Posts Tagged ‘ular’

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

Gambar

Gambar jimat Naga Sikoi/Ft: Mahaji Noesa

Naga yang digambarkan seperti ular ternyata tak hanya hidup dalam kepercayaan dan budaya bangsa di Cina, Korea dan Jepang. Di kalangan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, juga makhluk yang tak pernah terlihat di alam nyata tersebut gambarnya sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu. Namanya Naga Sikoi.

Cerita tentang Naga Sikoi yang beredar dari mulut ke mulut ini sebenarnya sudah saya monitor sejak tahun 80-an dari sejumlah daerah kabupaten beretnik Bugis di Provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan dari pantauan di lapangan, cerita Naga Sikoi, sejak lama juga sudah menyebar hingga ke etnik lainnya di Sulawesi Selatan, dikaitkan sebagai jimat pekasih terutama bagi kalangan muda-mudi agar mudah mendapatkan pasangan asmara.

Dari salah seorang remaja pengguna jimat Naga Sikoi di Kabupaten Bone mengakui, sejak ia mengantongi jimat tersebut ada semacam kepercayaan diri untuk mendekati wanita yang disenangi, dan mengaku telah beberapa kali membuktikan ketika mengutarakan cinta kepada wanita yang disukai tak pernah ditolak.

Dia mengaku, seperti pengakuan dari sejumlah pria pemilik jimat Naga Sikoi yang dihubungi lainnya, memperoleh jimat tersebut melalui orang tertentu yang umumnya diketahui punya kemampuan melakukan pengobatan terhadap orang-orang yang mengalami sakit aneh-aneh yang sukar terdeteksi melalui pengobatan secara medis. Pemberi jimat Naga Sikoi, juga disebut-sebut rata-rata memiliki kemampuan menyembuhkan orang-orang yang mengalami gangguan kesurupan.

Hanya saja, para pemberi atau pembuat jimat Naga Sikoi tidak semuanya disebut dukun. Lantaran ada juga yang mengeluarkan jimat tersebut sekalipun memiliki kemampuan supra tetapi menekuni profesi lain, seperti sebagai nelayan pelaut.

Tak hanya untuk lelaki, jimat Naga Sikoi juga diberikan kepada wanita untuk fungsi yang sama. Hanya saja, menurut salah seorang wanita mantan pengguna jimat Naga Sikoi yang ditemui di Kabupaten Pinrang, untuk pengguna wanita sering ada persyaratan khusus. ‘’Misalnya, dari tempat saya mengambil jimat tersebut dianjurkan agar minimal sekali dalam setahun memberi serbuk emas, yang dapat dilakukan dengan mengesek-gesek perhiasan emas ke jimat tersebut,’’ katanya.

Perempuan yang sudah memiliki 3 orang anak dan seorang cucu ini mengaku, sebelumnya pernah dua kali mengalami kegagalan dalam percintaan dengan pria pujaannya sewaktu masih remaja. Setelah memiliki jimat Naga Sikoi, itulah kemudian ia dapat jadian dengan pacar idamannya yang kini menjadi bapak dari anak-anaknya.

‘’Mungkin secara kebetulan, karena jodoh seseorang itu adalah Rahasia Tuhan. Tapi begitulah ceritanya,’’ katanya.

Dari sejumlah pengguna yang pernah ditemui, diketahui jimat Naga Sikoi ketika diberikan sudah dalam kondisi terbungkus dijahit dalam kain. Ada yang kain pembungkusnya berwarna merah, hitam, dan putih dalam ukuran rata-rata sebesar kotak korek api kayu. Banyak pemilik jimat tidak mengetahui benda yang terbungkus dalam kain yang diberikan sebagai jimat Naga Sikoi tersebut. Mereka juga umumnya tidak mau membukanya sebagaimana pesan si pemberi.

Dari cerita para pengguna, diketahui tak ada ritual khusus yang dilakukan untuk memperoh jimat Naga Sikoi, kecuali memberi tip berupa uang secara sukarela kepada si pembuat atau pemberi jimat.

Tak hanya d Sulawesi Selatan, di sejumlah kabupaten di Sulawesi Barat, saya juga mendapatkan cerita senada tentang jimat Naga Sikoi yang dikaitkan dengan urusan pekasih tersebut. Membuat penasaran karena selama puluhan tahun saya cuma menadapat cerita bahwa jimat tersebut berisi semacam gambar Naga, tetapi tidak pernah melihat bagaimana bentuk gambar Naga Sikoi itu sesungguhnya.

