Posts Tagged ‘tradisional’

Gambar

Bendi/Ft:google-manado.antaranews.com

‘’Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota

Naik delmanistimewa kududuk di muka

Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja

Mengendalikan kuda supaya baik jalannya

Tak tik tak tik tuk bunyi sepatu kuda…….’’

Indahnya lagu anak-anak ‘Naik Delman ke Kota’ tersebut kini sudah jarang terdengar, tak hanya di kawasan perkotaan tapi juga sampai di wilaytah pedesaan.

Memudarnya salah satu nyanyian milik anak-anak tempo doeloe yang bangga dengan angkutan tradisional delaman alias sado alias andong alias bendi – sebutan populer bagi masyarakat Provinsi Sulsel, seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan jaman. Bendi kini sudah menjadi semacam barang langka yang hidup dalam cerita lama tentang kampung halaman.

Gambar

bendi, angkutan tradisional yang mulai tergusur/Ft: google-peacejournalism.blogspot.com

Sebenarnya hingga tahun 90-an angkutan tradisonal bendi masih dijadikan sebagai angkutan pedesaan di beberapa kabupaten di wilayah Provinsi Sulsel. Sampai masa itu setiap hari masih didengar derap irama kaki kuda penarik bendi yang bergerak di wilayah pedesaan membawa hasil bumi rakyat menuju lokasi pasar-pasar induk yang ada di pusat-pusat kota – ibukota kecamatan dan ibukota kabupaten. Pasar di ibukota kabupaten Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Maros, Pangkep, Barru, dan Majene merupakan pasar-pasar yang pernah diramaikan kendaran-kendaraan angkutan milik masyarakata pedesaan.

Ketika jaringan jalan-jalan yang menghubungkan desa-desa dengan pusat-pusat kota mulai terbuka luas bahkan sudah beraspal, seiring dengan itu angkutan penumpang dan barang jenis mikrolet pun keluar masuk wilayah pedesaan, bendi mulai kurang dilirik warga. Bahkan di sejumlah ibukota kabupaten diterapkan aturan ‘dilarang masuk terhadap bendi-bendi yang tidak dilengkapi alat penampung ‘kotoran’ kuda penariknya.

Ketika kendaraan bermotor roda dua kini diperkenankan untuk beroperasi sebagai angkutan penumpang umum dengan sebutan ‘ojek’, para sais atau kusir (pengemudi bendi) yang masih tersisa di antara deru ojek yang bebas menyeruak ke semua jalur jalan harus pasrah menerima kemajuan peradaban.

‘’Saya masih bisa dapat uang Rp 10.000 sampai Rp 15.000 setiap hari pasar. Tidak hanya mengangkut muatan barang dan orang dari desa, tapi masih bewberapa orang ibu-ibu, bapak-bapak maupun anak muda laki-laki dan perempuan di kota yang selalu menumpang bendi saya,’’ kata Wa’ Nure’ seorang kusir yang sejak tahun 90-an hingga sekarang masih mengoperasikan angkutan bendai jalur Tajuncu – Pasar Sentra Kota Watangsoppeng, ibukota kabupaten Soppeng.

Tak tik tuk bunyi sepatu kuda bendi melintas di jalan aspal, salah satunya yang tersisa – memang, masih bisa kita mendengar dengan nyaring di jalan poros Tajuncu – Kota Watangsoppeng pada subuh hari-hari puncak pasar Kota watangsoppeng yakni hari Kamis dan Minggu.

Tak tik tuk bunyi sepatu kuda pun kian sayup tak sampai lantaran paling sedikit 1 di antara 10 warga di pedesaan kini sudah memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) kendaraan bermotor. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.284 Thn VI/Minggu II, Oktober 2004 Hal.10)  

Gambar

Nisan Hulu Keris di komplek Makam Jera Lompoe, Soppeng, Sulawesi Selatan/Foto:google-mugniarm.blogspot.com

Selain kuburan-kuburan batu yang menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki banyak makam atau kuburan tua yang unik dari segi bentuk maupun penampilannya.

Di Tosora Kabupaten Wajo, misalnya, terdapat sejumlah kuburan yang nisannya menggunakan meriam (jagur) yang dipasang terbalik. Sejumlah makam tua di Binamu Kabupaten Jeneponto ditandai bukan memakai nama asli tapi menggunakan nama gelaran orang yang dimakamkan di kuburan tersebut.

Dalam komplek makam kuno Jera Lompoe di Kabupaten Soppeng, ada sebuah makam yang nisannya dibuat berbentuk hulu Badik (keris). Dan inilah satu-satunya makam di Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan bentuk hulu Badik, senjata tradisional khas leluhur suku Bugis-Makassar.

Hingga saat ini, masih banyak yang belum mengetahui jika komplek makam tua yang berlokasi di Kelurahan Bila, sekitar 2 km dari Kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng tersebut merupakan salah satu makam kuno kalangan raja-raja dan keturunannya tempo dulu.

