Posts Tagged ‘wirabuana’

Gambar

Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayjen TNI Muhammad Nizam/Foto Repro

Memasuki usia 67 Tahun, 5 Oktober 2012, TNI tampak mulai memasuki babak baru mengoptimalisasi perannya. Derap langkah prajurit sudah dapat kembali berderak ke areal persawahan. Tak hanya sebatas membantu petani saat panen, tapi juga dihalalkan membuka areal untuk menanam padi.

Bahkan hal tersebut,  sejak awal tahun ini, sudah dibuktikan oleh prajurit-prajurit dalam lingkup  Kodim 1410 Bantaeng, Sulawesi Selatan. Kerja sama Dinas Pertanian,  para prajurit mengolah lahan persawahan seluas 4 hektar di Pallantikan, Bantaeng.

Mereka menanam padi varietas Membramo dengan pola tanam sistem Legowo 2.1. Menggunakan banyak benih dengan pemupukan yang irit. Benih Membramo pun merupakan hasil penangkaran dari para prajurit sendiri. Hasil panennya lumayan menggembirakan, melebihi 9 ton gkp/ha.

Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayjen TNI Muhammad Nizam yang diberi kehormatan melakukan panen perdana, spontan menyatakan kegembiraannya. Keberhasilan prajurit di Kodim 1410 Bantaeng minta dapat diterapkan di jajaran Kodim lainnya.

Selain pengembangan tanaman padi dengan pola Legowo 2.1, menurut Pangdam, pihak Kodam VII Wirabuana menggalakkan sektor perikanan dan perkebunan kerjasama pemanfaatan lahan-lahan tidur milik masyarakat maupun yang ada di asrama-asrama TNI.

Hikmah yang diperoleh TNI dari kegiatan seperti ini, jelas Nizam, melalui peningkatan ekonomi dapat ikut mengurangi tingkat kerawanan.

‘’Masa iya, negeri kita yang subur ini tahun 2011 lalu harus mengimpor sampai 3 juta ton beras. Itu tidak boleh terjadi lagi. Kita dukung program pemerintah mewujudkan ketahanan pangan dengan menggalakkan penanaman padi kerjasama Pemda-pemda, sebagaimana perintah Presiden kepada TNI,’’ katanya.

Saat melakukan kunjungan kerja ke Mamuju, Sulawesi Barat, Mayjen TNI Muhammad Nizam kembali menegaskan pihak Kodam VII Wirabuana sangat mengapresiasi dan siap membantu Pemprov Sulbar mencapai target surplus beras 1 juta ton pada tahun 2014.

Saat ini , menurut Nizam, selain tetap mawas melakukan pertahanan dari gangguan ancaman NKRI,  TNI juga telah memiliki program Operasi Militer Selain Perang (OMPS), seperti mendukung mewujudkan ketahanan pangan nasional. ‘’Selain ahli di bidang militer, sekarang prajurit TNI dibekali ilmu menjadi penyuluh pertanian,’’ katanya.

Sehubungan dengan optimalisasi peran TNI, Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono,SE mengatakan,  semata-mata dilakukan untuk tugas perbantuan TNI kepada institusi atau lembaga lain.

‘’Optimalisasi TNI seperti itu bukan untuk mengambil atau melakukan ekspansi terhadap peran dan tugas pokok institusi lain. Tapi semata-mata dilakukan karena panggilan moral dan fungsi TNI, sepanjang diperlukan,’’ katanya.

Dalam amanat tertulis Panglima TNI yang dibacakan Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI Muhammad Nizam dalam upacara bendera 17-an di Lapangan Makodam, dalam mencermati perkembangan global dunia saat ini dia mengajak jajarannya untuk mampu membaca situasi berikut segala kecenderungan perkembangannya. Dimaksudkan agar dapat meningkatkan pemikiran prediktif dan langka antisipatif.

‘’Tuntutan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara di era reformasi, mendorong kita untuk bekerja lebih cermat dan hati-hati sesuai agenda reformasi birokrasi TNI yang menjadi komitmen bersama, guna mendukung terciptanya  good governance dan clean government yang menjadi policy pemerintah,’’ tandas Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.

