Posts Tagged ‘teluk’

Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari

Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari


Perkembangan pesat perluasan kota Kendari dalam 10 tahun terakhir ditandai dengan kehadiran pembangunan banyak bundaran. Istilah bundaran diberikan oleh warga kota Kendari terhadap jalan-jalan simpang empat yang baru dibuka seiring dengan perluasan lokasi pemukiman, kawasan perkantoran serta kawasan bisnis di berbagai penjuru ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini.
Jalan-jalan simpang empat yang ditandai dengan pembuatan bundaran di tengahnya umumnya dibuat dalam ukuran jalanan yang lebar 8 hingga 15 meter. Antara bundaran yang satu dengan lainnya menjadi pertanda kawasan perluasan pengembangan kota semacam blok wilayah. Bundaran itu masing-masing diberi tanda dan nama julukan tersendiri oleh warga kota.
Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari

Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari


Seperti bundaran Tapak Kuda yang menjadi pertemuan jalan dari arah Kendari Beach ke Bundaran Stainless, Jl Malik Raya dan ke arah Jembatan Tripping Andonohu. Bundaran stainlees di arah barat bundaran Tapak Kuda merupakan perempatan jalur Jalan By Pass ke Pasar Baru dan Jl Made Sabara – Jembatan Tripping Andonohu. Warga menamai sebagai bundaran Stainless lantaran di tengah bundaran terdapat ornamen taman yang terbuat dari besi-besi kilap anti karat stainless steel.
Ke arah selatan terdapat bundaran Andonohu yang juga sering disebut bundaran Panser lantaran di tengah bundaran terdapat asesori sebuah kendaraan militer jenis Panser yang sudah tak terpakai lagi. Bundaran ini menandai perempatan jalanan arah Andonohu dan kawasan kampus Universitas Halu Oleo (UHO).
Ke arah selatan menenggara terdapat bundaran Polda. Disebut demikian menandai perempatan jalan menuju markas Polda Sultra yang berhadapan dengan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari bundaran ini ke arah timur bersambung dengan poros jalan ke Moramo kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Sekitar 6 km ke arah barat bundaran Polda terdapat bundaran Bola Dunia. Bundaran yang di tengahnya terdapat tugu Bola Dunia, merupakan persimpangan jalan dari arah Mandonga ke bandara Halu Oleo (d/h. bandara Wolter Monginsidi).
Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari

Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari


Masih terdapat sejumlah bundaran lain yang menjadi ikon baru kota Kendari seperti bundaran Abunawas di depan RSUD Abunawas Andonohu dan bundaran Pesawat yang di tengahnya terdapat sebuah reflika pesawat jet tempur yang menandai persimpangan dari arah Mandonga menuju Konda dan ke Pintu Gerbang perbatasan kota Kendari dengan kabupaten Konsel.
Antarbundaran juga terdapat jalan-jalan penghubung kualitas hotmix dengan lebar jalan di atas 6 meter. Bundaran-bundaran tersebut selain menjadi penanda kawasan, sekaligus mencerminkan kesungguhan kerja Pemkot Kendari menata ruang meluaskan kota dengan membangun jalan mengantisipasi perkembangan lalu-lintas perkotaan bebas dari kemacetan.
Untuk mempercepat mencapai tujuan, para sopir taksi kota Kendari umumnya menanyakan nama bundaran yang terdekat dengan alamat yang hendak dituju penumpangnya.
Mengamati penataan jalan serta keapikan pengaturan arus lalu-lintas antarbundaran yang terdapat di pusat kota Kendari yang juga dijuluki sebagai Kota Lulo, bukan tidak mungkin dalam tahun 2014 ini dapat meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha di bidang penataan serta pengaturan perlalu-lintasan kota.
Kota Kendari luasnya lebih dari 300 km persegi dua kali lebih besar dari wilayah kota Makassar. Masih terdapat lahan cukup luas untuk pengembangan wilayah kota terutama di arah selatan Teluk Kendari, ke arah timur, dan ke arah utara poros perbatasan dengan kabupaten Konawe.
Penduduk kota saat ini kurang lebih 300 ribu jiwa. Tak heran jika di berbagai penjuru kota masih terlihat banyak wilayah lengang penduduk.
Jika Jembatan Bahteramas melintas Teluk Kendari dari Kota Lama ke Lapulu dapat terujud dipastikan akan jadi pemicu perkembangan wilayah bebas banjir yang masih lengang di arah timur kota hingga Sambuli.
Banyak warga menyarankan pengembangan kota Kendari kelak tetap mempertahankan ciri pembangunan bundaran-bundaran yang dibuat tematik untuk penanda kawasan.
Bundaran Mandonga yang dibangun sejak 25 tahun lalu merupakan bundaran pertama jadi kebanggaan pertanda pusat kota Kendari, setelah sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif (Kotif). Bundaran ini menjadi pengurai jalan simpang tiga dari dan menuju arah timur kota lama Kendari, menuju bandara Halu Oleo arah selatan dan poros keluar arah utara ke kabupaten Konawe dan kabupaten Kolaka
Terdapat sejumlah bundaran telah dirombak, seperti bundaran Wuawua, bundaran Pasar Baru, dan bundaran Kota Lama untuk mengakomodasi kian berkembangnya keramaian dan kepadatan arus lalu-lintas kota. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 26 Agustus 2014)