Bahkan komplek makam Jera Lompoe seluas 85 x 75 meter itu, sejak 6 Nopember 1981 diresmikan sebagai salah satu Taman Purbakala di Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, komplek makam ini hanya terlihat ramai dikunjungi peziarah menjelang bulan puasa (ramadhan), hari raya Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun. Di luar hari-hari tersebut, komplek makam kuno tersebut tampak lengang dari peziarah.

Syekh Abdul Manan

Nisan Hulu Keris di makam Syekh Abdul Manan di Kel.Banggae, Majene, Sulawesi Barat/Foto:google-arkeologi-makassar.com

Kehadiran makam Jera Lompoe di Soppeng diperkirakan mulai abad ke-17, setelah ajaran Islam menyebar ke wilayah Soppeng. Hal itu dapat dilihat dari posisi makam yang keseluruhannya mencirikan cara pemakaman jenazah orang beragama Islam yaitu membujur arah utara – selatan.

Dugaan itu pun diperkuat dengan salah satu makam yang nisannya bertulisan arab : ”Allah Lailaha Illallah Muhammadarrasulullah.” Meskipun, makam ini sampai sekarang belum bernama, belum diketahui siapa sesungguhnya yang dimakamkan di situ. Inilah salah satu dari dua makam di komplek makam tua Jera Lompoe yang nisan di bagian kakinya terbuat dari batu berbentuk hulu Badik (keris) polos tanpa ukiran.

Sedangkan makam satunya, yaitu kuburan Panglima Perang Kerajaan Soppeng, Watanglipu La Mataesso, nisan di arah kaki dengan ukuran agak besar berbentuk hulu badik (keris) berukir indah. Demikian dengan nisan di bagian arah kepala menyerupai gada juga berukiran mozaik yang menawan.

Makam Datu Soppeng ke-16, La Tenribali merupakan yang terbesar di komplek makam Jera Lompoe. Bersisian dengan makam istrinya Tenri Kawareng. Di samping makam Raja Soppeng ke-28, Datu La Mappapoleonro, terdapat makam istrinya Tenriawaru yang juga adalah Pajung (Raja) Luwu ke-23. Pajung Luwu ke-23 ini dilantik menjadi Raja Soppeng ke-29 menggantikan kedudukan suaminya ketika meninggal dunia.

Dalam komplek pekuburan tua ini juga terdapat makam Adatuan Sidenreng (raja dari wilayah Sidenreng-Rappang) berdampingan makam istrinya, Tenriallu Arung Mapalu.

Melihat sejumlah makam raja dan keluarganya yang berasal dari wilayah di luar Soppeng yang juga terdapat di komplek makam tua Jera Lompoe tersebut, para pengamat sejarah dan kepurbakalaan sejak lama menunjuknya sebagai fakta otentik bahwa orang-orang di Sulsel sejak masa lampau telah berupaya menghidupkan benih persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi modal utama terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga dengan nisan berbentuk hulu keris di komplek makam Jera Lompoe yang merupakan satu-satunya dapat dilihat di wilayah Provinsi Sulsel. Dari bentuk nisan itu dapat ditelusuri untuk dijadikan bukti kuat kemungkinan telah terjadinya komunikasi pemerintahan dan kebudayaan yang erat antara raja-raja di wilayah Bugis-Makassar (Sulawesi Selatan) dengan raja-raja di wilayah Mandar (Sulawesi Barat) sejak masa silam.

Pasalnya, bentuk nisan berhulu Badik (keris) yang terdapat di komplek makam Jera Lompoe Kabupaten Soppeng (Sulsel) juga bentuk nisan yang sama dapat dilihat di sejumlah makam tua, seperti di komplek makam Mara’dia Pamboang, makam Kaaba, makam Kubang, makam Puang Rambang, makam Nenek Ular, dan makam Nenek Roso yang ada di wilayah Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 19 Januari 2011)

Gambar

Inilah bentuk angin Puting Beliung/Foto: Riset Google – nyebur.com

Dalam banyak pengalaman amatan warga, kehadiran angin Puting Beliung, selalu diawali dengan munculnya semacam gumpalan awan putih kehitaman yang menggulung tegak bagai batang berukuran besar dari atas langit ke bumi. Gulungan awan tersebut itulah yang bergerak cepat seolah menjadi pusat kekuatan tiupan angin memporakporandakan semua benda yang dilewati.

Tak hanya rumah yang dapat dihancurkan, benda-benda yang tertancap di bumi seperti tiang listrik maupun pohon-pohon berukuran besar dapat tercabut diterbangkan jika dilewati oleh pusaran anging Puting Beliung. Masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara terutama kalangan masyarakat nelayan sejak lama sudah mengenal angin Puting Beliung ini dengan sebutan sebagai ‘Laso Anging’

Dari banyak cerita nelayan di Sulawesi Selatan, diketahui tanda-tanda akan terjadinya pusaran Laso Anging apabila terlihat gumpalan awan hitam menggantung seolah hanya menutupi setengah langit bergerak cepat disertai deru angin dan gerimis tipis.