Awal Mei 2012 ketika mampir dalam suatu urusan di salah satu kawasan pertokoan di Kota Palopo (300-an km di arah timur Kota Makassar), secara kebetulan menjumpai seseorang yang sedang merapihkan sebuah gambar naga di lembaran kertas tua. Dalam dialog kemudian dia mengakui, itulah yang disebut gambar Naga Sikoi. Gambar tersebut merupakan peninggalan kakeknya yang selama ini selalu disimpan di kotak uang tempat berdagangnya.

‘’Katanya, sebagai jimat pelaris. Alhamdulillah, usaha dagang barang campuran yang ditekuni nenek dahulu sampai sekarang masih tetap berjalan lancar. Bahkan kami cucunya sekarang sudah dapat memiliki tiga toko lainnya sebagai tempat berdagang,’’ katanya.

Pemilik usaha barang campuran di Kota Palopo tersebut mengakui rezeki diperoleh seseorang berkat dari hasil usaha, besar kecilnya rezeki yang dapat diperoleh merupakan ketentuan Tuhan yang harus disyukuri. ‘’Jika kami tetap menaruh gambar Naga Sikoi ke tempat uang dagangan kami itu, karena mengikuti kebiasaan nenek saja, ‘’ katanya, kemudian member izin untuk mencopy gambar Naga Sikoi tersebut.

Gambar Naga Sikoi benar-benar merupakan gambar naga yang dibuat di lembaran kertas. Gambarnya, berupa dua ekor naga yang kepalanya saling berhadapan dan ekornya saling berkait. Dalam bahasa Bugis, memang, kata Sikoi berarti Saling Berkait atau dua benda yang saling melilit. Mungkin itulah sebabnya sehingga gambar naga ini popular dengan sebutan Naga Sikoi.

Menyusul seorang pedagang di Pasar Rappang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan memperlihatkan gambar Naga Sikoi yang mirip diperlihatkan di Kota Palopo tersebut.

Seorang pria pedagang barang sandang yang cukup laris di sekitar komplek Pasar Sentral Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, ketika kepadanya diperlihatkan copy-an gambar Naga Sikoi dari Kota Palopo, dia juga mengaku sampai sekarang memiliki gambar yang hampir sama, yaitu dua naga yang saling berkait. Gambar itu juga merupakan peninggalan kakeknya yang sampai sekarang dilipat dan selalu ditempatkan di laci tempat uang di toko dagangannya.

Hanya saja, ceriteranya, gambar Naga Sikoi tersebut sesuai pesan nenek jika disimpan di tempat uang harus selalu disertai dengan selembar uang kertas apa saja yang masih berlaku yang dilipat secara khusus dalam bentuk lipatan saling berkait juga. Diistilahkan sebagai uang yang di-Rekko Ota.

Bahkan menurutnya, belakangan, sejumlah rekannya yang juga memiliki gambar Naga Sikoi membuat Rekko Ota khusus dari uang kertas bernilai Rp 500 yang bergambar Monyet atas saran terakhir dari sejumlah pembuat atau pemberi gambar Naga Sikoi. Meski tidak jelas apa alasannya, dia juga bersusah payah mencari uang Rp 500 seperti yang dimaksud. Uang kertas pecacahan Rp 500 yang dimaksudkan adalah uang kertas terbitan Bank Indonesia tahun 1992 yang sudah lama ditarik dari peredaran.

Di sejumlah kabupaten lain di Sulawesi Selatan juga terlihat ada kebiasaan khususnya para pedagang melipat uang dengan cara Rekko Ota kemudian disisipkan di laci atau kotak tempat uang untuk hasil dagangan. Banyak yang menyebut Rekko Ota sebagaiIndo Doi alias induk uang.

Model gambar Naga Sikoi untuk jimat pelaris tersebut diakui mirip juga dengan gambar Naga Sikoi yang dijadikan jimat pekasih (bercinta). ‘’Saya dulu pernah punya jimat Naga Sikoi yang terbungkus sebagai jimat agar disenangi wanita. Jimat yang selalu saya masukkan di kantong celana, kemudian bungkus kainnya robek, dan ketika saya buka isinya berisi selembar kertas yang bergambar dua naga seperti itu, kepalanya saling berhadapan dan kedua ekornya pun berkait,’’ katanya.