a mata2
Sebuah meriam anti serangan udara berlaras sepanjang 3,5 meter dengan lop berdiameter kl 8 cm hingga kini masih utuh terpasang di sebuah goa bekas pertahanan Jepang di Kelurahan Mata, kurang lebih 3 km arah timur kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.
Meriam tersebut terpasang kokoh di tengah sebuah bungker beton berukuran 3 x 4 meter dengan tinggi 2 meter yang terletak di atas sebuah bukit menghadap perairan Laut Banda di hadapan muara Teluk Kendari.
Bungker tersebut merupakan salah satu peninggalan yang tersisa dari banyak bungker pertahanan Jepang yang pernah dibangun mengitari Teluk Kendari pada masa pendudukan Jepang 1940 – 1945 di Indonesia.
a mata3
Kota Kendari kala itu selain dijadikan sebagai wilayah aman perlindungan armada laut tentara Jepang dalam masa Perang Dunia II, juga ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini dijadikan lokasi pangkalan udara strategis untuk manuver ke wilayah Pasifik melalui Morotai, Maluku Utara.
Sebagian besar bungker pertahanan Jepang yang pernah dibuat di kaki bukit pesisir Teluk Kendari kini sudah dihancurkan untuk pengembangan pembangunan wilayah kota Kendari.
Bungker peninggalan Jepang bermeriam di kelurahan Mata tersebut disebut-sebut oleh sejumlah warga berusia lanjut di Kendari dahulu berhubungan langsung dengan sejumlah bungker Jepang yang ada di sekitar bukit Manggadua, Kampung Salo, Kampung Butung dan Kendari Caddi di pesisir dalam Teluk Kendari.
a mata4
Sekalipun meriam anti serangan udara di bungker peninggalan Jepang di kelurahan Mata itu sudah tidak berfungsi namun bentuknya masih utuh, besi peralatan meriam yang terbuat dari baja tebal tidak dimakan karat.
Dilihat dari posisi dudukannya, meriam ini dahulu dapat dIgerakkan berputar 180 derajat ke arah kanan dan kiri, dan dapat mendongak ke atas hingga posisi 60 derajat. Di pangkal meriam terdapat tulisan THE – BHLM STEEL COMPANY GUN MARK X MODE 8 N 1584L. E P I E P A P H E I. U S D 1910.
Terdapat deretan tangga beton dibuat dari tepi jalan poros Mata – Toronipa mendaki ke kaki bukit lokasi bungker menunjukkan bahwa pernah dijadikan obyek kunjungan, tapi kondisinya kini tak terpelihara lagi diselimuti tumbuhan belukar mengesankan sebagai lokasi angker. (Teks/foto : Mahaji Noesa)

Gambar

Peta kota Kendari dan sekitarnya/Sumber: google-pakai-mobil.blogspot.com

Tergolong sesuatu yang langka di dunia, sebuah kota utuh tumbuh berkembang mengelilingi sebuah teluk  seperti teluk Kendari. Justru teluk Kendari yang kini berkembang multifungsi memerlukan perhatian serius dalam kaitan perkembangan kota Kendari sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ke depan.

Masalahnya, teluk Kendari saat ini bukan lagi merupakan wilayah pinggiran atau hanya berstatus sebagai daerah pelabuhan laut seperti saat masih masuk dalam wilayah administratif kabupaten Kendari.