‘’Saya tidak pernah melihat Laso Anging saat hujan deras. Bahkan dari banyak kejadian Laso Anging segera berhenti jika turun hujan deras,’’ jelas Dg. Nassa, seorang nelayan berusia senja di bilangan Kecamatan Mariso Kota Makassar yang mengaku di masa mudanya sudah seringkali berjumpa Laso Anging dalam perjalanannya mencari ikan di laut sekitar Selat Makassar hingga ke perairan pulau-pulau Nusa Tenggara dan Maluku.

Gambar

Puting Beliung di atas laut/Foto: Riset google-nyebur.com

Laso Anging atau Puting Beliung disebut merupakan jenis Tornado tingkatan paling rendah. Angin perusak tersebut dapat terjadi lantaran adanya anomali cuaca ditandai dengan hembusan angin yang berlawanan arah.

Dalam era kemajuan teknologi modern sekarang belum ditemukan satu cara untuk menghidarkan diri dari amukan Puting Beliung yang dapat muncul tiba-tiba di tempat mana saja saat cuaca mengalami mendung berat. Belum ditemukan metode bagaimana dapat menghancurkan pusaran Puting Beliung yang dapat mencabut pohon sekalipun memiliki akar tunggang yang tertancap sampai lebih 5 meter ke dalam tanah.

Dari sejumlah kejadian, jika dilihat secara kasat mata pusaran angin Puting Beliung tersebut seolah berputar menggulung dari langit ke bumi. Namun, sesungguhnya pusarannya berputar ke arah langit, sehingga setiap benda yang dilalui akan ditarik naik atau diterbangkan ke atas untuk kemudian terhempas jika keluar dari pusaran. Amat mengerikan.

Dari banyak cerita rakyat pascakejadian Puting Beliung di Sulawesi Selatan, disebut-sebut jika Laso Anging itu turun tidak di sembarangan tempat. Akan tetapi punya jalur-jalur tertentu. Di tempat mana Laso Anging pernah terjadi, di lokasi sekitar kejadian itu dicurigai sebagai jalur yang kemungkinan akan dilalui kembali jika kemudian terjadi Laso Anging.

Namun kebenaran cerita tersebut masih disangsikan. Di tahun 70-an saya pernah menyaksikan langsung dari dekat peristiwa Puting Beliung yang pusarannya membentang vertikal cukup panjang dari udara dengan gulungan sebesar drum ke permukaan laut Teluk Kendari. Pusaran angin terlihat bergerak begitu cepat di atas laut teluk mulai dari sekitar Sodohoa hingga ke pesisir Abeli, depan Dermaga Kota Kendari.

Saat itu, langit terlihat dipenuhi awan hitam disertai gemuruh angin dan bunyi gelombang air yang dilalui Puting Beliung tersebut. Orang-orang yang ada di pesisir daratan dalam jarak sekitar 400 sampai 500-an meter dari pusat pusaran angin juga ikut merasakan tekanan angin yang begitu kencang. Semua berlarian menjauh, panik.

Gambar

Bentuk lain angin puting belioung/Foto: Roset google – nickirfan.blogspot.com

Dari sejumlah perahu layar yang tertambat di pesisir Kendari Caddi dan sekitarnya, terdengar banyak kumandang orang melafazkan azan. Saya menyaksikan sendiri ada seorang lelaki berdiri di pucuk tiang sebuah perahu phinisi dalam keadaan berbugil. Ada kepercayaan yang tumbuh sampai sekarang di kalangan masyarakat pesisir di Provinsi Sulawesi Selatan maupun di Provinsi Sulawesi Tenggara, Laso Anging alias Puting Beliung tidak akan bergerak ke arah dimana ada seseorang lelaki berbugil.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut, dan sampai sekarang tidak pernah ada lagi kemunculan kembali Laso Anging di teluk yang kini siang malam sudah sangat padat dengan aktifitas pelayaran. Semoga tidak terjadi lagi untuk selamanya!

Ada yang unik, saat kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut saya sedang ditemani Samaila (kl.50 th) untuk suatu urusan di pesisir pantai Teluk Kendari depan Stasion RRI Kendari yang saat ini sudah direklamasi menjadi pelubuhan Pelayaran Rakyat di Kota Kendari Lama. Lelaki yang kabarnya sudah dipanggil Yang Kuasa tahun 90-an, saat itu bekerja sebagai karyawan sipil pembersih di Kantor Kodim 1412 yang bermarkas di sekitar Kampung Salo, ke arah Kendari Caddi.

Sehari-hari Samaila harus berjalan kaki sejauh lebih dari 4 km dari kediamannya di sekitar lapangan Benubenua ke kantor Kodim di Kampung Salo, pp. Selain sebagai pembersih kantor, orang-orang yang berdiam di asrama sekitar Kantor Kodim mengenalnya sebagai Tukang Urut untuk meringankan badan maupun akibat keseleo. Taat beribadah (Islam) dan sering dipanggil untuk memimpin doa-doa untuk suatu hajatan dari penduduk di Kampung Salo dan sekitarnya.

Anda tahu, ketika pusaran Laso Anging bergerak di perairan sekitar Abeli, lelaki ini kemudian menunjuk ke arah pusaran sebanyak tiga kali. Uniknya, seketika itu pusaran angin terlihat menjadi terpotong-potong. Saat itu Puting Beliung yang bergerak di atas perairan Teluk Kendari hancur dan mereda tanpa menimbulkan korban.