Begitulah ikhwal gambar Naga Sikoi dalam dunia kemajuan Iptek yang pesat saat ini, tapi masih ada saja yang menggunakan sebagai jimat. Yang jelas gambar Naga Sikoi adalah khas Sulawesi Selatan lantaran tidak memliki jari cakar. Sebab menurut penjelasan kompasianer Rick Matthew (Kompasiana, 12 April 2011), gambar Naga Cina ditandai dengan ciri cakarnya yang memiliki 5 jari. Sedangkan Naga Korea cakarnya berjari 4, dan Naga Jepang cakarnya berjari 3. (Mahaji Noesa, Kompasiana, 19 Mei 2012)

Gambar

Nisan Hulu Keris di komplek Makam Jera Lompoe, Soppeng, Sulawesi Selatan/Foto:google-mugniarm.blogspot.com

Selain kuburan-kuburan batu yang menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki banyak makam atau kuburan tua yang unik dari segi bentuk maupun penampilannya.

Di Tosora Kabupaten Wajo, misalnya, terdapat sejumlah kuburan yang nisannya menggunakan meriam (jagur) yang dipasang terbalik. Sejumlah makam tua di Binamu Kabupaten Jeneponto ditandai bukan memakai nama asli tapi menggunakan nama gelaran orang yang dimakamkan di kuburan tersebut.

Dalam komplek makam kuno Jera Lompoe di Kabupaten Soppeng, ada sebuah makam yang nisannya dibuat berbentuk hulu Badik (keris). Dan inilah satu-satunya makam di Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan bentuk hulu Badik, senjata tradisional khas leluhur suku Bugis-Makassar.

Hingga saat ini, masih banyak yang belum mengetahui jika komplek makam tua yang berlokasi di Kelurahan Bila, sekitar 2 km dari Kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng tersebut merupakan salah satu makam kuno kalangan raja-raja dan keturunannya tempo dulu.

Bahkan komplek makam Jera Lompoe seluas 85 x 75 meter itu, sejak 6 Nopember 1981 diresmikan sebagai salah satu Taman Purbakala di Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, komplek makam ini hanya terlihat ramai dikunjungi peziarah menjelang bulan puasa (ramadhan), hari raya Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun. Di luar hari-hari tersebut, komplek makam kuno tersebut tampak lengang dari peziarah.

Syekh Abdul Manan

Nisan Hulu Keris di makam Syekh Abdul Manan di Kel.Banggae, Majene, Sulawesi Barat/Foto:google-arkeologi-makassar.com

Kehadiran makam Jera Lompoe di Soppeng diperkirakan mulai abad ke-17, setelah ajaran Islam menyebar ke wilayah Soppeng. Hal itu dapat dilihat dari posisi makam yang keseluruhannya mencirikan cara pemakaman jenazah orang beragama Islam yaitu membujur arah utara – selatan.

Dugaan itu pun diperkuat dengan salah satu makam yang nisannya bertulisan arab : ”Allah Lailaha Illallah Muhammadarrasulullah.” Meskipun, makam ini sampai sekarang belum bernama, belum diketahui siapa sesungguhnya yang dimakamkan di situ. Inilah salah satu dari dua makam di komplek makam tua Jera Lompoe yang nisan di bagian kakinya terbuat dari batu berbentuk hulu Badik (keris) polos tanpa ukiran.

Sedangkan makam satunya, yaitu kuburan Panglima Perang Kerajaan Soppeng, Watanglipu La Mataesso, nisan di arah kaki dengan ukuran agak besar berbentuk hulu badik (keris) berukir indah. Demikian dengan nisan di bagian arah kepala menyerupai gada juga berukiran mozaik yang menawan.

Makam Datu Soppeng ke-16, La Tenribali merupakan yang terbesar di komplek makam Jera Lompoe. Bersisian dengan makam istrinya Tenri Kawareng. Di samping makam Raja Soppeng ke-28, Datu La Mappapoleonro, terdapat makam istrinya Tenriawaru yang juga adalah Pajung (Raja) Luwu ke-23. Pajung Luwu ke-23 ini dilantik menjadi Raja Soppeng ke-29 menggantikan kedudukan suaminya ketika meninggal dunia.

Dalam komplek pekuburan tua ini juga terdapat makam Adatuan Sidenreng (raja dari wilayah Sidenreng-Rappang) berdampingan makam istrinya, Tenriallu Arung Mapalu.

Melihat sejumlah makam raja dan keluarganya yang berasal dari wilayah di luar Soppeng yang juga terdapat di komplek makam tua Jera Lompoe tersebut, para pengamat sejarah dan kepurbakalaan sejak lama menunjuknya sebagai fakta otentik bahwa orang-orang di Sulsel sejak masa lampau telah berupaya menghidupkan benih persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi modal utama terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga dengan nisan berbentuk hulu keris di komplek makam Jera Lompoe yang merupakan satu-satunya dapat dilihat di wilayah Provinsi Sulsel. Dari bentuk nisan itu dapat ditelusuri untuk dijadikan bukti kuat kemungkinan telah terjadinya komunikasi pemerintahan dan kebudayaan yang erat antara raja-raja di wilayah Bugis-Makassar (Sulawesi Selatan) dengan raja-raja di wilayah Mandar (Sulawesi Barat) sejak masa silam.