Sedangkan menyangkut pergerakan terorisme, menurut Mayjen TNI Muhammad Nizam, menjadi masalah krusial yang mesti disikapi secara bijak karena menjadi ancaman serius yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Teroris bukan hanya musuh bangsa Indonesia tapi musuh seluruh bangsa di dunia. Telah memiliki jaringan internasional yang terorganisir, maka selalu patut diwaspadai.

“Cara efektif yang harus dilakukan adalah melakukan deteksi dini untuk mempersempit pergerakan teroris yang akhir-akhir ini kembali marak terjadi di kota-kota besar di Indonesia,” kata Panglima berbicara di Mamuju.

Bagi prajurit TNI khususnya di wilayah Kodam VII Wirabuana, peringatan HUT TNI ke-67, 5 Oktober 2012, dalam aroma peringatan memantapkan optimalisasi peran TNI, tentu saja, bukan hal yang asing.  Dalam perjalanan panjang prajurit bersama rakyat di daerah ini sudah teruji mampu berjalan beriring dalam kaitan menjaga pertahanan dan keamanan NKRI serta mendukung program-program pemerintah bagi peningkatan kesejahteraan rakyat khususnya di wilayah territorial Sulawesi. Dirgahayu TNI !  (Mahaji Noesa)

Selain menjadi pelaku, prajurit juga ternyata mampu sebagai pelestari jejak sejarah yang apik. Hal itu terlihat dari sejumlah bangunan tinggalan lama yang kini dalam penguasaan prajurit TNI khususnya di Kota Makassar. Tak hanya dipelihara dari keasliannya, tapi bangunan-bangunan tua tersebut sampai kini masih difungsikan.

Bekas Markas Kodam XIV/Hasanuddin sebelum berintegrasi menjadi Kodam VII/Wirabuana meliputi seluruh teritorial Pulau Sulawesi di Jl. Wolter Mongisidi Kota Makassar, sebagai salah satu contoh. Bangunan peninggalan Belanda yang pada tahun 60-an juga pernah dijadikan markas Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dari tangan kolonial Belanda, kini bentuknya masih belum banyak berubah.

Bangunan bekas kantor sekaligus tempat kediaman mantan Presiden RI Soeharto saat menjadi Panglima Komando Mandala, kini difungsikan sebagai Kantor Markas POM Kodam VII/Wirabuana.

Beberapa orang tua di sekitar Kelurahan Maricaya mengakui, bentuk bangunan peninggalan Belanda tersebut, belum banyak berubah seperti ketika Jl. Mongisidi dahulu masih dinamai Jl. Clover Land. Bahkan kondisi bangunan saat ini disebut lebih segar.

Makassar yang telah bergeliat sebagai kota pelabuhan, kota niaga, dan kota pusat pemerintahan pada abad XVII, memiliki banyak bangunan peninggalan lama. Termasuk bangunan-bangunan berstatus eigendom verponding, lokasi dan bangunan Belanda yang ditinggalkan sejak pendudukan Jepang 1942 hingga diusirnya Tentara NICA bentukan Belanda dari Kota Makassar tahun 1947.

Dalam tangan kekuasaan kolonial — setelah Perjanjian Bungaya tahun 1667, Belanda mengembangkan Kota Makassar dalam radius sampai 20 km persegi dari Benteng Ujungpandang.

Tak heran sampai awal tahun 90-an masih banyak dijumpai lokasi eigendom verponding dalam bentuk kantor maupun rumah peninggalan tentara serta pejabat  Belanda di seputar Pantai Losari dan sekitarnya. Meliputi Jalan Amanna Gappa, Jl.Sultan Hasanudddin, Jl.Kajao Laliddo, Jl. Kenari, Jl. Kelapa, Jl. Sawerigading, Jl. Maipa, Jl. Datumuseng, Jl.Jend Sudirman, Jl.Ratulangi, Jl.Sungai Saddang, Jl. Mongisidi, Jl. Lanto Dg Pasewang, Jl.HA.Mappanyukki, Jl.Cendrawasih, Jl. Garuda, Jl. Rajawali hingga Jl Rajawali di arah selatan Kota Makassar.