Dalam suatu kesempatan orang tua ini kemudian mengungkapkan kepada saya, bahwa dengan mengucap : ‘’Rehul Mehru’’ sebanyak tiga kali lalu menujuk ke arah pusaran angin Puting Beliung. ‘’Insya Allah, atas pertolongan Allah, angin seperti itu akan hancur dan mereda,’’ katanya.

Sampai sekarang saya belum mengetahui dari bahasa mana, dan apa arti kata ‘’Rehul Mehru’’ yang disampaikan Pak Samaila tersebut. Saya pun belum pernah menggunakan petunjuknya lantaran sampai sekarang tidak pernah lagi berhadapan langsung dengan kejadian alam berupa Puting Beliung atau Laso Anging. Mudah-mudahan tidak bertemu lagi!

Dalam banyak perbincangan dengan sejumlah nelayan tua penjelajah lautan dari pesisir pantai Sulawesi Selatan dan Tenggara, umumnya mereka hampir sama memercayai bulu-bulu ijuk yang ditencapkan di ujung tertinggi tiang perahu atau kapal motor akan menghindarkan dari sambaran petir maupun terjangan Laso Anging.

Demikian halnya dengan sejumlah perbincangan yang pernah dilakukan dengan petani ‘Passari’– pembuat gula aren di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, umumnya mengakui tidak pernah menjumpai satu pohon enau atau pohon aren (penghasil bulu ijuk) yang terkena sambaran petir. Demikian pula lokasi tempat tumbuhnya pohon aren tidak pernah terlihat terserang tiupan angin kencang. Mungkin dari pengalaman panjang tersebut, sehingga sampai sekarang masih hidup hasil amatan tradisional di kalangan petani maupun nelayan daerah ini yang menganggap ijuk memiliki misteri sebagai benda penangkal petir dan amukan badai. Wallahualam……(Mahaji Noesa/Kompasiana, 28 Pebruari 2012, klik: Tulisan di Kompasiana )

Gambar

Tampak salah satu penjual jagung muda di Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Selain penjual terompet dan kembang api, sejumlah jalan protokol di kota Makassar, Senin (31/12) diramaikan dengan penjual jagung muda.

Para penjual jagung muda tersebut terlihat bertebaran di ruas-ruas jalan protokol seperti di Jl. Sultan Alauddin, Jl.Urip Sumoharjo, Jl. Cenderawasih, Jl. Ratulangi, Jl. AP Pettarani, dan sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan. Selain itu, di tepian ruas-ruas jalan yang ada di sekitar pasar-pasar tradisional terdapat banyak penjual jagung muda.

Jagung-jagung muda tersebut, menurut penjelasan sejumlah penjual sekitar Pasar Pabaeng-baeng  di Jl. Andi Tonro, berasal dari sejumlah daerah di selatan Makassar, seperti  Kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto yang saat ini lagi musim panen jagung.

Hampir semua titik penjualan jagung muda terlihat laris-manis ramai dikerumuni pembeli. ‘’Sejak hujan pagi hari sudah banyak orang datang membeli jagung muda. Sudah lebih 15 ikat jagung saya yang laku,’’ jelas Dg Aru, seorang penjual  jagung muda di tepi Jl Mesjid Raya, Senin (31/12) siang.

Seikat jagung yang berisi 15 – 20 biji jagung muda dijual seharga Rp 20.000. Ada juga yang menjual eceran seharga Rp 2.000 sebuah jagung muda.

‘’Untuk dibakar dan direbus ramai-ramai nanti malam menunggu datangnya tahun 2013,’’ kata seorang ibu dari wilayah Kecamatan Mariso yang membeli 3 ikat jagung muda di Pasar Terong Makassar.

Gambar

Penjual jagung muda laris manis di Jl Mesjid raya, Pasar Terong Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Langit kota Makassar sejak Senin pagi di akhir Desember 2012 mendung, bahkan terjadi gerimis di sejumlah tempat. Lepas tengah hari, ketika udara mulai kelihatan cerah, terlihat sejumlah jalan sudah dipadati kendaraan. Dalam malam menyambut pergantian tahun 2012 ke 2013 diperkirakan ratusan ribu kendaraan sepeda motor maupun mobil dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan akan memasuki kota Makassar.

Pihak Kepolisian Polrestabes Makassar sebelumnya sudah menghimbau mereka yang akan nginap di hotel-hotel sekitar Pantai Losari untuk sudah masuk satu hari sebelum hari H. Lantaran mulai pukul 17.00 wita semua jalan dalam radius 1 km yang mengarah ke Pantai Losari akan ditutup dari semua jenis kendaraan, dan baru akan dibuka pukul 8.00 pagi, Selasa, 1 Januari 2013.

Pemerintah kota Makassar tidak menyediakan acara hiburan khusus menyambut pergantian tahun di Pantai Losari. Akan tetapi, jika tak hujan pantai kebanggaan warga dan pemerintah kota Makassar tersebut diperkirakan akan dijejali sampai 200-an ribu orang pada malam menyambut datangnya Tahun Baru 2013. Lebih dari 4.000 personil kepolisian telah disiagakan untuk menjaga kelancaran dan keamanan suasana malam pergantian tahun di Kota Makassar.