Pasalnya, bentuk nisan berhulu Badik (keris) yang terdapat di komplek makam Jera Lompoe Kabupaten Soppeng (Sulsel) juga bentuk nisan yang sama dapat dilihat di sejumlah makam tua, seperti di komplek makam Mara’dia Pamboang, makam Kaaba, makam Kubang, makam Puang Rambang, makam Nenek Ular, dan makam Nenek Roso yang ada di wilayah Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 19 Januari 2011)

Gambar

Penari Ular/Foto: riset google -pixoto.com

Jika anda berjumpa ular bersama koruptor, untuk selamat terlebih dahulu pentung koruptor lalu menyusul ketok ularnya.

Kalimat satire menyangkut berbisanya koruptor dalam kehidupan yang diungkapkan seorang rekan, membuat gerrr….banyak orang sekeliling yang ikut mendengarnya.

Namun kalimat itu justru mengingatkan terhadap dua peristiwa berkaitan dengan ular yang sesungguhnya. Pertama, ketika saya melakukan perjalanan menggunakan angkutan bus ukuran sedang dari Kota Parepare (Sulawesi Selatan) menuju Kota Mamuju, ibukota Provinsi Sulawesi Barat.

Dalam perjalanan melewati Kota Pinrang, ibukota Kabupaten Pinrang (Sulawesi Selatan), bus yang tempat duduknya masih banyak kosong tak terisi, lalu berhenti mengangkut 4 pria yang sebelumnya terlihat mengacung tangan di tepi jalan menunjuk ke arah Mamuju.

Keempat pria dewasa tersebut menarik perhatian saya, lantaran selain penampilan fisik mereka yang kelihatan sangar. Juga barang bawaan masing-masing mengundang tanya. Selain setiap orang terlihat membawa golok yang berwarangka, juga ada yang membawa gulungan tali plastik, karung plastik, besi-besi cabang, potongan-potongan pipa, tongkat rotan, senter menggantung di pinggang, dan juga lampu petromaks (strong king).

Siapa mereka? Pertanyaan itu terjawab dari salah seorang yang duduk berhimpit menempati kursi kosong di kananku. Aku pun terkesima, ketika mengetahui jika mereka adalah anggota kelompok pemburu ular di wilayah gunung dan hutan-hutan Sulawesi Barat.

Perburuan dilakukan ke tempat atau lokasi-lokasi yang telah diketahui atau dicurigai merupakan sarang ular. Menurut ceritanya, biasanya mereka beraksi menunggu atau memberi pancingan agar ular keluar dari sarang atau lubang-lubang pada malam hari. Ular ditangkap, kemudian dikuliti, dan kulitnya itulah yang dijual.

Gambar

Penari ular/Foto: sumber riset google – idekonyol.wordpress.com

Tidak ada penjelasan dari manusia pemburu ular ini, berapa harga, siapa dan dimana mereka menjual kulit-kulit ular tersebut. Dalam perjalanan siang dengan bus pengangkutan umum antara Parepare dan Mamuju saya beberapa kali melihat ada papan-papan bicara di dekat-dekat pemukiman penduduk yang bertuliskan : ‘’Beli Kulit Ular Sawah.’’ Pemburu ular, suatu profesi yang baru kuketahui.

Peristiwa kedua, suatu malam penduduk yang berdiam di arah timur asrama tentara di wilayah Kendari Caddi, Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara geger lantaran ada seekor ular yang merayap dari tepi gunung melintas di jalanan pemukiman.

Ular yang berukuran besar diperkirakan sepanjang 4 sampai 5 meter, menurut cerita penduduk, sudah seringkali dilihat kemunculannya di wilayah perkampungan saat tengah malam. Ketika penduduk mengejar seketika ular itu menghilang. Sebuah lubang bekas goa pertahanan masa pendudukan Jepang tak jauh dari pemukiman dicurigai sebagai tempat ular tersebut bersarang.

Dalam geger kemunculan ular malam itu, ada seorang lelaki tua asal Pulau Wawonii – sebuah pulau yang terbentang sekitar 2 jam pelayaran dari muara Teluk Kendari, menyarankan untuk selalu menaburkan bawang merah ke mulut goa yang dicurigai menjadi sarang ular. Diberi petunjuk bawang yang ditabur hendaknya ujung-ujungnya terlebih dahulu dipecahkan hingga tercium aroma bawangnya.