Teluk Kendari kini telah menjadi wilayah jantung kota Kendari yang mulai berotonomi dengan 3 kecamatan – Kendari, Mandongan dan Poasia, dan sekarang ditambah 3 kecamatan baru yakni kecamatan Baruga (pemekaran kecamatan Mandonga), kecamatan Abeli (pemekaran kecamatan Poasia), dan kecamatan Kendari Barat (pemekaran kecamatan Kendari).

Gambar

Kota kendari dengan latar teluk Kendari/Foto:google-skyscrapercily.com

Dari enam kecamatan yang ada saat ini di kota Kendari, 3 kecamatan berwilayah di pesisir selatan teluk Kendari (kecamatan Poasia,Abeli, dan Baruga). Dua kecamatan di bagian utara pesisir teluk (kecamatan Kendari dan Kendari Barat). Sedangkan kecamatan Mandonga terletak di bagian barat teluk.

Sebagian besar dari wilayah kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan teluk Kendari. Artinya, dengan memperhatikan letak geografis tersebut, kota Kendari sesungguhnya merupakan sebuah kota pantai (Water front city). Sebuah kota yang sepenuhnya menghadap sebuah teluk yang luasnya lebih dari 10 km persegi (ukuran perkiraaan lebih kurang).

Sebagai perairan di jantung kota, pemerintah kota Kendari termasuk Pemprov Sultra seharusnya memberikan perhatian serius untuk dapat tetap menjaga kealamian lingkungan fisik teluk Kendari di tengah kencangnya dinamika pembangunan dan pertumbuhan kota Kendari hari ini, esok, dan yang akan datang.

Konsep Ornop Sultra, Walhi Sultra, Yascita, dan Yari (Opini, Kendari Ekspres, 31 Januari 2003) guna mendorong teluk Kendari menjadi suatu kawasan konservasi kota suatu gagasan cemerlang yang perliu disahuti khususnya oleh pemerintah kota Kendari dalam kaitan pemeliharaan serta mencegah kerusakan lingkungan di teluk Kendari.

Setidaknya konsep tersebut dapat dijadikan acuan guna melakukan pemikiran yang lebih konperehenship, semacam pembuatan atau penetapan sebuah Tata Ruang Pengembangan Kawasan teluk Kendari 25 hingga 30 tahun ke depan.

Dengan adanya Tata Ruang Khusus pengembangan kawasan teluk Kendari, diharapkan kealamian dapat tetap terjaga dan terpelihara di tengah derasnya dinamika perkembangan jaman serta bertambahnya peran dan fungsi teluk.

Lahirnya konsep dari LSM lingkungan Sultra untuk menjadikan teluk Kendari sebagai kawasan konservasi kota, tentu saja, telah ditunjang data kondisi lapangan yang mencemaskan terhadap keberadaan teluk Kendari apabila tidak segera dilakukan suatu penanganan yang serius.

Hilangnya ikan Belanak dan Teri (jenis Lure dan Balombong) yang dulu banyak berkembang biak di perairan teluk Kendari, suatu bukti kecil bahwa sesungguhnya kini telah terjadi kerusakan organisme laut yang bernilai ekonomis di teluk ini.

Catatan DR.Ir. La Ode M Aslan, MSc, Kepala Pusat Penelitian Wilayah Pesisir dan Laut lembaga penelitian Universitas Haluoleo, tentang kerusakan dan hilangnya hutan bakau (mangrove) di pesisir pantai Sultra yang dapat menyebabkan abrasi dan intrusi air laut ke darat, juga terjadi di pesisir teluk Kendari. Kondisinya, disebutkan, dalam kualifikasi sangat memprihatinkan.

Dengan adanya suatu tata ruang dilengkapi pembagian serta penetapan zona-zona pengembangan berdasarkan kondisi dan kessuaian lahan, sangat diharapkan perkembangan kota di pesisir teluk Kendari tetap menyediakan ruang-ruang publik (open space) untuk menikmati keindahan alam teluk Kendari.

Demikian pula adanya perhatian terhadap puluhan sungai yang setiap saat mengalirkan lumpur dan limbah ke teluk Kendari. Termasuk pengaturan drainase kota agar tidak membantu percepatan sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan dan pencemaran perairan teluk Kendari.

Dengan adanya tata ruang kawasan teluk Kendari, diharapkan kehadiran sejumlah pelabuhan, docking kapal, maupun industri perikanan tidak mengganggu biota laut perairan teluk Kendari. Apalagi sampai menimbulkan semacam kasus kerang beracun akibat tercemar Bahan Buangan Beracun (B3) mengandung mercury seperti yang pernah menimpa teluk Jakarta.