Jika tak hujan, malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di kota Makassar diperkirakan akan meriah di semua sudut.  Hal itu bisa dilihat dari kepadatan tingkat hunian hotel-hotel. Lebih dari 6.000-an kamar hotel di kota Makassar sudah ter-booking beberapa hari sebelumnya. Larisnya penjualan terompet, kembang api serta jagung muda, mengindikasikan warga kota Makassar sampai ke lorong-lorong akan bersuka ria dalam malam menyambut  datangnya  Tahun Baru, 1 Januari 2013.

Sejumlah komunitas dalam malam menyambut datangnya tahun 2013 melakukan kegiatan religius berupa acara zikir bersama di Kota Makassar.  (Mahaji Noesa/Independen.co/31 Desember 2012)

Gambar

Inilah bentuk pohon Enau atau pohon aren/Foto:goole – sitle.google.com

Banyaknya peristiwa, kejadian atau sesuatu yang dianggap misteri dalam kehidupan, mengisyaratkan betapa keterbatasan kemampuan untuk memahami keseluruhan apa yang terbentang di alam jagad raya ini.

Para nelayan tradisional tempo dulu misalnya, kebanyakan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang-tiang perahu. Mereka umumnya beranggapan dengan memasang ijuk seperti itu, segala jenis yang disebut-sebut sebagai hantu laut tidak akan mengganggu perjalanan perahu di lautan bebas.

Dengan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang perahu juga diyakini akan menangkal sambaran petir apabila terjadi badai di laut lepas.

Dari cerita pengakuan banyak nelayan di sejumlah pesisir Sulawesi Selatan, sampai sekarang mereka masih meneruskan kebiasaan leluhurnya menancapkan bulu-bulu ijuk pada tiang tertinggi di armada perahu atau kapal yang mereka gunakan untuk mengarungi lautan.

Ijuk yang bersumber dari Pohon Enau (Aren), katanya, bagaimanapun tingginya tidak pernah ada yang tersambar petir seperti yang sering menimpa Pohon Kelapa atau pohon-pohon lainnya yang tumbuh menjulang di hutan-hutan.

Dengan alasan sama untuk menangkal bahaya sambaran petir, sejumlah petani di pedalaman Sulsel sampai sekarang jika melintas atau bekerja di suatu tanah hamparan luas dalam musim penghujan, masih banyak yang menyelipkan lidi iduk di antara jepitan celana atau saku baju dalam posisi tegak seperti antena.

Masih berkait dengan Pohon Enau yang sarinya dijadikan bahan baku pembuatan Gula Aren (Gula Merah), lidinya sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mencambuk orang-orang yang disebut-sebut ‘kemasukan barang halus’.

aren-2

Pohon Enau (Aren)/Foto sumber: google

Orang-orang yang ‘kemasukan’ tersebut gejalanya dalam keadaan tiba-tiba saja tak sadarkan diri, menangis, atau berteriak-teriak histeris. Seringkali juga berbicara aneh-aneh atau berbicara dalam bahasa asing yang fasih. Pada hal yang bersangkutan dalam keadaan sadarnya, tidak mengetahui bahasa asing tersebut. Dengan mencambukkan lidi ijuk (lidi dari pelepah Pohon Aren) ke tubuh orang ‘kemasukan’, seringkali lantas siuman atau sadar diri.

Dari pengalaman sejumlah rimbawan, juga ada diceritakan jika mereka menjelajah hutan selalu membawa perlengkapan berupa tali hitam yang dipintal dari bulu-bulu ijuk. Tali ijuk tersebut dibentangkan mengelilingi lokasi dimana mereka akan membuat kemah. Maksudnya untuk menghalau masuknya binatang melata berbisa sejenis ular ke lokasi tempat perkemahan mereka.

Dari banyak pengalaman, mereka telah membuktikan berbagai jenis ular hutan tak mau melintas ke lokasi yang dibatasi bentangan tali ijuk.

Sejumlah guru ngaji di pedalaman Provinsi Sulsel masih menganjurkan kepada murid-muridnya untuk menggunakan potongan lidi ijuk (enau) yang disebut ‘kallang’ sebagai alat bantu penunjuk huruf-huruf ketika membaca kitab suci Al-Qur’an.

Kajian ilmiah, tentu saja, masih perlu dilakukan untuk mengungkap misteri ijuk yang sejak dulu dianggap memiliki multimanfaat. Jika saja ada kebenaran, seperti yang diyakini dan dibuktikan dalam pengalaman lapangan selama ini ijuk ataupun lidik ijuk mampu menangkal petir, ouuwww………(Mahaji Noesa/Kompasiana,13 Januari 2011)

Gambar

Kuda putih/google-pengging.com

Jantan perkasa dalam permainan seks, menjadi impian banyak lelaki sejak jaman dulu. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya tinggalan atau warisan tradisional ramuan herbal untuk ‘obat kuat’ lelaki di berbagai daerah di Indonesia.

