Menyaksikan Gerhana Matahari di Waduk Pampang Makassar

Posted: 10 Maret 2016 in News
Tag:, , , ,

g10

Tempak efek beckscatter orb bulan sabit mengekor matahari hasil potretan Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di waduk Pampang kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Sejak pukul 06.00 pagi wita, sudah ramai warga berdatangan ke tepi Waduk Pampang. Mereka sengaja datang berkendara sepeda motor dan mobil dari berbagai penjuru kota, untuk menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) yang sebelumnya telah diinformasikan juga bakal terlihat di langit kota Makassar, Rabu, 9 Maret 2016. Meskipun gerhananya diprediksi hanya 88 persen. Tidak GMT 100 persen seperti di 12 provinsi lainnya di Indonesia.

Kedatangan warga ke tepian lokasi waduk tunggu Pampang di kelurahan Antang kecamatan Manggala tersebut umumnya atas inisiatif dan pertimbangan pilihan masing-masing guna menyaksikan peristiwa GMT. Pemkot Makassar justeru mendisain acara Festival Gerhana Matahari, 9 Maret 2016, dengan beragam acara dipusatkan di anjungan Pantai Losari.

g6

Inilah waduk Pampang di kelurahan Antang, tengah kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

‘’Di lokasi waduk Pampang ini rasanya dapat lebih bebas kita melihat pergerakan matahari terbit pagi hingga terbenam sore hari. Saya memilih datang ke tempat ini dengan pertimbangan akan dapat melihat langsung peristiwa Gerhana Matahari Total dibandingkan di Pantai Losari. Apalagi gerhananya telah disebut-sebut bakal berlangsung sekitar pukul 7 pagi hari,’’ jelas Hamzah, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta yang mengaku bermukim di kawasan Perumnas Toddopuli, kl 3 km arah barat waduk Pampang. Dia datang dengan 8 temannya, berboncengan menggunakan 4 sepeda motor.

Sedangkan Erni, karyawan swasta yang mengaku datang sebelum pukul 6 pagi bermobil bersama suami dan 2 anaknya, dari rumahnya di kawasan Pannampu (Sekitar 9 km arah utara waduk) menyatakan, melihat Gerhana Matahari Total secara tidak langsung melalui bayangan di permukaan air waduk Pampang akan lebih aman.

‘’Sekalipun di Makassar gerhana mataharinya hanya 80-an persen, tapi kan cahayanya masih berbahaya untuk dilihat secara langsung tanpa menggunakan filter khusus cahaya matahari,’’ katanya.

Waduk Pampang yang luasnya 36 ha, tengah kota Makassar. Dahulu lokasinya berupa tanah berawa. Setelah waduk buatan ini hadir sejak 10 tahun lalu dalam masa kepemimpinan Walikota Makassar HB Amiruddin Maula, banjir yang menjadi langganan wilayah Minasaupa, Perumnas Toddopuli, Borong, Pampang dan Antang di musim penghujan sudah mulai dapat dikendalikan.

Para pemancing dan pejala ikan yang beraktivitas sekitar waduk menjadi sasaran tontonan para pengunjung yang menanti terjadinya GMT di tepian-tepian waduk. Seperti prakiraan pihak BMKG, sejak pagi (Rabu, 9 Maret 2016) cuaca di kota Makassar cerah. Sekitar pukul 6 hingga pukul 7 pagi, sinar matahari terang menyinari waduk Pampang dan sekitarnya.

Nanti setelah memasuki pukul 7.20 wita, sinar matahari terlihat mulai redup namun suasana sekeliling tetap terang. Hanya sekitar 2 menit suasana terlihat agak temaram, tak terlihat bias sinar matahari di permukaan air waduk yang sebelumnya membinar-binar.

‘’Tidak jelas apa sudah terjadi kontak gerhana atau belum. Redupnya matahari seperti hanya tertutup awan,’’ komentar Simmau, salah seorang dosen dari Unhas, yang sejak pagi terlihat sibuk membidikkan kameranya ke berbagai arah waduk Pampang.