Ke depan kita merindukan teluk Kendari tak hanya dipadati kapal-kapal motor angkutan barang dan penumpang serta kapal-kapal penangkap ikan. Tapi juga teluk ini tak gersang dari kehadiran perahu layar untukkepentingan olahraga, pendidikan, hiburan, rekreasi dan pariwisata khusunya dalam perairan teluk Kendari.

Ramai dan eloknya, jika kemudian teluk dapat dikembangkan sebagai lokasi pendidikan dan penyewaan peralatan olahraga, hiburan, rekreasi air seperti diving, yacth, skyjet, boating, dan parasailing. Demikian pula penyediaan bus-bus air sebagai alat angkut penyeberangan dan rekreasi yang murah, cepat, dan lebih aman seperti terdapat di kota-kota pantai Eropa.

Adanya penanganan dan pengembangan teluk yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan, tak hanya menguntungkan masyarakat dan pemerintah kota Kendari. Akan tetapi berdampak pada kemajuan ekonomi dan sosial bagi pemerintah dan masyarakat ProvinsiSultra secara keseluruhan. Mengingat, salah satu peran teluk Kendari juga merupakan gerbang laut Provinsi Sultra.(Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, 2 Maret 2003)

Gambar

Teluk Kendari/Foto: Goggle-maulatheodor.blogspot.com

Belum ada data pasti sejak kapan wilayah pesisir Teluk Kendari mulai dilirik sebagai tempat pemukiman. Yang pasti, dalam Perang Asia Timur Raya (Perang Dunia II) teluk ini mendapat pengawalan ketat dari balatentara Jepang.

Hal itu dapat dibuktikan dengan peninggalan sejumlah bekas benteng atau goa-goa pertahanan Jepang di seputar muara dan sepanjang pesisir Teluk Kendari.

Gambar

Peta Teluk Kendari/Sumber : Google – visitkendari.blogspot.com

Sampai dekade tahun 70-an, masih dapat disaksikan sejumlah goa bekas pertahanan Jepang di seputar muara Teluk Kendari seperti di Ponnangka (Mata) dan kassiponco (Mangara Bombang) lengkap dengan meriamnya. Bekas goa Jepang di Kassilampe dan ujung barat Pulau Bungkutoko.

Sedangkan di pesisir teluk terdapat lebih dari sepuluh buah goa pertahanan Jepang yang dibangun di kaki bukit mulai dari cekungan Kendari Caddi hingga wilayah pelabuhan Kendari. Di cekungan batas antara Talia dan Pulau Pandang (pesisir selatan Teluk Kendari) terdapat sebuah goa pertahanan Jepang yang cukup besar. Pada mulut goa itu terdapat bangunan beton berbentuk tabung raksasa dikelilingi semacam jendela kecil-kecil.

Goa-goa pertahanan Jepang tersebut sebagian besar telah runtuh dan sengaja dihancurkan untuk kepentingan perluasan lahan pemukiman warga.

Ketatnya pengawasan teluk oleh pihak Jepang kala itu, kemungkinan karena posisi strategis Teluk Kendari sebagai pangkalan konsentrasi yang aman bagi armada laut untuk melakukan penyerangan ke wilayah-wilayah bagian timur Indonesia hingga Samudera Pasifik.

Saat tahun-tahun awal terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara, pesisir Teluk Kendari masih sepi dari pemukiman. Beberapa tempat konsentrasi penduduk di pesisir teluk, seperti di Talia, Lapulu, Pudai, Kendari Caddi, Sodohoa, Benu-benua dan Ponggoloba masih dalam suasana kampung yang kental.

Penduduk di lokasi tersebut umumnya membangun tempat-tempat pemukiman dalam bentuk rumah-rumah panggung di pesisir teluk.

Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara kala itu, menempati areal tidak lebih dari 3 km persegi – mulai dari pelabuhan Kendari (sekarang pelabuhan samudera) hingga tanah-tanah datar di lereng bukit seputar lokasi Mesjid Raya pertama kota Kendari.

Sekedar mengingatkan, bahwa di areal inilah mulanya terkonsentrasi kantor-kantor pemerintahan jawatan dinas Provinsi Sultra.