Akan tetapi bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di jalan-jalan tersebut kini sebagian besar telah berubah berganti bangunan baru. Banyak bangunan dipindah-tangankan serta alihfungsikan, dirombak untuk usaha komersial tanpa hirau dengan kandungan catatan penting sekaligus bukti sejarah di dalamnya.

Rumah Jabatan Wali Kota Makassar di Jl. Penghibur (Pantai Losari) merupakan salah satu peninggalan Belanda yang sampai kini belum banyak perubahan. Demikian halnya dengan bangunan rumah jabatan Gubernur Sulsel di Jl. Jend Sudirman, Gedung MULO di Jl. Ratulangi, gedung bagian depan Balai Kota Makassar di Jl. A.Yani, Kantor Pengadilan Negeri Makassar di Jl. Kartini, dan Gedung Dewan Kesenian Societeit de Harmonie di Jl. Riburane, masih merupakan bangunan peninggalan Belanda yang belum banyak berubah bentuk, kecuali dari segi fungsinya yang berbeda.

Bekas Kantor Wali Kota Makassar (Burgemester) pada jaman Belanda di Jl. Balai Kota, misalnya. Sekalipun dari segi bentuk dan konstruksinya belum banyak berubah, tapi fungsinya saat ini sudah menjadi Museum Kota Makassar.

Salah satu bangunan bekas  Esconto Bank berarsitektur khas Eropa abad pertengahan pada masa Belanda di utara kota sudah dirobohkan, seiring dengan penggusuran Jl. Martadinata yang dijadikan sebagai areal pelabuhan peti kemas.

Lainnya, kompleks penjara jaman Belanda (hoogepad) di utara lapangan Karebosi kini sudah lenyap berganti dengan pertokoan. Komplek penjara yang terkenal sel-selnya dengan julukan ‘kandang macan’ dahulu menjadi penjara bagi masyarakat sipil, termasuk para pejuang kemerdekaan di Sulsel. Pahlawan Nasional H.A.Mappanyukki pernah diinapkan di penjara tersebut.

Lokasi Freylingsplein kini bernama lapangan Gelora Hasanuddin yang diapit Jl. Jend Sudirman dan Jl. S.Tangka merupakan alun-alun lama, selain lapangan Karebosi yang masih tersisa saat ini di Kota Makassar. Di bawah pengelolaan prajurit Kodam VII/Wirabuana, lapangan yang luasnya hampir 2 ha tersebut tampak indah, hijau, bersih dan segar sebagai tempat jogging, lapangan sepakbola dan berbagai jenis olah raga lainnya. Termasuk untuk arena latihan olah raga panjat tebing dari para prajurit Kodam VII/Wirabuana.

Sesekali, lapangan yang sekelilingnya masih ditumbuhi banyak tanaman asam berusia ratusan tahun dijadikan sebagai lokasi pameran serta even-even bersifat massal. Anda tahu, di lapangan Gelora Hasanuddin ini pada 30 April 1945 para pejuang dan pemuda pergerakan di Sulawesi Selatan mengibarkan Bendera Merah Putih. Inilah lokasi bersejarah di Kota Makassar, tempat pengibaran sang dwi warna tersebut sebelum diproklamirkan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Ada hal menarik jika kita ke Jl. Rajawali Kota Makassar sekarang. Di sana, selain masih terdapat Tangsi Kist (Kist Kampament) – penjara militer jaman Belanda yang kini masih dijadikan sebagai Instalasi Tahanan Militer Kodam VII/Wirabuana. Juga, sejumlah kantor dan asrama militer yang terdapat di sekitar Tangsi Kist tersebut seperti asrama Lompobattang, Kantor dan Asrama Batalyon Zeni Tempur 8/SMG, sebagian besar merupakann bangunan tinggalan lama yang tetap dipelihara dan dimanfaatkan oleh prajurit TNI Kodam VII/Wirabuana.

Tulisan: ‘’Kweeksschool voor inlandsche pelingen, Anno 1915’’ yang tetap dilestarikan di salah satu pintu gerbang Yon Zipur 8 Kodam VII/Wirabuana di Jl. Rajawali Kota Makassar, menguatkan bukti jika jajaran prajurit TNI sangat menghargai sekaligus memaknai jejak bersejarah sebelum kelahiran TNI di negeri ini. (Mahaji Noesa)