Sekitar dua bulan ketika saya kembali dalam suatu urusan ke lokasi tersebut, penduduk setempat menyatakan tak pernah lagi melihat atau menemukan ada ular gentayangan malam hari. Sejumlah penduduk menyatakan kemungkinan ular itu sudah mati. Lantaran setelah beberapa kali penduduk sengaja melemparkan butiran-butiran bawang merah ke bekas goa pertahanan Jepang, mereka lantas pernah berhari-hari mencium hembusan bau bangkai busuk yang keras dari dalam goa tersebut.

Dari pengalaman itu, sejumlah saran copas pernah saya sampaikan kepada beberapa teman untuk memberikan butiran-butiran bawang merah ke lobang yang dicurigai sebagai sarang ular. Ketika kemudian bertemu, banyak yang mengakui ular-ular menghilang setelah sarangnya mereka taburi butiran-butiran bawang merah. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 26 Oktober 2011)

 

Gambar

Inilah bentuk pohon Enau atau pohon aren/Foto:goole – sitle.google.com

Banyaknya peristiwa, kejadian atau sesuatu yang dianggap misteri dalam kehidupan, mengisyaratkan betapa keterbatasan kemampuan untuk memahami keseluruhan apa yang terbentang di alam jagad raya ini.

Para nelayan tradisional tempo dulu misalnya, kebanyakan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang-tiang perahu. Mereka umumnya beranggapan dengan memasang ijuk seperti itu, segala jenis yang disebut-sebut sebagai hantu laut tidak akan mengganggu perjalanan perahu di lautan bebas.

Dengan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang perahu juga diyakini akan menangkal sambaran petir apabila terjadi badai di laut lepas.

Dari cerita pengakuan banyak nelayan di sejumlah pesisir Sulawesi Selatan, sampai sekarang mereka masih meneruskan kebiasaan leluhurnya menancapkan bulu-bulu ijuk pada tiang tertinggi di armada perahu atau kapal yang mereka gunakan untuk mengarungi lautan.

Ijuk yang bersumber dari Pohon Enau (Aren), katanya, bagaimanapun tingginya tidak pernah ada yang tersambar petir seperti yang sering menimpa Pohon Kelapa atau pohon-pohon lainnya yang tumbuh menjulang di hutan-hutan.

Dengan alasan sama untuk menangkal bahaya sambaran petir, sejumlah petani di pedalaman Sulsel sampai sekarang jika melintas atau bekerja di suatu tanah hamparan luas dalam musim penghujan, masih banyak yang menyelipkan lidi iduk di antara jepitan celana atau saku baju dalam posisi tegak seperti antena.

Masih berkait dengan Pohon Enau yang sarinya dijadikan bahan baku pembuatan Gula Aren (Gula Merah), lidinya sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mencambuk orang-orang yang disebut-sebut ‘kemasukan barang halus’.

aren-2

Pohon Enau (Aren)/Foto sumber: google

Orang-orang yang ‘kemasukan’ tersebut gejalanya dalam keadaan tiba-tiba saja tak sadarkan diri, menangis, atau berteriak-teriak histeris. Seringkali juga berbicara aneh-aneh atau berbicara dalam bahasa asing yang fasih. Pada hal yang bersangkutan dalam keadaan sadarnya, tidak mengetahui bahasa asing tersebut. Dengan mencambukkan lidi ijuk (lidi dari pelepah Pohon Aren) ke tubuh orang ‘kemasukan’, seringkali lantas siuman atau sadar diri.

Dari pengalaman sejumlah rimbawan, juga ada diceritakan jika mereka menjelajah hutan selalu membawa perlengkapan berupa tali hitam yang dipintal dari bulu-bulu ijuk. Tali ijuk tersebut dibentangkan mengelilingi lokasi dimana mereka akan membuat kemah. Maksudnya untuk menghalau masuknya binatang melata berbisa sejenis ular ke lokasi tempat perkemahan mereka.

Dari banyak pengalaman, mereka telah membuktikan berbagai jenis ular hutan tak mau melintas ke lokasi yang dibatasi bentangan tali ijuk.

Sejumlah guru ngaji di pedalaman Provinsi Sulsel masih menganjurkan kepada murid-muridnya untuk menggunakan potongan lidi ijuk (enau) yang disebut ‘kallang’ sebagai alat bantu penunjuk huruf-huruf ketika membaca kitab suci Al-Qur’an.