Bersisian dengan lokasi Mesjid Raya pertama kota Kendari, dulu terletak rumah jabatan pertama Gubernur Sultra serta gedung pertemuan ‘Wekoila’. Pada dinding bukit di arah timur gedung Wekoila dipasang tulisan nama kota Kendari dalam huruf berukuran besar, terbuat dari kayu bercat putih. Tulisan KENDARI di dinding bukit tersebut jelas terbaca oleh mereka yang melakukan kegiatan pelayaran masuk keluar Teluk Kendari. Landmark kota Kendari ini rontok setelah dilakukan penggusuran bukit untuk kepentingan pembangunan kota.

Pasar pertama kota Kendari berlokasi dekat pelabuhan Kendari. Arah timur pasar, terdapat sebuah lapangan yang berpagarkan kulit-kulit bom ukuran besar. Kulit-kulit bom tersebut konon merupakan amunisi sisa-sisa Perang Dunia II yang dulunya banyak tersebar di dasar perairan Teluk Kendari.

Di tengah lapangan kecil yang sering dijadikan tempat pameran dan pertunjukan-pertunjukan hiburan oleh pemerintah Provinsi Sultra itu, terdapat tugu berlabel ‘Korban 40.000 Jiwa.’

Sekitar pesisir Teluk Kendari yang kini telah direklamasi menjadi pelabuhan kapal layar motor, dahulu juga ada sebuah tugu ‘Proklamasi 17 Agustus 1945.’

Tugu yang tegak persis di perairan teluk tersebut menjadi lokasi tempat berkumpulnya massa rakyat menyaksikan lomba dayung dan lomba perahu layar yang diprakarsai pemerintah setiap tahun di Teluk Kendari dalam rangkaian memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI. Stasiun RRI Kendari pertama berlokasi tak jauh dari tugu tersebut.

Namun, dengan berbagai dinamika perkembangan telah menjadikan banyak hal di Teluk Kendari kini hanya merupakan nostalgia.

Gambar

Meriam peninggalan Jepang di Mata, Kendari/Foto: Goggle -ippmakmalang.org

Kemajuan motorisasi armada laut, misalnya, secara otomatis telah menghapus event lomba perahu layar dalam perairan Teluk Kendari. Teluk tidak lagi diwarnai barisan perahu layar bergerak keluar Teluk Kendari mengikuti hembusan angin darat di pagi hari dan rombongan perahu layar itu kembali memasuki teluk mengikuti hembusan angin laut pada siang hari, seperti dulu.

Istilah ‘papalimba’ bagi perahu dayung yang digunakan sebagai alat transportasi angkutan umum Teluk Kendari dulu, kini juga telah pupus dengan adanya motorisasi sarana angkutan laut yang lebih efektif dan efisien.

Teluk Kendari telah menjadi saksi sekaligus bukti adanya kemajuan peradaban manusia khususnya mereka yang bermukim di pesisirnya.

Sangat disayangkan, pergerakan peradaban tersebut belum banyak diimbangi kepedulian untuk tetap menjaga dan memelihara kealamian Teluk Kendari sebagai suatu anugerah Tuhan yang jarang bandingannya.

Pendangkalan teluk yang tampak kian meluas setiap tahun, sebagai contoh. Demikian pula masih adanya kebebasan mereklamasi pesisir untuk berbagai keperluan, benar-benar telah merusak sejumlah kondisi fisik Teluk Kendari.

Dulu, perairan Teluk Kendari menyentuh hingga kaki bukit di cekungan Kendari Caddi hingga tepi jalanan depan asrama tentara Kampung Salo. Tapi kini berpuluh hektar laut teluk di cekungan tersebut telah ditimbun dan dijadikan lokasi pemukiman warga.

Lokasi kantor Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang dibangun berhadapan dengan lokasi asrama tentara Kampung Salo adalah bagian dari Teluk Kendari yang telah ditimbun menjadi daratan.

Pendangkalan dan reklamasi yang tak terkendali, serta masih dibiarkannya perairan teluk sebagai tempat pembuangan atau muara dari semua drainase Kota Kendari seperti yang kini sedang berlangsung, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan Teluk Kendari akan berubah menjadi semacam sebuah kanal saja.

Kalau begitu nanti kejadiannya, Oooo….la…laaa! (Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, Sabtu, 1 Maret 2003)           

Gambar

Inilah bentuk angin Puting Beliung/Foto: Riset Google – nyebur.com

Dalam banyak pengalaman amatan warga, kehadiran angin Puting Beliung, selalu diawali dengan munculnya semacam gumpalan awan putih kehitaman yang menggulung tegak bagai batang berukuran besar dari atas langit ke bumi. Gulungan awan tersebut itulah yang bergerak cepat seolah menjadi pusat kekuatan tiupan angin memporakporandakan semua benda yang dilewati.

