirik apalagi menyumbangkan buku ke Taman Baca Pantai Toronipa. Padahal kehadiran taman baca serupa Taman Baca Pantai Toronipa dibicarakan sejumlah pengunjung yang pernah mampir, dapat dijadikan model dalam menggalakkan serta menggenjot minat baca masyarakat. (Mahaji Noesa, kreport kompas.com 4 September 2014)

Gambar

Tampak arah timur Teluk Kendari/Foto: google – buminusantara.blogspot.com

Teluk Kendari – Laut Banda yang menyusup daratan Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), merupakan suatu anugerah Tuhan yang tiada bandingannya.

Betapa tidak, Teluk Kendari yang membujur dari timur ke barat sepanjang lebih 10 kilometer dengan lebar bentangan bervariasi antara 400 hingga 1.200 meter (ukuran perkiraan lebih kurang – pen), menjadi pembeda spesifik dengan teluk lainnya di dunia.

Dengan lay-out  alamnya seperti itu, di teluk ini dapat disaksikan pergerakan matahari terbit di pagi hari (sunrise) serta perguliran matahari senja (sunset) di sore hari. Bahkan panorama sunrise dan sunset di teluk ini dapat dinikmati dalam dua dimensi.

Dari pesisir ujung barat teluk terlihat matahari pagi bergerak naik dari balik bukit muara Teluk Kendari  yang terhempang Pulau Bungkutoko. Bias sunrise pagi hari senantiasa membuat pesona yang eksotis berpadu beragam aktivitas di permukaan dan pesisir teluk.

Sementara dari perbukitan di wilayah kelurahan Kendari Caddi, Kampung Salo, dan Manggadua – sebelah timur teluk, dapat dinikmati sunrise dalam dimensi lain. Di lokasi tersebut sunrise terlihat muncul dari laut lepas di muara Teluk Kendari.

Matahari senja tampak pada sore hari yang cerah seolah bergulir masuk ke balik bukit-bukit di sebelah barat teluk.

Sudah merupakan event tetap di sore hari yang cerah, pantulan lembayung senja membuat lukisan-lukisan alam fantastis di permukaan perairan Teluk Kendari.

Dalam musim hujan sesekali warga yang berdiam di wilayah kecamatan Poasia – pesisir selatan Teluk Kendari, dapat menyaksikan pergerakan arak-arakan mega mendung serta permainan halilintar menggelegar di atas barisan perbukitan Taman Hutan Raya (Tahura) Murhum (dulu bernama Bukit Nipanipa) – arah utara Teluk Kendari. Sementara warga di pesisir selatan teluk, tempat menyaksikan peristiwa alam tersebut dalam suasana udara cerah dengan surya berbinar.

Hal sama seringkali sebaliknya. Dari pesisir utara teluk yang cerah disaksikan wilayah pesisir selatan disaput kabut atau diguyur hujan lebat.

Pulau Bungkutoko yang terbentang persis di mulut teluk, membuat Teluk Kendari bebas dari karakter ganas gelombang Laut Banda.

Keberadaan pulau berpasir putih ini, selain berpotensi dan punya prospek dikembangkan sebagai obyek rekreasi/hiburan warga kota Kendari, membuat perairan teluk tenang bagai permukaan sebuah danau.

Tak heran pula jika pada siang terik terkadang dengan kasat  mata terlihat  bagaimana permukaan Teluk Kendari berwujud bagai sebuah cermin kristal raksasa memantulkan cahaya keras ke cakrawala bebas.

Susah sekali mendapat suasana alam yang romantis seperti suasana sekeliling Teluk Kendari saat-saat malam bulan purnama.

Suasana alam Teluk Kendari dan sekitarnya, ditengok dari sudut mana saja dalam berbagai dimensi waktu, duh…, eloknya! (Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, Jumat, 28 Pebruari 2003, Hal.6)