Burung-burung bangau dan sejumlah burung air lainnya terlihat tetap beterbangan di sekeliling waduk Pampang. Bahkan terdengar teriakan-teriakan keras penjaga sawah di arah utara waduk, ditingkahi bunyi kerek-kerek tarikan tali menggerakkan orang-orangan. Artinya, kawanan burung pipit pemangsa padi bunting pun tidak terpengaruh dengan kejadian suasana temaram yang hanya berlangsung beberapa saat.

Sinar matahari redup dengan suasana tetap terang berlangsung hingga pukul 8.38 wita. Menurut hitungan BMKG, peristiwa GMT 88 persen di kota Makassar, 9 Maret 2016, berlangsung mulai pukul 07.26 hingga pukul 08.35. Secara kasat mata tak ada hal menarik dapat dilihat di atas langit waduk Pampang sepanjang matahari redup. Kecuali gumpalan-gumpalan awan putih belang-belang kelabu tampak terang menutupi sekeliling matahari. Dan, setiap interval sekitar 15 menit ada pesawat melintas dari arah barat ke timur, seolah menuju matahari yang lagi dalam proses gerhana.

Tidak jauh ke arah timur waduk Pampang, memang, berbatasan dengan wilayah kabupaten Maros, lokasi bandara internasional Sultan Hasanuddin dengan frekuensi sudah lebih dari 150 penerbangan setiap harinya.

Dg. Guling, salah seorang pejala ikan di sekitar waduk Pampang justeru merasa apes. Ikan-ikan dituding seolah tidur tatkala orang-orang ramai datang ingin menyaksikan peristiwa gerhana matahari di sekitar waduk. ‘’Biasanya kalau jam 7 pagi sudah puluhan ekor bisa terjala. Tapi ini sudah lewat jam 8 baru beberapa ekor yang bisa didapat,’’ katanya.

Bacaan ayat-ayat suci Al Quran yang dilantunkan para imam shalat gerhana mulai terdengar dari mesjid-mesjid yang ada seputar waduk Pampang sejak pukul 07.30 hingga pukul 09.00 wita. Disusul penyampaian khotbah dari para khatib, seolah sambung menyambung sepanjang matahari redup. Mesjid Luqmanul Hakim di tepi waduk Pampang misalnya, baru mulai melaksanakan shalat gerhana berjamaah setelah pukul 08.50 wita.

Jelang pukul 09.00 ketika cahaya keras matahari sudah memantul di atas permukaan air waduk Pampang, para pengunjung yang didominasi kalangan muda pemilik kamera digital pun satu per satu meninggalkan lokasi. Sesayup terdengar beragam candahan tentang hasil potret GMT para pengunjung yang bergerak meninggalkan lokasi. Mulai dari ketidaktahuan menggunakan filter kamera, ikhwal kacamata gerhana, hingga ketidakmampuan kamera HP merekam peristiwa alam yang langka, didialogkan dengan cekakak-cekikik ala remaja perkotaan

‘’Momennya sudah lewat, tidak ada lagi yang harus disesalkan,’’ komentar serius salah seorang di antara serombongan remaja putri bersepeda motor tatkala bergerak meninggalkan waduk Pampang.

Sejumlah hasil jepretan peristiwa GMT dengan kamera HP tanpa filter di langit Waduk Pampang jelang pukul 09.00 wita, Rabu, 9 Maret 2016, menampakan efek backscatter orb ada semacam bulan sabit mengekor di bawah matahari. Orb dalam istilah teknis fotografi terjadi karena adanya pantulan sinar atau flash dari benda-benda sekitarnya. Bulan sabit itu sesungguhnya hanya tampak di hasil jepretan tapi tidak ada di obyek nyatanya.g16

Saat-saat matahari memasuki proses gerhana di waduk Pampang, 9 Maret 2016/Foto: Mahaji Noesa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s