Tak hanya rumah yang dapat dihancurkan, benda-benda yang tertancap di bumi seperti tiang listrik maupun pohon-pohon berukuran besar dapat tercabut diterbangkan jika dilewati oleh pusaran anging Puting Beliung. Masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara terutama kalangan masyarakat nelayan sejak lama sudah mengenal angin Puting Beliung ini dengan sebutan sebagai ‘Laso Anging’

Dari banyak cerita nelayan di Sulawesi Selatan, diketahui tanda-tanda akan terjadinya pusaran Laso Anging apabila terlihat gumpalan awan hitam menggantung seolah hanya menutupi setengah langit bergerak cepat disertai deru angin dan gerimis tipis.

‘’Saya tidak pernah melihat Laso Anging saat hujan deras. Bahkan dari banyak kejadian Laso Anging segera berhenti jika turun hujan deras,’’ jelas Dg. Nassa, seorang nelayan berusia senja di bilangan Kecamatan Mariso Kota Makassar yang mengaku di masa mudanya sudah seringkali berjumpa Laso Anging dalam perjalanannya mencari ikan di laut sekitar Selat Makassar hingga ke perairan pulau-pulau Nusa Tenggara dan Maluku.

Gambar

Puting Beliung di atas laut/Foto: Riset google-nyebur.com

Laso Anging atau Puting Beliung disebut merupakan jenis Tornado tingkatan paling rendah. Angin perusak tersebut dapat terjadi lantaran adanya anomali cuaca ditandai dengan hembusan angin yang berlawanan arah.

Dalam era kemajuan teknologi modern sekarang belum ditemukan satu cara untuk menghidarkan diri dari amukan Puting Beliung yang dapat muncul tiba-tiba di tempat mana saja saat cuaca mengalami mendung berat. Belum ditemukan metode bagaimana dapat menghancurkan pusaran Puting Beliung yang dapat mencabut pohon sekalipun memiliki akar tunggang yang tertancap sampai lebih 5 meter ke dalam tanah.

Dari sejumlah kejadian, jika dilihat secara kasat mata pusaran angin Puting Beliung tersebut seolah berputar menggulung dari langit ke bumi. Namun, sesungguhnya pusarannya berputar ke arah langit, sehingga setiap benda yang dilalui akan ditarik naik atau diterbangkan ke atas untuk kemudian terhempas jika keluar dari pusaran. Amat mengerikan.

Dari banyak cerita rakyat pascakejadian Puting Beliung di Sulawesi Selatan, disebut-sebut jika Laso Anging itu turun tidak di sembarangan tempat. Akan tetapi punya jalur-jalur tertentu. Di tempat mana Laso Anging pernah terjadi, di lokasi sekitar kejadian itu dicurigai sebagai jalur yang kemungkinan akan dilalui kembali jika kemudian terjadi Laso Anging.

Namun kebenaran cerita tersebut masih disangsikan. Di tahun 70-an saya pernah menyaksikan langsung dari dekat peristiwa Puting Beliung yang pusarannya membentang vertikal cukup panjang dari udara dengan gulungan sebesar drum ke permukaan laut Teluk Kendari. Pusaran angin terlihat bergerak begitu cepat di atas laut teluk mulai dari sekitar Sodohoa hingga ke pesisir Abeli, depan Dermaga Kota Kendari.

Saat itu, langit terlihat dipenuhi awan hitam disertai gemuruh angin dan bunyi gelombang air yang dilalui Puting Beliung tersebut. Orang-orang yang ada di pesisir daratan dalam jarak sekitar 400 sampai 500-an meter dari pusat pusaran angin juga ikut merasakan tekanan angin yang begitu kencang. Semua berlarian menjauh, panik.