Suatu waktu, ketika melakukan perjalanan ke wilayah Bosowa (Kabupaten Bone, Soppeng dan Wajo) di Provinsi Sulawesi Selatan, saya ikut terlibat dalam perbincangan sejumlah orang mengenai adanya ‘Kayu Sanrego’ yang disebut-sebut apabila lelaki menggigit-gigit potongan kecil dari kayu itu, dapat menimbulkan kekuatan seks seperti kekuatan ‘Kuda Sanrego’ yang pernah hidup di wilayah tersebut pada masa lampau. Kuda yang kini masih tetap ada dalam cerita rakyat di Bosowa, konon mampu secara non-stop menggauli hingga 8 ekor kuda betina dalam seharinya.

Akan tetapi dimana dapat diperoleh dan bagaimana sesungguhnya bentuk ‘Kayu Senrego’ tersebut, dari banyak orang yang saya tanyai hingga ke pelosok Bosowa, belum ada yang memberikan gambaran atau penjelasan pasti. Ada yang menyebut pohonnya besar tumbuh liar di hutan alam dan kini sudah langka untuk ditemui. Namun sejumlah orang menyebut, tumbuhan ‘Kayu Sanrego’ itu banyak tumbuh di sekeliling lingkungan pemukiman di wilayah Bosowa. Rahasia ni yee…..

Seorang kakek di Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo pernah menunjuk pohon Bunga Terompet yang dalam bahasa Bugis disebut sebagai Pohon Tampong-tampong, sebagai salah satu ‘obat kuat’ lelaki yang dikenal sejak dulu di wilayah Bosowa. Akar pohon tampong-tampong tersebut seperti akar Gingseng bercabang menusuklurus hingga lebih satu meter ke dalam tanah.

Akar pohon ini, katanya, yang dikeringkan lalu diiris-iris kecil lebih kecil dari ukuran batang (kayu) Korek Api. Apabila lelaki menggigit-gigit irisan akar kayu yang telah dikeringkan tersebut — beberapa saat sebelum berhubungan seks, maka ‘permainan’ yang dilakukan tidak akan mencapai klimaks orgasme sekalipun sudah berlangsung berjam-jam, tanpa ia meneguk air putih.

Selain akar, biji dari buah pohon tampong-tampong (Bunga Terompet) yang berduri lembut disebut bermanfaat untuk campuran sejumlah obat penambah gairah lelaki maupun wanita, sayangnya tanpa menyebut bagaimana cara pemanfaatannya.

Sedangkan bunga Tampong-tampong (dua macam) – ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna ungu. Bunga Terompet berwarna putih, katanya, banyak orang di wilayah Bosowa dahulu yang terkena penyakit sesak nafas (sejenis asma) menjadikan sebagai obat penyembuh. Caranya, bunga itu diiris-iris lalu dijemur hingga kering, kemudian dicampur tembakau dijadikan rokok lintingan kemudian diisap-isap secara rutin.

Sedangkan bunga tampong-tampong yang berwarna ungu, pada jaman lalu, kebanyakan dipakai untuk menggosok-gosok gigi kuda. Kuda yang giginya telah digosok bunga tampong-tampong berwarna ungu tersebut, menurut sang kakek, tenaganya tambah kuat terutama bagi kuda-kuda yang akan diikutkan dalam perlombaan pacuan kuda.

Apa sesungguhnya kandungan yang terdapat dalam pohon tampong-tampong, hingga saat ini masih misteri. Saya belum pernah mendapatkan catatan hasil kajian ilmiahnya.

Yang pasti, dalam banyak resep tradisional ‘Obat Kuat’ lelaki, unsur/bahan Merica, Kuning Telur Ayam, dan Madu yang dijadikan inti ramuan  tidak diragukan lagi, karena mengandung garam mineral berpengaruh kuat merangsang syaraf dan kontraksi otot, serta garam-garam empedu pembentuk hormon seks.

Aha… lelaki dengan ‘Obat Kuat’ rasanya sangat egois. Padahal, seperti disiratkan Remy Sylado melalui karya ceritanya berjudul ‘Mata Hari’ yang pernah dimuat secara bersambung di harian Kompas, dalam permainan seks kemenangan bukan karena pihak lelaki yang kuat atau sebaliknya si perempuan yang unggul. Nikmatnya, jika setelah melakukan permainan tersebut keduanya merasa kalah.

Kita simak beberapa resep tradisional ‘obat kuat’ yang menggunakan merica, telur ayam dan madu, berikut ini:

1. Untuk kepuasan berhubungan seks, ada resep yang menganjurkan agar meminum adonan yang dibuat dari 5 siung bawang putih yang dihaluskan, kemudian diaduk dengan sebutir kuning telur ayam kampung serta satu sendok makan madu murni (royal jelly). Untuk sekali diminum, beberapa saat sebelum berhubungan seks dengan pasangan.