Kajian ilmiah, tentu saja, masih perlu dilakukan untuk mengungkap misteri ijuk yang sejak dulu dianggap memiliki multimanfaat. Jika saja ada kebenaran, seperti yang diyakini dan dibuktikan dalam pengalaman lapangan selama ini ijuk ataupun lidik ijuk mampu menangkal petir, ouuwww………(Mahaji Noesa/Kompasiana,13 Januari 2011)

Gambar

Inilah Buttu Kabobong di Kabupaten Enrekang/Foto: Mahaji Noesa

Bagi mereka yang sudah pernah berwisata ke destinasi Toraja, Sulawesi Selatan, menyusuri jalan darat melintasi Kabupaten Enrekang, sudah pasti punya kenangan dengan Bukit Seks.

Setiap pelancong atau wisatawan mancanegara yang melintasi jalur ini umumnya terlihat tak pernah melewati keindahan serta keunikan bukit yang menyerupai bentuk kelamin wanita di kilometer 18 dari Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang tersebut.

Selain menyaksikan langsung atau membuat potret kenang-kenangan dengan latar gunung berbentuk V yang ukurannya sekitar 60 juta kali lebih besar dari bentuk aslinya, di lokasi ini dapat disaksikan panorama indah barisan pegunungan dalam beragam bentuk sejauh mata memandang.

Bukit Seks yang dalam sebutan bahasa daerah Enrekang dinamai ‘Buttu Kabobong’ (Berarti: Gunung V) tersebut, sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari banyak bentuk unik dan menawan gunung purba yang ada di wilayah Kabupaten Enrekang.

Hanya saja Bukit Seks ini yang senantiasa mendapat perhatian lantaran dapat dipandang lansung dari tepian jalan poros Enrekang – Toraja. Tepatnya, berada di barisan bukit yang menjadi bagian dari Kawasan Timur Enrekang (KTE). Barisan perbukitan yang merupakan bagian dari kaki Gunung Latimojong (kl. 3.478 dpl) yang berada di Karangan, Desa Latimojong Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang.

Di kaki perbukitan KTE berketinggian antara 400 hingga 3.000-an dpl inilah terletak Kecamatan Baraka, Kecamatan Bungin, Kecamatan Curio, Kecamatan Malua, dan Kecamatan Maiwa sebagai daerah penghasil tanaman perkebunan berupa kopi, cengkeh, vanili, padi, serta beragam jenis sayur-mayur dan buah-buahan. Hasilnya tak hanya disuplai untuk kebutuhan Sulawesi Selatan, tapi juga untuk provinsi lain di Pulau Sulawesi seperti ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Bahkan diantarpulaukan ke Kalimatan, Maluku dan Papua.

Sedangkan poros jalan Negara menghubungkan Kota Enrekang hingga ke Salubarani – gerbang masuk Kabupaten Tana Toraja sepanjang kl.48 km merupakan lokasi Kawasan Barat Enrekang (KBE) dengan ketinggian 200 – 800 dpl, meliputi Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Alla, Kecamatan Enrekang, dan Kecamatan Cendana.

Di pertemuan kaki bukit antara Kawasan Timur dan Kawasan Barat Enrekang ini terdapat ceruk, berupa jurang dengan lebar bervariasi 2 hingga 5 km dan kedalaman 400 hingga 800 meter dari muka jalan negara poros Enrekang – perbatasan Tana Toraja. Di bawahnya mengalir sejumlah sungai, seperti Sungai Mata Allo yang selama ini menjadi sumber air utama bagi irigasi persawahan dua daerah andalan penghasil tanaman padi di Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Pinrang.

Ceruk inilah yang dikenal dengan sebutan Kawasan Wisata Bambapuang dengan latar keindahan gunung-gunung purba dengan ornamen-ornamen alam unik di antara dinamika kehidupan keseharian masyarakat petani pegunungan.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Enrekang merupakan salah satu dari lima kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang tidak berbatasan dengan laut. Dengan luas wilayah 1.786,01 km2, sekitar 85 persen wilayah Enrekang merupakan bukit yang mempunyai kemiringan bervariasi 15 derajat hingga curam.

Meskipun, ceruk Bambapuang yang sudah puluhan tahun dikagumi keindahan alamnya sampai ke mancanegara, namun sampai sekarang belum ada patokan baku batas area yang masuk kawasan tersebut. Ada yang menyebut luasannnya meliputi areal 680 km2, dihitung mulai dari Kampung Kotu (Km 14), Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja hingga Salubarani (Km 48), perbatasan Enrekang – Toraja. Dengan lebaran kawasan dari batas jalan Negara poros Enrekang – perbatasan Toraja hingga 20 km ke arah timur.