Gambar

Bentuk lain angin puting belioung/Foto: Roset google – nickirfan.blogspot.com

Dari sejumlah perahu layar yang tertambat di pesisir Kendari Caddi dan sekitarnya, terdengar banyak kumandang orang melafazkan azan. Saya menyaksikan sendiri ada seorang lelaki berdiri di pucuk tiang sebuah perahu phinisi dalam keadaan berbugil. Ada kepercayaan yang tumbuh sampai sekarang di kalangan masyarakat pesisir di Provinsi Sulawesi Selatan maupun di Provinsi Sulawesi Tenggara, Laso Anging alias Puting Beliung tidak akan bergerak ke arah dimana ada seseorang lelaki berbugil.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut, dan sampai sekarang tidak pernah ada lagi kemunculan kembali Laso Anging di teluk yang kini siang malam sudah sangat padat dengan aktifitas pelayaran. Semoga tidak terjadi lagi untuk selamanya!

Ada yang unik, saat kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut saya sedang ditemani Samaila (kl.50 th) untuk suatu urusan di pesisir pantai Teluk Kendari depan Stasion RRI Kendari yang saat ini sudah direklamasi menjadi pelubuhan Pelayaran Rakyat di Kota Kendari Lama. Lelaki yang kabarnya sudah dipanggil Yang Kuasa tahun 90-an, saat itu bekerja sebagai karyawan sipil pembersih di Kantor Kodim 1412 yang bermarkas di sekitar Kampung Salo, ke arah Kendari Caddi.

Sehari-hari Samaila harus berjalan kaki sejauh lebih dari 4 km dari kediamannya di sekitar lapangan Benubenua ke kantor Kodim di Kampung Salo, pp. Selain sebagai pembersih kantor, orang-orang yang berdiam di asrama sekitar Kantor Kodim mengenalnya sebagai Tukang Urut untuk meringankan badan maupun akibat keseleo. Taat beribadah (Islam) dan sering dipanggil untuk memimpin doa-doa untuk suatu hajatan dari penduduk di Kampung Salo dan sekitarnya.

Anda tahu, ketika pusaran Laso Anging bergerak di perairan sekitar Abeli, lelaki ini kemudian menunjuk ke arah pusaran sebanyak tiga kali. Uniknya, seketika itu pusaran angin terlihat menjadi terpotong-potong. Saat itu Puting Beliung yang bergerak di atas perairan Teluk Kendari hancur dan mereda tanpa menimbulkan korban.

Dalam suatu kesempatan orang tua ini kemudian mengungkapkan kepada saya, bahwa dengan mengucap : ‘’Rehul Mehru’’ sebanyak tiga kali lalu menujuk ke arah pusaran angin Puting Beliung. ‘’Insya Allah, atas pertolongan Allah, angin seperti itu akan hancur dan mereda,’’ katanya.

Sampai sekarang saya belum mengetahui dari bahasa mana, dan apa arti kata ‘’Rehul Mehru’’ yang disampaikan Pak Samaila tersebut. Saya pun belum pernah menggunakan petunjuknya lantaran sampai sekarang tidak pernah lagi berhadapan langsung dengan kejadian alam berupa Puting Beliung atau Laso Anging. Mudah-mudahan tidak bertemu lagi!

Dalam banyak perbincangan dengan sejumlah nelayan tua penjelajah lautan dari pesisir pantai Sulawesi Selatan dan Tenggara, umumnya mereka hampir sama memercayai bulu-bulu ijuk yang ditencapkan di ujung tertinggi tiang perahu atau kapal motor akan menghindarkan dari sambaran petir maupun terjangan Laso Anging.

Demikian halnya dengan sejumlah perbincangan yang pernah dilakukan dengan petani ‘Passari’– pembuat gula aren di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, umumnya mengakui tidak pernah menjumpai satu pohon enau atau pohon aren (penghasil bulu ijuk) yang terkena sambaran petir. Demikian pula lokasi tempat tumbuhnya pohon aren tidak pernah terlihat terserang tiupan angin kencang. Mungkin dari pengalaman panjang tersebut, sehingga sampai sekarang masih hidup hasil amatan tradisional di kalangan petani maupun nelayan daerah ini yang menganggap ijuk memiliki misteri sebagai benda penangkal petir dan amukan badai. Wallahualam……(Mahaji Noesa/Kompasiana, 28 Pebruari 2012, klik: Tulisan di Kompasiana )

Gambar

Penari Ular/Foto: riset google -pixoto.com

Jika anda berjumpa ular bersama koruptor, untuk selamat terlebih dahulu pentung koruptor lalu menyusul ketok ularnya.

Kalimat satire menyangkut berbisanya koruptor dalam kehidupan yang diungkapkan seorang rekan, membuat gerrr….banyak orang sekeliling yang ikut mendengarnya.