2. Adonkan campuran sekitar 30 butir Merica (Piper nigrum L) atau lada hitam yang telah ditumbuk halus , dengan biji dari 2 tangkai Petai Cina (Leucaena Leucocephala/Lmk) kering yang telah dihaluskan. Lalu diaduk dengan dua butir Telur (kuningnya) Ayam Kampung ditambah 1 sendok makan Madu Asli. Adonan ini sangat dianjurkan untuk diminum oleh pria yang intensitas permainan seksnya cukup tinggi.

3. Adonan 1 sendok makan perasan air Kunyit (Curcuma Domestica Val) dengan setengah sendok makan air Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia/Swingle), ditambah 1 butir Telur (kuningnya) Ayam Kampung dan 1 sendok makan Madu Asli. Jika resep ini diminum secara rutin setiap hari dapat menjamin keperkasaan lelaki dalam berhubungan seks dengan pasangannya.

4. Adonan sekitar 30 gram Merica yang dihaluskan, 1 sendok makan halusan Petai Cina/Lamtoro, dua butir (kuning) Telur Ayam Kampung dan 1 sendok makan Madu Asli. Ramuan ini dapat membuat pria senantiasa jantan perkasa dalam berhubungan seks, jika diminum setiap pagi.

5. Haluskan 10 gram Bawang Putih, 10 gram Adas (Foeniculum Vulgare Mill), 20 gram Lada Hitam atau Merica, 20 gram Pulosari (). Halusan dicampur hingga merata lalu ditirisi air panas secukupnya. Kemudian diaduk dengan 2 butir (kuning) Telur Ayam Kampung dan 10 gram Madu Asli. Resep ini jika diminum secara rutin setiap pagi atau pada malam hari sebelum tidur, akan menambah kekuatan, bahkan dapat menghidupkan gairah pria yang lemes sekalipun.

Apa sesungguhnya yang terkadung dalam bahan herbal Merica, Kuning Telur dan Madu, sehingga sejak masa silam nenek moyang bangsa Indonesia telah memiilihnya sebagai bahan inti ramuan lelaki yang ingin perkasa dalam permainan seks?

Dari catatan penelitian ilmiah, diketahui, setiap kilogram Merica mengandung 460 mg kalsium, 359 kal (kalori), lemak, 6,5 gram, 11,5 gram protein, 16 ,8 besi, 200 mg phosphor, 64,4 gram, H.A 0,2 mg vitamin B1.

Sedangkan dalam setiap 100 gram Madu (asli) mengandung 5 gram kalsium, 294 kalori, 0,3 gram protein, 16 mg phosphor, 0,9 mg besi, 79,5 gram H.A, dan 4 mg vitamin C.

Untuk setiap butir Telur Ayam kampung ternyata mengandung oleat (asam lemak tak jenuh), Vitamin A Vit. E, Vit K, Vit B Komplek, zat besi, fosfor, mineral mikro, leshiting , sekitar 5 gram protein hewani, phospholipida, kolestrol , dan trigliserida (lemak netral). (Mahaji Noesa/Kompasiana, 13 Desember 2010).

 

dangke

Inilah bentuk Dangke Enrekang/Foto: Riset – Google

Jika susu murni yang berasal dari kerbau atau sapi perah selama ini
banyak dikonsumsi warga sebagai minuman segar bergizi, maka masyarakat
di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan paling doyan memakan sari pati
dari ternak besar tersebut.

Susu dimakan bukan diminum? Ya…aneh tapi nyata! Masyarakat luas di
Provinsi Sulawesi Selatan sejak lama mengetahui jika penduduk di
kabupaten yang berjuluk ‘Bumi Massenrempulu’ tersebut sebagai pemakan
susu kerbau atau susu sapi perah dalam bentuk penganan yang bernama
Dangke.

Dangke tak lain adalah susu kerbau atau susu sapi yang digumpalkan
melalui kearifan lokal menggunakan bantuan enzim papain atau daun
pepaya. Bentuk gumpalan dangke tersebut berwarna putih seperti tahu.
Masyarakat khususnya di Kabupaten Enrekang sampai sekarang umumnya
menjadikan dangke sebagai lauk pendamping makanan nasi sehari-hari.
Untuk menyantapnya terlebih dahulu dangke tersebut, antara lain,
melalui proses penggorengan.

‘’Dangke juga dapat disantap langsung sebagai makanan pengantar dengan
menggunakan campuran gula aren. Nikmat,’’ jelas Kusuma, seorang
penduduk yang berdiam di Sossok, Kecamatan Baraka, Enrekang.
Warung-warung rakyat yang terdapat di tepian poros jalan Negara, dari
Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang ke arah Kota Makassar, kini
umumnya memampang papan-papan promosi: ‘’Jual Dangke!’’

‘’Namun jika jika lepas tengah hari, biasanya dangke di warung-warung
ini sudah habis terjual,’’ jelas Asni, seorang perempuan pemilik
warung penjual Dangke di Kabere, sekitar 3 km arah barat Kota
Enrekang. Harga jual dangke di Enrekang saat ini Rp 14.000 per biji,
ukuran setengah tempurung kelapa.

Menurut Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Kantor Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, drh. Jumwar, MSi, produk
dangke di Kabupaten Enrekang sekarang sekitar 3.000 biji setiap hari.