Berulangkali Prof. T.C.M. George IS ketika ditemui nginap di Villa Bambapuang (berhadapan langsung dengan Gunung V) setelah selama dua hari berkeliling di kawasan ini, menyatakan kekaguman terhadap keindahan panorama kealamiaan gunung-gunung batu di Kawasan Bambapuang.

‘’Kawasan ini jika dikelola dengan baik tidak kalah menarik dengan kawasan wisata Grand Canyon dan barisan bukit Sierra yang menyedot kunjungan puluhan juta wisatawan mancanegara setiap tahun di Benua Amerika,’’ katanya.

Alumni Reflexology dari daratan Cina ini menyatakan, Kawasan Bambapuang punya kelebihan lantaran di kaki serta ceruk gunung-gunung batunya berlangsung kehidupan masyarakat dengan aktivitas pertanian. Tidak seperti di kawasan Grand Canyon dan bukit Sierra yang gersang dari aktivitas kehidupan.

Sebenarnya, di awal tahun 2000-an saat kepemimpinan Bupati Enrekang Muh.Iqbal, sudah pernah ada pembuatan rancangan design pengembangan Kawasan Wisata Bambapuang seluas kl.20 x 48 km. Bahkan dia sudah merintis pembukaan jalanan di KTE. Dimaksudkan, agar para pelancong dapat menikmati keindahan ceruk Bambapuang dengan bukit-bukit batunya yang indah yang membentang di KBE.

Ada rencana ketika masuk kawasan ini, para pelancong dari arah Makassar ke Toraja, menyusuri jalan yang ada sekarang. Melalui poros ini disaksikan keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu di KTE. Sedangkan jika balik dari Toraja melalui jalan keluar yang dibangun di Kawasan Timur Enrekang untuk meinkmati keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu yang ada di Kawasan Barat Enrekang (KBE). Sayang sekali, dalam kepemimpinan Bupati Enrekang selanjutnya, pengembangan jalan di KTE tersebut tidak berlanjut.

Bahkan, sudah didesign semacam pembangunan pelataran-pelataran untuk memandang view di Kawasan Bambapuang. Ceruk di antara bukit KTE dan KTB direncanakan dibangun fasilitas wisata seperti skylift, pengembangan olahraga gantole (terbang layang), kawasan perkemahan, trikking, jogging, tangga seribu untuk turun-naik lembah, fasilitas arung jeram di sungai Mata Allo serta fasilitas wisata lainnya. Tujuannya, tak hanya sebatas ingin memuaskan pelancong menikmati keindahan Kawasan Bambapuang dengan aman dan nyaman. Tetapi juga lebih utama, para pelancong atau wisatawan ke Toraja tidak hanya melewati kawasan ini, tetapi juga dapat menjadikan sebagai Daerah Tujuan Wisata menikmati keindahan gunung, lembah dan jurang yang terbentang sepanjang mata memandang di Kawasan Bambapuang.

Dengan begitu, keindahan alam kawasan ini pun diharapkan dapat memberi manfaat peningkatan ekonomi bagi masyarakat dan khususnya daerah Kabupaten Enrekang. Tidak seperti selama ini, Kawasan Bambapuang hanya dilintasi begitu saja oleh para pelancong, lantaran tak memiliki fasilitas wisata untuk wisatawan nginap dengan rasa aman dan nyaman.

‘’Tak hanya siang hari, di udaranya yang sejuk malam hari kawasan ini pun dapat hidup apabila didesign sedemikian rupa dengan memanfaatkan bantuan teknologi solar sell untuk malam hari. Kawasan Bambapuang ini jika ditata dengan baik bukan tidak mungkin ke depan akan dapat berkembang sebagai Sierra Khatulistiwa karena panorama bentang alamnya yang tiada duanya di dunia,’’ komentar Prof. George yang mengaku sudah berkeliling ke sejumlah kawasan wisata yang menyajikan panorama gunung-gunung batu di dunia.

Kawasan Bambapuang, tentu saja, termasuk bagian dari hamparan bukit karts seluas kl.145.000 km persegi yang ada di Indonesia. Hanya saja tidak semua bukit yang ada di kawasan ini merupakan bukit batu gamping. Sebagian besar, seperti yang dapat dilihat secara kasat mata merupakan bukit batu cadas. Banyak bukit dengan beragam bentuk dan ornamen alamnya yang indah, sejak dulunya plontos tidak dihidupi tumbuhan tetapi di bagian tertentu menghijau.

Lantaran posisinya yang curam hingga tegak 90 derajat, banyak bukit di Kawasan Bambapuang sejak masa purba hingga saat ini belum pernah dijamah manusia dari kaki hingga puncaknya. Bukit Tontonan di Kelurahan Tanete Kecamatan Anggeraja, misalnya. Salah satu bagian dindingnya seluas kl. 4 hektar tegak lurus menjulang langit bagai dinding sebuah bangunan raksasa.