Namun kalimat itu justru mengingatkan terhadap dua peristiwa berkaitan dengan ular yang sesungguhnya. Pertama, ketika saya melakukan perjalanan menggunakan angkutan bus ukuran sedang dari Kota Parepare (Sulawesi Selatan) menuju Kota Mamuju, ibukota Provinsi Sulawesi Barat.

Dalam perjalanan melewati Kota Pinrang, ibukota Kabupaten Pinrang (Sulawesi Selatan), bus yang tempat duduknya masih banyak kosong tak terisi, lalu berhenti mengangkut 4 pria yang sebelumnya terlihat mengacung tangan di tepi jalan menunjuk ke arah Mamuju.

Keempat pria dewasa tersebut menarik perhatian saya, lantaran selain penampilan fisik mereka yang kelihatan sangar. Juga barang bawaan masing-masing mengundang tanya. Selain setiap orang terlihat membawa golok yang berwarangka, juga ada yang membawa gulungan tali plastik, karung plastik, besi-besi cabang, potongan-potongan pipa, tongkat rotan, senter menggantung di pinggang, dan juga lampu petromaks (strong king).

Siapa mereka? Pertanyaan itu terjawab dari salah seorang yang duduk berhimpit menempati kursi kosong di kananku. Aku pun terkesima, ketika mengetahui jika mereka adalah anggota kelompok pemburu ular di wilayah gunung dan hutan-hutan Sulawesi Barat.

Perburuan dilakukan ke tempat atau lokasi-lokasi yang telah diketahui atau dicurigai merupakan sarang ular. Menurut ceritanya, biasanya mereka beraksi menunggu atau memberi pancingan agar ular keluar dari sarang atau lubang-lubang pada malam hari. Ular ditangkap, kemudian dikuliti, dan kulitnya itulah yang dijual.

Gambar

Penari ular/Foto: sumber riset google – idekonyol.wordpress.com

Tidak ada penjelasan dari manusia pemburu ular ini, berapa harga, siapa dan dimana mereka menjual kulit-kulit ular tersebut. Dalam perjalanan siang dengan bus pengangkutan umum antara Parepare dan Mamuju saya beberapa kali melihat ada papan-papan bicara di dekat-dekat pemukiman penduduk yang bertuliskan : ‘’Beli Kulit Ular Sawah.’’ Pemburu ular, suatu profesi yang baru kuketahui.

Peristiwa kedua, suatu malam penduduk yang berdiam di arah timur asrama tentara di wilayah Kendari Caddi, Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara geger lantaran ada seekor ular yang merayap dari tepi gunung melintas di jalanan pemukiman.

Ular yang berukuran besar diperkirakan sepanjang 4 sampai 5 meter, menurut cerita penduduk, sudah seringkali dilihat kemunculannya di wilayah perkampungan saat tengah malam. Ketika penduduk mengejar seketika ular itu menghilang. Sebuah lubang bekas goa pertahanan masa pendudukan Jepang tak jauh dari pemukiman dicurigai sebagai tempat ular tersebut bersarang.

Dalam geger kemunculan ular malam itu, ada seorang lelaki tua asal Pulau Wawonii – sebuah pulau yang terbentang sekitar 2 jam pelayaran dari muara Teluk Kendari, menyarankan untuk selalu menaburkan bawang merah ke mulut goa yang dicurigai menjadi sarang ular. Diberi petunjuk bawang yang ditabur hendaknya ujung-ujungnya terlebih dahulu dipecahkan hingga tercium aroma bawangnya.

Sekitar dua bulan ketika saya kembali dalam suatu urusan ke lokasi tersebut, penduduk setempat menyatakan tak pernah lagi melihat atau menemukan ada ular gentayangan malam hari. Sejumlah penduduk menyatakan kemungkinan ular itu sudah mati. Lantaran setelah beberapa kali penduduk sengaja melemparkan butiran-butiran bawang merah ke bekas goa pertahanan Jepang, mereka lantas pernah berhari-hari mencium hembusan bau bangkai busuk yang keras dari dalam goa tersebut.

Dari pengalaman itu, sejumlah saran copas pernah saya sampaikan kepada beberapa teman untuk memberikan butiran-butiran bawang merah ke lobang yang dicurigai sebagai sarang ular. Ketika kemudian bertemu, banyak yang mengakui ular-ular menghilang setelah sarangnya mereka taburi butiran-butiran bawang merah. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 26 Oktober 2011)