‘’Produk dangke tersebut baru dapat memenuhi sekitar 20 persen dari
kebutuhan lokal masyarakat di Bumi Massenrempulu,’’ katanya.
Menurut alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM)
tahun 1989 ini, untuk satu biji dangke yang beratnya antara 330 sampai
350 gram tersebut terbuat dari bahan baku 1,5 liter susu murni kerbau
atau sapi.

Lantaran itu, penyandang gelar master agrobisnis dari Universitas
Muhammadiyah Parepare tahun 2011 menyatakan, tak hanya berprospek tapi
juga dangke cukup prospektif dikembangkan sebagai usaha guna
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat ke depan. Bahkan,
jelasnya, produk lokal rakyat Bumi Masenrempulu ini bisa dijadikan
sebagai brand daerah ‘Enrekang sebagai Kabupaten Dangke.’
Alasannya, antara lain, dangke sebagai food cultur (makanan
tradisional) yang bergizi tinggi, produk lokal bernilai ekonomi yang
hanya terdapat di Kabupaten Enrekang. Pengembangan dangke juga
sekaligus dapat menjadi entry point dari pengembangan usaha peternakan
khususnya di Kabupaten Enrekang yang 85 persen wilayahnya merupakan
lereng berkemiringan antara 15 hingga 45 derajat.

Lagi pula, urainya, dengan pengembangan produk dangke tersebut
merupakan langkah tepat bagi pengembangan usaha industri biologis
melalui ternak kerbau atau sapi yang dapat senantiasa terbarukan.
‘’Pengembangan produk dangke akan memberikan pertambahan nilai ekonomi
yang cukup tinggi di tengah masyarakat lantaran merupakan salah satu
produk agribinis yang mencapai 3 log. Dari usaha peternakan sapi,
menghasilkan susu, susu dijadikan dangke serta turunan produk lainnya
berupa pembuatan krupuk dangke yang kini mulai dicoba di Kabupaten
Enrekang,’’ papar Junwar.

Berdasarkan catatan pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten
Enrekang, saat ini populasi ternak di Bumi Masserempulu sudah mencapai
1.400-an ekor sapi perah dan sekitar 48.000 ekor sapi potong. Untuk
ternak kerbau mencapai 6.000-an ekor.

Junwar yang sebelumnya telah bertugas di Kantor Dinas Peternakan
Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, Kabupaten Bulukumba, dan
di Rumah Potong Hewan Kota Makassar mengaku, dia yang pada tahun 2002
mulanya mengusul dimasukkannya bibit sapi perah asal Pulau jawa ke
Kabupaten Enrekang terutama untuk memenuhi bahan baku susu bagi
pengrajin dangke.

Di masa-masa lalu, ceritanya, Dangke Enrekang lebih banyak dibuat dari
susu kerbau. Akan tetapi dalam perkembangannnya kemudian lebih banyak
dipilih bahan baku dari susu sapi yang kandungan lemaknya 2,6 – 2,8
persen. Dangke susu sapi lebih gurih dibandingkan menggunakan susu
kerbau yang kandungan lemaknya mencapai 3,2 persen.
Lagi pula, dari seekor kerbau betina hanya dapat menghasilkan 5 hingga
6 liter susu setiap hari. Atau hanya dapat digunakan untuk membuat 2
sampai 3 biji dangke. Sedangkan dari seekor sapi perah, dapat
dihasilkan 20 hingga 30 liter susu setiap hari. ‘’Bahkan dengan
perlakuan tertentu seekor sapi perah berpotensi menghasilkan hingga 60
liter susu setiap hari,’’ jelas Junwar.

Kini di seluruh Kabupaten Enrekang terdapat sekitar 300-an pengrajin
dangke. Setiap pengrajin umumnya memiliki minimal satu ekor sapi
perah.

Melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE), pihak
perbankan telah mengucurkan bantuan permodalan usaha kepada 14
kelompok tani peternak dan pengrajin dangke di Kabupaten Enrekang.
KKPE diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang dinilai potensial di
pedesaan dengan bunga 6 persen per tahun, dan nilai pemberian kredit
bisa mencapai maksimal Rp 100 juta.

Persyaratan pemberian KKPE hampir sama dengan pemberian Kredit Usaha
Rakyat (KUR). Bedanya, bunga KUR 14 persen setahun dengan plafon
kredit maksimum Rp 20 juta. KUR diberikan tanpa agunan, sedangkan KKPE
selain hanya diberikan terhadap usaha yang sedang berjalan – bukan
usaha yang baru dimulai. Juga harus ada agunan, lantaran
dipertanggunjawabkan oleh masing-masing individu dalam kelompok sesuai
nilai kredit yang mereka pakai.

‘’Saat ini sudah ada dana permodalan usaha sekitar Rp 3 miliar melalui
KKPE yang disalurkan kepada kelompok-kelompok tani peternak dan
pengrajin dangke yang direkomendasi pihak Dinas Peternakan dan
Perikanan di Kabupaten Enrekang,’’ ungkap Junwar. Lalu menambahkan,
untuk sementara pihak perbankan hanya sebatas menyalurkan KKPE kepada
peternak sapi dan kerbau. (Mahaji Noesa)