Ditemukannya banyak situs berupa gua-gua jejak kehidupan masa lalu di Kawasan Bambapuang, membuktikan bahwa gunung-gunung batu di lokasi ini juga merupakan gunung-gunung purba. Contohnya seperti gua Loko’ Malillin Desa Pana Kecamatan Alla, Loko’ Tappaan di Desa Limbuang dan Loko’ Palakka di Desa Palakka Kecamatan Maiwa, serta Loko’ Bubau di Desa Pana Kecamatan Alla.

Banyak pecinta alam yang sudah berpetualang di sini menyebut Kawasan Bambapuang sebagai ‘Negeri Seribu Gua’ lantaran hampir semua gunung batu memiliki gua yang menyimpan adanya tanda-tanda sebagai tempat hunian manusia purba. Antara gua yang satu dengan lainnya memliki pesona keindahan tersendiri dengan stalaktif dan stalagnit yang syurr….Termasuk banyak gua yang bagian mulutnya menjadi bagian dari limpahan air terjun. Di mulut gua Loko’ Tappaan misalnya, terdapat air terjun setinggi 7 m.

Selain itu, dibalik keindahan serta keunikannya hampir semua bukit batu di Kawasan Bambapuang memiliki mitos yang hidup sampai sekarang. Gunung Bambapuang (1.021 dpl) di Kotu, Desa Bambapuang Kecamatan Anggeraja, dalam cerita rakyat setempat disebut dahulu puncaknya menjulang tinggi jauh tak terhingga ke arah langit. Itulah sebabnya, kemudian dinamai Gunung Bambapuang (Bhs.Enrekang berarti: Tangga para Dewa atau Tangga ke Langit).

Namun kemudian Tangga Langit ini patah ke arah utara Tana Toraja. Itulah sebabnya menurut cerita rakyat setempat, seperti yang terlihat sekarang semua puncak gunung di Kawasan Bambapuang mengarah ke arah utara sesuai arah jatuhnya patahan Gunung Bambapuang. Penyebab gunung ini runtuh, ceritanya, karena terjadi cinta incest atau hubungan sedarah kakak-adik di kaki bukit tersebut.

Mitos runtuh atau patahnya Gunung Bambapuang dalam cerita rakyat yang masih hidup sampai sekarang disebut dalam bahasa daerah setempat sebagai peristiwa Lettomi Erang di Langi. Ketika Gunung Bambapuang patah, penduduk atau hewan yang lari meninggalkan lokasi saat Bambapuang patah, apabila menengok ke arah belakang seketika berubah menjadi batu. Dalam mitosnya, itulah sebabnya batu-batuan di Kawasan Bambapuang yang sampai sekarang masih terlihat bentuknya banyak yang menyerupai ujud manusia atau hewan.

Buttu Kabobong di Kawasan Bambapuang yang bentuknya seperti V berukuran super raksasa tersebut, dalam cerita rakyat disebut-sebut justru masa silam berfungsi sebagai stadion tempat pertemuan manusia purba. Sedangkan Bukit Tontonan yang ceper belakangan diistilahkan sebagai ‘Serambi Mayat’ lantaran di bagian bukit ada semacam alur yang berisi banyak keranda mayat purba terbuat dari kayu. Mayat-mayat itu tak ditanam, konon lantaran mereka tak ingin terjepit tanah. Ada gunung dinamai Bukit Sawa lantaran bentuk puncaknya berupa batu cadas bergelombang belang-belang bagai seekor Ular Sawa raksasa. Itulah sebagian dari banyak sekali mitos tentang gunung dan batu-batuan di Kawasan Bambapuang, Enrekang.

Sayangnya, bentang alam panorama gunung, jurang dan lembah di Kawasan Bambapuang kondisinya dari dulu sampai sekarang tidak pernah mendapat sentuhan serius untuk dipoles sebagai obyek Tujuan Wisata Andalan Sulawesi Selatan. Tanpa ada sentuhan khusus kawasan yang masih alamiah dan asri ini sebagai suatu destinasi wisata, bukan tidak mungkin kelak akan berubah fungsi.

Pasalnya, dalam perut bumi gunung-gunung di KTE maupun KTB sudah pernah dieksplorasi mengandung sejumlah barang tambang bernilai tinggi seperti marmer berwarna hitam, hijau dan putih, juga terdapat kandungan minyak tanah, batu bara, dan emas.  (Mahaji Noesa/Kompasiana, 11 Mei 2012)